Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori
1. Hipertensi
a. Pengertian Hipertensi
Hipertensi diambil dari Bahasa Inggis, yang berasal dari kata

latin yakni hyper, yang berarti super atau luar biasa, dan kata

tension yang berarti tekanan atau tegangan. Sehingga hypertension

menjadi istilah kedokteran yang popular untuk menyebut penyakit

tekanan darah tinggi, atau juga digunakan istilah dalam Bahasa

Inggris “High Blood Pressure” (Bangun, 2013).


Penyakit darah tinggi atau hipertensi (hypertension) adalah

suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan

darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian

atas) dan diastolic (angka bawah) pada pemeriksaan tensi darah

menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff

air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya.

Penyakit ini dikategorikan sebagai the silent disease karena

penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum

memeriksakan tekanan darahnya (Rudianto, 2013).


Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan

tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah

diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan

selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang.

Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu

1
2

lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal

ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan

stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan

yang memadai (Kemenkes RI, 2014).

b. Klasifikasi hipertensi
Penyakit darah tinggi atau hipertensi dikenal dengan dengan

2 jenis, diantaranya:
1. Hipertensi Primary adalah suatu kondisi dimana terjadinya

tekanan darah tinggi sebagai akibat dampak gaya hidup

seseorang dan faktor lingkungan. Seseorang yang pola

makannya tidak terkontrol dan mengakibatkan berat badan

atau obesitas, merupakan pencetus awal untuk terkena penyakit

tekanan darah tinggi. Begitu pula seseorang yang berada dalam

lingkungan atau kondisi stressor tinggi sangat memungkinkan

terkena penyakit tekanan darah tinggi, termasuk orang-orang

yang kurang olahraga pun bisa mengalami tekanan darah

tinggi.
2. Hipertensi Secondary adalah suatu kondisi dimana terjadinya

peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang

mengalami/menderita penyakit lainnya seperti gagal jantung,

gagal ginjal, atau kerusakan system hormon tubuh. Sedangkan

pada ibu hamil, tekanan darah secara umum meningkat saat

kehamilan berusia 20 minggu. Terutama pada wanita yang

berat badannya diatas normal atau gemuk (Rudianto, 2013).


Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah
3

Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)

Hipotensi < 90 <60


Normal 90-110 60-79
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi stadium 140-159 90-99
1 160-179 100-109
Hipertensi Stadium >180 >110
2
Hipertensi stadium
3
Sumber : Wang, Andri ( 2014)

c. Faktor Risiko Hipertensi


Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang

spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac

output atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada beberapa

faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi antara lain :

1) Genetik : Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan

menyebabkan keluarga itu mempunyai risiko menderita

hipertensi. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar

sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium

terhadap sodium. Individu yang mempunyai orang tua dengan

penyakit hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih besar

untuk menderita hipertensi dari pada orang yang tidak

mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Selain itu

didapatkan 70-80% 10 kasus hipertensi esensial dengan

riwayat hipertensi dalam keluarga (Nuraini, 2015).


4

2) Obesitas : Berat badan merupakan faktor determinan tekanan

darah pada kebanyakan kelompok etnik di semua umur.

Perubahan fisiologis dapat menjelaskan hubungan antara

kelebihan berat badan dengan tekanan darah, yaitu terjadinya

retensi insulin dan hiperinsulinemia aktivasi saraf simpatis dan

sistem reninangiotensin, dan perubahan fisik pada ginjal

(Nuraini, 2015).

3) Jenis kelamin : Laki-laki atau perempuan memiliki

kemungkinan yang sama untuk mengalami hipertensi selama

kehidupannya. Namun, laki-laki lebih berisiko mengalami

hipertensi dibandingkan dengan perempuan saat berusia

sebelum 45 tahun. Sebaliknya saat usia 65 tahun ke atas,

perempuan lebih berisiko mengalami hipertensi dibandingkan

laki-laki. Kondisi ini dipengaruhi oleh hormon. Wanita yang

memasuki masa menopouse, lebih berisiko untuk mengalami

obesitas yang akan meningkatkan risiko terjadinya hipertensi

(Prasetyaningrum, 2014).

4) Stres : Stres dapat meningkatkan tekanan darah. Hormon

adrenalin akan meningkat di saat stres dan bisa mengakibatkan

jantung memompa darah lebih cepat sehingga tekanan darah

pun meningkat (Nuraini, 2015).

5) Kurang Aktivitas Fisik : Aktivitas fisik merupakan pergerakan

otot anggota tubuh yang membutuhkan energi atau pergerakan


5

yang bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan khususnya

organ jantung dan paru-paru. Usaha pencegahan hipertensi

akan optimal jika aktif beraktivitas fisik dibarengi dengan

menjalankan diet sehat dan berhenti merokok

(Prasetyaningrum, 2014).

6) Diit Garam : Badan kesehatan dunia yaitu World Health

Organization (WHO) merekomendasikan pola konsumsi garam

yang dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi. Kadar

sodium yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari sekitar

2,4 gram sodium atau 6 gram garam perhari. Konsumsi

natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di

dalam cairan ekstraseluler meningkat (Nuraini, 2015).

7) Merokok : Kebiasaan merokok menyebabkan 1 dari 5 kasus

kematian di Amerika setiap tahun. Merokok merupakan

penyebab kematian dan kesakitan yang paling bisa dicegah.

Pasalnya, zat kimia yang dihasilkan dari pembakaran tembakau

berbahaya bagi sel darah dan organ tubuh lainnya, seperti

jantung, pembuluh darah, mata, organ reproduksi, paru-paru,

bahkan organ pencernaan (Prasetyaningrum, 2014).

d. Komplikasi Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya

penyakit jantung, gagal ginjal kongesif, stroke, gangguan

penglihatan dan penyakit ginjal. Kematian pada penderita


6

hipertensi lebih cepat apabila penyakitnya tidak terkontrol dan telah

menimbulkan komplikasi ke beberapa organ vital. Sebab kematian

yang sering terjadi adalah penyakit jantung dengan atau tanpa

disertai stroke dan gagal ginjal (Channel, 2014).

e. Penatalaksanaan Hipertensi
Penanganan hipertensi secara umum dapat dilakukan dengan

cara farmakologis dan non farmakologis.


1) Pengobatan farmakologis
Pengobatan farmakologis adalah pengobatan yang

menggunakan obat-obatan modern. Pengobatan farmakologis

dilakukan pada hipertensi dengan tekanan darah 140/90 mmHg

atau lebih.

2) Pengobatan non farmakologis.


Pengobatan non farmakologis merupakan pengobatan

hipertensi tanpa obat-obatan yang diterapkan pada penderita

hipertensi. Pengobatan non farmakologi dapat dilakukan

dengan cara melalui pencegahan dengan menjalani pola hidup

sehat dan sering mengkonsumsi bahan alami seperti buah-

bahan dan sayur-sayuran (Junaidi, 2010).

2. Mentimun (Cucumis sativus L)


a. Pengertian
Mentimun (Cucumis sativus L) salah satu tanaman yang

termasuk dalam famili Cucurbitaceae (tanaman labu-labuan), yang

sangat disukai oleh semua lapisan masyarakat. Buahnya dapat

dikonsumsi dalam bentuk segar, pencuci mulut atau pelepas


7

dahaga, bahan kosmetika, dan dapat dijadikan sebagai bahan obat-

obatan (Abdurrazak, M. Hatta, Marliah. A, 2013).

b. Klasifikasi
1) Mentimun Lokal
Timun berbentuk bulat panjang dengan kulit berwarna hijau

berlarik-larik putih kekuningan ini bisa dimakan mentah

(Sunarjono, 2013).

Gambar 2.1. Mentimun Lokal


2) Mentimun Jepang (Kyuri)
Timun ini memiliki bentuk yang lebih ramping dan panjang

dibanding mentimun lokal. Kulitnya berwarna hijau gelap

dengan bintik-bintik putih timbul yang membuat permukaannya

tidak rata. Rasa dan teksturnya lebih lembut dari pada mentimun

lokal (Sunarjono, 2013).


8

Gambar 2.2. Mentimun Jepang (Kyuri)

3) Mentimun Zucchini
Mentimun ini memiliki ukuran lebih besar dan tidak terlalu

berair. Bentuknya tidak bulat sempurna, tapi bersegi-segi.

Warna kulitnya hijau lumut tua dan mengkilap. Bagian

dalamnya berwarna putih menyerupai oyong (Sunarjono,

2013).

Gambar 2.3. Mentimun Zucchini

c. Kandungan
Mentimun mampu membantu menurunkan tekanan darah,

kandungan pada tiap 100 gram mentimun terdapat kalium

(potassium) sebesar 73 mg, dan fosfor 24 mg. Kalium merupakan


9

elektrolit intraseluler yang utama, 98% kalium tubuh berada di

dalam sel dan 2% sisanya berada di luar sel. Kalium sebanyak 2%

inilah yang penting untuk fungsi neuromuskuler, kalium

mempengaruhi aktivitas baik otot skelet maupun otot jantung.

Kandungan mineral kalium, magnesium dan serat dalam mentimun

bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah. Mineral magnesium

berperan melancarkan aliran darah. Unsur fosfor, asam folat dan

vitamin C pada mentimun bermanfaat menghilangkan ketegangan

atau stres. Kandungan kalium dalam mentimun dapat menurunkan

sekresi renin yang mengakibatkan penghambatan pada Renin

Angiotensin System (penurunan angiotensin I dan II sehingga

vasokonstriksi pembuluh darah berkurang). Kadar kalium yang

tinggi dapat meningkatkan eksresi natrium, sehingga dapat

menurunkan volume darah dan tekanan darah (Lovindy, 2014).


Tabel 2.2 Kandungan nutrisi dalam setiap 100 gr mentimun
No Kandungan gizi Jumlah

1 Energi 15 Kcal
2 Karbohidrat 3,63 g
3 Protein 0,65 g
4 Lemak total 0,11 g
5 Serat 0,5 g
6 Folat 7 Mikro gm
7 Niacin 0,098 mg
8 Asam pantotenat 0,259 mg
9 Pyrindoxine 0,040 mg
10 Ribloflavin 0,033 mg
11 Thiamin 0,027 mg
12 Vitamin A 105 IU
13 Vitamin C 2,8 mg
14 Vitamin E 0,03 mg
15 Vitamin K 16,4 Mikro gm
16 Sodium 2 mg
10

17 Kalium 147 mg
18 Kalsium 16 mg
19 Besi 0, 28 mg
20 Magnesium 13 mg
21 Manggan 0,079 mg
22 Fosfor 24 mg
23 Seng 0,20 mg
24 Karotin 45 Mikro gr
25 Kripto-xanthin 26 Mikro gr
26 Lutein zeaxanthin 23 Mikro gr

Sumber : USDA Nutrient Nasional Basis Data

d. Cara Pemberian
Cara pemberian jus mentimun dapat dimulai dengan

mengambil mentimun sebanyak ±100gr ditambah dengan air

sebanyak 50ml. Kemudian diblender hinggan menjadi jus. Lalu jus

mentimun diberikan kepada responden dua kali sehari pagi dan

sore. Sebelum responden meminum jus mentimun dilakukan

pengukuran tekanan darah sebelum dan setelah mengkonsumsi jus

mentimun selama 7 hari (Zauhani & Zainal, 2013).


3. Air Kelapa Muda
a. Pengertian
Air kelapa muda merupakan isotonik alami yang kaya

mineral dan memiliki elektrolit sama dengan elektrolit tubuh, air

kelapa muda sangat bermanfaat untuk rehidrasi dan memulihkan

stamina tubuh karena kandungan elektrolit, klorida, kalsium,

potassium, magnesium, sodium, dan riboflavin (Sweetspe, 2010).


Air kelapa muda merupakan salah satu solusi yang dapat

digunakan untuk menambah asupan kalium agar dapat

menyeimbangi kadar Natrium sehingga tekanan darah kita terjaga.


11

Air kelapa muda ini mempunyai kandungan kalium sebesar 290 mg

per 100 ml. Jumlah tersebut termasuk tinggi sehingga dapat

digunakan sebagai terapi pada pasien hipertensi untuk mengontrol

tekanan darahnya agar tidak terlalu tinggi (kecuali pada orang yang

mempunyai komplikasi hipertensi dengan gagal ginjal tidak

diperbolehkan tinggi asupan kalium karena akan memperparah

keadaan) (Bimantaro, 2010).

b. Kandungan
Oktaviani, (2013) bahwa air kelapa muda mengandung

beberapa kandungan seperti gula, vitamin C, protein, kalsium,

kalium, dan magnesium. Kandungan kalium yang tinggi pada air

kelapa muda dapat menurunkan tekanan darah pada penderita

hipertensi.
Kandungan kalium yang tinggi pada air kelapa muda yang

masuk dalam tubuh dapat membuat pembuluh darah mengalami

vasodilatasi, menghambat proses sekresi renin dan hormon

aldosteron sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Selain

kandungan kalium, yang terdapat pada air kelapa muda yaitu

magnesium yang dapat menurunkan tekanan darah dengan bekerja

secara alami seperti calsium channe blocker yang mengikat kalium

dan vasodilatasi endotelial (Suridaty, 2012).


Menurut Yahya, (2010) bahwa vitamin C yang ada pada air

kelapa muda berfungsi sebagai antioksidan yang meningkatkan

sintesis atau mencegah penguraian nitrogen monoksida, suatu gas

yang dihasilkan secara alami dibagian dalam arteri dan berfungsi


12

menjaga pembuluh darah tetap lentur serta lebih mudah

mengembang sehingga mampu menurunkan tekanan darah sistol.


Tabel 2.3 Hasil penelitian yang menyelidiki pengaruh faktor

terhadap kadar mineral dalam air kelapa


Studi Variabel Kalium
Natrium
(mg/l) (mg/l)

Annisa, (2010) Dataran tinggi 1064,17 -


Dataran rendah 1202,17 -
Minawati, (2011) Gading 1666,4750 16,3126
Hijau 2058,1
67,4854
Arsa, (2011) Sangat muda 3681,2 3,96
Muda 3562,4 4,4
Tua 3469,6 6,66

c. Cara Pemberian
Cara pemberian air kelapa muda dapat dimulai dengan

mengambil air kelapa muda sebanyak satu gelas air kelapa atau 250
Penyebab Hipertensi :
cc. Air kelapa muda diberikan kepada responden dua kali sehari
Asupan garam
pagi dan sore. Sebelum responden meminum air kelapa muda
dan asupan
kolestrol
dilakukan pengukuran tekanan darah sebelum dan setelah
Gaya hidup: Hipertensi / Tekanan
mengkonsumsi air kelapa muda selama 7 hari (Gandari, Agustini,
mengkonsumsi Darah Tinggi
alkohol
Nopiyamti, 2015). dan
merokok

Faktor psikis
B. Kerangka Teori
Usia

keturunan
Komplikasi :

Penyakit jantung
koroner
Penatalaksanaan b. non farmakologi:
Menggunakan Penyakit gagal
Farmakologi jantung
terapi herbal
Menggunakan dengan
Stroke
obat-obatan mengkonsumsi
anti hipertensi buah-buahan dan Gagal ginjal
sayur- sayuran
Gangguan
13

Bagan 2.1 Kerangka teori

C. Kerangka konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Jus mentimun
Penurunan
Air kelapa mudaBagan 2.2 Kerangka konsep
Hipertensi
D. Hipotesis
Ha : Pemberian jus mentimun lebih evektif dari pada air kelapa muda

terhadap penurunan tekanan darah tinggi.