Anda di halaman 1dari 7

PUISI

Pahlawan Kehidupan
Karya : Nur Wachid

Ku lihat kau berbuat


Ku dengar kau berbicara
Ku rasakan kau merasakan

Mata binar tak khayal menjadi panutan


Sejuk terasa haluan kata – katamu
Menjadi sugesti pada diri kami
Hingga jiwa ini tak sanggup berlari
Menjauhi jalan hakiki

Lelah dirimu tak kau risaukan


Hiruk pikuk kehidupan mengharu biru
Itu jasa tentang pengabdian
Bukan jasa tentang perekonomian
Semangatmu menjadi penghidupan
Untuk kami menjalani kehidupan

Jangan pernah kau bosan


Jadi haluan panutan
Meski pertiwi dalam kesengsaraan
Kaulah pelita cahaya kehidupan

Terima kasih untukmu


Sang pahlawan kehidupan
PUISI

Aku
Karya : Nur Wachid

Aku berdiri ditengah penjuru


Aku besar dengan nama itu
Aku bukan manusia
Aku hanya sebuah kata

Namaku lambang kecerdasan


Namaku membunuh kebodohan
Betapa hebatnya aku ?
Tak ada yang menandingiku

Sampai ini ku tak merasa hebat


Ini kali ku menangis
Bukan yang pertama
Bukan yang kedua

Tiada pemakai namaku


Yang menjadikanku hebat
Disana – sini kebodohan
Belum terbunuh olehku
Tangisan ini penuh pilu
Belum banyak kecerdasan
Yang bertaburan

Jadilah pahlawanku anak negeri


Hentikan pilu tangisku
Buatlah aku tersenyum
Merasa bangga akan namaku
PUISI
Lilin Kegelapan
Karya : Nur Wachid

Titik air menitik


Berbaris jarum jam berdetik
Tak henti dalam putaran waktu
Menembus masuk roda itu

Menjadi pilar generasi penerus


Bermuara menjelma sebagai arus
Berbaris ditengah tangisan pertiwi
Tak buat henti langkahkan kaki

Baktiku hanya tuk negeri ini


Ku akan jadi lilin ditengah kegelapan
Melawan segala kemunafikan
Semangatku bagai pejuang 45’
Penerus cita – cita pahlawan kita

Wahai sang guruku


Tuntunlah aku menjadi aku
Jasamu tak tampak mata
Berwujud dalam hati sanubari

Titik air menitik


Ilmu mu kan ku petik
Bukan buat negara munafik
Baca Tulis
Karya : Nur Wachid

Senja meradang kerinduan


Goresan pena menyayat kalbu
Tangisanku tak membuat pilu
Hei .. wahai pemimpinku
Pandanglah aku yang kusut ini
Duduk di sekolah ku tak bisa
Bagaimana ku tak bisa bodoh ?
Hiduppun beralas tanah
Tidurpun beratap langit
Ahhh,....
Bosan ku tak dapat membaca
Bingung ku tak dapat menulis
Seandainya ada pemimpin menangis
Pasti ku dapat baca tulis

Do’a dan Harapku


Karya : Nur Wachid

Fajar pagi tampak layuh


Sinarnya tak tampak
Jangan kau melihat itu
Bagiku itu palsu
Ku hanya ingin semangatmu
Bukan ingin egomu
Langkahkan kakimu anak didikku
Cepat dan semakin cepat
Sekali jangan buat lambat
Beribu – ribu kata akan tersendat
Besar sungguh harapku
Pada anak berpacu dengan waktu
Do’a ku selalu iringi langkahmu
Taman Ilmu
Karya : Nur Wachid

Musim kemarau panas berkepanjangan


Musim penghujan hujan berdatangan
Itulah hebatnya dirimu
Panas hujan tetap buat kau berdiri
Kau hanya tumpukan bata merah
Tulang mu hanya dari besi
Seindah dirimu namamu sama
Seburuk bentukmu tak kurangi gunamu
Kaulah taman kehidupan
Tempat tertanam berjuta ilmu
Bunga merekah terlahir darimu
Hiruk pikuk pendidikan tertelan olehmu
Tanpamu semua tampak bodoh
Alangkah indahnya .....
Jika dirimu berdiri dimana – mana
Tanpa ada beda di desa dan kota
Sayangnya kau bukan manusia
Kakimu tertanam di bumi
Tak dapat jalan kemana – mana
PUISI
Guruku
(Nia Kania A. A.)

Engkau Guruku yang lahir dari ketulusan dan jiwa luhur


Membimbingku menatap luasnya ilmu dan dalamnya pengetahuan
Menuntunku dalam ketakwaan, kesopanan, kesusilaan dan adab yang luhur
Engkau mengajarkan tutur kalimat indah yang lembut
Menaburkan benih-benih kasih yang tiada lelah

Guruku,
Engkau adalah penumbuh kuat sayapku agar bisa terbang jauh menuju luasnya dunia
Engkau adalah obor dikala gelap pengetahuanku menemui kepekatan
Enam tahun sudah aku menimba ilmu
Enam tahun sudah aku dan teman-temanku kau tuntun dengan kesucian jiwamu
Setiap lembar kertas kutulis darimu untuk bekal menyongsong masa depan
Agar aku dan teman-temanku kuat menapak mantap meraih kemenangan

Kini saatnya kuucapkan rasa terima kasihku yang tiada tara


Kupersembahkan hadiah sebait puisi untukmu
Agar menjadi kenangan diantara kita bahwa pernah terjalin sebentuk kasih
Perpisahan ini bukanlah putusnya hubungan kita
Tetapi aku ingin melangkah menuju jenjang yang lebih tinggi
Aku akan selalu mengenangmu seputih jiwamu
Semoga Allah membalas semua kebaikan dan kebijaksaanmu
Semoga Allah membalas semua ketulusanmu dan pengabdianmu

Bacalah puisi guru tersebut dengan sepenuh hati. Anda tentu akan merasa bahwa kita tentu akan
mencintai guru kita atas apa yang sudah mereka lakukan untuk kita. Puisi guru tersebut dapat
mewakili rasa terima kasih kita untuk guru.

Sumber: http://dhono-wareh.blogspot.com/2012/05/puisi-tentang-guru-pahlawan-tanpa-tanda.html
PUISI
Puisi Ibu Guru
(Muhammad Yasri)

Jasamu tak pernah engkau ingat


Tak pernah engkau pinta
Oh ibu guruku
Teringat akan senyumanmu saat aku khilaf
Senyuman peringatanmu

Wajahmu yang begitu berseri


Seakan akan mengerti maksud dari hatiku ini
Tiada tempat aku mencurahkan perasaanku selain padamu
Oh ibu guruku

Ibu, engkau memang benar,


Engkau memang pahlawan tanpa tanda Jasa
Engkau mengajarkanku membaca dengan penuh keikhlasan
Engkau membimbingku dengan penuh perhatian
Hingga aku mampu melantunkan kata-kata seperti ini

Jasamu begitu besar


Begitu bermakna
Oh ibu guruku
Aku sangat ingin memberikanmu sesuatu saat engkau jauh
Saat aku tak lagi kau bimbing
Namun akan selalu kuingat wajah berserimu..

Percayalah sungguh akan sangat bermakna hidupmu ibu


Jadilah selalu orang yang mengajarkan kami membaca
Sungguh kami akan selalu menodakanmu
Kami akan selalu mengenangmu dalam setiap langkahku
Oh ibu guruku...
Puisi Guru Tentang Rasa Terima Kasih Untuk Guru