Anda di halaman 1dari 5

DASAR TEORI

Otot dapat mengadakan kontraksi dengan cepat, apabila ia mendapat rangsangan dari luar
berupa rangsangan arus listrik, rangsangan mekanis panas, dingin dan lain-lain. Dalam
keadaan sehari-hari otot ini bekerja atau berkontraksi menurut pengaruh atau perintah yang
datang dari susunan saraf motoris. (Anatomi Fisiologi;88)

Pada keadaan relaksasi ujung-ujung filamen aktin berasal dari dua lempeng saling tumpang
tindih satu sama lainnya. Pada waktu yang bersamaan menjadi lebih dekat pada filamen
miosin, tumpang tindih satu sama lain secara meluas. Lempeng ini ditarik oleh filamen
sampai ke ujung miosin. Selama kontraksi kuat, filamen aktin dapat ditarik bersama-sama,
begitu eratnya sehingga ujung filamen miosin melekuk. Kontraksi otot terjadi karena
mekanisme pergeseran filamen. (Anatomi Fisiologi;108)

Kontraksi otot melibatkan pemendekan unsure otot kontraktil. Tetapi karena otot mempunyai
unsure elastik dan kental dalam rangkaian dengan mekanisme kontraktil, maka kontraksi
timbul tanpa suatu penurunan yang layak dalam panjang keseluruhan otot. Kontraksi yang
demikian disebut isometrik (panjang ukuran sama). Kontraksi melawan beban tetap dengan
pendekatan ujung otot dinamakan isotonik (tegangan sama). Kontraksi otot yang kuat dan
lama mengakibatkan kelelahan otot. Sebagian besar kelelahan akibat ketidakmampuan proses
kontraksi dan metabolic serat otot untuk terus member hasil kerja yang sama dan akan
menurun setelah aktivitas otot mengurangi kontraksi otot lebih lanjut. Hambatan aliran darah
menuju ke otot yang sedang berkontraksi mengakibatkan kelelahan hampir sempurna karena
kehilangan suplai makanan terutama kehilangan oksigen. (Anatomi Fisiologi;110)

Otot rangka adalah masa otot yang bertaut pada tulang yang berperan dalam menggerakkan
tulang-tulang tubuh. Otot rangka dapat kita kaji lebih dalam misalnya dengan mempelajari
otot gastrocnemius pada katak. Otot gastrocnemius katak banyak digunakan dalam percobaan
fisiologi hewan. Otot ini lebar dan terletak di atas fibiofibula, serta disisipi oleh tendon tumit
yang tampak jelas (tendon achilles) pada permukaan kaki.
(wordbiology.wordpress.com/2009/01/20/kontraksi-otot/)

Berdasarkan intensitas dan frekuensi rangsangan, maka dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Rangsangan subliminal adalah rangsangan dengan intensitas lebih kecil dari ambang
(treshold) yang hanya mengakibatkan terjadinya respon berupa potensial lokal.
2. Rangsangan liminal adalah rangsangan terkecil yang sudah menimbulkan terjadinya
potensial aksi, oleh karena rangsangan tersebut sudah mencapai nilai ambang.
3. Rangsangan superliminal adalah rangsangan yang intensitasnya melebihi liminal,
tetapi responnya juga menimbulkan potensial aksi akibat rangsangan liminal
(mengikuti hukum All or None).

Otot merupakan alat gerak aktif, disebut alat gerak aktif karena mampu berkontraksi. Fungsi
Otot antara lain adalah :
1. Membuat gerakan tubuh
2. Mempertahankan postur tubuh bersama rangka
3. Menstabilkan hubungan antar tulang
4. Mempertahankan suhu tubuh
5. Melindungi jaringan dalam tubuh
6. Berfungsi sebagai pintu keluar masuk
7. Menyimpan sedikit nutrisi

Otot memiliki tiga kemampuan khusus yaitu :


1. Kontraktibilitas: kemampuan untuk berkontraksi / memendek.
2. Ekstensibilitas: kemampuan untuk melakukan gerakan kebalikan dari gerakan yang
ditimbulkan saat kontraksi,
3. Elastisitas: kemampuan otot untuk kembali pada ukuran semula setelah
berkontraksi. Saat kembali pada ukuran semula otot disebut dalam keadaan relaksasi.

Berdasarkan sifat kerjanya, otot dibedakan menjadi:


1. Sinergis: yaitu cara kerja dari dua otot atau lebih yang sama berkontraksi dan
sama-sama berelaksasi. Contoh: otot-otot pronator yang terletak pada lengan
bawah.
2. Antagonis: cara kerja dari dua otot yang satu berkontraksi dan yang lain relaksasi.
Contoh: otot trisep dan bisep pada lengan atas.

Sistem Gerak Katak


Hewan vertebrata membutuhkan sistem rangka untuk menyokong berat tubuh. Hal tersebut
diatasi dengan adanya endoskeleton (rangka dalam). Endoskeleton dapat tumbuh
seiring dengan pertumbuhan tubuhnya. Endoskeleton tersusun dari tulang dan tulang dan
otot bekerjasama dengan membentuk sistem gerak. Endoskeleton hewan memiliki bentuk
khas, bentuk khas inilah yang memberi bentuk tubuh pada masing-masing jenis hewan. Pada
katak yang merupakan hewan vertebrata yang tergolong Class Amphibia, maka Katak
memiliki rangka dalam (endoskeleton). Rangka katak tersusun dari tiga kelompok tulang
yaitu tulang tengko rak, tulang badan, dan tulang anggota gerak. Katak adalah pelompat yang
baik karena tungkai belakangnya panjang dan memiliki otot yang sangat kuat. Katak ini juga
memiliki selaput renang di tungkainya sehingga bisa berenang. Selaput ini
memberikantekanan yang kuat melawan air sehingga terjadilah gerakan di
air.http://byulteens.blogspot.com/
Menurut Ganong (2003:62) bahwa sel-sel otot, seperti juga neuron, dapat dirangsang
secara kimiawi, listrik, dan mekanik untuk membangkitkan potensial aksi yang dihantarkan
sepanjang membran sel. Berbeda dengan sek saraf, otot memiliki kontraktil yang digiatkan
oleh potensial aksi. Protein kontraktil aktin dan myosin, yang menghasilkan kontraksi,
terdapat dalam jumlah sangat banyak di otot.
Otot rangka dapat berkontraksi bila ada rangsangan yang berangkai. Bila rangsangan
diberikan pada otot sewaktu berkontraksi, maka kontraksi otot akan bertambah besar.
Keadaan ini disebit sumasi. Bila rangsangan diberikan terus menerus, maka kontraksi
mendatar. Otot dikatakan berfungsi bila otot tersebut menjadi memendek dan diameternya
membesar (Irianto, 2004: 68). http://byulteens.blogspot.com/
Otot rangka memiliki fungsi eksitabilitas yang artinya serabut otot akan merespons dengan
kuat jika distimulasi oleh impuls saraf (Sloane, 2002: 119).
Menurut Wulangi (1993: 68-69), bahwa ada empat macam bentuk rangsangan otot rangka,
yaitu:

1.1. Mekanik
Dapat berupa pijitan, tarikan, maupun pukulan.

2. 2. Kimia
Dapat berupa larutan asam dan larutan garam.

3. 3. Panas
Dapat berupa keadaan yang bersifat panas maupun dingin.

4. 4. Listrik
Dapat berupa arus listrik yang diberikan terhadap otot atau saraf.
Di antara keempat macam bentuk rangsangan tersebut di atas yang sering digunakan adalah
rangsangan listrik, karena intensitas rangsang, lamanya pemberian rangsang, dan frekwensi
rangsang dapat dengan mudah diatur dan kerusakan yang ditimbulkan pada jaringan adalah
minim (Wulangi, 1993: 69).
Bila saraf sebuah otot rangka diberi rangsang listrik maka otot akan berkontraksi atau
mengerut. Bila perangsangan bertubi-tubi, kontraksi yang berkepanjangan (tetani). Bila laju
perangsangan diturunkan maka terjadi sumasi yang tidak lengkap. Besar kegiatan suatu otot
dapat beragam tergantung dari jumlah unit gerak yang aktif. Bila semua unit gerak digiatkan
serentak maka otot akan berkontraksi sekali. Tetapi bila unit gerak ini di giatkan pada waktu
yang tidak bersamaan maka otot akan mengalami ketegangan (Ronan, 1995: 41).
Menurut Syaifudin (2006: 88), bahwa otot rangka dapat mengadakan kotraksi dengan cepat,
apabila ia mendapatkan rangsangan dari luar berupa rangsangan arus listrik, rangsangan
mekanis panas, dingin dan lain-lain.http://byulteens.blogspot.com/
Bila otot rangka dirangsang secara terus-menerus dengan intensitas rangsang yang sama
besar dengan frekwensi satu rangsang per detik, maka pada suatu saat otot kehilangan
kemampuan untuk kontraksi. Gejala ini dikenal dengan nama “kecapaian” (fatique), yaitu
suatu keadaan yang ditandai oleh menurunya kepekaan dan kemampuan menegang.
Menurut wulangi (1993:73), penegangan otot atau kontraksi terjadi apabila otot menerima
rangsangan. Dikenal dua macam penegangan otot yaitu isotonik dan isometrik. Kontraksi
isotonik adalah penegangan otot yang mengakibatkan otot mengalami pemendekan,
contohnya adalah orang yang mengangkat beban yang tidak terlalu berat, sehingga beban
terangkat. Konteraksi isometrik adalah timbulnya penegangan otot tanpa mengalami
pemendekan. Contohnya adalah bila orang mengangkat beban yang terlalu berat, sehingga
beban sama sekali tidak terangkat.
Menurut Wulangi (1993), kalau otot dirangsang dengan dua rangsangan berturut-turut,
tanggapannya tergantung dari jarak waktu antara kedua rangsangan tersebut di atas. Di sini
dibedakan 3 macam tanggapan:

1. Kontaksi tunggal berturut-turut


Apabila rangsangan yang kedua diberikan setelah kontraksi yang pertama selesai sehingga
terjadilah dua buah kontraksi tunggal yang berturut-turut.

2. Penjumlahan rangsang
Apabila rangsangan kedua diberikan pada waktu otot berada dalam keadaan refrakter,
sehingga rangsangan kedua tidak mengakibatkan pengaruh apapun.

3. Penjumlahan kontraksi
Apabila rangsangan kedua diberikan setelah rangsangan pertama, di sini terlihat ada
penambahan tanggapan.
Menurut Wulangi (1993: 75), ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kuat kontraksi
(amplitudo) dan durasi (lamanya waktu) dari kontraksi otot. Pada umumnya kuat kontraksi
akan meningkat bila intensitas rangsang meningkat. Faktor lain yang sangat berpengaruh
terhadap kuat kontraksi otot adalah tegangan awal dari otot pada waktu akan dilakukan
perangsangan.
OTOT RANGKA I

TUJUAN