Anda di halaman 1dari 14

Lampiran 4

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : ASI Eksklusif


Sasaran : Ibu hamil
Tempat : Balai desa Plesungan Kecamatan Kapas Bojonegoro
Penyuluh : Susilowati Mahasiswa RPL DIII Keperawatan Kampus Tuban
Hari/Tanggal : Januari 2018
Waktu : 09.00 – selesai

I. LATAR BELAKANG
Memberikan ASI (Air Susu Ibu) merupakan salah satu kewajiban seorang ibu
yang baru saja melahirkan bayi. Bayi berhak mendapatkan ASI selama 0-6 bulan
tanpa makanan maupun minuman tambahan, dimulai sejak bayi dilahirkan dan
paling lama satu jam setelah bayi lahir. Untuk mendukung niat yang telah ada,
maka seharusnya seorang ibu harus memperbanyak pengetahuan mengenai ASI
dan menyusui terutama menyangkut keunggulan, komposisi, manfaat, dan
keutamaannya. Pengetahuan tersebut diperlukan agar semakin memantapkan niat
ibu untuk memberikan ASI (Nurani, 2013).
II. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah diberikan pendidikan kesehatan sasaran diharapkan mampu
memahami tentang ASI Eksklusif
III. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah dilakukan penyuluhan berupa pendidikan kesehatan brainstorming
selama 30 menit diharapkan pasien mampu memahami:
1. Pengertian ASI eksklusif
2. Jenis-jenis ASI
3. Macam-macam ASI
4. Komposisi ASI
5. Manfaat ASI eksklusif
6. Volume ASI
7. Cara penyimpanan ASI
8. Faktor-faktor yang mempengaruhi
9. Teknik menyusui
IV. METODE PELAKSANAAN
1. Demonstrasi
V. SASARAN
1. Ibu hamil di Desa Plesungan Kecamatan Kapas Bojonegoro 32 orang
VI. STRATEGI PELAKSANAAN
a. Hari/ tgl : Januari 2018
b. Waktu : 09.00 - selesai
c. Tempat : Balai desa Plesungan Kecamatan Kapas Bojonegoro
d. Penyuluh : Susilowati

AKTIVITAS
No. WAKTU RENCANA KEGIATAN
PENYAJI PESERTA
1. 5 menit Pembukaan
a) Mengucap salam. a) Mengucap salam. a) Menjawab salam
b) Memperkenalkan b) Membacakan tujuan b) Mendengarkan
diri. instruksional umum dan
c) Menjelaskan tujuan khusus.
dari pelaksanaan. c) Membacakan materi c) Memperhatikan
d) Menyebutkan materi penyuluhan.
penyuluhan.

2. 10 menit Pelaksanaan:
a) Penyampaian Materi a) Bertanya pada peserta a) Menyamaikan
 Pengertian ASI tentang: pendapatnya secara
eksklusif  Pengertian ASI bergantian
 Jenis-jenis ASI eksklusif
 Macam-macam  Jenis-jenis ASI
ASI  Macam-macam ASI
 Komposisi ASI  Komposisi ASI
 Manfaat ASI  Manfaat ASI
eksklusif eksklusif
 Volume ASI  Volume ASI
 Cara penyimpanan  Cara penyimpanan
ASI ASI
 Faktor-faktor yang
mempengaruhi
pemberian ASI
 Teknik menyusui
b) Memberikan b) Menjawab pertanyaan
kesempatan pada b) Memperhatikan

peserta untuk bertanya

3. 10 menit Evaluasi:
a) Mengevaluasi peserta a) Membagikan lembar a) Mengisi lembar
tentang materi yang kuesioner keusioner sesuai
sudah disampaikan petunjuk
dengan cara mengisi
lembar kuesioner
pengetahuan
4. 5 menit Terminasi:
a) Mengucapkan a) Mengucapkan terima a) Mendengarkan
terimakasih atas kasih
terselenggaranya
penyuluhan kesehatan
dengan lancar
b) Memberikan salam b) Mengucapkan salam b) Menjawab salam
penutup
VII. MEDIA DAN ALAT
a. Leaflet
b. Kuesioner pengetahuan
VIII. SETTING TEMPAT

: Audience

: Penyaji

IX. EVALUASI
1. Mengisi lembar kuesioner
X. KRITERIA EVALUASI
Evaluasi Struktur
1. Persiapan materi yang disampaikan
2. Persiapan peserta yang akan diberi penyuluhan
3. Kontrak waktu dengan peserta sebelumnya
Evaluasi Proses
1. Peserta antusias terhadap materi yang diberikan
2. Peserta tidak meninggalkan tempat penyuluhan sebelum acara selesai
Evaluasi Hasil
1. Tingkat pengetahuan baik bila skor atau nilai 76-100%.
2. Tingkat pengetahuan cukup bila skor atau nilai 56-75%.
3. Tingkat pengetahuan kurang bila skor atau nilai ≤ 56%
LAMPIRAN MATERI
I. Definisi ASI Ekslusif
ASI ekslusif adalah bayi hanya diberi ASI selama 6 bulan tapa tambahan cairan
lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh dan air putih, serta tanpa tambahan
makanan padat seperti, pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan nasi tim,
kecuali vitamin, mineral dan obat. Selama 6 bulan, bayi boleh diberi makanan
pendamping ASI (MPASI) dan ASI masih diberikan hingga bayi berusia 2 tahun
atau lebih (Prasetyono, 2013).
II. Jenis-jenis ASI
1) Foremilk: adalah ASI yang encer yang diproduksi pada awal proses menyusui
dengan kadar air tinggi dan mengandung banyak protein, laktosa, serta nutrisi
lainnya, tetapi rendah lemak. Foremik disimpan pada saluran penyimpanan
dan keluar pada awal menyusui. Foremik merupakan ASI yang keluar pada
lima menit pertama. ASI ini lebih encer dibandingkan hindmilk, dihasilkan
sangat banyak, dan cocok untuk menghilangkan rasa haus bayi.
2) Hindmilk: adalah ASI yang mengandung tinggi lemak yang memberikan
banyak zat tenaga/energi dan diproduksi menjelang akhir proses menyusui.
Hindmilk keluar setelah foremilk habis saat menyusui hamper selesai,
sehingga bisa dianalogikan seperti hidangan utama setelah hidangan
pembuka. Air susu ini sangat kaya, kental, dan penuh lemak bervitamin.
Hindmilk mengandung lemak 4-5 kali dibandingkan foremilk. Bayi
memerlukan foremilk dan hindmilk.
III. Komposisi ASI
1) Karbohidrat dalam ASI: Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan
berfungsi sebagai salah satu sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang
terdapat dalam ASI hampir 2 kali lipat dibandingkan laktosa yang ditemukan
pada susu sapi. Selain laktosa yang merupakan 7% dari total ASI juga
terdapat glukosa, galaktosa dan glukosamin. Galaktosa ini penting untuk
pertumbuhan otak dan medulla spinalis karena pembentukan myelin di
medulla spinalis dan sintesis galaktosida di otak membutuhkan galaktosa.
2) Protein dalam ASI: Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya
berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu sapi.
3) Lemak dalam ASI: Kadar lemak dalam ASI dan susu sapi relatife sama,
merupakan sumber kalori yang utama bagi bayi. Kadar lemak ini dibutuhkan
untuk mendukung pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. Terdapat
beberapa perbedaan antara profil lemak yang ditemukan dalam ASI dan susu
sapi. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan pada perkembangan otak
bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI banyak mengandung
banyak asam lemak rantai panjang diantaranya asam dokosaheksonik (DHA)
dan asam arakidonat (ARA) yang berperan terhadap perkembangan jaringan
saraf dan retina mata. ASI mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh yang
seimbang dibanding susu sapi yang lebih banyak mengandung asam lemak
jenuh.
4) Vitamin dalam ASI: Vitamin dalam ASI dapat dikatakan lengkap. Vitamin A,
D dan C cukup, sedangkan golongan vitamin B.
5) Mineral dalam ASI: Mineral utama yang terdapat di dalam ASI adalah
kalsium yang mempunyai fungsi untuk pertumbuhan jaringan otot dan
rangka, transmisi jaringan saraf dan pembekuan darah. Kandungan zat besi di
dalam ASI lebih mudah siserap yaitu 20-50% dibandingkan hanya 4-7% pada
susu formula. Sehingga bayi yang mendapat ASI mempunyai risiko lebih
kecil untuk mengalami kekurangan zat besi dibanding dengan bayi yang
mendapat susu formula. Mineral zink dibutuhkan oleh tubuh karena
merupakan mineral yang banyak membantu berbagai proses metabolisme di
dalam tubuh.
6) Air dalam ASI: Kira-kira 88% dari ASI terdiri dari air. Air ini berguna untuk
melarutkan zat-zat yang terdapat di dalamnya. ASI merupakan sumber air
yang secara metabolik adalah aman. Air yang relatif tinggi dalam ASI ini
akan meredakan rangsangan haus dari bayi.
7) Kalori dalam ASI: Kalori ASI eksklusif relative rendah, hanya 77 kalori/100
ml ASI. 90% berasal dari karbohidrat dan lemak, sedangkan 10% berasal dari
protein.
IV. Macam-macam ASI
ASI menurut stadium laktasi Soetjiningsih (2013), ada tiga macam yaitu:
1) Kolostrum: Kolostrum adalah cairan kental yang berwarna kekuning-
kuningan, dihasilkan pada hari pertama sampai hari ketiga, merupakan
pencahar yang ideal untuk membersihkan mekoneum dari usus bayi yang
baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi
makanan yang akan datang, komposisi dari kolostrum ini dari hari ke hari
selalu berubah. Kolostrum mengandung protein tinggi yang berfungsi untuk
daya tubuh dan rendah lemak dan laktosa. Volume kolostrum berkisar 150-
300 ml/24 jam. Kolostrum lebih banyak mengandung protein dibandingkan
dengan ASI matur, tetapi kadar karbohidrat dan lemak lebih rendah. Selain
itu, mengandung zat anti infeksi 10-17 kali lebih banyak dibandingkan ASI
matur.
2) Air Susu Masa Peralihan / Transisi: Air Susu Masa Peralihan adalah ASI
yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum menjadi ASI yang
matang/matur. Disekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari masa laktasi.
Teori lain mengatakan bahwa ASI matur baru terjadi pada minggu ke-3
sampai minggu ke-5. Kadar protein makin merendah sedangkan kadar
karbohidrat dan lemak makin meninggi. Volume ASI akan semakin
meningkat dari hari ke hari sehingga pada waktu bayi berumur tiga bulan
dapat diproduksi kurang lebih 800 ml/hr.
Air Susu Matur: Air Susu Matur adalah Suatu cairan berwarna putih
kekuning-kuningan yang diakibatkan warna dari garam Ca-caseinat,
ribofalavin dan karoten yang terdapat di dalamnya. ASI yang disekresikan
pada hari ke-10 dan seterusnya, komposisi relatife konstan (ada pula yang
menyatakan bahwa komposisi ASI relatife konstan baru mulai minggu ke-3
sampai minggu ke-5. Pada ibu yang sehat di mana produksi ASI cukup, ASI
ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi
sampai umur 6 bulan. Tidak menggumpal jika dipanaskan.
V. Manfaat ASI
1) Manfaat ASI bagi bayi: (1) Mempunyai komposisi yang sesuai dengan
kebutuhan bayi yang dilahirkan, (2) ASI mengandung zat pelindung/ antibodi
yang melindungi terhadap penyakit, (4) ASI dapat menunjang perkembangan
penglihatan, (6) Dengan diberikannya ASI maka akan memperkuat ikatan
batin ibu dan bayi, (7) Mengurangi kejadian karies gigi: bayi yang
mendapatkan susu formula dan biasa menyusu menggunakan botol atau dot
kejadian karies giginya jauh lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat
ASI Mengurangi kejadian maloklusi akibat penggunaan dot yang lama.
2) Manfaat ASI bagi ibu: (1) Mencegah Perdarahan Pascapersalinan: Hormon
oksitoksin yang merangsang kontraksi uterus sehingga menjepit pembuluh
darah yang bisa mencegah terjadinya perdarahan, (2) Mempercepat Involusi
Uterus: Dengan dikeluarkannya hormone oksitoksin, maka akan merangsang
kontraksi uterus sehingga proses involusi uterus dapat berlangsung secara
optimal, (3) Mengurangi Resiko Terjadinya Anemia: Hal ini disebabkan
karena pada ibu yang menyusui kontraksi uterus berjalan baik sehingga tidak
terjadi perdarahan yang mencegah resiko anemia, (4) Mengurangi risiko
kanker ovarium dan payudara, (5) Memberikan rasa dibutuhkan selain
memperkuat ikatan batin seorang ibu dengan bayi yang dilahirkan.
3) Manfaat ASI bagi Keluarga: (1) Mudah pemberiannya: Pemberian ASI tidak
merepotkan seperti susu formula yang harus mencuci botol dan mensterilkan
sebelum digunakan, sedangkan ASI tidak perlu disterilkan karena sudah
steril, (2) Menghemat biaya: Artinya ASI tidak perlu dibeli karena bisa
diproduksi oleh ibu sendiri sehingga keuangan keluarga tidak banyak
berkurang dengan adanya bayi.
VI. Volume ASI
Pada minggu bulan terakhir kehamilan, kelenjar kelenjar pembuat ASI
mulai menghasilkan ASI. Apabila tidak ada kelainan, pada emapt hari pertama
sejak bayi lahir akan dapat menghasilkan 100-300 ml dalam sehari. Dari jumlah
ini akan terus bertambah sehingga mencapai sekitar 300-450 ml per hari pada
waktu bayi mencapai usia minggu ke 2. Pada hari ke 10 sampai seterusnya
volume bervariasi yaitu 300-850 ml per har tergantung pada besarnya stimulasi
saat laktasi. Volume ASI pada tahun pertama adalah 400-850 ml per hari, tahun ke
dua 200-400, dan sesudahnya 200 ml per hari (Widuri, 2013).
VII. Cara Penyimpanan ASI
1) Menyimpan ASI segar: ASI yang baru saja diperah atau ASI segar, bisa
bertahan rata-rata 4 jam dalam suhu ruangan. Kolostrum berbentuk cairan
kekuningan yang lengket dan kental, keluar pada beberapa hari setelah
kelahiran hingga hari ke lima setelah persalinan, kolostrum masih aman
disimpan selama 4 jam setiap kali perah dalam suhu ruang kurang dari 25oC.
Level suhu dan durasi waktu penyimpanan yang aman untuk ASI perah yaitu:
(1) ASI yang disimpan dalam suhu ruang 16-29oC aman dikonsumsi dalam 3-
6 jam, (2) ASI yang disimpan dalam kulkas dengan suhu 0-4oC bisa bertahan
hingga 3-8 bulan dan masih aman dikonsumsi, (3) ASI yang disimpan dalam
freezer lemari es satu pintu dengan suhu kurang dari 15oC aman dikonsumsi
hingga 2 minggu. Jika ASI disimpan dalam freezer lemari es dua pintu
dengan suhu kurang dari 18oC waktu penyimpanan bisa lebih lama, yaitu
hingga 3-6 bulan, (4) ASI yang disimpan dalam freezer tunggal/khusus
dengan suhu kurang dari 18oC, ASI aman disimpan hingga 6-12 bulan.

2) ASI beku: ASI yang sudah disimpan dalam jangka waktu tertentu dalam
freezer dan menjadi beku. ASI yang menjadi beku sebelum diberikan pada
bayi, sebaiknya dihangatkan ke dalam mangkuk yang diisi air hangat dan
segera diberikan kepada bayi. Batas maksimal penyimpanan ASI beku dalam
suhu ruangan rata-rata selama 4 jam, meskipun 5-6 jam masih ditoleransi jika
kondisinya sangat bersih. ASI yang masih tersisa jangan disimpan dalam
freezer kembali tapi harus segera dibuang. Berikut cara-cara menyimpan ASI
dalam lemari es atau freezer yaitu: (1) ASI perah disimpan dalam botol kaca
dan pengisian maksimal 3/4 dari daya tampung botol, (2) Pastikan botol yang
akan digunakan telah dibersihkan dan disterilkan, (3) Menempelkan label jam
dan tanggal pada botol kaca atau tempat yang akan digunakan untuk
menyimpan ASI perah, (4) Pisahkan ASI dengan bahan makanan lain yang
tersimpan dalam lemari es, lebih baik lagi jika mempunyai lemari es khusus
untuk menyimpan ASI, (5) Bila ASI keluar dalam jumlah banyak, simpan
sebagian di freezer untuk jangka panjang dan sebagian dilemari es bagian
bawah untuk pemakaian jangka pendek, (6) Menyimpan ASI di bagian dalam
freezer atau lemari es, bukan dibagian pintu. Karena bagian pintu berpeluang
mengalami perubahan dan variasi suhu udara, (7) ASI beku yang tersimpan di
freezer dan akan diberikan kepada bayi, sehari sebelumnya diturunkan ke
lemari es bagian bawah agar pelelehan ASI perah yang sudah beku berjalan
perlahan, (8) Jika ASI perah belum benar-benar meleleh sempurna, masukkan
botol yang berisi ASI ke dalam mangkuk yang berisi air hangat.
3) ASI yang sudah dihangatkan dengan air hangat: ASI perah yang sudah
dicairkan dengan air hangat sebaiknya langsung diberikan kepada bayi atau
sampai jadwal minum ASI berikutnya. Menyimpan dalam botol di lemari es
selama 4 jam. Cara menghangatkan ASI perah, yaitu : (1) Berikan ASI
dengan hari dan tanggal yang paling lama disimpan dalam freezer, (2) Amati
bau dan rasanya, jika tercium basi jangan gunakan ASI tersebut untuk
dikonsumsi, (3) Cairkan ASI yang sudah beku dengan memindahkannya dari
freezer ke dalam lemari pendingin, simpan selama 12 jam sebelum diberikan
kepada bayi, (4) Hangatkan ASI dengan cara meletakkan botol atau wadah
ASI kedalam mangkuk berisi air hangat, (5) Tidak memanaskan atau merebus
ASI diatas kompor, atau memanaskan ASI dalam wicrowave, (6) Periksa
suhu ASI yang sudah dihangatkan dan mencicipi ASI tersebut sebelum
diberika kepada bayi.
4) ASI yang Sudah Diminum: Pentingnya menyimpan ASI sesuai takaran
pemakaian. Jika menyimpan ASI dalam botol atau wadah yang melebihi
takaran penggunaan (tersisa), sebaiknya ASI harus dibuang. Jangan
menyimpan sisa ASI yang sudah diminum bayi dari botol yang sama ke
dalam lemari es dan freezer.
VIII. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI
Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pada kenyataanya tidak
sesederhana yang dibayangkan. Berbagai kendala dapat timbul dalam upaya
memberika ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi kegagalan pemberian ASI ekskklusif, bisa
dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
1) Faktor Internal yaitu faktor yang terdapat di dalam diri individu itu sendiri,
meliputi: (1) Faktor Pengetahuan: Pengetahuan yang rendah tentang manfaat
dan tujuan pemberian ASI eksklusif bisa menjadi penyebab gagalnya
pemberian ASI eksklusif pada bayi. Kemungkinan pada saat pemeriksaan
kehamilan, mereka tidak memperoleh penyuluhan intensif tentang ASI
eksklusif, kandungan dan manfaat ASI, tekhnik menyusui, dan kerugian jika
tidak memberikan ASI eksklusif, (2) Faktor sikap / perilaku: Dengan
menciptakan sikap yang positif mengenai ASI dan menyusui dapat
meningkatkan keberhasilan pemberian ASI secara eksklusif, (3) Faktor
emosional dan Psikologis: Faktor emosi mampu mempengaruhi produksi air
susu ibu. Faktor yang mempengaruhi emosional dan psikologis diantaranya,
Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita, tekanan batin, (4) Faktor
Fisik Ibu: Alasan ibu yang sering muncul untuk tidak menyusui adalah karena
ibu sakit, baik sebentar maupun lama. Sebenarnya jarang sekali ada penyakit
yang mengharuskan ibu untuk berhenti menyusui. Lebih jauh berbahaya untuk
mulai member bayi berupa makanan buatan dari pada membiarkan bayi
menyusu dari ibunya yang sakit.
Faktor Eksternal, yaitu faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan, maupun
dari luar individu itu sendiri, meliputi: (1) Faktor peran keluarga: Peran
keluarga sangat menentukan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Hal ini
akan lebih terlihat pada ibu dan ayah yang baru memiliki anak. Pengetahuan
dan pengalaman mereka memiliki bayi menjadikan suami dan istri mencari
informasi yang seluas-luasnya dan cenderung mendengarkan serta
mempraktekkan nasehat dari keluarga terdekat, (2) Perubahan sosial budaya,
Ibu-ibu bekerja: Pekerjaan adalah aktivitas sehari-hari yang dilakukan ibu
diluar pekerjaan rutin rumah tangga yang tujuannya untuk mencari nafkah
dan membantu suami. Pekerjaan merupakan suatu tindakan yang dilakukan
oleh orang untuk ditekuni dan dilakukan sesuai dengan bidang
kemampuannya. Di sebagian negara berkembang, rata-rata wanita bekerja 12-
18 jam per hari sedangkan pria bekerja 10-12 jam per hari. Wanita masih pula
dibebani dengan berbagai peran dalam keluarga yaitu sebagai pemelihara,
pendidik, penyuluh kesehatan dan pencari nafkah bagi keluarganya dituntut
untuk membagi waktu antara bekerja dan waktu untuk keluarga. Meniru
teman: Persepsi masyarakat akan gaya hidup mewah membawa dampak
menurunya kesediaan menyusui. Bahkan adanya pandangan bagi kalangan
tertentu bahwa susu botol sangat cocok buat bayi dan terbaik. Hal ini
dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain atau hanya
untuk prestise Budaya modern dan perilaku masyarakat yang meniru negara
barat mendesak para Ibu untuk segera menyapih anaknya dan memilih air
susu buatan sebagai jalan keluarnya, (3) Faktor kurangnya informasi petugas
kesehatan: sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan
tentang manfaat pemberian ASI, (4) Meningkatkan promosi kesehatan susu
kaleng sebagai pengganti ASI: Peningkatan sarana komunikasi dan
transportasi yang memudahkan periklanan distribusi susu buatan
menimbulkan pergeseran prilaku dari pemberian ASI ke pemeberian susu
formula baik di desa maupun perkotaan, (5) Penerangan yang salah justru
datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian
ASI dengan susu kaleng, (6) Faktor pengelolaan laktasi diruang bersalin
(praktik IMD): Untuk menunjang keberhasilan laktasi, bayi hendaknya
disusui segera atau sedini mungkin setelah lahir. Namun tidak semua
persalinan berjalan normal dan tidak semua dapat dilaksanakan menyusui
dini, (7) Faktor lain: Adapun faktor lain yaitu ada beberapa bagian keadaan
yang tidak memungkinkan ibu untuk menyusui bayinya walaupun
produksinya cukup, seperti: perlindungan berhubungan dengan kesehatan,
Masih seringnya dijumpai dirumah sakit pada hari pertama kelahiran oleh
perawat atau tenaga kesehatan lainnya, walaupun sebagaian besar dari pada
ibu-ibu yang melahirkan di kamar mereka sendiri, hampir setengah dari bayi
mereka diberi susu.

IX. Teknik Menyusui


Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri
atau berbaring. Menyusui bayi kembar secara bersamaan dilakukan dengan cara
double football position.
1) Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada putting
susu dan aerola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan
dan menjaga kelembapan putting susu.
2) Bayi diletakkan menghadap perut ibu/payudara: (1) Ibu duduk atau berbaring
santai. Bila duduk lebih baik menggunakan kursi yang rendah agar kaki ibu
tidak tergantung dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi, (2) Bayi
dipegang dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu dan
bokong bayi terletak pada lengan. Kepala bayi tidak boleh tertengadah dan
bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu, (3) Satu tangan bayi
diletakkan di belakang badan ibu dan yang satu di depan, (4) Perut bayi
menempel badan ibu, kepala bayi menghadap peyudara (tidak hanya
membelokkan kepala bayi), (5) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu
garis lurus, (6) Ibu menatap bayi dengan penuh kasih sayang.
3) Payudara dipegang dengan ibu di atas dan jari yang lain menopang di bawah.
4) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflek) dengan cara:
(1) Menyentuh pipi dengan putting susu, (2) Menyentuh sisi mulut bayi.
5) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke
payudara ibu dengan putting serta aerola dimasukkan ke mulut bayi: (1)
Usahakan sebagian besar aerola dapat masuk kedalam mulut bayi sehingga
putting susu di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar
dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah aerola, (2) Setelah bayi
mulai menghisap, payudara tidak perlu dipegang atau disangga lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi Lia N.V dan Sunarsih. 2012. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas.
Jakarta: Salemba Medika.
Roesli Utami.2008. Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif. Jakarta: Pustaka
Bunda.