Anda di halaman 1dari 45

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kajian Pustaka

Penelitian tentang corporate governance ini menggunakan grand theory

teori keagenan (agency theory) yang didukung pula dengan beberapa

supporting theory. Teori keagenan ini digunakan untuk menjelaskan tentang

mekanisme corporate governance yang berpengaruh terhadap manajemen laba

yang dilakukan perusahaan. Teori-teori tersebut akan dipaparkan sebagai

berikut:

1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan (agency theory) dianggap sesuai dengan penelitian ini

karena sebuah perusahaan memiliki sebuah penerapan teori agensi antara

pemegang saham dan manajer di dalam perusahaan. Pemegang saham

mendelegasikan wewenang kepada manager untuk mengelola perusahaan

dan memberikan return yang baik sesuai dengan keinginan pemegang

saham. Teori keagenan merupakan hal dasar yang digunakan dalam

memahami corporate governance.

Teori keagenan dipandang lebih luas karena mencerminkan kenyataan

yang ada. Pemikiran mengenai corporate governance didasarkan pada teori

agen dimana pengelolaan perusahaan harus diawasi dan dikendalikan untuk

memastikan bahwa pengelolaan dilakukan dengan penuh kepatuhan

terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku (Wolfensohn dalam Hanum

dan Zulaikha, 2013).

13
14

Teori agensi merupakan konsep yang menjelaskan hubungan

kontraktual antara prinsipal dan agen. Pihak prinsipal adalah pihak yang

memberikan mandat kepada pihak lain, yaitu agen untuk melakukan semua

kegiatan atas nama principal dalam kapasitasnya sebagai pengambil

keputusan (Jensen dan Meckling, 1976 dalam Wiguna dan Yadnyana,

2015). Hubungan keagenan muncul apabila prinsipal membuat kontrak kerja

dengan pihak lain (agen). Dalam teori agensi pada kasus underpricing,

underwriter adalah pihak yang berperan sebagai agen dan emiten adalah

pihak yang berperan sebagai prinsipal.

Menurut Nasirwan (2012) teori agensi juga dapat menjelaskan pada

tatanan praktik bisnis yang lebih luas yaitu terhadap perusahaan-perusahaan

yang akan dan sudah melakukan IPO. Banyak pihak yang terkait dengan

perusahaan yang melakukan IPO. Pertama, pemilik perusahaan, para

pemegang saham, dan para calon investor sebagai prinsipal. Kedua, pihak

menajemen perusahaan sebagai agen. Ketiga, auditor independen, penjamin

emisi, komisaris independen, dan komite audit berkedudukan sebagai pihak

penengah untuk mengurangi terjadinya asimetri informasi antara prinsipal

dan agen.

Menurut Sasongko (2014), untuk mengurangi risiko diambil alihnya

hak kontrol penuh atas perusahaan, pemegang saham pengendali membeli

saham yang dijual saat proses IPO. Harga penawaran saham perdana yang

murah, akan membuka kesempatan pemegang saham pengendali untuk

mempertahankan kontrol efektif atas perusahaan dengan menambah


15

kepemilikan jumlah saham perusahaan tersebut. Hal ini untuk

mengantisipasi adanya pergeseran hak kontrol atas perusahaan dari

pemegang saham pengendali oleh investor baru yang potensial, sehingga

pemegang saham pengendali cenderung menerima penetapan harga saham

perdana dengan harga yang murah (underpricing).

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, dapat dinyatakan bahwa

teori agensi (agency theory) mengasumsikan bahwa semua individu

bertindak atas kepentingannya sendiri. Pemegang saham sebagai principal

diasumsikan hanya tertarik kepada hasil keuangan yang bertambah atau

investasi mereka di dalam perusahaan, sedangkan para agen disumsikan

menerima kepuasan berupa kompensasi keuangan dan syarat-syarat yang

menyertai dalam hubungan tersebut. Adanya perbedaan kepentingan

tersebut menyebabkan masing-masing pihak berusaha memperbesar

keuntungan bagi diri sendiri. Principal menginginkan pengembalian yang

sebesar-besarnya dan secepatnya atas investasi yang salah satunya

dicerminkan dengan kenaikan porsi dividen dari tiap saham yang dimiliki.

Agen menginginkan kepentingannya diakomodir dengan pemberian

kompensasi, bonus, insentif, remunerasi yang memadai dan sebesar-

besarnyanya atas kinerjanya. Perbedaan kepentingan ini bisa saja

disebabkan ataupun menyebabkan timbulnya kesenjangan informasi antara

pemegang saham dan organisasi. Perspektif hubungan keagenan merupakan

dasar yang digunakan untuk memahami corporate governance. Inti dari


16

hubungan keagenan adalah adanya pemisahan antara kepemilikan (di pihak

principal/investor) dan pengendalian (di pihak agent/manager).

2. Corporate Governance

a. Definisi Corporate Governance

Menurut Sukrisno dan Ardana (2013) Corporate Governance dapat

didefinisikan sebagai berikut:

Corporate Governance adalah tata kelola yang baik sebagai suatu


sistem yang mengatur hubungan peran dewan komisaris, peran
direksi, pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Tata
kelola perushaan yang baik juga disebut sebagai suatu proses yang
transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapiannya dan
penilaian kinerjanya.

Menurut Fahmi (2013) Corporate Governance adalah:

“Seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham,

manajer, kreditur, pemerintah, karyawan, dan pihak-pihak yang

berkepentingan lainnya baik internal maupun eksternal lainnya yang

berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka.”

Berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor Kep-117/M-

MBU/2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance

pada BUMN, Corporate Governance adalah: “Suatu proses dan struktur

yang digunakan oleh suatu organ BUMN untuk meningkatkan

keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai

Pemegang Saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan

kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan

dan nilai-nilai etika.”


17

Komite Cadbury (dalam Surya dan Yustiavandana, 2008)

mendefinisikan corporate governance sebagai berikut:

Corporate Governance adalah sistem yang mengarahkan dan


mengendalikan perusahaan dengan tujuan, agar mencapai
keseimbangan antara kekuatan kewenangan yang diperlukan oleh
perusahaan, untuk menjamin kelangsungan eksistensinya dan
pertanggungjawaban kepada stakeholders. Hal ini berkaitan dengan
peraturan kewenangan pemilik, Direktur, manajer, pemegang
saham dan sebagainya.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Corporate

Governance adalah suatu sistem dan seperangkat peraturan yang

mengatur hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris dan

dewan direksi agar kinerja perusahaan dijalankan dengan efektif, efisien,

transparan dan akuntabel demi tercapainya tujuan organisasi dan

menghindari kecurangan-kecurangan dalam manajemen perusahaan,

selain itu juga dapat menghasilkan laporan keuangan yang akuntabel

yang berguna bagi para penggunanya untuk mengambil keputusan.

Menurut peraturan BAPEPAM LK X.K.6 Lampiran Kep-

134/BL/2006 mengenai kewajiban penyampaian laporan tahunan bagi

emiten atau perusahaan publik No 2 poin g dijelaskan tentang Tata

Kelola Perusahaan (Corporate Governance). Laporan tahunan wajib

memuat uraian singkat mengenai penerapan tata kelola perusahaan yang

telah dan akan dilaksanakan oleh perusahaan dalam periode laporan

keuangan tahunan terakhir. Teori-teori yang berhubungan dengan

corporate governance diantaranya ada dua, yang pertama adalah agency

theory yang menjelaskan tentang hubungan kontraktual antara pihak


18

yang mendelegasikan keputusan tertentu dengan pihak yang menerima

pendelegasian tersebut (agen/direksi/manejemen). Dalam agency theory

ada beberapa asumsi dasar yang menjadi dasar yaitu:

1. Agency Conflict yaitu konflik yang timbul sebagai akibat dari


manajemen melakukan tindakan yang sesuai dengan
kepentingannya yang dapat mengorbankan kepentingan
pemegang saham untuk memperoleh return dan nilai jangka
panjang perusahaan.
2. Agency problem yang timbul sebagai akibat dari kesenjangan
antara kepentingan pemegang saham sebagai pemilik dan
manajemen sebagai pengelola.

Kedua, stewardship theory merupakan harmonisasi antara pemilik modal

(principles) dengan pengelola modal (steward) dalam mencapai tujuan

bersama tetapi secara implisit merefleksikan bagaimana akuntansi

membangun sebuah dasar kepemimpinan dan hubungan antara

shareholder dengan manajemen, atau bisa jadi antara top management

dengan jajaran manajemen lain di bawahnya dalam sebuah organisasi

perusahaan. Stewardship theory dapat dibangun diatas filosofi mengenai

sifat dasar manusia bahwa pada hakekatnya manusia itu dapat dipercaya,

mampu bertindak dengan penuh tanggung jawab, memiliki integritas, dan

kejujuran terhadap pihak lain.

Dalam perkembangannya di Indonesia, pada tahun 1999

dibentuklah Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance

(KNKCG) yang mengeluarkan pedoman untuk corporate governance

yang pertama di Indonesia. KNKCG menyatakan bahwa penerapan

corporate governance sangat diperlukan oleh perusahaan-perusahaan


19

terutama perusahaan di sektor publik. Hal tersebut dilakukan dalam

rangka:

1) Mendorong kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang

didasarkan pada asas transparansi, akuntabilitas, responsibilitas,

independensi, serta kesetaraan dan kewajaran.

2) Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing

organ perusahaan yaitu Dewan Komisaris, Direksi, dan Rapat Umum

Pemegang Saham.

3) Mendorong pemegang saham, dewan komisaris dan anggota direksi

agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya yang

dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap

peraturan perundang-undangan.

4) Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial

perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama

di sekitar perusahaan.

5) Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap

memperhatikan pemangku lainnya.

6) Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun

internasional, sehingga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat

mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang

berkesinambungan.
20

b. Prinsip-prinsip Corporate Governance

National Committee and Governance dalam Sukrisno dan Ardana

(2013) mengemukakan lima prinsip corporate governance, yaitu:

1) Transparansi (transparancy)

Untuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan

harus menyediakan informasi yang material dan relavan dengan cara

yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan.

2) Akuntabilitas (accountability)

Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara

transparan dan wajar.

3) Responsibilitas (responsibility)

Perusahaan harus mematuhi perundang-undangan serta melaksanakan

tanggung jawab terhadap masyarakat atau lingkungan sehingga dapat

terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat

pengakuan sebagai good corporate governance.

4) Independensi (independency)

Untuk melancarkan pelaksanaan GCG perusahaan harus dikelola

secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak

saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

5) Kesetaraan (fairness)

Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa

memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku

kepentingan lainnya berdasarkan asas kesetaraan dan kewajaran.”


21

Sebagaimana dijelaskan di atas, mengenai paradigma prinsip

Corporate Governance yang disusun OECD terdiri dari lima prinsip yang

dianggap ideal yang harus tercakup dalam setiap penerapan corporate

governance. Jika kelima prinsip tersebut dijabarkan dan dianalisis ke

dalam hukum perusahan Indonesia, dapat diketahui hal-hal sebagai

berikut (Moeljono, 2005):

1) Perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham

Hukum perusahaan di Indonesia, yaitu UUPT, mengenal beberapa

prinsip ini, namun, pengaturannya relatif sumir, dimana lebih banyak

prinsip yang belum atau tidak diterapkan, misalnya prinsip pencatatan

saham atau bukti pemilikan maupun prinsip perolehan informasi yang

relevan mengenai perseroan pada waktu yang tepat, kecuali pada

perusahaan publik, itupun masih belum sepenuhnya diterapkan.

Terlebih perusahaan privat yang berskala menengah dan kecil yang

kebanyakan tidak tercatat, bahkan sangat jarang dilakukan

pertanggung-jawaban direksi pada tiap akhir tahun buku peseroan atau

dilakukan audit, dan sebagainya.

2) Persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham

Hukum Perusahaan di Indonesia tidak secara holistik mengatur prinsip

ini, seperti yang diatur dalam Pasal 46 ayat (2) UUPT ditegaskan

bahwa “setiap saham dalam kualifikasi yang sama memberikan hak

yang sama kepada pemegang”, tetapi perlindungan terhadap setiap

pemegang saham ternyata belum equel. Jika ditelusuri lebih jauh,


22

prinsip ini salah satu aspek yang perlu diprioritaskan dalam penerapan

dan atau pengaturan corporate governance di Indonesia. Dalam

praktinya masalah perlindungan pemegang saham minoritas masih

sarat kontrovesi, dan sering sekadar hanya merupakan wacana

normatif. Contoh lain, penerapan Pasal 55 ayat (1) UUPT, yang

menentukan bahwa “Setiap pemegang saham berhak memintak

kepada perseroan agar sahamnya dibeli dengan harga yang wajar,

apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan perseroan yang

merugikan pemegang saham atau perseroan, berupa: perubahan

anggaran dasar, penjualan, penjaminan, pertukaran sebagian besar

atau seluruh kekayaan perseroan”, atau penggabungan, peleburan, atau

pengambialihan perseroaan”. Ketentuan pasal ini sangat limitatif dan

tidak menentukan secara imperatif mewajibkan perseroan membeli

saham dari pemegang saham minoritas, maupun sanksi jika perseroan

menolak membeli saham tersebut, dengan kata lain pemegang saham

minoritas tertutup untuk memanfaatkan pasal 55 UUPT.

3) Peranan stakeholders dan corporate governance

Prinsip ini merupakan wacana baru dalam praktik bisnis di Indonesia

di bawah payung UUPT, tidak ada ketentuan hukum perusahaan yang

secara jelas dan tegas mengatur hubungan organisasi perseroan

dengan stakeholder di luar Perseroan Terbatas. UUPT belum

mengakomodir prinsip ini, namun UUPT memberikan sarana kepada

pihak ketiga untuk memulihkan kepentingan yang dirugikan karena


23

perbuatan pemegang saham atau pengurus perseroan, misalnya sarana

yang diadakan untuk mengakomodir teori piercing the corporate veil,

dengan alasan penipuan, ketidakadilan, penindasan, dan lain-lain.

4) Keterbukaan dan Transparansi

Hukum Perusahaan yang berlaku di Indonesia tampaknya baru

mengakomodir prinsip disclosure and transparancy bahwa kewajiban

Direksi dan Komisaris dalam menjalankan tugas-tugasnya harus

dilandasi iktikad baik, tidak ada ketentuan yang jelas mengatur

kewajiban, atau sanksi apabila perseroan tidak menerapkan

keterbukaan dan atau transparansi. Yang banyak terjadi dalam praktik

justru tindakan-tindakan sebaliknya. Sudah menjadi rahasia umum

begitu banyak perusahaan yang mengaburkan berbagai informasi

menyangkut kegiatan perseroan dengan maksud seperti menyiasati

perpajakan atau ketenagakerjaan.

5) Akuntabilitas Dewan Komisaris (Board of Directors)

Kerangka corporate governance harus menjamin adanya pedoman

strategis perusahaan, pengawasan yang efektif terhadap manajemen

yang dilaksanakan oleh dewan komisaris, serta akuntabilitas dewan

komisaris terhadap pemegang saham maupun perseroan. Prinsip ini

juga tidak atau belum terakomodasi secara hakiki dalam hukum

perusahaan yang berlaku dewasa ini.

Berkaitan dengan prinsip-prinsip Corporate Governance di atas,

organ perusahaan yang terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham


24

(RUPS), Dewan Komisaris dan Direksi, mempunyai peranan penting

dalam pelaksanaan Corporate Governance secara efektif di dalam

perusahaan. Organ perusahaan tersebut harus menjalankan fungsinya

sesuai dengan ketentuan yang berlaku atas dasar prinsip bahwa masing-

masing organ mempunyai independensi dalam melaksanakan tugas,

fungsi dan tanggung jawabnya semata-mata untuk kepentingan

perusahaan.

c. Tujuan dan Manfaat Corporate Governance

Terdapat enam tujuan dalam penerapan Good Corporate

Governance (GCG) pada BUMN sesuai KEPMEN BUMN No. KEP-

117/M-MBU/2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate

Governance pada BUMN, yaitu:

1. Memaksimalkan nilai BUMN dengan cara meningkatkan prinsip


keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab
dan adil agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik
secara nasional maupun internasional.
2. Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, transparan
dan efesien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan
kemandirian organ.
3. Mendorong agar organ dalam membuat keputusan dan
menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan
kepatuhan terhadap perundang-undangan yang berlaku, serta
kesadaran akan adanya tanggungjawab sosial BUMN terhadap
stakeholder maupun kelestarian lingkungan di sekitar BUMN.
4. Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional.
5. Meningkatkan iklim investasi nasional.
6. Mensukseskan program privatisasi.

Sedangkan menurut FCGI (2006: 1) tujuan corporate governance

ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang

berkepentingan. Corporate governance dimaksudkan untuk:


25

1. Mengatur hubungan-hubungan antara pemegang saham, dewan


komisaris, dan dewan direksi.
2. Mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan yang signifikan
dalam strategi korporasi. Korporasi adalah mekanisme yang
dibangun agar berbagai pihak dapat memberikan kontribusi
berupa modal, keahlian (expertise), dan tenaga, demi manfaat
bersama.
3. Memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat
diperbaiki segera. Industri pasar modal telah berkembang.
Secara teoritis, pratik good corporate governance dapat
meningkatkan nilai (valuation) perusahaan dengan
meningkatkan kinerja keuangan mereka, mengurangi risiko yang
mungkin dilakukan oleh dewan dengan keputusan-keputusan
yang menguntungkan diri sendiri, dan umumnya corporate
governance dapat meningkatkan kepercayaan investor.

Corporate Governance dapat dimaknakan sebagai rangkaian

mekanisme dengan apa suatu perusahaan publik diarahkan dan

dikendalikan sesuai dengan harapan para stakeholders. Mekanisme

tersebut merefleksikan suatu struktur pengelolaan perusahaan dan

menetapkan distribusi hak dan tanggungjawab di antara berbagai

partisipan di dalam perusahaan.

Apabila perusahaan mengimplementasikan good corporate

governance, terdapat banyak manfaat yang dapat diambil oleh

perusahaan. Manfaat corporate governance menurut Surya dan

Yustiavandana (dalam Sukrisno dan Ardana, 2013) adalah:

1. Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing.


2. Mendapatkan biaya modal (cost of capital) yang lebih murah.
3. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan
kinerja ekonomi perusahaan.
4. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari para pemangku
kepentingan terhadap perusahaan.
5. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum.
26

Selain tujuan dan manfaat sebagaimana dijelaskan di atas,

penerapan corporate governance yang baik menurut Tunggal dan

Tunggal (2010) diakui dapat membantu mengebalkan perusahaan dari

kondisi yang tidak menguntungkan, dalam banyak hal corporate

governance yang baik telah terbukti meningkatkan kinerja perusahaan

sampai 30% di atas tingkat kembalian (rate of return) yang normal, oleh

karena itu, corporate governance yang baik memberikan manfaat pada

perbaikan dalam komunikasi, minimisasi potensi benturan, fokus pada

strategi-strategi utama, peningkatan dalam produktivitas dan efisiensi,

kesinambungan manfaat (sustainability of benefit), promosi citra

perusahaan (corporate image), peningkatan kepuasan pelanggan, dan

peroleh kepercayaan investor.

d. Mekanisme Pengukuran Corporate Governance

Mekanisme corporate governance merupakan suatu aturan main,

prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil

keputusan dengan pihak yang melakukan control, pengawasan terhadap

keputusan tersebut. Mekanisme corporate governance diarahkan untuk

menjamin dan mengawasi berjalannya sistem governance dalam sebuah

organisasi (Walsh dan Schward dalam Arifin, 2005).

Menurut Barnhart dan Rosenstein (dalam Simarmata, 2014)

mekanisme corporate governance dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

1) Internal mechanism (mekanisme internal), seperti struktur dewan

direksi/komisaris, kepemilikan manajerial, dan kompensasi eksekutif.


27

2) External mechanism (mekanisme eksternal), seperti pasar untuk

kontrol perusahaan, kepemilikan institusional dan tingkat pendanaan

dengan hutang.

Berikut ini beberapa mekanisme pelaksanaan Corporate

Governance yang dapat digunakan perusahaan-perusahaan dalam

menerapkan tata kelola perusahaan yang baik.

1) Kepemilikan Institusional

Menurut Widarjo (2010) kepemilikan institusional dapat

didefinisikan sebagai berikut: “Kepemilikan institusional merupakan

kondisi dimana institusi memiliki saham dalam suatu perusahaan.

Institusi tersebut dapat berupa institusi pemerintah, institusi swasta,

domestik maupun asing.”

Wahyudi dan Pawestri (dalam Sulistiani, 2013), menyatakan:

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham yang


dimiliki oleh pemilik institusi dan blockholders pada akhir
tahun. Yang dimaksud institusi adalah perusahaan investasi,
bank, perusahaan asuransi, maupun lembaga lain yang
bentuknya seperti perusahaan. Sedangkan yang dimaksud
blockholders adalah kepemilikan individu atas nama perorangan
di atas 5% yang tidak termasuk dalam kepemilikan manajerial.
Pemegang saham blockholders dengan kepemilikan saham di
atas 5% memiliki tingkat keaktifan lebih tinggi dibandingkan
pemegang saham institusional dengan kepemilikan saham di
bawah 5%.

Menurut Nabela (2012) kepemilikan institusional adalah:

“Proporsi saham yang dimiliki pada akhir tahun yang diukur dengan

presentase.” Widiastuti, Midiastuty, dan Suranta (2013)

mendefinisikan kepemilikan institusional sebagai berikut:


28

Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh


lembaga eksternal. Investor institusional sering kali menjadi
pemilik mayoritas dalam kepemilikan saham, karena para
investor institusional memiliki sumber daya yang lebih besar
daripada pemegang saham lainnya sehingga dianggap mampu
melaksanakan mekanisme pengawasan yang baik. Dari berbagai
pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemilikan
institusional adalah suatu kepemilikan di mana institusi yang
memiliki saham-saham di perusahaan lainnya.

Menurut Darmaji dan Fakhrudin (2006) saham dapat

didefinisikan sebagai berikut:

Saham dapat didefinisikan sebagai tanda atau kepemilikan


seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan
terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan
bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang
menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan
ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di
perusahaan tersebut.

Kepemilikan institusional, merupakan kepemilikan saham

perusahaan yang mayoritas dimiliki oleh institusi atau lembaga

(perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi, asset management,

dan kepemilikan institusi lain) (Alviyani, 2016).

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

kepemilikan institusional umumnya bertindak sebagai pihak yang

memonitor perusahaan. Kepemilikan institusional yang besar (lebih

dari 5%) mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor

manajemen. Semakin besar kepemilikan institusi maka akan semakin

besar kekuatan suara dan dorongan institusi tersebut untuk mengawasi

pihak manajemen.
29

Kepemilikan institusional memiliki wewenang lebih besar bila

dibandingkan dengan pemegang saham kelompok lain untuk

cenderung memilih proyek yang lebih berisiko dengan harapan akan

memperoleh keuntungan yang tinggi. Untuk membiayai proyek

tersebut, investor memilih pembiayaan melalui hutang. Dengan

kebijakan tersebut, mereka dapat mengalihkan penangguhan risiko

kepada pihak kreditor apabila proyek gagal. Bila proyek berhasil,

pemegang saham akan mendapat hasil sisa karena kreditor hanya akan

dibayar sebesar tertentu yaitu berupa bunga maka semakin tinggi

kepemilikan institusional, maka akan semakin tinggi kebijakan hutang

perusahaan, dikarenakan kepemilikan institusional pada perusahaan

manufaktur di Indonesia pada umumnya sangatlah besar (Faisal,

2004).

Metode pengukuran kepemilikan institusional menurut Jensen

dan Meckling (dalam Riska dan Ratih, 2009) sebagai berikut:

Jumlah saham yang dimiliki institusional


Kepemilikan Institusional = x 100%
Jumlah saham yang beredar akhir tahun

2) Kepemilikan Manajerial

Menurut Imanta dan Satwiko (2011), kepemilikan manajerial

adalah: “Kepemilikan saham perusahaan oleh pihak manajer atau

dengan kata lain manajer juga sekaligus sebagai pemegang saham.”

Menurut Jensen dan Meckling (dalam Herawaty, 2008) menemukan

bahwa: “Kepemilikan manajerial berhasil menjadi mekanisme untuk


30

mengurangi masalah keagenan dari manajer dengan menyelaraskan

kepentingan-kepentingan manajer dengan pemegang saham.”

Menurut Wahidahwati (dalam Rustendi dan Jimmi, 2008)

Kepemilikan Manajerial adalah: “Kepemilikan manajerial merupakan

pemegang saham dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam

pengambilan keputusan perusahaan (Direktur dan Komisaris).

Kepemilikan manajerial diukur dari jumlah prosentase saham yang

dimiliki manajer.” Sedangkan menurut Wulandari (2011) menyatakan

bahwa:

Kepemilikan saham oleh manajemen akan mengurangi agency


problem di antara manajer dan pemegang saham, yang dapat
dicapai melalui penyelarasan kepentingan diantara pihak-pihak
yang berbenturan kepentingan. Disisi yang lain, manajer yang
memiliki saham perusahaan dalam porsi yang besar memiliki
lebih banyak insentif untuk mengutamakan kepentingan sendiri
daripada kepentingan semua pemegang saham.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

kepemilikan manajerial merupakan pemilik aham perusahaan yang

berasal dari manajemen yang ikut serta dalam pengambilan keputusan

pada suatu perusahaan yang bersangkutan.

Meningkatnya kepemilikan saham oleh manajemen dianggap

dapat mengurangi manajer untuk mementingkan kepentingan pribadi,

dengan meningkatnya kepemilikan manajemen memungkinkan

manajemen meningkatkan kinerja lebih baik dalam memenuhi

kepentinga manajemen dan pemegang saham. Hal ini tejadi karena

jika manajer memiliki saham perusahaan, mereka akan memiliki


31

kepentingan yang sama dengan pemilik. Jika kepentingan manajer dan

pemilik sejajar (aligned) dapat mengurangi konflik keagenan. Namun,

apabila kepemilikan manajerial terlalu tinggi dapat menimbulkan

masalah seperti yang dijelaskan oleh Siswantaya (2007):

Tingkat kepemilikan manajerial yang tinggi dapat menimbulkan


masalah pertahanan. Artinya jika kepemilikan manajerial tinggi,
mereka mempunyai posisi yang kuat untuk mengendalikan
perusahaan dan pihak eksternal akan mengalami kesulitan untuk
mengendalikan tindakan manajer. Hal ini disebabkan karena
manajer mempunyai hak voting yang besar atas kepemilikan
manajerial.

Menurut Agnes dan Juniarti (dalam Sabila, 2012) kepemilikan

manajerial diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh

pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang beredar.

Pengukuran ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Jumlah saham pihak manajemen


Kepemilikan Manajerial = x 100%
Jumlah saham beredar

3) Komisaris Independen

Komisaris Independen menurut Agoes dan Ardana (2014)

adalah sebagai berikut:

Komisaris dan direktur independen adalah seseorang yang


ditunjuk untuk mewakili pemegang saham independen
(pemegang saham minoritas) dan pihak yang ditunjuk tidak
dalam kapasitas mewakili pihak mana pun dan semata-mata
ditunjuk berdasarkan latar belakang pengetahuan, pengalaman
dan keahlian profesional yang dimilikinya untuk sepenuhnya
menjalankan tugas demi kepentingan perusahaan.
32

Widjaja (2009), menyatakan komisaris independen adalah

sebagai berikut: “Komisaris independen adalah anggota dewan

komisaris yang diangkat berdasarkan keputusan RUPS dari pihak

yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham utama, anggota direksi

dan/atau anggota dewan komisaris lainnya.”

Menurut KNKG (2006), komisaris independen sebagai berikut:

Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang


tidak berafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris
lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari
hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat
mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau
bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan.
Dalam Pedoman Umum Good Corporate Governance (2006)

pengertian komisaris independen adalah: “Anggota dewan komisaris

yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya

dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis

atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya

untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata untuk

kepentingan perseroan.”

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan

bahwa komisaris independen merupakan anggota dewan komisaris

yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya

dan pemegang saham pengendali. Selain itu, komisaris independen

harus memahami undang-undang dan peraturan tentang pasar modal

serta diusulkan oleh pemegang saham yang bukan merupakan

pemegang saham pengendali dalam Rapat Umum Pemegang Saham.


33

Keberadaan komisaris independen diatur dalam peraturan

BAPEPAM No: KEP -315/BEJ/06-2000 yang disempurnakan dengan

surat keputusan No: KEP-339/BEJ/07-2001 yang menyatakan bahwa:

“setiap perusahaan publik harus membentuk komisaris independen

yang anggotanya paling sedikit 30% dari jumlah keseluruhan anggota

dewan komisaris.” Dewan yang terdiri dari dewan komisaris

independen yang lebih besar memiliki kontrol yang kuat atas

keputusan manajerial.

Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance dalam

Praditia (2010), menetapkan beberapa kriteria untuk menjadi

komisaris independen pada perusahaan tercatat sebagai berikut:

a) Tidak memiliki hubungan afiliasi dengan pemegang saham

pengendalin perusahaan yang bersangkutan.

b) Tidak memiliki hubungan afiliasi dengan Direktur dan/atau

Komisaris lainnya pada perusahaan yang bersangkutan.

c) Tidak bekerja rangkap sebagai Direktur di perusahaan lainnya yang

terafiliasi dengan perusahaan yang bersangkutan.

d) Tidak menduduki jabatan eksekutif atau mempunyai hubungan

bisnis dengan perusahaan yang bersangkutan dan perusahaan-

perusahaan lainnya yang terafiliasi dalam jangka waktu 3 tahun

terakhir.
34

e) Tidak menjadi partner atau principal di perusahaan konsultan yang

memberikan jasa pelayanan professional pada perusahaan dan

perusahaan-perusahaan lainnya yang terafiliasi.

f) Bebas dari segala kepentingan dan kegiatan bisnis atau hubungan

yang lain yang dapat diinterpretasikan akan menghalangi atau

mengurangi kemampuan Komisaris Independen untuk bertindak

dan berpikir independen demi kepentingan perusahaan.

g) Memahami peraturan perundang-undangan, Undang-Undang Pasar

Modal dan UU serta peraturan-peraturan lain yang terkait.

Menurut Sabila (2012) proporsi komisaris independen diukur

berdasarkan persentase jumlah dewan komisaris independen terhadap

jumlah total dewan komisaris yang ada. Pengukuran ini dapat

dirumuskan sebagai berikut:

Jumlah komisaris independen


Komisaris Independen = Jumlah anggota dewan komisaris yang ada x 100%

4) Komite Audit

Peraturan Nomor IX. 1.5 dalam lampiran Keputusan BAPEPAM

Nomor Kep-29/PM/2004 mengemukakan bahwa: “Komite Audit

adalah komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris dalam rangka

membantu melaksanakan tugas dan fungsinya.” Menurut Effendi

(2009), komite audit merupakan:


35

Suatu komite yang bekerja secara professional dan independen


yang dibentuk oleh dewan komisaris, dengan demikian tugasnya
adalah membantu dan memperkuat fungsi dewan komisaris
(atau dewan pengawas) dalam menjalankan fungsi pengawasan
(oversight) atas proses pelaporan keuangan, manajemen risiko,
pelaksanaan audit dan implementasi dari corporate governance
di perusahaan-perusahaan.

Sesuai dengan keputusan Bursa Efek Indonesia melalui Kep.

Direksi BEJ No.Kep-315/BEJ/06/2000, menyatakan bahwa komite

audit adalah: “Komite yang dibentuk oleh dewan komisaris

perusahaan, yang anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh dewan

komisaris yang bertugas membantu melakukan pemeriksaan atau

penelitian yang dianggap perlu terhadap pelaksanaan fungsi direksi

dalam pengelolaan perusahaan.”

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa komite

audit merupakan komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dengan

tujuan untuk membantu Komisaris Independen dalam menjalankan

tugas dan tanggung jawab pengawasan.

Daniri (dalam Pohan, 2013) menyebutkan “Sejak

direkomendasikan GCG di Bursa Efek Indonesia tahun 2000, komite

audit telah menjadi komponen umum dalam struktur corporate

governance perusahaan publik. BEI mengharuskan semua emiten

untuk membentuk dan memiliki komite audit yang diketuai oleh

komisaris independen.” Komite audit merupakan hal yang wajib untuk

dibentuk oleh perusahaan, hal tersebut seperti yang dipaparkan oleh

Daniri (dalam Pohan, 2013) bahwa:


36

Dewan komisaris wajib membentuk komite audit yang


beranggotakan sekurang-kurangnya tiga orang anggota, diangkat
dan diberhentikan serta bertanggung jawab kepada dewan
komisaris. Komite audit yang beranggotakan sedikit, cenderung
dapat bertindak lebih efisien, nemun juga memiliki kelemahan,
yakni minimnya ragam pengalaman anggota, sehingga anggota
komite audit seharusnya memiliki pemahaman memadai tentang
pembuatan laporan keuangan dan prinsip-prinsip pengawasan
internal. Kualifikasi terpenting dari anggota komite audit
terletak pada common sense, kecerdasan dan suatu pandangan
yang independen.

Adanya komite audit dalam setiap perusahaan akan memberikan

kualitas terhadap laporan keuangan yang disajikan perusahaan.

Menurut Price Waterhouse (yang dikutip oleh Siallagan dan

Machfoedz (2006), Komite audit meningkatkan integritas dan

kredibilitas pelaporan keuangan melalui:

a) Pengawasan atas proses pelaporan termasuk sistem pengendalian

Internal dan penggunaan prinsip akuntansi berterima umum

b) Mengawasi proses audit secara keseluruhan.

Hasilnya mengindikasikan bahwa adanya komite audit memiliki

konsekuensi pada laporan keuangan Menurut Price Waterhouse yang

dikutip oleh Siallagan dan Machfoedz (2006), yaitu:

a) Berkurangnya pengukuran akuntansi yang tidak tepat.

b) Berkurangnya pengungkapan akuntansi yang tidak tepat.

c) Berkurangnya tindakan kecurangan manajemen dan tindakan

ilegal.
37

Pengukuran komite audit menurut Hall (2007), yaitu:

Komite Audit = ∑ Anggota Komite Audit di Perusahaan

5) Reputasi Auditor

Menurut Kanagaretnam, dkk. (2010) auditor dengan reputasi

tinggi memiliki dorongan untuk menyediakan kualitas audit yang

tinggi secara terus-menerus untuk mencegah hal-hal yang

membahayakan yang merusak reputasi mereka. Mayhew (2010)

menyatakan: “Reputasi auditor dalam pengauditan adalah sebagai

mekanisme endogen yang menghasilkan upaya audit yang maksimal

dan sejalan dengan kualitas audit yang tinggi.”

Menurut Rudyawan dan Badera (2007), reputasi auditor adalah:

Auditor memiliki reputasi besar dan nama dapat memberikan


kualitas audit yang lebih baik, termasuk masalah kelangsungan
diungkapkan dengan mempertahankan reputasi mereka.
Sementara klien biasanya merasakan auditor yang berasal dari
lima besar atau berafiliasi dengan perusahaan akuntan
internasional yang karakteristiknya asosiasi dengan kualitas,
seperti pelatihan, pengakuan internasiona serta peer review.

Menurut Purba (2006), reputasi auditor adalah:

Penghakiman terhadap akuntan publik sering dilakukan, baik


oleh masyarakat maupun pemerintah dengan melihat kondisi
bangkrut tidaknya perusahaan yag diaudit. Hal itu berarti bahwa
saat ini nasib akuntan publik sepertinyadipertaruhkan pada jatuh
bangun bisnis perusahaan kliennya. Ini menunjukkan bahwa
reputasi auditor dipertaruhkan saat memberikan opini audit.

Menurut Perdana (2014) reputasi auditor dapat diukur dengan

mengklasifikasikan atas audit yang dilakukan oleh KAP The Big Four

dan audit yang dilakukan oleh KAP Non-Big Four. Jika perusahaan
38

diaudit oleh KAP The Big Four maka mendapat nilai 1 dan 0

sebaliknya. Kategori KAP The Big Four di Indonesia, yaitu:

a) KAP Price Waterhouse Coopers, yang bekerjasama dengan KAP

Drs. Hadi Susanto dan rekan, dan KAP Haryanto Sahari.

b) KAP KPMG (Klynveld Peat Marwick Goerdeler), yang

bekerjasama dengan KAP Sidharta-Sidharta dan Wijaya.

c) KAP Ernest and Young, yang bekerjasama dengan KAP Drs.

Sarwoko dan Sanjoyo, Prasetyo Purwantono.

d) KAP Deloitte Touche Thomatsu, yang bekerjasama dengan KAP

Drs. Hans Tuanokata dan Osman Bing Satrio.

Pada penelitian ini, mekanisme corporate governance yang diteliti

dan diduga memiliki hubungan dengan manajemen laba pada

perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2013-

2016 adalah kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi

komisaris independen.

3. Ukuran Perusahaan

a. Pengertian Ukuran Perusahaan

Brigham dan Houston (2010) mendefinisikan ukuran perusahaan

sebagai rata-rata total penjualan bersih untuk tahun yang bersangkutan

sampai beberapa tahun. Ukuran perusahaan merupakan karakteristik

suatu perusahaan dalam hubungannya dengan stuktur perusahaan.

Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar

kecilnya perusahaan. Terdapat berbagai proksi yang biasanya digunakan


39

untuk mewakili ukuran perusahaan, yaitu jumlah karyawan, total aset,

jumlah penjualan, dan kapitalisasi pasar. Semakin besar aset maka

semakin banyak modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka

semakin banyak perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar

maka semakin besar pula ia dikenal dalam masyarakat (Ningsaptiti,

2010).

Ukuran perusahaan adalah ukuran yang digunakan untuk

mengetahui apakah perusahaan memiliki aktivitas operasional yang lebih

kompleks sehingga memungkinkan dilakukan manajemen laba. Ukuran

perusahaan adalah suatu skala di mana dapat diklasifikasikan besar kecil

perusahaan menurut berbagai cara, antara lain total aktiva, log size,

penjualan dan nilai pasar saham (Kusumawardhani, 2012).

Kusumawardhani (2012) juga menjelaskan bahwa ukuran

perusahaan merupakan salah satu indikator yang digunakan investor

dalam menilai aset maupun kinerja perusahaan. Besar kecilnya suatu

perusahaan dapat dilihat dari total aktiva (asset) dan total penjualan (net

sales) yang dimiliki oleh perusahaan. Beberapa penelitian menggunakan

ukuran aktiva sebagai wakil dari ukuran perusahaan.

Menurut Yulia (2013), ukuran perusahaan pada dasarnya terbagi

dalam tiga kategori, yaitu:

1) Perusahaan Besar (Large Firm)

Perusahaan besar merupakan perusahaan yang memiliki total aset

yang besar. Perusahaan-perusahaan yang dikategorikan besar biasanya


40

merupakan perusahaan yang telah go publik di pasar modal dan

perusahaan besar ini memiliki aset sekurang-kurangnya Rp

200.000.000.000,00.

2) Perusahaan Menengah (Medium Firm)

Perusahaan mengengah merupakan perusahaan yang memiliki total

aset antara Rp 2.000.000.000,00 sampai Rp 200.000.000.000,00.

3) Perusahaan Kecil (Small Firm)

Perusahaan kecil merupakan perusahaan yang memiliki aset kurang

dari Rp 2.000.000.000,00 dan biasanya perusahaan kecil ini belum

terdaftar di Bursa Efek.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa

ukuran perusahaan merupakan merupakan skala perusahaan yang dapat

diklasifikasikan ke dalam besar kecilnya suatu perusahaan di dalam

industri sejenis. Ukuran perusahaan disini dapat merupakan faktor

penting untuk menjelaskan deviden tunai. Perusahaan yang memiliki

ukuran besar akan cenderung memiliki kemudahan dalam memasuki

pasar modal dan perusahaan besar cenderung akan memerlukan dana

yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang lebih kecil. Ukuran

perusahaan dapat digunakan untuk menilai kinerja suatu perusahaan.

Semakin besar ukuran perusahaan biasanya informasi yang tersedia

untuk pengambilan keputusan dalam perusahaan tersebut semakin

banyak.
41

b. Pengukuran ukuran perusahaan

Ukuran perusahaan merupakan cerminan besar kecilnya perusahaan

yang diukur dengan logaritma natural dari total aktiva (Putra, dkk.,

2009). Hal ini dikarenakan proksi tersebut mampu menggambarkan

ukuran perusahaan. Logaritma natural dari total aktiva dilakukan untuk

mentransformasi data total aktiva sampel perusahaan yang sangat

beragam.

Size = Logaritma natural dari total aktiva

(Putra, dkk., 2009)

Arifatun (2013) juga menggunakan total assets untuk mengukur

besar kecilnya suatu perusahaan. Sedangkan pada penelitian ini, ukuran

perusahaan merupakan cerminan besar kecilnya perusahaan yang diukur

dengan logaritma natural dari total aktiva.

4. Manajemen Laba

a. Pengertian Manajemen Laba

Manajemen laba dapat memberikan gambaran tentang perilaku

seorang manajer dalam melaporkan kegiatannya pada suatu periode

tertentu, dengan begitu kemungkinan timbul motivasi tertentu yang

mendorong manajer untuk merekayasa data keuangan. Menurut Perdana

(2012) mengemukakan bahwa manajemen laba merupakan tindakan

manajemen untuk memilih kebijakan akuntansi dari suatu standar

tertentu untuk mempengaruhi laba yang akan terjadi menjadi seperti yang
42

mereka inginkan melalui pengelolaan faktor internal yang dimiliki

perusahaan.

Konsep earning management menurut Salno dan Baridwan (dalam

Suryani dan Herianti, 2015) menggunakan pendekatan teori keagenan

(agency theory) yang menyatakan bahwa ”praktek earning management

dipengaruhi oleh konflik antara kepentingan manajemen (agent) dan

pemilik (principal) yang timbul karena setiap pihak berusaha untuk

mencapai atau mempertimbangkan tingkat kemakmuran yang

dikehendakinya.” Healy dan Wahlen (dalam Suryani dan Herianti, 2015)

menyatakan bahwa earning management terjadi ketika para manajer

menggunakan keputusannya dalam pelaporan keuangan dan dalam

melakukan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan baik

untuk menimbulkan gambaran yang salah bagi stakeholder tentang

kinerja ekonomis perusahaan, ataupun untuk mempengaruhi hasil

kontraktual yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang

dilaporkan.

Seperti yang dinyatakan Priantara (2013) bahwa earnings

management merupakan manipulasi data secara aktif untuk suatu target

yang sudah ditentukan sebelumnya untuk suatu proyeksi keuangan yang

sudah dibuat, atau untuk mendapatkan suatu angka yang konsisten

dengan arus dan trend laba yang tidak fluktuatif dan lebih berkelanjutan.

Kemudian Akers, Giacomino, dan Bellovary (dalam Priantara, 2013)

bahwa manajemen laba digunakan untuk mempengaruhi atau


43

memanipulasi laba yang dilaporkan dengan metode akuntansi atau

perubahan metode, pengakuan transaksi sesaat yang tidak berulang,

menangguhkan atau mempercepat beban atau pendapatan, atau

penggunaan metode lain untuk mempengaruhi laba jangka pendek.

Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa

manajemen laba merupukan suatu tindakan manajer dalam memanipulasi

data laporan keuangan dengan sengaja agar target suatu perusahaan

terpenuhi sehingga akan menyesatkan bagi pihak stakeholder yang ingin

mengetahui kinerja dan kondisi keuangan perusahaan. Manajemen laba

yaitu suatu kemampuan untuk memanipulasi pilihan-pilihan yang

tersedia dan mengambil pilihan yang tepat untuk dapat mencapai tingkat

laba yang diinginkan.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Manajemen Laba

Keiso, dkk. (2007) menyatakan bahwa kecurangan pelaporan

keuangan biasanya terjadi karena kondisi yang ada dalam lingkungan

internal dan eksternal. Lingkungan internal berkaitan dengan buruknya

pengendalian internal, buruknya perilaku etis manajemen, dan likuiditas

atau profitabilitas perusahaan. Lingkungan eksternal berkaitan dengan

kondisi industri, lingkungan bisnis secara keseluruhan, atau karena

pertimbangan hukum dan peraturan.

Ada beberapa teori mengenai motivasi manajemen laba. Watts dan

Zimmerman (Belkaoui, 2006) mengemukakan 3 faktor yang terkait


44

dengan perilaku manajer dalam pemilihan kebijakan akuntansi. Tiga

faktor ini disebut dengan tiga hipotesis teori akuntansi positif.

1) Bonus Plan Hypothesis (Hipotesis Rencana Bonus)

Hipotesis ini membicarakan tentang hubungan pemilihan metode

akuntansi dengan rencana bonus manajer. Manajer perusahaan dengan

adanya rencana bonus kemungkinan besar memilih metoda akuntansi

yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Rencana

bonus yang berdasarkan laba dapat memotivasi manajemen

perusahaan untuk lebih banyak menggunakan metoda akuntansi yang

meningkatkan laba yang dilaporkan.

2) Debt Covenant Hypothesis (Hipotesis Ekuitas Utang)

Hipotesis ini menyatakan bahwa semakin tinggi utang/ekuitas

perusahaan, yaitu sama dengan semakin dekatnya (semakin ketat)

perusahaan terhadap batasan-batasan yang terdapat pada perjanjian

utang dan semakin besar kesempatan atas pelanggaran perjanjian dan

terjadinya biaya kegagalan teknis, maka semakin besar kemungkinan

para manajer menggunkan metode-metode akuntansi yang dapat

meningkatkan laba.

3) Political Cost Hypothesis (Hipotesis Biaya Politis)

Semakin besar perusahaan semakin besar pula kemungkinan

perusahaan tersebut memilih metoda akuntansi yang menurunkan

laba. Hal tersebut dikarenakan dengan laba yang tinggi pemerintah

akan segera mengambil tindakan, misalnya mengenakan peraturan


45

anti trust, subsidi pemerintah, pajak dan tarif, persaingan dengan

perusahaan asing, serta regulasi-regulasi lain.

Stice, dkk. (2007) menjelaskan pendorong para manajer untuk

melakukan manajemen laba, yaitu:

1) Memenuhi target internal perusahaan.


2) Memenuhi harapan eksternal.
3) Meratakan atau memuluskan laba (income smoothing).
4) Mempercantik laporan keuangan (window dressing) untuk keperluan
penjualan saham perdana (initioal public offering-IPO) atau untuk
memperoleh pinjaman dari bank.

Perbedaan kepentingan antara manajemen dan pemilik perusahaan yang

dapat menimbulkan tindakan manajemen laba. Perbedaan kepentingan

antara pihak agen dan prinsipal dapat disejajarkan dengan penerapan

mekanisme good corporate governanance baik mekanisme secara

eksternal maupun internal.

Menurut Man dan Wong (2013) mekanisme ekternal mendukung

kepentingan stakeholders, dan termasuk undang-undang perlindungan

hukum dan aturan pengambilalihan. Mekanisme internal meliputi

kepemilikan saham inside struktur dewan komisaris dan karakteristiknya,

proporsi dewan direksi independen, latar belakang direktur, komite audit,

komite remunerasi, dan struktur kepemilikan perusahaan, kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial, komite audit independen, dan

dewan komisaris independen.

Peluang manajemen untuk melakukan manajemen laba bisa timbul

apabila terdapat situasi dimana manajer mempunyai kesempatan dan


46

upaya untuk mendeteksi sulit dilakukan. Menurut Keiso, dkk. (2007)

peluang tersebut sering timbul dari:

1) Tidak adanya dewan direksi atau komite audit yang mengawasi

peroses pelaporan keuangan.

2) Pengendalian internal yang lemah atau bahkan tidak ada.

3) Terjadi transaksi yang rumit atau tidak biasa, seperti merger dan

penutupan operasi tertentu.

4) Estimasi akuntansi yang memerlukan pertimbangan subjektif yang

signifikan oleh manajemen perusahaan, seperti cadangan atas kerugian

piutang.

5) Staf audit internal yang tidak efektif yang disebabkan oleh jumlah staf

audit yang tidak memadai dan lingkup audit yang amat terbatas.

c. Teknik Manajemen Laba

Stice, Stice, dan Skousen (2007) menyatakan bahwa konsep

akuntansi akrual yang fleksibel dan standar akuntansi yang telah

disebarluaskan dapat memberikan kesempatan bagi manajemen untuk

mengatur laba perusahaan. Para akauntan menambahkan nilai informasi

dengan menggunkan estimasi dan asumsi-asumsi untuk mengubah data

aliran kas yang masih mentah menjadi data akrual. Teknik-teknik yang

secara umum yang digunakan dalam manajemen laba adalah sebagai

berikut (Stice, Stice, dan Skousen, 2007):


47

1) Penggantian secara strategis

Laba yang stabil dapat diperoleh perusahaan dengan memastikan

bahwa beberapa transaksi penting telah diselesaikan dengan cepat atau

ditunda sehingga dapat diakui pada kuartal yang paling

menguntungkan.

2) Perubahan pada metode atau estimasi dengan pengungkapan penuh

Estimasi akuntansi berhubungan dengan piutang tak tertagih, retur

atau dana pensiun, umur ekonomis asset, dan lain-lain. Apabila

perubahan estimasi di ungkapkan secara menyeluruh dalam laporan

keuangan, maka manajemen laba dapat dideteksi dengan mudah oleh

para pengguna laporan keuangan.

3) Perubahan dalam metode akuntansi atau estimasi dengan

pengungkapan yang minimal atau tanpa pengungkapan sama sekali

Banyak perusahaan yang sering mengganti estimasi akuntansinya

yang berhubungan dengan piutang tak tertagih, retur, dana pensiun,

umur ekonomis, aktiva dan lain-lain.

4) Akuntansi Non-GAAP

Manajemen laba yang secara sopan dapat dilakukan melalui akuntansi

non-GAAP. Akuntansi non-GAAP sebenarnya dapat juga terjadi

akibat kesalahan yang tidak disengaja atau kekurang hati-hatian.

5) Transaksi fiktif

Contoh dari transaksi fiktif seperti yang dilakukan oleh para manajer

di Xerox Meksiko secara sembunyi-sembunyi menyewa gudang yang


48

digunakan untuk menyimpan barang-barang dagangan yang diretur

untuk menghindari pencatatan retur penjualan.

Menurut Sulistiawan, Januarsi dan Alvia (2011: 43) Secara umum

teknik illegal yang biasanya dijumpai dalam praktik manajemen laba

dapat dikelompokan ke dalam beberapa teknik. Teknik-teknik umum

yang digunakan dalam manajemen laba, yaitu:

1) Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi.

Teknik dalam melakukan manajemen laba ini dilakukan dengan

tujuan untuk mempengaruhi laba akuntansi melalui kebijakan dalam

membuat estimasi akuntansi. Beberapa bentuk estimasi akuntansi

tersebut antara lain sebagai berikut.

a) Estimasi dalam menentukan besarnya jumlah piutang tidak

tertagih, baik dengan presentase penjualan maupun presentase

piutang.

b) Estimasi dalam menentukan umur ekonomis aset baik aset tetap

maupun aset tidak berwujud.

c) Estimasi tingkat bunga pasar yang digunakan untuk mendiskonto

arus pada masa mendatang untuk penilaian kewajaran aset yang

tidak memiliki pembanding atau kewajaran nilai obligasi.

Cara untuk membuat tambahan atau pengurangan laba adalah

mengubah estimasi akuntansi. Perubahan estimasi akuntansi ini

disesuaikan dengan kebutuhan penyajian laporan keungan. Jika

mengharapkan kenaikan laba, maka perusahaan dapat mengubah


49

estimasi aset tetap atau aset tidak berwujud menjadi lebih panjang.

Hasilnya, laba menjadi lebih tinggi karena biaya penyusutan menurun.

2) Mengubah metode akuntansi

Metode akuntansi merupakan pilihan-pilihan yang disediakan

oleh standar akuntansi akuntansi (accounting choices) dalam menilai

aset perusahaan. Dan pemilihan atas metode akuntansi akan

memberikan outcome yang berbeda bagi manajemen, pemilik,

maupun pemerintah. Pemilihan metode akuntansi disini digunakan

oleh seorang manajer untuk atau pengelola perusahaan untuk

memaksimalkan nilai perusahaan menurut sprektifnya masing-masing.

3) Menggeser periode biaya atau pendapatan

Teknik ini dilakukan untuk mempercepat atau menunda

pengakuan pendapatan dan biaya dengan cara menggeser pendapatan

dan biaya ke periode berikutnya agar memperoleh laba maksimum.

Teknik ini biasanya ditemukan pada perusahaan yang akan melakukan

IPO. Seorang manajer akan mempercepat pengakuan pendapatan

periode mendatang dengan melaporkan ke periode tahun berjalan agar

kinerja perusahaan pada tahun menjelang IPO terlihat baik atau

menunjukkan laba yang maksimal.

4) Mengklasifikasi akun

Pada bagian klasifikasi akun, permainan akuntansi dilakukan

dengan memindahkan posisi akun dari satu tempat ke tempat lainnya.

Jadi, sebenarnya suatu laporan keuangan yang disajikan sudah sama,


50

tetapi karena kelihaian penyajianya, laporan keuangan ini bisa

memberikan dampak interprestasi yang berbeda dari penggunanya.

Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa teknik-

teknik manajemen laba meliputi penggantian secara strategis, perubahan

pada metode atau estimasi dengan pengungkapan penuh, perubahan

dalam metode akuntansi atau estimasi dengan pengungkapan yang

minimal atau tanpa pengungkapan, akuntansi Non-GAAP, transaksi

fiktif, menggeser periode biaya atau pendapatan, mengklasifikan akun.

B. Kerangka Berpikir

Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham yang dimiliki

oleh investor institusi. Pemilik institusional merupakan pemilik yang dianggap

cenderug lebih hati-hati dan teliti dalam menggunakan informasi keuangan.

Selain itu, tindakan pengawasan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dan

investor institusional dapat membatasi perilaku manajer. Dengan demikian,

keberadaan investor institusional dapat mendorong manajer untuk mendorong

perhatiaannnya terhadap kinerja perusahaan sehingga investor institusional

dianggap mampu menjadi mekanisme monitoring yang efektif dalam setiap

keputusan yang diambil oleh manajer. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat

disimpulkan bahwa semakin besar saham yang dimiliki oleh pemegang saham

institusional akan meminimalisir tindakan manajer untuk melakukan

manajemen laba melalui manipulasi aktivitas riil.

Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham yang dimiliki

oleh manajemen perusahaan. Ada tidaknya kepemilikan saham oleh


51

manajemen akan mepengaruhi motivasi manajemen dalam setiap tindakan

manajer. Kepemilikan saham oleh manajemen dapat menyetarakan

kepentingan pemegang saham dengan manajer sehingga konflik kepentingan

dapat dikurangi. Selain itu, semakin besar proporsi kepemilikan manajemen

pada perusahaan maka manajemen cenderung berusaha lebih giat untuk

memaksimalkan kepentingan pemegang saham yang juga termasuk dirinya

sendiri. Jadi, dapat disimpulkan bahwa semakin besar saham yang dimiliki oleh

manajemen dapat mengurangi motivasi manajer untuk melakukan manajemen

laba melalui manipulasi aktivitas riil.

Ukuran perusahaan dapat menentukan banyak sedikitnya praktik

manajemen laba perusahaan. Perusahaan dengan ukuran yang relatif besar akan

dilihat kinerjanya oleh publik sehingga perusahaan tersebut akan melaporkan

kondisi keuangannya dengan lebih berhati-hati, lebih menunjukkan

keinformatifan informasi yang terkandung di dalamnya, dan lebih transparan.

Oleh karena itu, perusahaan lebih sedikit dalam melakukan praktik manajemen

laba. Sedangkan perusahaan yang mempunyai ukuran yang lebih kecil

mempunyai kecenderungan untuk melakukan manajemen laba dengan

melaporkan laba yang lebih besar untuk menunjukkan kinerja perusahaan yang

memuaskan. Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar

kecilnya perusahaan. Terdapat berbagai proksi yang biasanya digunakan untuk

mewakili ukuran perusahaan, yaitu jumlah karyawan, total aset, jumlah

penjualan, dan kapitalisasi pasar. Semakin besar aset maka semakin banyak

modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka semakin banyak


52

perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar pula

ia dikenal dalam masyarakat. Perusahaan yang berukuran besar biasanya

memiliki peran sebagai pemegang kepentingan yang lebih luas. Hal ini

membuat berbagai kebijakan perusahaan besar akan memberikan dampak yang

besar terhadap kepentingan publik dibandingkan perusahaan kecil. Perusahaan

yang besar lebih diperhatikan oleh masyarakat sehingga mereka lebih berhati-

hati dalam melakukan pelaporan keuangan, sehingga berdampak perusahaan

tersebut harus melaporkan kondisinya lebih akurat.

Berdasarkan hal tersebut maka dapat diilustrasikan kerangka berpikir

teoritis sebagai berikut:

Perusahaan Manufaktur Sektor Food & Beverages yang


Terdaftar di BEI Periode 2013-2016

Laporan Keuangan

Mekanisme Corporate Ukuran Perusahaan


Governance

Manajemen Laba

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir Penelitian


53

C. Hipotesis Penelitian

1. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen Laba Pada

Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI

Adanya kepemilikan institusional di suatu perusahaan akan

mendorong peningkatan pengawasan terhadap kinerja manajemen. Semakin

besar kepemilikan institusi maka akan semakin besar kekuatan suara dan

dorongan dari institusi keuangan tersebut untuk mengawasi manajemen dan

akibatnya akan memberikan dorongan yang lebih besar bagi manajemen

untuk mengoptimalkan kinerja perusahaan dan menyelaraskan kepentingan

manajemen dengan pemegang saham atau stakeholder.

Moh’d et al. (dalam Midiastuty dan Mahfoedz, 2013) menyatakan

bahwa investor institusional merupakan pihak yang dapat memonitor agen

dengan kepemilikannya yang besar, sehingga motivasi manajer untuk

mengatur laba menjadi berkurang. Midiastuty dan Mahfoedz (2013)

menemukan hubungan negatif antara kepemilikan manajerial berpengaruh

negatif terhadap manajemen laba. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu,

dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

Ha1 : Diduga kepemilikan institusional berpengaruh negatif signifikan

terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar

di BEI periode 2013-2016.


54

2. Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Manajemen Laba Pada

Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI

Kepemilikan manajerial dianggap sebagai salah satu faktor yang

berpengaruh terhadap manajemen laba yang dilakukan manajer. Jika

manajer mempunyai kepemilikan pada perusahaan maka mnajer akan

bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham karena manajer juga

mempunyai kepentingan di dalamnya. Faisal (2014) menyatakan bahwa

besar kecilnya jumlah kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan

dapat mengindikasikan adanya kesamaan (congruance) kepentingan antara

manajemen dengan pemegang saham.

Hasil penelitian Ujiyantho dan Pramuka (2007) menyatakan adanya

pengaruh negatif antara kepemilikan manajerial dengan manajemen laba.

Midiastuty dan Mahfoedz (2013) menemukan hubungan negatif antara

kepemilikan manajerial dengan manajemen laba. Dari penelitian tersebut,

maka hipotesis penelitian ini adalah:

Ha2 : Diduga kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan

terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar

di BEI periode 2013-2016.

3. Pengaruh Proporsi Komisaris Independen terhadap Manajemen Laba

Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI

Dewan komisaris memiliki peran untuk memonitor kebijakan direksi.

Peran komisaris ini diharapkan dapat meminimalisir permasalahan agensi

yang muncul antara dewan direksi dan pemengang saham, sehingga kinerja
55

yang dihasilkan oleh perusahaan sesuai dengan tujuan yang telah

direncanakan. Vafeas (dalam Aji, 2012) menyatakan bahwa peranan dewan

komisaris diharapkan dapat meningkatkan kualitas laba dengan membatasi

tingkat manajemen laba melalui fungsi monitoring atas pelaporan keuangan.

Proporsi komisaris independen adalah perbandingan jumlah komisaris

independen yang dimiliki suatu perusahaan terhadap jumlah seluruh anggota

dewan komisaris. Semakin tinggi proporsi komisaris independen maka

semakin baik fungsi pengawasan terhadap manajemen, sehingga dapat

menghambat praktik manajemen laba (Setiawan, 2009). Berdasarkan uraian

tersebut, maka hipotesis penelitian ini adalah:

Ha3 : Diduga proporsi komisaris independen berpengaruh positif signifikan

terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar

di BEI periode 2013-2016.

4. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba Pada

Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI

Ukuran perusahaan dapat menentukan banyak sedikitnya praktik

manajemen laba perusahaan. Perusahaan dengan ukuran yang relatif besar

akan dilihat kinerjanya oleh publik sehingga perusahaan tersebut akan

melaporkan kondisi keuangannya dengan lebih berhati – hati, lebih

menunjukkan keinformatifan informasi yang terkandung di dalamnya, dan

lebih transparan. Oleh karena itu, perusahaan lebih sedikit dalam melakukan

praktik manajemen laba. Sedangkan perusahaan yang mempunyai ukuran

yang lebih kecil mempunyai kecenderungan untuk melakukan manajemen


56

laba dengan melaporkan laba yang lebih besar untuk menunjukkan kinerja

perusahaan yang memuaskan. Chtourou (2001) menemukan bukti bahwa

ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba pada

perusahaan di Amerika. Ini berarti, perusahaan yang besar mempunyai

peluang yang lebih sedikit dalam melakukan praktik manajemen laba dan

sebaliknya, perusahaan yang lebih kecil mempunyai peluang yang lebih

besar dalam melakukan praktik manajemen laba. Hasil penelitian Veronica

dan Utama (2005) menunjukkan adanya pengaruh negatif signifikan antara

ukuran perusahaan dengan manajemen laba perusahaan. Nuryaman ( 2008)

menemukan bukti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap

manajemen laba. Dari penelitian tersebut, maka hipotesis penelitian ini

adalah:

Ha4 : Diduga ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap

manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI

periode 2013-2016.

5. Pengaruh Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial,

Proporsi Komisaris Independen, dan Ukuran Perusahaan terhadap

Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI

Pembahasan antara mekanisme corporate governance yang meliputi

kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, serta proporsi komisaris

independen dan ukuran perusahaan dengan manajemen laba telah diuraikan

pada masing-masing hipotesis. Oleh karena itu, berdasarkan uraian tersebut,

hipotesis yang diajukan sebagai berikut:


57

Ha5 : Diduga kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi

komisaris independen, dan ukuran perusahaan secara simultan

berpengaruh signifikan terhadap underpricing saham perdana pada

perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode

2011-2015.