Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Setiap perusahaan pada suatu periode akan melaporkan semua kegiatan

keuangannya dalam bentuk ikhtisar keuangan atau laporan keuangan sebagai

salah satu sumber informasi yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan.

Laporan keuangan merupakan ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan

yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Chariri dan Ghozali (2007)

menyatakan bahwa salah satu tujuan pelaporan keuangan adalah memberikan

informasi keuangan yang dapat menunjukkan prestasi perusahaan dalam

menghasilkan laba (earning per share). Informasi keuangan yang dapat

menunjukkan prestasi perusahaan dalam menghasilkan laba adalah laporan

laba rugi.

Laporan laba rugi digunakan oleh para investor untuk melihat

profitabilitas perusahaan dan memprediksi prospek perusahaan di masa yang

akan datang. Untuk tujuan menunjukkan prestasi perusahaan dalam

menghasilkan laba, manajemen cenderung mengelola laba secara oprtunis dan

melakukan manipulasi laporan keuangan agar menunjukkan laba yang

memuaskan meskipun tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang

sebenarnya. Manajemen perusahaan dapat menentukan kebijakan penggunaaan

metode akuntansi dalam menyusun laporan keuangan untuk mencapai tujuan

yang diinginkan perusahaan. Pilihan kebijakan akuntansi yang dilakukan

1
2

manajer untuk tujuan spesifik disebut dengan manajemen laba. Menurut

Evadewi dan Meiranto (2014) menjelaskan bahwa earnings management atau

manajemen laba diduga muncul atau dilakukan oleh manajer atau para pembuat

laporan keuangan dalam proses pelaporan keuangan suatu organisasi karena

mereka mengharapkan suatu manfaat dari tindakan yang dilakukan.

Manajeman laba (earnings management) merupakan campur tangan

manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan perusahaan bagi

eksternal guna mencapai tingkat laba tertentu dengan tujuan untuk

menguntungkan dirinya sendiri atau perusahaannya sendiri. Motivasi

manajemen laba mengindikasikan secara eksplisit praktik manajemen laba

yang disengaja oleh manajer, yang pada akhirnya membawa konsekuensi

negatif terhadap shareholders, karyawan, komunitas dimana perusahaan

beroperasi, masyarakat, karier dan reputasi manajer yang bersangkutan (Sari

dan Hariyanti, 2010). Salah satu konsekuensi paling fatal akibat tindakan

manajemen yang memanipulasi laba adalah perusahaan akan kehilangan

dukungan dari para stakeholders-nya. Stakeholder akan memberikan respon

negatif berupa tekanan dari investor, sanksi dari regulator, ditinggalkan rekan

kerja, boikot dari para aktivis, dan pemberitaan negatif media massa. Tindakan

tersebut wujud ketidakpuasan stakeholders terhadap kinerja perusahaan yang

dimanipulasi, dan pada akhirnya berimbas merusak reputasi perusahaan di

pasar modal.

Banyak kasus manipulasi keuangan yang muncul karena perusahaan

melakukan earning management. Menurut Sutikno, dkk. (2014) pada tahun


3

2001 tercatat kasus keuangan pada perusahaan publik yang melibatkan

manipulasi laporan keuangan oleh PT Lippo, Tbk. (Bank Lippo). Hal tersebut

membuktikan bahwa praktik manipulasi laporan keuangan tetap dilakukan oleh

pihak korporat meskipun sudah menjauhi periode krisis tahun 1997–1998.

Selain kasus Bank Lippo, skandal Bank Century yang berawal pada tahun 2004

sampai dengan tahun 2013 ini belum tuntas permasalahan yang dialami karena

lemahnya pengawasan oleh dewan komisaris, sehingga pemerintah Indonesia

harus mengeluarkan dana talangan.

Manajemen laba yang dilakukan perusahaan muncul karena adanya

hubungan agensi antara principal (pemegang saham) dan agent (manajer).

Hubungan agensi antara pemegang saham dan manajer tersebut dijelaskan

dalam teori keagenan. Masalah yang sering muncul dalam hubungan agensi

antara pemegang saham dan manajer adalah terjadinya konflik agensi. Konflik

agensi muncul ketika manajer mempunyai kewajiban untuk memaksimumkan

kesejahteraan para pemegang saham, namun disisi lain manajer juga

mempunyai kepentingan untuk memaksimumkan kesejahteraan mereka.

Penyatuan kepentingan antara pihak manajer ini sering kali menimbulkan

masalah keagenan atau agensi konflik. Pihak yang lebih mengetahui kondisi

internal perusahaan dan prospek perusahaan dimasa yang akan datang adalah

manajer yang bertindak sebagai agent, sedangkan pemegang saham

mengetahui keadaan dan prospek perusahaan dimasa yang akan datang hanya

melalui informasi yang diberikan oleh manajer. Oleh karena itu, manajer

berkewajiban untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi


4

perusahaan kepada pemegang saham sebagai bentuk pemenuhan kewajiban

dalam mengelola perusahaan. Informasi yang disampaikan terkadang diterima

tidak sesuai dengan kondisi perusahaan sebenarnya. Kondisi ini dikenal

sebagai informasi yang tidak simetris atau asimetri informasi (information

asymmetric) (Ujiyantho dan Pramuka, 2007).

Terjadinya manipulasi laporan keuangan tersebut karena lemahnya

penerapan corporate governance. Ciri utama dari lemahnya corporate

governance adalah adanya tindakan mementingkan diri sendiri di pihak para

manajer perusahaan. Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia

FCGI (dalam Ningsaptiti, 2010) tujuan dari corporate governance adalah untuk

menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan

(stakeholders). Penerapan corporate governance secara konsisten yang

berprinsip pada keadilan, transparansi, akuntanbilitas, dan pertanggungjawaban

terbukti dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan. Dengan adanya prinsip

good corporate governance tersebut diharapkan dapat menjadi penghambat

aktivitas rekayasa kinerja yang mengakibatkan laporan keuangan tidak

mengambarkan nilai fundamental perusahaan (Jao dan Pagalung, 2011).

Faktor lain yang mempengaruhi praktik manajemen laba yaitu ukuran

perusahaan. Terdapat dua pandangan tentang bentuk ukuran perusahan

terhadap manajemen laba. Pandangan pertama, ukuran perusahaan yang kecil

dianggap lebih banyak melakukan praktik manajemen laba daripada

perusahaan besar. Hal ini dikarenakan perusahaan kecil cenderung ingin

memperlihatkan kondisi perusahaan yang selalu berkinerja baik agar investor


5

menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Perusahaan yang besar lebih

diperhatikan oleh masyarakat sehingga akan lebih berhati-hati dalam

melakukan pelaporan keuangan sehingga berdampak perusahaan tersebut

melaporkan kondisinya lebih akurat (Jao dan Pagalung, 2011). Akan tetapi,

pandangan kedua memandang ukuran perusahan mempunyai pengaruh positif

terhadap manajemen laba. Watts and Zimmerman (dalam Jao dan Pagalung,

2011) menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan besar yang memiliki biaya

politik tinggi lebih cenderung memilih metode akuntansi untuk mengurangi

laba yang dilaporkan dibandingkan perusahaan-perusahaan kecil.

Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai pengaruh mekanisme

corporate governance dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba.

Penelitian yang dilakukan Hayati dan Gusnardi (2012) tentang pengaruh

penerapan mekanisme good corporate governance terhadap manajemen laba

menemukan bahwa kepemilikan manajerial dan komite audit tidak berpengaruh

terhadap manajemen laba, kepemilikan institusional dan komisaris independen

berpengaruh terhadap manajemen laba, dan secara simultan kepemilikan

manajerial, kepemilikan institusional, komisaris independen dan komite audit

berpengaruh terhadap manajemen laba.

Pada penelitian yang dilakukan Kristiani, dkk. (2014) tentang pengaruh

mekanisme corporate governance dan ukuran perusahaan terhadap manajemen

laba menemukan bahwa: kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial,

komposisi dewan komisaris, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh

signifikan terhadap manajemen laba. Ukuran dewan komisaris berpengaruh


6

signifikan positif terhadap manajemen laba. Komite audit berpengaruh tidak

signifikan terhadap manajemen laba. Secara simultan kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, komposisi

dewan komisaris, komite audit dan variabel ukuran perusahaan berpengaruh

signifikan terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang

terdaftar di BEI periode 2009-2013.

Seliana (2014) dalam penelitiannya tentang pengaruh mekanisme

corporate governance dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba juga

menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap

manajemen laba. Variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional,

ukuran dewan komisaris, komposisi dewan komisaris, dan komite audit tidak

berpengaruh terhadap manajemen laba. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa

variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, ukuran dewan

komisaris, komposisi dewan komisaris, komite audit, dan ukuran perusahaan

secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap manajemen

laba.

Hasil penelitian yang dilakukan Izza (2016) menunjukkan bahwa

variabel proporsi komisaris independen, kepemilikan manajerial, kepemilikan

institusional terbukti tidak berpengaruh untuk mengurangi tindakan manajemen

laba. Sedangkan ukuran perusahaan terbukti berpengaruh untuk mengurangi

tindakan manajemen laba. Secara simultan variabel corporate governance

(proporsi komisaris independen, kepemilikan manajerial, kepemilikan

institusional) dan ukuran perusahaan terbukti berpengaruh untuk mengurangi


7

tindakan manajemen laba.

Mengacu pada beberapa penelitian terdahulu di atas, terdapat beberapa

research gap antara penelitian yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan-

perbedaan tersebut terdapat pada tahun penelitian, beberapa variabel yang

diteliti, objek penelitian, serta beberapa hasil atau temuan masing-masing

penelitian. Penelitian ini dilakukan terhadap perusahaan manufaktur yang

terdaftar di BEI periode 2013-2016. Penelitian ini mengambil judul “Pengaruh

Mekanisme Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan Terhadap

Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI.”

B. Batasan Masalah

Penelitian ini perlu adanya batasan masalah agar tidak terjadi

penyimpangan. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Mengacu pada beberapa penelitian terdahulu, variabel mekanisme corporate

governance diproksikan dengan kepemilikan institusional, kepemilikan

manajerial, dan proporsi komisaris independen. Ukuran perusahaan

merupakan variabel yang diukur dari jumlah total asset perusahaan sampel

yang ditransformasi dalam bentuk logaritma natural (Ln). Dalam penelitian

ini, proxy manajemen laba yang digunakan adalah discretionary accrual

yang dihitung dengan menggunakan model Jones yang dimodifikasi.

2. Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar pada

Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2016.

Pada penelitian ini, perusahaan yang dimaksud dibatasi pada perusahaan-

perusahaan manufaktur sektor Food and Beverages.


8

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah di atas, maka perumusan

masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap

manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode

2013-2016?

2. Apakah kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap

manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode

2013-2016?

3. Apakah proporsi komisaris independen berpengaruh signifikan terhadap

underpricing saham perdana pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia periode 2011-2015?

4. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap underpricing

saham perdana pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia periode 2011-2015?

5. Apakah kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi

komisaris independen, dan ukuran perusahaan secara simultan berpengaruh

signifikan terhadap underpricing saham perdana pada perusahaan-

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2015?


9

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Pengaruh signifikan kepemilikan institusional terhadap manajemen laba

pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2013-2016.

2. Pengaruh signifikan kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2013-2016.

3. Pengaruh signifikan proporsi komisaris independen terhadap manajemen

laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2013-2016.

4. Pengaruh signifikan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2013-2016.

5. Pengaruh signifikan kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial,

proporsi komisaris independen, dan ukuran perusahaan secara simultan

terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI

periode 2013-2016.

E. Kegunaan Penelitian

Bertolak dari tujuan penelitian tersebut, maka penelitian ini diharapkan

dapat memberikan manfaat bagi bidang ilmu yang diteliti. Kegunaan yang

diperoleh dari penelitian ini adalah:

1. Kegunaan teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan, serta

informasi mengenai pengaruh mekanisme corporate governance, yang

meliputi komponen-komponen: kepemilikan institusional, kepemilikan

manajerial, proporsi komisaris independen serta ukuran perusahaan


10

terhadap terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang

terdaftar di BEI periode 2013-2016.

b. Penilaian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan memberikan

sumbangan konseptual bagi peneliti sejenis maupun civitas akademik

lainnya dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan untuk

kemajuan dunia pendidikan.

2. Kegunaan Praktis

a. Bagi perusahaan (emiten)

Memberikan masukan dalam mencermati perilaku manajemen dalam

aktivitas manajemen laba yang berkaitan dengan pencapaian kepentingan

manajemen.

b. Investor

Dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh mekanisme corporate

governance terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang

go publik di Indonesia sehingga dapat membantu investor dalam

membuat keputusan investasi yang tepat.

c. Bagi akademik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran

dan penulisan dalam ilmu pengetahuan serta untuk menambah sumber

informasi atau referensi/pustaka.

d. Bagi peneliti yang akan datang

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi atau bahan

pertimbangan yang dapat digunakan bagi penelitian-penelitian berikutnya


11

yang mengambil permasalahan yang sama, serta sebagai media untuk

menambah wawasan pengetahuan untuk penerapan teori.

F. Definisi Operasional

Berikut adalah definisi-definisi operasional pada masing-masing variabel

yang akan diteliti.

1. Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah jumlah persentase hak suara yang dimiliki

oleh institusi. Investor institusional merupakan pihak yang dapat memonitor

agen dengan kepemilikannya yang besar, sehingga motivasi manajer untuk

mengatur laba menjadi berkurang. Kepemilikan institusional dalam

penelitian ini menggunakan indikator persentase jumlah saham yang

dimiliki institusi dari seluruh modal saham yang beredar.

2. Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah jumlah kepemilikan saham saham oleh

pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang dikelola.

Indikator yang digunakan adalah persentase jumlah saham yang dimiliki

manajemen dari seluruh modal saham perusahaan.

3. Proporsi Komisaris Independen

Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak

terafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan

pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau

hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk

bertindak independen atau bertindak semata-mata demi kepentingan


12

perusahaan. Proporsi komisaris independen diukur dengan menggunakan

indikator persentase anggota dewan komisaris yang berasal dari luar

perusahaan dari seluruh anggota dewan komisaris perusahaan.

4. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan merupakan variabel yang diukur dari jumlah total asset

perusahaan sampel yang ditransformasi dalam bentuk logaritma natural.

5. Manajemen Laba

Manajemen laba yaitu suatu kemampuan untuk memanipulasi pilihan-

pilihan yang tersedia dan mengambil pilihan yang tepat untuk dapat

mencapai tingkat laba yang diinginkan. Dalam penelitian ini, proxy

manajemen laba yang digunakan adalah discretionary accrual yang dihitung

dengan menggunakan model Jones yang dimodifikasi.