Anda di halaman 1dari 12

BAHAN MATERI JURNAL PASCAPANEN

Buah-buahan termasuk produk pertanian yang mudah rusak, serta kualitasnya cepat menurun setelah
pasca panen dan selama di perjalanan. Cabe merah merupakan salah satu jenis buah yang mudah rusak.
Kerusakan buah cabe merah terutama disebabkan karena kehilangan lapisan lilin alami, sehingga laju
transpirasi uap air meningkat, mengakibatkan pelunakan pada jaringan buah, buah menjadi layu, busuk,
keriput dan lunak [1]. Dalam Slamet Riskino (2011)

Teknologi paska panen dalam dunia pertanian sangat menentukan kualitas produk pertanian.Komoditas
buah tropis di Indonesia yang banyak digemari salah satunya adalah buah mangga. Jenis mangga yang
memiliki keunikan dan berdaya saing ekspor yaitu mangga apel. Tetapi seperti halnya buah yang lain,
setelah dipanen buah ini akan cepat mengalami kerusakan seperti perubahan warna karena enzim dan
aktivitas mikrobiologi yang menyebabkan buah mangga menjadi cepat membusuk dan rusak sehingga
tidak dapat lagi dikonsumsi. Buah mangga yang masak pohon setelah dipetik hanya tahan 3 sampai 5
hari dalam kondisi ruang.Oleh karena itu diperlukan alternatif untuk mengawetkan dan memperpanjang
daya simpan buah tersebut, agar dapat meningkatkan kualitas serta nilai ekonomisnya. . Dalam Sa’adah
Khotimatus (2015)
Teknologi paska panen dalam dunia pertanian sangat menentukan kualitas produk pertanian

Pengemasan merupakan suatu proses pembungkusan, pewadahan atau pengepakan suatu produk
dengan menggunakan bahan tertentu sehingga produk bisa terlindungi (Agustina 2011).
Walaupun perubahan ini pada awalnya menguntungkan yaitu terjadinya perubahan warna, rasa, dan
aroma tapi kalau perubahan ini terus berlanjut dan tidak dikendalikan maka pada akhirnya akan
merugikan karena bahan akan rusak/busuk dan tidak dapat dimanfaatkan. Di Indonesia, hortikultura
yang tidak dapat dimanfaatkan diistilahkan sebagai “kehilangan” (losses) mencapai 25-
40%(Muhtadi,1995) Nilai ini sangat besar bila dibandingkan dengan negara-negara maju Dalam Samad
Yusuf (2006).
.

Pada setiap buah sudah ada pelapis alami, dan lilin alami ini dapat rusak saat proses pemanenan dan
pendistribusian, misal karena benturan, gesekan dengan buah yang lainnya. Coating adalah lapisan tipis
yang bertujuan untuk memberikan penahanan yang selektif terhadap perpindahan massa. Coating dapat
dibuat dari tiga jenis bahan yang berbeda yaitu hidrokoloid (protein dan polisakarida), lipida, dan
komposit. Luka kecil dan goresan pada permukaan buah saat pemanenan dan pendistribusian dapat
ditutupi oleh aplikasi coating. Keuntungan lain dari coating adalah peningkatan kilap (gloss) buah serta
memperbaiki penampilan buah sehingga lebih dapat diterima oleh konsumen (Elizabeth dkk, 2012) .
Dalam Sa’adah Khotimatus (2015)
.
Kehilangan ini terjadi secara alamiah setelah dipanen akibat aktivitas berbagai jenis enzim yang
menyebabkan penurunan nilai ekonomi dan gizi.
.
Salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai pelapis pada produk hortikultura untuk memperpanjang
masa simpan dan kesegaran buah shellac. Shellac merupakan resin alami yang dihasilkan oleh serangga
Laccifer lacca Kerr. dari beberapa tumbuhan diantaranya kesambi (Schleibera oleosa Merr.), akasia
(Accasia villosa Wild.), jamuju (Podocarpus imbicartus BI.), widoro (Zizyphus jujube) dan kaliandra
(Calliandra callothyrsus) (Tasikarwati 2006). Penggunaan shellac juga ditujukan untuk menghasilkan
warna mengkilat pada permukaan buah (Pangestuti dan Sugiyatno 2004) dan memperlambat pelepasan
antosianin dari dalam obat berbentuk kapsul (Steffan et al. 2012). Menurut Dou (2004) pelapisan shellac
pada buah “grapefruit” (Citrus paradisi) selama 2 bulan penyimpanan pada suhu 4oC mampu
memperlambat kerusakan sebanyak 78%, sedangkan dengan menggunakan lilin carnauba sebanyak 55%
dan polyethilen hanya 40%. Sementara itu menurut Victorine dan Robert (2000) pemberian shellac 20%
dan 34% pada buah apel (Malus domestica Borkh.) selama 7 hari penyimpanan pada suhu 5oC dan
diikuti 21oC selama 14 hari mampu mempertahankan kilau sebanyak 10,6 GU dan 11,2 GU,
mempertahankan rasa dan berat dibandingkan lilin komersial lainnya seperti karnauba maupun
kombinasi antara karnauba-shellac Dalam Nurhayati yati (2015)..
Setelah buah dipanen proses respirasi dan transpirasi masih berlangsung, sehingga menyebabkan
penurunan mutu dan menyebabkan rendahnya masa simpan belimbing. Hal tersebut dapat diatasi
dengan perlakuan pascapanen yang tepat di antaranya dengan penyimpanan pada suhu rendah dan
pengemasan dengan baik. Pengemasan merupakan perlakuan paling menentukan dalam proses
menjaga kualitas buah agar terhindar dari kerusakan. Pengemasan dilakukan dengan
mempertimbangkan faktor yang paling penting, yaitu sifat permeabilitas bahan pengemas (Nasution et
al., 2013) Dalam Sumiasih (2016).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh lama
penyimpanan terhadap perubahan morfologi dan kandungan gizi pada umbi talas agar dapat
menghasilkan kualitas talas yang baik dan dapat digunakan sebagai bahan utama pangan fungsional.
Buah-buahan adalah salah satu jenis komoditas dari sektor pertanian yang paling rentan akan
pembusukan. Secara umum mutu buah ditentukan oleh beberapa persyaratan mutu yaitu ukuran,
warna, bentuk, kondisi, tekstur, citarasa dan nilai nutrisi. Oleh karena itu, perlu dijaga mutu dan
kesegarannya agar tidak mudah rusak sehingga memiliki nilai jual yang tinggi. Teknologi paska panen
dalam dunia pertanian sangat menentukan kualitas produk pertanian.Komoditas buah tropis di
Indonesia yang banyak digemari salah satunya adalah buah mangga. Jenis mangga yang memiliki
keunikan dan berdaya saing ekspor yaitu mangga apel. Tetapi seperti halnya buah yang lain, setelah
dipanen buah ini akan cepat mengalami kerusakan seperti perubahan warna karena enzim dan aktivitas
mikrobiologi yang menyebabkan buah mangga menjadi cepat membusuk dan rusak sehingga tidak dapat
lagi dikonsumsi. Buah mangga yang masak pohon setelah dipetik hanya tahan 3 sampai 5 hari dalam
kondisi ruang.Oleh karena itu diperlukan alternatif untuk mengawetkan dan memperpanjang daya
simpan buah tersebut, agar dapat meningkatkan kualitas serta nilai ekonomisnya. Dalam Sa’adah
Khotimatus (2015)

Buah mangga adalah buah musiman yang hanya 1 kali panen dalam setahun, buah mangga juga
dominan di Indonesia timur, sehingga penyebaran konsumsi mangga tidak merata. Hal ini selain
dikarenakan masa simpan buah mangga pendek juga penanganan paska panen dari petani mangga itu
sendiri kurang. Salah satu cara untuk menghambat atau menunda proses kematangan dan kerusakan
buah mangga secara alami yaitu dengan teknik pelapisan (coating). Dalam Sa’adah Khotimatus (2015)

Pada setiap buah sudah ada pelapis alami, dan lilin alami ini dapat rusak saat proses pemanenan dan
pendistribusian, misal karena benturan, gesekan dengan buah yang lainnya. Coating adalah lapisan tipis
yang bertujuan untuk memberikan penahanan yang selektif terhadap perpindahan massa. Coating dapat
dibuat dari tiga jenis bahan yang berbeda yaitu hidrokoloid (protein dan polisakarida), lipida, dan
komposit. Luka kecil dan goresan pada permukaan buah saat pemanenan dan pendistribusian dapat
ditutupi oleh aplikasi coating. Keuntungan lain dari coating adalah peningkatan kilap (gloss) buah serta
memperbaiki penampilan buah sehingga lebih dapat diterima oleh konsumen (Elizabeth dkk, 2012).
Dalam Sa’adah Khotimatus (2015)

Selain pelapisan, untuk menjaga buah selama penyimpanan dibutuhkan wadah pengemas. Pengemasan
buah-buahan dan sayuran merupakan usaha untuk menempatkan komoditas tersebut kedalam suatu
wadah yang memenuhi syarat, dengan maksud mutunya tetap atau hanya mengalami sedikit
penurunan, dan pada saat diterima konsumen akhirnya nilai pasar tetap tinggi (Pradnyawati 2006).
Pengemasan dengan plastik wrap dan kertas koran adalah kemasan yang umum untuk berbagai jenis
barang termasuk produk hortikultura segar seperti sayuran dan buah-buahan. Keunggulan kemasan
platik wrap dan kertas koran yaitu pada bobot yang ringan, bersih, permukaanya halus. Dalam Sa’adah
Khotimatus (2015)

Aplikasi teknologi penanganan buah pascapanen untuk mempertahankan mutu buah, dapat dilakukan
dengan kombinasi perlakuan panas dan pencelupan/ perendaman dengan larutan kapur. Kombinasi
perlakuan panas diikuti dengan pencelupan ke dalam larutan kapur mampu mencegah investasi hama
dan pertumbuhan penyakit pascapanen serta mampu menjaga dan meningkatkan tekstur buah. Metode
perlakuan panas merupakan alternative utama untuk proses disinfestasi hama dan penyakit pascapanen
(Marsudi et al. 2007), karena lebih efektif dan efisien, aman bagi kesehatan dan lingkungan
dibandingkan dengan metode iradiasi dan fumigasi. Pelakuan panas juga telah terbukti efektif sebagai
metode non kimia yang dapat meningkatkan kualitas pascapanen berbagai produk hortikultura (Chávez-
Sánchez et al. 2013) Dalam Zairisman (2017)..

Pelapisan atau coating adalah suatu metode pemberian lapisan tipis pada permukaan buah untuk
menghambat keluarnya gas, uap air dan kontak dengan oksigen, sehingga proses pemasakan dan reaksi
pencoklatan buah dapat diperlambat. Lapisan yang ditambahkan di permukaan buah ini tidak berbahaya
bila ikut dikonsumsi bersama buah. Bahan yang dapat digunakan sebagai coating harus dapat
membentuk suatu lapisan penghalang kandungan air dalam buah dan dapat mempertahankan mutu
serta tidak mencemari lingkungan misalnya edible coating (Isnaini, 2009) Dalam Novia Melly (2012).
Kitosan adalah salah satu alternatif sebagai bahan pelapis alami yang tidak beracun dan aman bagi
kesehatan (Kays, 1991 dan Baldwin, 1999). Kitosan merupakan produk turunan dari polimer kitin yaitu
produk samping (limbah) dari pengolahan industri perikanan, khususnya udang dan rajungan. Limbah
kepala udang mencapai 35-50% dari total berat udang. Kadar kitin dalam limbah kepala udang berkisar
antara 60-70% dan bila diproses menjadi kitosan menghasilkan 15-20% (Linawati, 2006). Dari beberapa
penelitian menyebutkan kemampuan pelapisan atau coating kitosan untuk memperpanjang masa
simpan dan mengontrol kerusakan buah dan sayuran lebih baik dengan menurunkan kecepatan
respirasi, menghambat pertumbuhan kapang, dan menghambat pematangan dengan mengurangi
produksi etilen dan karbondioksida. Kitosan memiliki kemampuan untuk membentuk film yang sesuai
sebagai pengawet makanan dengan menghambat patogen psikotrofik. Penelitian yang dilakukan Jiang
dan Tsang (2005) membuktikan bahwa coating kitosan (2% kitosan dalam 5% asam asetat) mampu
menghambat penurunan kandungan antosianin dan peningkatan aktivitas polyphenol oxidase pada
penyimpanan leci. El Ghaouth et al., (1992) melaporkan bahwa pelapisan kitosan (1% dan 2 % dalam
0.25 N HCl) mengurangi kecepatan respirasi dan produksi etilen pada tomat. Tomat yang di-coating
dengan kitosan lebih keras, titrasi keasaman lebih tinggi, dan lebih sedikit pigmentasi merah
dibandingkan kontrol setelah penyimpanannya selama 4 minggu pada suhu 20 0C Dalam Novia Melly
(2012)..
Untuk memperpanjang massa simpan buah, salah satunya dengan pelapisan buah dengan bahan pelapis
(coating). Edible coating adalah metode pelapisan pada permukaan buah untuk menghambat keluarnya
gas, uap air yang bertujuan memperlambat proses pemasakan dan perubahan warna buah pada saat
penyimpanan (Milda, 2009). Dalam bidang pangan kitosan merupakan salah satu bahan yang aman bisa
digunakan untuk pelapis buah yang berasal dari limbah kulit udang. Kitosan berpotensi cukup baik
sebagai pelapis buah-buahan dan dapat digunakan sebagai fungisida (Ghaout dkk., 1992). Karena
kitosan mampu berfungsi sebagai anti fungi sehingga buah-buahan yang dilapisi dengan kitosan tidak
mudah rusak. Selain itu bahan baku yang digunakan untuk membuat kitosan banyak terdapat di
Indonesia (Rachmawati, 2010) Dalam Novia Melly (2012).

Buah naga seperti buah-buahan pada umumnya termasuk perishable commodities, artinya komoditi
yang mudah mengalami kerusakan. Kerusakan dapat disebabkan oleh kerusakan mekanis atau efek
fisiologis. Kerusakan fisiologis yang terjadi pada komoditi tanaman hortikultura antara lain lecet,
terkelupas, kering layu, memar, busuk setelah dipanen. Dampak dari efek fisiologis, buah-buahan tidak
mempunyai umur simpan panjang. Poerwoko dan Fitradesi (2000) menyatakan bahwa sepertiga produk
hortikultura dunia tidak dapat dikonsumsi karena rusak. Buah merupakan struktur hidup yang akan
mengalami perubahan fisik dan kimia setelah dipanen. Subhan, (2008) menyatakan bahwa proses
pemasakan buah-buahan akan terus berlangsung karena jaringan dan sel di dalam buah masih hidup
dan melakukan respirasi, proses respirasi akan menyebabkan penurunan mutu dan masa simpan buah
Dalam Harun Noviar (2013)..
Pelapisan lilin pada permukaan buah dapat mencegah terjadinya penguapan air sehingga dapat
memperlambat kelayuan, menghambat laju respirasi, dan mengkilapkan kulit buah sehingga menambah
daya tarik bagi konsumen. Hasil penelitian Chotimah (2008) menyatakan bahwa perlakuan pemanasan
dengan pelilinan 4% merupakan perlakuan yang terbaik dalam mempertahankan mutu alpukat
berdasarkan parameter susut bobot, kekerasan, total padatan terlarut, kadar air, dan mampu bertahan
terhadap serangan penyakit sampai akhir penyimpanan Dalam Harun Noviar (2013).

Upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan laju respirasi adalah dengan cara pelapisan
menggunakan bahan pelapis yang tipis dan aman untuk dikonsumsi bersama buah, yaitu dengan
pelapisan kitosan. Kitosan adalah polisakarida yang terbuat dari cangkang hewan Crustaceae seperti
udang dan kepiting. Kitosan digunakan sebagai bahan pelapis buah untuk menurunkan laju respirasi
sehingga masa simpan pada buah dan sayur menjadi lebih lama (Novita et al., 2012). Widodo et al.
(2012) melaporkan bahwa perlakuan kitosan dengan konsentrasi 2,5% dibandingkan dengan perlakuan
air dan asam asetat 0,5% secara nyata dapat memperpanjang masa simpan buah jambu biji ‘Crystal’
2,56 dan 6,45 hari lebih lama. Perlakuan dengan menggunakan suhu rendah diketahui juga dapat
menurunkan laju respirasi. Respirasi yang turun menyebabkan masa simpan buah dapat bertahan lebih
lama. Respirasi akan cepat berlangsung pada suhu yang tinggi sehingga proses pemasakan buah menjadi
lebih cepat dan masa simpan menjadi lebih singkat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Singh dan Pal
(2008) menyatakan bahwa Controled Atmosphre (CA) pada suhu 8oC mampu mempertahankan masa
simpan buah jambu biji selama 30 hari Dalam Widodo SE (2016).

Berbagai cara dapat dilakukan untuk memperpanjang masa simpan buah salak dan pelilinan merupakan
salah satu cara untuk memperlambat proses respirasi dan transpirasi. Sama seperti pada buah-buahan
pada umumnya, buah salak memiliki lapisan alami pada permukaannya yang akan menutup pori-pori
dari buah sehingga dapat mengurangi laju respirasi dan transpirasi. Pada penanganan pascapanen buah
salak sebagian lilin alami akan hilang akibat pencucian, gesekan, benturan dan lain sebagainya sehingga
penampakan buah akan menjadi kusam dan tidak menarik serta kesegaran buah akan menurun
(Kosenda, 2005). Untuk mengganti lapisan lilin yang hilang, maka perlu melapisi permukaan buah
dengan lilin buatan sehingga dibutuhkan tindakan penanganan pascapanen Dalam Manurung Vina
(2013)..
Proses respirasi dan transpirasi akan menyebabkan komoditi mengalami susut bobot. Respirasi
merupakan proses metabolisme dengan cara menggunakan O2 dalam pembakaran senyawa yang lebih
kompleks (pati, gula, protein, lemak, dan asam organik) menghasilkan molekul yaang lebih sederhana
yaitu CO2 dan H2O serta menghasilkan energi yang dapat digunakan oleh sel untuk reaksi sintesa
(Winarno 1981), sedangkan transpirasi merupakan proses hilangnya air dalam bentuk uap air melalui
proses penguapan. Susut bobot terjadi karena selama proses penyimpanan menuju pemasakan terjadi
perubahan fisikokimia berupa pelepasan air Dalam Manurung Vina (2013)..

Jambu biji merupakankomoditi pertanian yang mudah membusuk. Daya simpannya pada suhu ruang
hanya beberapa hari saja, sedangkan pada puncak produksi CO2 dan etilen daya simpannya hanya 3 – 6
hari setelah panen (Salunkhe and Kadam, 1995). Kerusakan yang terjadi pada buah-buahan diakibatkan
proses metabolism seperti respirasi dan transparasi. Proses metabolisme tersebut akan terus
berlangsung sehingga akan terjadi perubahan perubahan yang dapat mengakibatkan penurunan mutu
bahan pangan tersebut. Disamping itu banyak kerusakan yang terjadi disebabkan oleh perlakuan
mekanisfisis dan biologis (Winarno dan Aman, 1981). Sehingga, perlu dilakukan upaya untuk
menghambat atau menunda proses kematangan dan kerusakan buah agar tidak menurunkan nilai
jualnya. Dengan sifat jambu biji yang mudah membusuk, maka diperlukan suatu cara mempertahankan
kualitas jambu biji dengan memperpanjang umur simpan dan kesegarannya. Salah satu cara untuk
menghambat atau menunda proses kematangan dan kerusakan buah adalah dengan melapisi kulit
permukaan buah dengan metode pelapisan lilin. Prinsip dari proses pelapisan lilin pada kulit permukaan
buah merupakan sebuah usaha untuk menggantikan lapisan lilin alami yang dimiliki oleh buah itu sendiri
karena sebagian besar telah hilang akibat terjadinya proses penanganan pasca panen seperti pada
proses pencucian, sortasi, dan pengangkutan. Tujuan utama pelapisan lilin pada produk holtikultura
adalah untuk mencegah penguapan air akibat respirasi dan transpirasi agar tidak layu, berkerut, dan
busuk Dalam Manurung Vina (2013)..
BAB III
Tingkat kesukaan konsumen terhadap hortikultura juga dipengaruhi warna komoditas.
Berbagai upaya telah dilakukan agar kenampakan komoditas tersebut dapat semakin menarik.
Salah satu cara yang dilakukan adalah pemberian lapisan lilin atau pelilinan (waxing). Beberapa
jenis sayuran terutama sayuran buah kadang-kadang diberi perlakuan pelilinan dengan tujuan
untuk meningkatkan kilap, sehingga penampakannya akan lebih disukai oleh konsumen. Selain
itu, luka atau goresan pada permukaan buah dapat ditutupi oleh lilin. Namun demikian pelilinan
harus dilakukan sedemikian rupa agar pori-pori buah tidak tertutupi sama sekali agar tidak terjadi
proses anareobik dalam sayuran. Proses anaerobik dapat mengakibatkan terjadinya fermentasi
yang dapat mempercepat terjadinya pembusukan. Bahan yang dipakai dalam pelilinan adalah
yang bersifat pengemulsi (emulsifier) yang berasal dari campuran tidak larut lilin-air dan yang
lainnya adalah larutan lilin-air (solvent wax). Bahan yang bersifat pengemulsi ini lebih banyak
digunakan kerena lebih tahan terhadap perubahan suhu dibandingkan dengan larutannya yang
mudah terbakar. Selain itu, penggunaan emulsi lilin-air tidak mengharuskan dilakukannya
pengeringan buah terlebih dahulu setelah proses pencucian. Untuk menjaga buah dari serangan
mikroba maka kedalam emulsi lilin-air dapat ditambahkan bakterisida atau fungisida. Jenis-jenis
emulsi lilin-tebu (sugarcane wax), lilin karnauba (carnauba wax), terpen resin termoplastik,
shellac, sedangkan emulsifier yang banyak digunakan adalah tri-etanolamin dan asam oleat.
Ada beberapa cara pelilinan dengan memakai emusi lilin-air pada sayuran buah adalah
dengan cara pembusaan (foaming), penyemprotan (spraying), pencelupan (dipping), atau dengan
cara disikat (brushing). Cara yang paling banyak digunakan adalah dengan cara pembusaan dan
penyikatan karena pengerjaannya lebih mudah dan praktis.

Prosedur Penelitian
1. Penelitian Pendahuluan
Tomat dengan tingkat kematangan masak penuh dicuci dan dibersihkan terlebih dahulu dari debu
dan kotoran. Kemudian tomat dikeringkan dengan menggunakan kain bersih atau tisu, dan
ditimbang terlebih dahulu sebelum dilakukan perlakuan lebih lanjut agar dapat diketahui berat
awalnya. Larutan kitosan dengan konsentrasi 0,5%, 1% dalam 200 ml aquadest diencerkan
kemudian dituang ke dalam gelas kimia yang digunakan untuk pencelupan buah tomat selama 5,
10, dan 15 menit. Kemudian tomat ditiriskan dan dikeringkan sampai larutan kitosan pada
permukaan tomat tidak menetes lagi. Tomat disimpan pada suhu ruang selama 1 (satu) minggu
dan diberi alas plastik bening berwarna putih, dan selanjutnya ditimbang untuk mengetahui berat
tomat setelah dilapisi kitosan. Analisis terhadap tomat yang telah disimpan meliputi kerusakan
visual (penampakan) dan persentase susut bobot.
2. Penelitian Utama
Tomat dengan tingkat ketuaan yang sama dan dengan tingkat kemasakan yang berbeda dicuci
dan dibersihkan terlebih dahulu dari debu dan kotoran. Kemudian tomat dikeringkan dengan
menggunakan kain bersih atau tisu. Tomat dicelupkan ke dalam larutan kitosan 1% dengan lama
perendaman 10 menit. Tomat ditiriskan dan dikeringkan sampai larutan kitosan pada permukaan
tomat tidak menetes lagi kemudian tomat ditimbang untuk mengetahui beratnya dan disimpan
pada suhu ruang. Analisis dilakukan pada hari 0, 5, 10, 15, dan 20 penyimpanan.
Analisis yang dilakukan terhadap tomat meliputi: analisis susut bobot, total padatan terlarut, total
asam, vitamin C dan uji penampakan.

Melly Novita*1), Satriana1), Martunis1), Syarifah Rohaya1), dan Etria Hasmarita 1). 2012.
PENGARUH PELAPISAN KITOSAN TERHADAP SIFAT FISIK DAN KIMIA TOMAT
SEGAR (Lycopersicum pyriforme) PADA BERBAGAI TINGKAT KEMATANGAN.
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol. (4) No.3, 2012

Lilin yang digunakan berasal dari lilin lebah


madu dengan konsentrasi empat berdasarkan
hasil penelitian pada umbi kentang. Perlakuan
pelapisan benih dengan lilin dilakukan secara
manual. Rimpang benih yang sudah bersih dari
tanah, kemudian direndam dalam larutan PBZ
sesuai perlakuan selama dua jam, setelah itu
dikering anginkan selama lebih kurang satu hari.
Pelapisan dilakukan dengan cara mencelupkan
rimpang benih yang sudah direndam PBZ ke dalam
emulsi lilin suhu lebih kurang 350C, ditiriskan dan
kemudian dikering anginkan selama 2-3 hari.
Penyimpanan dilakukan dengan cara meletakkan
benih pada rak penyimpanan selama empat bulan.

Persiapan larutan nanokomposit


Larutan nanokomposit dibuat mengikuti prosedur
dari Sabarisman et al. (2015). Proses pembuatan larutan
ini dilakukan dengan basis pektin sebesar 1% (b/v
larutan). Nanopartikel ZnO (2%, b/b pektin) dimasukkan
ke dalam gelas beker berisi aquades selanjutnya dihomogenisasi
(Emulsifier Armfield FT 40) selama 2 menit
pada kecepatan tertinggi. Pada gelas beker yang berbeda,
pektin direhidrasi menggunakan aquades selama 24
jam kemudian dihomogenisasi selama 2 menit. Selama
proses homogenisasi tersebut dimasukkan larutan NP
ZnO sedikit demi sedikit lalu dipanaskan hingga suhu
70-80⁰C. Asam stearat (1%, b/b pektin) dimasukkan
ke dalam aquades, lalu ditambahkan 0,1% (b/v larutan)
Tween 80 dan 40% (b/b pektin) sorbitol. Larutan asam
stearat diaduk sambil dipanaskan di atas hot plate hingga
asam stearat meleleh. Larutan asam stearat sedikit demi
sedikit dimasukkan ke dalam larutan pektin-NP ZnO yang
telah dipanaskandan dilakukan homogenisasi selama 2 menit. Prosedur pembuatan larutan
disajikan seperti pada Sebagai contoh dibuat larutan nanokomposit dengan
200 ml aquades, dibagi menjadi 90 ml untuk rehidrasi
pektin, 90 ml untuk dispersi NP ZnO, dan 20 ml untuk
melelehkan asam stearat. Dengan demikian, pektin yang
digunakan sebanyak 2 g, NP ZnO 0.04 g, dan asam stearat
0.02 g. Sedangkan Tween 80 yang digunakan sebanyak
0.2 ml dan sorbitol 0.8 ml.
Persiapan sampel dan aplikasi pelapisan
Salak pondoh disortasi berdasarkan ukuran, berat,
ada tidaknya kulit terkelupas, memar, dan kebusukan.
Pelapisan buah salak pondoh dilakukan dengan metode
pencelupan. Pencelupan dilakukan dengan merendam
buah salak ke dalam larutan nanokomposit selama 30
detik kemudian dikeringanginkan.
Penyimpanan dan analisis mutu buah salak pondoh
Buah salak pondoh yang sudah terlapisi larutan
nanokomposit disimpan dalam kondisi terbuka tanpa
kemasan lain pada suhu ruang (25–30oC) selama 14
hari. Pengamatan dilakukan terhadap laju respirasi, susut
bobot, warna kulit, total padatan terlarut dan total mikroba.
Begitu pula pengamatan yang dilakukan terhadap
buah salak pondoh tanpa perlakuan pelapisan (kontrol).

Tabel 1. Perlakuan Jenis Bahan Pelapis Beberapa Komoditas Hortikultura


Komoditas Jenis Bahan Suhu Simpan Umur Simpan
Kortikultura Pelapis
Jambu Biji Emulsi Lilin 5oC 15 hari
Lebah 4%
Kitosan 2,5% 25oC 6 hari
Manggis Shellac 50% 12oC
Nanas CaCl2 2 menit 5oC 5 hari
Mangga Apel Lilin 6% 12 hari
Tomat Kitosan 1 % 20 hari
Buah Naga Merah Emulsi Lilin 6%
Mentimun Ekstrak Daun Suhu rendah 9 hari
Randu 100%
Rimpang Jahe Pelapisan lilin 20-220C 4 bulan
Putih lebah 4% dengan
aplikasi PBZ
1.500 ppm
Salak Pondoh Larutan Nano Suhu ruang
Komposit