Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Madinah atau Madinah Al Munawwarah: ‫مدينة رسول هللا‬atau ‫المدينه‬, (juga
Madinat Rasul Allah, Madīnah an-Nabī) adalah kota utama di Arab Saudi.
Merupakan kota yang ramai diziarahi atau dikunjungi oleh kaum Muslimin. Di
sana terdapat Masjid Nabawi yang memiliki pahala dan keutamaan bagi kaum
Muslimin. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kota ini menjadi pusat dakwah,
pengajaran dan pemerintahan Islam. Dari kota ini Islam menyebar ke seluruh
jazirah Arabia lalu ke seluruh dunia.
Pada masa sebelum Islam berkembang, kota Madinah bernama Yatsrib,
dikenal sebagai pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW
hijrah dari Mekkah, kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat
perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya
kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat
tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab,
dan Utsman bin Affan. Pada masa AlAli bin Abi Thalib pemerintahan
dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya
khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. Selanjutnya ketika kekuasaan beralih
kepada bani Umayyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika
pemerintahan berpindah kepada bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke
kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota Madinah
adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi
keberadaannya. Namun karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk
Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir ke luar Madinah.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Latar Belakang dan Sebab Nabi Muhammad melakukan hijrah Ke Madinah


Ketika menerima ayat 94, surah Al-Hijr, Nabi Muhammad mulai
berdakwah secara terang-terangan. Dakwahnya mendapat respon keras dari kaum
kafir Quraisy. Para pemimpin Quraisy menggunakan berbagai cara untuk
mencegah dakwah Nabi Muhammad, namun selalu gagal, baik secara diplomatik,
tawaran, dan kekerasan fisik. Puncaknya adalah embargo atau pemboikotan
terhadap bani Hasyim yang merupakan tempat Nabi Muhammad berlindung.
Pemboikotan berlangsung selama 3 tahun. Pemboikotan ini berhenti setelah kaum
Quraisy menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sangat keterlaluan.
Ancaman dari kafir Quraisy semakin keras setelah nabi Muhammad Saw
kehilangan Abu Thalib dan Siti Khadijah. Pemimpin Quraisy terang-terangan
menantang Nabi Muhammad karena menganggap kebangkitan Islam identik
dengan kehancuran posisi sosial mereka. Kebangsawanan mereka akan hilang dan
hancur karena Islam mengajarkan persamaan derajat manusia. Sistem
kepemimpinan bangsawan tidak ada di Yasrib (Madinah). Hal ini juga yang
menyebabkan Nabi Muhammad melakukan hijrah ke Madinah. Hijrah dianggap
sebagai alternatif perjuangan untuk menegakkan ajaran Islam.
Selain itu, ada beberapa faktor yang mendorong Nabi Muhammad Saw
memilih Madinah atau Yatsrib sebagai tempat hijrah umat Islam. Faktor-fakto
pendorong nabi Muhammad Saw memilih Madinah atau Yatsrib antara lain:1
1. Madinah atau Yatsrib adalah tempat yang paling dekat.
2. Sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau telah mempunyai hubungan baik
dengan penduduk kota Madinah atau Yatsrib. Hubungan itu berupa ikatan
persaudaraan karena kakek Nabi, Abdul Muthalib beristerikan orang Yatsrib.
Di samping itu, ayahnya dimakamkan di Madinah atau Yatsrib.
3. Penduduk Madinah atau Yatsrib sudah dikenal Nabi karena kelembutan budi
pekerti dan sifat-sifatnya yang baik.

1
Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, PT: Gravindo Persada : 2003 hlm 24-28

2
4. Bagi diri Nabi sendiri, hijrah merupakan keharusan selain karena perintah
Allah Swt.

B. Siasat Nabi Muhammad untuk menanamkan Islam diantara Penduduk


Madina
Dengan terbentuknya negara Madinah Islam bertambah kuat sehingga
perkembangan yang pesat itu membuat orang Makkah risau, begitu juga dengan
musuh–musuh Islam. Untuk menghadapi kemungkinan gangguan–gangguan dari
musuh, Nabi Muhammad SAW sebagai kepala pemerintahan mengatur siasat dan
membentuk pasukan tentara.
Banyak hal yang dilakukan Nabi dalam rangka mempertahankan dan
memperkuat kedudukan kota Madinah diantaranya adalah mengadakan perjanjian
damai dengan berbagai kabilah di sekitar Madinah, mengadakan ekspedisi keluar
kota sebagai aksi siaga melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak
diperlukan untuk melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk
tersebut. Akan tetapi, ketika pemeluk agama Islam di Madinah semakin
bertambah maka persoalan demi persoalan semakin sering terjadi, diantaranya
adalah rongrongan dari orang Yahudi, Munafik dan Quraisy.Namun berkat
keteguhan dan kesatuan ummat Islam, mereka dapat mengatasinya.

a. Metode Dakwah
Sejak tiba di Madinah, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya
membangun masjid sebagai tempat sholat, berkumpul, bermusyawarah serta
mengatur berbagai urusan ummat.Sekaligus memutuskan perkara yang ada di
antara mereka.Beliau menunjuk Abu Bakar dan Umar sebagai
pembantunya.Beliau bersabda “dua (orang) pembantuku di bumi adalah Abu
Bakar dan Umar.”Dengan demikian Beliau berkedudukan sebagai kepala negara,
qlodi dan panglima militer.Beliau menyelesaikan perselisihan yang terjadi di
antara penduduk Madinah dengan hukum Islam, mengangkat komandan ekspedisi
dan mengirimkannya ke luar Madinah.Negara Islam oleh Rasulullah ini dijadikan
pusat pembangunan masyarakat yang berdiri di atas pondasi yang kokoh dan pusat
persiapan kekuatan militer yang mampu melindungi negara dan menyebarkan

3
dakwah.Setelah seluruh persoalan dalam negeri stabil dan terkontrol, Baliau mulai
menyiapkan pasukan militer untuk memerangi orang-orang yang menghalangi
penyebaran risalah Islam.
b. Tahapan Da’wah Rasulullah Saw
1. Da’wah Secara Rahasia (Sirriyatud Da’wah)
Nabi mulai menyambut perintah Allah dengan mengajak manusia
untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan berhala.Tetapi da’wah
Nabi ini dilakukannya secara rahasia untuk menghindari tindakan buruk
orang-orang Quraisy yang fanatik terhadap kemusyrikan dan
paganismenya. Nabi saw tidak menampakan da’wah di majelis-majelis
umum orang-orang Quraisy, dan tidak melakukan da’wah kecuali kepada
orang-orang yang memiliki hubungan kerabat atau kenal baik sebelumnya.
Orang-orang pertama kali masuk Islam ialah Khadijah binti
Khuwailid ra, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah mantan budak
Rasulullah saw dan anak angkatnya, Abu bakar bin Abi Quhafah, Utsaman
bin Affan, Zubair bin Awwan, Abdur-Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi
Waqqash dan lainnya.
Mereka ini bertemu dengan Nabi secara rahasia. Apabila diantara
mereka ingin melaksanakan salah satu ibadah, ia pergi ke lorong-lorong
Mekah seraya bersembunyi dari pandangan orang Quraisy.
Ketika orang-orang yang menganut Islam lebih dari tiga puluh
lelaki dan wanita, Rasulullah memilih rumah salah seseorang dari mereka,
yaitu rumah al-Arqam bin Abil Arqam, sebagai tempat pertama untuk
mengadakan pembinaan dan pengajaran. Da’wah pada tahap ini
menghasilkan sekitar empat puluh lelaki dan wanita telah menganut
Islam.Kebanyakan mereka adalah orang-orang fakir, kaum budak dan
orang-orang Quraisy yang tidak memiliki kedudukan.
Dakwah Islam dimulai di Mekah dengan cara sembunyi-sembunyi.
Dan Ibnu Ishaq menyebutkan, dakwah dengan cara ini berjalan selama tiga
tahun. Demikian pula dengan Abu Naim: ia mengatakan dakwah tertutup
ini berjalan selama tiga tahun.

4
2. Da’wah Secara Terang-terangan (Jahriyatud Da’wah)
Ibnu Hisyam berkata: kemudian secara berturut-turut manusia,
wanita dan lelaki, memeluk Islam, sehingga berita Islam telah tersiar di
Mekah dan menjadi bahan pembicaraan orang. Lalu Allah memerintahkan
Rasul-Nya menyampaikan Islam dan mengajak kepadanya secara terang-
terangan, setelah selama tiga tahun Rasulullah saw melakukan da’wah
secara tersembunyi.
Pada waktu itu pula Rasulullah saw segera melaksanakan perintah
Allah, kemudian menyambut perintah Allah, “Maka siarkanlah apa yang
diperintahkan kepadamu dan janganlah kamu pedulikan orang-orang
musyrik” dengan pergi ke atas bukit Shafa lalu memanggil, “Wahai Bani
Fihir, wahai Bani ‘Adi,“ sehingga mereka berkumpul dan orang yang tidak
bisa hadir mengirimkan orang untuk melihat apa yang terjadi.

C. Peristiwa Nabi Muhammad dan Kaum Muslimin Hijrah Ke madinah


Setelah adanya ikrar Aqabah, agama Islam masuk di Madinah. Di kota
Madinah itu agama Islam berkembang dengan subur. Kebalikannya umat Islam di
Mekkah makin lama makin sempit geraknya dan makin mendapatkan tekanan
keras dari kaum Quraisy. Setelah Rasulullah memerintahkan agar kaum muslimin
di Mekkah hijrah ke Madinah. Maka hijrahnya kaum muslimin dari Mekkah ke
Madinah. Sehingga kaum muslimin yang masih menetap, di Mekkah tinggal
sedikit. Shahabat kenamaan yang masih berada di Mekkah tinggal Abu Bakar dan
Ali bin Abu Thalib untuk menemani Rasulullah menantikan turunnya wahyu
perintah hijrah. Pada saat-saat itu kota Mekkah sangat genting, Abu Jahal dengan
kawan-kawannya berusaha mencari Nabi Muhammad SAW akan dibunuh.
Nabi SAW meninggalkan rumah pada malam tanggal 12 Rabi'ul Awwal 1
H. bersamaan tanggal 28 Juni 622, pemimpin pemuda Quraisy yang bernama
Suraqah beserta kawan-kawannya mengepung rumah Rasulullah saw di Mekkah.
Mereka itu berusaha menangkap dan membunuh Rasulullah SAW. Pada saat-saat
yang genting itulah kemudian Rasulullah menerima wahyu dari Allah yang berisi,
bahwa pada saat itu orang-orang musyrik Quraisy berusaha akan membunuh
Rasulullah. Setelah menyampaikan wahyu itu Malaikat Jibril minta agar

5
Rasulullah jangan tidur di tempat tidurnya, dan minta supaya beliau hijrah ke
Madinah malam itu juga.2
Kemudian Rasulullah memerintahkan Ali bin Abu Thalib agar malam itu
tidur di tempat tidur Nabi dan memakai selimut beliau.
Wahyu dari Allah SWT yang turun pada saat itu yang artinya :
   
  
   
   
  

Artinya : "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya
upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau
membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan
Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas
tipu daya. ''. (QS. Al-Anfal : 30).

Hijrah telah membawa akibat-akibat yang lebih jauh:


1. Dari peristiwa ini, terjadi perubahan sosial. Islam sebagai sebuah
kelompok/golongan didalam masyarakat telah berkembang menjadi
sebuah kesatuan Ummat Islam. Maka sirnalah diskriminasi atas dasar
warna kulit, kredo, ataupun kekayaan. Semua Muslim setara/egaliter.
2. Menurut para ahli sejarah Muslim, Rasulullah (SAW) tiba di Quba‘ pada
tanggal 16 Juli 632 M. yang mana berada dalam bulan Muharram, dari
sinilah dimulainya perhitungan kalender Hijriyah.
3. Adalah di Madinah, diletakkan dasar-dasar khilafah (pemerintahan) Islam.
Peristiwa bersejarah berupa perjanjian-perjanjian yang dibuat bersama
dengan kelompok Yahudi dan beberapa suku yang lain menjadi panduan
bagi generasi-generasi yang kemudian.
4. Diantara sekian banyak sahabat Nabi (SAW), beliau memilih Abu Bakar
(RA) sebagai teman dalam perjalanan hijrah. Hal ini di abadikan didalam
Al-Quran, Surah At-Taubah. Ini merupakan penghargaan paling utama
bagi Abu Bakar (RA).

2
Abdul Muk’in Majid, Sejarah Kebudayaan Islam, Pustaka, Bandung, 1997, hlm.14

6
5. Setiap orang yang berpola-pikir adil dan terbuka, dari tulisan ini dapat
mengambil kesimpulan bahwa Abu Bakar (RA) telah memiliki peranan
yang amat penting dalam peristiwa Hijrah. Maka sungguh amat
menyedihkan bahwasanya sebagian orang masih menilai secara tidak adil
terhadap diri sahabat yang demikian dihormati ini.
Selama perjalanan hijrah ke Madinah Rasulullah membangun 4 masjid
yang bersejarah.Beliau melakukan perjalanan menunggu tertidurnya pasukan
Quraisj yang mengepung rumah beliau, namun dengan beraninya Ali Bin Abu
Tholib menggantikan posisi tidurnya Rasulullah SAW.Akhirnya beliau bisa
melaksanakan perjalanan hijrah atas perintah Allah SWT.Tahu Muhammad tidak
ada ditempat pasukan Quraisj mengejar Rosulullah SAW.saat itu beliu berlindung
bersama sahabatnya Abubakar Assidiq r.a. di Jabal Tsur disebelah selatan dari
Majidil haram sejauh kurang lebih 6 km. Kaum kafir dalam mengejar Rosulullah
Saw. tidak menemukan, maka mereka terus mencari dimana-mana, tetapi tidak
dapat menemukannya pula.
Pembesar-pembesar kaum kafir Quraisj telah membuat maklumat dalam
keadaan hidup ataupun mati, akan diberi hadiah 100 ekor unta, dengan demikian
nafsu mengejar Muhammad semakin besar. Sebenarnya kaum kafir Quraisj sudah
sampai di gua Jabal Tsur, mereka mendapatkan gua tersebut tertutup dengan
sarang laba-laba, dan nampak disitu burung merpati yang sedang menelor
disarangnya. Dengan melihat kadaaan tersebut Nabi Muhammad saw. tidak
mungkin bersembunyi di gua tersebut. Hati sahabat Abubakar Assidiq r.a. cemas
dan gelisah kemudian turunlah Wahyu Allah surat Attaubah ayat 40.3
Setelah orang kafir Quraisj pergi beberapa hari kemudian Nabi
Muhammad saw. dan sahabatnya meneruskan perjalanan ke Madinah
Ketika beliau sampai di Madinah, disambut dengan syair-syair dan penuh
kegembiraan oleh penduduk Madinah. Hijrah dari Makkah ke Madinah bukan
hanya sekedar berpindah dan menghindarkan diri dari ancaman dan tekanan orang
kafir Quraisy dan penduduk Makkah yang tidak menghendaki pembaharuan
terhadap ajaran nenek moyang mereka, tetapi juga mengandung maksud untuk
mengatur potensi dan menyusun srategi dalam menghadapi tantangan lebih lanjut,
3
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1985,
cetakan ke lima), hlm. 101

7
sehingga nanti terbentuk masyarakat baru yang didalamnya bersinar kembali
mutiara tauhid warisan Ibrahim yang akan disempurnakan oleh Nabi Muhammad
SAW melalui wahyu Allah SWT

D. Hikmah Hijrah bagi pertumbuhan dan perkembangan Islam


Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari Hijrahnya Nabi dan para sahabat
dari Mekah ke Madinah saat itu adalah:4
1. Pertama: perisitwa hijrah Rasululah dan para sahabatnya dari Mekah ke
Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki
makna yang sangat berarti bagi setiap Muslim, karena hijrah merupakan
tonggak kebangkitan Islam yang semula diliputi suasana dan situasi yang
tidak kondusif di Mekah menuju suasana yang prospektif di Madinah.
2. Kedua: Hijrah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa
optimisme yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal-hal yang buruk
kepada yang baik, dan hijrah dari hal-hal yang baik ke yang lebih baik
lagi. Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan
takut dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak
saudara dan harta benda mereka.
3. Ketiga: Hijrah mengandung semangat persaudaraan, seperti yang
dicontohkan oleh Rasulullah SAW pada saat beliau mempersaudarakan
antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar, bahkan beliau telah
membina hubungan baik dengan beberapa kelompok Yahudi yang hidup
di Madinah dan sekitarnya pada waktu itu.
Dalam konteks sekarang ini, pemaknaan hijrah tentu bukan selalu harus
identik dengan meninggalkan kampung halaman seperti yang dilakukan oleh
Rasulullah s.a.w. dan kaum Muhajirin, tetapi pemaknaan hijrah lebih kepada nilai-
nilai dan semangat berhijrah itu sendiri, karena hijrah dalam arti seperti ini tidak
akan pernah berhenti.
Hijrah secara bahasa berarti “tarku” (meninggalkan). Dikatakan: hijrah ila
syai’ berarti “intiqal ilaihi ‘an ghairihi” (berpindah kepada sesuatu dari sesuatu).
Sedangkan secara istilah hijrah berarti “tarku man nahallaahu ‘anhu”:

4 https://affgani.wordpress.com/2013/11/01/hikmah-dari-peristiwa-hijrah-nabi/diakses pada
11 Maret 2018

8
meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
“Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala
larangan Allah”. (HR. Bukhari)
Dengan demikian, hijrah secara maknawi terus relevan sampai kapan pun.
Bahwa nilai dan semangat hijrah harus kita bawa dalam kehidupan modern ini.
Kita berhijrah dari kejahiliyahan menuju Islam. Hijrah dari kekufuran menuju
Iman. Hijrah dari kesyirikan menuju tauhid. Hijrah dari kebathilan menuju al-haq.
Hijrah dari nifaq menuju istiqamah. Hijrah dari maksiat menuju tha’at. Dan hijrah
dari yang haram menuju yang halal.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Makna umum hijrah yang dikenal secara syar'i adalah kepergian seorang
Mukmin dari negeri yang penuh fitnah dengan kekhawatiran akan keselamatan
agamanya menuju tempat yang dapat melindungi keberlangsungan agamanya
Banyak hikmah yang dapat diperoleh dari hijrahnya nabi tersebut, karena
nabi telah membawa kebaikan dan berkah yang sangat banyak terhadap
kemanusiaan. Hijrah nabi tersebut dapat menyelamatkan manusia dari kegelapan
menuju cahaya yang lebih terang benderang
Dengan demikian, sebagai umat Islam sudah sepatutnya meneladani sikap
Nabi Muhammad SAW dalam meninggalkan berbagai keburukan, sehingga setiap
Umat Islam dapat membawa kebaikan bagi dirinya, agamanya, dan juga
bangsanya.

10
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Muk’in Majid, Sejarah Kebudayaan Islam, Pustaka, Bandung, 199

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid 1, (Jakarta: UI


Press, 1985, cetakan ke lima)

Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, PT: Gravindo Persada : 2003.

https://affgani.wordpress.com/2013/11/01/hikmah-dari-peristiwa-hijrah-
nabi/diakses pada 11 Maret 2018

11