Anda di halaman 1dari 24

TUBERCULOSIS PARU

A. Pengertian
Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium
tuberculosis yang hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya,
tapi yang paling banyak adalah paru-paru (IPD, FK, UI).
Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi
( Mansjoer , 1999).

B. Etiologi
Etiologi Tuberculosis Paru adalah Mycobacterium Tuberculosis yang
berbentuk batang dan Tahan asam ( Price , 1997 )
Penyebab Tuberculosis adalah M. Tuberculosis bentuk batang panjang 1
– 4 /m
Dengan tebal 0,3 – 0,5 m. selain itu juga kuman lain yang memberi
infeksi yang sama yaitu M. Bovis, M. Kansasii, M. Intracellutare.

C. Patofis
TB. Primer

Kuman dibatukkan / bersin (droplet nudei inidinborne)

Terisap organ sehat

Menempel di jalan nafas / paru-paru

Menetap / berkembang biak


Sitoplasma makroflag

1
Membentuk sarang TB Pneumonia kecil
(sarang primer / efek primer)

Radang saluran pernafasan


(limfangitis regional)

Komplek primer

Sembuh Sembuh dengan bekas Komplikasi

TB Sekunder

Kuman dormat (TB Primer)

Infeksi endogen

TB DWS (TB. Post Primer)

Sarang pneumenia kecil

Tuberkel

Reorpsi Meluas Meluas


Sembuh
Perkapuran Jaringan Keju

2
Sembuh Kavitas

Meluas Memadat/bekas Bersih


Sembuh

Sarang pneumonia baru Tuberkuloma

D. Klasifikasi
 Klasifikasi Kesehatan Masyarakat (American Thoracic Society, 1974)

- Kategori 0 = - Tidak pernah terpapar / terinfeksi


- Riwayat kontak negatif
- Tes tuberkulin
- Kategori I = - Terpapar TB tapi tidak terbukti ada
infeksi
- Riwayat / kontak negatif
- Tes tuberkulin negatif
- Kategori II = - Terinfeksi TB tapi tidak sakit
- Tes tuberkulin positif
- Radiologis dan sputum negatif
- Kategori III = - Terinfeksi dan sputum sakit

 Di Indonesia Klasifikasi yang dipakai berdasarkan DEPKES 2000


adalah Kategori 1 :
- Paduan obat 2HRZE/4H3R3 atau 2HRZE/4HR atau
2HRZE/6HE

3
Obat tersebut diberikan pada penderita baru Y+TB Paru BTA
Positif, penderita TB Paru BTA Negatif Roentgen Positif yang
“sakit berat” dan Penderita TB ekstra Paru Berat.
Kategori II :
- paduan obat 2HRZES/HRZE/5H3R3E3
Obat ini diberikan untuk : penderita kambuh (relaps), pendrita
gagal (failure) dan penderita dengan pengobatan setelah lalai
( after default)
Kategori III :
- paduan obat 2HRZ/4H3R3
Obat ini diberikan untuk penderita BTA negatif fan roentgen
positif sakit ringan, penderita ekstra paru ringan yaitu TB
Kelenjar Limfe (limfadenitis), pleuritis eksudativa uiteral, TB
Kulit, TB tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar
adrenal.
Adapun tambahan dari pengobatan pasien TB obat sisipan yaitu diberikan
bila pada akhir tahab intensif dari suatu pengobatan dengan kategori 1 atua
2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberikan obat sisipan
( HRZE ) setiap hari selama satu bulan.

E. Gejala Klinis
Gejala umum Tb paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau
tanpa sputum , malaise , gejala flu , demam ringan , nyeri dada , batuk
darah . ( Mansjoer , 1999)
Gejala lain yaitu kelelahan, anorexia, penurunan Berat badan ( Luckman
dkk, 93 )
- Demam : subfebril menyerupai influensa
- Batuk : - batuk kering (non produktif)  batuk
produktif (sputum)
- hemaptoe

4
- Sesak Nafas : pada penyakit TB yang sudah lanjut dimana
infiltrasinya sudah ½ bagian paru-paru
- Nyeri dada
- Malaise : anoreksia, nafsu makan menurun, sakit kepala,
nyeri otot, keringat malam
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah : - Leokosit sedikit meninggi
- LED meningkat
2. Sputum : BTA
Pada BTA (+) ditermukan sekurang-kurangnya
3 batang kuman pada satu sediaan dengna kata
lain 5.000 kuman dalam 1 ml sputum.
3. Test Tuberkulin : Mantoux Tes (PPD)
4. Roentgen : Foto PA

G. Medikamentosa
Jenis obat yang dipakai
- Obat Primer - Obat Sekunder
1. Isoniazid (H) 1. Ekonamid
2. Rifampisin (R) 2. Protionamid
3. Pirazinamid (Z) 3. Sikloserin
4. Streptomisin 4. Kanamisin
5. Etambutol (E) 5. PAS (Para Amino Saliciclyc
Acid)
6. Tiasetazon
7. Viomisin
8. Kapreomisin
Pengobatan TB ada 2 tahap menurut DEPKES.2000 yaitu :

 Tahap INTENSIF

5
Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk
mencegah terjadinya kekebalan terhadap rifampisin. Bila saat tahab
intensif tersebut diberikan secara tepat, penderita menular menjadi tidak
tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita
TB BTA positif menjadi negatif (konversi) pada akhir pengobatan
intensif. Pengawasan ketat dalam tahab intensif sangat penting untuk
mencegah terjadinya kekebalan obat.

 Tahap lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu lebih
panjang dan jenis obat lebih sedikit untuk mencegah terjadinya
kelembutan. Tahab lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten
(dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
Paduan obat kategori 1 :
Tahap Lama (H) / day R day Z day F day Jumlah
Hari X
Nelan Obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 3 60
Lanjutan 4 bulan 2 1 - - 54

Paduan Obat kategori 2 :


Tahap Lama (H) R Z E E Strep. Jumlah
@300 @450 @500 @ 250 @500 Injeksi Hari X
mg mg mg mg mg Nelan
Obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 3 - 0,5 % 60
1 bulan 1 1 3 3 - 30
Lanjutan 5 bulan 2 1 3 2 - 66

Paduan Obat kategori 3 :


Tahap Lama H @ 300 mg R@450mg P@500mg Hari X Nelan Obat

6
Intensif 2 bulan 1 1 3 60

Lanjutan 4 bulan 2 1 1 54
3 x week

OAT sisipan (HRZE)


Tahap Lama H R Z E day Nelan X
@300mg @450m @500mg @250mg Hari
g
Intensif 1 bulan 1 1 3 3 30
(dosis
harian)

H. Kegagalan Pengobatan
Sebab-sebab kegagalan pengobataan :
a. Obat : - Paduan obat tidak adekuat
- Dosis obat tidak cukup
- Minum obat tidak teratur / tdk. Sesuai
dengan petunjuk yang diberikan.
- Jangka waktupengobatan kurang dari
semestinya
- Terjadi resistensi obat.
b. Drop out : - Kekurangan biaya pengobatan
- Merasa sudah sembuh
- Malas berobat
c. Penyakit : - Lesi Paru yang sakit terlalu luas / sakit
berat
- Ada penyakit lainyang menyertai
contoh : Demam, Alkoholisme dll
- Ada gangguan imunologis
I. Penanggulangan Khusus Pasien
a. Terhadap penderita yang sudah berobat secara teratur

7
- menilai kembali apakah paduan obat sudah adekuat mengenai dosis
dan cara pemberian.
- Pemeriksaan uji kepekaan / test resistensi kuman terhadap obat
b. Terhadap penderita yang riwayat pengobatan tidak teratur
- Teruskan pengobatan lama  3 bulan dengan evaluasi bakteriologis
tiap-tiap bulan.
- Nilai ulang test resistensi kuman terhadap obat
- Jangka resistensi terhadap obat, ganti dengan paduan obat yang
masih sensitif.
c. Pada penderita kambuh (sudah menjalani pengobatan teratur dan
adekuat sesuai rencana tetapi dalam kontrol ulang BTA ( +) secara
mikroskopik atau secara biakan )
1. Berikan pengobatan yang sama dengan pengobatan pertama
2. Lakukan pemeriksaan BTA mikroskopik 3 kali, biakan dan
resistensi
3. Roentgen paru sebagai evaluasi.
4. Identifikasi adanya penyakit yang menyertai (demam,
alkoholisme / steroid jangka lama)
5. Sesuatu obat dengan tes kepekaan / resistensi
6. Evaluasi ulang setiap bulannya : pengobatan, radiologis,
bakteriologis.

J. Asuhan Keperawatan TB Paru


1. Pengkajian
Data Yang dikaji
A. Aktifitas/istirahat
Kelelahan
Nafas pendek karena kerja
Kesultan tidur pada malam hari, menggigil atau berkeringat
Mimpi buruk
Takhikardi, takipnea/dispnea pada kerja

8
Kelelahan otot, nyeri , dan sesak
B. Integritas Ego
Adanya / factor stress yang lama
Masalah keuangan, rumah
Perasaan tidak berdaya / tak ada harapan
Menyangkal
Ansetas, ketakutan, mudah terangsang
C. Makanan / Cairan
Kehilangan nafsu makan
Tak dapat mencerna
Penurunan berat badan
Turgor kult buruk, kering/kulit bersisik
Kehilangan otot/hilang lemak sub kutan
D. Kenyamanan
Nyeri dada
Berhati-hati pada daerah yang sakit
Gelisah
E. Pernafasan
Nafas Pendek
Batuk
Peningkatan frekuensi pernafasan
Pengembangn pernafasan tak simetris
Perkusi pekak dan penuruna fremitus
Defiasi trakeal
Bunyi nafas menurun/tak ada secara bilateral atau unilateral
Karakteristik : Hijau /kurulen, Kuning atua bercak darah
F. Keamanan
Adanya kondisi penekanan imun
Test HIV Positif
Demam atau sakit panas akut
G. Interaksi Sosial

9
Perasaan Isolasi atau penolakan
Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab

Pemeriksaan Diagnostik
1. Kultur Sputum
2. Zeihl-Neelsen
3. Tes Kulit
4. Foto Thorak
5. Histologi
6. Biopsi jarum pada jaringan paru
7. Elektrosit
8. GDA
9. Pemeriksaan fungsi Paru

II. Diagnosa Keperawatan


1. Resiko tinggi infeksi ( penyebaran / aktivasi ulang ) B.d
- Pertahanan primer tak adekuat , penurunan kerja silia
- Kerusakan jaringan
- Penurunan ketahanan
- Malnutrisi
- Terpapar lngkungan
- Kurang pengetahuan untuk menghindari pemaparan patogen

Kriteria hasil :- Pasien menyatakan pemahaman penyebab / faktor resiko


individu
- mengidentifkasi untuk mencegah / menurunkan resiko
infeksi
- Menunjukkan teknik , perubahan pola hidup untuk
peningkatan lingkungan yang aman

Intervensi :

10
1. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi
2. Identifikasi orang lain yang beresiko
3. Anjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada
tissue dan menghindari meludah
4. Kaji tindakan kontrol infeksi sementara
5. Awasi suhu sesuai indikasi
6. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang
7. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat
8. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik
terhadap sputum
9. Dorong memilih makanan seimbang
10. Kolaborasi pemberian antibiotik
11. Laporkan ke departemen kesehatan lokal

2. Bersihan jalan nafas tak efektif B.d


- adanya secret
- Kelemahan , upaya batuk buruk
- Edema tracheal

Kriteria Evaluasi : Pasien menunjukkan perbaikan ventilasi dan


oksigenasi jaringan adekuat
Intervensi :
1. Kaji fungsi pernafasan , kecepatan , irama , dan kedalaman serta
penggunaan otot asesoris
2. Catat kemampuan unttuk mengeluarkan mukosa / batuk efekttif
3. Beri posisi semi/fowler
4. Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea
5. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml per hari
6. Kolaboras pemberian oksigen dan obat – obatan sesuai dengan
indikasi

11
3. Resiko tinggi / gangguan pertukaran gas B.d
- Penurunan permukaan efektif paru , atelektasis
- Kerusakan membran alveolar – kapiler
- Sekret kental , tebal
- Edema bronchial
Kriteria Evaluasi : Pasien menunjukkan perbaikan venilasi dan
oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam
rentang normal dan bebas gejala distress
pernapasan
Intervensi :
1. Kaji Dipsnea,Takhipnea, menurunnya bunyi nafas ,peningkatan
upaya pernafasan , terbatasnya ekspansi dinding dada , dan
kelemahan
2.Evaluasi perubahan tingkat kesadaran , catat sianosis dan atau
perubahan pada warna kulit
3. Anjurkan bernafas bibr selama ekshalasi
4. Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan atau Bantu aktivitas
perawatan diri sesuai kebutuhan
5. Kolaborasi oksigen

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan B.d


- Kelemahan
- Sering batuk / produksi sputum
- Anorexia
- Ketidakcukupan sumber keuangan
Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan BB, menunjukkan
perubahan perilaku / pola hidup untuk meningkatkan /
mempertahankan BB yang tepat
Intervensi :

12
1. Catat status nutrisi pasien pada penerimaan , catat turgor kulit , BB,
Integrtas mukosa oral , kemampuan menelan , riwayat mual /
muntah atau diare
2. Pastikan pola diet biasa pasien
3. Awasi masukan dan pengeluaran dan BB secara periodik
4. Selidiki anorexia , mual , muntah dan catat kemungkinan
hhubungan dengan obat
5. Dorong dan berikan periode stirahat sering.
6. Berikan perwatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan.
7. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein
dan karbohodrat.
8. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah.
9. Kolaborasi ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
10. Konsul dengan terapi pernafasan untuk jadual pengobatan 1-2 jam
sebelum dan sesudah makan.
11. Awasi pemeriksaan laboratorium
12. Kolaborasi antipiretik

5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan, dan pencegahan


Berhubungan dengan :
- Keterbatasan kognitif
- Tak akurat/lengkap informasi yang ada salah interpretasi informasi

Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan


pengobatan serta melakukan perubahan pola hidupdan
berpartispasi dalam program pengobatan
Intervensi :
1. Kaji kemampuan psen untuk belajar
2. Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat
3. Tekankan pentingnya mempertahankan proten tinggi dan det
karbohidrat dan pemasukan cairan adekuat.

13
4. Berikan interuksi dan informasi tertuls khusus pada pasien untuk
rujukan.
5. Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan
dan alasan pengobatan lama.
6. Kaji potensial efek samping pengobatan dan pemecahan masalah
7. Tekankan kebutuhan untuk tidak minum alcohol sementara minum
INH
8. Rujuk untuk pemeriksaan mata setelah memula dan kemudian tiap
bulan selama minum etambutol
9. Dorongan pasien/ atau orang terdekat untuk menyatakan takut /
masalah. Jawab pertanyaan dengan benar.
10. Dorong untuk tidak merokok
11. Kaji bagaimana TB ditularkan dan bahaya reaktivasi

14
SUHAN KEPERAWATAN

Ruangan : Paru Laki-Laki No. Reg. : 10079691


Pengkajian : Tanggal 29-10-2012 Jam : 10.00 WIB
-------------------------------------------------------------------------------------------------
I. IDENTITAS
Nama : Tn. D Tgl. MRS : 28 - 10 - 2012
Umur : 40 tahun Diagnosa : TB paru
Jenis kelamin : Laki-Laki
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SLTA
Alamat : Pagarrejo
Alasan Dirawat : Batuk darah selama 1 jam kurang lebih 5 sendok makan, dan GCS 4 - 4 - 4
Keluhan Utama : Klien mengatakan sesak napas
Upaya yang telah dilakukan : Telah diberikan bantuan oksigen 2l/menit .
Terapi/operasi yang pernah dilakukan : minum obat OAT teratur

II. RIWAYAT KEPERAWATAN


Riwayat Penyakit Sebelumnya
Klien mempunyai TB paru sejak 5 tahun yang lalu, minum obat OAT secara
teratur dan mempunyai penyakit kencing batu.
Riwayat Penyakit Sekarang
Batuk darah sejak 1 hari sebelum MRS, tanggal 27 - 10 - 2012 batuk darah kira-
kira 5 sendok makan, sebelumnya batuk berdahak putih. Lama-lama penderita
tidak sadar lalu di bawa ke rumah sakit.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Istrisekarang adalag istri ke dua, tidak mempunyai penyakit yang berbahaya,
menular atau menurun. Kedua anaknya juga tidak mempnyai penyakit yang berat,
hanya batuk pilek dibelikan obat sembuh.

Keadaan Kesehatan Lingkungan


Klien bertempat tinggal di Surabaya, yang penduduknya padat, dan udara panas,
pada daerah tempat tinggalnya antar rumah sangat rapat, udara bersih.
Alat Bantu yang Dipakai
Klien tidak memakai alat bantu, baik gigi, kaca mata maupun pendengaran.
III. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Klien dalam keadaan lemah, kelin tidur dalamposisi head down /trendenlenbeg,
kaki terpasang infus RL tetesan 20 tetes/menit, dan terpasang oksigen 2 l /menit.
Tanda-Tanda Vital

15
Suhu 36,8 celcius, pada axilla, nadi 92 x/menit, tidak teratur, Tensi : 160/90
mmHg. Lengan kanan, RR = 30 x/menit, dengan memakai pernapasan perut dan
bantuan otot pernapasan sternokleidomastoid.
Body System
Pernapasan (B1)
Hidung terpasang kanula oksigen 2l/menit
Trachea tidak ada kelainan
Terdapat retraksi dada, batuk darah kira-kira 200 cc, napas dangkal.
Suara tambahan terdengar bunyi ronchi.
Bentuk dada simestris.
CardioVaskuler (B2)
Dada terasa neyri bila untuk membatukan dahak., palpitasi tidak ada, clubbing
fingger tidak ada.
Suara jantung normal.
Edema : tidak ada.

Persyarafan (B3)
Kesadaran Compomentis, GCS : 4 - 5 - 6
Kepala dan wajah : tak da kelainan.
Mata : sklera putih, Conjungtiva :merah muda, pupil : isokor.
Leher : tak ada kelaianan.
Reflek batuk ada, tapi tidak keras.
Persepsi sensoris :
Pendengaran : normal /dbn.
Penciuman : normal /dbn.
Pengecapan : normal /dbn.
Penglihatan : normal /dbn.
Perabaan : normal /dbn.
Perkemihan
Produksi urine : ± 1500 ml. Tak tentu.
Warna : kuning kecoklatan, Bau : Khas.
Tidak ada masalah
Pencernaan - Eliminasi Alvi
Mulut dan tenggorokan : mulut keadaan kotor ada bekas cairan darah.
Abdomen : tak ada kelainan.
Rektum tak ada kelainan, BAB 1 x/hari,
Diet TKTP, Bubur, tiap makan dihabiskan.
Tulang - Otot - Integumen
Kemampuan pergerakan bebas, perese tidak ada.
Extrimitas atas dan bawah tidak ada kelainan
Tulang belakang tidak ada kelainan.
Kulit : kuning kecoklatan
Akral dingin basah.
Turgor cukup.
Sistem Endokrine
Tidak ada kelainan

16
Sosial / Interaksi
Hubungan dnegan klien : kenal
Dukungan keluarga : aktif
Dukungan kelompok/teman/masyarakat : kurang.
Reaksi saat interaksi : kooperatif
Spiritual
Konsep tentang penguasa kehidupan Alloh
Sumber kekuatan/harapan di saat sakit : Alloh.
Ritual agama yang bermakna/berarti/diharapkan saat ini : sholat

Sarana/peralatan/orang yang diperlukan untuk melaksanakan ritual agama yang


diharapkan saat ini lewat ibadah.
Keyakinan/kepercayaan bahwa Tuhan akan menolong dalam menghadapi situasi
sakit saat ini : Ya.
Keyakinan/kepercayaa bahwa penyakit dapat disembuhkan : ya
Persepsi terhadap penyebab penyakit : cobaan/peringatan.
Pemeriksaan Penunjang
Photo thoraks terakhir :
- Infiltrat pada kedua apex paru ka-ki
- Fenting diafragma ka-ki
- Kalsifikasi pada parenkhim paru ka-ki
- Laboratorium tanggal 31 - 8 - 2001
Hb. 14,1 (13,5 - 18,9)
Leukosit : 12.250 (4.000 - 11.000/cmm)
Kreatinin Serum: 2,1 (0,7 - 1,3 mg/dl)
BUN = 36 (10 - 20 mg/dl)
- Lab. Tanggal 3 - 9 - 2001
TTH = negatip,
Gram ; positip, negatif (saliva).
Terapi
- Injeksi Transamin 3 x 1 amp.
- Ampicillin 4 x 1 gr.
- Codein 3 x 1

ANALISA DATA
Nama : Tn.D
Umur : 40 Tahun
No. Reg. : 10079691

NO DATA KEMUNGKINAN PENYEBAB M

S: Klien mengatakan = Kurang akurat informasi yang diterima


kemarin sudah tidak batuk = Pendidikan klien
darah lagi dan sesak, = Stress
sekarang kalau batuk darah

17
lagi dan sesak.
O : Klien tampak diam, Fisiologi Emosional Kognitip
(setelah batuk darah) - nadi cepat - diam - sering
: Nadi 92 x/menit - Diaphoresis - takut menanyakan
: Keluar keringat dingin
basah
: Klien tampak menanyakan
masalah klien ke dokter Ansietas

S. Klien mengatakan segala


keperluannya dibantu -Klien dengan dx. TB paru dengan hemamptoe.
karena oleh dokter tidak - Dapat advis dokter tidak boleh bergerak
boleh bergerak.
Sindr
O : Klien tampak segala
keperluannya dibantu Segala kperluannya dibantu oleh istrinya seperti makan,
istrinya seperti makan, minum BAB,BAK dll.
minum BAB,BAK dll.
: Skala AKS = 0
Sindrom perawatan diri

S : Klien mengelun nyeri Di alveoli terjadi inflamasi, kalsifikasi, eksudasi, nekrosis, dan
dada bila untuk batuk akhirnya terjadi kavitasi
O: Klien tamapak kalau
batuk tidak terlalu keras, Batuk dengan tekanan keras pembuluh darah arteri
tampak memegangi pulmonalis pecah
dadanya.
: Klien tampak dian
Batuk darah Merangsang ujung
menyeringai.
saraf terbuka
: Nadi 92 x/menit.
: Skala nyeri = 2
Nyeri
S: Klien mengatakan
napasnya sesak lagi.
Inflamasi
O : Klien tampak napasnya
cepat memakai pernapasan
perut (RR = 30 x/menit).
Fibrosis disebar oleh limfe Gangg
: Tampak ada bantuan otot
pernapasan
sternokleidomastoid. Timbul jar. Ikat sifat
: Terpasang oksiegen 2 Elalastik & tebal.
l/menit
: Posisi klien tredenlenbeg Alveolus tidak
(head down). kembali saat ekspirasi
: Batuk darah ± 200cc.
Gas tidak
dapat berdifusi dgn. Baik.

Sesak
S: Klien mengatakan baru
saja batuk darah ± 1/3
gelas besar.

18
Gangguan pertukaran gas
O : Klien kedaaan posisi
tredelenbeg (head down)
: Di mulut masih ada bekas
darah.
: Klien tampak batuk sambil Bersihan
mengeluarkan darah.
: Sampai jam 10.00 WIB Adanya inflamasi
darah yang dikeluarakan ±
200 cc
Fibrosis

Kalsifikasi
- Batuk

Eksudasi - Spuntum
Pururlen

Nekrosisi/perkejuan

Kavitasi ---------------- Hemoptisis

Bersihan jalan napas tak efektif

RENCANA TINDAKAN PERAWATAN

Diagnosa Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang
kental/darah.
Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif (1 hari).
Kriteria hasil :
 Klien tidak ada suara napas tambahan.
 Klien mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran
udara bila diindikasikan.
 Klien minum banyak ( 1500 - 2000 cc)untuk menurnkan kekentalan sekret.

Rencana Tindakan :

1. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk agar tidak keras-
keras..
R/ Batuk yang keras menyebabkan perdarahan pembuluh adrah pada pulmonal.
2. Lakukan pernapasan diafragma.
R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi
alveolar.
3. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.

19
R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.
4. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan
hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari
bila tidak kontraindikasi.
R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan
mukus, yang mengarah pada atelektasis.
5. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau
mulut.

6. Jelaskan pada klien dan keluarga mematuhi anjuran dari dokter dan perawat :
seperti menghindari makanan yang menyebabkan batuk, serta bau-bauan.
R/ Dengan informasi yang jelas klien diharapkan dapat bekerja sama dalam
pemberian terapi.
. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.
Pemberian obat transamin 3 x 1 amp., codein 3 x 1 tab, posisi tredelenbeg (head
down)
R/ Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas perdarahan klien dari batuk
darahnya

Diagnosa Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran


alveolar-kapiler.
Tujuan : Pertukaran gas efektif (1 hari).
Kriteria hasil :

 Klien mengetahui penyebab dari batuk daraha
 Klien tidak sesak napas lagi ( R = normal)
 Tidak memakai oksigen tambahan.

Rencana tindakan :
1. Berikan posisi yang nyaman, sesuai yang diindikasikan oleh dokter.
R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi
pada sisi yang tidak sakit.
2. Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan
tanda-tanda vital.
R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat
stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan
dengan hipoksia.
3. Berikan Oksigen sesuai advis dokter 2 l/menit
R/ dapat mengurangi sesak napas / menambahi kekurangan oksigennya.

4. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan
dan jelaskan tentang etiologi /faktor pencetus adanya sesak..
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan
mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

20
5. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan
menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat
dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
6. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.
Pemberian antibiotika.
R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya

TINDAKAN KEPERAWATAN

Diagnosa : Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dnegan sekresi yang
kental/ sekresi darah.

1. Mengajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk agar tidak
keras-keras.
2. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
3. Menganjurkan untuk minum agar menurunkan viskositas sekresi :
mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000
sampai 1500 cc/hari
4. Mendorong keluarga dalam memberikan perawatan mulut yang baik setelah
batuk.
5. Menjelaskan pada klien dan keluarga mematuhi anjuran dari dokter dan perawat :
seperti menghindari makanan yang menyebabkan batuk, serta bau-bauan,
menghindari banyak bergerak/bicara, tidak boleh batuk dengan keras-keras.
6. Memberikan advis dokter :
Pemberian obat transamin 3 x 1 amp., codein 3 x 1 tab, posisi tredelenbeg (head
down)
R/ Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas perdarahan klien dari batuk
darahnya

Diagnosa Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran


alveolar-kapiler.
1. Memberikan posisi yang nyaman, sesuai yang diindikasikan oleh dokter.
2. Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan
tanda-tanda vital.
3. Memberikan Oksigen sesuai advis dokter 2 l/menit

4. Menjelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin


keamanan dan jelaskan tentang etiologi /faktor pencetus adanya sesak..
5. Menganjurkanklien untuk berperilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri
dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.

21
DIAGNOSA KEPERAWATAN
(BERDASARAKAN PRIORITAS)

1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dnegan sekresi yang kental/sekresi
darah.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dnegan kerusakan membran alveolar -
kapiler.
3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan pecahnya pembuluh darah
pulmonal bila batuk darah.
4. Ansietas berhubungan dnegan informasi yang kurang/tidak akurat tentang
terjadinya batuk darah.
5. Sindrom kurang perawatan diri berhubungan dnegan tindakan perawatan dari
batuk darah.

CATATAN PERKEMBANGAN

Diagnosa Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dnegan sekresi yang
kental/sekresi darah.
S : Klien mengatakan sudah sesak lagi.

O ; Klien tampak memakai pernapasan perut (R ; 20 x/menit).


: Possi klien masih tredelenbeg.
: Tidak ada bantuan otot-otot pernapasan ketika bernapas.
: Terapi Oksigen sudah dilepas.

A : Masalah teratasi
P : Dihentikan, kecuali No. 3, 4, 7.

Diagnosa Gangguan pertukaran gas berhubungan dnegan kerusakan membran


alveolar - kapiler.
S : Klien mengatakan batuk darahnya sudah tidak lagi.

O: Klien keadaan masih agak lemah.


: Posisi tredelenbeg.
: Klien masih tampak batuk, tapi tidak keras dan tak ada darahnya.
: Klien tampak bisa tersenyum.

22
A : Masalah belum teratasi
P : Dilanjutkan No. 1, 2, 5, 6.

DAFTAR PUSTAKA ( REFERENSI )

Doengoes Marilynn E ,Rencana Asuhan Keperawatan ,EGC, Jakarta ,


2000.

Lynda Juall Carpenito, Rencana Asuhan dan Dokumentasi


Keperawatan , edisi 2 , EGC, Jakarta ,1999.

Mansjoer dkk , Kapita Selekta Kedokteran ,edisi 3 , FK UI , Jakarta


1999.

Price,Sylvia Anderson , Patofisologi : Konsep Klinis Proses – Proses


penyakit , alih bahasa Peter Anugrah, edisi 4 , Jakarta , EGC, 1999.

Tucker dkk, Standart Perawatan Pasien , EGC, Jakarta , 1998.

23
24