Anda di halaman 1dari 42

GEN GANDA DAN ALEL GANDA

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH


Genetika
yang dibina oleh Ibu Novida Pratiwi, S.Si., M.Sc.

Oleh Kelompok 11

OFF B 2015:

1. Dian Novita (150351600332)


2. Lilis Eka Herdiana (150351604962)
3. Nadia Nurmalita (150351600597)

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN IPA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

APRIL 2018

i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. yang masih
memberikan nafas kehidupan, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan
makalah ini dengan judul “Gen Ganda dan Alel Ganda”.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Genetika.
Akhirnya kami sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan
penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kami dan khususnya
pembaca pada umumnya. Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah
ini.

Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif


sangat kami harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah
pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

Malang, April 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................................2
1.3 Tujuan ............................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Alel ganda pada mamalia ...............................................................................3
2.2 Alel ganda pada drosophila ............................................................................5
2.3 Alel ganda mengawasi golongan darah..........................................................6
2.4 Gen ganda.....................................................................................................25
2.5 Gen ganda pada tumbuh-tumbuhan .............................................................26
2.6 Gen ganda pada manusia ..............................................................................29

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ...................................................................................................38
3.2 Saran ..............................................................................................................38

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................39

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masyarakat luas sudah tidak asing lagi dengan kata golongan darah atau
transfusi darah atau bahkan tak heran dengan berbagai variasi warna bulu pada
kelinci. Namun pengetahuan mereka hanya sebatas itu tanpa mengetahui apa
hubungannya dengan alel ganda yang terdapat pada gen.
Pada tumbuhan, hewan dan manusia dikenal beberapa sifat keturunan
yang ditentukan oleh suatu seri alel ganda. Golongan darah ABO yang
ditemukan oleh Landsteiner pada tahun 1900 dan faktor Rh yang ditemukan
oleh Landsteiner bersama Weiner pada tahun 1942 juga ditentukan alel ganda.
Alel ganda bukan hanya sebatas ada pada manusia melainkan pada
hewan dan tumbuhan pun alel ganda itu ada. Tetapi ada perbedaan antara alel
ganda pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Maka dari itu, penting bagi kami
untuk menyusun makalah ini mengenai alel ganda.
Selain itu ada pula yang namanya gen ganda. Dimana manusia
merupakan spesies yang sama, akan tetapi mereka memiliki variasi warna kulit
yang berbeda-beda. Kita sering bertanya apa sebenarnya penyebab adanya
variasi warna kulit tersebut. Banyak jawaban muncul dari pertanyaan tersebut
diantaranya karena manusia tinggal di tempat yang berbeda-beda sehingga
menyebabkan warna kulit mereka juga bervariasi.Ini disebabkan lingkungan
mempengaruhi tampakan fenotip salah satunya adalah warna kulitpada
manusia. Tapi dari jawaban itu timbul pertanyaan baru lagi, mengapa orang
yang tinggal di tempat yang sama juga memiliki variasi warna kulit yang
berbeda-beda. Dengan munculnya pertanyaan baru itu kita mulai bingung
sebenarnya apa penyebab variasi warna kulit pada manusia.
Ternyata, variasi warna kulit manusia bukan disebabkan karena
pemakaian lotion yang berbeda-beda merk, ataupun intensitas cahaya
matahariyang terkena pada pada kulit setiap harinya. Setelah ditemukan
pewarisan sifat oleh Mendel, mulai muncul pendapat bahwa warna kulit juga

1
2

disebabkan adanya faktor keturunan yang diberikan oleh orang tuanya.


Berawal dari coba coba Mendel menyilangkan kacang ercis yang dapat
merumuskan sifat dominan resesif sehingga temuanMendel ini merangsang
munculnya ilmu pengetahuan lain untuk mengembangkan adanya penelitian
tentang hereditas hingga pada manusia.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana alel ganda pada mamalia?
1.2.2 Bagaimana alel ganda pada drosophila?
1.2.3 Bagaimana alel ganda mengawasi golongan darah?
1.2.4 Apa yang dimaksud dengan gen ganda?
1.2.5 Bagaimana gen ganda pada tumbuh-tumbuhan?
1.2.6 Bagaimana gen ganda pada manusia?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui bagaimana alel ganda pada mamalia
1.3.2 Mengetahui bagaimana alel ganda pada drosophila
1.3.3 Mengetahui bagaimana alel ganda mengawasi golongan darah
1.3.4 Mengetahui apa yang dimaksud dengan gen ganda
1.3.5 Mengetahui bagaimana gen ganda pada tumbuh-tumbuhan
1.3.6 Mengetahui bagaimana gen ganda pada manusia
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Alel Ganda pada Mamalia

Alel merupakan bentuk alternatif sebuah gen yang terdapat pada lokus
(tempat tertentu). Individu dengan genotipe AA dikatakan mempunyai alel A,
sedang individu aa mempunyai alel a. Demikian pula individu Aa memiliki dua
macam alel, yaitu A dan a. Jadi, lokus A dapat ditempatioleh sepasang (dua
buah) alel, yaitu AA, Aa, atau aa, bergantung kepada genotipe individu yang
bersangkutan (Susanto, Agus Hery, 2011).
Namun, kenyataannya yang sebenarnya lebih umum dijumpai adalah
bahwa pada suatu lokus tertentu dimungkinkan munculnya lebih dari hanya dua
dua macam alel, sehingga lokus tersebut dikatakan memiliki sederetan alel.
Fenomena semacam ini disebut sebagai alel ganda (multiple alleles) (Susanto,
Agus Hery, 2011).
Sebuah contoh klasik tentang adanya alel ganda ialah pada kulit kelinci.

C+ = gen asli yang normal, menyebabkan kelinci berwarna kelabu.


Gen ini membentuk berbagai macam alel muatan, seperti :

Cch = alel yang menyebabkan kelinci berwarna kelabu muda, karena


rambutnya terdiri dari campuran rambut hitam dan putih.
Kelinci ini dinamakan kelinci chinchilla

Ch = alel yang menyebabkan kelinci berwarna puti dengan warna


hitam pada ujung-ujung hidung, telinga, kaki dan ekor. Kelinci
demikian dinamakan kelinci Himalaya.

c = alel yang tidak membentuk pigmen sama sekali, sehingga


kelinci berwarna putih. Kelinci ini biasa disebut kelinci albino.

Dominasi dari alel-alel tersebut mempunyai urutan sbb.: C+ dominan


terhadap Cch dan lain-lainnya, Cch dominan terhadap Ch dan C, Ch dominan
terhadap C. dengan singkat : C+ > Cch > Ch > C.

3
4

Berhubung dengan itu berbagai macam kelinci itu dapat mempunyai


beberapa kemungkinan genotip, kecuali albino hanya mempunyai satu genotip
saja. (Tabel 1.1)
Perkawinan antar kelinci kelabu normal homozigotik (C+ C+) dengan
kelinci albino (cc) akan menghasilkan kelinci-kelinci F1 kelabu normal (C+ c).
apabila kelinci F2 yang memperlihatkan perbandingan kira-kira 3 kelabu
normal: 1 albino. Perbandingan 3:1 dalam F2 ini menunjukkan bahwa ada
sepasang alel yang ikut mengambil peranan yaitu C+ dan c.

Tabel 1.1
Fenotip dan genotip yang sesuai untuk alel ganda dari lokus c pada kelinci

Fenotip Genotip

Kelinci Normal C+ C+, C+ Cch, C+ Ch, C+


Ch
Kelinci Chinchila
Cch Cch, Cch Ch, Cch Ca
Kelinci Himalaya
Ch Ch , Ch Ca
Kelinci Albino
Ca Ca

Demikian pula apabila kita mengawinkan kelinci kelabu normal


homozigot (C+ C+) dengan kelinci chinchilla homozigotik (Cch Cch), maka
semua kelinci F1 akan kelabu normal (C+ Cch). Kelinci-kelinci F2 akan
memperhatikan perbandingan kira-kira 3 kelabu normal : 1 chinchilla.
Banyaknya kemungkinan kombinasi diploid dapat dicari asal banyaknya
alel ganda dalam suatu seri diketahui, yaitu dengan menggunakan rumus :
n(n  2)
2
n = banyaknya alel (Tabel 1.2)

Tabel 1.2
5

Hubungan antara banyaknya alel ganda dalam suatu seri dengan banyaknya
kominasi diploid

Bnyaknya alel ganda Banyaknya kombinasi diploid

2 3

3 6

4 10

5 15

6 21

7 28

8 36

N n ( n  2)
2

2.2 Alel ganda pada Drosophila


Lokus w pada Drosophila melanogaster mempunyai sederetan alel dengan
perbedaan tingkat aktivitas dalam produksi pigmen mata yang dapat diukur
menggunakan spektrofotometer.
Di muka dalam bab rangkai kelamin telah diketahui bahwa Drosophila
yang normal mempunyai mata berwarna merah, yang ditentukan oleh gen
dominan W. Ada pula yang menyebutnya gen + atau w+. Di samping itu
dikenal, pula sifat mutan, yaitu mata berwarna putih, yang ditentukan oleh gen
mutan resesip w. Sebenarnya dikenal banyak variasi tentang warna mata pada
lalat ini. Variasi ini bergradasi (berderajat) mulai dari merah gelap, merah
terang sampai menjadi putih, yang kesemuanya ditentukan oleh dominansi dari
alel-alel. Berbagai macam warna mata pada Drosophila ini ternyata ditentukan
oleh suatu seri alel ganda. Alel yang paling dominan adalah w+, sedangkan yang
paling resesip adalah w (Tabel 1.3). Seperti halnya pada kelinci, maka di sini
6

pun dimungkinkan adanya keadaan heterozigotik, seperti w+w, wcoaa, waw, dsb.

Tabel 1.3
Warna mata pada lalat Drosophila yang disebabkan oleh berbagai macam
kombinasi alel ganda dari gen w (Disusun dari yang paling dominan ke yang
paling resesip)

Genotip lalat Warna mata

W+w+ Merah tua (lalat normal/liar)

wcol wcol Merah nyata

wsat wsat Satsuma

wco wco Koral (karang)

ww ww Anggur

wch wch Buah talok (“cherry”

we we Eosin

wbl wbl Darah

wa wa Apricot

wbf wbf Kulit penggosok

Ww Putih

2.3 Alel Ganda Mengawasi Golongan darah


Golongan darah pada manusia itu herediter (keturunan) yang ditentukan
pula oleh alel ganda. Berhubung dengan itu golongan darah seseorang dapat
mempunyai arti penting dalam kehidupan.
7

Sampai saat ini telah dikenal cukup banyak sistem penggolongan


darah.Disini akan diterangkan beberapa system saja yang dianggap penting
untuk diketahui sebagai dasar yaitu:
1. Golongan darah menurut system ABO
Pada permulaan abad ini (tahun 1990dan 1901) K Landsteiner
menemukan bahwa penggumpalan darah (agglutinasi) kadang-kadang
terjadi apabila eritrosit (sel darah merah) seseorang dicampur dengan serum
darah orang lain.Akan tetapi pada orang lain, campuran tadi tidak
mengakibatkan penggumpalan darah. Berdasarkan reaksi tadi maka
Landsteiner membagi orang menjadi 3 golongan, ialah A, B, O. Golongan
yang keempat jarang dijumpai, yaitu golongan darah AB, telah ditemukan
oleh dua orang mahasiswa Landsteiner dalam tahun 1902, ialah A.V. von
Decastello dan A. Sturli. Dikatakan bahwa antigen atau agglutinogen yang
dibawa oleh eritrosit orang tertentu dapat mengadakan reaksi dengan zat
anti atau macam antigen yaitu antigen-A dan antigen-B sedangkan zat
antinya dibedakan atas anti-A dan anti B.Orang ada yang memiliki antigen-
A dan juga ada yang memiliki antigen-B. Ada juga yang memiliki kedua
antigen yaitu antigen-A dan antigen-B, sedangkan adapula yang tidak
memiliki antigen-A maupun antigen B.
Orang yang memiliki antigen-A tidak memiliki anti-A, melainkan
anti-B di dalam serum atau plasma darah.Orang demikian dimasukkan
dalam golongan darah A. Orang dari golongan darah B mempunyai antigen-
B dengan anti-A. Apabila antigen-A bertemu dengan anti-A, begitu pula
antigen-B bertemu dengan anti-B,maka darah akan menggumpal dan dapat
mengakibatkan kematian pada orang yang menerima darah. Darah tipe A
tidak bisa ditransfusikan kepada orang golongan B demikian pula
sebaliknya.
Tabel 1.4 Hubungan antara golongan darah(fenotip)
seseorang dengan macam antigen dan zat anti yang dimiliki
Golongan darah Antigen dalam Zat anti dalam
(fenotip) eritrosit serum/plasma darah
8

O - Anti-A dan Anti-B

A A Anti-B

B B Anti-A

AB A dan B -

Orang yang tidak memiliki antigen-A maupun antigen-B, tetapi


memiliki anti-A dan anti-B didalam serum atau plasma darah,dimasukkan
dalam golongan darah O.Adapun orang yang memiliki antigen-A maupun
antigen-B, tetapi tidak memiliki anti-A maupun anti-B didalam serum atau
plasma darah,dimasukkan dalam golongan darah AB.
Untuk menghindarai jangan sampai terjadi penggumpalan darah,
maka sebelum dilakukan transfusi darah, baik darah si-pemberi (donor)
maupun darah si-penerima (resipien) harus diperiksa terlebih dahulu
berdasarkan sistem ABO.Interaksi yang terjadi selama transfusi darah
antara berbagai macam antigen dalam eritrosit dengan zat anti dalam serum
atau plasma darah dapat diikuti pada Gambar.
9

(Suryo,1984)
Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah. bagaimanakah antigen-A
dan antigen-B itu diwariskan dari orang tua kepada keturunannya? Setelah
melalui banyak penyelidikan, akhirnya pada tahun 1925 F. Bernein
menegaskan bahwa antigen-antigen itu diwariskan oleh tiga alel dari sebuah
gen. Gen ini disebutkan gen I, sedang alel-alelnya ialah i, IA dan IB . Alel i
adalah resesip terhadap IA dan IB .Akan tetapi IA dan IB merupakan alel
kodominan, sehingga IA tidak dominan IB demikian pula sebaliknya
IB tidak dominan terhadap IA .
Produk tertentu dari gen I ialah suatu molekul protein(dinamakan
isoagglutinin) yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Orang yang
memiliki alel IA mampu untuk membentuk antigen-A sedang yang
10

memiliki alel IB mampu untuk membentuk antigen-B. Orang yang tidak


memiliki alel IA maupun IB melainkan hanya memiliki alel i saja, maka ia
tidak akan memiliki antigen-A maupun antigen-B.Interaksi antara alel-alel
IA , IB .dan I menyebabkan terjadinya 4 fenotip (golongan darah) O,A,B dan
AB.
Tabel 1.5 Interaksi antara alel-alel IA , IB dan i yang
menyebabkan terjadinya 4 golongan darah, yaitu O, A, B, dan AB

Golongan darah Antigen dalam Alel dalam Genotip


(Fenotip) eritrosit kromosom
O - I Ii

A A IA IA IA atau IA i

B B IB . IB IB atau IB i

AB A dan B IA dan IB IA IB

Contoh Soal:
Seorang anak laki-laki bergolongan darah B menikah dengan seorang
perempuan bergolongan darah B pula.Bagaimanakah kemungkinan
golongan darah anak-anak mereka kelak?

P ♀ B X ♂ B
IB IB atau IB i IB IB atau IB i

𝐹1 IB IB = golongan B
IB I = golongan B
IB I = golongan B
ii = golongan 0

Tidak perlu diherankanbahwa bagian terbesar dari anak-anak akan


bergolongan darah B seperti orang tua mereka. Akan tetapi jangan heran
11

bahwa ada kemungkin (meskipun kecil, hanya kira-kira 25%) anaknya


bergolongan darah O.
Oleh karena penyelidikan berlangsung terus dan pengujian darah
dapat dilakukan makin sempurna, maka kini diketahui adanya beberapa Sub
Alel untuk alel IA yaitu I1A , I2A ,dan I3A .Dengan demikian maka golongan
darah A kini dibedaan atas 3 sub golongan ialah 𝐴1 , 𝐴2 dan 𝐴3 . Orang
bergolongan darah AB sekarang dibedakan atas 𝐴1 𝐵, 𝐴2 𝐵 dan 𝐴3 𝐵

Dominasnsi dari ketiga sub alel tersebut ialah I1A > I2A > I3A

Suami isteri masing-masing bergolongan darah 𝐴2 ternyata dapat


mempunyai anak golongan darah 𝐴3 , yaitu sebagai berikut:

P ♀ I2A I3A X ♂ I2A I3A

Golongan 𝐴2 Golongan 𝐴2

F1 I2A I2A = Golongan 𝐴2

I2A I3A = Golongan 𝐴2

I2A I3A = Golongan 𝐴2

I3A I3A = Golongan 𝐴3

2. Golongan darah menurut sistem MNSs


Dalam tahun 1927, K. Landsteiner dan P. Levine menemukan anti
gen baru yang mereka sebut antigen-M dan antigen-N. Dikatakan bahwa sel
darah merah seseorang dapat mengandung salah satu atau kedua antigen
tersebut. Jika misalnya eritrosit seseorang yang mengandung antigen-M
disuntikkan ke dalam tubuh kelinci, maka darah kelinci akan membentuk
zat anti-M dalam serum darah kelinci. Apabila antiserum (disebut antiserum
karena mengandung zat anti) dari kelinci ini dipisahkan dan digunakan
untuk menguji darah orang yang mengandung antigen-M, maka eritrosit
darah orang ini akan menggumpal. Dengan cara yang sama, eritrosit
seseorang yang mengandung antigen-N akan mendorong kelinci untuk
12

membentuk zat anti-N. Dengan menggunakan dua macam antiserum ini,


tipe darah seseorang dapat ditetapkan, yaitu apakah eritrosit seseorang
bereaksi dengan (1) anti-M serum saja, (2) anti-N serum saja atau (3) kedua-
duanya anti-M dan antiN serum. Dengan dasar inilah orang dibedakan atas
yang mempunyai golongan darah M, N atau MN (Tabel 11-8).

Tabel 11-8 Reaksi dari sel-sel darah merah dengan antiserum pada
golongan darah tipe MN

Jika eritrosit Reaksi dengan antiserum Golongan


mengandung darah
Anti-M Anti-N
antigen

Hanya M + - M

M dan N + + MN

Hanya N - + N

+ : terjadi penggumpalan
- : tidak terjadi penggumpalan

Berbeda dengan golongan darah sistem ABC, maka pada


golongan darah sistem MN, serum atau plasma darah orang tidak
mengandung zat anti-M maupun anti-N. Berhubung dengan itu golongan
darah sistem MN tidak penting untuk keperluan transfusi darah, karena tidak
ada bahaya penggumpalan darah.
Landsteiner dan Levine menyatakanbahwa kedua jenis antigen M
dan N itu ditentukan oleh sebuah gen yang memiliki dua alel. Alel LM
menentukan adanya antigen-M dalam eritrosit, sedang antigenN ditentukan
oleh alel LN (Tabel 1.6).
Tabel 1.6
Kemungkinan genotip dan. fenotip seseorang dalam goiongan darah
sistem MN
13

Golongan darah Antigen dalam Alel dalam Genotip


(fenotip) eritrosit kromosom
M M LM LM LM

N N LN LN LN

MN M dan N LM dan LN LM LN

Alel LM dan LN merupakan alel kodominan, sehingga LM tidak


dominan terhadap LN, demikian pula LN tidak dominan terhadap LN.
Beberapa contoh perkawinan:
1. Suami isteri masing-masing bergolongan darah M akan mempunyai
anak bergolongan darah M saja.
P1 ♀M ♂M

LM LM LM LM

F1 LM LM
golongan M

2. Seorang perempuan bergolongan darah N menikah dengan laki-laki


bergolongan darah MN. Kemungkinan golongan darah anak-anak
mereka seperti kepunyaan kedua orang tua mereka, yaitu golongan N
dan MN.
P1 N MN

LN LN LM LN

F1 LM LN = golongan MN
LN LN = golongan N
14

3. Bagaimanakah kemungkinan golongan darah anak-anak yang lahir dari


perkawinan laki-laki dan perempuan yang masing-masing bergolongan
darah MN?

P1 MN MN

LM LN LM LN

F1 LM LM = golongan M

LM LN = golongan MN

LM LN = golongan MN

LN LN = golongan N

Sebagian besar dari anak-anak (yaitu 50%) akan memiliki golongan


darah seperti orang tuanya.
Pada tahun 1947 R.R. Race dan R. Sanger telah menemukan adanya
sub-bagian Ss dari golongan darah MN, sehingga menurunnya golongan
MN tidak semudah seperti diduga semula. Contoh pertama tentang
terdapatnya anti-S diketahui di Sydney, Australia. Kini telah menjadi
kenyataan bahwa kombinasi MN dan Ss diwariskan sebagai kesatuan,
seperti MS, Ms, NS dan Ns.
Race dan Sanger menegaskan bahwa selain gen yang
menentukan fenotip M dan N masih terdapat gen lain yang letaknya amat
dekat. Gen ini memiliki dua alel pula. Berhubung dengan itu golongan darah
sistem MN kini biasanya disebut sistem MNSs. Tabel 1.7 memperiihatkan
perbedaan pengelompokan orang berdasarkan sistem MN dan MNSs.
Tabel 1.7 Pengelompokan jenis darah orang berdasarkan sistem MN
dan MNSs

Sistem MN (Menurut Sistem MNSs (menurut Race-


Landsteiner Sanger)
15

Gen LM dan LN Gen LMS LMs LNS LNs

Fenotip Genotip Fenotip Genotip

M LM LM MS LMS LMS atau LMS


LMs
Ms
LMs LMs

N LN LN NS LNS LNS atau LNS LNs

Ns LNs LNs

MN LM LN MNS LMS LNS atau LMS LNs


atau LMs LNS

LMs LNs
MNs

Contoh perkawinan:
Seorang perempuan bergolongan darah MNSs menikah dengan laki-iaki
NS. Bagaimanakah kemungkinan golongan darah anak-anak mereka?
Jawabnya: Berhubung perempuan itu heterozigotik untuk S (yaitu Ss),
maka ia mempunyai dua kemungkinan genotip, ialah LMS LNS dan LMs LNS.
Dengan demikian harus diperhitungkan adanya dua bentuk perkawinan,
yaitu:
1. P1 MNSs NS

LMS LNs LNS LNS

F1 LMS LNS = golongan MNS


LNS LNs = golongan NSs

P1 MNSs NS

LMs LNS LNS LNS

F1 LMs LNS = golongan MNSs


16

2. LNS LNS = golongan NS

Dapat diambil kesimpulan bahwa S dominan terhadap s, sedangkan


antara LM LN tidak terdapat dominansi. Sebagai gen pokok digunakan
huruf L, yang berasal dari nama Landsteiner.

3. Faktor Rh
Faktor Rh (singkatan dari Rhesus) yang kini sangat terkenal
ditemukan oleh Landsteiner dan Wiener pada tahun 1940. Dikatakan bahwa
apabila seekor kelinci disuntik dengan darah dari kera Macaca rhesus, maka
kelinci membentuk antibody. Antibody ini akan menyebabkan
menggumpalnya eritrosit dari semua kera Rhesus. Ini berati bahwa
dipermukaan eritrosit dari kera itu terdapat antigen yang disebut antigen-
Rh. Jika anti serum dari kelinci yang mengandung anti-Rh itu digunakan
untuk membuat tes Rh pada darah manusia, ternyata manusia dibedakan atas
dua kelompok :
Orang yang darahnya menunjukkan reaksi positif, artinya terjadi
penggumpalan eritrosit pada waktu dilakukan tes dengan anti-Rh,
digolongkan sebagai orang Rh-positif (disingkat Rh+). Berarti mereka
memiliki antigen-Rh. Orang yang darahnya menunjukkan reaksi negatif
digolongkan sabagai orang Rh-negatif (disingkat Rh-). Berarti mereka ini
tidak memiliki antigen-Rh.
Kira-kira 85% dari orang kulit putih di Amerika Serikat bersifat
Rh+, sedang pada populasi orang kulit hitam di negara yang sama jumlah
itu kira-kira lebih dari 91%. Di Indonesia belum pernah diadakan penelitian
secara menyeluruh, tetapi data dari beberapa daerah menunjukkan bahwa di
negara Indonesia presentase orang Rh+ sangat rendah.
Dasar genetika dari faktor Rh
Mula-mula mekanisme genetik dari sitem Rh ini nampaknya
sederhana sekali, sehingga Landsteiner dan Wiener berpendapat bahwa ada
17

atau tidaknya antigen-Rh itu ditentukan oleh sepasang alel R dan r.


Terdapatnya antigen-Rh pada permukaan eritrosit orang ditentukan oleh alel
R. Karena itu orang Rh positif mempunyai genotip RR atau Rr, sedang
orang yang Rh negatif mempunyai genotip rr.
Sesudah pekerjaan Landsteiner dan Wiener, lebih banyak antigen
ditemukan; kini jumlahnya lebih dari 30, sehingga genetikanya lebih
kompleks daripada yang diduga semula. Disamping teori Landsteiner dan
Wiener tersebut, dikenal dua teori lain yang menggambarkan betapa
kompleksnya genetika dari faktor Rh, yaitu :
1. Seorang penyidik bangsa Amerika Serikat bernama Wiener
mengemukakan bahwa ada sekurang-kurangnya 10 alel ganda yang
menempati sebuah lokus pada kromosom nomor 1. Setiap alel itu
bertanggung jawab untuk membentuk sebuah atau lebih banyak antigen-
Rh, kecuali yang benar-benar resesif. Untuk Rh positip alel-alelnya
adalah Rz, R1, R2, R0 . Sedang untuk Rh negative alel-alelnya adalah ry,
r’, r”, dan r.
Frekuensi dari
Genotip pada

Genotip Populasi di
Fenotip Amerika untuk
Orang Kulit

Landsteiner Wiener Fisher Putih Hitam

Rh+ RR/Rr R0/r Dce/dce 2,2 45,9

Rh+ RR/Rr R1/R1 DCe/DCe 20,9 0,9

Rh+ RR/Rr R1/r DCe/dce 33,8 22,8

Rh+ RR/Rr R2/R2 DcE/DcE 14,9 16,3

Rh+ RR/Rr R1/R2 DCe/DcE 13,9 4,4

Rh+ RR/Rr R1/Rz DCe/DCE 0,1 0,0


18

Rh- Rr r/r Dce/dce 13,9 9,6

Table Golongan Darah Sistem Rh. Simbol yang digunakan


Landsteiner berdasarkan sepasang gen; Wiener berdasarkan alel
ganda; Fisher berdasarkan 3 pasang pseudoalel yang berangkai
amat berekatan.
2. Seorang penyelidik berbangsa inggris bernama Fisher mengemukakan
bahwa ada kelompok yang terdiri dari paling sedikit 3 psedoalel yang
berangkai dari amat berdekatan, yaitu D, d, C, c, E, e. Menurut literature
tahun 1983, system Fisher ini bahkan dilengkapi dengan 2 pasang gen
baru, yaitu F, f dan V, v. Dua pasang gen yang baru ini belum
dimasukkan disini.

Menurut Fisher, apabila dalam genotip terdapat gen dominan D,


maka fenotip orang itu adalah Rh+, jika gen dominan D tidak ada, fenotip
orang itu adalah Rh-. Dikalangan orang Rh- terdapat dua kelompok, yaitu:

1. Kelompok yang memiliki gen C saja (dCe) atau E saja (dcE) atau kedua
duanya C dan E (dCE)
2. Kelompok yang tidak memiliki gen dominan sama sekali (dce)

Berhubung dengan itu ada ada banyak kemungkinan genotip bagi


seseorang. Misalnya saja orang Rh+ dapat mempunyai genotip
𝐷𝐶𝐸 𝐷𝐶𝑒
𝑎𝑡𝑎𝑢 , dsb. (ingat: gen-gennya terangkai, jadi cara menulis
𝐷𝑐𝑒 𝐷𝑐𝐸

genotipnya demikian) jika menurut Wiener ditulis Rz R0 atau R1R2, dsb.


𝑑𝑐𝐸 𝑑𝐶𝐸
Orang Rh- dapat mempunyai genotip 𝑎𝑡𝑎𝑢 , dsb. Jika menurut
𝑑𝑐𝐸 𝑑𝐶𝑒

Wiener ditulis r’r”, ry r’, dsb. Sedangkan menurut Landsteiner hanya dikenal
genotip RR atau Rr untuk orang Rh+, sedang untuk orang Rh- rr.
Zat antinya dinamakan anti-D, anti-C, anti-E, dsb. Frekuensi
terdapatnya faktor tidak sama, untuk berbagai bangsa/suku bangsa, namun
nampaknya di mana-mana Rh+ menunjukkan presentase lebih tinggi
daripada Rh-.

Peranan faktor Rh dalam klinik


19

Seperti halnya dengan golongan darah A, B, AB dan O, maka faktor


Rh mempunyai arti penting dalam klinik. Dalam keadaan normal, serum dan
plasma darah orang tidak mengandung amti-Rh. Akan tetapi orang sadar
distimulir (dipacu) untuk membentuk anti-Rh, yaitu dengan jalan:
1. Transfusi darah.
Jika misalnya seorang perempuan Rh- karena sesuatu hal harus
ditolong dengan transfusi dan kebetulan darah yang diterimanya itu
berasal dari seorang Rh+, maka darah donor itu membawa antigen-Rh.
Oleh karena ada protein asing yang masuk kedalam tubuhnya, maka
perempuan itu distimulir untuk membentuk anti-Rh. Akibatnya, serum
darah perempuan itu yang semula bersih dari anti-Rh, kini mengandung
anti-Rh. Lebih-lebih jika transfusi itu dilakukan lebih dari sekali, maka
banyaknya anti-Rh yang dibentuk bertambah.
Berhubung dengan itu sebelum melakukan transfuse darah
alangkah baiknya kecuali memeriksa golongan ABO, juga
memperhitungkan peranan faktor Rh. Akan tetapi mengingat biaya
adanya sistem Fisher dalam menetapkan genotip seseorang dalam
hubungannya dengan faktor Rh, yaitu terdapatnya 3 pasang gen D
dengan d, C dengan c dan E dengan e yang berangkai, maka akan lebih
sulit keadaanya dalam memperhitungkan ada atau tidaknya
penggumpalan eritrosi.
Gambar Tes Darah mengenai faktor Rh. Disebelah kanan tercantum
macamnya antigen-Rh, sedang diatas tercantum berbagai antiserum
dengan Anti-C, Anti-D dan Anti-E
20

2. Lewat perkawinan
Bila seseorang perempuan Rh-negatipmenikah dengan laki-laki
Rh+ (angaplah saja homozigotik RR) maka fetus (anak didalam
kandungan ibu) bersifat Rh+ heterozigotik.

Diagram perkawinan antara laki-laki Rh+ homozigotik dengan


perempuan Rh- akan menghasilkan anak Rh+ heterozigotik Rr
21

Fetus berhubungan dengan ibu dan perantaraan plasenta


(tembuni/ari-ari), namun sirkulasi darah dari fetus terpisah sama
sekali dari sirkulasi darah dari ibu. Tetapi karena urat darah fetus
mencapai khorion, maka masih ada kontak antara fetus dan ibu.
Fungsi utama dari plasenta ialah untuk terselenggaranya penukaran
substansi dari ibu ke fetus yang berlangsung secara difusi seperti
pertukaran gas, air, berbagai macam elektrolit dan nutrisi.

Gambar Skema sirkulasi darah di dalam plasenta. Anak


panah menunjukkan arah aliran darah. Berlangsunglah
penukaran oksigen, nutrisi dan sisa-sisa melalui rintangan
plasenta
22

Gambar. Rh inkompatibilitas.
A, urat darah plasenta dan jaringan sekelilingnya pecah,
sehingga memungkinkan eritrosit fetus yang mengandung antigen-Rh
keluar dan masuk kedalam sirkulasi darah ibu. B, limpa kecil dari ibu
setelah bayi lahir. C, kehamilan berikutnya. Sisa-sisa antibodi yang
dibentuk pada kehamilan sebelumnya masuk melalui rintangan plasenta
dan melekat pada eritrosit dari fetus. Terjadilah reaksi antara antigen-
Rh fetus dengan anti-Rh dari ibu. Bayi menderita penyakit
eritroblastosis.
23

Chown dalam tahun 1954 membuktikan bahwa setelah bayi Rh+


itu lahir terdapatlah eritrosit-eritrosit fetus yang mengandung antigen-
Rh didalam aliran darah ibu. Ini disebabkan karena urat darah plasenta
dan sel-sel dari jaringan sekelilingnya pecah diwaktu bayi lahir. Jadi
bayi pertama lahir selamat.

Gambar. Suatu seri kejadian yang memperlihatkan


bagaimana bahayanya anak lahr dengan penyakit eritroblastosis
fetalis.

Pada kehamilan berikutnya dan seterusnya, ketidak sesuaian Rh


(inkompabilitas Rh) akan terulang kembali karena fetus bersifat Rh+
lagi. Reaksi antigen-Rh fetus dengan anti-Rh dari ibu berlangsung
24

didalam eritrosit fetus dan menyebabkan eritrosit fetus rusak. Bayi


mempunyai banyak sekali eritroblas (sel-sel darah merah yang tidak
masak), memiliki kelebihan jaringan pembentuk darah yang
menyebabkan hati, limpa dan organ lainnya membengkak. Kecuali itu
akibat rusaknya erittrosit fetus Rh+, terbentuklah kelebihan zat bilirubin
yang kemudian masuk ke sirkulasi darah ibu. Anak yang lahir tidak
tahan terhdap kelebihan bilirubin itu. Bila kelebihan bilirubin itu tidak
dihilangkan, bilirubin tertimbun dan menyebabkan penyakit kuning.
Kulit bayi tampak berwarna kuning dan otak pun rusak. Penyakit yang
terkenal pada bayi ini dinamakan eritrobastosis fetalis. Biasanya bayi
mengalami abortus atau lahir dalam keadaan mati atau dapat hidup
untuk beberapa hari saja.
Akan lain halnya jika suami itu Rh+ heterozigotik (Rr), karena
anak-anak mempunyai kemungkinan Rh+ 50% dan Rh- 50%.

Diagram perkawinan antara orang laki-laki Rh+ heterozigotik (Rr)


dengan perempuan Rh- (rr)

Pencegahan pembentukan antibodi anti-Rh


Pada permulaan tahun 1960an di Amerika Serikat dan Inggris secara
terpisah telah ditemukan cara yang efektif untuk mengurangi bahaya Rh,
yaitu dengan jalan memberi suntikan yang dapat menghalangi terbentuknya
anti-Rh dalam darah ibu. Oleh karena imunisasi dari ibu Rh- biasanya
berlangsung selama kelahiran anak Rh+, yaitu ketika eritrosit Rh+ masuk
kealiran darah ibu, maka pada saat itu dapat diusahakan agar ibu tidak
membentuk anti-Rh. Bagian dari darah yang membawa antibody, gamma
globulin, dipisahkan dari orang yang menghasilkan antibody Rh+,
dikonsentrasikan dan kemudian disuntikkan kepada ibu-ibu Rh- yang
memiliki anak Rh+ dalam waktu 72 jam setelah bayi lahir. Pembentukan
antibody ditekan rendah karena antibody yang disuntikkan mengelilingi sel-
25

sel Rh+ dari fetus didalam sirkulasi darah ibu dan mencegah terbentuknya
lebih banyak antibody.
2.4 Gen ganda
Biasanya kita mengharap bahwa suatu kelas fenotip selalu mudah
dibedakan dari kelas fenotip yang lain. Misalnya, batang suatu tanaman ada
yang tinggi dan ada yang rendah; bunga suatu tanaman ada yang merah dan
ada yang putih, dan sebagainya. Akan tetapi kenyataannya sifat keturunan
kerapkali tidak dapat dipisahkan semudah itu. Sebab seringkali tidak cukup
dibedakan batang yang tinggi dari yang rendah saja, melainkan masih perlu
diperhatikan bagaimanakah variasi yang ada di antara tanam-tanaman yang
berbatang tinggi itu.
Penyelidikan menyatakan bahwa timbulnya berbagai variasi dalam
sifat keturunan tertentu itu disebabkan oleh pengaruh gen-gen ganda (multipel
gen atau poligen).
Keadaan ini mula-mula menjadi perhatian J. Kolreuter pada
percobaannya dengan tanaman tembakau (Nicotiana tabacum) dalam tahun
I760. Oleh karena pada waktu itu prinsip-prinsip Mendel belum diketemukan,
maka Kolreuter belum dapat berbuat banyak.
Jika hasil percobaan Mendel dan Kolreuter dibandingkan (Gb. XV1),
terdapat perbedaan sebagai berikut:
- Mendel : waktu menyilangkan dua tanaman dengan satu sifatbeda,
didapatkan keturunan F1 yang memiliki sifat dominan. sedangkan dalam
F2 terdapat keturunan yang memisah dengan perbandingan fenotip 3 : I.
- Kolreuter : waktu menyilangkan dua tanaman dengan satu sifat beda,
didapatkan keturunan F1 yang intermediet, sedangkan F2 terdiri dari
tanam-tanaman yang memperlihatkan banyak variasi antara kedua
tanaman induknya.
Jadi sifat keturunan yang dikemukakan Mendel itu ditinjau
secara kualitatip seperti lazim kita lakukan. artinya Sifat keturunan itu
nampak ataukah tidak. Misalnya buah bulat, batana tinggi, albino. Tetapi sifat
keturunan seperti yang diperhatikan Kolreuter, ditinjau secara kuantitatip,
26

artinya sifat keturunan nampak berderaiat perdasarkan mtensnas dari ekspresi


sifat itu.
2.5 Gen Pada Tumbuh-Tumbuhan
Gen ganda atau Poligen ialah salah satu dari suatu seri gen ganda yang
menentukan pewarisan secara kuantitatip.
Oleh karena kebanyakan sifat dari tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan
domestik (seperti tinggi, berat, waktu yang diperlukan untuk menjadi dewasa
dan kualitas yang relevan terhadap gizi manusia) itu tergantung dari poligen,
maka Persoalan ini makin banyak mendapat perhatian. Beberapa sifat pada
manusia (seperti tinggi tubuh dan pigmentasi kulit) juga tergantung dari
multiple gen
Beberapa contoh:
- H. Nilsson-Ehle (dari Swedia) dan EM. East (dari USA) menemukan
peranan gen ganda pada tanaman gandum. Pada waktu tanaman gandum
yang berbiji merah (AABB) dikawinkan dengan yang berbiji putih (aabb),
didapatkan tanam-tanaman F1 yang seragam. yaitu berbunga medium.
Tanam-tanaman F2 memisah dengan perbandingan fenotip l merah : 4 kelam
: 6 medium : 4 mudah : l putih.
Jadi menurunnya sifat-sifat secara kuantitatip, tergantung dari
pengaruh kumulatip atau penambahan dari beberapa gen yang masing-
masing menghasilkan bagian kecil dari seluruh pengaruh.
Pada hasil perkawinan monohibrid (Aa x Aa) kita mengetahui
bahwa hanya 1/4 bagian dari F2 menyerupai salah satu induknya.
Perhitungan mengenai banyaknya gen ganda, banyaknya kelas genotip dan
fenotip dalam keturunan dapat diikuti pada Tabel

Jumlah pasangan Bagian dari F2 yang Jumlah kelas Jumlah kelas


dari gen ganda sama dengan salah genotip dalam fenotip dalam
satu induknya F2 F2

1 1/4 3 3
27

2 1/16 9 5

3 1/64 27 7

N (1/4) 3n 2n+1

Perbandingan fenotip dalam F2 pun mengikuti aturan tertentu, ialah:

1 pasang gen menghasilkan perbandingan fenotip 1 : 2 : 1

2 pasang gen menghasilkan perbandingan fenotip 1 : 4 : 6 : 4 : 1

3 pasang gen menghasilkan perbandingan fenotip 1 : 5 : 10 : 10 : 5 : 1

Banyaknya tambahan pengaruh yang dimiliki setiap alel efektip

jumlah perbedaan kualitatip


= jumlah alel efektip

- Kita mengawinkan 2 jenis tanaman tomat (Solanum lypersicum). Yang satu


menghasian buah rata-rata berat 10 gram, yang lain rata-rata berat 22 gram.
Tanam-tanaman F1 seragam, berat buah rata-rata 16 gram. Dari 150 tanaman
dalam F2. maka 10 tanaman menghasilkan buah dengan berat rata-rata 10
gram dan 10 tanaman lagi menghasilkan buah dengan berat rata-rata 22
gram. Berapakah jumlah gen ganda yang ikut mengambil peranan dan
berapa banyaknya tambahan gram yang diberikan oleh setiap alel efektip?
Jawabnya: Mengingat bahwa banyaknya tanaman dalam F2 yang memiliki
10 1
sifat seperti salah satu induknya adalah 10, berarti = bagian.
150 15
𝑛 1
Berdasarkan rumus yang tercantum pada Tabel 15-1. Maka (14) = 16apabila
1 1
n = 2. Angka 15 berdekatan dengan 16 sehingga dapat diambil kesimpulan

bahwa ada 2 pasang gen ganda ikut mengambil peranan. Ini berarti ada 4
22−10
alel efektip. Jadi setiap alel efektip memberikan tambahan pengaruh 4

= 3 gram.
28

Jadi persilangan itu dapat ditulis sebagai berikut:

P1 AABB Aabb

Rata-rata 22 gram Rata-rata 10 gram

F1 AaBa

Rata-rata 16 gram

Genotip Banyaknya Fenotip (gram) Perbandingan


fenotip

AABB 1 22 1

AABb 2 19 4

AaBB 2 19

AaBb 4 16

AAbb 1 16 6

aaBB 1 16

Aabb 2 13 4

aaBb 2 13

Aabb 1 10 1

EM. East dalam percobaannya menggunakan tanaman Nicotiana


longiflora (suatu jenis tanaman tembakau) dengan memperhatikan “ukuran
panjangnya bunga. Ia mulai menyilangkan dua jenis tanaman tembakau ini
yang dapat mengadakan penyerbukan sendiri. Yang satu mempunyai bunga
dengan ukuran rata-rata 40,5 mm, sedang yang lain rata-rata 93,3 mm (Gb. XV
---3). Tiap jenis ini telah melalui penangkaran kadang untuk waktu yang lama,
sehingga pada waktu percobaan itu dimulai, tanam-tanaman tersebut diduga
29

sudah homozigonik. Tanam-tanaman F1 semuanya dapat dikatakan seragam


dan mempunyai bunga yang ukurannya terletak di antara ukuran bunga kedua
tanaman induknya.
Akan tetapi setelah East membuat inbred dari F1, didapatkan hasil yang
menunjukkan banyak perbedaan. Tanam-tanaman F2 memperlihatkan
perbedaan-perbedaan yang lebih luas daripada tanam-tanaman F1. Hal ini
memberi petunjuk bahwa perbedaan itu tidak disebabkan oleh lingkungan,
melainkan genetik. Bahwa faktor genetik mempengaruhinya, dapat dilihat
pada F3 yang berasal dari tanam-tanaman F3 yang berbeda-beda.

3.6 Gen Ganda Pada Manusia


a. Perbedaan Pigmentasi Kulit pada Manusia
Pigmentasi kulit manusia memperlihatkan sifat kuantitatif yang
bervariasi dari warna muda sampai dengan hitam arang. Davenport
menemukan pengaruh poligen pada manusia, yaitu dengan mengukur
intensitas dari warna kulit orang.Antara warna putih sampai dengan warna
hitam arang,Mereka membedakan 4 derajat warna ,yaitu 0 sampai dengan 4
dengan warna kulit putih,hampir putih, sawo matang,hitam biasa,hitam
arang.
Pigmentasi kulit ditentukan oleh dua pasangan gen (misalnya A dan
B).jadi derajat pertama yaitu derajat ke 0 adalah kulit putih dengan genotip
aabb.Derajat warna kedua yaitu derajat ke 1adalah hampir putih dengan
genotip Aabb atau aaBb.Derajat warna ketiga yaitu berkulit sawo matang
dengan genotip AaBb.Derajat warna keempat adalah warna hitam biasa
dengan genotip AAbB atau AaBB.Derajat warna kelima yaitu warna hitam
arang dengan genotip AABB.
Contoh perkawinan antara orang berkulit putih dengan orang orang
berkulit hitam arang (orang negro)

P ♀ aabb X ♂ AABB
Kulit Putih Negro

𝐹1 AaBb
30

Kulit Sawo Matang


(Mulatto)
𝑃2 ♀ AaBb X ♂ AaBb
Sawo matang Sawo Matang
(Mulatto) (Mulatto)

Gamet ♀ : AB,Ab,aB,ab
Gamet ♂ : AB,Ab,aB,ab

♂ AB Ab aB ab

AB AABB AABb AaBB AaBb

Hitam arang Hitam Biasa Hitam Biasa Sawo


Matang

Ab AABb AAbb AaBb Aabb

Hitam Biasa Sawo Matang Sawo Matang Hampir


Putih

aB AaBB AaBb aaBB aaBb

Hitam Biasa Sawo Matang Sawo Matang Hampir


Putih

Ab AaBb Aabb aaBb aabb

Sawo Matang Hampir putih Hampir Putih Putih

𝐹2 1 AABB = 1 Hitam Arang


2 AABb
= 4 Hitam Biasa
2 AaBb
31

4 AaBb
1 AAbb = 6 Sawo Matang

1 aaBB
2 Aabb
= 4 Hampir Putih
2 aaBb
1 aabb = 1 Putih
Perkawinan dua orang berkulit sawo matang menghasilkan
individu-individu 𝐹2 dengan perbandingan fenotip 1 : 4 : 6 : 4 : 1
b. Perbedaan Tinggi Tubuh Orang
Tinggi tubuh orang dipengaruhi oleh poligen.Menurut penyelidikan
4 pasang gen ikut mempengaruhinya.Akan tetapi disini dapat dibedakan
berdasarkan adanya :
1 Gen-gen dasar ( gen-gen yang menentukan tinggi dasar dari orang)
2 Gen-gen ganda (gen-gen yang memberi tambahan pada tinggi dasar)

Gen ganda dinyatakan dengan huruf T (untuk tinggi) dan t (untuk


rendah) sedangkan gen-gen dasar dinyatakan dengan simbol a, b, c, d.
Contoh :
Andaikan tinggi dasar orang Indonesia normal adalah 140 cm.setiap alel T
yang terdapat dalam genotip seseorang member tambahan misalnya 6
cm.Alel t tidak member tambahan apapun pada tinggi dasar orang.Jadi
orang laki-laki bergenotip 𝑎𝑇 𝑎𝑇 𝑏 𝑇 𝑏 𝑡 𝑐 𝑇 𝑐 𝑡 𝑑 𝑇 𝑑 𝑡 mempunyai ukuran tinggi
140 cm + ( 5 x 6 cm) = 170 cm.Orang perempuan bergenotip
𝑎𝑇 𝑎𝑇 𝑏 𝑡 𝑏 𝑡 𝑐 𝑡 𝑐 𝑡 𝑑 𝑡 𝑑𝑡 mempunyai ukuran tinggi 140 cm + ( 2 x 6 cm) = 152
cm apabila kawin akan mempunyai anak dengan ukuran tinggi yang
beragam.
P ♀ aT aT bt bt c t c t dt dt X ♂ aT aT bT bt c T c t dT dt
Tinggi 152 cm Tinggi 170 cm

♀ aT bt c t dt Tinggi


32

aT bT c T dT aT aT bT bt c T c t dT dt = 170 cm

aT bT c T dt aT aT bT bt c T c t dt dt =164 cm

aT bT c t dT aT aT bt bt c T c t dT dt =164 cm

aT bt c T dT aT aT bt bt c T c t dT dt =164 cm

aT bT c t dt aT aT bT bt c t c t dt dt =158 cm

aT bt c T dt aT aT bt bt c T c t dt dt =158 cm

aT bt c t dT aT aT bt bt c t c t dT dt =158 cm

aT bt c t dt aT aT bt bt c t c t dt dt =152 cm

c. Sidik Jari
Sidik jari seseorang merupakn contoh yang indah pula untuk
mengetahui peranan poligen. Berdasarkan system Galton, dapat
dibedakan 3 pola dasar dari bentuk sidik jari yaitu bentuk lengkung atau

“arch”, bentuk sosok atau “loop” dan bentuk lingkaran atau “whorl”.
33

Tiga tipe bentuk dasar sidik jari


A, Lengkung (“arch”). B, sosok (“loop”). C, lingkaran (“whorl”).
Cara menghitung banyaknya rigi ialah mengikuti petunjuk garis
hitam pada gambar tanpa mengikuti sertakan triradius. Perhitungan rigi
untuk bentuk lengkung adalah 16 (dinyatakan sebagai 16-0, karena triradius
terdapat disebelah kiri). Perhitungan rigi untuk bentuk lingkaran adalah 14-
10 karena triradius terdapat disebelah kiri dan kanan. Bentuk lengkung tidak
mempunyai triradius, karena itu tidak dapat dilakukan perhitungan rigi dan
dinyatakan sebagai 0-0. Jumlah rigi dari sidik jari seseorang akan tetap pada
waktu kira-kira minggu ke-duabelas setelah konsepsi dan tidak dipengaruhi
oleh faktor lingkungan.
Perhitungan banyaknya rigi dilakukan mulai dari triradius sampai ke
pusat dari pola sidik jari. Klasifikasi dari bentuk sidik jari tersebut dimuka
didasarkan atas banyaknya triradius, yaitu titik-titik dari mana rigi-rigi
menuju ke tiga arah dengan sudut kira-kira 120o. Bentuk sidik jari yang
paling sederhana adalah lengkung, yang tidak mempunyai triradius,
sehingga tidak dapat dilakukan perhitungan rigi. Dua buah triradius terdapat
pada bentuk lingkaran, sedangkan bentuk sosok memiliki sebuah triradius.
Jika bagian yang terbuka dari bentuk sosok menuju arah ujung jari, maka
bentuk sosok dinamakan bentuk sosok radial. Tetapi jika bagian yang
terbuka itu menuju ke pangkal jari, maka bentuk sosok disebut sosok ulnar.
34

Gambar bentuk sidik jari. A, ujung jari dengan sosok ulnar dan lengkung.

Apabila bagian yang terbuka dari sosok menuju ke bagian pangkal


dari tangan, maka sosok disebut ulnar; jika menuju ke ujung jari, disebut
sosok radial. Pada telapak tangan normal tampak adanya triradius axial. B.
1 = bentuk lengkung; 2 = bentuk sosok; 3 dan 4 = bentuk lingkaran
Frekuensi dari berbagai pola sidik jari sangat bervariasi dari satu jari
dengan jari yang lainnya. Kira-kira 5% dari bentuk sidik jari pada ujung jari
adalah tipe lengkung. Bentuk sosok kira-kira 65-70% dan kira-kira 25-30%
adalah tipe lingkaran. Untuk mendapatkan jumlah perhitungan rigi dari
semua jari-jari dijumlahkan. Pada perempuan rata-rata jumlah rigi adalah
127, sedang pada laki-laki adalah 144.
Deaton melaporkan bahwa pola sidik jari tangan, telapak tangan dan
telapak kaki mempunyai hubungan erat dengan berbagai macam penyakit
keturunan atau cacat karena kelainan kromosom, misalnya pada sindrom
Down. Lebih dari separoh jumlah anak-anak penderita sindrom Down
mempunyai garis telapak tangan seperti kepunyaan kera dan banyak yang
mempunyai sidik jari bentuk lingkaran atau sosok ulnar.

d. Bibir Sumbing
Kelainan ini disebabkan oleh poligen Di Amerika Serikat terdapat
seorang diantara 750 sampai 1000 kelahiran yang memiliki kelainan ini. Ini

Gambar bibir sumbing dan celah-


celah langit disebabkan oleh poligen.
A. Anak dengan bibir sumbing dan
celah-celah langit pada waktu lahir.
B.anak yang sama pada usia 6 tahun
setelah mengalami operasi plastik
35

berati bahwa setiap tahun ada kira-kira 6000 sampai 7000 anak yang lahir
dengan memiliki kelainan ini.
e. Warna Mata Manusia
Apabila mata manusia diperhatikan dengan baik, tampak bahwa
warnanya berbdea-beda, tergantung dari pengandungan pigmen melanin
pada iris.

Kecuali pada orang albino yang tidak memiliki pigmen melanin.


Meskipun menurunnya warna mata itu sangat kompleks namun Devenport
(1913) dapat membedakan 5 kelas fenotip. Hughes (1944) bahkan dapat
mengenal 7 kelas fenotip. Apabila kita berpedoman pada aturan bahwa
banyaknya kelas fenotip ialah satu lebih banyak dari dua kali jumlah
pasangan poligen, maka 9 kelas fenotip dapat dibedakan sebagai hasil dari
berperannya 4 pasang gen

Tabel Berbagai Variasi Warna Mata Manusia yang Disebabkan


oleh Poligen

Banyaknya Alel yang Warna Mata


Mengambil Peranan dalam
Genotip
36

0 Biru Muda

1 Biru Medium

2 Biru Tua

3 Abu-Abu

4 Hijau

5 Merah (Hazel)

6 Coklat Muda

7 Coklat Medium

8 Coklat Tua

f. Hidrosefali
Hidrosefali yaitu membesarnya kepala karena berisi cairan, tidak
selalu genetis. Akan tetapi ada salah satu tipe penyakit yang disebabkan

oleh poligen. Sebelum atau segera setelah anak lahir, cairan


serebrospinal mengumpul dalam tengkorak dan menyebabkan kepala
menjadi besar. Biasanya diserai dengan cacat mental dan kebanyakan
hidupnya tidak lama.
Diabetes, tekanan darah tinggi, beberapa penyakit jantung dan
intelegensia pun diduga disebabkan oleh poligen.
37
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Alel ganda terjadi jika suatu gen memiliki lebih dari dua pasangan gen
yang sealel sehingga muncul beberapa sifat. Contoh sifat yang dikontrol
oleh alel ganda adalah golongan darah manusia sistem ABO, MNSs, Rh
dan warna bulu kelinci.
2. Gen ganda atau Poligen ialah salah satu dari suatu seri gen ganda yang
menentukan pewarisan secara kuantitatip. Contoh gen ganda ada pada
tumbuhan dan manusia, antara lain: sidik jari, bibir sumbing, warna kulit
dll.

3.2 Saran
Berdasarkan pembahasan di atas dan simpulan yang telah di kemukakan
sebelumnya, pada bagian ini penulis mengemukakan beberapa saran sebagai
berikut:
1. berharap dari adanya tugas ini dapat memberikan manfaat yang banyak
bagi para pembaca.
2. Mohon dimaklumi, jika dalam makalah saya ini masih terdapat banyak
kekeliruan, baik bahasa maupun pemahaman. Saya berharap kritik dan
saran dari pembaca.

38
DAFTAR PUSTAKA

Susanto, Agus Hery. 2011. Genetika. Yogyakarta: Graha ilmu

Suryo. 1997. Genetika. Jakarta: Departemen P dan K Direktorat Jendral Pendidikan


Tinggi

Suryo. 1990. Genetika manusia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

39

Anda mungkin juga menyukai