Anda di halaman 1dari 12

UJI KUALITAS AIR BERDASARKAN NILAI COLIFORM

LAPORAN PRAKTIKUM

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH


MIKROBIOLOGI
Yang dibimbing oleh Dr. Endang Suarsini M.Ked

Disusun oleh :
Kelompok 4 / Offering A
1. Adek Larasati S (160341606007)
2. Agrintya Indah M (160341606041)
3. Mamik Rizkiatul L (160341606051)
4. Novela Memiasih (160341606093)
5. Racy Rizki A (160341606056)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
MARET 2018
A. TUJUAN

Agar mahasiswa dapat melakukan pengujian kualitas air secara mikrobiologi berdasarkan
nilai MPN Coliform.

B. DASAR TEORI

Air merupakan komponen esensial bagi kehidupan jasad hidup. Akan tetapi dapat juga
merupakan suatu substansia yang membawa malapetaka, karena air dapat membawa
mikroorganisme patogen dan zat-zat kimia yang bersifat racun (Linda, 2011)
Kualitas air dapat dilihat dari indikator mikrobiologi, fisik dan kimia di dalamnya.
Kehadiran bakteri Coliform merupakan indikator biologi adanya kontaminasi sampah atau
feses terhadap sumber air. Kualitas mikrobiologi air dapat ditentukan berdasarkan nilai MPN
Coliform, nilai MPN Coliform fekal dan jumlah koloni Escherichia coli. Kontaminasi
Coliform dapat menyebabkan penyakit infeksi saluran pencernaan seperti diare dan gangguang
pencernaan lain. Indikator kualitas fisik (kekeruhan, warna, rasa dan aroma/bau air) dan
indikator kualitas kimia (pH, kesadahan, nilai BOD dan COD) air merupakan indikator
kualitas air yang tidak secara langsung berhubungan dengan kesehatan. Kendati demikian,
kualitas fisik dan kimia berhubungan dengan penentuan kelayakan air untuk dikonsumsi,
sedangkan kontaminasi logam berat seperti Pb (timbal) dalam kondisi minimum berdampak
buruk bagi kesehatan (BPOM RI, 2009).

Pemeriksaan derajat pencemaran air secara mikrobiologi umumnya ditunjukkan dengan


kehadiran bakteri indikator seperti Coliform dan Fecal coli. Ciri-ciri coliform yaitu bentuk
batang, merupakan bakteri gram negatif, tidak membentuk spora, aerobik atau anaerobik
fakultatif yang memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48
jam dan suhu 35oC (Ariyani, 2006).

Untuk mengetahui jumlah sel bakteri golongan coliform yang terdapat dalam sampel air,
dilakukan Metode Jumlah Perkiraan terdekat atau Most Probable Number. Penggunaan media
selektif dan diferensial sangat membantu mempercepat usaha pemeriksaan air guna mendeteksi
organism coliform. Pemeriksaan tersebut terdiri dari 3 langkah berurutan:
1) Uji Pendugaan
2) Uji Penegasan
3) Uji Penguatan
Metode MPN digunakan medium cair di dalam tabung reaksi, dimana perhitungannya
dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad renik setelah
inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan
mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas di dalam tabung kecil (tabung Durham)
yang diletakkan pada posisi terbalik, yaitu untuk jasad renik pembentuk gas. (Andri, 2012)
Uji dinyatakan positif bila terlihat gas dalam tabung Durham. Tabung yang
memperlihatkan gas diuji lebih lanjut dengan uji penegasan. Untuk uji penegasan dilakukan
untuk menegaskan bahwa gas yang terbentuk disebabkan oleh kuman koliform dan bukan
disebabkan oleh kerja sama beberapa spesies sehingga menghasilkan gas. Uji penegasan
menggunakan BGLB (Briliant Green Bile Lactose Broth) yang diinokulasikan dengan satu mata
ose media yang memperlihatkan hasil positif pada uji duga. (Andri, 2012)

C. ALAT DAN BAHAN

Alat:

1. Tabung durham
2. Mikropipet
3. Kertas label
4. Labu Erlenmeyer
5. Tabung kultur

Bahan:
1. Sampel air
2. Media kaldu laktosa (KL)
3. Media mac conkay agar (MCA)
4. Media brilliant green lactose bilebroth (BGLB)
D. PROSEDUR KERJA
E. DATA HASIL PENGAMATAN

1. Uji Pendugaan
1
MPN Coliform = 4,6 × 0,01 = 460 𝑠𝑒𝑙⁄100𝑚𝑙

2. Uji Penegasan
Pengenceran 10−1 (A) = + (3 tabung)
Pengenceran 10−2 (B) = + (2 tabung)
Pengenceran 10−3 (C) = + (2 tabung)
1
MPN Coliform fekal = 2,1 × 0,01 = 210 𝑠𝑒𝑙⁄100𝑚𝑙

3. Uji Penguatan
Pengenceran 10−1 (A) = - (0)
Pengenceran 10−2 (B) = - (0)
Pengenceran 10−3 (C) = - (0)
Keterangan: +  uji positif
- uji negatif

F. ANALISIS DATA

Berdasarkan data yang diperoleh, didapatkan nilai MPN pada tiap-tiap uji dengan medium
tertentu.

Pada medium KL, didapatkan nilai MPN Coliform untuk uji pendugaan dari perhitungan
sebagai berikut:

1
Nilai MPN Coliform = Nilai MPN table x 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑛𝑔𝑎ℎ

1
= 4.6 x
10−2

= 460 sel/100 ml

Pada medium BGLB, diperoleh nilai MPN Coliform fekal untuk uji penegasan dari
perhitungan sebagai berikut:

1
Nilai MPN Coliform = Nilai MPN table x 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑛𝑔𝑎ℎ
1
= 2.1 x
10−2

= 210 sel/100 ml

Pada medium MCA (Mac Conkey Agar) tidak terdapat bakteri E.Coli baik pada
pengenceran 101 , pengenceran 102 , dan pengenceran 103 . Namun tumbuh jenis bakteri lain.

Kesimpulan sementara yang dapat diperleh dari percobaan ini adalah kualitas air selokan
yang digunakan sebagai sampel uji tidak mengandung bakteri E.coli.

G. PEMBAHASAN

Dalam pengujian mengenai kualitas air, dilakukan tiga tahap pengujian. Tahap pertama
yaitu Uji Pendugaan dengan menggunakan medium KL (Kaldu Laktose). Uji pendugaan ini
dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya mikroorganisme pada air dengan indikator ada
atau tidaknya gelembung pada medium dalam waktu 1x24 jam. Berdasarkan data yang diperoleh
dalam uji ini, diketahui terdapat tiga seri tabung yang tampak adanya gelembung. Yaitu pada seri
tabung A, B, dan C dari 3 seri tabung (A, B, dan C). Dimana A merupakan tingkat pengenceran
pertama, B merupakan tingkat pengenceran kedua, dan C merupakan tingkat pengenceran
ketiga). Namun pada seri C hanya satu tabung yang tampak gelembungnya. Dapat diambil
kesimpulan untuk uji pendugaan pada sampel air A (3tabung), B (3tabung), dan C (1tabung)
ditemukan mikroba yang mampu memfermentasiakan laktosa dimana bearti mikroba tersebut
menghasilkan gas pada tabung Durham. Terbentuknya gelembung gas dalam tabung Durham
disebabkan karena adanya mikroba pembentuk gas (Fardiaz S., 1992). Didukung oleh sumber
lain bahwa timbulnya gas disebabkan karena kemampuan bakteri coliform yang terdapat pada
sampel air dalam memfermentasikan laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48
jam dan pada suhu 350 C (Pelczar dan Chan., 2006). Dengan demikian didapatkan nilai MPN
tabel sebesar 4,6. Sedangkan nilai MPN Colliform sebesar 460 sel/ 100 ml.
Tahap kedua adalah uji penegasan. Dalam uji ini digunakan medium BGLB (Brilliant
Green Lactose Bile Broth). Menurut Dwijoseputro, hijau berlian yang terdapat pada uji kepastian
berguna untuk menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan menggiatkan pertumbuhan
bakteri golongan kolon dengan melihat ada atau tidaknya gas sebelum 48 jam berakhir. Dengan
demikian hanya bakteri golongan kolon saja yang dapat tumbuh di medium ini (Dwijoseputro,
2005). Setelah 2x24 jam didapatkan data yang diperoleh , diketahui bahwa dari ketiga seri
tabung, tabung A (3 tabung), B (2 tabung), dan C (2 tabung) menunjukkan hasil positif Dapat
dikatakan bahwa pada tabung A (3 tabung), B (2 tabung), dan C (2 tabung) terdapat
mikroorganisme golongan kolon serta didapatkan nilai MPN Coliform fekal yaitu 210 sel/100ml
dengan MPN tabel sebesar 2,1.
Tahap pengujian yang ketiga yakni uji penguatan dengan medium MCA (Mac Conkey
Agar). Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya bakteri E.coli pada sampel air
yang diuji dengan melihat ada tidaknya koloni E.coli berwarna merah. Dari data yang kami
peroleh mengenai uji ini diketahui bahwa pada sampel air yang di uji tidak ditemukan adanya
E.coli.
Bakteri coliform merupakan parameter mikrobiologis terpenting kualitas air minum.
Kelompok bakteri coliform terdiri atas Eschericia coli, Enterobacter aerogenes, Citrobacter
fruendii, dan bakteri lainnya. Meskipun jenis bakteri ini tidak menimbulkan penyakit tertentu
secara langsung, keberadaannya di dalam air menunjukkan tingkat sanitasi rendah. Oleh karena
itu, air yang akan dikonsumsi harus bebas dari semua jenis coliform. Semakin tinggi tingkat
kontaminasi bakteri coliform, semakin tinggi pula risiko kehadiran bakteri-bakteri patogen lain
yang biasa hidup dalam kotoran manusia dan hewan. Salah satu contoh bakteri patogen-yang
kemungkinan terdapat dalam air terkontaminasi kotoran manusia atau hewan berdarah panas-
adalah Shigella, yaitu mikroba penyebab gejala diare, deman, kram perut, dan muntah-muntah
(Fardiaz,1989).
Jenis bakteri coliform tertentu, misalnya E. coli O:157:H7, bersifat patogen dan juga
dapat menyebabkan diare atau diare berdarah, kram perut, mual, dan rasa tidak enak badan
(Dad,2000).
Pengamatan uji kualitas air kali ini, digunakan metode MPN (Most Probable Number ).
Di mana metode ini terdiri atas tiga tahap, yaitu uji pendugaan, uji penegasan, dan uji penguatan.
Uji tahap pertama (pendugaan), menggambarka keberadaan coliform masih dalam tingkat
probabilitas rendah; masih dalam dugaan. Uji ini mendeteksi sifat fermentatif coliform dalam
sampel. Karena beberapa jenis bakteri selain coliform juga memiliki sifat fermentatif, diperlukan
uji konfirmasi untuk mengetes kembali kebenaran adanya coliform dengan bantuan medium
selektif diferensial. Uji kelengkapan kembali meyakinkan hasil tes uji konfirmasi dengan
mendeteksi sifat fermentatif dan pengamatan mikroskop terhadap ciri-ciri coliform: berbentuk
batang, gram negatif, tidak-berspora (Fardiaz,1989).
Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan jumlah unit tumbuh
(growth unit) atau unit pembentuk-koloni (colony-forming unit) dalam sampel. Namun, pada
umumnya, nilai MPN juga diartikan sebagai perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang
digunakan, umumnya per 100 mL atau per gram. Jadi misalnya terdapat nilai MPN 10/g dalam
sebuah sampel air, artinya dalam sampel air tersebut diperkirakan setidaknya mengandung 10
coliform pada setiap gramnya. Makin kecil nilai MPN, maka air tersebut makin tinggi
kualitasnya, dan makin layak minum. Metode MPN memiliki limit kepercayaan 95% sehingga
pada setiap nilai MPN, terdapat jangkauan nilai MPN terendah dan nilai MPN tertinggi
(Fardiaz,1989).
Metode MPN ini menggunakan medium cair di dalam tabung reaksi, yang
perhitungannya dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif setelah diinkubasi pada suhu
dan waktu tertentu. Pengamatan tabung positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya
kekeruhan atau terbentuknya gas pada tabung Durham untuk mikroba pembentuk gas, seperti E.
coli. Metode MPN ini biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam sampel
cair, dapat pula dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba untuk sampel yang bentuknya
padat, dengan terlebih dahulu membuat suspensi 1:10 dari sampel tersebut.
Menurut Dwidjoseputro (1989), air tanah mangandung zat-zat anorganik maupun zat-zat
organik yang merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan
mikroorganisme (kehidupan mikroorganisme). Mikroorganisme yang autotrof merupakan
penghuni pertama dalam air yang mangandung zat-zat anorganik. Sel-sel yang mati merupakan
bahan organic yang memungkinkan kehidupan mikroorganisme yang heterotrof. Temperatur
juga ikut menentukan populasi mikroorganisme di dalam air. Pada temperature sekitar 30°C
merupakan temperatur yang baik bagi kehidupan bakteri patogen yang berasal dari hewan
maupun manusia. Sinar matahari (terutama sinar ultraviolet) memang dapat mematikan bakteri,
akan tetapi daya tembus sinar ultraviolet ke dalam air tidak maksimal. Air yang berarus deras
kurang baik bagi kehidupan bakteri. Hal ini berkaitan dengan tidak maksimalnya
perkembangbiakan bakteri, karena kebanyakan bakteri memerlukan media/ substrat yang tenang
untuk perkembangbiakannya (Dwijoseputro, 1989).
Selain faktor biologi, menurut BPOM (2009) kualitas air juga dipengaruhi oleh faktor
fisika dan faktor kimia.
Faktor fisika meliputi kekeruhan, temperatur, warna, solid (zat padat), bau dan rasa yang
dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Kekeruhan
Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organic yang terkandung dalam
air. Seperti lumpur dan bahan yang dihasilkan oleh buangan industry.
2. Temperatur
Kenaikan temperature air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut. Kadar oksigen
terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi
anaerob yang mungkin saja terjadi.
3. Warna
Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran organisme, bahan-bahan tersuspensi yang
berwarna dan oleh ekstrak senyawa-senyawa organic serta tumbuh-tumbuhan.
4. Solid (Zat Padat)
Kandungan zat padat menimbulkan bau, juga dapat menyebabkan turunnya kadar oksigen
terlarut. Zat padat dapat menghalangi penetrasi sinar matahari ke dalam air.
5. Bau dan Rasa
Baud an rasa dapat dihasilkan oleh adanya organisme dalam air seperti alga serta oleh adanya
gas seperti H2S yang terbentuk dalam kondisi anaerobic, dn oleh adanya senyawa-senyawa
organic tertentu.
Faktor kimia meliputi PH, DO, BOD, COD, kesadahan, dan senyawa kimia ang beracun
dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. PH
Pembatasan PH dilakukan karena akan mempengaruhi rasa, korosifitas air dan efisiensi
klorinasi. Beberapa senyawa asam dan basa lebih toksid dalam bentuk molekuler, dimana
disosiasi senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi oleh PH.
2. DO (Dissolved Oxygent)
DO adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesa dan absorbs
atmosfer atau udara. Semakin banyak jumlah DO maka kualitas air semakin baik.
3. BOD (Biological Oxygent Demand)
BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan
bahan-bahan organic (zat pencerna) yang terdapat di dalam air secara biologi.
4. COD (Chemical Oxygent Demand)
COD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organic
secara kimia.
5. Kesadahan
Kesadahan air yang tinggi akan mempengaruhi efektifitas pemakaian sabun, namun
sebaliknya dapat memberikan rasa yang segar. Di dalam pemakaian untuk industry (air ketel,
air pendingin, atau pemanas) adanya kesadahan dlam air tidaklah dikehendaki. Kesadahan
yang tinggi bisa disebabkan oleh adanya kadar residu terlarut yang tinggi dalam air.
6. Senyawa Beracun
Kehadiran unsure Arsen (As) pada dosis yang rendah sudah merupakan racun terhadap
manusia, sehingga perlu pembatasan ketat (± 0,05mg/l). Kehadiran besi (Fe) dalam air bersih
akan menyebabkan timbulnya rasa dan bau ligan, menimbulkan warna koloid merah (karat0
akibat oksidasi oleh oksigen terlarut yang dapat menjadiracun bagi manusia .
Masalah air bersih yang kurang memenuhi syarat sangat berpengarauh terhadap kualitas
produk. Sebagai contoh di dalam industri minuman, jika air yang digunakan kurang baik maka
produk yang dihasilkan juga kurang baik, apalagi jika air yang digunakan tidak steril maka
produk yang dihasilkan dapat terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen yang mana dapat
membayakan konsumen (Fardiaz,1989). Berdasarkan hasil nilai MPN yang kami lakukan, maka
nilai tersebut menunjukkan bahwa sampel yang kami uji kurang layak untuk diminum. Namun,
dimungkinkan pula terjadi kesalahan praktikan saat praktikum, dimana kurangnya praktikan
dalam memperhatikan teknik aseptic. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit
kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik.

H. KESIMPULAN

1. MPN adalah suatu teknik enumerasi pada mikrobia (dalam hal ini coliform fecal), pada suatu
bahan cairan. Metode MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumtive test), uji
penegasan (confirmed test), dan uji penguatan (completed test). Dalam uji tahap pertama,
keberadaan coliform masih dalam tingkat probabilitas rendah; masih dalam dugaan.
Organisme kelayakan konsumsi air atau bahan pangan cair adalah kelompok bakteri koliform
yaitu: spesies Escherichia coli, Enterobacter dan Klebsiella.

2. Semakin tinggi nilai MPN suatu air maka semakin banyak bakteri koliform pada air tersebut.
DAFTAR RUJUKAN

Andri, 2012. metode MPN. (online) http://scienceandri.blogspot.com/2012/04/metode-mpn.html,


diakses tanggal 23 Maret 2018.
Ariyani D. dan Faisal A. Mutu Mikrobiologis Minuman Jajanan di Sekolah Dasar Wilayah
Bogor Tengah. Jurnal Gizi dan Pangan 1 (1). 2006 : 44-50, 2006.
BPOM RI. Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dan Kimia Dalam Makanan.
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor
HK.00.06.1.52.4011. Jakarta: BPOM, 2009.
Dad.2000.Bacterial Chemistry and Physiology. John Wiley & Sons, Inc., New York, p. 426.
Dwijoseputro. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Penerbit Jambatan.
Fardiaz, S.,.1989. Analisis Mikrobiologi Pangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, IPB.
Fardiaz, S.,.1992. Analisis Mikrobiologi Pangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, IPB
Linda. 2011. Uji Kualitas Air Berdasar Nilai MPN Coliform. (online) http://linda-
haffandi.blogspot.com/2011/11/uji-kualitas-air-berdasar-nilai-mpn.html, diakses tanggal
23 Maret 2018.
Pelczar, Michael and Chan. 2009. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Universitas Indonesia
Press.
LAMPIRAN

Uji Penegasan Pada Uji Penegasan Pada Uji Penegasan Pada


Pengenceran 103 Pengenceran 102 Pengenceran 101

Uji Penguatan Pada Uji Penguatan Pada Uji Penguatan Pada


Pengenceran 103 negatif Pengenceran 102 negatif Pengenceran 101 negatif
E.Coli E.Coli E.Coli