Anda di halaman 1dari 81

IZIN LINGKUNGAN DAN PENANGANAN

LIMBAH DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT


PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Ekonomi
Sosial Menguntungkan
secara ekonomi
Diterima secara (economically viable)
sosial (socially
acceptable)
Usaha dan
atau kegiatan

Lingkungan Ramah lingkungan


(environmentally sound)
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN

Pasal 36 UU No. 32 Tahun 2009 tentang PPLH dan Pasal 2


PP 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, menyatakan:
“Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal
atau UKL-UPL wajib memiliki izin lingkungan”.

Izin Lingkungan
AMDAL
Izin usaha
Wajib Wajib
Pemrakarsa menyusun memiliki
atau
kegiatan

UKL/UPL
DOKUMEN LINGKUNGAN
• DASAR HUKUM
1. UU 32 TAHUN 2009 TENTANG
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
• Pasal 23 : Usaha dan atau kegiatan yang berdampak
pentingwajib dilengkapi dengan AMDAL
• Pasal 34 :Setiap usaha dan atau kegiatan yang tidak
wajib
AMDAL wajib memiliki UKL- UPL
2. Peraturan Pemerintah No 27 Tahun
2012 tentang Izin Lingkungan sebagai
pengganti PP No 27 Tahun 1999 tentang
AMDAL
3. Peraturan Menteri LH Nomor 05 Tahun
2012 sebagai pengganti Peraturan Menteri
Nomor 11 Tahun 2006 tentang Jenis Usaha
dan atau kegiatan yang wajib AMDAL
1972 Conf. On H & E Oleh PBB di Stockholm

Ketentuan-ketentuan Pokok
1982 UU No.4 Pengelolaan Lingkungan Hidup

1986 PP 29 AMDAL (PIL/PEL/SEL/SEMDAL)

1993 PP 51 AMDAL : K.A.ANDAL, ANDAL, RKL, RPL


UKL-UPL

1997 UU No.23 Pengelolaan Lingkungan Hidup

1999 PP 27 AMDAL

AUDIT UKL-UPL
LINGKUNGAN
Pengelolaan Lingk. di Indonesia
DEFENISI
• SEL : Istilah studi evaluai lingkungan atau SEL adalah analisis dampak
lingkunan yan dilakukan pada proyek atau aktivitas manusia yang sudah
berjalan. Dalam analisis ini rona lingkungan sebelum proyek berjalan
sudah tidak dapat dijumpai.
• PIL :Penyajian informasi lingkungan atau PIL adalah suatu proses untuk
memperkirakan kemungkinan terjadinya dampak yang akan digunakan
untuk menetapkan apakah proyek yang diusulkan tersebut perlu Andal
atau tidak. Perundangan di indonesia menyebutkan bahwa PIL adalah
suatu telaahan secara garis besar tentang rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan; rona lingkungan tempat kegiatan, kemungkinan timbulnya
dampak lingkungan oleh kegiatan tersebut dan rencana tindakan
pengendalian dampak negatifnya.
• Penyajian evaluasi lingkungan atau disingkat menjadi PEL adalah suatu
aktivitas penelaahaan seperti PIL, hanya bedanya PEL dilakukan pada
proyek yang sudah berjalan sedang PIL dilakukan pada proyek yang masih
dalam perencanaan.
Skema Pembagian AMDAL, UKL-UPL dan SPPL
Kegiatan berdampak
USAHA DAN/ATAU penting terhadap LH
KEGIATAN
WAJIB AMDAL
Pasal 22-33 UU 32/2009 Peraturan MENLH No 05/2012
Batas AMDAL

USAHA DAN/ATAU Kegiatan tidak


KEGIATAN berdampak penting
WAJIB UKL/UPL terhadap LH

Peraturan Gub. atau


Pasal 34 UU 32/2009
Batas dokumen UKL-UPL Bupati/Walikota

Kegiatan tidak wajib UKL/UPL &


SPPL
tidak berdampak penting serta
Pasal 35 UU 32/2009 Kegiatan usaha mikro dan kecil
ITEM PP 27 TAHUN 1999 PP 27 TAHUN 2012

LINGKUP PENGATURAN AMDAL, UKL-UPL AMDAL, UKL-UPL DAN IZIN


LINGKUNGAN
SERTIFIKASI KOMPETENSI TIDAK ADA ( HANYA PENYUSUN WAJIB
SEBATAS MEMPUNYAI BERSERTIFIKAT
SERTIFIKAT ) KOMPETENSI
LARANGAN PNS SEBAGAI TIDAK ADA PNS YANG BEKERJA DI
PENYUSUN AMDAL INSTITUSI LH DILARANG
SEBAGAI PENYUSUN
AMDAL ATAU UKL-UPL

KOMISI TIDAK ADA LESENSI BERLESENSI

BENTUK TINDAK LANJUT REKOMENDASI IZIN LINGKUNGAN


1. 1. Izin lingkungan:
2. 2. Izin perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup
(PPLH):
IZIN LINGKUNGAN

• Semua izin lingkungan diterbitkan


sebagai persyaratan bagi usaha
dan/atau kegiatan
• Izin lingkungan diterbitkan sebelum
diterbitkannya izin usaha
• Izin lingkungan diterbitkan pada tahap
perencanaan
Muatan Izin Lingkungan
Izin lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit memuat:
1. persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam keputusan
kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi UKL-UPL;
2. persyaratan dan kewajiban yang ditetapkan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota; dan
3. Berakhirnya izin lingkungan.
Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pemrakarsa wajib memiliki izin PPLH, izin lingkungan tersebut
mencantumkan jumlah dan jenis izin PPLH.

Izin lingkungan hidup berakhir bersamaan dengan berakhirnya


izin usaha dan/atau kegiatan maksudnya adalah: Izin
Lingkungan berlaku selama usaha dan/atau kegiatan tetap
berlangsung sepanjang tidak ada perubahan dan tidak
dicabut;
Sumber: Pasal 48 PP 27/2012 Izin Lingkungan Dalam PP 27/1999: Ketentuan terkait hal ini
tidak diatur/tidak ada
Kewajiban Pemegang Izin Lingkungan
• Pemegang izin lingkungan berkewajiban untuk:
a. menaati persyaratan dan kewajiban yang dimuat
dalam izin lingkungan;
b. membuat dan menyampaikan laporan
pelaksanaan terhadap persyaratan dan
kewajiban dalam izin lingkungan kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota; dan
c. Menyediakan dana penjamin untuk pemulihan
fungsi lingkungan hidup sesuai ketentuan PUU;
• Laporan disampaikan secara berkala setiap 6
(enam) bulan
Dalam PP 27/1999: Ketentuan terkait hal
Sumber: Pasal 53 PP 27/2012 Izin Lingkungan ini tidak diatur/tidak ada
Izin pada tahap operasional yang jenis dan
jumlah izinnya diterbitkan sesuai diktum
persyaratan dan kewajiban dalam izin
lingkungan dalam rangka menjamin upaya
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
Izin Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup (PPLH) Terkait dengan Sawit

 Izin Pembuangan air limbah ke Air atau Badan Air

 Izin Pembuangan Air Limbah ke Laut

 Izin Pemanfaatan Air limbah untuk land aplikasi

 Izin Tempat Penyimpanan Sementara Limbah B3

 Izin Pemanfaatan Limbah B3


RKL-RPL

RPL : Rencana Pemantauan


RKL : Rencana Pengelolaan
Lingkungan Hidup, yang
Lingkungan Hidup, yang
selanjutnya disebut RPL,
selanjutnya disebut RKL,
adalah upaya pemantauan
adalah upaya penanganan
komponen lingkungan
dampak terhadap
hidup yang terkena
lingkungan hidup yang
dampak akibat dari
ditimbulkan akibat dari
rencana Usaha dan/atau
rencana Usaha dan/atau
Kegiatan
Kegiatan.
Matriks RKL
MATRIKS RPL
CONTOH
• SEL • RKL-RPL
“ UU nomor 32 Tahun 2009 Pasal 20 ayat (1) penentuan terjadinya
pencemaran lingkungan hidup diukur melalui baku mutu lingkungan hidup “

“ UU nomor 32 Tahun 2009 Pasal 20 ayat (3) setiap orang diperbolehkan


membuang ke media lingkungan dengan persyaratan a. memenuhi baku
mutu lingkungan dan b . Memiliki izin “

Baku mutu Linkungan meliputi :


- Baku mutu air
- Aku mutu air limbah
- Baku mutu air laut
- Baku mutu Udara Ambien
- Baku Mutu Emisi
- Baku mutu gangguan
- Baku mutu lainnya sesuai perkembangan pengetahuan dan
teknologi
PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR
PARATURAN YANG DIACU DALAM
PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR
 Undang –undang no 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup

 Peraturan pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Pengelolaan Kualitas Air


dan Pengendalian Pencemaran Air

 KepmenLH Nomor 51 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi
Kegiatan Industri

 Permen LH No 12 Tahun 2006 tentang Persyaratan dan Tata Cara


Perizinan Pembuangan Air Limbah ke Laut

 KepmenLH No 28 Tahun 2003 tentang Pedoman Teknis Pengkajian


. Pemanfaatan Air Limbah Dari Industri Minyak Sawit Pada Tanah di
Perkebunan Kelapa Sawit

 KepmenLH No 29 Tahun 2003 tentang Pedoman Syarat dan Tata Cara


Perizinan Pemanfaatan Air Limbah Dari Industri Minyak Sawit Pada
Tanah di Perkebunan Kelapa Sawit
YANG WAJIB DITAATI

 KUALITAS : Parameter-parameter

 KUANTITAS : Debit / Beban


Baku Mutu
Parameter Sawit Pembuangan Sawit
Pemanfaatan
Kadar maks. Beban Pencemaran Kadar maks.
(mg/L) Maks. (kg/ton) (mg/L)
BOD 100 0,25 5000
COD 350 0,88
TSS 250 0,63
Minyak Lemak 25 0,063
N Total 50 0,125
Pb
Cu
Cd
Zn
pH 6-9
Debit maks. 2,5 m3 ton bhn baku
No. Uraian Kewajiban Dasar Pasal
1. Retribusi PP Air Pembayaran retribusi bagi perusahaan yang melakukan 24(1)
pembuangan air limbah ke sarana yang disediakan
pemerintah
2. Keadaan Darurat Melakukan Penanggulangan dan pemulihan serta melaporkan 25, 26,
kepada Bupati/walikota/Menteri 29
3. Pemanfaatan Air 1. Melakukan pengkajian seizin Bupati/Walikota 34,
Limbah 2. Izin Bupati/Walikota 35,36
3. Pemantauan Air Limbah, Tanah, Air Tanah, dampak thd
tanaman – ekosisitem-dll
4. Pemenuhan BM LA dan persyaratan Teknis Lainnya
5. Mencegah dan menanggulangi Penc. Air
6. Penyusunan Laparan dan Menyampaikan kepada Instansi
Terkait.

4. Pelestarian air & Pelestarian kualitas air, pengendalian pencemaran air dan 31
PP air. sumber air
No. Uraian Kewajiban Dasar Pasal
5. Informasi Wajib memberikan informasi yang benar dan 32
akurat tentang PP Air
6. Pembuangan 1. Melakukan pengkajian 34,
Air Limbah 2. Izin Bupati/Walikota 35,3
Pemenuhan BM Air Limbah dan 7,38,
3.
persyaratan Teknis Lainnya 40
4. Mencegah dan menanggulangi Penc. Air
5. Penyusunan Laparan dan Menyampaikan
kepada Instansi Terkait.
7. Pembuangan L Larangan pembuangan limbah padat dan/atau 42
padat & L Gas gas ke badan air
Setiap Penanggungjawab kegiatan industri wajib:

 Melakukan pengelolaan limbah cair sehingga mutu limbah cair


yang dibuang ke lingkungan tidak melampaui Baku Mutu Limbah
Cair yang telah ditetapkan
 Membuat saluran pembuangan limbah cair yang kedap air
sehingga tidak terhadi perembesan limbah cair ke lingkungan
 Memasang alat ukur debit atau laju air limbah cair dan
melakukan pencatatan debit harian limbah cair tersebut
 Tidak melakukan pengenceran limbah cair, termasuk
mencampurkan buangan air bekas pendingin ke dalam aliran
pembuangan limbah cair
 Memeriksakan kadar parameter Baku Mutu Limbah Cair
sebagaimana tersebut dalam Lampiran Keputusan ini secara
periodik sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan
 Memisahkan saluran pembuangan limbah cair dengan saluran
limpahan air hujan
 Melakukan pencatatan produksi bulanan senyatanya

 Menyampaikan laporan tentang catatan debit harian, kadar


parameter Baku Mutu Limbah Cair, produksi bulanan
senyatanya sebagaimana dimaksud dalam huruf c, e, g
sekurang-kurangnya tiga bulan sekali kepada Kepala Bapedal,
Gubernur, Instansi teknis yang membidangi industri lain yang
dianggap perlu sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
 Permohonan LA didasarkan pada pengkajian (Ps 2(1)
 Dilakukan di lahan selain: (Ps 3(1))
 Lahan gambut
 Lahan berpermeabilitas > 15 cm/jam atau < 1,5 cm/jam
 Lahan yang kedalaman air tanahnya < 2 meter
 Tidak dilaksanakan di lahan dengan kedalaman air tanah
kurang dari 2 meter (Ps 3(1))
 Membuat sumur pantau (Ps 3(1))
 Ada air larian (run off)
 Pengenceran air limbah yang dimanfaatkan
 Membuang air limbah pada tanah di luar lokasi
pemanfaatan
 Membuang air limbah ke sungai dalam kondisi
melebihi Baku Mutu
 Pemantauan Kualitas Air Limbah (Debit & pH: Harian,
parameter lain: Bulanan)
 Pemantauan kualitas air tanah di tiga lokasi (sumur
pantau di lahan, LA, lahan kontrol dan sumur
penduduk) per 6 bulan
 Pemantauan Kualitas Tanah di tiga lokasi (rorak,
antar rorak dan kontrol) setahun sekali
 Pemantauan dampak LA terhadap tanaman, hewan
dan kesehatan manusia
2 kondisi Fat Pit Penimbunan & Open dumping L
Ceceran limbah Padat yang potensial
menimbulkan pencemaran air
IPAL Kurang
Saluran LA dan Sumur Pantau di Lokasi LA
Terawat
PENGENDALIAN
PENCEMARAN UDARA
PP 41 Th 1999 Udara
Tentang Pengendalian Pencemaran Udara Ambient

Emisi Udara/Gas Kebisingan Getaran Kebauan

KepMENLH No.:
13/MENLH/10/1995 KepMENLH No.: KepMENLH No.: KepMENLH No.:
Tentang 48/MENLH/11/1996 49/MENLH/11/1996 50/MENLH/11/1996
Baku Mutu Tentang Tentang tentang
Emisi Sumber Baku Baku Baku Mutu
Tidak Bergerak
Tingkat Kebisingan Tingkat Getaran Tingkat Kebauan
PerMENLH No:
07/MENLH/05/2007 KepKa Bapedal
No 205 Tahun 1996
BME Ketel Uap
Tentang
berbahan bakar
Pedoman Teknis Peng.
biomassa, minyak,
Penc.Udara
batubara dan gas
Sumber Tidak bergerak
PP NO 41 TAHUN 1999 Pasal 21 meytakan bahwa Setiap orang
yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan
emisi dan/atau gangguan ke udara ambien, wajib :

1. Menaati baku mutu udara ambien, baku mutu emisi, dan baku
tingkat yang ditetapkan untuk usaha dan/atau kegiatan yang
dilakukannya
2. Melakukan pencegahan dan/atau penanggulangan pencemaran
udara yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang
dilakukannya
3. Memberikan informasi yang benar dan akurat kepada
masyarakat dalam rangka upaya pengendalian pencemaran
udara dalam lingkup usaha dan/atau kegiatannya
Parameter Batas Maksimum (mg/m3)
Bukan Logam
1. Amonia (NH3) 0,5
2. Gas Klori(Cl2) 10
3. Hidrogen klorida (HCl) 5
4. Hidrogen Florida (HF) 10
5. Nitrogen Oksida (NO2) 1000
6. Opositas 35%
7. Partikel 350
8. Sulfur Dioksida (SO2) 800

9. Total Sulfur Tereduksi (H2S) 35


Parameter Batas Maksimum (mg/m3)
Logam
11. Air Raksa (Hg) 5
12. Arsen (As) 8
13. Antimon (Sb) 8
14. Kadmium (Cd) 8
15. Seng (Zn) 50
16. Timah Hitam (Pb) 12
No. Parameter Baku Mutu

1 Partikulat 300 mg/m3

2 Sulfur Dioksida (SO2) 600 mg/m3

3 Nitrogen Oksida (NO2) 800 mg/m3

4 Hidrogen Klorida (HCl) 5 mg/m3

5 Gas Klorin (Cl2) 5 mg/m3

6 Ammonia (NH3) 1 mg/m3

7 Hidrogen Florida (HF) 8 mg/m3

8 Opasitas 30%
Setiap penanggungjawab usaha dan atau kegiatan wajib:

 Membuang emisi gas melalui cerobong yang dilengkapi dengan sarana


pendukung dan alat pengaman
 Melakukan pengujian emisi dari setiap cerobong paling sedikit 2 kali
selama periode operasi setiap tahunnya bagi ketel uap yang
beroperasi selama 6 bulan atau lebih
 Melakukan pengujian emisi paling sedikit 1 kali selama periode
operasi setiap tahunnya bagi ketel uap yang beroperasi selama
kurang dari 6 bulan
 Menggunakan laboratorium yang terakreditasi

 Melakukan pengujian emisi setelah kondisi proses pembakaran stabil

 Menyampaikan laporan hasil analisa pengujian emisi (b) dan (c)


kepada Bupati/Walikota tembusan Gubernur dan Menetri paling
sedikit 1 kali dalam 6 bulan
Uraian Persyaratan dan atau Kewajiban Dasar
Peraturan
Persyaratan cerobong sebagaimana tersebut dalam lampiran III Keputusan Pasal 1 (1)
Kep.205/BAPEDAL/07/1996 tentan Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara. butir c
Persyaratan teknis corobong sesuai Lampiran III meliputi:
 Tinggi cerobong sebaiknya 2 – 2 1/2 kali tinggi bangunan sekitar sehingga lingkungan
sekitarnya tidak terkena turbulensi.
 Kecepatan aliran gas dari cerobong sebaiknya lebih besar dari 20 m/detik sehingga
gas-gas yang keluar dari cerobong akan terhindar dari turbulensi.
 Gas-gas dari cerobong dengan diameter lebih kecil dari 5 feet dan tinggi kurang dari
200 feet akan mengakibatkan konsentrasi di bagian bawah menjadi tinggi.
 Konsentrasi maksimum bagian permukaan tanah dari cerobong gas-gas (agar terjadi
difusi) biasanya terjadi pada jarak 5 – 10 kali tinggi cerobong downwind.
 Konsentrasi maksimum zat pencemar berkisar antara 0,001 – 1% dari konsentrasi zat
pencemar dalam cerobong.
 Konsentrasi di permukaan dapat dikurangi dengan menggunakan cerobong yang
tinggi. Variasi konsentrasi pencemar pada permukaan akan berbanding terbalik
dengan kuadrat tinggi cerobong efektif.
 Warna cerobong harus mencolok sehingga terlihat.
 Cerobong dilengkapi dengan pelat penahan angin yang melingkari cerobong secara
memanjang ke arah ujung atas.
 Puncak cerobong sebaiknya terbuka, jika pihak industri perlu memberi penutup
(biasanya cerobong kecil/rendah) maka penutup berbentuk segitiga terbalik
 Setiap cerobong diberi nomor dan dicantumkan dalam denah industri.
Uraian Persyaratan dan atau Kewajiban Dasar
Peraturan
Persyaratan lubang sampling sesuai Lampiran III:
 Lokasi lubang pengambilan sampel sebaiknya pada posisi 2 di bagian atas dan 8
dibagian bawah ( 2D dan 8D D= diameter cerobong)
 Diameter lubang sampel sekurang-kurangnya sepuluh sentimeter
 Lubang pengambilan sampel harus memakai tutup dengan sistem pelat flange yang
dilengkapi dengan baut
 Arah lubang pengambilan sampel tegak lurus dinding cerobong
Persyaratan Pendukung:
 tangga besi dan selubung pengaman berupa pelat besi
 Lantai kerja (landasan pengambil sampel) dengan ketentuan:
 dapat mendukung beban minimal 500 kilogram
 keleluasaan kerja bagi minimal tiga orang
 lebar lantai kerja terhadap lubang pengambilan sampel adalah 1,2 meter dan
melingkari cerobong.
 pagar pengaman setinggi satu meter
 dilengkapi dengan katrol pengangkat alat pengambil sampel.
 Stop kontak aliran listrik sesuai dengan peralatan yang digunakan, yaitu voltase
220V, 30A, single phase, 50Hz Ac.
 Penempatan sumber aliran listrik dekat dengan lubang pengambil sampel
 Sarana dan prasarana pengangkutan serta perlengkapan keamanan pengambilan
sampel bagi petugas disediakan oleh industrri.
PENGELOLAAN LIMBAH B3
2. Landasan Hukum Pengelolaan Limbah B3

Tentang

UU 32/2009 Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

PP 101 TAHUN 2014 Pengelolaan Limbah B3

Pembagian Urusan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah


PP 38/2007
Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kab/Kota

Tata Cara & Persyartan Teknis Penyimpanan & Pengumpulan


Kepdal 01/BAPEDAL/09/95
Limbah B3

Kepdal 02/BAPEDAL/09/95 Dokumen Limbah B3

Kepdal 03/BAPEDAL/09/95 Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah B3

Kepdal 04/BAPEDAL/09/95 Tata Cara Penimbunan Hasil Pengolahan, Persyaratan Lokasi


Bekas Pengolahan dan Lokasi Penimbunan Limbah B3
Landasan Hukum P-Limbah B3 (Lanjutan)
Tentang

Kepdal 05/BAPEDAL/09/95 Simbol dan Label

Kepdal 68/BAPEDAL/05/94 Tata Cara Memperoleh Izin Pengelolaa Limbah B3

Kepdal
Tata Laksana Pengawasan Pengelolaan Limbah B3
02/BAPEDAL/01/98

PermenLH
Pengelolaan Limbah di Pelabuhan (Reception Facility)
05/2009

PermenLH
Pemanfaatan Limbah B3
02/2008

PermenLH
Tata Cara Perizinan Pengelolaan Limbah B3
18/2009

PermenLH NSPK (Norma, Standar, Prosedur, Kriteria) Pengelolaan Limbah


30/2009 B3

Permen LH 33/2009 Tata Cara Pemulihan Lahan Terkontaminasi Limbah B3


47
DEFENISI
(berdasarkan kepada UU 32 tahun 2009)

• LIMBAH b3 : • Pengelolaan Limbah B3:


“sisa suatu usaha dan atau “Kegiatan yang meliputi
kegiatan yang pengurangan,
mengandung B3” penyimpanan,
pengumpulan,pengangkut
an, pemanfaatan,
pengolahan, dan
ataupenimbunan”
Penetapan Limbah B3
Limbah B3 berdasarkan kategori bahayanya
- Penyimpanan
- Pengangkutan
Kategori 1 - Pemanfaatan
- Pengolahan
- Penimbunan
Limbah B3

- Penyimpanan
- Pengangkutan
Kategori 2 - Pemanfaatan
- Pengolahan
- Penimbunan
Penetapan Limbah B3
Limbah B3 berdasarkan sumbernya:

 Limbah B3 dari Sumber Tidak Spesifik (Lampiran-I Tabel 1)


umumnya bukan berasal dari proses utama (pemeliharaan, pemcucian, dll)

 Limbah B3 dari B3 kadaluarsa, tumpahan B3, B3 yang tidak memenuhi spesifikasi produk yang
akan dibuang, dan bekas kemasan B3 (Lampiran-I Tabel 2)

 Limbah B3 dari Sumber Spesifik:


a. Sumber Spesifik Umum (Lampiran-I Tabel 3)
 sisa proses suatu industri yang secara yang secara spesifik dapat ditentukan
b. Sumber Spesifik Khusus (Lampiran-I Tabel 4)
 memiliki efek tunda, berdampak tidak langsung, tidak beracun akut, dihasilkan dalam
jumlah besar per satuan waktu
Penetapan Limbah B3
Karakteristik Limbah B3
Mudak Meledak

Mudah menyala

Reaktif

Infeksius

Korosif
Penetapan Limbah B3
Limbah B3 Berdasarkan Karakteristik
Beracun

TCLP

Toksik Akut (LD50)

Toksik Sub-kronis
Prinsip Pengelolaan Limbah
B3
Dihasil-
kan

Disimpan From Cradle to Grave

From Cradle to Cradle

Diangkut
Ditimbun/
Diolah/ Landfill
Dimanfaatkan
5. Hierarki Pengelolaan Limbah
B3

Reduksi

PENGURANGAN VOLUME
PRIORITAS PENGELOLAAN

3R (Reuse, Recycle,
Recovery)

LIMBAH B3
Pengolahan

Penimbunan/
Landfill
Pengelolaan Limbah B3

Penyimpanan
& Pemanfaatan Pengangkutan Pengolahan Penimbunan
Pengumpulan
Penyimpanan Limbah B3

Definisi:
Penyimpanan Limbah B3 adalah kegiatan menyimpan
Limbah B3 yang dilakukan oleh Penghasil Limbah B3
dengan maksud menyimpan sementara Limbah B3 yang
dihasilkannya

Tujuan:
Menyimpan sementara limbah sampai dengan tercapai
kuantitas limbah yang memadai sehingga efisien secara
ekonomi untuk pengelolaan lebih lanjut
Penyimpanan Limbah B3
Kewajiban Penghasil Limbah B3

• Wajib melakukan Penyimpanan Limbah B3


• Memiliki “Izin Pengelolaan Limbah B3 Untuk Penyimpanan Limbah B3”
• Izin oleh Bupati/Walikota, berlaku 5 tahun
• Dilarang melakukan pencampuran Limbah B3 yang disimpannya
• Persyaratan: izin lingkungan, lokasi, fasilitas penyimpanan, pengemasan
• Fasilitas penyimpanan: bangunan, tangki, waste pile, waste impondment, dan
teknologi lain sesuai perkembangan IPTEK
• Perubahan izin dan penghentian izin
• Kewajiban pemegang izin
Penyimpanan Limbah B3

Waktu Penyimpanan Sementara


Jumlah Waktu Penyimpanan Maksimum
Kategori
Limbah B3
Limbah B3
dihasilkan 90 hari 180 hari 365 hari

Kategori 1 dan 2 ≥ 50 kg/hari √

Kategori 1 < 50 kg/hari √


Kategori 2 dari sumber tidak
< 50 kg/hari √
spesifik

Kategori 2 dari sumber


< 50 kg/hari √
spesifik umum

Kategori 2 dari sumber


tidak dibatasi √
spesifik khusus
Penyimpanan Limbah B3
Persyaratan Tempat Penyimpanan Limbah B3
1. Lokasi penyimpanan Limbah B3
2. Fasilitas Penyimpanan Limbah B3 yang sesuai dengan:
• Jumlah Limbah B3
• Karakteristik Limbah B3
• Dilengkapi dengan upaya pengendalian Pencemaran
Lingkungan Hidup
3. Peralatan penaggulangan keadaan darurat
Penyimpanan Limbah B3
Persyaratan Lokasi Penyimpanan Limbah B3
• Bebas banjir dan tidak rawan bencana alam
• Jika lokasi penyimpanan Limbah B3 tidak bebas banjir dan
rawan bencana alam  lokasi penyimpanan Limbah B3 harus
direkayasa dengan teknologi untuk perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup
• Lokasi Penyimpanan Limbah B3 harus berada didalam
penguasan Setiap orang yang menghasilkan Limbah B3.
Penyimpanan Limbah B3
Fasilitas Penyimpanan Limbah B3
No. Bentuk Fasilitas Penyimpanan
:
1 Containment building (bangunan)

2 Tangki dan/atau kontainer

3 Silo

4 Waste Pile (tempat tumpukan limbah)

5 Waste impoundment

Bisa dalam bentuk lainnya sesuai dengan prkembangan ilmu


6
pengetahuan dan teknologi
Penyimpanan Limbah B3
Fasilitas Penyimpanan Limbah B3

Jenis Limbah B3 Yang Disimpan


Fasilitas LB3 Kategori 2 LB3 Kategori 2 LB3 Kategori 2
No LB3
Penyimpanan Dari sumber Dari sumber Dari sumber
Kategori 1
tidak spesifik spesifik umum spesifik khusus
1 Bangunan √ √ √ √
2 Tangki √ √ √
3 Silo √ √ √ √
Tempat Tumpukan
4 √
Limbah (Waste Pile)
5 Waste Impoundment √
6 Bantuk lainnya √ √ √ √
Penyimpanan Limbah B3
Fasilitas Penyimpanan Limbah B3
Fasilitas
Jenis Limbah B3 Waktu Penyimpanan Maksimum
Penyimpanan

1,2,3,4,5,6 90 hari jika di hasilkan >50 kg/hari,


LB3 Kategori 1 & 2
tidak dapat diperpanjang
LB3 Kategori 1 1,2,3,6 180 hari jika dihasilkan <50kg/hari
LB3 Kategori 2
Dari sumber tidak spesifik 1,2,3,6 365 hari jika dihasilkan <50 kg/hari

LB3 Kategori 2
365 hari jika dihasilkan <50 kg/hari
Dari sumber spesifik umum 1,2,3,6

LB3 Kategori 2
1.3.4.5.6 365 hari
Dari sumber spesifik khusus
Penyimpanan Limbah B3
Fasilitas Penyimpanan Limbah B3
Fasilitas
Jenis Limbah B3 Waktu Penyimpanan Maksimum
Penyimpanan

1,2,3,4,5,6 90 hari jika di hasilkan >50 kg/hari,


LB3 Kategori 1 & 2
tidak dapat diperpanjang
LB3 Kategori 1 1,2,3,6 180 hari jika dihasilkan <50kg/hari
LB3 Kategori 2
Dari sumber tidak spesifik 1,2,3,6 365 hari jika dihasilkan <50 kg/hari

LB3 Kategori 2
365 hari jika dihasilkan <50 kg/hari
Dari sumber spesifik umum 1,2,3,6

LB3 Kategori 2
1.3.4.5.6 365 hari
Dari sumber spesifik khusus
Penyimpanan Limbah B3
Bangunan Tempat Penyimpanan Limbah B3
• Persyaratan Minimum Fasilitas Penyimpanan
– Desain dan konstruksi yang mampu melindungi
limbah B3 dari hujan dan sinar matahari
– Memiliki penerangan dan ventilasi
– Memiliki saluran drainase dan bak penampung
Penyimpanan Limbah B3
Bangunan Tempat Penyimpanan Limbah B3

Jenis Limbah B3 Yang Disimpan

Fasilitas Penyimpanan LB3 Kategori 2 LB3 Kategori 2 LB3 Kategori 2


LB3 Kategori
Dari sumber tidak Dari sumber Dari sumber
1
spesifik spesifik umum spesifik khusus
desain dan konstruksi
mampu melindungi
√ √ √ √
Limbah B3 dari hujan
dan sinar matahar
memiliki penerangan dan
√ √ √
ventilasi
memiliki saluran drainase
√ √ √ √
dan bak penampung
Catatan:
Berlaku juga untuk permohonan izin penyimpanan LB3
Penyimpanan Limbah B3
Pengemasan Limbah B3
1. Pewadahan Limbah B3 dilakukan dengan menggunakan kemasan
– Terbuat dari bahan yang dapat mengemas Limbah B3 sesuai dengan
karakteristik Limbah B3 yang disimpan.
– Mampu mengungkung limbah B3 untuk tetap berada dalam kemasan
– Memiliki penutup yang kuat untuk mencegah terjadinya tumpahan
saat dilakukan penyimpanan, pemindahan, atau pengangkutan
– Berada dalam kondisi baik, tidak bocor, tidak berkarat dan tidak rusak
2. Kemasan Limbah B3 wajib dilekati Label Limbah B3 & Simbol Limbah B3.
3. Label Limbah B3 paling sedikit memuat keterangan mengenai:
– Nama Limbah B3
– Identitas penghasil Limbah B3
– Tanggal dihasilkannya limbah B3
– Tanggal pengemasan Limbah B3
4. Pemilihan Simbol Limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik Limbah B3.
Penyimpanan Limbah B3
Kewajiban dalam Penyimpanan Limbah B3
• Melakukan identifikasi Limbah B3 yang dihasilkannya
• Melakukan pencatatan nama dan jumlah Limbah B3 yang dihasilkan
• Melakukan penyimpanan Limbah B3 sesuai dengan ketentuan waktu
yang ditetapkan dalam peraturan
• Melakukan Pemanfaatan Limbah B3, Pengolahan Limbah B3, dan/atau
Penimbunan Limbah B3 yang dilakukan sendiri atau menyerahkan kepada
Pengumpul Limbah B3, Pemanfaat Limbah B3, Pengolah Limbah B3,
dan/atau Penimbun Limbah B3, dan
• Memenuhi persyaratan lingkungan hidup
• Menyusun dan menyampaikan laporan Penyimpanan Limbah B3
Penyimpanan Limbah B3
Pelaporan Penyimpanan Limbah B3

 Penghasil Limbah B3 wajib menyususn dan menyampaikan laporan Penyimpanan


Limbah B3
 Laporan Penyimpanan Limbah B3 paling sedikit memuat
– Sumber, nama, jumlah, dan karakteristik Limbah B3
– Pelaksanaan Penyimpanan Limbah B3
– Pemanfaatan Limbah B3, Pengolahan Limbah B3, dan/atau Penimbunan
Limbah B3 yang dilakukan sendiri oleh pemegang izin dan/atau penyerahan
Limbah B3 kepada Pengumpul Limbah B3, Pemanfaat Limbah B3, Pengolah L
imbah B3, dan/atau Penimbun Limbah B3.
 Laporan Penyimpanan Limbah B3 disampaikan kepada bupati/walikota dan
ditembuskan kepada menteri paling sedikit 1 kali dalam 3 bulan.
Pengumpulan Limbah B3

Definisi
• Pengumpulan Limbah B3 adalah kegiatan
mengumpulkan Limbah B3 dari Penghasil
Limbah B3 sebelum diserahkan kepada
Pemanfaat Limbah B3, Pengolah Limbah B3,
dan/atau penimbun Limbah B3
Pengumpulan Limbah B3

Ketentuan Pengumpulan Limbah B3


• wajib memiliki Izin Pengelolaan Limbah B3
Untuk Pengumpulan Limbah B3
• melakukan segregasi, menyimpan dan tidak melakukan pencampuran
dengan maksud pengenceran
• dilakukan dengan skala nasional, provinsi dan kabupaten/kota
• fasilitas penyimpanan: bangunan pengumpulan: tangki, waste pile, waste
impoundment, dan teknologi lain sesuai perkembangan IPTEK.
• Perubahan izin dan penghentian izin
• Kewajiban pemegang izin
Pengumpulan Limbah B3
Ketentuan Pengumpul Limbah B3
• Pengumpul Limbah B3 dilarang
– Melakukan Pemanfaatan Limbah B3 dan/atau Pengolahan
lImbah B3 terhadap sebagian atau seluruh Limbah B3 yang
dikumpulkan
– Menyerahkan Limbah B3 yang dikumpulkan kepada
Pengumpul Limbah B3 yang lain
– Melakukan pencampuran Limbah B3

• Penghasil Limbah B3 dilarang:


– Melakukan Pengumpulan Limbah B3 yang tidak
dihasilkannya
– Melakukan pencampuran Limbah B3 yang dikumpulkan
Pengumpulan Limbah B3
Ketentuan Pengumpulan Limbah B3
• Dalam hal setiap orang yang menghasilkan Limbah B3 tidak mampu
melakukan sendiri Pengumpulan Limbah B3 yang dihasilkannya,
Pengumpulan Limbah B3 diserahkan kepada Pengumpul Limbah B3.(?)
• Penyerahan Limbah B3 oleh Penghasil ke Pengumpul Limbah B3 wajib
dengan bukti penyerahan Limbah B3
• Salinan bukti penyerahan Limbah B3 disampaikan oleh Penghasil Limbah
B3 kepada Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota sesuai dengan
kewenangannya paling lama 7 hari sejak penyerahan Limbah B3.
• Wakktu penyimpanan Limbah B3 oleh
Pengumpul maksimum 90 hari,
Pengangkutan Limbah B3
Pasal 47
• Pengangkutan Limbah B3 wajib dilakukan dengan:
• alat angkut yang tertutup untuk Limbah B3 kategori 1.
• alat angkut yang terbuka untuk Limbah B3 kategori 2.
Pengangkutan Limbah B3
Persyaratan Pengangkutan Limbah B3
• Memiliki Rekomendasi Pengangkutan dari KLHK
(berlaku 5 tahun)
• Memiliki Izin Pengangkutan dari Kementerian Perhubungan (berlaku 1 tahun)
• Pengangkutan limbah B3 wajib menggunakan Manifest/Dokumen Limbah B3
• Pengangkutan oleh penghasil dari luar wilayah kerjanya ke lokasi penghasil
wajib memiliki rekomendasi  tanpa perubahan akte, tanpa asuransi
tetapi tetap menggunakan manifest.
• Pengangkutan oleh penghasil didalam wilayah kerjanya dan tidak melalui
jalan umum  tidak diwajibkan rekomendasi, namun wajib membuat
laporan perpindahan limbah B3.
Pengangkutan Limbah B3
Persyaratan Pengangkutan Limbah B3
• Kemasan limbah B3 yang diangkut harus diberi simbol dan label limbah B3
• Limbah B3 harus diberi tutup agar terhindar dari
hujan dan atau sinar matahari langsung
• Alat angkut disesuaikan dengan limbah B3 yang
akan diangkut
• Memasang SOP tanggap darurat dan SOP loading
& unloading
• Memiliki alat tanggap darurat
• Radio komunikasi sebagai alat komunikasi dengan pusat pengendali operasi
 Setiap pengelolaan limbah B3 wajib memiliki izin

 Izin sebagai alat kontrol dalam pengawasan

 Penghasil bertanggung jawab terhadap limbah yang


dihasilkan

 Sanksi:
- peringatan tertulis
- menghentikan sementara kegiatan pengelolaan LB3
- mencabut izin operasi
- aparat daerah dapat menghentikan sementara
TPS B3 TERAWAT TPS B3 TIDAK TERAWAT
MARI JAGA LINGKUNGAN KITA
TERIMA KASIH