Anda di halaman 1dari 5

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut WHO tahun 2013, kasus ISPA pada balita sebesar 78%.

Menurut Riskesdas 2013, angka kejadian ISPA Indonesia sebesar 25%,

sedangkan di Jawa Barat (24,73%). Angka kejadian ISPA yang tertinggi terjadi

pada kelompok umur 1-4 tahun sebesar 25,8% dan <1 tahun sebesar 22,0%.

ISPA mengakibatkan sekitar 20 – 30% kematian pada balita (Depkes RI,

2010). Penyakit ISPA menduduki peringkat pertama dari 20 kasus penyakit

terbanyak di Kota Cimahi pada tahun 2015. Jumlah penderita ISPA usia 1-4

tahun sebanyak 11,173 kasus. Dan berdasarkan hasil pengumpulan data

Dinkes Kota Cimahi dengan kejadian ISPA terbanyak ada di Puskesmas

Cibeber sebanyak 837 kasus pada tahun 2015. (Dinkes Kota Cimahi, 2015).

Faktor penyebab terjadinya ISPA diantaranya status gizi, berat badan

lahir rendah, status ASI eksklusif, status imunisasi, kurangnya pengetahuan

ibu dan faktor lingkungan dalam rumah. Faktor lingkungan dalam rumah sama

halnya dengan sanitasi dalam rumah seperti kelembaban ruangan, suhu

ruangan, penerangan alami, ventilasi, kepadatan hunian, sarana pembuangan

sampah, sarana pembuangan kotoran manusia, dan penyediaan air.

(Rudianto,2013)

Sanitasi adalah usaha pengawasan terhadap faktor-faktor lingkungan

fisik manusia yang mempengaruhi atau mungkin dipengaruhi, sehingga


2

merugikan perkembangan fisik, kesehatan dan kelangsungan hidup

(Marianae, 2009).

Rumah sehat merupakan salah satu sarana untuk mencapai derajat

kesehatan yang optimum. Untuk memperoleh rumah yang sehat ditentukan

oleh tersedianya sarana sanitasi perumahan. Sanitasi rumah adalah usaha

kesehatan masyarakat yang menitik beratkan pada pengawasan terhadap

struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk tempat tinggal berlindung

yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia. Rumah juga merupakan

salah satu bangunan tempat tinggal yang harus memenuhi kriteria

kenyamanan, keamanan dan kesehatan guna mendukung penghuninya agar

dapat bekerja dengan produktif (Arifin, 2009).

Dalam Riskesdas 2013, kriteria ‘rumah sehat’ yang digunakan bila

memenuhi kriteria, yaitu jenis bahan bangunan, lokasi rumah, kondisi ruang

rumah, kepadatan hunian, jenis bahan bakar untuk memasak, dan ventilasi

cukup. Secara nasional (60 %) rumah tangga di Indonesia menggunakan

listrik, gas, dan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak,

sementara sisanya masih menggunakan arang, kayu dan lainnya.

Berdasarkan tempat tinggal, penggunaan bahan bakar untuk memasak

jenis listrik, gas dan minyak tanah di perkotaan (82,7%), sedangkan di

pedesaan lebih banyak penggunaan bahan bakar untuk memasak jenis

arang, kayu bakar dan lainnya (64,1%). Hanya (24,9 %) rumah penduduk di

Indonesia yang tergolong rumah sehat. Kepadatan hunian merupakan salah

satu persyaratan rumah sehat.

Dalam Keputusan Menteri Kesehatan no 829/Menkes/SK/VII/1999

tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, disebutkan bahwa kepadatan


3

hunian lebih dari atau sama dengan 8 m2 per orang dikategorikan sebagai

tidak padat. Proporsi rumah tangga di Indonesia yang termasuk ke dalam

kriteria tidak padat adalah sebesar 86,6%. Persentase tempat tinggal yang

memenuhi kriteria rumah sehat lebih tinggi di perkotaan (32,5%) dari pada di

pedesaan (16,8%) (Arifin, 2009).

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) menyebabkan 40% dari

kematian anak usia 1 – 4 tahun salah satunya disebabkan karena kondisi

lingkungan yang buruk. Anak – anak dibawah 5 tahun mudah sekali terkena

penyakit karena kekebalan tubuh yang dimiliki masih rendah atau imunitas

yang dimiliki belum terbentuk sempurna terutama penyakit infeksi (Hidayat,

2008).

Balita cenderung memasukkan sesuatu ke dalam mulut, hal ini bisa

sebagai perantara masuknya kuman ke dalam tubuh. Pengawasan dari

keluarga sangat diperlukan, seharusnya keluarga mengetahui benda-benda

apa saja yang aman untuk diberikan pada balitanya. Lingkungan yang dekat

dengan jalan raya maupun dengan pabrik, bisa mengakibatkan polusi udara

yang tinggi di dalam maupun di luar ruangan, dan rumah yang tidak sehat

dapat mengakibatkan ISPA pada balita. (Rahmayatul, 2013)

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak ibu-ibu yang

mengabaikan kalau anaknya terserang batuk pilek dan menganggap sebagai

penyakit biasa. Ibu hanya tahu bahwa penyakit itu akan bisa sembuh sendiri.

Anak yang sakit terserang batuk pilek lebih dari seminggu, orang tua harus

tanggap dengan membawanya ke layanan kesehatan. Apabila ISPA tidak

segera ditanggapi dengan baik terutama pada saat daya tahan tubuh balita

menurun, penyakit ini dapat mengakibatkan penyakit lain yang lebih berat
4

seperti ISPA. Sebagian masyarakat masih menganggap biasa terhadap

penyakit ISPA dan menganggap tidak berbahaya. Banyak kematian yang

disebabkan oleh ISPA karena keterlambatan membawa ke sarana kesehatan

yang diakibatkan karena ketidaktahuan mengenai gejala-gejala awal.

(Rahmayatul, 2013)

Berdasarkan hasil penelitian Ayu di Desa Cepogo Kecamatan Cepogo

Kabupaten Boyolali tahun 2009, dengan judul Hubungan sanitasi fisik rumah

dengan kejadian ISPA, diketahui bahwa ada hubungan antara ventilasi rumah,

pencahayaan, lantai, dinding, dan atap rumah terhadap kejadian ISPA,

sedangkan kelembaban rumah tidak ada hubungan dengan kejadian ISPA.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan

penelitian mengenai hubungan sanitasi rumah dengan kejadian ISPA pada

balita usia 1-4 tahun di Puskesmas Cibeber pada tahun 2016.

B. Rumusan Masalah

Apakah terdapat hubungan sanitasi rumah dengan kejadian ISPA pada

balita 1-4 tahun di Puskesmas Cibeber pada tahun 2016?

C. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan sanitasi rumah dengan kejadian ISPA pada

balita 1-4 tahun di Puskesmas Cibeber pada tahun 2016.

D. Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran balita yang mengalami ISPA pada usia 1-4

tahun
2. Mengetahui gambaran sanitasi rumah balita usia 1-4 tahun
5

3. Menganalisa hubungan antara sanitasi rumah dengan kejadian ISPA

pada balita usia 1-4 tahun.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi salah satu

informasi yang bermanfaat untuk mengembangkan pengetahuan

mengenai sanitasi rumah yang berkaitan dengan kejadian ISPA pada

balita usia 1-4 tahun.


2. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan penelitian yang

dapat bermanfaat dan memberikan informasi tentang sanitasi rumah

dengan kejadian ISPA pada balita usia 1-4 tahun.


3. Bagi Lahan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi

khususnya dibidang kesehatan tentang analisa sanitasi rumah terhadap

kejadian ISPA pada balita usia 1-4 tahun, sehingga dapat membantu

mengembangkan program pencegahan ISPA pada masyarakat sekitar

yang berkaitan dengan lingkungan.


4. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan

pemahaman tentang analisa sanitasi rumah dengan kejadian ISPA pada

balita usia 1-4 tahun, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan informasi

untuk penelitian selanjutnya