Anda di halaman 1dari 17

TUGAS METABOLISME ZAT GIZI MAKRO

METABOLISME KARBOHIDRAT DALAM KEADAAN PUASA

Disusun Oleh:

Ivan Mahardika Yusuf (101611233027)

Chika Dewi Haliman (101611233029)

Silvia Alfinnia (101611233044)

PRODI S-1 ILMU GIZI

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
rahmat dan karunia-Nyalah, tugas metabolisme zat gizi makro ini dapat terselesaikan dengan
baik, tepat pada waktunya. Adapun tujuan penjelasan metabolisme karbohidrat dalam
keadaan puasa ini adalah untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metabolisme Zat Gizi Makro,
pada semester II, tahun ajaran 2016/2017. Dengan membuat tugas ini kami diharapkan
mampu untuk lebih mengetahui metabolisme karbohidrat dalam keadaan puasa.

Dalam penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan, terutama


disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun, berkat bimbingan
dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya laporan praktikum ini dapat terselesaikan dengan
baik. Karena itu, sudah sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu dosen mata kuliah Metabolisme Zat Gizi Makro yang begitu sabar dalam
membimbing kami.
2. Orang tua dan keluarga kami tercinta yang banyak memberikan motivasi dan
dorongan serta bantuan, baik secara moral maupun spiritual.
3. Rekan-rekan kami di Universitas Airlangga.

Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran,
penulisan ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan
adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di
masa yang akan datang.

Harapan kami, semoga makalah yang sederhana ini, dapat memberi wawasan tentang
metabolisme karbohidrat dalam keadaan puasa.

Penulis
PENDAHULUAN

Karbohidrat adalah sumber energi utama yang selalu dibutuhkan oleh semua makhluk
hidup terutama manusia. Karbohidrat juga merupakan bahan bakar yang paling ideal agar
tubuh anda dapat berfungsi secara normal. Sedemikian pentingnya karbohidrat bagi tubuh,
sehingga anda tidak bisa menghilangan karbohidrat dari menu harian. Karbohidrat termasuk
dalam makronutrisi dimana dibutuhkan dalam jumlah yang cukup besar. Beberapa penelitian
mengatakan bahwa, 45%-65% kebutuhan kalori pada tubuh harus berasal dari karbohidrat.
Kebutuhan akan karbohidrat sangatlah penting bagi tubuh anda.

Pada setiap gram karbohidrat yang anda konsumsi setiap harinya, mengandung sekitar
empat kalori. Ketika anda mengkonsumsi karbohidrat, enzim amylase pada tubuh akan
mengubah karbohidrat menjadi glukosa yang berfungsi sebagai bahan bakar utama untuk
beraktivitas. Apabila anda membatasi konsumsi karbohidrat, maka efek samping yang akan
terjadi adalah tubuh akan beradaptasi untuk mengisi kekurangan bahan bakar utama tersebut.
Sebagai hasilnya, anda akan merasakan perubahan suasan hati, mual, pusing, lemah dan
cenderung depresi. Betapa pentingnya karbohidrat untuk tubuh membuat anda harus
memperhatikan asupan karbohidrat harian agar tubuh anda tetap terjaga kesehatan dan
kebugarannya.

Maka dari itu, asupan karbohidrat harus tetap dijaga saat dalam keadaan puasa. Kita
harus mengetahui mekanisme metabolisme karbohidrat dalam tubuh agar tau bahaya yang
akan terjadi jika glukosa dalam darah berkurang.
A. PENGERTIAN METABOLISME
Salah satu ciri yang menunjukkan gejala hidup pada makhluk hidup adalah
melakukan metabolisme. Semua bahan makanan seperti glukosa, asam amino, dan asam
lemak dapat menjadi sumber energi (ATP). Caranya adalah dengan melakukan transformasi
energi melalui proses metabolisme yang berlangsung di dalam sel tubuh. Energi antara lain
berguna untuk otot, sekresi kelenjar, memelihara membrane potensial sel saraf dan sel otot,
sintesis substansi sel.

Metabolisme diadopsi dari bahasa yunani μεταβολισμος atau dibaca metabolismeos


atau perubahan. Metabolisme merupakan semua reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh
organisme termasuk di tingkat selular untuk mempertahankan kelangsungan hidup.

Metabolisme disebut juga reaksi enzimatis karena metabolisme terjadi selalu


menggunakan katalisator enzim. Mengapa demikian? Karena enzim dibutuhkan untuk
memperlancar proses metabolisme, tanpa enzim proses ini tidak akan berjalan dengan baik
alias terhambat. Dengan kata lain control dari metabolisme yang terus berjalan dalam tubuh
makhluk hidup bergantung pada aktivitas enzim.

Enzim merupakan senyawa protein yang berperan dalam metabolisme yaitu sebagai
biokatalisator yang mampu mempercepat reaksi kimia tetapi tidak ikut bereaksi. Enzim
bekerja dengan cara menurunkun energi aktivitasi. Factor-faktor yang mempengaruhi kerja
enzim antara lain suhu, pH, zat peghambat (Inhibitor), activator dan konsentrasi. Level enzim
pada tubuh makhluk hidup tergantung kebutuhan metabolisme.
B. FUNGSI METABOLISME
 Metabolisme memiliki peran yang penting bagi proses yang terjadi dalam tubuh
makhluk hidup, diantaranya adalah ;
 Menghasilkan, energi bagi dari proses perubahan zat-zat makanan yang ada di dalam
tubuh
 Zat-zat lain yang berasal dari protein berguna untuk pertumbuhan dan respirasi
jaringan tubuh.
 Mengganti jaringan yang rusak atau membentuk jaringan
 Menyusun unit pembangun menjadi protein, asam nukleat dan komponen sel lainnya

C. GLIKOGENOLISIS
Glikogenolisis merupakan proses pemecahan glikogen menjadi glukosa yang terjadi
terutama di hati dan otot. Glikogen atau gula otot merupakan cadangan makanan hewan yang
tersusun atas molekul glukosa yang disatukan dengan ikatan α 1-4 glikosidik (untuk rantai
lurus), dan ikatan α 1-6 glikosidik untuk titik cabang. Glikogen merupakan polisakarida yang
memiliki banyak sekali percabangan, hal tersebut diperlukan agar glikogen dapat disimpan
dengan maksimal di dalam sel.
Glikogen akan dipecah apabila kadar gula dalam darah rendah dan ketika sedang
berolahraga. Glikogenolisis dipicu oleh kerja hormon adrenalin dan glukagon, berkebalikan
dengan insulin yang akan mempengaruhi pembentukan glikogen melalui glikogenesis. Proses
pemecahan glikogen melibatkan 3 jenis enzim yaitu glikogen fosforilase, transferase, dan
debranching enzyme.

Proses glikogenolisis yang terjadi di dalam sel adalah sebagai berikut.

 Enzim glikogen fosforilase akan menambahkan fosfat anorganik dan


membebaskan glukosa dalam bentuk glukosa 1-fosfat. Pemecahan ini akan terus
berlangsung hingga tersisa kurang lebih 4 residu glukosa dari titik cabang.
 Enzim transferase akan memindahkan 3 residu glukosa menuju ujung cabang yang
lain, proses ini akan menyisakan satu residu glukosa pada titik cabang yang terikat
dengan ikatan α 1-6 glikosidik.
 Debranching enzyme atau enzim pemecah cabang (α 1-6 glukosidase) akan
membebaskan glukosa pada titik cabang dan melepaskannya dalam bentuk
glukosa (bukan glukosa 1-fosfat seperti pada reaksi pertama).
 Proses glikogenolisis berakhir pada tahapan diatas, namun hasil pemecahan
glikogen yang berupa glukosa 1-fosfat akan mengalami proses lebih lanjut agar
dapat berubah menjadi glukosa.

Enzim fosfoglukomutase akan mengkatalisis reaksi isomerasi glukosa 1-fosfat


menjadi glukosa 6-fosfat. Dalam hati dan ginjal glukosa 6-fosfat akan mengalami pelepasan
fosfat dan berubah menjadi glukosa. Namun di dalam otot glukosa 6-fosfat akan langsung
masuk reaksi glikolisis untuk diolah menjadi energi dalam bentuk ATP.
Glikogen yang dipecah di dalam hati digunakan untuk mempertahankan kadar gula
dalam darah tetap normal, sedangkan glikogen dalam otot akan digunakan untuk
memproduksi energi. Hati mampu menyimpan glikogen sebesar 6% dari massa total hati,
sedangkan otot hanya mampu menyimpan kurang dari 1% dari massa otot tersebut.

D. METABOLISME LAPAR
Rasa lapar sebenarnya dipicu oleh peningkatan hormon Ghrelin dalam darah yang
diproduksi oleh sel-sel dilambung. Puasa menyebabkan peningkatan produksi hormon
Ghrelin ini di lambung. Ghrelin dalam penelitian menunjukkan efek positif terhadap sekresi
dan kerja insulin. Ghrelin yang meningkat menyebabkan kerja insulin lebih bagus. Pada
orang gemuk Ghrelin dalam darah rendah dan disinyalir memperburuk sinyal insulin. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa Ghrelin baik untuk membantu kerja insulin. Ini salah satu
alasan tambahan mengapa rasa lapar itu penting untuk kita rasakan. Rasa lapar dan puasa
akan cenderung meningkatkan produksi Ghrelin yang pada akhirnya penting untuk kesehatan
metabolisme.

Pusat saraf yang mengatur asupan makanan


 Nukleus lateral hipotalamus, berfungsi sebagai pusat makan
 Nukleus ventromedial hipotalamus berperan sebagai pusat kenyang
 Nukleus paraventrikular, dorsomedial, dan arkuata

Faktor-faktor yang mengatur jumlah asupan makanan


Pengaturan jumlah asupan makanan dapat dibagi menjadi :
 Pengaturan jangka pendek, yang terutama mencegah perilaku makan yang berlebihan
di setiap waktu makan
 Pengisian saluran cerna menghambat perilaku makan, Bila saluran cerna teregang,
terutama lambung dan duodenum, sinyal inhibisi yang teregang akan dihantarkan
terutama melalui nervus vagusn untuk menekan pusat makan,sehingga nafsu makan
berkurang.
 Faktor hormonal saluran cerna menghambat perilaku, Kolesistokinin terutama
dilepaskan sebagai respon terhadap lemak yang masuk ke duodenum dan memiliki
efek langsung ke pusat makan untuk mengurangi perilaku makan lebih lanjut. Selain
itu,adanya makanan dalam usus akan merangsang usus tersebut mensekresikan
peptide mirip glucagon, yang selanjutnya akan meningkatkan sekresi insulin terkait
glukosa dan sekresi dari pancreas, yang keduanya cendrung untuk menekan nafsu
makan.
 Ghrelin, suatu hormone gastrointestinal meningkatkan perilaku makan, Kadar Ghrelin
meningkat disaat puasa, meningkat sesaat sebelum makan, dan menurun drastic
setelah makan yang mengisyaratkan bahwa hormone ini mungkin berperan untuk
meningkatkan nafsu makan.
 Reseptor mulut mengukur jumlah asupan makanan, Berkaitan dengan perilaku makan,
seperti mengunyah, salivasi, menelan, dan mengecap yang akan “mengukur” jumlah
makanan yang masuk, dan ketika sejumlah makan telah masuk, maka pusat makan
dihipotalamus akan dihambat.
 Pengaturan jangka panjang, yang terutama berperan untuk mempertahankan energy
yang disimpan di tubuh dalam jumlah normal.

Karbohidrat glukosa merupakan karbohidrat terpenting dalam kaitannya dengan


penyediaan energi di dalam tubuh. Hal ini disebabkan karena semua jenis karbohidrat baik
monosakarida, disakarida maupun polisakarida yang dikonsumsi oleh manusia akan
terkonversi menjadi glukosa di dalam hati. Glukosa ini kemudian akan berperan sebagai salah
satu molekul utama bagi pembentukan energi di dalam tubuh.

Di dalam tubuh manusia glukosa yang telah diserap oleh usus halus kemudian akan
terdistribusi ke dalam semua sel tubuh melalui aliran darah. Di dalam tubuh, glukosa tidak
hanya dapat tersimpan dalam bentuk glikogen di dalam otot & hati namun juga dapat
tersimpan pada plasma darah dalam bentuk glukosa darah (blood glucose). Di dalam tubuh
selain akan berperan sebagai bahan bakar bagi proses metabolisme, glukosa juga akan
berperan sebagai sumber energi utama bagi kerja otak. Melalui proses oksidasi yang terjadi di
dalam sel-sel tubuh, glukosa kemudian akan digunakan untuk mensintesis molekul ATP
(adenosine triphosphate) yang merupakan molukel molekul dasar penghasil energi di dalam
tubuh. Dalam konsumsi keseharian, glukosa akan menyediakan hampir 50—75% dari total
kebutuhan energi tubuh. Untuk dapat menghasilkan energi, proses metabolisme glukosa akan
berlangsung melalui 2 mekanisme utama yaitu melalui proses anaerobik dan proses aerobik.
Proses metabolisme secara anaerobic akan berlangsung di dalam sitoplasma (cytoplasm)
sedangkan proses metabolism anaerobik akan berjalan dengan mengunakan enzim ysebagai
katalis di dalam mitochondria dengan kehadiran Oksigen (O2 ).
Glukosa diserap ke dalam peredaran darah melalui saluran pencernaan. Sebagian
glukosa ini kemudian langsung menjadi bahan bakar sel otak, sedangkan yang lainnya
menuju hati dan otot, yang menyimpannya sebagai glikogen (pati hewan) dan , yang
menyimpannya sebagai lemak. Glikogen merupakan sumber energi cadangan yang akan
dikonversi kembali menjadi glukosa pada saat dibutuhkan lebih banyak energi. Meskipun
lemak simpanan dapat juga menjadi sumber energi cadangan, lemak tak pernah secara
langsung dikonversi menjadi glukosa. Fruktosa dan galaktosa, gula lain yang dihasilkan dari
pemecahan karbohidrat, langsung diangkut ke hati, yang mengkonversinya menjadi glukosa.

E. METABOLISME SAAT PUASA


Glukosa merupakan bahan bakar utama untuk jaringan misalnya otak dan susunan
saraf, serta satu-satunya bahan bakar bagi sel darah merah. Kadar glukosa darah memuncak
pada sekitar 1 jam setelah makan, dua jam setelah makan, kadar kembali ke rantang puasa
(antara 80-100 mg/dL) seiring dengan oksidasi atau pengubahan glukosa menjadi bentuk
simpanan bahan bakar oleh jaringan. Penurunan glukosa menyebabkan penurunan sekresi
insulin. Hati berespon terhadap hal ini dengan memulai degradasi simpanan oksigen dan
melepaskan glukosa dalam darah. Namun, apabila kita terus-terusan berpuasa selama 12 jam,
kita masuk ke status basal yang juga dikenal sebagai keadaan pasca absorptif. Seseorang
umumnya dianggap pada keadaan basal setelah berpuasa semalam; tidak makan lagi sejak
malam terkahir.

Pada awalnya, simpanan glikogen diuraikan untuk memasok glukosa ke dalam darah,
tetapi simpanan ini terbatas. Walaupun kadar glikogen hati dapat meningkat sampai 200-300
g setelah makan, hanya sekitar 80 g yang masih tersisia setelah puasa 1 malam. Hati memiliki
mekanisme lain untuk menghasilkan glukosa darah. Proses ini yang dikenal sebagai
glukoneogenesis yang menggunakan sumber-sumber karbon berupa laktat (glikolisis di
dalam sel darah merah), gliserol (lipolisis triasilgliserol adiposa), dan asam amino
(pemecahan protein otot). Asam lemak tidak dapat menyediakan karbon untuk
glukoneogenesis. Dari simpanan energi makanan triasilgliserol jaringan adiposa yang
berjumlah besar, hanya sebagian kecil terutama gugus gliserol yang dapat digunakan untuk
menghasilkan glukosa dalam darah. Setelah beberapa jam puasa glukoneogenesis mulai
menambah glukosa yang dihasilkan glikogenolisis di hati.
Bila puasa berlanjut, glukoneogenesis menjadi lebih penting sebagai sumber glukosa
darah. Setelah sekitar 30 jam berpuasa, simpanan glikogen hati habis dan glukoneogenesis
menjadi satu-satunya sumber glukosa darah. Pasokan minimal glukosa mungkin diperlukan
dalam jaringan ekstra hepatik untuk mempertahankan konsentrasi oksaloasetat dan bentukan
siklus asam sitrat. Disamping itu, glukosa merupakan sumber utama gliserol 3 fosfat dalam
jaringan yang tidak mempunyai energi gliserol kinase seperti jaringan adiposa.
Triasilgliserol merupakan sumber utama energi selama puasa. Sewaktu kadar insulin
menurun dan kadar glukagon darah meningkat, triasilgliserol adiposa dimobilisasi oleh suatu
proses lipolisis. Pemecahannya menghasilkan gliserol dan asam lemak. Asam lemak
berfungsi sebagia bahan bakar untuk jaringan misalnya otot, ginjal yang mengoksidasinya
menjadi asetil koA dan kemudian menghasilkan energi dalam bentuk ATP. Sebagian besar
asam lemak masuk ke hati diubah menjadi benda keton. Benda keton ini dapat dioksidasi
lebih lanjut oleh jaringan misalnya otot dan ginjal. Di jaringan tersebut asetoasetat dan beta-
hidroksibutirat diubah menjadi asetil KoA dan kemudian menjadi CO2 dan H2O disertai
pembentukan energi.

Pada intinya kadar glukosa dipertahankan dalam rentang 80-100 mg/dL dan kadar
asam lemak serta benda keton meningkat. Otot menggunakan asam lemak, benda keton, dan
(sewaktu sedang olahraga dan saat pasokan masih ada) glukosa dari glikogen otot. Banyak
jaringan yang menggunakan campuran asam lemak dan benda keton.

Apabila penggunaan bahan bakar yang terjadi selama puasa terus berlangsung untuk
jangka lama, protein tubuh akan cepat dikonsumsi sampai suatu ketika fungsi kritis
terganggu. Untungnya, perubahan metabolik yang terjadi selama puasa tidak menghabiskan
protein otot. Setelah berpuasa 4 sampai 5 hari, otot mengurangi penggunaan benda keton dan
terutama bergantung pada asam-asam lemak untuk memasok energi. Namun, hati terus
mengubah asam lemak menjadi benda keton. Hasilnya adalah bahwa konsentarsi benda keton
dalam darah meningkat. Otak mulai menyerap benda keton dan mengoksidasinya menjadi
energi. Glukosa tetap dibutuhkan sebagai sumber energi untuk sel darah merah dan otak terus
menggunakan glukosa dalam jangka waktu terbatas. Glukosa tersebut dioksidasi menjadi
energi dan digunakan sebagai sumber karbon untuk sintesis neurotransmitter. Namun,
glukosa tetap dihemat penggunaannya sehingga hati lebih sedikit menghasilkan glukosa
selama puasa jangka panjang dibandingkan selama puasa singkat.

Karena simpanan glikogen dalam hati habis dengan puasa sekitar 30 jam,
glukoneogenesis adalah satu-satunya proses yang digunakan hati untuk memasok glukosa ke
dalam darah. Asam amino yang dihasilkan oleh penguraian protein otot terus berfungsi
sebagai sumber utama karbon untuk glukoneogenesis. Namun, karena kecepatan
glukoneogenesis menurun selama puasa jangka panjang, protein otot juga dihemat, yakni
tidak banyak protein otot yang digunaknan untuk proses glukoneogenesis. Akibatnya, karena
produksi glukosa menurun, produksi urea juga berkurang selama puasa jangka panjang
dibandingkan dengan produksi pada puasa singkat. Besarnya jumlah jaringan adiposa dalam
tubuh kita menjadi penentu utama seberapa lama kita dapat berpuasa, karena jaringan adiposa
merupakan pasokan energi utama bagi tubuh. Namun, glukosa masih digunakan dalam
tingkat waktu tertentu bahkan selama puasa jangka panjang. Walaupun kita mengalami
berbagai masalah, misalnya kehabisan bahan bakar, protein menjadi sangat kurang sehingga
jantung, ginjal dan jaringan vital lainnnya berhenti berfungsi, atau kita terserang infeksi
sehingga tidak cukup mengadakan respon imun. Akhirnya kita meninggal akibat kelaparan.

Mekanisme di Hati yang Berfungsi Mempertahankan Kadar Glukosa Darah. Selama


puasa, rasio insulin/glukagon menurun. Glikogen hati diurai untuk menghasilkan glukosa
darah. Enzim untuk penguraian glikogen diaktifkan melalui fosforilasi yang diarahkan oleh
cAMP. Glukagon merangsang adenilat siklase untuk membentuk cAMP, yang kemudian
mengaktifkan protein kinase A. Protein kinase A melakukan fosforilasi terhadap fosforilasi
kinase, yang kemudian melakukan fosforilasi dan mengaktifkan glikogen fosforilase. Protein
kinase A juga memfosforilasikan glikogen sintase. Tetapi, enzim tersebut menjadi inaktif.

Selama puasa, sewaktu kadar insulin darah turun dan kadar glukagon meningkat,
kadar cAMP di dalam sel adiposa meningkat. Akibatnya, protein kinase A diaktifkan dan
menyebabkan fosforilasi lipase peka hormon. Enzim bentuk terfosforilasi ini menjadi aktif
dan memutuskan asam lemak dari triasilgliserol.

Setelah dibebaskan dari jaringan adiposa selama puasa, asam lemak mengalir dalam
darah dalam bentuk kompleks dengan albumin. Asam lemak ini dioksidasi oleh berbagai
jaringan, terutama otot. Di hati, asam lemak dipindahkan ke dalam mitokondria karena asetil
KoA karboksilase inaktif, kadar malonil KoA rendah, dan CPTI aktif. Asetil KoA, yang
dihasilkan oleh oksidasi-β, diubah menjadi badan keton.

Saat latihan ringan (seperti berjalan) sampai latihan sedang (seperti lari-lari kecil atau
berenang), sel-sel otot mampu membentuk cukup ATP melalui fosforilasi oksidatif untuk
memenuhi kebutuhan energi. Untuk mempertahankan terjadinya fosforilasi oksidatif,
dibutuhkan cukup oksigen dan nutrien.
Pada kontraksi yang hampir maksimal, pembuluh darah yang masuk ke otot tertekan
dan hampir tertutup oleh kontraksi yang kuat, sehingga oksigen sulit masuk ke serat otot.
Meskipun oksigen berhasil masuk, fosforilasi oksidatif yang prosesnya relatif lambat tidak
dapat memenuhi kebutuhan ATP dengan cukup cepat. Konsumsi energi otot rangka pada
latihan berat dapat mencapai 100 kali konsumsi energi pada keadaan istirahat. Karena itu,
otot bergantung pada glikolisis untuk menghasilkan ATP meskipun jumlah ATP yang
dihasilkan lebih sedikit. Namun, glikolisis adalah proses yang kurang efisien (satu molekul
glukosa hanya bisa menghasilkan 2 ATP) dan ada asam laktat yang dihasilkan (menyebabkan
pegal) sehingga latihan anaerobik hanya bisa dilakukan pada durasi yang pendek.

Toleransi glukose biasanya diukur dengan mengikuti konsentrasi glukose darah


selama 15 menit sampai 2 atau 3 jam setelah pemberian glukose peroral sebanyak 50 -100 g
setelah dipuasakan semalam (Gambar 2-5A). Bentuk kurva yang dihasilkan ditentukan oleh:
(1) kapasitas tubuh mengekskresi insulin yang cukup; (2) ketersediaan, faktor-faktor nutrisi
lain yang dibutuhkan untuk pengikatan insulin dan kerjanya; (3) tingkat katabolisme insulin;
(4) ada atau tidaknya antagonis insulin; dan (5) adanya/terbebasnya faktor-faktor penghambat
regulasi (counterregulator) seperti glukagon. yang akan menghambat penundaan glukose
darah kalau kerja insulin sudah selesai. Gangguan-gangguan dalam lintasan kerja insulin, dari
proses sintetisnya sampai terikat (bereaksi) dan terdegradasinya akan mengubah toleransi
glukose.

Tingkat pembebasan insulin dan efektivitasnya menentukan kecepatan glukose darah


mencapai puncaknya dan berapa tinggi puncak tersebut yang dapat dicapai? (Secara normal,
tidak lebih dari 160 mg/dl setelah 30-60 menit) (Gambar 2-5A). Beberapa mekanisme yang
sama menentukan waktu yang dibutuhkan untuk menormalkan kembali kadar glukose darah
(70-105 mg/dl) (normal: l,5-2 jam). “Kadar glukose puasa” yang tinggi (pada waktu 0), lebih
tinggi dari normal dan/atau penundaan puncak (peak) kurva dan penundaan waktu untuk
kembali normal adalah tanda yang pasti tidak adanya toleransi glukose dan diabetes.

Kalau kadar glukose darah melebihi 180 mg/dl, maka ada glukose yang akan keluar
melalui urin karena tubuli ginjal tidak dapat lagi menyerap kembali glukose tersebut secara
cepat. Dalam keadaan diabetes, hiperglisemia yang berulang-ulang melupakan sebab utama
neuropathy dan microangeopathy lihat keterangan selanjutnya). Respons berlebihan terhadap
konsentrasi glukose menyebabkan peak yang lebih rendah; kembalinya (turunnya) lebih cepat
dan glukose plasma jatuh di bawah normal sebagai tanda pasti adanya “hipoglisemia”
(Gambar 2-5A) dan mungkin sebagai pendahuluan terjadinya beberapa bentuk diabetes.
KESIMPULAN

Metabolisme karbohidrat setelah puasa terjadi penurunan glukosa yang menyebabkan


penurunan sekresi insulin. Hati berespon terhadap hal ini dengan memulai degradasi
simpanan oksigen dan melepaskan glukosa dalam darah. Namun, apabila kita terus-terusan
berpuasa selama 12 jam, kita masuk ke status basal yang juga dikenal sebagai keadaan pasca
absorptif. Pada awalnya, simpanan glikogen diuraikan untuk memasok glukosa ke dalam
darah, tetapi simpanan ini terbatas. Glikogen hati diurai untuk menghasilkan glukosa darah.
Enzim untuk penguraian glikogen diaktifkan melalui fosforilasi yang diarahkan oleh cAMP.
Glukagon merangsang adenilat siklase untuk membentuk cAMP, yang kemudian
mengaktifkan protein kinase A. Protein kinase A melakukan fosforilasi terhadap fosforilasi
kinase, yang kemudian melakukan fosforilasi dan mengaktifkan glikogen fosforilase. Kadar
cAMP di dalam sel adiposa meningkat. Akibatnya, protein kinase A diaktifkan dan
menyebabkan fosforilasi lipase peka hormon. Enzim bentuk terfosforilasi ini menjadi aktif
dan memutuskan asam lemak dari triasilgliserol. Setelah dibebaskan dari jaringan adiposa
selama puasa, asam lemak mengalir dalam darah dalam bentuk kompleks dengan albumin.
Asam lemak ini dioksidasi oleh berbagai jaringan, terutama otot. Di hati, asam lemak
dipindahkan ke dalam mitokondria karena asetil KoA karboksilase inaktif, kadar malonil
KoA rendah, dan CPTI aktif. Asetil KoA, yang dihasilkan oleh oksidasi-β, diubah menjadi
badan keton.


DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Linder, Maria C.2006. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Jakarta: Universitas Indonesia

Marks DB, Marks AD, Smith CM. 2000. Biokimia Kedokteran Dasar Sebuah Pendekatan
Klinis. Edisi I. Jakarta: EGC.

Sediaoetama, Achmad Djaeni. 1999. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid I. Jakarta :
Dian Rakyat.

Sherwood L. 2004. Human Physiology From Cells to Systems. Edisi 5. USA: Brooks/Cole-
Thomson Learning.