Anda di halaman 1dari 113

KEMENTERIAN PERTAHANAN

REPUBLIK INDONESIA

DOKTRIN
PERTAHANAN NEGARA
KEMENTERIAN PERTAHANAN
REPUBLIK INDONESIA

DOKTRIN
PERTAHANAN NEGARA
postur pertahanan negara
ISBN 978-979-8878-01-5

Hak Cipta © 2007


Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
Cetakan Ketiga, Desember 2015
Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
dalam bentuk apapun,
tanpa ijin tertulis dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

Diterbitkan oleh:
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia
Jl Medan Merdeka Barat No 13-14 Jakarta
Telp: (021) 3828055
Fax: (021) 3810954
Website: www.kemhan.go.id
Email: webstrahan@kemhan.go.id
KEMENTERIAN PERTAHANAN
REPUBLIK INDONESIA

DOKTRIN
PERTAHANAN NEGARA

Disahkan dengan
Peraturan Menteri Pertahanan republik Indonesia
Nomor 38 Tahun 2015
Tanggal 31 desember 2015
iv DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
kata pengantar

KATA
PENGANTAR

D
oktrin adalah ajaran yang diyakini
kebenarannya dan dapat dijadikan
sebagai penuntun, karena secara
fundamental manusia memiliki perbedaan satu sama lain dalam
kodratnya. Suatu perbedaan disatukan oleh Doktrin agar dapat memiliki
kesamaan pandang dalam pola pikir, sikap dan tindak. Dalam konteks
pertahanan negara, Doktrin dirumuskan berdasarkan sejarah bangsa dan
pengalaman masa lalu, masa kini serta berorientasi visioner yang diyakini
mampu menyesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis.
Doktrin pertahanan negara adalah dasar pragmatis untuk tindakan
keputusan dan refleksi yang mendorong di tengah ketidakpastian
krisis atau konflik sampai terjadinya perang. Dalam tingkat yang lebih
tinggi, Doktrin pertahanan negara dapat digunakan dalam menentukan
sikap bagaimana menggunakan strategi untuk mencapai tujuan dan
keberhasilan dalam pertahanan negara.
Kebijakan pertahanan negara memiliki dua dimensi yang
merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, yakni pertahanan
militer dan nirmiliter. Fungsi dan peranan militer memiliki dua dimensi
yakni Operasi Militer Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang
(OMSP). Sedangkan pertahanan nirmiliter memiliki dua fungsi, yaitu
fungsi pengganda kekuatan TNI sebagai Komponen Utama melalui
mobilisasi. Fungsi kedua adalah peranan Kementerian/Lembaga (K/L)

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA v


kata pengantar

atau kewenangan instansi pemerintah diluar bidang pertahanan sebagai


bentuk pertahanan nirmiliter yang bersifat fungsional.
Oleh karena itu, negara memerlukan pendekatan pertahanan yang
komprehensif dan terintegrasi dalam menghadapi berbagai bentuk
ancaman dengan memadukan pertahanan militer dan pertahanan
nirmiliter yang merupakan pengejawantahan sistem pertahanan yang
dianut bangsa Indonesia, yakni sistem pertahanan yang bersifat semesta.
Selanjutnya, Doktrin Pertahanan Negara menjadi salah satu perangkat
utama dalam mengembangkan kebijakan, Strategi Pertahanan Negara
dan Postur Pertahanan Negara.
Konstelasi geografi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar
di dunia, serta posisi Indonesia di persilangan strategis antara dua
samudra dan dua benua menjadikan Indonesia sebagai jalur navigasi
serta transportasi laut dan udara bagi dunia internasional. Perpaduan
konstelasi dan lokasi strategis tersebut menjadikan Indonesia sebagai
negara yang berkarakter maritim. Untuk itulah perlu adanya perubahan
/ revisi terhadap Doktrin Pertahanan Negara yang bercirikan Indonesia
sebagai poros maritim guna mendukung kebijakan nasional Poros
Maritim Dunia (PMD).
Dengan terbitnya revisi Buku Doktrin Pertahanan Negara ini, segenap
penyelenggara pemerintahan khususnya penyelenggara pertahanan
negara maupun seluruh rakyat Indonesia hendaknya dapat menghayati
dan mempedomani isinya untuk diwujudkan dalam pola pikir, pola
sikap dan pola tindak dalam menjamin tetap tegaknya Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI
1945.

vi DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


kata pengantar

Kita semua mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas terbitnya Buku Doktrin Pertahanan Negara ini sesuai rencana. Dan
menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan Doktrin Pertahanan
Negara ini. Peran serta tersebut merupakan darma bakti yang sangat
bernilai bagi bangsa dan negara Indonesia. Semoga Tuhan Yang Maha
Esa senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada bangsa
Indonesia tercinta.

Jakarta, 31 Desember 2015

MENTERI PERTAHANAN,

RYAMIZARD RYACUDU

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA vii


daftar isi

PERATURAN MENTERI PERTAHANAN


KATA PENGANTAR

BAB 1 LATAR BELAKANG 1


BAB 2 HAKIKAT, KEDUDUKAN DAN LANDASAN DOKTRIN 5
2.1 Umum 5
2.2 Hakikat Doktrin Pertahanan Negara 5
2.3 Kedudukan dan Stratifikasi Doktrin Pertahanan Negara 14
2.4 Landasan 15

BAB 3 PERJUANGAN BANGSA INDONESIA 25


3.1 Umum 25
3.2 Hakikat Perjuangan Bangsa 25
3.3 Jati Diri Bangsa 26
3.4 Cita-Cita Bangsa Indonesia 26
3.5 Tujuan Nasional 27
3.6 Kepentingan Nasional 28
3.7 Nilai-nilai Bela Negara 29

BAB 4 HAKIKAT ANCAMAN 33


4.1 Umum 33
4.2 Hakikat Ancaman 33
4.3 Analisa Ancaman 34
4.4 Penggolongan Ancaman 37
4.5 Sasaran Ancaman 46
4.6 Eskalasi Ancaman 46

BAB 5 ESENSI PERTAHANAN NEGARA 51


5.1 Umum 51
5.2 Tujuan Nasional 51

viii doktrin PERTAHANAN NEGARA


daftar isi

5.3 Kepentingan Nasional 52


5.4 Hakikat Pertahanan Negara 53
5.5 Tujuan Pertahanan Negara 55
5.6 Fungsi Pertahanan Negara 56
5.7 Pandangan tentang Damai dan Perang 58
5.8 Spektrum Konflik Pertahanan Militer dan Pelibatan Komponen
Pertahanan Negara 59
5.9 Spektrum Konflik Pertahanan Nirmiliter dan Pelibatan Unsur
Pertahanan Negara. 61
5.10 Penyelenggaraan Perdamaian 62
5.11 Penyelenggaraan Peperangan 63
5.12 Sumber Daya Pertahanan 67
5.13 Pembinaan Kemampuan Pertahanan Negara 69
5.14 Pengelolaan Sumber Daya Pertahanan Negara 72
5.15 Pengintegrasian Komponen Pertahanan Negara 73

BAB 6 PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA 75


6.1 Umum 75
6.2 Sistem Pertahanan Negara 75
6.3 Pertahanan Militer 80
6.4 Pertahanan Nirmiliter 82

BAB 7 PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA 85


7.1 Umum 85
7.2 Pembinaan Kekuatan Pertahanan Negara 85
7.3 Pembinaan Kemampuan Pertahanan Negara 86
7.4 Pokok-Pokok Pembinaan Pertahanan Negara 87
7.5 Wewenang Pembinaan Pertahanan Negara 88

BAB 8 PENUTUP 94
8.1. Pemberlakuan 94
8.2 Petunjuk Akhir 94

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA ix


PENDAHULUAN

111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


PENDAHULUAN

Bab 1

LATAR BELAKANG

1.1 Perjuangan bangsa Indonesia telah memberikan pengalaman


berharga dengan nilai-nilai luhur yang masih dipertahankan hingga
kini. Sejak jaman kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram sampai
Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, nilai-nilai
tersebut telah teraktualisasi dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Suatu nilai yang diwujudkan dalam
rasa persaudaraan, gotong-royong, musyawarah untuk mufakat,
keuletan, ketangguhan, percaya kepada kekuatan sendiri, tidak kenal
menyerah, serta rela berkorban. Puncak nilai-nilai luhur bangsa
tercermin pada Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17
Agustus 1945 yang dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta atas
nama bangsa Indonesia.
1.2 Bangsa Indonesia dalam mempertahankan proklamasi kemer­
dekaan mendapat tantangan dengan kembalinya Belanda yang
membonceng tentara Inggris. Agresi pertama Belanda pada 21 Juli
1947 disusul dengan agresi kedua pada 19 Desember 1948 ke Ibu
Kota negara Indonesia di Jogyakarta, merupakan upaya Belanda untuk
merebut kembali wilayah dan kedaulatan Indonesia. Para pemimpin
Indonesia antara lain Soekarno, Mohammad Hatta dan Sjahrir telah
ditangkap Belanda. Panglima Besar Sudirman tidak menyerah dan
tetap melanjutkan perjuangan dengan mengeluarkan perintah kilat
pada tanggal 19 Desember 1948. Perintah yang menjadi konsep
untuk melakukan perang gerilya dengan membentuk kantong-kantong

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 1


111
PENDAHULUAN

pertahanan yang dinamakan sistem


Wehrkreise (pertahanan melingkar).
Kemandirian pertahanan melingkar
ini dilakukan dengan memobilisasi
seluruh potensi dan kekuatan rakyat
serta sumber daya yang berada di
lingkaran pertahanan tersebut. Sistem
Wehrkreise ini mengilhami lahirnya
sistem pertahanan semesta, yang
melibatkan seluruh warga negara
Panglima Besar Sudirman tidak menyerah
dan tetap melanjutkan perjuangan dengan dalam upaya pertahanan negara.
mengeluarkan perintah kilat pada tanggal 19
Desember 1948.

1.3
Sistem pertahanan keamanan
rakyat semesta, diatur dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD
NRI 1945) Pasal 30 Ayat (2). Pertahanan dan keamanan negara
dilaksanakan oleh Tentara Nasional Indonesia sebagai kekuatan
utama dan rakyat sebagai kekuatan pendukung. Sistem pertahanan
semesta menerapkan totalitas pengerahan seluruh komponen
bangsa dalam mengambil bagian untuk pertahanan negara. Sejarah
berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan dinamika
penyelenggaraan pembangunan nasionalnya, sistem pertahanan
semesta telah membuktikan dapat diterapkan dalam membentengi
bangsa Indonesia dari segala bentuk ancaman.
1.4 Indonesia yang memiliki sumber kekayaan alam,
keanekaragaman budaya, suku, agama, ras dan antar golongan
merupakan potensi kekuatan sekaligus ancaman. Kekuatan yang
telah dipersatukan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika untuk
bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yaitu Indonesia,
merupakan tekad yang harus dipertahankan. Persatuan dan kesatuan
bangsa merupakan modal utama dalam menjaga dan mengawal
tetap tegaknya NKRI. Disisi lain, keberagaman, kekayaan alam dan

2 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


PENDAHULUAN

posisi geografi dapat menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia dalam


mengelola pertahanan negara.
1.5 Pertahanan negara merupakan tanggung jawab dan kewajiban
setiap warga negara Indonesia yang diselenggarakan melalui fungsi
pemerintah. Penyelenggaraan fungsi pertahanan negara yang efektif,
efisien dan modern memerlukan suatu doktrin sebagai penuntun
bagi setiap unsur yang terlibat dalam pertahanan negara. Doktrin
Pertahanan Negara dirumuskan berdasarkan sejarah bangsa dan
pengalaman masa lalu, masa kini serta berorientasi visioner yang
diyakini mampu menyesuaikan dengan perkembangan lingkungan
strategis, termasuk mengacu pada kebijakan pemerintah terkait
poros maritim dunia (PMD). Doktrin ini merupakan pedoman di
dalam penyelenggaraan pertahanan negara yang mencakup aspek
pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter, yang digunakan sebagai
dasar dalam penyusunan strategi pertahanan negara.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 3


4
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

Bab 2

HAKIKAT, KEDUDUKAN, DAN


LANDASAN DOKTRIN

2.1 Umum
Pertahanan negara pada hakikatnya merupakan segala upaya
pertahanan negara yang bersifat semesta, yang penyelenggaraannya
didasarkan pada kesadaran akan hak dan kewajiban seluruh warga
negara serta keyakinan akan kekuatan sendiri untuk mempertahankan
kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia yang merdeka,
bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kesemestaan bermakna
melibatkan seluruh rakyat dan segenap sumber daya nasional, sarana
dan prasarana nasional, serta seluruh wilayah negara sebagai satu
kesatuan pertahanan negara yang utuh dan integral.
Hakikat, kedudukan dan landasan Doktrin digunakan sebagai
acuan untuk mengelola dan menyelenggarakan Doktrin Pertahanan
Negara. Dengan dipahaminya pola dasar dalam berpikir, bersikap
dan bertindak oleh setiap warga negara Indonesia, maka pengelolaan
dan penyelenggaraan pertahanan negara akan menjadi lebih
komprehensif dan terintegrasi.

2.2 Hakikat Doktrin Pertahanan Negara


Doktrin Pertahanan Negara pada hakikatnya adalah suatu
ajaran tentang prinsip-prinsip fundamental pertahanan negara
yang diyakini kebenarannya, digali dari nilai-nilai perjuangan

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


5
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

bangsa dan pengalaman masa lalu untuk dijadikan pelajaran dalam


mengembangkan konsep pertahanan negara sesuai dengan tuntutan
tugas pertahanan negara dihadapkan dengan berbagai dinamika
perubahan, serta dikemas dalam bingkai kepentingan nasional. Doktrin
Pertahanan Negara tidak bersifat dogmatis, tetapi penerapannya
disesuaikan dengan perkembangan kepentingan nasional.
Doktrin Pertahanan Negara memiliki arti penting, yakni
sebagai penuntun dalam pengelolaan sistem dan penyelenggaraan
pertahanan negara. Pada tataran strategis, Doktrin Pertahanan
Negara berfungsi untuk mewujudkan sistem pertahanan yang bersifat
semesta, baik pada masa damai maupun keadaan perang. Dalam
kerangka penyelenggaraan pertahanan negara, esensi dari Doktrin
Pertahanan Negara adalah sebagai acuan bagi setiap penyelenggara
pertahanan dalam mensinergikan pertahanan militer dan pertahanan
nirmiliter secara terpadu, terarah dan berlanjut sebagai satu kesatuan
pertahanan negara yang utuh dan integral.
Pada masa damai, Doktrin Pertahanan Negara digunakan
sebagai pedoman bagi penyelenggara pertahanan negara untuk

6 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

membangun kekuatan pertahanan negara dalam kerangka


kesiapsiagaan dan kekuatan penangkal yang mampu mencegah
dan meniadakan setiap hakikat ancaman, baik yang berasal dari
luar maupun yang timbul di dalam negeri. Pada keadaan perang,
Doktrin Pertahanan Negara digunakan sebagai pedoman dalam
mendayagunakan segenap kekuatan nasional dalam upaya
pertahanan negara guna menyelamatkan negara dan bangsa dari
ancaman yang sedang dihadapi. Adapun dalam penyelenggaraannya
tetap mengacu pada asas-asas yang ditetapkan.

2.2.1 Asas-asas Perdamaian

Dalam penyelenggaraan per­


da­maian bangsa Indonesia memi­
liki prinsip hidup berdampingan
dengan bangsa lain secara damai
dengan menjunjung tinggi asas
demokrasi yang mengutamakan
kesetaraan dan kebersamaan. Hal
ini dilakukan dalam menentukan
suatu masalah melalui musyawarah mufakat, dengan berpedoman
pada delapan asas perdamaian. Kedelapan asas tersebut adalah
tujuan, waspada, kekenyalan, kekuatan, kolektif, kelanggengan,
transparansi dan prioritas.
Asas Tujuan
Penyelenggaraan perdamaian bertujuan agar tetap tegaknya
kemerdekaan, kedaulatan negara, keutuhan wilayah, keselamatan
dan kesejahteraan rakyat, serta terjaminnya kepentingan nasional
seiring dengan perjalanan waktu dan dinamika lingkungan strategis.

Asas Waspada
Asas waspada memiliki arti bahwa setiap kemungkinan
perubahan situasi dan pendadakan strategis, tidak ada yang abadi
selain kepentingan.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


7
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

Asas Kekenyalan

Asas kekenyalan memiliki pengertian bahwa, damai bukan


berarti tidak perang. Perdamaian dapat diwujudkan melalui
penggunaan kekuatan fisik dengan mengacu bahwa jika ingin hidup
damai, negara harus bersiap untuk perang.

Asas Kekuatan

Damai dapat diwujudkan atau dipertahankan apabila memiliki


kekuatan dan kemampuan yang memadai. Pengembangan kekuatan
dan kemampuan harus selalu dikembangkan guna meningkatkan
kesiapsiagaan.

Asas Kolektif
Damai merupakan kebutuhan bersama dan dalam
mewujudkannya melibatkan semua pihak, bukan untuk satu golongan
atau satu pihak. Upaya untuk mewujudkan perdamaian merupakan
integrasi baik secara militer maupun nirmiliter.

Asas Keberlanjutan

Damai tidak akan terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan


hasil upaya bersama yang berkesinambungan. Upaya mewujudkan
kondisi damai dilaksanakan sepanjang waktu dan tidak boleh terhenti.

8 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

Asas Transparansi

Setiap upaya untuk mewujudkan kondisi damai harus


mengedepankan prinsip saling percaya. Prinsip transparansi dalam
rangka mewujudkan rasa saling percaya juga dikembangkan dalam
pembangunan dan penggunaan kekuatan pertahanan.

Asas Prioritas

Pada hakikatnya setiap usaha untuk mewujudkan kondisi


damai yang sejati sebagai dasar kepentingan bersama diletakkan
pada prinsip cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan.

2.2.2 Asas-asas Peperangan

Komitmen bangsa Indonesia untuk hidup berdampingan secara


damai dengan bangsa lain tidak hanya bergantung pada bangsa
Indonesia semata. Negara lain juga berkewajiban untuk bersama-
sama mewujudkan saling percaya dan menghormati hak kedaulatan
negara. Jika upaya perdamaian mengalami buntu dan perang tidak

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


9
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

dapat dihindari, penyelenggaraan perang berpedoman pada asas-


asas peperangan yang ditetapkan.
Asas-asas peperangan bersifat universal yang digunakan sebagai
penuntun dan pedoman dalam penyelenggaraan peperangan pada
hakikatnya adalah kebenaran fundamental yang berpengaruh dalam
memenangkan suatu peperangan atau persengketaaan bersenjata.
Asas-asas peperangan tersebut meliputi asas tujuan, mobilitas,
pemusatan, keamanan, kedalaman, keunggulan moril, informasi,
kesemestaan, pendadakan, kesatuan komando, perla­wanan secara
berlanjut, tidak mengenal menyerah, keutuhan dan kesatuan ideologi
dan politik serta kekenyalan dalam pikiran dan tindakan.

Asas Tujuan

Tujuan harus tetap dipegang teguh. Penyelenggaraan


pertahanan negara dilaksanakan untuk mencapai tujuan, yakni
menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan negara, menjaga
keutuhan wilayah NKRI, serta menjamin keselamatan segenap
bangsa dari setiap ancaman.

Asas Mobilitas

Kemampuan mobilitas diwujudkan dalam keleluasaan bertindak,


responsif, serta ketanggapsegeraan dalam mengembangkan strategi
pertahanan negara serta keleluasaan dalam mendayagunakan
segenap sumber daya nasional untuk
menjadi kekuatan pertahanan, baik
pertahanan militer maupun pertahanan
nirmiliter.

Asas Pemusatan

Pemusatan kekuatan dilakukan


untuk menghasilkan daya tangkal
yang maksimal serta dalam
menghadapi dan merespon setiap

10 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

ancaman nyata, baik ancaman militer maupun nirmiliter. Pemusatan


kekuatan didukung oleh sumber daya manusia (SDM) sebagai kunci
utama untuk menghadapi ancaman atau memenangi perang. Perang
akan berhasil apabila SDM diperlengkapi dengan sistem senjata baik
sistem senjata, yang bersifat fisik, maupun tata nilai dan didukung
oleh manajemen yang handal dalam mendinamisasi segenap usaha
pertahanan secara berdaya dan berhasil guna.

Asas Keamanan

Asas keamanan menempatkan keamanan pada porsi yang


cukup tinggi dalam setiap kegiatan, informasi, alat utama dan sistem
persenjataan, serta personel agar tujuan pertahanan negara dapat
terlaksana dan mencapai keberhasilan yang optimal.

Asas Kedalaman

Asas kedalaman diwujudkan dalam pola penggelaran kekuatan


militer secara berlapis serta pendayagunaan kekuatan nirmiliter
secara efektif, saling menyokong, dan memperkuat satu sama lain,
sehingga penyelenggaraan perang dapat mencapai sasaran dan
berlangsung secara berkelanjutan.

Asas Keunggulan Moril

Keunggulan moril merupakan salah satu kunci keberhasilan


tugas, maka setiap perjuangan
atau usaha pertahanan
negara didasari motivasi yang
kuat, semangat juang pantang
menyerah, manajemen
yang sehat dan berdaya
dukung, serta kepemimpinan
yang berwibawa dan
berkemampuan.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


11
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

Asas Teknologi dan Informasi

Perang di masa datang mengandalkan keunggulan


teknologi dan informasi. Keunggulan informasi diperoleh melalui
usaha mengembangkan kemampuan dalam menganalisis setiap
perkembangan lingkungan strategis dan konteks strategis serta
situasi dalam negeri sehingga terwujud keunggulan informasi secara
akurat dan berlanjut.

Asas Kesemestaan

Kesemestaan diwujudkan dalam keikutsertaan seluruh rakyat


dalam perannya masing-masing, baik melalui pertahanan militer
maupun pertahanan nirmiliter, serta pemberdayaan segenap sumber
daya nasional secara maksimal dalam usaha pertahanan negara.
Kesemestaan mengandung makna totalitas bangsa Indonesia dalam
menyelenggarakan perang dan dalam menyelenggarakan pertahanan
negara dalam arti luas untuk mengamankan eksistensi bangsa dan
negara serta kepentingan nasional.

Asas Pendadakan
Tindakan pendadakan diwujudkan melalui persiapan dan
kesiapsiagaan yang dilaksanakan dengan mempertimbangkan faktor
waktu, tempat, dan sasaran. Persiapan dan kesiapsiagaan mencegah
pendadakan dari pihak lawan/musuh sekaligus juga dapat menjadi
pendadakan terhadap lawan/musuh sebelum didahului.

Asas Kesatuan Komando


Kesatuan komando adalah hal yang mutlak dalam suatu
peperangan. Perang terikat pada satu tujuan, ruang dan waktu,
serta pembagian/pemisahan dalam sasaran, sehingga diperlukan
pengendalian, baik terpusat maupun desentralisasi, dalam
pelaksanaannya.

12 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

Asas Perlawanan secara Berlanjut


Perang harus dapat diselesaikan secepat mungkin
untuk menghindarkan rakyat dari penderitaan yang besar dan
berkepanjangan. Namun, apabila perang tidak diselesaikan secara
singkat, perjuangan melalui perlawanan yang gigih dan menentukan
harus dapat dijaga keberlanjutannya sampai mencapai tujuan.

Asas Tidak Kenal Menyerah

Prinsip dasar bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman


atau lawan yang lebih besar sekalipun adalah semangat dan motivasi
untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan dalam usaha perang
adalah memenangi perang. Sumber daya dapat saja terbatas, tetapi
perjuangan tidak boleh terhenti, yang didasari oleh semangat pantang
menyerah.

Asas Keutuhan dan Kesatuan Ideologi dan Politik

Pelaksanaan perang didasari oleh keutuhan dan kesatuan


ideologi dan politik. Keanekaragaman ideologi dan politik hanya akan
membawa perpecahan, dan perpecahan selalu berujung kehancuran.
Keutuhan dan kesatuan ideologi dan politik harus didasarkan pada
Pancasila dan UUD NRI 1945 yang telah diyakini kebenarannya dan
telah teruji sepanjang waktu.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


13
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

Asas Kekenyalan Dalam Pikiran dan Tindakan

Situasi selalu berkembang sesuai dengan ruang dan waktu,


maka perlu daya dan kreasi untuk bertindak secara kenyal. Kekenyalan
diperlukan untuk mampu merespon setiap perubahan situasi yang
terjadi dalam dinamika operasi sehingga mampu melaksanakan
tugas secara berhasil.

2.3 Kedudukan dan Stratifikasi Doktrin Pertahanan Negara


Kedudukan dan stratifikasi doktrin pertahanan Negara berada
pada tingkatan strategis berskala nasional guna pengelolaan sistem
pertahanan negara. Doktrin pertahanan negara berkedudukan
sebagai instrumen dasar dalam mengembangkan seluruh doktrin
yang berhubungan dengan pertahanan negara. Pada pengelolaan
sistem dan penyelenggaraan pertahanan negara, terdapat sejumlah
doktrin sesuai dengan strata dan penggunaannya masing-masing,
tetapi satu dengan yang lainnya berada dalam suatu kesatuan yang
membentuk strata doktrin. Stratifikasi doktrin terdiri atas Doktrin
Dasar, Doktrin Induk dan Doktrin Pelaksanaan.
Doktrin pertahanan negara berada pada tingkatan Doktrin
Dasar bagi semua doktrin yang berhubungan dengan pertahanan
negara. Tugas dan tanggung jawab penyusunan Doktrin Pertahanan
Negara berada dalam lingkup fungsi dan kewenangan Kementerian
Pertahanan (Kemhan). Pada strata dibawahnya berpedoman pada
Doktrin Dasar yang terdapat Doktrin Induk yang meliputi Doktrin
Pertahanan Militer dan Doktrin Pertahanan Nirmiliter.
Doktrin Pertahanan Militer dirumuskan dan dijabarkan oleh
Mabes TNI menjadi Doktrin Tri Dharma Eka Karma atau disingkat
Doktrin Tridek. Doktrin Pertahanan Militer berlaku bagi TNI dan
komponen penggandanya. Doktrin-doktrin yang bersifat kematraan
berinduk pada Doktrin Pertahanan Militer.
Doktrin Pertahanan Militer dikembangkan pada strata Doktrin
Pelaksanaan. Doktrin Pelaksanaan pada lingkup pertahanan militer

14 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

merupakan doktrin-doktrin pada tingkat matra. Doktrin matra terdiri


atas Doktrin Pertahanan Militer Matra Darat yaitu, Doktrin Kartika Eka
Paksi, Doktrin Pertahanan Militer Matra Laut yaitu, Doktrin Jalesveva
Jayamahe dan Doktrin Pertahanan Matra Udara yaitu, Swa Bhuana
Paksa.
Doktrin Pertahanan Nirmiliter dirumuskan oleh Kemhan
beserta seluruh Kementerian dan Lembaga (K/L) terkait, menjadi
Pedoman Strategis Pertahanan Nirmiliter Dwi Bhakti Eka Darma.
Doktrin pada lingkup pertahanan nirmiliter dapat dijabarkan dalam
Doktrin Pelaksanaan sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal tersebut
setiap fungsi K/L di luar bidang pertahanan dapat membuat doktrin
pelaksanaan sesuai dengan bidangnya yang menginduk pada Doktrin
Pertahanan Nirmiliter (Pedoman Strategis Pertahanan Nirmiliter Dwi
Bhakti Eka Darma). Pelaksanaan pembuatannya dibawah supervisi
Kemhan.

2.4 Landasan
Doktrin Pertahanan Negara
mengacu landasan fundamental bagi
bangsa Indonesia dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, yaitu Pancasila, UUD
NRI Tahun 1945, UU RI Nomor 3
Tahun 2002 tentang Pertahanan
Negara, Sejarah Perjuangan bangsa
Indonesia, Wawasan Nusantara,
Ketahanan Nasional dan Kebijakan
Umum Pertahanan Negara 2015-2019, yang disusun sebagai berikut:

2.4.1 Landasan Idiil

Pancasila adalah Ideologi dan Dasar Negara Kesatuan Republik


Indonesia (NKRI). Sebagai ideologi negara, Pancasila merupakan

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


15
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang mengandung


nilai-nilai moral, etika dan cita-cita luhur serta tujuan dan kepentingan
nasional yang hendak dicapai bangsa Indonesia. Pengejawantahan
Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dituangkan
dalam butir-butir Pancasila yang mengandung nilai-nilai Ketuhanan,
Kemanusiaan, Persatuan dan Kesatuan, Permusyawaratan dan
Keadilan sosial. Sebagai dasar negara, Pancasila juga merupakan
sumber dari segala sumber hukum nasional NKRI. Oleh karena
itu nilai-nilai tersebut harus diimplementasikan secara selaras,
seimbang, serasi, menyatu secara kekeluargaan dan kebersamaan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Atas
Keluhuran nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, maka
Pancasila juga menjadi landasan filosofis Doktrin yang merupakan
jiwa dan semangat kesamaan berpikir, bersikap dan bertindak dalam
rangka penyelenggaraan pertahanan negara.

2.4.2 Landasan Konstitusional


UUD NRI Tahun 1945 merupakan hukum dasar tertulis Negara
Kesatuan Republik Indonesia, memuat dasar dan garis besar hukum
dalam penyelenggaraan negara. Hal-hal yang sangat fundamental
dan secara konstitusional melandasi Doktrin Pertahanan Negara,
yaitu pada Pembukaan UUD NRI
Tahun 1945. Pada pembukaan,
tertuang prinsip-prinsip dasar
penyelenggaraan pertahanan
negara yang dijiwai oleh Pancasila,
yaitu “Bangsa Indonesia pada
hakikatnya cinta damai tetapi
lebih mencintai kemerdekaan
serta kedaulatannya”. Selanjutnya
Pada alinea II juga diamanatkan
Cita-cita Nasional Bangsa Indonesia yaitu “Terwujudnya Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil
dan makmur”.

16 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

Cita-cita nasional tersebut dirumuskan dalam tujuan nasional


yang mengandung 3 (tiga) kepentingan, yaitu “Melindungi segenap
Bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia sebagai
kepentingan keamanan, memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai kepentingan kesejahteraan
dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial sebagai
kepentingan hubungan antar bangsa”.
Kemudian pada Batang Tubuh UUD NRI 1945 Bab XII Pasal 30,
dinyatakan bahwa pertahanan Negara, menyatakan bahwa tiap-tiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan
negara, dan syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-
undang.

2.4.3 Landasan Yuridis

Landasan yuridis
Doktrin Pertahanan
Negara adalah UU RI
Nomor 3 Tahun 2002
tentang Pertahanan
Negara. UU tersebut
mengatur, antara lain,
penyelenggaraan
pertahanan negara,
pengelolaan sistem
pertahanan negara, dan pembinaan kemampuan pertahanan negara.
Pertahanan negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi
kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan
segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. Pertahanan negara
diselenggarakan dan dipersiapkan secara dini oleh pemerintah
melalui usaha membangun dan membina kemampuan daya tangkal
bangsa dan negara yang pengejawantahannya melalui sistem
pertahanan negara.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


17
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

Sistem Pertahanan Negara adalah sistem pertahanan yang


bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah,
dan sumber daya nasional lainnya, yang dipersiapkan pemerintah
secara dini dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan
berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah,
dan keselamatan bangsa dari segala ancaman. Sistem Pertahanan
Negara dikembangkan untuk menghadapi berbagai bentuk ancaman,
baik ancaman militer maupun nirmiliter yang dinilai membahayakan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan
segenap bangsa.
Sistem Pertahanan Semesta dalam menghadapi ancaman
militer menempatkan TNI sebagai Komponen Utama serta segenap
sumber daya nasional lainnya sebagai Komponen Cadangan dan
Komponen Pendukung. Sumber daya nasional yang wujudnya berupa
SDM, sumber daya alam (SDA), dan sumber daya buatan (SDB) serta
sarana parasaran nasinal dapat didayagunakan untuk meningkatkan
kemampuan pertahanan negara. Sistem Pertahanan Negara dalam
menghadapi ancaman nirmiliter menempatkan K/L di uar bidang
pertahanan sebagai Unsur Utama, sesuai dengan berbagai bentuk
ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh Unsur Lain Kekuatan
Bangsa. Selanjutnya, dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman
nirmiliter di luar wewenang instansi pertahanan, penanggulangan
ancaman dikoordinasikan oleh pimpinan K/L instansi sesuai dengan
bidangnya.

18 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

2.4.4 Landasan Perjuangan

Perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari


penjajah, serta upaya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan
dengan pembangunan nasional, sarat dengan nilai-nilai heroik,
patriotik, dan nasionalisme yang menjadi ciri dan kekhasan bangsa
Indonesia. Nilai-nilai tersebut telah lama teraktualisasi dalam
kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari dalam wujud persaudaraan,
gotong-royong, keuletan, ketangguhan, percaya kepada kekuatan
sendiri, tidak kenal menyerah,  keyakinan meraih kemenangan, serta
rela berkorban demi kebenaran dan keadilan.
Perjuangan mewujudkan negara yang merdeka, bersatu, dan
berdaulat adalah perjuangan panjang yang pantang berhenti serta
pantang menyerah. Sejak jaman Sriwijaya berlanjut sampai Majapahit,
nilai-nilai kesatuan dan persatuan, kebangsaan, patriotisme, dan
heroik telah tertanam dan berkembang menjadi jati diri. Jati diri
tersebut kemudian menjadi pendorong untuk menyatukan usaha
dan perjuangan dalam melawan penjajah, dari Zaman Kerajaan
Mataram, Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928,
sampai dengan puncaknya yang mengantarkan bangsa Indonesia
berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal
17 Agustus 1945.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


19
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

Indonesia menghadapi ujian yang berat, baik dari luar maupun


dari dalam negeri. Dalam usianya yang sangat muda, Indonesia
menghadapi ancaman yang dahsyat berupa kekuatan militer
Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia serta rongrongan
dari dalam negeri yang dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin
memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia diberi
kekuatan, kemampuan dan keyakinan untuk menyatukan usaha
dalam semangat persatuan dan kesatuan yang mampu mengusir
penjajah serta mengatasi berbagai macam ancaman dalam negeri.
Proklamasi 17 Agustus 1945 menorehkan kemenangan sehingga
menjadi lambang keberhasilan perjuangan seluruh rakyat Indonesia
yang sepakat untuk mempertahankan kebhinnekaan dalam wadah
NKRI. Hal ini membuktikan bahwa jika bangsa Indonesia bersatu
padu, tujuan bersama akan dapat diraih. Sebaliknya, apabila bercerai-
berai, bangsa Indonesia akan mudah dihancurkan.
Keberhasilan Indonesia mempertahankan kemerdekaan dan
keutuhan NKRI telah dibuktikan kepada dunia melalui perjuangan dan
perlawanan pantang menyerah serta diselenggarakan secara bahu-
membahu oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan seluruh rakyat
Indonesia, baik melalui perlawanan secara militer maupun nirmiliter.
Kerja sama yang terpadu antara TNI dan rakyat tersebut ditanamkan
oleh Panglima Besar Sudirman beserta seluruh kekuatan TNI dalam
berjuang bahu-membahu dengan rakyat untuk melawan penjajah.
Kebersamaan TNI dan rakyat selama perjuangan tersebut telah
mengilhami kemanunggalan TNI-rakyat yang dapat diaplikasikan
dalam berbagai konteks bagi terwujudnya persatuan dan kesatuan
bangsa.
Kemanunggalan TNI-rakyat yang lahir dari pengalaman sejarah
tersebut merupakan inti kekuatan pertahanan Indonesia yang tetap
relevan dan tidak lekang oleh perubahan. Sistem pertahanan yang
modern tidak akan ada artinya manakala TNI tidak bersama rakyat.
Penolakan atau pengingkaran akan kemanunggalan TNI-rakyat
adalah pengkhianatan akan sejarah bangsa sendiri, yakni sejarah

20
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

perjuangan bangsa Indonesia. Atas dasar itulah, menjadi kewajiban


setiap anak bangsa untuk selalu waspada terhadap setiap usaha
yang ingin memecah dan memisahkan TNI dari rakyat, baik usaha
pihak luar maupun usaha pembusukan dari dalam yang dilakukan
oleh kelompok-kelompok tertentu. Hancurnya kemanunggalan
TNI-rakyat dan dipisahkannya TNI dari rakyat pada akhirnya akan
menghancurkan NKRI.

2.4.5 Landasan Visional

Konsepsi wawasan nusantara sebagai landasan visional


merupakan nilai ajaran untuk mewujudkan semangat persatuan dan
kesatuan dalam kemajemukan (daerah, suku, agama, bahasa, adat,
budaya dan lainnya) untuk bertahan dalam dinamika perubahan
serta menumbuhkan sikap kepedulian untuk mewujudkan daya
perekat dan pengendalian diri yang kuat. Wawasan nusantara adalah
pandangan geopolitik bangsa Indonesia dalam mengartikan Tanah Air
Indonesia sebagai satu kesatuan wadah beserta isinya secara utuh
dan bulat, yang meliputi seluruh wilayah geografi nasional beserta
segenap potensi ataupun kekuatan yang terkandung di dalamnya,

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


21
111
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

baik berupa potensi dan kekuatan politik, ekonomi, sosial budaya,


maupun pertahanan keamanan, sebagai satu kesatuan politik, satu
kesatuan ekonomi, satu kesatuan sosial budaya dan satu kesatuan
pertahanan keamanan.
Selain itu wawasan nusantara mengamanatkan persatuan
bangsa dan kesatuan wilayah tanah air sebagai wadah dan ruang
hidup seluruh bangsa Indonesia yang meliputi darat, laut dan udara
beserta seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya perlu
senantiasa dilindungi, dijaga, dipelihara, dikelola, diberdayakan
dan dipertahankan untuk menjamin terwujudnya cita-cita, tujuan
dan kepentingan nasional bangsa Indonesia. Wawasan nusantara
bertujuan menumbuh kembangkan rasa dan sikap nasionalisme yang
tinggi, rasa senasib dan sepenanggungan, sebangsa setanah air,
satu tekad bersama dengan mengutamakan kepentingan nasional
tanpa mengorbankan kepentingan perorangan, kelompok, golongan,
suku bangsa atau daerah.
Wawasan adalah aspek dari filsafah hidup, suatu pandangan
atau sikap hidup yang ditentukan oleh lingkungan ataupun kondisi
alamiah dimana manusia itu hidup, dimana manusia itu menentukan
jalan dan cara mencapai tujuan hidup. Seluruh wilayah dan kekayaan
alam tanah air yang terbagi dari kesatuan daratan, kesatuan lautan
dan kesatuan udara ini dipandang sebagai satu keseluruhan yang
utuh.
Wawasan nusantara sebagai landasan visional berfungsi
sebagai penggerak dan pendorong serta rambu-rambu yang
menjadi arah dan pedoman bagi segala kebijakan dan keputusan
para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai daerah,
maupun sebagai pedoman sikap perilaku setiap warga masyarakat/
rakyat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.

2.4.6 Landasan Konsepsional

Nilai-nilai ajaran Ketahanan Nasional sebagai landasan

22
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT, KEDUDUKAN,
DAN LANDASAN DOKTRIN

konsepsional, bahwa Ketahanan Nasional adalah suatu kondisi


dinamik bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan
nasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang
mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam
menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan
dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam, untuk
menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan
negara serta perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai Tujuan
dan Kepentingan Nasionalnya.
Ketahanan Nasional dapat dilihat dari kondisi dinamis yang
berisi keuletan dan ketangguhan suatu bangsa yang tercermin
dalam Astagatra (geografi, demografi, sumber kekayaan alam,
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan)
dihadapkan kepada berbagai ancaman yang timbul sebagai dampak
pengaruh perkembangan lingkungan strategis. Ketahanan Nasional
Indonesia sebagai konsepsi merupakan pengembangan kekuatan
nasional melalui pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraan
dan keamanan yang seimbang, serasi dan selaras dalam seluruh
aspek kehidupan secara utuh, menyeluruh dan terpadu berlandaskan
Pancasila, UUD NRI 1945 dan Wawasan Nusantara sebagai perekat
semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Kesejahteraan dapat
digambarkan sebagai kemampuan bangsa dalam menumbuhkan
dan mengembangkan nilai-nilai nasionalnya demi terwujudnya
kemakmuran yang adil dan merata, baik rohaniah maupun jasmaniah,
sedangkan keamanan adalah kemampuan bangsa untuk melindungi
nilai-nilai nasionalnya terhadap ancaman dari luar maupun dari dalam.
Ketahanan Nasional dapat dilihat dari terwujudnya pencapaian
kesejahteraan dan keamanan (ends) melalui pengembangan
kebijakan (ways), dengan menyiapkan potensi Astagatra secara
seimbang, serasi dan selaras menjadi kemampuan nasional yang
berisi kekuatan nasional sebagai sarana (means), untuk digunakan
menghadapi segala bentuk ancaman sebagai dampak dari kondisi
dinamis Astagatra yang terjadi akibat perkembangan lingkungan
strategis.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


23
111
111
24 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

Bab 3

PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

3.1 Umum
Perjuangan bangsa Indonesia telah mengantarkan kemerdekaan
Indonesia dan membentuk suatu negara yang berdasarkan Pancasila
dan UUD NRI 1945. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia merupakan
sumber hukum bagi pembentukan NKRI. Pembentukan negara yang
dicetuskan melalui proklamasi tersebut bukanlah merupakan tujuan
semata-mata, melainkan sebagai alat untuk mewujudkan cita-cita
dan tujuan negara.
Warisan sejarah tersebut dijadikan sebagai suatu nilai moral
dalam pembangunan nasional di segala bidang. Nilai moral yang
dilandasi oleh jati diri bangsa yang memiliki karakter untuk mencapai
tujuan dan kepentingan nasional.

3.2 Hakikat Perjuangan Bangsa


Perjuangan bangsa pada hakikatnya adalah upaya
mempertahankan dan mengisi kemerdekaan NKRI yang
berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945. Bangsa Indonesia dalam
mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dilakukan melalui
pendayagunaan seluruh sumber daya nasional secara terpadu. Hal ini
sesuai dengan peran serta dan fungsi masing-masing yang dilandasi
tekad dan semangat cinta tanah air dalam bingkai persatuan dan
kesatuan bangsa.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


111
25
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

3.3 Jati Diri Bangsa


Bangsa Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang
memiliki kesamaan tekad dan kehendak untuk bersatu dalam wadah
NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kesamaan tekad dan
kehendak tersebut merupakan daya rekat segenap warga yang
terwujud dalam nilai-nilai persatuan dan kesatuan, kesetiakawanan
sosial, kekeluargaan, kegotong-royongan dan rasa cinta tanah air
serta semangat kebangsaan. Semangat pembangunan karakter
bangsa merupakan pengembangan jati diri bangsa Indonesia. Jati
diri bangsa Indonesia dituangkan dalam semboyan Bhinneka Tunggal
Ika menjadi semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia
yang wajib digelorakan oleh seluruh komponen bangsa.

3.4 Cita-cita Bangsa Indonesia


Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam
pembukaan UUD NRI 1945 adalah bangsa yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur. Proklamasi kemerdekaan bangsa
Indonesia yang dikumandangkan oleh Soekarno dan Hatta atas
nama bangsa Indonesia telah mengukuhkan bangsa Indonesia
sebagai bangsa yang merdeka, bersatu dan berdaulat dalam wadah

26 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945. Dalam Pembukaan


UUD NRI 1945 juga tersirat dan tersurat makna untuk mewujudkan
kemerdekaan, kesatuan, kedaulatan, keadilan dan kemakmuran.
Oleh sebab itu, maka tugas generasi penerus untuk mewujudkan
cita-cita bangsa melalui pembangunan nasional agar tercapai negara
yang adil dan makmur.

3.5 Tujuan Nasional


Tujuan nasional, sebagaimana tercantum pada Pembukaan UUD
NRI 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, ikut
melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial.
Tujuan nasional memiliki
makna sebagai berikut:
Pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia adalah memberi perlindungan fisik bangsa
dan wilayah Indonesia dari ancaman kekuatan yang berasal dari luar
serta perlindungan hak-hak setiap warga, komunitas dan wilayah
dari kemungkinan eksploitasi yang dilakukan oleh pihak manapun.
Hal ini termasuk rangkaian upaya pemerintah dalam melindungi
kepentingan dan keamanan maritim Indonesia, khususnya batas
negara, kedaulatan maritim dan sumber daya alam.
Kedua, memajukan kesejahteraan umum dengan mewujudkan
kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera,
melalui penggunaan sumber daya ekonomi nasional dan anggaran
negara untuk memenuhi hak dasar warganegara.
Ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa adalah mewujudkan

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


27
111
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

bangsa yang berdaya saing


dan peningkatan martabat
bangsa, dengan memberikan
ruang yang cukup bagi setiap
komponen bangsa. Mekanisme
pengembangan dilaksanakan
sesuai dengan aspirasi dan
budaya masing-masing dalam
kerangka pembangunan bangsa
secara keseluruhan, dengan
menciptakan iklim kondusif bagi tercapainya tujuan nasional dalam
rangka mewujudkan cita-cita nasional.
Keempat, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial merupakan
suatu perwujudan untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan
rasa aman pada seluruh warga negara. Perlindungan yang dimaksud
bukan hanya meliputi lingkungan eksternal di luar wilayah Indonesia,
melainkan juga meliputi lingkungan internal. Gangguan terhadap
perdamaian dunia tidak hanya dipicu oleh konflik antarnegara, tetapi
juga dapat berasal dari konflik internal. Pengelolaan perlindungan
pada dasarnya sebagai upaya untuk menciptakan kondisi yang
kondusif dalam lingkungan sosial secara menyeluruh.

3.6 Kepentingan Nasional


Kepentingan nasional adalah menjaga tetap tegaknya NKRI
berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 serta terjaminnya
kelancaran pembangunan nasional guna mewujudkan tujuan
nasional. Kepentingan nasional diwujudkan dengan memperhatikan
tiga kaidah pokok. Pertama, tata kehidupan masyarakat, bangsa,
dan negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945.
Kedua, upaya pencapaian tujuan nasional dilaksanakan melalui
pembangunan nasional yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
dan berketahanan nasional berdasarkan Wawasan Nusantara.

28
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

Ketiga, sarana yang digunakan adalah seluruh potensi dan kekuatan


nasional yang didayagunakan secara menyeluruh dan terpadu.
Tetap tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD NRI
1945 merupakan kepentingan nasional Indonesia yang bersifat
permanen dan berlaku sepanjang masa. Makna kepentingan
nasional yang bersifat permanen tersebut adalah mempertahankan
kedaulatan negara dan menjaga keutuhan wilayah NKRI dengan tidak
membiarkan setiap jengkal tanah air dikuasai atau diceraiberaikan
oleh pihak manapun.
Kepentingan nasional suatu negara akan dijadikan acuan
dalam perumusan serta penentuan strategi besar (grand strategy)
ataupun strategi keamanan nasional. Keamanan nasional yang stabil
merupakan prakondisi bagi terselenggaranya kelancaran pelaksanaan
pembangunan nasional guna mewujudkan tujuan nasional. Dalam
kerangka itu, keamanan nasional merupakan kepentingan nasional
yang sifatnya dinamis. Keamanan nasional dipengaruhi oleh dinamika
perubahan lingkungan strategis serta faktor-faktor dari dalam negeri,
diantaranya pembangunan ekonomi, pendidikan, kesejahteraan
masyarakat, dinamika politik serta interaksi antar masyarakat.

3.7 Nilai-nilai Bela Negara


Bangsa Indonesia memiliki peran penting dalam pembelaan
negara yang dilakukan oleh segenap warga negara dengan dilandasi

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


29
111
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

sikap dan perilaku serta dijiwai oleh kecintaannya kepada


Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI
1945 dalam menjamin kelangsungan hidup
bangsa dan negara. Upaya bela negara,
selain sebagai kewajiban dasar manusia,
juga merupakan kehormatan bagi setiap
warga negara yang dilaksanakan dengan
penuh kesadaran, tanggung jawab, dan
rela berkorban dalam pengabdian kepada
negara dan bangsa.
Indikator kesadaran bela negara dapat
diukur dari lima sikap dasar dalam bela negara, yaitu cinta
tanah air untuk mempertahankan NKRI, kesadaran berbangsa
dan bernegara dalam kebhinekaan, yakin pada Pancasila sebagai
landasan idiil dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional, rela
berkorban untuk nusa dan bangsa, serta memiliki kemampuan awal
bela negara yang mencakup kemampuan psikis dan fisik.

Cinta Tanah Air Untuk Mempertahankan NKRI

Setiap warga negara berpartisipasi untuk mempertahankan


keutuhan wilayah NKRI, dilakukan atas dasar rasa cinta tanah air.
Cinta tanah air merupakan perwujudan warga negara yang mencintai
tanah airnya sebagai ruang hidup dalam menjalankan kehidupannya.
Mengenal dan mencintai tanah air yang memiliki sumber-sumber
kekayaan, kesuburan dan keindahan alam untuk senantiasa dijaga
dan dipelihara. Memahami sejarah perjuangan bangsa Indonesia,
mencintai dan melestarikan lingkungan hidup, menjaga nama baik
dan mengharumkan tanah air Indonesia.

Kesadaran Berbangsa dan Bernegara dalam Kebhinekaan

Kesadaran berbangsa merupakan sikap dan tingkah laku


yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Kesadaran bernegara

30
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

diwujudkan dengan menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan


bangsa serta negara Indonesia yang diikat dalam kebhinekaan.
Kebhinekaan diwujudkan dengan menumbuhkan rasa kesatuan
dalam suku bangsa, beragam bahasa, adat istiadat serta kebudayaan
yang berbeda-beda. Kemajemukan ini diikat dalam konsep wawasan
nusantara yang menumbuhkan sikap patriotisme bagi setiap warga
dan memiliki kesadaran serta tanggung jawab sebagai warga negara.

Yakin pada Pancasila sebagai Ideologi Negara dan


Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Landasan
Konstitusional.

Keyakinan dan kesadaran bagi setiap warga negara akan


kebenaran Pancasila sebagai ideologi negara. Pancasila telah
disepakati sebagai falsafah dan ideologi bangsa dan negara dalam
penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara guna
tercapainya tujuan nasional seperti tercantum dalam alinea keempat
Pembukaan UUD NRI 1945. Dalam rangka meningkatkan dan
menumbuhkan keyakinan akan Pancasila sebagai ideologi negara,
setiap warga negara Indonesia harus memahami dan mengamalkan
nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Yakin pada UUD 1945 sebagai landasan konstitusional yang
merupakan sumber hukum paling mendasar. UUD 1945 mengandung
asas dan norma yang harus dipatuhi, dijunjung tinggi dan dilaksanakan
dalam setiap pengambilan keputusan, baik oleh esekutif, legislatif,
yudikatif maupun rakyat pada umumnya. Nilai-nilai fundamental yang
terkandung dalam dasar falsafah Pancasila yang termuat dalam
Pembukaan UUD NRI 1945 harus dijaga dan dipertahankan.

Rela Berkorban untuk Nusa dan Bangsa

Rela berkorban untuk nusa dan bangsa dilakukan dengan


mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi/
golongan. Setiap warga negara menempatkan kepentingan nasional
sebagai tolak pangkal berpikir dan bersikap, mencurahkan keikhlasan
dan pikiran untuk menyelesaikan tugas dan kewajiban tanpa pamrih.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


31
111
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

Rela berkorban waktu, harta, raga maupun jiwa untuk kepentingan nusa
dan bangsa. Berpartisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat,
bangsa dan negara, gemar membantu sesama warga negara yang
mengalami kesulitan yakin dan percaya bahwa pengorbanan untuk
bangsa dan negara.

Memiliki Kemampuan Awal Bela Negara yang mencakup


Kemampuan Mental dan Fisik.
Kemampuan mental, memiliki kemampuan nonfisik yang bersifat
kejiwaan yaitu setiap warga negara dibangun untuk memiliki sikap
dan prilaku disiplin, ulet, berkerja keras mentaati segala peraturan
perundang-undangan yang berlaku, percaya akan kemampuan diri
sendiri, tahan uji dan pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan
hidup untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasional. Kemampuan
fisik, setiap warga negara dibangun untuk memiliki kemampuan fisik
yang sehat dan tangkas dalam mendukung penyelenggaraan bela
negara.

32
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT ANCAMAN

Bab 4

HAKIKAT ANCAMAN

4.1 Umum
Pertahanan negara diselenggarakan untuk mencegah dan
mengatasi setiap bentuk ancaman baik dari luar maupun dari dalam.
Identifikasi ancaman dari luar dan dalam negeri yang membahayakan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan
segenap bangsa, merupakan faktor utama yang menjadi dasar dalam
penyusunan desain sistem pertahanan negara. Upaya pertahanan
negara diselenggarakan untuk mencegah dan mengatasi ancaman
baik yang berbentuk ancaman nyata maupun belum nyata. Setiap
bentuk ancaman memiliki karakteristik serta tingkat resiko berbeda
yang mempengaruhi pola penanganannya, sehingga perlu dicermati
hal-hal yang berhubungan dengan analisa, penggolongan, sasaran,
dan eskalasi ancaman.

4.2 Hakikat Ancaman


Ancaman pada hakikatnya adalah setiap usaha dan
kegiatan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang dinilai
membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan
keselamatan segenap bangsa. Berdasarkan identifikasi terhadap
hakikat ancaman yang sangat dinamis, sehingga memungkinkan
terjadinya penggabungan berbagai ancaman yang dinamakan
hibrida. Karenanya bentuk ancaman saat ini dan ke depan dapat
digolongkan menjadi tiga jenis yaitu ancaman militer baik bersenjata
dan tidak bersenjata, ancaman nonmiliter dan ancaman hibrida.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


33
111
HAKIKAT ANCAMAN

HAKIKAT ANCAMAN

Sumber ancaman dapat berasal dari dalam maupun luar negeri, serta
dilakukan oleh aktor negara maupun nonnegara, bersifat nasional,
regional, dan global. Adapun dampak yang ditimbulkan meliputi
segala aspek kondisi sosial terdiri dari ideologi, politik, ekonomi,
sosial budaya, pertahanan dan keamanan.

4.3 Analisa Ancaman


Analisa ancaman dilakukan untuk memahami, mengidentifikasi,
dan menganalisis bentuk-bentuk ancaman. Analisa ancaman dari
negara lain ditentukan oleh sejumlah faktor dominan yang meliputi
faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berkaitan dengan
aktor atau pelaku yang memiliki niat, tujuan, maupun indikasi. Faktor
internal merupakan faktor-faktor yang memfasilitasi atau memberikan
ruang terjadinya ancaman, baik yang bersifat statis maupun dinamis.
Analisa tentang faktor eksternal terkait dengan geostrategi
Indonesia yang berada pada posisi silang. Implikasi dari posisi silang
Indonesia antara Benua Asia dan Benua Australia serta Samudera
Hindia dan Laut Pasifik, menempatkan Indonesia dikelilingi oleh
sejumlah negara yang memiliki berbagai perbedaan latar belakang.
Perbedaan-perbedaan antara lain berkaitan dengan budaya, paham

111
34
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT ANCAMAN

politik, serta tingkat kemajuan. Beberapa negara di antaranya adalah


negara maju yang menjadi kekuatan utama dunia. Negara-negara
tersebut memiliki kekuatan militer dan ekonomi yang jauh lebih kuat
dari pada kekuatan yang dimiliki Indonesia. Disisi lain, juga terdapat
negara-negara yang tingkat ekonomi dan kemajuannya setara dan
ada pula yang berada di bawah kekuatan Indonesia.
Interaksi antarnegara dengan kondisi dan tingkat kemampuan
yang berbeda-beda tidak dapat dipungkiri sering menimbulkan
implikasi yang berdimensi politik, ekonomi dan pertahanan. Dalam
skala tertentu, implikasi tersebut dapat berpotensi menjadi ancaman.
Analisa ancaman mencermati faktor-faktor internal baik yang
bersifat statis maupun dinamis. Faktor yang bersifat statis meliputi
karakteristik dan kondisi geografi sebagai negara kepulauan yang
luas dan terbuka dengan garis pantai yang panjang serta banyaknya
pulau-pulau kecil terluar yang tidak berpenghuni. Faktor yang
bersifat statis lainnya adalah kondisi dan komposisi demografi yang
sangat beragam, serta sumber daya alam yang bernilai strategis.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


35
111
HAKIKAT ANCAMAN

Sebaliknya, faktor internal yang bersifat dinamis mencakup faktor-


faktor yang berkembang menjadi sumber-sumber terjadinya suatu
ancaman atau konflik. Faktor dinamis diantaranya berupa paham-
paham yang mengancam nilai-nilai kebangsaan, persaingan politik
yang mengarah kepada penguatan identitas lokal, primordialisme,
benturan nilai akibat kemajemukan masyarakat, termasuk ancaman
yang diakibatkan oleh peredaran narkoba.
Dengan mencermati konteks strategis global, kepentingan
negara-negara maju yang menonjol dalam beberapa dekade adalah
mencapai keunggulan maksimal dalam globalisasi dan perdagangan
bebas. Kondisi tersebut akan mendorong terjadinya persaingan
antarnegara, baik di kalangan negara maju, antara negara maju dan
negara berkembang, maupun antarnegara berkembang. Bersamaan
dengan itu, dalam menggerakkan roda perekonomian dan industri
negara-negara maju akan selalu bergantung pada kebutuhan energi
dan sumber daya alam, sehingga kelak dapat mendorong persaingan
antarnegara. Di satu sisi, negara-negara maju memiliki keunggulan
di bidang teknologi, modal dan SDM yang berkemampuan tinggi,
tetapi memiliki keterbatasan untuk menjamin ketersediaan bahan
baku industrinya. Disisi lain, negara-negara berkembang memiliki
kemampuan di bidang sumber daya energi dan sumber daya alam,
namun memiliki keterbatasan dalam kemampuan teknologi, modal
dan SDM. Paradoks antara kelangkaan sumber daya alam dan
peningkatan kebutuhan yang besar berpotensi mendorong konflik
antarnegara di masa datang. Semakin rendah daya tangkal suatu
negara, akan semakin tinggi kemungkinan potensi ancaman untuk
berkembang menjadi ancaman nyata.
Pada tataran internal, distribusi hak-hak politik dan kesejahteraan
serta penegakan hukum yang buruk dapat menjadi faktor pendorong
terciptanya ketidakstabilan yang kemudian berkembang menjadi
ancaman. Kondisi tersebut menjadi fenomena global sehingga
mendorong berkembangnya kejahatan, baik lintas negara dan
bentuk-bentuk gangguan keamanan yang timbul di dalam negeri.

111
36 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT ANCAMAN

4.4 Penggolongan Ancaman


Ancaman dapat digolongkan ke dalam jenis, sumber dan aktor.
Berdasarkan jenisnya, ancaman pertahanan negara digolongkan
dalam ancaman militer, ancaman nonmiliter dan ancaman hibrida.
Jika dilihat dari sumbernya, ancaman yang dihadapi Indonesia
dapat berasal dari luar negeri maupun dalam negeri. Sedangkan
berdasarkan aktor, ancaman dapat dilakukan oleh aktor negara
maupun aktor yang bukan negara. Ancaman tersebut secara
sistematis dapat mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah
NKRI dan keselamatan segenap bangsa.

4.4.1 Ancaman Militer

Merupakan ancaman yang menggunakan kekuatan


bersenjata dan terorganisasi serta dinilai mempunyai kemampuan
membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan
keselamatan segenap bangsa. Ancaman militer antara lain dapat
berupa ancaman militer dalam bentuk agresi dan ancaman militer
dalam berbentuk bukan agresi.

Ancaman Militer Agresi

Agresi merupakan penggunaan kekuatan bersenjata oleh


negara lain untuk melakukan aksi pendudukan sehingga mengancam
terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


37
HAKIKAT ANCAMAN

keselamatan segenap bangsa. Agresi yang dilakukan oleh negara


lain merupakan jenis ancaman yang ditempatkan paling utama dalam
penggolongan ancaman. Penempatan ancaman agresi pada tingkat
paling tinggi berdasarkan pada pertimbangan kemungkinan risiko
yang ditimbulkannya.
Agresi dapat mengancam struktur negara serta eksistensi
kedaulatan, keutuhan wilayah negara dan keselamatan bangsa.
Agresi bahkan dapat membubarkan suatu negara yang diagresi. Oleh
karena itu, pertahanan negara harus dibangun dan dipersiapkan untuk
menghasilkan daya tangkal terhadap kemungkinan menghadapi
ancaman agresi. Bentuk-bentuk agresi dapat digolongkan antara lain:
• Invasi berupa serangan oleh kekuatan bersenjata negara lain
terhadap wilayah NKRI.
• Bombardemen berupa penggunaan senjata lainnya yang
dilakukan oleh angkatan bersenjata negara lain terhadap
wilayah NKRI.
• Blokade terhadap pelabuhan atau pantai atau wilayah udara
NKRI oleh angkatan bersenjata negara lain.
• Serangan unsur angkatan bersenjata negara lain terhadap
unsur satuan darat, satuan laut atau satuan udara TNI.
• Unsur kekuatan bersenjata negara lain yang berada dalam
wilayah NKRI berdasarkan perjanjian yang tindakan atau
keberadaannya bertentangan dengan ketentuan dalam
perjanjian tersebut.
• Tindakan suatu negara yang mengijinkan penggunaan
wilayahnya oleh negara lain sebagai daerah persiapan untuk
melakukan agresi terhadap NKRI.
• Pengiriman kelompok bersenjata atau tentara bayaran oleh
negara lain untuk melakukan tindakan kekerasan di wilayah
NKRI.

Ancaman Militer Bukan Agresi

Ancaman militer bukan agresi merupakan ancaman yang dapat


menggunakan kekuatan senjata ataupun tidak bersenjata, berasal

111
38 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT ANCAMAN

dari luar negeri maupun dari dalam negeri serta dilakukan oleh aktor
negara maupun aktor nonnegara yang membahayakan kedaulatan
negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. Pertahanan
negara dalam menghadapi ancaman militer bukan agresi disesuaikan
dengan skala ancaman yang dihadapi, dimana pelibatan TNI melalui
pengerahan kekuatan berdasarkan kebijakan dan keputusan politik
negara. Ancaman militer bukan agresi antara lain:

• Pelanggaran Wilayah.

Ancaman terhadap pertahanan negara dapat berupa acaman


melalui wilayah perbatasan darat, laut dan udara.

Pelanggaran Wilayah Perbatasan Darat Negara

Potensi ancaman pelanggaran wilayah


perbatasan darat negara berupa pelanggaran
pelintas batas, pencurian sumber daya alam,
penyelundupan senjata, amunisi dan bahan
peledak, Narkoba serta berbagai kegiatan
pelanggaran ilegal lainnya yang bersifat
transnasional.

Pelanggaran Wilayah Laut


Pelanggaran wilayah laut yang menggunakan kapal
ataupun sarana transfortasi laut lainnya, termasuk pelanggaran
hukum yang terjadi diwilayah laut kedaulatan dan yurisdiksi NKRI.
Potensi pelanggaran yang terjadi di wilayah laut dapat berupa
pembajakan atau perompakan, penangkapan ikan secara ilegal
atau pencurian kekayaan alam di laut, penyelundupan lewat laut
dan penggunaan jasa maritim secara ilegal.

Pelanggaran Wilayah Udara dan Dirgantara


Pelanggaran wilayah udara dan dirgantara dapat terjadi
dengan menggunakan pesawat tempur, pesawat nonkomersial
dan sarana transportasi udara serta wahana angkasa

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


39
HAKIKAT ANCAMAN

lainnya. Potensi ancaman di antariksa dapat berupa kegiatan


pengintaian, perlintasan benda-benda asing dan pemanfaatan
kegiatan di wilayah dirgantara secara ilegal.
Pemberlakuan ASEAN open sky policy 2015 tidak saja
memberikan peluang ekonomi bagi Indonesia, tetapi juga
menimbulkan kerawanan dari sisi keamanan udara terutama
terkait dengan ancaman-ancaman yang berkenaan dengan
keamanan non tradisional yang bersifat transnasional. Di sisi
lain ASEAN open sky policy 2015 dapat berpontensi menjadi
ancaman bagi kedaulatan udara dan melemahkan pertahanan
udara.

• Spionase
Ancaman spionase yang
dilakukan oleh negara lain masih
akan tetap berpotensi terjadi untuk
mencari dan mendapatkan rahasia
pertahanan negara Indonesia.
Negara-negara tersebut akan
berusaha mendapatkan informasi

111
40 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT ANCAMAN

strategis untuk menjawab hakikat ancaman dan tantangan


terhadap kepentingan nasionalnya.

• Sabotase
Sabotase terhadap instalasi penting militer dan
ancaman terhadap obyek vital nasional yang bersifat strategis
akan berdampak pada keselamatan segenap bangsa dan
mengganggu kepentingan masyarakat. Obyek vital nasional
yang bersifat strategis merupakan kawasan, lokasi, bangunan,
instalasi dan/atau usaha menyangkut hajat hidup orang banyak,
harkat dan martabat bangsa serta kepentingan nasional yang
apabila terjadi ancaman dan gangguan dapat membahayakan
kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. Obyek
vital nasional yang bersifat strategis antara lain: Istana Presiden/
Wapres, kediaman Presiden/Wapres, bandar udara internasional,
pelabuhan internasional, eksplorasi/eksploitasi sumber daya
alam, instalasi nuklir, industri biologi dan kimia skala besar,
industri pertahanan, industri dan badan keantariksaan dan
perusahaan umum percetakan uang Republik Indonesia (Peruri).

• Terorisme

Aksi teror bersenjata dilakukan oleh jaringan terorisme


internasiona,l yang bebekerja sama dengan terorisme dalam
negeri sehingga membahayakan kedaulatan negara, keutuhan
wilayah, dan keselamatan segenap bangsa.

• Pemberontakan Bersenjata

Gerakan separatis bersenjata di beberapa wilayah


Indonesia yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang
berkeinginan untuk memisahkan diri dari NKRI dengan
mengeksploitasi kelemahan penyelenggaraan fungsi
pemerintahan yang dapat mengganggu kedaulatan negara,
keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


41
111
HAKIKAT ANCAMAN

• Konflik Komunal/Perang Saudara

Konflik komunal merupakan


ancaman yang berpontensi terjadi
karena heterogenitas masyarakat
Indonesia dengan keragaman suku
bangsa, agama, etnis dan golongan.
Selain hal tersebut di Indonesia masih
terdapat sejumlah daerah tertinggal
yang sebagian besar dikategorikan
daerah rawan konflik. Konflik komunal
juga dapat disebabkan oleh: masalah
sengketa lahan, tuntutan kenaikan upah kerja dan ketidakpuasan
masyarakat atas kebijakan publik serta ekses kegiatan politik
yang tidak bermartabat.

4.4.2 Ancaman Nonmiliter

Ancaman nonmiliter merupakan usaha atau kegiatan tanpa


bersenjata yang dinilai mempunyai kemampuan membahayakan
atau berimplikasi mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah
negara dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman ini dapat berasal
dari luar negeri dan dapat pula bersumber dari dalam negeri yang
dilakukan oleh aktor negara maupun nonnegara. Ancaman nonmiliter
digolongkan ke dalam ancaman yang berdimensi antara lain: ideologi,
politik, ekonomi, sosial budaya, keselamatan umum, teknologi dan
legislasi.

Ancaman Berdimensi Ideologi


Ancaman yang berdimensi Ideologi adalah berkembangnya
ideologi yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. Ancaman
tersebut yang berasal dari luar negeri antara lain penetrasi faham
liberalisme dan komunisme. Ancaman dari dalam negeri berupa
faham anarkis yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal
dengan alasan keagamaan dan golongan fundamental anti

111
42
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT ANCAMAN

kemapanan, tindakan tidak konstitusional


dan bertentangan dengan hukum
serta kegiatan aliran sesat. Adanya
kecenderungan menguatnya ego
kedaerahan dan primordialisme sempit
(ethno-nationalism).

Ancaman Berdimensi Politik

Ancaman berdimensi politik dapat berasal dari luar negeri


berupa tekanan dan intervensi politik, dengan menggunakan isu global
seperti penegakan Hak Azasi Manusia (HAM), Lingkungan hidup,
demokratisasi dan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan
akuntable. Sedangkan ancaman dari dalam negeri seperti kurangnya
tingkat kedewasaan berpolitik yang berujung pada mobilisasi massa
atau penggalangan kekuatan politik untuk melemahkan dan atau
menumbangkan pemerintah.

Ancaman Berdimensi Ekonomi

Ancaman berdimensi ekonomi dari luar negeri antara lain


berupa embargo atau bentuk-bentuk penghalang nontarif terhadap
produk-produk ekspor maupun impor barang-barang kebutuhan
strategis. Ancaman berdimensi ekonomi dari dalam negeri antara lain
inflasi yang tinggi, pengangguran, kemiskinan, kesenjangan ekonomi,
infrastruktur yang buruk.

Ancaman Berdimensi Sosial Budaya

Ancaman berdimensi sosial


budaya dapat berupa konflik horizontal
seperti pertikaian suku, agama, ras,
dan antar golongan. Penggunaan
teknologi informasi yang tidak terkontrol
dapat memicu terjadinya benturan
antarperadaban, termasuk dampak

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


43
HAKIKAT ANCAMAN

peredarandan dan penyalahgunaan narkoba yang dapat mengancam


generasi muda. Rendahnya kualitas SDM menyebabkan lemahnya
daya saing yang berakibat meningkatnya pengangguran sehingga
dapat memicu terjadinya kerawanan sosial. Korupsi sebagai akibat
rendahnya kualitas moral SDM dan lemahnya penegakan hukum
berdampak pada terhambatnya pembangunan nasional.

Ancaman Berdimensi Keselamatan Umum

Ancaman terhadap keselamatan umum dapat terjadi karena


bencana alam maupun bencana sosial yang tidak dapat diprediksi.
Bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, banjir, puting beliung,
kekeringan, tanah longsor, erupsi gunung berapi dan kebakaran hutan.
Bencana sosial seperti kerusuhan, konflik horisontal, pencemaran
lingkungan hidup, epidemi penyakit dan kegagalan infrastruktur
sosial.

Ancaman Berdimensi Teknologi

Dampak kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi


yang selalu berorientasi terhadap bisnis dan mengabaikan aspek
moral. Program televisi yang tidak memiliki standar untuk acara-acara
yang ditonton oleh anak-anak dan Internet yang tidak dapat dikontrol
secara penuh. Kejahatan yang memanfaatkan siber atau cyber crime
yang merupakan tindakan kriminal dengan menggunakan komputer
sebagai kejahatan utama berbasis kecanggihan teknologi internet
antara lain kejahatan perbankan, penyadapan dan pembajakan hak
cipta. Demikian juga kejahatan terorisme melalui siber atau Demikian
juga kejahatan terorisme melalui siber atau cyber teorrorism dan
perang siber atau cyber warfare yaitu serangan elektronik melalui
jaringan kokmputer terhadap infrastruktur kritis yang berpotensi
besar mengganggu aktifitas sosial dan ekonomi bangsa. Ancaman
berdimensi tehnologi juga dapat terjadi dalam bentuk penyalahgunaan
agensia biologi patogen untuk melancarkan bioterorisme dan perang
biologi.

111
44 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT ANCAMAN

Ancaman Berdimensi Legislasi

Ancaman berdimensi legislasi berpotensi terjadi dalam


proses pembentukan atau pemaknaan substansi suatu undang-
undang yang dapat menyebabkan ancaman terhadap kedaulatan
wilayah, keutuhan NKRI dan keselamatan segenap bangsa. Dimensi
ancaman legislasi antara lain: adanya upaya pihak-pihak luar
yang ingin mewujudkan perundang-undangan di Indonesia sesuai
kepentingannya, mengintervensi proses penyusunan perundang-
undangan dan melemahkan ataupun berupaya mencabut perundang-
undangan yang tidak sesuai dengan kepentingannya.

4.4.3 Ancaman Hibrida

Hakikat ancaman hibrida adalah


ancaman yang bersifat campuran dan
merupakan paduan antara ancaman
militer dan nonmiliter. Ancaman hibrida
antara lain mengkombinasikan antara
ancaman konvensional, asimetrik,
teroris dan perang siber serta
kriminal yang beragam dan dinamis.
Selain berbagai kombinasi ancaman
tersebut, ancaman hibrida dapat juga
berupa keterpaduan serangan antara
penggunaan senjata kimia, biologi,
radiologi, nuklir dan bahan peledak
(Chemical, Biological, Radiological,
Nuclear and Explosive /CBRNE) dan
perang informasi.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


45
HAKIKAT ANCAMAN

4.5 Sasaran Ancaman


Sasaran ancaman terhadap pertahanan negara dapat berupa
ancaman yang mengarah terhadap kedaulatan negara, keutuhan
wilayah NKRI dan keselamatan segenap bangsa.
Sasaran ancaman terhadap kedaulatan negara dapat berupa
penguasaan atau pendudukan sebagian wilayah darat, laut, dan udara
atau klaim wilayah/pulau-pulau Indonesia yang dilakukan oleh negara
lain. Oleh karena itu, adanya konflik atau sengketa antarnegara yang
dapat dikelompokkan sebagai ancaman terhadap kedaulatan negara.
Sasaran ancaman terhadap keutuhan wilayah NKRI dapat berupa
hilangnya sebagian wilayah NKRI, karena adanya keinginan untuk
merdeka atau memisahkan diri dari NKRI yang dilakukan oleh aktor
nonnegara yang mendapat dukungan dari aktor negara atau pihak
ketiga yang dapat dikelompokkan pula sebagai ancaman terhadap
keutuhan wilayah. Sasaran ancaman terhadap keselamatan segenap
bangsa dapat berupa terancamnya keselamatan jiwa dan raga
setiap warga negara Indonesia, baik yang ada di dalam ataupun di
luar negeri, sebagai akibat tindakan fisik ataupun nonfisik dari aktor
negara dan atau aktor nonnegara.

4.6 Eskalasi Ancaman


Ancaman tidak selalu datang dengan tiba-tiba langsung
pada puncak eskalasi tertinggi. Proses eskalasi dapat terjadi mulai
dari yang paling rendah sampai tertinggi. Unsur TNI dan setiap K/L
akan mengambil peran dalam setiap tahapannya. Adapun eskalasi
disesuaikan dengan dinamika ancaman yang berkembang yang
penanganannya melalui tingkatan keadaan, baik dalam eskalasi
ancaman militer maupun eskalasi ancaman nonmiliter.

4.6.1 Eskalasi Ancaman Militer

Eskalasi ancaman militer dapat timbul, baik disebabkan oleh


adanya ancaman dari dalam maupun ancaman luar negeri. Eskalasi

111
46 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT ANCAMAN

ancaman militer dari luar bergerak secara cepat dan dinamis yang
dapat mengakibatkan perang dan melibatkan sebagian atau seluruh
komponen bangsa. Eskalasi tersebut diawali dari masa damai sampai
mengarah kepada konflik militer, baik pada skala kecil, sedang maupun
besar. Apabila konflik militer tidak dapat diatasi melalui diplomasi,
maka dapat berkembang menjadi perang, baik perang terbatas
maupun perang total. Eskalasi ini tidak selalu berurutan, namun bisa
terjadi dari situasi damai langsung melompat ke konflik militer berskala
sedang atau langsung menjadi perang secara terbatas, bahkan dapat
pula langsung menjadi perang secara total. Eskalasi ancaman militer
dari dalam diawali dari tertib sipil, darurat sipil dan kemudian menjadi
darurat militer berdasarkan keputusan politik negara.

4.6.2 Eskalasi Ancaman Nonmiliter

Eskalasi ancaman nonmiliter disesuaikan dengan jenis dan


bentuk ancaman yang akan mempengaruhi kondisi pertahanan
negara. Eskalasi ancaman diawali dari kondisi rendah, sedang

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


47
HAKIKAT ANCAMAN

ILLEGAL FISHING

PELANGGARAN
WILAYAH

dan tinggi. Eskalasi yang terjadi dapat tidak selalu berurutan tetapi
langsung pada kondisi yang memerlukan penanganan segenap
komponen bangsa. Penentuan eskalasi tinggi dilakukan oleh institusi
yang memiliki kewenangan terhadap keamanan negara.

Rendah

Eskalasi ancaman berskala rendah apabila kondisi tidak ada


gejolak yang dapat menimbulkan keresahan dalam masyarakat dan
belum ada ancaman atau gejolak yang berarti. Kehidupan sosial
kemasyarakatan berjalan normal yang ditunjang oleh berfungsinya
pranata negara dan pranata masyarakat secara optimal.

Sedang

Eskalasi ancaman berskala sedang apabila kondisi dinamis


sosial kemasyarakatan terganggu akibat ancaman nonmiliter aspek
tertentu. Meskipun ada ancaman tetapi dinilai belum sampai pada
tahap yang dapat membahayakan pertahanan negara. Ancaman
nonmiliter yang terjadi bersifat sporadis secara terbatas di beberapa
tempat wilayah Indonesia.

111
48 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
HAKIKAT ANCAMAN

Tinggi

Eskalasi ancaman berskala tinggi apabila kondisi dinamis sosial


kemasyarakatan terganggu akibat ancaman nonmiliter di berbagai
aspeknya. Skala ancaman tertinggi dalam spektrum ancaman
nonmiliter adalah kondisi negara dalam keadaan bahaya yang dapat
mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan
keselamatan segenap bangsa.

4.6.3 Eskalasi Ancaman Hibrida

Eskalasi ancaman hibrida disesuaikan dengan sifat ancaman


hibrida yang mengkombinasikan ancaman militer dan nonmiliter.
Eskalasi ancaman dapat mengikuti pola ancaman militer yang diawali
dari kondisi tertib sipil, darurat sipil dan darurat militer sesuai dengan
keputusan politik negara sehingga penanganannya menggunakan
pola pertahanan militer dan dibantu oleh pertahanan nirmiliter. Namun
eskalasi ancaman hibrida dalam kondisi tertentu dapat berubah dari
satu eskalasi ke eskalasi lainnya tanpa melalui tahapan eskalasi yang
normal sesuai ketentuan pada umumnya.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


49
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

111
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

Bab 5

ESENSI PERTAHANAN NEGARA

5.1 Umum
Pertahanan negara disusun dalam suatu sistem pertahanan
negara yang bersifat semesta dalam rangka mencapai tujuan
nasional. Pertahanan semesta merupakan suatu pertahanan yang
melibatkan seluruh warga negara sesuai peran dan fungsinya.
Keterlibatan setiap warga negara didasari atas kecintaan terhadap
tanah airnya yang diorientasikan terhadap cita-cita bersama dalam
mewujudkan kepentingan nasional, termasuk kebijakan pemerintah
terkait konsep PMD yang didalamnya memuat pertahanan maritim.
Esensi pertahanan negara menjadi penuntun kepada setiap warga
negara untuk dapat memahaminya dalam penyelenggaraan
pertahanan negara. Pertahanan negara yang bersifat semesta tetap
menjadi pilihan strategis untuk dikembangkan dengan menempatkan
warga negara sebagai subjek pertahanan negara sesuai perannya
masing-masing.

5.2 Tujuan Nasional


Tujuan Nasional tercantum dalam Pembukaan UUD NRI 1945,
yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


51
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

Tujuan Nasional memiliki tiga makna sebagai berikut: Pertama,


melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia adalah memberi perlindungan fisik bangsa dan wilayah
Indonesia dari ancaman kekuatan yang berasal dari luar serta
perlindungan hak-hak setiap warga, komunitas, dan wilayah dari
kemungkinan eksploitasi oleh pihak manapun. Kedua, memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa adalah
upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan martabat bangsa,
dengan memberikan ruang yang cukup bagi setiap komponen
bangsa yang akan mengembangkan dirinya sesuai dengan aspirasi
dan budaya masing-masing dalam kerangka pembangunan bangsa
secara keseluruhan dengan menciptakan iklim kondusif bagi
tercapainya tujuan dan cita-cita nasional. Ketiga, ikut melaksanakan
ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial sebagai penciptaan lingkungan yang aman dan damai,
baik lingkungan global maupun dalam negeri. Gangguan terhadap
perdamaian dunia tidak hanya dipicu oleh konflik antarnegara, tetapi
juga dapat berasal dari konflik internal dalam negeri. Sementara arti
kemerdekaan dalam hal ini berarti kemerdekaan dari penjajahan
bangsa lain dan kemerdekaan menentukan nasib bangsa sendiri,
sedangkan, keadilan sosial diwujudkan untuk kemaslahatan dan
kehidupan bangsa Indonesia.

5.3 Kepentingan Nasional


Kepentingan nasional adalah menjaga tetap tegaknya NKRI
berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 serta terjaminnya

111
52 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

kelancaran pembangunan nasional guna mewujudkan tujuan


nasional. Kepentingan nasional diwujudkan dengan memperhatikan
tiga kaidah pokok, yaitu Pertama, tata kehidupan masyarakat,
bangsa, dan negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD
NRI 1945. Kedua, pembangunan nasional yang berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, dan berketahanan nasional berdasarkan
Wawasan Nusantara. Ketiga, mendayagunakan sarana, potensi dan
kekuatan nasional secara menyeluruh dan terpadu.
Tetap tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD NRI
1945 merupakan kepentingan nasional Indonesia yang bersifat
permanen dan berlaku sepanjang masa. Makna bersifat permanen
tersebut adalah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga
keutuhan wilayah NKRI dengan tidak membiarkan setiap jengkal
tanah air pun dikuasai atau dicerai-beraikan oleh pihak manapun.
Kepentingan nasional suatu negara akan dijadikan acuan
dalam perumusan serta penentuan strategi besar (grand strategy)
ataupun strategi keamanan nasional. Keamanan nasional yang stabil
merupakan prakondisi bagi terselenggaranya kelancaran pelaksanaan
pembangunan nasional guna mewujudkan tujuan nasional. Dalam
kerangka itu, keamanan nasional merupakan kepentingan nasional
yang bersifat dinamis. Keamanan nasional dipengaruhi oleh dinamika
perubahan lingkungan strategis serta faktor-faktor dari dalam negeri,
di antaranya pembangunan ekonomi, pendidikan, kesejahteraan
masyarakat, dinamika politik, serta interaksi antarmasyarakat.

5.4 Hakikat Pertahanan Negara


Hakikat Pertahanan negara pada dasarnya merupakan segala
upaya pertahanan yang bersifat semesta, yang penyelenggaraannya
didasarkan pada kesadaran terhadap hak dan kewajiban seluruh
warga negara serta keyakinan akan kekuatan sendiri. Kesemestaan
mengandung makna pelibatan seluruh rakyat dan segenap sumber
daya nasional, sarana dan prasarana nasional, serta seluruh wilayah
negara sebagai satu kesatuan pertahanan yang utuh dan menyeluruh

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


53
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.


Upaya pertahanan yang bersifat semesta merupakan model
yang dikembangkan sebagai pilihan bagi pertahanan Indonesia
yang diselenggarakan dengan keyakinan pada kekuatan sendiri
berdasarkan atas hak dan kewajiban warga negara dalam usaha
pertahanan negara. Meskipun Indonesia mencapai tingkat kemajuan
dalam membangun kemandirian bangsa, tetapi model kesemestaan
tetap menjadi pilihan strategis untuk dikembangkan dengan
menempatkan warga negara sebagai subjek pertahanan negara
sesuai dengan perannya masing-masing.
Sistem pertahanan negara yang bersifat semesta bercirikan
kerakyatan, kesemestaan dan kewilayahan. Kerakyatan artinya
orientasi pertahanan diabadikan bersama rakyat dan untuk
kepentingan seluruh rakyat. Kesemestaan artinya seluruh sumber
daya dan sarana prasarana nasional didayagunakan bagi upaya
pertahanan. Kewilayahan artinya gelar kekuatan pertahanan
dilaksanakan secara menyeluruh di wilayah NKRI sesuai dengan
kondisi geografi Indonesia sebagai negara kepulauan sekaligus
sebagai negara maritim.

111
54 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

5.5 Tujuan Pertahanan Negara


Tujuan pertahanan negara adalah menjaga dan melindungi
kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan
segenap bangsa dari segala bentuk ancaman dan gangguan baik
yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri.
Menjaga dan melindungi kedaulatan negara, baik bersifat fisik
maupun nonfisik dari berbagai bentuk ancaman. Kedaulatan negara
yang bersifat fisik merupakan wilayah yang berhubungan dengan
batas negara dan harus dipertahankan kedaulatannya dari ancaman
militer. Kedaulatan yang bersifat nonfisik merupakan kedaulatan
negara dari aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta
pertahanan dan keamanan.
Menjaga dan melindungi
keutuhan wilayah NKRI, baik dari
aspek ancaman militer maupun
nirmiliter. Menghadapi ancaman militer
diarahkan untuk mempertahankan
seluruh wilayah NKRI agar tidak terjadi
disintegrasi atau lepasnya suatu wilayah
yang disebabkan oleh pemberontakan
bersenjata, separatisme dan konflik
vertikal. Sedangkan menghadapi
ancaman nirmiliter diarahkan untuk
mempertahankan seluruh wilayah
NKRI dari disintegrasi yang disebabkan
oleh disorientasi aspek ideologi,
politik, ekonomi, sosial budaya serta
pertahanan dan keamanan.
Menjaga dan melindungi
keselamatan segenap bangsa dari
segala bentuk ancaman militer dan
nirmiliter baik dari dalam maupun
dari luar negeri. Pada aspek militer

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


55
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

melindungi keselamatan dari perompakan dan pembajakan di dalam


dan luar negeri, serta penyanderaan yang terjadi di luar negeri.
Sedangkan aspek nirmiliter melindungi keselamatan bangsa dari
aspek-aspek ancaman ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya,
keamanan, keselamatan umum dan dinamika perkembangan
teknologi serta legislasi.

5.6 Fungsi Pertahanan Negara


Pertahanan negara berfungsi untuk mewujudkan dan
mempertahankan seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagai satu kesatuan pertahanan, yang mampu
melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah, serta keselamatan
segenap bangsa dari setiap ancaman, baik yang datang dari luar
maupun yang timbul di dalam negeri. Upaya mewujudkan dan
mempertahankan seluruh wilayah NKRI sebagai satu kesatuan
pertahanan diselenggarakan dalam fungsi penangkalan, penindakan
dan pemulihan.
Fungsi penangkalan merupakan perwujudan usaha pertahanan
dari seluruh kekuatan nasional yang memiliki efek psikologis untuk
mencegah dan meniadakan setiap ancaman, baik dari luar maupun
yang timbul di dalam negeri, terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah
NKRI dan keselamatan segenap bangsa. Karakter penangkalan
dilaksanakan secara fisik dan nonfisik, dengan melakukan upaya
pertahanan melalui usaha membangun dan membina kemampuan
secara terintegrasi dalam sistem pertahanan negara.
Fungsi penindakan dalam menghadapi ancaman militer
menempatkan TNI sebagai Komponen Utama pertahanan didukung
oleh Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Dalam
menghadapi ancaman militer yang berasal dari luar, penyelenggaraan
fungsi penindakan disesuaikan dengan bentuk ancaman untuk
menentukan jenis tindakan yang diambil serta kekuatan pertahanan
yang digunakan. Ancaman militer berupa agresi dihadapi dengan
perang, dan bagi Indonesia penyelenggaraan perang dilaksanakan

111
56 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

secara total dalam wujud perang semesta.


Fungsi penindakan dalam menghadapi ancaman nonmiliter,
menempatkan K/L di luar bidang pertahanan sebagai Unsur Utama,
didukung oleh Unsur Lain Kekuatan Bangsa. Penindakan terhadap
ancaman nonmiliter dilakukan dengan pendekatan fungsional oleh
K/L di luar bidang pertahanan berdasarkan jenis dan sifat ancaman.
Fungsi penindakan diwujudkan dalam bentuk langkah-langkah
penyelamatan dengan mengerahkan segala kemampuan bangsa.
Bentuk-bentuk penindakan terhadap ancaman yang bersumber dari
dalam negeri disesuaikan dengan jenis ancaman dan tingkat risiko
yang ditimbulkan, serta dilakukan dengan memperhatikan nilai-nilai
hukum yang berlaku dalam negara demokrasi.
Fungsi penindakan dalam menghadapi ancaman hibrida,
menempatkan keku­ atan militer dan
nirmiliter secara terpadu sesuai

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


57
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

hakikat ancaman yang dihadapi dengan memperhatikan kemampuan


secara profesional dan proporsional. Penindakan terhadap ancaman
hibrida dilakukan dengan pola pertahanan militer yang menempatkan
TNI sebagai Komput diperkuat oleh Komcad dan Komduk, serta
bekerja sama dengan K/L di luar bidang pertahanan sebagai Unsur
Utama, didukung oleh unsur-Unsur Lain Kekuatan Bangsa.
Fungsi pemulihan merupakan keterpaduan usaha pertahanan
negara yang dilaksanakan secara militer dan nirmiliter untuk
mengembalikan kondisi keamanan negara yang telah terganggu
akibat kekacauan seperti keamanan karena perang, pemberontakan
atau serangan separatis, konflik vertikal atau konflik horizontal, huru-
hara, serangan teroris, bencana alam atau akibat ancaman nonmiliter.
TNI bersama dengan instansi pemerintah lainnya dan masyarakat
melaksanakan fungsi pemulihan secara terpadu.

5.7 Pandangan tentang Damai dan Perang


Pandangan bangsa Indonesia tentang damai dan perang,
dimana bangsa Indonesia cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan
dan kedaulatan. Perang merupakan jalan terakhir apabila usaha-
usaha diplomasi mengalami jalan buntu serta dilaksanakan dalam
rangka melawan kekuatan negara lain yang secara nyata mengancam
kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan bangsa
Indonesia.

111
58 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

Penyelenggaraan pertahanan negara pada dasarnya tidak


ditujukan untuk perang, tetapi untuk mewujudkan perdamaian,
menjamin keutuhan NKRI, mengamankan kepentingan nasional,
serta menjamin terlaksananya pembangunan nasional. Perang terjadi
akibat kegagalan upaya diplomasi. Untuk mewujudkan perdamaian,
negara harus membangun kekuatan serta memelihara kesiapsiagaan
yang memiliki efek penangkalan yang disegani pihak lawan. Indonesia
menganut prinsip Si Vis Pacem Para Bellum, yakni untuk memelihara
kondisi damai, negara membangun kemampuan pertahanan yang
kuat yang berdaya tangkal tinggi.

5.8 Spektrum Konflik Pertahanan Militer dan


Pelibatan Komponen Pertahanan Negara
Dalam hubungan antarnegara
selalu terjadi kondisi pasang surut yang
berkembang dalam suatu spektrum
konflik militer di antara masa damai
dan perang. Konflik militer merupakan
kondisi terganggunya hubungan
antarnegara yang berkembang dalam
spektrum paling rendah hingga perang
terbuka.
Ketika pelaksanaan Operasi
Militer Perang (OMP) tidak mencapai
sukses maka untuk mempertahankan
kelangsungan hidup dan eksistensi
NKRI dilakukan perang berlarut, yang
pada hakikatnya adalah kelanjutan
upaya pertahanan negara. Perang
berlarut merupakan pengejawantahan
dari prinsip bangsa Indonesia yang
pantang menyerah dan rela berkorban
dalam menegakkan kedaulatan dan

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


59
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

keutuhan negara, serta wujud komitmen dalam membela harkat dan


martabat bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Perang
berlarut dilaksanakan dengan melibatkan seluruh warga negara yang
dilaksanakan atas dasar kesadaran akan hak dan kewajiban dalam
pertahanan negara.
Pelibatan fungsi pertahanan militer dan fungsi pertahanan
nirmiliter diselenggarakan sejak masa damai hingga perang. Dalam
masa damai pelibatan fungsi pertahanan militer ditekankan pada
efektifitas penangkalan, yakni untuk mencegah setiap ancaman baik
dari luar maupun yang timbul dari dalam negeri dengan membangun
kekuatan yang memiliki efek penangkalan.
Dalam rentangan kondisi keamanan nasional dengan
spektrum konflik intensitas rendah fungsi pertahanan militer yakni
TNI dilibatkan untuk menyelenggarakan Operasi Militer Selain
Perang (OMSP). Penanganan dalam bentuk OMSP berdasarkan
kebijakan dan keputusan politik negara. Dalam mengatasi ancaman
yang berdimensi keselamatan umum, keterlibatan TNI dalam OMSP
dilaksanakan sebagai bentuk kecepatan bertindak untuk membantu
dalam memulihkan keadaan yang diakibatkan oleh bencana alam atau
bencana akibat ulah manusia, kecelakaan transportasi dan masalah
sosial sambil menunggu kebijakan dan keputusan politik negara.
Dalam hal pemberian bantuan kepada Pemerintah Daerah
(Pemda), dimana kondisi mengarah pada
kerusuhan yang lebih besar, pimpinan
daerah dapat meminta langsung kepada
TNI sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Dalam spektrum
konflik ketika kondisi keamanan negara
berada pada level yang kritis dan
pemerintah memberlakukan keadaan
darurat, mulai dari darurat sipil, darurat militer atau keadaan perang.
Pelibatan komponen cadangan dan pendukung untuk memperbesar
kekuatan komponen utama dalam menghadapi kondisi perang dapat
dilakukan dengan mobilisasi.

111
60 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

Dalam keadaan darurat militer dan keadaan perang disamping


menjalankan fungsi pertahanan negara berdasarkan keputusan
politik dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, TNI
dapat mengambil alih fungsi-fungsi pemerintahan di wilayah tempat
diberlakukannya keadaan darurat militer atau daerah yang dinyatakan
sebagai keadaan perang.

5.9 Spektrum Konflik Pertahanan Nirmiliter dan


Pelibatan Unsur Pertahanan Negara
Fungsi pertahanan nirmiliter dilibatkan baik masa damai
maupun pada masa darurat militer dan perang. Dalam masa damai,
pelibatan fungsi pertahanan nirmiliter yang diselenggarakan oleh
K/L di luar bidang pertahanan sesuai dengan fungsi peran dan
tugas pokoknya guna mewujudkan kesejahteraan. Pada masa
darurat militer dan perang, pelibatan fungsi pertahanan nirmiliter
dapat dilibatkan melalui mobilisasi dalam rangka memperkuat dan
memperbesar kekuatan TNI sebagai Komponen Utama. Dalam
kondisi ancaman yang dapat membahayakan kedaulatan negara,
keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa, K/L dibantu

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


61
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

Unsur Lain Kekuatan Bangsa. Penggunaan TNI sebagai Unsur Lain


Kekuatan Bangsa dalam membantu ancaman nonmiliter dilakukan
berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara.

5.10 Penyelenggaraan Perdamaian


Penyelenggaraan perdamaian bertujuan untuk menciptakan
kondisi yang aman dan damai, baik dalam lingkup nasional, regional
maupun global. Dalam lingkup global dan regional, Indonesia
berinteraksi dengan negara-negara di kawasan maupun di luar
kawasan yang saling membutuhkan. Dalam hal ini, penyelenggaraan
perdamaian bertujuan untuk menciptakan hubungan yang aman dan
damai dengan memandang negara lain bukan sebagai ancaman dan
sebaliknya negara lain juga memposisikan Indonesia bukan sebagai
ancaman. Setiap pertikaian diselesaikan dengan mengedepankan
usaha-usaha perdamaian. Perwujudan perdamaian ditempuh melalui
peningkatan kerja sama bilateral dan multilateral sesuai dengan
prinsip-prinsip kesetaraan, saling percaya, saling menguntungkan,
saling menghormati eksistensi, kedaulatan dan keutuhan wilayah
negara, tidak mencampuri urusan dalam negeri suatu negara, serta
berpandangan bahwa negara tetangga adalah sahabat yang memiliki

111
62 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

komitmen bersama untuk menjaga stabilitas keamanan dikawasan.


Membangun kesamaan pandangan sangat diperlukan guna
memperkecil permasalahan yang dihadapi. Indonesia sebagai negara
yang cinta damai akan selalu tampil dalam setiap usaha-usaha bagi
terwujudnya perdamaian dunia, baik secara politik maupun melalui
pelibatan kekuatan pertahanan dalam tugas-tugas perdamaian dunia.
Penyelenggaraan perdamaian memiliki dampak secara
nasional guna menjamin stabilitas nasional dalam rangka mendukung
terwujudnya pembangunan nasional yang berkelanjutan. Dalam
membangun stabilitas nasional, setiap konflik dalam negeri, baik
vertikal maupun horizontal, diselesaikan sesuai dengan norma
melalui pendekatan hukum, kesejahteraan, keadilan dan dialogis
dalam membangun kohesi nasional serta persatuan dan kesatuan
bangsa. Pengerahan kekuatan pertahanan negara dalam mengatasi
isu-isu keamanan dalam negeri didasarkan atas eskalasi ancaman
dan analisa terhadap perkembangan situasi serta ditempuh melalui
kebijakan dan keputusan politik negara.
Perkembangan dinamika sosial dan eskalasi potensi konflik
sosial yang terjadi di wilayah, dapat menyulut tindakan anarkis dan
kerusuhan yang lebih luas. Sehingga akan mengganggu stabilitas
keamanan nasional, maka penanganan dan penyelesaian konflik-
konflik sosial tersebut dilaksanakan sesuai dengan mekanisme
pengerahan kekuatan dalam menangani ancaman nonmiliter.

5.11 Penyelenggaraan Peperangan


Perang diselenggarakan untuk membela kemerdekaan dan
kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah negara,
serta melindungi keselamatan segenap bangsa. Perang bagi bangsa
Indonesia adalah perang yang bersifat semesta dengan melibatkan
seluruh warga negara dan segenap sumber daya nasional.
Pernyataan perang dengan negara lain dilakukan oleh Presiden
atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), selanjutnya
pengakhiran perang atau membuat perdamaian dilakukan oleh

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


63
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

Presiden melalui pernyataan politik secara resmi.


Hal mendasar yang harus menjadi pegangan dalam
pelaksanaan perang adalah keyakinan akan kekuatan sendiri,
tidak mengenal menyerah dan tidak akan menyerahkan diri atau
menyerahkan wilayah Indonesia kepada pihak lawan, keyakinan akan
kemenangan dan perlawanan tidak akan berhenti sebelum mencapai
kemenangan. Perang diselenggarakan dengan strategi pertahanan
berlapis dan mendalam dengan mendayagunakan seluruh kekuatan
dan kemampuan nasional ke dalam konsep Perang Rakyat Semesta.
Keberhasilan konsep ini ditentukan oleh kemanunggalan TNI-
Rakyat. Karena itu, pembangunan postur pertahanan negara yang
meliputi kemampuan, kekuatan dan gelar berdimensi kerakyatan dan
kesemestaan, diselenggarakan dengan tujuan untuk membangun
dan memelihara Kemanunggalan TNI-Rakyat bagi terwujudnya daya
tangkal bangsa.
Penyelenggaraan perang pada hakikatnya penataan sistem
pertahanan yang mencakup penyiapan kekuatan, penyiapan wilayah
negara sebagai mandala pertahanan, penyiapan logistik pertahanan,
pelaksanaan perang dan pemulihan terhadap dampak kerusakan
akibat peperangan. Perang di masa depan akan semakin kompleks,
mengedepankan aspek keunggulan kemampuan daya hancur,

111
64 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

akurasi, daya jangkau, kecepatan dan daya ledak yang tinggi serta
pemanfaatan nano teknologi. Oleh karena itu, penataan sistem
pertahanan negara harus disesuaikan dengan perkembangan sifat
atau karakteristik peperangan di masa depan.
Penyiapan kekuatan diselenggarakan oleh pemerintah sejak
dini dan berkesinambungan melalui pembangunan sumber daya
nasional untuk menjadi kekuatan pertahanan. Kekuatan pertahanan
tersebut diorganisasikan ke dalam Komponen Utama, Komponen
Cadangan dan Komponen Pendukung, yakni warga negara, sumber
daya alam dan buatan, serta sarana dan prasarana nasional.
Penyiapan wilayah negara sebagai mandala pertahanan
diselenggarakan berdasarkan perkiraan strategis tentang
kemungkinan ancaman yang dihadapi sesuai karakteristik geografis
yang diproyeksikan dalam tiga lapis mandala pertahanan. Mandala
pertahanan luar merupakan lapis terdepan, yakni mandala
pertahanan yang berada di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan
wilayah udara di atasnya. Mandala pertahanan utama merupakan
lapis inti dari mandala pertahanan mulai dari ZEE sampai dengan
laut teritorial, dasar laut, daratan serta wilayah udara di atasnya.
Mandala pertahanan dalam merupakan lapis ketiga yang berada pada
wilayah-wilayah belakang di luar mandala perang, termasuk wilayah

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


65
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

perairan nusantara dan wilayah udara di atasnya yang dibangun dan


dipersiapkan sebagai daerah pangkal perlawanan untuk memelihara
kesinambungan peperangan. Penyiapan wilayah negara sebagai
mandala pertahanan pada dasarnya merupakan fungsi pemerintah
yang diselenggarakan secara terpadu dan terkoordinasi antar K/L,
melalui penataan ruang nasional, yang di dalamnya mencakup
penataan ruang kawasan pertahanan.
Penyiapan logistik diselenggarakan
secara dini dan terpadu dengan pembangunan
nasional untuk tujuan kesejahteraan.
Penyiapan logistik pertahanan merupakan
hal yang fundamental dalam mendukung
penyelenggaraan peperangan. Penyiapan
logistik merupakan bagian dari pembangunan
pertahanan negara yang diselenggarakan
melalui pertumbuhan ekonomi yang kuat
didukung industri nasional yang berdaya saing
dan mandiri, yang pada gilirannya akan dapat
mewujudkan kemandirian sarana pertahanan
serta pusat-pusat logistik yang tersebar di tiap
wilayah.
Perang dilaksanakan sesuai
dengan sistem pertahanan negara yang
penyelenggaraannya dijabarkan dalam bentuk
strategi pertahanan berlapis sebagai upaya
penangkalan yang kuat untuk mengatasi
hakikat ancaman. Pelaksanaan peperangan
dipengaruhi oleh gelar kekuatan pertahanan
yang disesuaikan dengan hakikat ancaman
dengan mengutamakan kesiapsiagaan dan mobilitas yang tinggi.
Gelar kekuatan TNI dikembangkan secara fleksibel bagi terwujudnya
Tri Matra Terpadu, sekaligus pengintegrasian antara pertahanan
militer dan pertahanan nirmiliter.
Perang selalu menimbulkan dampak kerusakan yang hebat,

111
66 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

baik secara psikis maupun secara fisik. Karenanya fungsi pertahanan


negara pasca perang adalah memulihkan kembali kondisi negara
melalui rehabilitasi terhadap dampak kerusakan yang ditimbulkan
akibat perang. Rehabilitasi dilaksanakan dengan melibatkan
pertahanan nirmiliter sesuai dengan lingkup tugas dan fungsi masing-
masing, dibantu oleh fungsi pertahanan militer. Upaya pemulihan
secara psikis diarahkan pada tata nilai, yakni menata kembali
nilai-nilai kebangsaan dan nilai sosial serta memulihkan kondisi
psikologis masyarakat, serta upaya pemulihan secara fisik, melalui
pembangunan yang diarahkan pada rekonstruksi lingkungan yang
mengalami kerusakan selama berlangsungnya perang.

5.12 Sumber Daya Pertahanan


Sumber daya pertahanan dikelola melalui proses transformasi
untuk mengubah potensi sumber daya dan sarana prasarana nasional
menjadi elemen-elemen kekuatan nasional. Elemen-elemen kekuatan
tersebut meliputi sumber daya pertahanan militer dan nirmiliter yang
dikerahkan secara bersinergi dalam upaya pertahanan negara.
Sumber daya pertahanan mencakup kekuatan sumber daya dan
sarana prasarana nasional, nilai-nilai, teknologi, dana yang dikelola
dan didayagunakan untuk kepentingan pembangunan nasional. Hal ini
dilakukan dengan menyinergikan antara kepentingan kesejahteraan
dengan kepentingan pertahanan negara. Elemen-elemen kekuatan
nasional terdiri dari:

5.12.1 Sumber Daya Pertahanan Militer

Sumber daya pertahanan militer merupakan hasil tranformasi


dari kekuatan komponen pertahanan militer yang terbentuk dari
beberapa kekuatan pertahanan negara, meliputi Komponen Utama
yang diperkuat dengan Komponen Cadangan dan Pendukung.

Komponen Utama
Komponen Utama adalah TNI yang siap digunakan untuk

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


67
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

melaksanakan tugas-tugas pertahanan. TNI


bertugas untuk menegakkan kedaulatan
negara, mempertahankan keutuhan wilayah dan
melindungi keselamatan bangsa, melaksanakan
Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi
Militer Selain Perang (OMSP) serta ikut secara
aktif dalam tugas pemeliharaan perdamaian
regional dan internasional.

Komponen Cadangan

Komponen cadangan terdiri atas warga


negara, sumber daya alam, sumber daya buatan,
serta sarana dan prasarana nasional yang telah
disiapkan dan diorganisir untuk dikerahkan
melalui mobilisasi guna memperbesar dan
memperkuat komponen utama. Penyiapan
dan pengorganisasian komponen cadangan
dibentuk dalam satuan-satuan sesuai
kebutuhan komponen utama, sehingga pada
saat mobilisasi sudah dapat diintegrasikan ke
dalam kekuatan komponen utama.

Komponen Pendukung
Komponen pendukung terdiri atas warga negara, sumber daya
alam, sumber daya buatan serta sarana dan prasarana nasional yang
disiapkan dan ditata untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan
komponen utama dan komponen cadangan baik secara langsung
maupun tidak langsung. Komponen Pendukung dikelompokkan
dalam segmen-segmen yang terdiri dari 3 (tiga) unsur yakni SDM
(garda bangsa, tenaga ahli/profesi dan warga negara lainnya), SDA/B
yang diwujudkan menjadi logistik wilayah dan cadangan material
strategis serta Sarana dan Prasarana Nasional yang dikelompokkan
dalam sarana dan prasarana matra darat, matra laut dan udara untuk
digunakan bagi kepentingan pertahanan.

111
68 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

5.12.2 Sumber Daya Pertahanan Nirmiliter

Sumber daya pertahanan nirmiliter dikelola oleh K/L di luar


bidang pertahanan dan Pemda dalam kerangka kesiapan menghadapi
ancaman nonmiliter, yang disusun menjadi Unsur Utama dan Unsur
Lain Kekuatan Bangsa.

Unsur Utama

Unsur Utama terdiri dari K/L di luar bidang Pertahanan yang


melaksanakan fungsi sesuai dengan bentuk dan sifat ancaman
nonmiliter yang dihadapi, serta bersinergi dengan kekuatan bangsa
lainnya dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pertahanan negara.

Unsur Lain Kekuatan Bangsa

Unsur Lain Kekuatan Bangsa


terdiri dari K/L dan Pemda, serta
segenap kekuatan bangsa lain
termasuk TNI yang berperan
mendukung efektifitas dan efisiensi
tugas-tugas Unsur Utama dalam
rangka menghadapi ancaman
nonmiliter.

5.13 Pembinaan Kemampuan Pertahanan Negara


Pembinaan kemampuan pertahanan negara dilakukan
melalui pembinaan terhadap sumber daya dan sarana prasarana
nasional, nilai-nilai, teknologi dan dana untuk didayagunakan dalam
meningkatkan kemampuan pertahanan negara.

Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan faktor sentral yang menjadi


subyek bagi pengelolaan sumber daya nasional yang bertumpu
pada totalitas kemampuan, profesionalisme dan kesadaran bela

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


69
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

negara setiap warga negara untuk kepentingan pertahanan negara.


Pengembangan kemampuan SDM pertahanan negara dilaksanakan
dalam rangka mengelola dan mendayagunakan seluruh sumber daya
nasional untuk menghadapi setiap ancaman.

Sumber Daya Alam

Pengelolaan dan pendayagunaan


sumber daya alam secara profesional yang
dilandasi kesadaran bela negara setiap
K/L dan Pemda serta Unsur Lain Kekuatan
Bangsa akan mendukung suksesnya
pembangunan nasional di segala bidang,
sebagai modal sekaligus kekuatan dalam
menghadapi kompleksitas dimensi ancaman
nonmiliter, serta mampu berperan sebagai
kekuatan pendukung menghadapi ancaman
militer.

Sumber Daya Buatan

Pengelolaan dan pendayagunaan sumber daya buatan


secara profesional yang dilandasi kesadaran bela negara setiap K/L
dan Pemda serta Unsur Lain Kekuatan Bangsa akan mendukung
suksesnya pembangunan nasional di segala bidang, sebagai
modalitas sekaligus kekuatan dalam menghadapi kompleksitas
dimensi ancaman nonmiliter, serta mampu berperan sebagai
kekuatan pendukung menghadapi ancaman militer.

Sarana dan Prasarana Nasional

Ketersediaan sarana dan prasarana nasional yang dikelola


dan didayagunakan secara profesional yang dilandasi kesadaran
bela negara setiap K/L dan Pemda serta Unsur Lain Kekuatan
Bangsa, mendukung suksesnya pembangunan nasional di segala
bidang, sekaligus menjadi modal dan kekuatan dalam menghadapi

111
70 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

kompleksitas dimensi ancaman nonmiliter, serta mampu berperan


sebagai kekuatan pendukung menghadapi ancaman militer.

Nilai-Nilai
Komitmen dan kepatuhan seluruh K/L dan Pemda serta Unsur
Lain Kekuatan Bangsa terhadap segenap pranata, prinsip dan kondisi
yang diyakini kebenarannya serta digunakan sebagai instrumen
pengatur kehidupan moral, identitas dan karakter serta jati diri
bangsa yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 merupakan
sumber kekuatan yang mampu mendinamisir pembangunan nasional
di segala bidang. Dalam perspektif pertahanan negara, nilai-nilai
tersebut menjadi landasan aktualisasi cinta tanah air, kesadaran
berbangsa dan bernegara, rela berkorban bagi bangsa dan negara
serta kemampuan bela negara. Seperangkat nilai tersebut harus
dipegang teguh dan diimplementasikan secara nyata dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai modal
sosial dalam menghadapi kompleksitas dimensi ancaman nonmiliter,
serta mampu berperan sebagai kekuatan pendukung menghadapi
ancaman militer.

Teknologi
Penguasaan dan profesionalisme K/L dan Pemda serta Unsur
Lain Kekuatan Bangsa di bidang teknologi informasi hingga teknologi
tinggi yang berdaya saing yang mampu mengelola sumber daya
nasional secara mandiri merupakan kekuatan dalam melaksanakan
pembangunan nasional di segala bidang. Penguasaan teknologi
yang dilandasi kesadaran bela negara merupakan modalitas yang
mendukung kemandirian bangsa dalam memenuhi ketersediaan
barang dan jasa dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia,
pengembangan energi, pengelolaan sumber daya mineral,
industrialisasi, sosial budaya, ekonomi serta pertahanan negara.
Modal tersebut merupakan kekuatan dalam menghadapi ancaman
nonmiliter, dan berperan sebagai kekuatan pendukung menghadapi
ancaman militer.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


71
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

Dana

Pengelolaan dan pendayagunaan ketersediaan dana yang


efektif, efisien dan akuntabel atau dapat dipertanggung jawabkan
merupakan modal bagi terlaksana dan suksesnya pembangunan
nasional di segala bidang, sekaligus kekuatan dalam menghadapi
berbagai dimensi ancaman nonmiliter, serta mampu berperan sebagai
kekuatan pendukung menghadapi ancaman militer.

5.14 Pengelolaan Sumber Daya Pertahanan Negara


Pengelolaan sumber daya pertahanan negara memiliki aspek-
aspek yang mencakup perencanaan, pengorganisasian, penggunaan
dan pengawasan. Kegiatan perencanaan, pengorganisasian dan
penggunaan sumber daya harus dilakukan secara terukur, terstruktur
dan terarah melalui kalkulasi yang cermat dan didukung oleh
pengawasan dan komunikasi yang efektif.
Prinsip fundamental dalam penyelenggaraan pengelolaan
sumber daya pertahanan adalah efektifitas dan efesiensi untuk
mencapai tujuan pertahanan negara. Efektifitas penyelenggaraan
pengelolaan sumber daya pertahanan ditentukan oleh organisasi dan
kepemimpinan yang kenyal dan profesional. Organisasi pertahanan
memiliki karakteristik yang kenyal, yakni mampu beradaptasi terhadap
setiap perubahan. Sifat profesional ditunjukkan oleh pengawakan
organisasi melalui SDM dengan tingkat kecakapan yang tinggi yang
didukung oleh sistem rekrutmen yang selektif dan dinamis.
Dalam kerangka itu, organisasi TNI sebagai Komponen Utama
harus ramping dan padat teknologi. Tingkat Markas Besar tidak
menganut sistem piramida, tetapi lebih mengutamakan pendekatan
fungsi yang berbasis kinerja, sedangkan organisasi pada tingkat
operasional disusun dengan sistem piramida.
Pengorganisasian Komponen Cadangan, disesuaikan dengan
fungsinya untuk memperkuat dan memperbesar Komponen Utama.
Susunan Komponen Cadangan disesuaikan dengan organisasi TNI
yang terdiri atas Angkatan Darat, Laut dan Udara dengan kekhasan

111
72 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
ESENSI PERTAHANAN NEGARA

masing-masing, dan pengembangan oleh Kemhan.


Pengorganisasian Komponen Pendukung berdasarkan
pada pengelompokan atau segmen Komponen Pendukung untuk
memudahkan pengembangannya dan berada dalam lingkup
kewenangan instansi pemerintah di luar bidang pertahanan.
Pengembangan Komponen Pendukung disesuaikan dengan
kebijakan pembangunan nasional yang dilaksanakan secara terpadu,
dengan mengacu pada kepentingan pertahanan negara.

5.15 Pengintegrasian Komponen Pertahanan Negara


Kemhan mengintegrasikan komponen-komponen pertahanan
negara dalam menghadapi ancaman. Menghadapi ancaman militer,
dilaksanakan dengan menyiapkan pertahanan militer melalui
Komponen Utama (TNI) yang bercirikan satu kesatuan yang utuh (AD,
AL dan AU), guna melaksanakan OMP. Kemhan dibantu Kementerian
terkait menyiapkan komponen-komponen pertahanan lainnya untuk
ditransformasikan menjadi pertahanan militer melalui mobilisasi dalam
bentuk Komponen Cadangan guna memperbesar dan memperkuat
Komponen Utama, serta menyiapkan Komponen Pendukung yang
secara langsung atau tidak langsung dapat meningkatkan kekuatan
dan kemampuan Komponen Utama dan Komponen Cadangan.
Dalam menghadapi ancaman nonmiliter, K/L di luar bidang
pertahanan menyiapkan Unsur Utama sesuai dengan bentuk dan sifat
ancaman nonmiliter yang dihadapi. Komponen Utama (TNI) bertindak
sebagai Unsur Lain Kekuatan Bangsa pada pertahanan nirmiliter
melalui OMSP dengan memberi bantuan kepada Unsur Utama.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


73
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

111
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

Bab 6

PENYELENGGARAAN PERTAHANAN
NEGARA

6.1 Umum
Penyelenggaraan pertahanan negara merupakan suatu usaha
untuk membangun dan membina kemampuan serta menanggulangi
berbagai ancaman. Pertahanan negara diselenggarakan oleh
pemerintah secara dini dengan sistem pertahanan negara. Sistem
pertahanan negara dalam menghadapi ancaman militer menempatkan
TNI sebagai Komponen Utama didukung oleh Komponen Cadangan
dan Komponen Pendukung. Sistem pertahanan negara dalam
menghadapi ancaman nonmiliter menempatkan K/L di luar bidang
pertahanan sebagai Unsur Utama dibantu oleh Unsur Lain Kekuatan
Bangsa.

6.2 Sistem Pertahanan Negara


Pertahanan negara Indonesia diselenggarakan dalam suatu
sistem pertahanan semesta. Bentuk pertahanan yang dikembangkan
melibatkan seluruh warga negara, wilayah, segenap sumber daya
dan sarana prasarana nasional, yang dipersiapkan secara dini oleh
Pemerintah, serta diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan
berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah
dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Dipersiapkan
secara dini berarti sistem pertahanan semesta dibangun secara
berkelanjutan dan terus-menerus, untuk menghadapi berbagai jenis

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


75
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

ancaman baik ancaman militer, nonmliter, maupun hibrida.


Sistem pertahanan yang bersifat semesta memadukan
pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter, melalui usaha
membangun kekuatan dan kemampuan pertahanan yang disegani
serta memiliki daya tangkal yang tinggi. Sistem pertahanan negara
dibangun sejak masa damai sampai masa perang, sebagaimana
kondisi nyata bahwa membangun pertahanan membutuhkan waktu
yang lama sedangkan perang dapat terjadi setiap saat.
Perang Rakyat Semesta diselenggarakan berdasarkan tatanan
unsur kekuatan, perwujudan kemampuan dan sarana perjuangan.
Tatanan segenap unsur kekuatan diselenggarakan secara
menyeluruh, terpadu dan terarah dibawah kesatuan komando dan
strategi sehingga merupakan satu totalitas perjuangan. Perwujudan
kemampuan secara total mencakupi perlawanan bersenjata yang
berintikan TNI, didukung oleh perlawanan tidak bersenjata yang
berintikan kesemestaan untuk menghadapi setiap kekuatan asing
yang menyerang dan menduduki sebagian atau seluruh wilayah
Indonesia. Sarana perjuangan bangsa bertumpu pada kekuatan
rakyat yang dipersenjatai secara psikis dengan semangat perjuangan
dan secara fisik dengan kemampuan bela negara.

111
76 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

Dipersenjatai secara psikis diwujudkan dalam usaha


menanamkan kecintaan kepada tanah air untuk mempertahankan
NKRI, menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara,
persatuan dan kesatuan bangsa dalam semboyan Bhinneka Tunggal
Ika, kesadaran dan tanggung jawab akan hak dan kewajiban dalam
usaha pembelaan negara, serta melengkapi diri dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi sebagai penjabaran dari sistem senjata
sosial.
Dipersenjatai secara fisik diwujudkan ke dalam pemberian bekal
keterampilan fisik, baik melalui wadah prajurit TNI maupun pelatihan
dasar kemiliteran yang dipersiapkan untuk menjadi Komponen
Cadangan, yang didukung oleh pengetahuan dan keterampilan
menggunakan peralatan dan persenjataan militer serta menguasai
taktik dan strategi bertempur serta komponen pendukung yang ditata
sesuai segmen dalam pertahanan negara.
Menghadapi Perang Rakyat Semesta dalam bentuk perang
berlarut, terdapat lima hal yang harus dibangun dan dijaga, yakni
terkait dengan sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem
teknologi dan sistem pertahanan.
Sistem politik diarahkan untuk menjaga dan memelihara

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


77
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

Pancasila sebagai dasar falsafah seluruh bangsa Indonesia dalam


kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta dijadikan
sebagai dasar perjuangan bangsa. Sistem politik juga menjamin
keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan
perjuangan bangsa dalam mencapai cita-cita dan kepentingan
nasional.
Sistem ekonomi Indonesia diorientasikan untuk mampu
menopang kesinambungan perjuangan dengan membangun struktur
ekonomi yang kuat, mandiri dan berdaya saing serta didukung oleh
sistem distribusi yang menjangkau seluruh wilayah nusantara.
Sistem sosial budaya Indonesia tetap mengacu pada
kehidupan masyarakat yang kompetitif dan produktif, yang dilandasi
oleh nilai dan semangat perjuangan, disiplin yang tinggi, dan kerja
keras untuk mengejar kemajuan bangsa sehingga pada gilirannya
akan menghadirkan masyarakat Indonesia yang tangguh dan
berdaya saing. Bersamaan dengan itu, sistem teknologi dibangun
untuk memacu pertumbuhan industri nasional dalam mewujudkan
kemandirian dengan menghasilkan produk-produk, baik untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat maupun kebutuhan pertahanan.
Selanjutnya sistem pertahanan dibangun dan dikembangkan
untuk dapat menjaga dan mempertahankan kemerdekaan dan

111
78 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

kedaulatan negara serta keutuhan wilayah NKRI. Sistem pertahanan


diperankan oleh TNI yang tangguh dan profesional, didukung oleh
seluruh rakyat dalam sistem pertahanan negara yang bersifat semesta
dan berdaya tangkal tinggi serta menjamin stabilitas keamanan
nasional yang memungkinkan terselenggaranya pembangunan
nasional.
Pada masa damai, penerapan sistem pertahanan semesta
dilaksanakan dalam kerangka pembangunan nasional yang tertuang
dalam program pemerintah yang berlaku secara nasional.
Pada masa perang, sistem pertahanan negara memadukan
pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter dalam susunan Komponen
Utama Pertahanan, yaitu TNI, serta Komponen Cadangan dan
Komponen Pendukung melalui mobilisasi. Mobilisasi ditentukan oleh
kebijakan dan keputusan politik negara melalui pernyataan Presiden
atas persetujuan DPR untuk mengerahkan dan menggunakan secara
menyeluruh terhadap sumber daya dan sarana prasarana nasional
sebagai kekuatan pertahanan negara.
Komponen Cadangan terdiri atas SDM, SDA/B serta Sarana
Prasarana Nasional. Komponen Cadangan dibentuk dari sumber
daya nasional yang dipersiapkan untuk dikerahkan melalui mobilisasi
guna memperbesar dan memperkuat Komponen Utama.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


79
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

Komponen Pendukung adalah sumber daya nasional yang


dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan
Komponen Utama dan Komponen Cadangan. Komponen Pendukung
dikelompokkan dalam segmen-segmen yang terdiri dari 3 (tiga) unsur
yakni SDM (garda bangsa, tenaga ahli/profesi dan warga negara
lainnya), SDA/B yang diwujudkan menjadi logistik wilayah dan
cadangan material strategis serta Sarana dan Prasarana Nasional
yang dikelompokkan dalam sarana dan prasarana matra darat, matra
laut dan udara untuk digunakan bagi kepentingan pertahanan.
Garda Bangsa adalah salah satu Unsur Utama dalam Komponen
Pendukung, yang terdiri atas warga negara yang memiliki kecakapan
dan keterampilan khusus, jiwa juang, kedisiplinan, serta berada dalam
satu garis komando yang sewaktu-waktu dapat dikerahkan untuk
membantu tugas-tugas pertahanan pada saat negara membutuhkan
Komponen Pendukung.
Unsur-unsur Garda Bangsa berasal dari unsur Kepolisian
Negara, Satuan Polisi Pamong Praja yang dimiliki Pemda, unsur
Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang dikoordinir oleh Pemda,
Resimen Mahasiswa yang pembinaannya dibawah perguruan tinggi,
Alumni Resimen Mahasiswa, serta organisasi kepemudaan.

6.3 Pertahanan Militer


Pertahanan militer bertumpu pada TNI sebagai Komponen
Utama yang didukung oleh Komponen Cadangan dan Komponen
Pendukung melalui mobilisasi baik secara langsung maupun tidak
langsung yang dipersiapkan dan diorganisir untuk menghadapi
ancaman militer. Dalam pertahanan militer TNI sebagai lapis utama
melaksanakan tugas OMP untuk menghadapi agresi.
Pertahanan militer untuk melaksanakan tugas OMSP dilakukan
dalam dua bentuk kegiatan, sebagai penjuru TNI melaksanakan
operasi yang bersifat tempur dan nontempur, sebagai perbantuan
dilaksanakan untuk memberi bantuan kepada K/L. Bersifat tempur
dilakukan dalam rangka menghadapi separatis, pemberontakan

111
80 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

bersenjata, terorisme, pengamanan wilayah perbatasan dan


perdamaian dunia. Bersifat nontempur dilakukan untuk pengamanan
VVIP, Pengamanan Obyek Vital Nasional. Untuk tugas bantuan
dilakukan TNI sebagai Unsur Lain Kekuatan Bangsa dalam membantu
Unsur Utama. Bentuk bantuan antara lain bantuan kepada Pemda,
bantuan pengamanan tamu negara, bantuan dalam menanggulangi
bencana, bantuan SAR, bantuan dalam pengamanan pelayaran dan
penerbangan serta bantuan OMSP lainnya.
Gelar kekuatan TNI merupakan bagian vital dari upaya
pertahanan militer, yang pelaksanaannya didasarkan pada pertahanan
sebagai fungsi pemerintahan negara yang tidak diotonomikan.
Oleh karena itu, TNI digelar di seluruh wilayah Indonesia secara
kenyal berdasarkan strategi pertahanan dan strategi militer untuk
kepentingan penangkalan serta pelaksanaan operasi militer.
Kekuatan TNI diarahkan untuk mewujudkan pembangunan
kekuatan di masing-masing matra yaitu kekuatan darat, kekuatan
laut dan kekuatan udara. Matra darat mewujudkan totalitas kekuatan
darat yang dibangun dari kekuatan angkatan darat, kekuatan berbagai
satuan dan organisasi, industri strategis. Matra Laut mewujudkan
totalitas kekuatan laut yang dibangun dari kekuatan angkatan laut,

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


81
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

kemaritiman, industri maritim, organisasi dan kesatuan kemaritiman.


Matra Udara mewujudkan totalitas kekuatan udara dengan
pengembangan armada penerbangan militer, armada penerbangan
sipil, industri dan jasa kedirgantaraan. Pengembangan sesuai matra
tersebut dapat dikelompokkan dalam tiga komponen pertahanan
yaitu Komponen Utama, Komponen Cadangan dan Komponen
Pendukung. Penggunaan Komponen Cadangan dan Komponen
Pendukung disesuaikan dengan hakikat ancaman yang dihadapi,
dengan berpedoman kepada asas-asas yang telah ditentukan.
Komponen Pendukung terdiri atas warga negara, sumber daya
alam, sumber daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional yang
didayagunakan untuk meningkatkan kemampuan Komponen Utama
dan Komponen Cadangan. Pendayagunaan Komponen Pendukung
dapat digunakan secara langsung atau tidak langsung tergantung
kondisi, urgensi kebutuhan, serta fungsi hakiki unsur Komponen
Pendukung yang bersangkutan.

6.4 Pertahanan Nirmiliter


Pertahanan nirmiliter bertumpu pada K/L di luar bidang
pertahanan sebagai Unsur Utama yang didukung oleh Unsur Lain
Kekuatan Bangsa dengan mendayagunakan sumber daya nasional
dan sarana prasaran lainnya yang dipersiapkan dan diorganisir
untuk menghadapi ancaman nonmiliter. Bentuk ancaman nonmiliter
meliputi ancaman berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial
budaya, teknologi, keselamatan umum dan legislasi yang berdampak
langsung maupun tidak langsung kepada kepentingan nasional, yaitu
tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945
Unsur Utama terdiri dari K/L di luar bidang pertahanan yang
melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan bentuk dan sifat
ancaman nonmiliter yang dihadapi, serta bersinergi dengan kekuatan
bangsa lainnya dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pertahanan
negara. Unsur Lain Kekuatan Bangsa terdiri dari K/L dan Pemda,

111
82 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

serta segenap kekuatan bangsa lain termasuk TNI yang berperan


mendukung efektifitas dan efisiensi tugas-tugas Unsur Utama dalam
rangka menghadapi ancaman nonmiliter.
Pertahanan nirmiliter yang dilaksanakan oleh K/L disesuaikan
dengan profesi, pengetahuan dan keahlian, melalui pemberdayaan
sumber daya nasional guna mendukung penyelenggaraan pertahanan
negara. Pengintergrasian pertahanan nirmiliter dilaksanakan dalam
bentuk pengabdian secara proporsional baik pengabdian pada profesi
maupun pengabdian kepada kepentingan pertahanan negara.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


83
PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

111
111 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

Bab 7

PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

7.1 Umum
Pembinaan pertahanan negara dilaksanakan berdasarkan
kebijakan pertahanan yang meliputi pembinaan kekuatan
dan kemampuan pertahanan negara secara menyeluruh dan
berkesinambungan dalam rangka menghadapi berbagai ancaman.
Pembinaan pertahanan negara meliputi pembinaan kemampuan
dan pembinaan kekuatan, baik pertahanan militer maupun
pertahanan nirmiliter yang dilaksanakan secara terpadu berdasarkan
perkembangan lingkungan strategis.

7.2 Pembinaan Kekuatan Pertahanan Negara


Pembinaan kekuatan pertahanan negara baik terhadap
komponen pertahanan militer, maupun terhadap komponen
pertahanan nirmiliter dilaksanakan secara komprehensif.

7.2.1 Pembinaan Kekuatan Komponen Pertahanan Militer

Pembinaan kekuatan komponen pertahanan militer


dilaksanakan oleh pemerintah, dalam hal ini Kemhan yang diwujudkan
dalam postur pertahanan negara agar mampu menghadapi berbagai
ancaman. Pembinaan dilaksanakan untuk mewujudkan kemantapan
satuan dan sinergitas komponen pertahanan yang memiliki tingkat
profesionalisme yang dapat diandalkan.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


85
PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

7.2.2 Pembinaan Kekuatan Komponen Pertahanan Nirmiliter

Pembinaan kekuatan komponen pertahanan nirmiliter


dilaksanakan oleh K/L dan Pemda yang terintegrasi dalam
pembangunan nasional dengan senantiasa mencermati dinamika
ancaman nonmiliter. Sasaran Pembinaan dilakukan untuk
meningkatkan totalitas kesadaran bela negara dan meningkatkan
profesionalisme yang sesuai peran dan fungsi masing-masing K/L
dalam mendukung pertahanan negara.

7.3 Pembinaan Kemampuan Pertahanan Negara


Pembinaan kemampuan pertahanan negara diarahkan untuk
mewujudkan daya tangkal nasional, baik terhadap kepentingan
militer maupun nirmiliter. Pembinaan kemampuan pertahanan
negara dilaksanakan sesuai kebijakan penyelenggaraan pertahanan
negara yang meliputi Pembinaan kemampuan pertahanan militer dan
nirmiliter.

7.3.1 Pembinaan Kemampuan Pertahanan Militer

Pembinaan kemampuan pertahanan militer dilaksanakan


secara bersama oleh pemerintah, dalam hal ini Kemhan yang
mencakup penetapan kebijakan penyelenggaraan pertahanan
negara, perumusan kebijakan umum penggunaan kekuatan
TNI yang memiliki kemampuan intelijen, pertahanan, dukungan,
pemberdayaan wilayah pertahanan dan diplomasi pertahanan.
Kemampuan pertahanan militer juga didukung melalui penetapan
kebijakan penganggaran, pengadaan, perekrutan, pengelolaan
sumber daya nasional, pembinaan teknologi dan industri pertahanan.
Pembinaan kemampuan pertahanan militer diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan Komponen Utama, Komponen Cadangan
dan Komponen Pendukung.

111
86 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

7.3.2 Pembinaan Kemampuan Pertahanan Nirmiliter

Pembinaan kemam­
puan pertahanan nirmiliter
dilaksanakan oleh K/L
melalui penyusunan kebi­
jakan dan pelaksanaan
di lingkungan masing-
masing yang dikoor­
dinasikan dengan
Kem­han. Pembinaan
kemam­puan pertahanan
nirmiliter diarahkan melalui peningkatan kewaspadaan dini, bela
negara, diplomasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi,
sosial, moral dan dukungan pertahanan negara untuk meningkatkan
profesionalisme guna mewujudkan tata kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara serta kemandirian bangsa dalam rangka
mewujudkan kepentingan nasional.

7.4 Pokok-Pokok Pembinaan Pertahanan Negara


Penyelenggaraan pembinaan pertahanan negara dilaksanakan
sesuai dengan kebijakan penyelenggaraan pertahanan negara dan
tetap berpedoman pada ketentuan kebijakan penyelenggaraan
pertahanan negara. Pembinaan pertahanan negara meliputi
pembinaan kekuatan dan kemampuan pertahanan militer dan
pertahanan nirmiliter.
Pemerintah bertanggung jawab dan berkewajiban mewujudkan
kekuatan dan kemampuan pertahanan yang tangguh dan berdaya
tangkal tinggi melalui pembangunan kekuatan dan kemampuan
pertahanan negara. Pembangunan kekuatan dan kemampuan
pertahanan negara tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam
pembangunan nasional, termasuk kebijakan PMD. Pelaksanaannya
dilakukan secara dini dan berlanjut serta ditujukan untuk
terselenggaranya sistem pertahanan negara.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


87
PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

Pembinaan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara


meliputi pembinaan SDM, SDA/B, sarana prasarana, teknologi dan
industri pertahanan, serta sistem tata nilai untuk meningkatkan
kemampuan pertahanan negara. Pemberdayaan sumber daya alam
dan buatan harus memperhatikan prinsip-prinsip berkelanjutan,
keragaman dan kelestarian lingkungan hidup.
Wilayah Indonesia dapat dimanfaatkan untuk pembinaan
kemampuan pertahanan negara dengan memperhatikan hak-hak
masyarakat. Wilayah yang digunakan sebagai instalasi militer dan
daerah latihan militer yang strategis disiapkan oleh pemerintah.
Penataan ruang wilayah dilakukan untuk tujuan kesejahteraan yang
diintegrasikan dengan tujuan pertahanan negara. Penataan ruang
kawasan pertahanan berada dalam sistem penataan ruang nasional
yang dijamin oleh pemerintah.
Pembangunan di daerah harus memperhatikan kepentingan
pertahanan dan pembinaan kemampuan pertahanan serta
dilaksanakan melalui koordinasi antar lembaga. Perencanaan
pembangunan sarana prasarana vital nasional dan di daerah
mengakomodasi kepentingan pertahanan negara untuk tujuan jangka
panjang.

7.5 Wewenang Pembinaan Pertahanan Negara


Pengelolaan sistem pertahanan dan keamanan negara
merupakan wewenang dan tanggung jawab Presiden. Dalam
pembinaan kemampuan pertahanan negara, Presiden dibantu oleh
Menteri Pertahanan, Menteri/Kepala Lembaga dan Panglima TNI
sebagai penyelenggara dalam perencanaan strategi dan operasi
militer. Wewenang pembinaan kemampuan pertahanan negara
dilaksanakan melalui tataran kewenangan mulai dari tingkat Presiden,
Menteri Pertahanan, Menteri/Kepala Lembaga sampai pada Panglima
TNI.

111
88 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

Presiden

Pada tingkat politik, Presiden selaku Kepala Negara


memiliki wewenang dalam pengelolaan sistem pertahanan negara.
Wewenang pengelolaan sistem pertahanan negara diwujudkan
dalam penetapan kebijakan umum pertahanan negara. Penetapan
kebijakan umum pertahanan negara dilakukan oleh Presiden dibantu
Menteri Pertahanan dan Dewan Keamanan Nasional atau Dewan
Pertahanan Nasional atau dewan manapun yang menurut undang-
undang berfungsi untuk membantu Presiden di bidang pertahanan
negara.
Kebijakan pertahanan negara mencakup pembangunan,
pemeliharaan dan pembinaan kekuatan pertahanan negara, yang
dilaksanakan secara terpadu dan terarah bagi segenap komponen
pertahanan negara baik pertahanan militer maupun pertahanan
nirmiliter. Kebijakan umum pertahanan negara menjadi acuan bagi
perencanaan, penyelenggaraan, dan pengawasan sistem pertahanan
negara.
Presiden selaku pemegang kekuasaan tertinggi atas TNI yang
terdiri atas TNI AD, TNI AL, dan TNI AU berwenang mengangkat dan
memberhentikan Panglima TNI serta para Kepala Staf Angkatan.
Presiden berwewenang menyatakan perang, membuat perdamaian

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


89
PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

dan membuat perjanjian dengan negara lain atas persetujuan DPR.


Dalam kondisi negara menghadapi bahaya secara nasional
atau ancaman yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan
wilayah NKRI dan keselamatan bangsa, Presiden menetapkan
keadaan bahaya berdasarkan peraturan perundang-undangan. Dalam
menghadapi keadaan bahaya, Presiden mengerahkan kekuatan
TNI untuk menyelenggarakan operasi militer sesuai tingkat eskalasi
ancaman. Dalam hal menghadapi ancaman agresi atau ancaman
bersenjata yang membahayakan eksistensi negara dan memerlukan
pengerahan kekuatan melalui mobilisasi, Presiden melakukan
pengerahan kekuatan TNI dan mobilisasi kekuatan nasional untuk
menjadi kekuatan pertahanan negara.

Menteri Pertahanan

Menteri Pertahanan adalah pembantu Presiden dan


representasi pemerintah yang merupakan penanggung jawab politik
di bidang pertahanan negara. Selain sebagai pembantu Presiden,
Menteri Pertahanan memiliki kewenangan dalam merumuskan
dan menetapkan kebijakan pertahanan serta mengkoordinasikan

111
90 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

penyelenggaraan pertahanan negara dengan semua instansi


pemerintah.
Perumusan kebijakan umum pertahanan negara mencakup
penyiapan ketetapan kebijakan Presiden yang memuat arah
pembangunan kekuatan pertahanan negara serta pemeliharaan
dan pembinaan kekuatan pertahanan negara yang memadukan
pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter.
Menteri Pertahanan selaku pemimpin Kementerian yang
membidangi pertahanan negara merupakan tiga serangkai (triumvirat)
yang melaksanakan tugas kepresidenan bersama-sama dengan
Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri dalam hal Presiden
dan Wakil Presiden berhalangan tetap. Dengan demikian, Menteri
Pertahanan merupakan salah satu dari tiga posisi vital yang dijamin
keberadaannya dalam susunan kabinet yang dibentuk oleh setiap
Presiden.
Menteri Pertahanan menetapkan kebijakan di bidang
penyelenggaraan pertahanan negara berdasarkan kebijakan umum
pertahanan negara yang ditetapkan Presiden. Dalam rangka
menciptakan saling percaya dengan negara-negara lain serta
meniadakan potensi konflik, kebijakan pertahanan yang ditetapkan
Menteri Pertahanan perlu disebarluaskan kepada masyarakat umum,
baik domestik maupun internasional dalam bentuk Buku Putih
Pertahanan.
Dalam pengelolaan sistem pertahanan negara, Menteri
Pertahanan menetapkan kebijakan pertahanan di bidang
penganggaran, pengadaan, perekrutan, pengelolaan sumber daya
nasional, serta pengembangan teknologi dan industri pertahanan.
Khusus tentang perekrutan sumber daya nasional untuk Komponen
Cadangan dan Komponen Pendukung, Menteri Pertahanan
melaksanakan kerja sama dengan Menteri/Kepala Lembaga di luar
bidang pertahanan, serta menetapkan kebijakan kerja sama, di
bidang pertahanan secara bilateral dan multilateral.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


91
PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

Menteri Dan Kepala Lembaga

Menteri dan Kepala Lembaga adalah pembantu Presiden dan


representasi pemerintah yang berwenang menetapkan kebijakan
yang berhubungan dengan kepentingan pertahanan di bidangnya
masing-masing. Menteri dan Kepala Lembaga bertanggung jawab
membina dan meningkatkan sumber daya nasional untuk mendukung
kebutuhan kesejahteraan dan mendukung kepentingan pertahanan
negara.
Dalam menghadapi ancaman nonmiliter, Menteri dan Kepala
Lembaga di luar bidang pertahanan menyusun pedoman, kebijakan
dan strategi pertahanan nirmiliter di bidangnya masing-masing serta
mengkoordinasikannya dengan Menteri Pertahanan.
Menteri dan Kepala Lembaga menyiapkan sumber daya
nasional untuk Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung,
serta mendukung pengembangan sumber daya nasional untuk
kepentingan pertahanan negara. Menteri dan Kepala Lembaga dalam
menyusun rencana pembangunan sesuai bidang masing-masing
mengakomodasi kepentingan pertahanan negara untuk tujuan jangka
panjang. Pengembangan sumber daya alam, sumber daya buatan,
serta sarana dan prasarana yang dilakukan oleh K/L diselenggarakan
dengan memperhatikan kepentingan pertahanan negara.

Panglima TNI

Panglima TNI menyelenggarakan perencanaan strategi


dan operasi militer, baik untuk tujuan OMP maupun OMSP, serta
bertanggung jawab memelihara kesiapsiagaan operasional TNI.
Panglima TNI mengkoordinasikan pelaksanaan pembinaan profesi
dan pembinaan kekuatan pertahanan militer yang dilakukan oleh tiap
Kepala Staf Angkatan.
Dalam menghadapi ancaman militer, Panglima TNI menggunakan
segenap komponen pertahanan serta menyelenggarakan operasi
militer yang disesuaikan dengan jenis ancaman militer yang dihadapi.

111
92 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PEMBINAAN PERTAHANAN NEGARA

Panglima TNI merumuskan dan menetapkan doktrin pertahanan


militer dan mengembangkan strategi pertahanan militer dengan
mengacu pada Doktrin Pertahanan Negara dan Strategi Pertahanan
Negara.

Kepala Staf Angkatan

Kepala Staf Angkatan menyelenggarakan pembinaan profesi,


kekuatan pertahanan militer dan kesiapan kemampuan operasional
Angkatan yang profesional dengan cara memelihara dan meningkatkan
kemantapan satuan dalam rangka kesiapsiagaan operasional. Kepala
Staf Angkatan membantu Panglima TNI dalam penyusunan kebijakan
tentang pengembangan postur, doktrin, strategi dan operasi militer
sesuai matra masing-masing. Dalam menghadapi ancaman militer,
Kepala Staf Angkatan menyiapkan komponen pertahanan militer
sesuai kebutuhan yang akan digunakan oleh Panglima TNI dalam
menghadapi hakikat ancaman.

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


93
PENUTUP

Bab 8

PENUTUP

8.1 Pemberlakuan
Doktrin Pertahanan Negara Republik Indonesia merupakan
landasan penyelenggaraan pertahanan negara yang harus dipahami
dan dipedomani oleh semua pihak yang terlibat sesuai dengan
tugas dan fungsinya masing-masing. Doktrin Pertahanan Negara
merupakan dasar dalam mengembangkan Strategi Pertahanan
Negara, pembangunan Postur Pertahanan Negara dan Penyusunan
Kebijakan Pertahanan Negara.

8.2 Petunjuk Akhir


Penghayatan dan pengamalan isi Doktrin Pertahanan
Negara diwujudkan dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindak
para penyelenggara pertahanan negara, serta segenap pihak yang
terkait dalam penyelenggaraan pertahanan negara, guna menjamin
tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945.

111
94 DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA
PENUTUP

Doktrin Pertahanan Negara berlaku secara nasional untuk


dipedomani oleh Lembaga Pemerintah, Legislatif, Yudikatif dan seluruh
rakyat Indonesia. Doktrin ini juga berisi pesan bahwa pertahanan
negara dipersiapkan dan diselenggarakan dengan sungguh-sungguh
untuk membela kehormatan bangsa dan kepentingan nasional
Indonesia.

Jakarta, 31 Desember 2015

MENTERI PERTAHANAN,

RYAMIZARD RYACUDU

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA 111


95
PENDAHULUAN

STRATEGI PERTAHANAN NEGARA 2015

kementerian Pertahanan republik Indonesia


direktorat jenderal strategi pertahanan
Jalan Medan Merdeka Barat No. 13-14, Jakarta
STRATEGI
DOKTRINPERTAHANAN
PERTAHANANNEGARA
NEGARA2015
2015

kementerian Pertahanan republik Indonesia


direktorat jenderal strategi pertahanan
Jalan Medan Merdeka Barat No. 13-14, Jakarta
KEMENTERIAN PERTAHANAN
REPUBLIK INDONESIA

DOKTRIN
PERTAHANAN NEGARA