Anda di halaman 1dari 10

A.

Konsep Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas)

Keanekaragaman adalah semua kumpulan benda yang bermacam-macam, baik ukuran, warna, bentuk,
tekstur dan sebagainya. Hayati yaitu menunjukkan sesuatu yang hidup. Jadi keanekaragaman hayati
menggambarkan bermacam-macam makhluk hidup (organisme) penghuni biosfer. Keanekaragaman
hayati disebut juga “Biodiversitas”. Keanekaragaman atau keberagaman dari makhluk hidup dapat
terjadi karena akibat adanya perbedaan warna, ukuran, bentuk, jumlah, tekstur, penampilan dan sifat-
sifat lainnya.

Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup yang menunjukkan keseluruhan variasi
gen, spesies dan ekosistem di suatu daerah. Ada dua faktor penyebab keanekaragaman hayati, yaitu
faktor genetik dan faktor luar. Faktor genetik bersifat relatif konstan atau stabil pengaruhnya terhadap
morfologi organisme. Sebaliknya, faktor luar relatif stabil pengaruhnya terhadap morfologi organisme.
Lingkungan atau faktor eksternal seperti makanan, suhu, cahaya matahari, kelembaban, curah hujan
dan faktor lainnya bersama-sama faktor menurun yang diwariskan dari kedua induknya sangat
berpengaruh terhadap fenotip suatu individu. Dengan demikian fenotip suatu individu merupakan hasil
interaksi antara genotip dengan lingkungannya Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai
tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari
mahluk bersel satu hingga mahluk bersel banyak dan tingkat organisasi kehidupan individu sampai
tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem. Keanekaragam hayati merupakan
ungkapan pernyataan terdapatnya berbagai macam variasi, bentuk, penampilan, jumlah dan sifat yang
terlihat pada berbagai tingkatan ekosistem, tingkatan jenis dan tingkatan genetik.

Keanekaragaman hayati menurut UU no 50 tahun 1994 adalah keanekaragaman diantara makhluk hidup
dari semua sumber yang termasuk diantaranya dataran, ekosistem ekuatik lain, serta komplek-komplek
ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman dalam spesies ,
antara spesies dan ekosistem.

B. Tingkat Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat
rendah sampai tingkat tinggi. Secara garis besar, keanekaragaman hayati terbagi menjadi tiga tingkatan
yaitu

1. Keanekaragaman Hayati Tingkat Gen

Keanekaragaman gen merupakan sifat yang terdapat dalam satu jenis. Dengan demikian tidak ada
satu makhluk pun yang sama persis dalam penampakannya. dengan tekhnik budaya semakin banyak
jenis tumbuhan hasil rekayasa genetik seperti padi, jagung, ketela, semangka tanpa biji, jenis-jenis
mangga, dan sebagainya. Yang membuat variasi tadi adalah :

Rumus : F = G + L
F = fenotip

G = genotip

L = lingkungan

Jika G berubah karena suatu hal (mutasi dll) atau L berubah maka akan terjadi perubahan di F.
Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya variasi tadi.

Perlu kita ketahui bahwa perangkat genetik mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Misalnya, dua
individu memiliki perangkat gen yang sama hidup dilingkungan yang berbeda maka kedua individu
tersebut dapat saja memunculkan ciri dan sifat yang berbeda. Keadaaan sebaliknya dapat juga terjadi
dua individu yang memiliki perangkat gen yang berbeda, tetapi hidup dilingkungan yang sama dapat
memunculkan ciri yang sama. Hal ini terlihat jelas bahwa dalam spesies yang sama dapat terjadi
keanekaragaman susunan gen sehingga memunculkan variasi antara individu. Begitu banyak
kemungkinan susunan gen pada setiap individu dalam satu spesies, menyebabkan tidak adanya individu
yang benar-benar sama dalam segala hal, sekalipun saudara kembar. Keanekaragam inilah yang disebut
sebagai keanekaragaman individu yang terjadi akibat keanekaragaman pada tingkat genetik.

2. Keanekaragaman Hayati Tingkat Jenis (Spesies)

Perbedaan-perbedaan pada berbagai spesies makhluk hidup di suatu tempat disebut keanekaragaman
spesies. Biasanya dijumpai pada suatu tempat yang dihuni kumpulan makhluk hidup dari berbagai
spesies (komunitas). Keanekaragaman ini lebih mudah diamati daripada Keanekaragaman gen.
Keanekaragaman hayati tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya beraneka macam jenis mahluk
hidup baik yang termasuk kelompok hewan, tumbuhan dan mikroba.Misalnya: variasi dalam satu famili
antara kucing dan harimau. Mereka termasuk dalam satu famili(famili/keluarga Felidae) walaupun ada
perbedaan fisik, tingkah laku dan habitat.

3. Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem

Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal
balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu
struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari
sebagai sumber dari semua energi yang ada. Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang
bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Semua makhluk hidup berinteraksi dengan
lingkungannya yang berupa faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik meliputi berbagai jenis makhluk hidup
lain, sedangkan yang termasuk faktor abiotik adalah iklim, cahaya, suhu, air, tanah, kelembapan, dan
sebagainya. Baik faktor biotik maupun abiotik sangat bervariasi. Oleh karena itu, ekostem yang
merupakan kesatuan dari biotik dan abiotik pun bervariasi pula.

Didalam ekosistem, komponen biotik harus dapat berinteraksi dengan komponen biotik lainnya dan juga
dengan komponen abiotik agar tetap bertahan hidup. Jadi, interaksi antar organisme didalam ekosistem
ditentukan oleh komponen biotik dan abiotik yang menyusunnya.Komponen biotik sangat
beranekaragam dan komponen abiotik berbeda kulitas dan kuantitasnya, perbedaan komponen-
komponen penyusun tersebut mengakibatkan perubahan dari interaksi yang ada sehingga menciptakan
ekosistem yang berbeda pula. Jadi jelaslah bahwa keanekaragaman hayati pada tempat yang berlainan
akan menyusun ekosistem yang berbeda.

Di bumi ada bermacam-macam ekosistem, yaitu ekosistem alam dan buatan. Secara garis
besar ekosistem alam dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan
dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.

1. Ekosistem Darat (Terestrial)

Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak
geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat yaitu sebagai berikut.

a. Bioma Gurun

Gurun dan setengah gurun banyak ditemukan di Amerika Utara, Afrika Utara, Australia dan Asia
Barat. Karakteristik dari bioma ini yaitu curah hujan sangat rendah, + 25 cm/tahun. Perbedaan suhu
siang hari dengan malam hari sangat tinggi (siang dapat mencapai 45 C, malam dapat turun sampai 0
C).Vegetasi di daerah gurun di dominasi oleh tanaman kaktus, sukulen, dan berbagaitanaman
xerofit. Hewan yang menghuni daerah gurun umumnya adalah serangga, hewan pengerat, ular dan
kadal. Contoh bioma gurun adalah Gurun Sahara di Afrika, Gurun Gobi di Asia, Gurun Anzo Borrega di
Amerika.

b. Bioma Padang Rumput

Bioma padang rumput terbentang dari daerah tropika sampai ke sub tropika.Ciri-ciri
bioma padang rumput yaitu curah hujan 25 - 50 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Vegetasi
yang mendominasi adalah rerumputan. Hewannya adalah bison, Zebra, kanguru, singa, harimau, anjing
liar, ular, rodentia, belalang dan burung. Contoh bioma padang rumput antara lain Amerika Utara, Rusia,
Afrika Selatan, Asia dan Indonesia (Sumbawa).

c. Bioma Hutan Hujan Tropis

Bioma ini berada di daerah tropik, yaitu di Indonesia, India, Thailand, Brazil, Kenya,
Costa Rica, dan Malaysia. Curah hujan tinggi yaitu 200 – 255 cm per tahun, matahari bersinar sepanjang
tahun. Jenis tumbuhan sangat banyak dan komunitasnya sangat kompleks. Tumbuhan tumbuh dengan
subur, tinggi, serta banyak cabang dengan daun yang lebat sehingga membentuk tudung atau kanopi.
Tumbuhan khas adalah kelompok liana, yaitu tumbuhan yang merambat, misalnya rotan, dan tumbuhan
epifit yaitu tumbuhan yang menempel pada tumbuhan lain, misalnya anggrek. Binatang yang menghuni
hutan hujan tropik adalah berbagai macam burung, kera, babi hutan, tupai, macan, gajah, dan rusa dan
hewan yang bersifat nokturnal.

d. Bioma Hutan Gugur


Hutan gugur terdapat di daerah subtropik di Eropa Barat, Korea, Jepang utara, dan Amerika
Timur. Bioma ini memiliki curah hujan 75 – 100 cm per tahun.Mempunyai 4 musim: musim panas,
musim dingin, musim gugur dan musim semi. Keanekaragaman jenis tumbuhan lebih rendah daripada
bioma hutan tropis.Tumbuhan yang ada terutama mapel, oak, beech, yang selalu menggugurkan
daunnya pada musim gugur. Hewan-hewan yang umum adalah rusa, beruang, dan rubah, racoon,
burung pelatuk, dan serangga.

e. Bioma Taiga

Taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik, misalnya di Rusia
dan Eropa Utara, Kanada, dan Alaska. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga
merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer (pohon spruce, alder, dan birch), pinus,
dan sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali, Hewannya antara lain moose, beruang hitam,
ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

f. Bioma Tundra

Tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-
puncak gunung tinggi. Daerah ini beriklim kutub, sehingga selalu tertutup salju. Pertumbuhan tanaman
di daerah ini hanya 60 hari.Tumbuhan yang ada terutama adalah lumut Sphagnum dan lumut
kerak.Tumbuhan tahunan hampir tidak ada. Hewan-hewan yang ada adalah beruang kutub, burung,
nyamuk, lalat hitam, serigala kutub, reinder, dan caribou bull (sebangsa rusa).

g. Bioma Karst

Karst berawal dari nama kawasan batu gamping di wilayah Yugoslavia. Kawasan karst di Indonesia rata-
rata mempunyai ciri-ciri yang hampir sama yaitu, tanahnya kurang subur untuk pertanian, sensitif
terhadap erosi, mudah longsor, bersifat rentan dengan pori-pori aerasi yang rendah,
gaya permeabilitas yang lamban dan didominasi oleh pori-pori mikro. Contoh bioma Karst terdapat di
daerah Gunung Kidul.

2. Ekosistem Perairan (Akuatik)

a. Ekosistem Air Tawar

Ekosistem air tawar memiliki kadar garam rendah. Air tawar memiliki kemampuan menyerap panas dari
cahaya matahari sehingga perubahan suhu tidak terlalu besar. Berdasarkan ada tidaknya arus, ekosistem
air tawar dibedakan menjadi ekosistem lentik (air tidak mengalir) misalnya danau, kolam, rawa, serta
ekosistem lotik (air mengalir) misalnyasungai.Tumbuhan yang menghuni lingkungan perairan tawar
meliputi tumbuhan yang berukuran besar (makrohidrofita) serta tumbuhan yang berukuran kecil, yaitu
ganggang. Tumbuhan biji di ekosistem air tawar misalnya teratai dan eceng gondok. Sedangkan
tumbuhan yang berukuran mikroskopik misalnya ganggang biru, ganggang hijau, dan diatomae. Hewan
yang menghuni air tawar adalah udang-udangan, ikan, dan serangga.

b. Ekosistem Air Laut


Bioma air laut luasnya lebih dari dua pertiga permukaan bumi. Bioma air laut kurang terpengaruh oleh
perubahan iklim dan cuaca. Ciri khas air laut adalah mempunyai kadar garam yang tinggi. Kadar garam
rata-rata air laut adalah 35 ppm (part per million). Di daerah khatulistiwa kadar garamnya lebih tinggi
daripada di daerah yang jauh dari khatulistiwa.Organisme laut memiliki pola adaptasi terhadap tekanan
osmosis sir laut yang tinggi dengan cara yang berlawanan dengan organisme air tawar.

c. Ekosistem Estuari

Estuari (muara) merupakan wilayah perairan tempat pertemuan antara sungai dan laut atau disebut
muara sungai. Muara sungai disebut pantai lumpur.
Estuari mempunyai ciri berair payau dengan tingkat salinitas di antara air tawar dan laut. Vegetasi
didominasi oleh tumbuhan bakau dan rumput laut. Beberapa organisme laut melakukan
perkembangbiakan di wilayah ini seperti ikan, ganggang, dan fitoplankton, udang dan moluska yang
dapat dimakan. Estuari banyak terdapat di wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Nutrien dari
sungai memperkaya daerah estuari.

d. Ekosistem Pantai

Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55%
terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut
sekitar 25 °C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi, sehingga terdapat batas antara lapisan air
yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah yang disebut daerahtermoklin.
Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukanpasir adalah tumbuhan Ipomoea
pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin. Tumbuhan yang hidup di ekosistem
ini menjalar dan berdaun tebal.

e. Ekosistem Sungai

Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta
mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan
oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang. Komposisi komunitas
hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai ikan air tawar.
Di hilir sering dijumpai ikan lele dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kurakura dan
ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.

f. Ekosistem Terumbu Karang

Di laut tropis, pada daerah neritik, terdapat suatu komunitas khusus yang terdiri dari karang batu clan
organisme-organisme lainnya. Komunitas ini disebut terumbu karang. Daerah komunitas ini masih dapat
ditembus cahaya matahari sehingga fotosintesis dapat berlangsung.

Terumbu karang didominasi oleh karang (koral) yang merupakan kelompok Cnidaria yang mensekresikan
kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini bermacam-macam bentuknya dan menyusun
substrat tempat hidup karang lain dan ganggang.Hewan-hewan yang hidup di karang memakan
organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikroorganisme, dan ikan hidup di
antara karang clan ganggang. Herbivor seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita,
bintang laut, dan ikan karnivor.

g. Ekosistem Laut Dalam

Merupakan zona pelagik laut. Ekosistem ini berda pada kedalaman 76000 m dari permukaan laut.
Sehingga tidak ada lagi cahaya matahari, oleh karena itu produsen utama di ekosistem ini merupakan
organisme kemoautrotof. Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat mengeluarkan
cahaya (bioluminisensi). Sebagai produsen terdapat bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.

h. Ekosistem Lamun

Lamun atau seagrass adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang hidup di
lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal.

3. Ekosistem Buatan

Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya.
Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi
pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah. Contoh ekosistem buatan adalah:

a. Bendungan.

b. Hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus.

c. Agroekosistem berupa sawah tadah hujan.

d. Sawah irigasi.

e. Ekosistem pemukiman seperti kota dan desa.

f. Ekosistem ruang angkasa.

C. Keanekaragaman hayati di Indonesia

1. FLORA:

Alfred Russel Wallace mengemukakan konsep tentang garis Wallace, yaitu garis khayal yang membagi
dua wilayah berdasarkan perbedaan kelompok tumbuhan dan hewan. Sedangkan Weber (Zoolog dari
Jerman), mengamati bahwa hewan-hewan yang berada di Sulawesi tidak sepenuhnya seperti hewan di
Australia tetapi mirip pula hewan dari daerah Oriental. Sehingga Weber menyatakan Sulawesi
merupakan wilayah peralihan antara Oriental dan Australia (peralihan daerah Barat dan
Timur). Indonesia termasuk dalam Indo Malesiana yang terdiri atas Indonesia, Filipina, Semenanjung
Malaya, dan Papua Nugini. Contoh tanamannya : rotan, jati, cendana, kayu hitam, meranti, anggrek,
mahoni dan lain-lain. Sedangkan Indo Autralia terdapat hutan kayu putih, sagu, matoa dll. Memiliki
Tumbuhan (Flora) Bertipe Malesiana Malesiana merupakan suatu kawasan botani dunia yang meliputi
Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua nugini, dan kepulauan Solomon. Misalnya pohon kayu ramin yang
tersebar di Sumatra, Kalimantan dan Maluku.

2. FAUNA :

1. Wilayah Indonesia Barat (Oriental) :

a. Mamalia berukuran besar.Misalnya : gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis), banteng (Bos
sondaicus), harimau sumatra (Panthera tigris sondaicus)

b. Banyak jenis primata.Misalnya : orang utan sumatra (Pongo pygmaeus obelii), orang utan
Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus), kera (Macaca fascicularis)

c. Warna bulu burung kurang menarik dan tidak beragam.Misalnya : burung Rangkong (Rhinoplax
vigil), murai (Myophoneus sp)

d. Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Contoh : gajah, badak, harimau, kera, siamang, orang utan.

Wilayah Indonesia Timur (Australia) :

a. Mamalia berukuran lebih Kecil.

b. Memiliki mamalia berkantong. Misalnya walabi kecil (Dorcopsulus)vanheurni), walabi semak


(Thylogale bruijni), kanguru pohon (Dendrolagus ursinus)

c. Warna bulu burung lebih menarik dan beragam.Misalnya burung cendrawasih (Paradisaea
minor), burung kasuari (Casuarius casuarius)

d. Terdapat di Papua dan sekitarnya. Contoh : kanguru, koala, kakatua, cendrawasih, kasuari, nuri
dll.

Wilayah Indonesia Tengah (peralihan) :

a. Pada daerah peralihan atau transisi Oriental-Australis (Sulawesi dan Nusa Tenggara) terdapat
hewan-hewan dengan ciri khas tersendiri. Misalnya : komodo (Varanus komodoensis) di Pulau Komodo
(NTT), babi rusa (Babyrousa babyrussa), anoa (Bubalus depressicornis), dan burung maleo
(Macrocephalon maleo) di Sulawesi

b. Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Contoh : kalong, kuda, tapir, anoa, tarsisius, babirusa, dan
komodo.

3. Memiliki Hewan Dan Tumbuhan Endemik


Di Indonesia terdapat jenis hewan dan tumbuhan endemik yang tidak terdapat di negara- negara
lain. Beberapa contoh hewan tersebut adalah komodo di pulau komodo badak bercula satu di ujung
kulon – banten. Dan contoh tumbuhannya yaitu bunga raflesia di hutan bengkulu dan matoa di Papua.

4. Memiliki Tumbuhan Dan Hewan Berstatus Langka

• Hewan Langka :

1. Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis)

2. Harimau sumatra (Panthera tgris sumatrae)

3. Tapir (Tapirus indicus)

4. komodo (Varanus komodoensis)

• Tumbuhan Langka :

1. Matoa (Pometia pinnata)

2. Gandaria (Bouea macrophylle)

3. Badali (Raermachera gigantea)

4. Sawo kecik (Manilkara kauki)

Bendo (Artrocarpus elasticus

D. Manfaat dan Nilai Keanekaragaman Hayati

1. Sebagai Sumber Pangan, Perumahan, dan Kesehatan

Kehidupan manusia sangat bergantung pada keanekaragaman hayati. Hewan dan tumbuhan yang kita
manfaatkan saat ini (misalnya ayam, kambing, padi, jagung) pada zaman dahulu merupakan hewan dan
tumbuhan liar, yang kemudian dibudidayakan karena memiliki sifat-sifat unggul yang diharapkan
manusia. Misalnya: ayam dibudidayakan karena menghasilkan telur dan daging. Padi dibudidayakan
karena menghasilkan beras. Hal ini seperti yang tertulisa dalam firman Allah dalam Al-Qur’an surat
Abasa ayat 24-34 diperoleh pengertian bahwa manusia dapat mengambil manfaat dari tumbuh-
tumbuhan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

2. Sebagai Sumber Plasma Nutfah


Beberapa jenis hewan, tumbuhan, dan mikroba yang saat ini belum diketahui kegunaannya tidak perlu
dimusnahkan, karena mungkin saja di masa yang akan datang akan memiliki peranan yang sangat
penting. Misalnya: tanaman mimba (Azadirachta indica). Dahulu tanaman ini hanya merupakan tanaman
pagar, tetapi saat ini diketahui mengandung zat azadiktrakhtin yang memiliki peranan sebagai anti hama
dan anti bakteri. Adapula jenis ganggang yang memiliki kendungan protein tinggi, yang dapat digunakan
sebagai sumber makanan masa depan misalnya Chlorella. Buah pace (mengkudu) yang semula tidak
dimanfaatkan, sekarang diketahui memiliki khasiat untuk meningkatkan kebugaran tubuh, mencegah
dan mengobati penyakit tekanan darah. Di hutan atau lingkungan kita, masih terdapat tumbuhan dan
hewan yang belum dibudidayakan, yang mungkin memiliki sifat-sifat unggul. Itulah sebabnya dikatakan
bahwa hutan merupakan sumber plasma nutfah (sifat-sifat unggul).

3. Manfaat Ekologi

Selain berfungsi untuk menunjuang kehidupan manusia, keanekaragaman hayati memiliki peranan
dalam mempertahankan keberlanjutan ekosistem. Masing-masing jenis organisme memiliki peranan
dalam ekosistemnya. Peranan ini tidak dapat digantikan oleh jenis yang lain. Misalnya: burung hantu dan
ular di ekosistem sawah merupakan pemakan tikus. Jika kedua pemangsa ini dilenyapkan oleh manusia,
maka tidak ada yang mengontrol populasi tikus. Akibatnya perkembangbiakan tikus meningkat cepat
dan di mana-mana terjadi hama tikus.

Tumbuhan merupakan penghasil zat organik dan oksigen, yang dibutuhkan oleh organisme lain. Selain
itu, tumbuh-tumbuhan dapat membentuk humus, menyimpan air tanah, dan mencegah erosi.
Keanekaragaman yang tinggi memperkokoh ekosistem. Ekosistem dengan keanekaragaman yang rendah
merupakan ekosistem yang tidak stabil. Bagi manusia, keanekaragaman yang tinggi merupakan gudang
sifat-sifat unggul (plasma nutfah) untuk dimanfaatkan di kemudian hari.

4. Manfaat Keilmuan

Keanekaragaman hayati merupakan lahan penelitian dan pengembangan ilmu yang sangat berguna
untuk kehidupan manusia.

5. Manfaat Keindahan

Keindahan alam tidak terletak pada keseragaman tetapi pada keanekaragaman. Berbagai jenis
tumbuhan digunakan untuk tanaman hias. Beberapa jenis hewan juga dimanfaatkan manusia karena
keindahan atau kemerduan suaranya, misalnya burung.

6. Konservasi (Perlindungan) Keanekaragaman Hayati

Konservasi keanekaragaman hayati atau biodiversitas sudah menjadi kesepakatan internasional. Objek
keanekaragaman hayati yang dilindungi terutama kekayaan jenis tumbuhan (flora) termasuk di dalmnya
lumut dan paku-pakuan dan kekayaan jenis hewan (fauna) serta mikroorganisme misalnya bakteri,
jamur.
Tempat perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia telah diresmikan oleh pemerintah. Lokasi
perlindungan tersebut misalnya berupa Taman Nasional, Cagar Alam, Hutan Wisata, Taman Hutan Raya,
Taman Laut, Wana Wisata, Hutan Lindung, dan Kebun Raya. Tempat-tempat tersebut memiliki makna
yang berbeda-beda meskipun fungsinya sama yaitu untuk tujuan konservasi.