Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

Membangun Budaya Anti Korupsi Di Kalangan Mahasiswa Melalui


Pendidikan Anti Korupsi Di Perguruan Tinggi

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “ PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN”


Dosen Pengampu : Drs. Prihatin Tiyanto PH, MT

Disusun oleh :
MOCHAMMAD BILAL
151003622010346

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS ILMU EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
SEMARANG
2016
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji saya panjatkan atas berkah rahmat yang di berikan
Allah kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik
tanpa ada halangan yang berarti.
Makalah ini di susun dengan maksud untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan. Terciptanya makalah ini, tidak hanya hasil dari
kerja keras kami, melainkan banyak pihak-pihak yang memberikan dorongan-
dorongan motivasi. Sekali lagi kami mengucapkan banyak terimakasih atas
terselesainya makalah ini.
Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesan
sempurna. Untuk itu mohon kritik dan saran yang membangun untuk
memperbaiki makalah ini di waktu mendatang.

Semarang, Juli 2016

Peyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul.................................................................................................. i
Halaman Kata Pengantar .................................................................................. ii
Halaman Daftar Isi ........................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Korupsi ......................................................................... 2
B. Faktor Penyebab serta Dampak Negatif Korupsi ........................... 10
C. Nilai-nilai dan Prinsip Anti Korupsi .............................................. 13
D. Pendidikan Anti Korupsi Serta Peran Mahasiswa Dalam Gerakan Anti
Korupsi ........................................................................................... 19
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................... 22
B. Saran ............................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 23

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia salah satu negara di ASEAN dengan jumlah penduduk yang
banyak, luas wilayah yang besar dengan berbagai kekayaan sumber daya alam
yang melimpah baik di darat maupun laut. Akan tetapi, pada kenyataannya Negara
Indonesia termasuk salah satu negara termiskin di dunia. Sumber daya alam
banyak dikuasai oleh pihak asing serta golongan-golongan konglomerat. Negara
yang seharusnya mengelola sumber daya alam tersebut untuk kepentingan dan
kesejahteraan rakyat pada kenyataannya kalah dengan kepentingan segelintir
orang dan kelompok. Para penyelenggara negara seakan-akan sudah tidak
beroientasi lagi untuk memajukan bangsa ini, mereka lebih mengutamakan
kepentingan kelompok mereka.
Tingginya angka korupsi di negeri ini menjadi masalah mendasar yang sudah
sangat mengkhawatirkan. Korupsi sudah mendarah daging di negeri ini, semua
aspek kehidupan di berbagai bidang apabila dicermati secara detail tidak akan
terlepas oleh tindakan korupsi.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Apa pengertian korupsi?
2. Apa saja faktor penyebab serta dampak negatif korupsi?
3. Bagaimana nilai dan prinsip anti korupsi itu?
4. Bagaimana pendidikan anti korupsi di perguruan tinggi serta peran
mahasiswa dalam gerakan anti-korupsi?

1
BAB 2
PEMBAHASAN

A. Pengertian Korupsi

Korupsi atau rasuah (Bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang
bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah
tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain
yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak
legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka
untuk mendapatkan keuntungan sepihak.

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar
memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

 Perbuatan melawan hukum,

 Penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana,

 Memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi, dan

 Merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Jenis tindak pidana korupsi di antaranya, namun bukan semuanya, adalah

 Memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan),

 Penggelapan dalam jabatan,

 Pemerasan dalam jabatan,

 Ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara


negara), dan

 Menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).

Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan
jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintahan rentan
korupsi dalam praktiknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan
dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima

2
pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik
ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para
pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.

Korupsi dalam perspektif hukum secara gamblang telah dimuat dalam 13


pasal dalam UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 20 Tahun 2001 Tentang
Pemberantasan Korupsi.

Dari pasal-pasal tersebut korupsi dirumuskan dalam tiga puluh bentuk/jenis


tindak pidana korupsi, pasal ini menerangkan secara rinci mengenai perbuatan
yang bisa dikenakan pidana mati, pidana penjara, dan pidana denda karena
korupsi.

1. Kerugian Keuangan Negara

a. Melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau
korporasi dan dapat merugikan keuangan negara.

Pasal 2 ayat (1) UUPTPK :dipidana penjara seumur hidup atau pidana
penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh
tahun) dan denda paling sedikit Rp 200 juta, dan paling banyak Rp 1
Milyar.
Pasal 2 ayat (2) UUPTPK bilamana tindak pidana sbgmana ayat (1)
dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan
b. Menyalahgunakan kewenangan untuk menguntungkan diri sendiri, atau
orang lain atau korporasi dan dapat merugikan keuangan negara.

Pasal 3 UUPTPK : dipidana dengan pidana seumur hidup, atau pidana


penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun
atau denda paling sedikit Rp 50 juta, dan paling banyak Rp 1 Milyar.

2. Suap-Menyuap

a. Menyuap Pegawai Negeri

Pasal 5 ayat (1) huruf a : setiap orang yang memberi atau menjanjikan
sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud
supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau
tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan
kewajibannya. Dipidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling

3
lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50 jt, dan
paling banyak Rp 250 jt.

b. Menyuap Pegawai Negeri

Pasal 5 ayat (1) huruf b : setiap orang yang memberi sesuatu kepada
pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau berhubungan
dengan sesuatu yang berentangan dengan kewajiban dilakukan atau tidak
dilakukan dalam jabatan. Dipidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun
dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50
jt, dan paling banyak Rp 250 jt.

c. Memberi hadiah kepada pegawai negeri karena jabatannya

Pasal 13 UUPTPK : Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga)


tahun dan atau denda paling banyak Rp 150jt, setiap orang yang memberi
hadiah kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau
kedudukannya, atau oleh memberi hadiah atau janji dianggap melekat pada
jabatannya atau kedudukan tersebut.

d. Pegawai negeri atau penyelenggara negara menerima suap

Pasal 5 ayat (2) UUPTPK : Pegawai negeri atau penyelenggara negara


menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud pasal 5 ayat (1)
huruf a, dan b, dipidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling
lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50jt, dan
paling banyak Rp 250 jt.

e. Pegawai negeri atau penyelenggara negara menerima suap

Pasal 12 huruf a UUPTPK : Dipidana dengan penjara seumur hidup atau


pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua
puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200 jt dan paling banyak
Rp 1 milyar, pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima
hadiah atau janji, pada hal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau
janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak
melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan
kewajibannya.

f. Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara menerima suap

Pasal 12 huruf b UUPTPK : Pegawai negeri atau penyelenggara negara


yang menerima hadiah, pada hal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah
tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan
atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yg bertentangan dengan
kewajiban nya, dipidana penjara seumur hidup / penjara paling singkat 4

4
(empat) tahun dan paling lama 20 (duapuluh) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp 200 jt, dan paling banyak Rp 1 M

g. Pegawai Negeri / Penyelenggara Negara menerima hadiah

Pasal 11 UU PTPK : Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang


menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga , bahwa
hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan
yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang
yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan
jabatannya, dipidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama
5 (lima) tahun atau atau pidana denda paling sedikit Rp 50 jt, dan paling
banyak Rp 250 jt.

h. Menyuap Hakim

Pasal 6 ayat (1) huruf a UUPTPK : Setiap orang yang memberi atau
menjanjikan sesuatu kepada Hakim dengan maksud untuk mempengaruhi
putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili, dipidana
penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun
atau atau pidana denda paling sedikit Rp 150 jt, dan paling banyak Rp
750jt.

i. Menyuap Advokat

Pasal 6 ayat (1) huruf b UUPTPK : setiap orang yang memberi atau
menjanjikan sesuatu kepada seseorang yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri sidang
pengadilan dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat
yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada
pengadilan untuk diadili, dipidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun
dan paling lama 15 (lima belas) tahun atau atau pidana denda paling
sedikit Rp 150 jt, dan paling banyak Rp 750 jt.

j. Hakim dan Advokat menerima suap

Pasal 6 ayat (2) UUPTPK : Bagi hakim atau advokat yang menerima
pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau
advokat yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) huruf b, dipidana dengan pidana yg sama sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1)

5
k. Hakim menerima suap

Pasal 12 huruf (c) UUPTPK : Hakim yang menerima hadiah atau janji,
padahal diketahuinya atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut
diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan
kepadanya untuk diadili, dipidana penjara seumur hidup, atau pidana
penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh)
tahun atau atau pidana denda paling sedikit Rp 200 jt, dan paling banyak
Rp 1 Milyar

l. Advokat Menerima Suap

Pasal 12 huruf d UUPTPK : Seseorang yang menurut ketentuan peraturan


perundang-undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri sidang
pengadilan menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut
diduga bahwa hadiah atau janji tersebut untuk mempengaruhi nasihat atau
pendapat yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan
kepada pengadilan untuk diadili, dipidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua
puluh) tahun atau atau pidana denda paling sedikit Rp 200 jt, dan paling
banyak Rp 1 Milyar.

3. Penggelapan dalam jabatan

a. Pegawai negeri menggelapkan uang atau membiarkan penggelapan.

Pasal 8 UUPTPK : Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang
ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau
sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga
yang disimpan karena jjabatannya, atau membiarkan uang atau surat
berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain, atau membantu
dalam melakukan perbuatan tersebut, dipidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun atau atau pidana denda paling sedikit Rp 150 jt, dan paling
banyak Rp 750 jt.

b. Pegawai negeri memalsukan buku untuk pemeriksaan administrasi

Pasal 9 UUPTPK : Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang
ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau
sementara waktu, dengan sengaja memalsu buku-buku atau daftar-daftar
yang khusus untuk pemeriksaan administrasi, dipidana penjara seumur
hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5
(lima ) tahun atau atau pidana denda paling sedikit Rp 50 jt, dan paling
banyak Rp 250 jt.

6
c. Pegawai negeri merusakkan bukti

Pasal 10 huruf a UUPTPK : Pegawai negeri atau orang selain pegawai


negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus
menerus atau sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan,
menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang,
akta, surat, atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau
membuktikan di muka pejabat yang berwenang yang dikuasai karena
jabatannya, dipidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama
7 (tujuh) tahun atau atau pidana denda paling sedikit Rp 100 jt, dan
paling banyak Rp 350 jt.

d. Pegawai negeri membiarkan orang lain merusakkan bukti

Pasal 10 huruf b UUPTPK : Pegawai Negeri atau orang selain pegawai


negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus
menerus atau sementara waktu, dengan sengaja membiarkan orang lain
menghilangkan, menghancurkan , merusakkan, atau \ membuat tidak
dapat dipakai barang, surat, atau daftar tersebut, dipidana penjara paling
singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun atau atau pidana
denda paling sedikit Rp 100 jt, dan paling banyak Rp 350 jt.

e. Pegawai negeri membantu orang lain merusakkan bukti.

Pasal 10 huruf c UUPTPK : Pegawai Negeri atau orang selain pegawai


negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus
menerus atau sementara waktu, dengan sengaja membantu orang lain
menghilangkan, menghancurkan , merusakkan, atau membuat tidak dapat
dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut, dipidana penjara paling
singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun atau atau pidana
denda paling sedikit Rp 100 jt, dan paling banyak Rp 350 jt.

4. Pemerasan

a. Pegawai negeri dan penyelenggara negara memeras

Pasal 12 huruf e UUPTPK : Pegawai negeri atau penyelenggara negara


yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara
melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa
seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran
dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri,
dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun atau pidana denda
paling sedikit Rp 200 jt, dan paling banyak Rp 1 Milyar

7
b. Pegawai negeri atau penyelenggara negara memeras

Pasal 12 huruf g UUPTPK : Pegawai negeri atau penyelenggara negara


yang pada waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima pekerjaan,
atau penyerahan barang , seolah-olah merupakan utang kepada dirinya,
pada hal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang, dipidana
penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun
dan paling lama 20 (dua puluh) tahun atau pidana denda paling sedikit Rp
200 jt, dan paling banyak Rp 1 M

c. Pegawai negeri atau penyelenggara negara memeras pegawai negeri atau


penyelenggara negara.

Pasal 12 huruf f UUPTPK : Pegawai negeri atau penyelenggara negara


yang pada waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima atau
memotong pembayaran kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
yang lain atau kepada kas umum seolah-olah pegawai negeri atau
penyelenggara negara lain atau kas umum tersebut mempunyai utang
kepadanya, pada hal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan
utang,dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun atau pidana denda
paling sedikit Rp 200 jt, dan paling banyak Rp 1 M

5. Perbuatan Curang

a. Pemborong berbuat curang

Pasal 7 ayat (1) huruf a UUPTPK : Pemborong akhli bangunan yang pada
waktu membuat bangunan, atau menjual bahan bangunan yang ada pada
waktu menyerahkan bahan bangunan melakukan perbuatan curang yang
dapat membahayakan keamanan orang atau barang atau keselamatan
negara dalam keadaan perang, dipidana penjara paling singkat 2 (dua)
tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda paling sedikit
Rp 100 jt, dan paling banyak Rp 350 jt.

b. Pengawas proyek membiarkan perbuatan curang

Pasal 7 ayat (1) huruf b UUPTPK : setiap orang yang bertugas mengawasi
pembangunan atau penyerahan bahan bangunan, sengaja membiarkan
perbuatan curang sebagaimana dimaksud huruf a, dipidana penjara paling
singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda
paling sedikit Rp 100 jt, dan paling banyak Rp 350 jt.

8
c. Rekanan TNI/POLRI berbuat curang

Pasal 7 ayat (1) huruf c : Setiap orang yang pada waktu menyerahkan
barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara
Republik Indonesia melakukan perbuatan curang yang dapat
membahayakan keselamatan negara dalam keadaan perang, dipidana
penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun atau
pidana denda paling sedikit Rp 100 jt, dan paling banyak Rp 350 jt

d. Pengawas rekanan TNI / POLRI berbuat curang

Pasal 7 ayat (1) huruf d UUPTPK : Setiap orang yang bertugas mengawasi
barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara
Republik Indonesia dengan sengaja membiarkan perbuatan curang
sebagaimana dimaksud huruf c, dipidana penjara paling singkat 2 (dua)
tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda paling sedikit Rp
100 jt, n paling banyak Rp 350 jt.

e. Penerima barang TNI / POLRI membiarkan perbuatan curang

Pasal 2 ayat (2) UUPTPK : Bagi orang yang menerima penyerahan bahan
bangunan atau orang yang menerima penyerahan barang keperluan TNI
dan / atau POLRI dan membiarkan perbuatan curang sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) huruf c, dipidana dengan pidana yang sama
sebagaimna dmaksudkan dalam ayat (1)

f. Pegawai negeri atau penyelenggara negara menyerobot tanah negara


sehingga merugikan orang lain.

Pasal 12 huruf a UUPTPK : Pegawai negeri atau penyelenggara negara


yang pada waktu menjalankan tugas telah menggunakan tanah negara
yang diatasnya terdapat hak pakai, seolah-olah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, telah merugikan orang yang berhak, pada hal
diketahuinya pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian
ditugaskan untuk mengurus atau mengawasinya. dipidana penjara paling
singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun atau pidana
denda paling sedikit Rp 200 jt, dan paling banyak Rp 1 M

6. Benturan Kepentingan Dalam Pengadaan

a. Pegawai negeri atau penyelenggara negara turut serta dalam pengadaan


yang diurusnya

Pasal 12 huruf i UUPTPK : Pegawai negeri atau penyelenggara negara


baik langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut serta dalam
pemborongan, pengadaan, atau persewaan, yang pada saat dilakukan

9
perbuatan, untuk seluruhnya atau sebagian ditugaskan untuk mengurusi
atau mengawasi, dipidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan
paling lama 20 (dua puluh) tahun atau pidana denda paling sedikit Rp
200 jt, dan paling banyak Rp 1 M

7. Gratifikasi

a. Pegawai negeri atau penyelenggara negara menerima gratifikasi dan tidak


lapor KPK

Pasal 12 B UUPTPK :

(1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara


dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan
yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan
sebagai berikut :

 Yang nilainya Rp 10 jt atau lebih, pembuktian bahwa gratifikasi


tersebut bukan merupakan suap, yang dilakukan oleh penerima
gratifikasi;
 Yang nilainya kurang dari Rp 10 jt pembuktian bahwa gratifikasi
tersebut adalah suap, oleh penuntut umum.

(2) Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana


dimaksud ayat (1) adalah pidana seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun atau pidana
denda paling sedikit Rp 200 jt, dan paling banyak Rp 1 M

B. Faktor Penyebab Serta Dampak Negatif Korupsi


Beberapa kondisi yang menjadi faktor-faktor terjadinya korpsi di Indonesia
diantaranya :

 Konsentrasi kekuasaan di pengambil keputusan yang tidak bertanggung jawab langsung


kepada rakyat, seperti yang sering terlihat di rezim-rezim yang bukan demokratik.
 Kurangnya transparansi di pengambilan keputusan pemerintah
 Kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari
pendanaan politik yang normal.
 Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar.
 Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan "teman lama".
 Lemahnya ketertiban hukum.
 Lemahnya profesi hukum.

10
 Kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa.
 Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil.
Sedangkan beberapa dampak yangditimbulkan oleh korupsi sendiri antara lain
sebagai berikut :
1. Demokrasi
Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Di dalam
dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang
baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi
di pemilihan umum dan di badan legislatif mengurangi akuntabilitas dan
perwakilan di pembentukan kebijaksanaan; korupsi di sistem pengadilan
menghentikan ketertiban hukum; dan korupsi di pemerintahan publik
menghasilkan ketidak-seimbangan dalam pelayanan masyarakat. Secara
umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah, karena
pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau
dinaikan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat yang bersamaan, korupsi
mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan
dan toleransi.
2. Ekonomi
Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi
kualitas Pelayanan pemerintahan. Korupsi juga mempersulit
pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi dan ketidak efisienan yang
tinggi. Dalam sektor private, korupsi meningkatkan ongkos niaga karena
kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan
pejabat korup, dan risiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan.
Walaupun ada yang menyatakan bahwa korupsi mengurangi ongkos (niaga)
dengan mempermudah birokrasi, konsensus yang baru muncul berkesimpulan
bahwa ketersediaan sogokan menyebabkan pejabat untuk membuat aturan-
aturan baru dan hambatan baru. Dimana korupsi menyebabkan inflasi ongkos
niaga, korupsi juga mengacaukan "lapangan perniagaan". Perusahaan yang
memiliki koneksi dilindungi dari persaingan dan sebagai hasilnya
mempertahankan perusahaan-perusahaan yang tidak efisien.

11
Korupsi menimbulkan distorsi (kekacauan) di dalam sektor
publik dengan mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek masyarakat
yang mana sogokan dan upah tersedia lebih banyak. Pejabat mungkin
menambah kompleksitas proyek masyarakat untuk menyembunyikan praktik
korupsi, yang akhirnya menghasilkan lebih banyak kekacauan. Korupsi juga
mengurangi pemenuhan syarat-syarat keamanan bangunan, lingkungan hidup,
atau aturan-aturan lain. Korupsi juga mengurangi kualitas pelayanan
pemerintahan dan infrastruktur; dan menambahkan tekanan-tekanan terhadap
anggaran pemerintah.

Para pakar ekonomi memberikan pendapat bahwa salah satu faktor


keterbelakangan pembangunan ekonomi di Afrika dan Asia, terutama di
Afrika, adalah korupsi yang berbentuk penagihan sewa yang menyebabkan
perpindahan penanaman modal (capital investment) ke luar negeri, bukannya
diinvestasikan ke dalam negeri (maka adanya ejekan yang sering benar bahwa
ada diktator Afrika yang memiliki rekening bank di Swiss). Berbeda sekali
dengan diktator Asia, seperti Soeharto yang sering mengambil satu potongan
dari semuanya (meminta sogok), namun lebih memberikan kondisi untuk
pembangunan, melalui investasi infrastruktur, ketertiban hukum, dan lain-
lain. Pakar dariUniversitas Massachussetts memperkirakan dari tahun 1970
sampai 1996, pelarian modal dari 30 negara sub-Sahara berjumlah US $187
triliun, melebihi dari jumlah utang luar negeri mereka sendiri. [1] (Hasilnya,
dalam artian pembangunan (atau kurangnya pembangunan) telah dibuatkan
modelnya dalam satu teori oleh ekonomis Mancur Olson). Dalam kasus
Afrika, salah satu faktornya adalah ketidak-stabilan politik, dan juga
kenyataan bahwa pemerintahan baru sering menyegel aset-aset pemerintah
lama yang sering didapat dari korupsi. Ini memberi dorongan bagi para
pejabat untuk menumpuk kekayaan mereka di luar negeri, di luar jangkauan
dari ekspropriasi pada masa depan.

12
3. Kesejahteraan umum negara

Korupsi politis ada di banyak negara, dan memberikan ancaman besar


bagi warga negaranya. Korupsi politis berarti
kebijaksanaan pemerintah sering menguntungkan pemberi sogok, bukannya
rakyat luas. Satu contoh lagi adalah bagaimana politikus membuat peraturan
yang melindungi perusahaan besar, namun merugikan perusahaan-perusahaan
kecil (SME). Politikus-politikus "pro-bisnis" ini hanya mengembalikan
pertolongan kepada perusahaan besar yang memberikan sumbangan besar
kepada kampanye pemilu mereka.

C. Nilai-Nilai Dan Prinsip Anti-Korupsi


Dalam berbagai buku dan pembahasan disebutkan bahwa nilai-nilai anti
korupsi berjumlah 9 buah, yaitu :
1. Kejujuran
Kejujuran berasal dari kata jujur yang dapat di definisikan sebagai
sebuah tindakan maupun ucapan yang lurus, tidak berbohong dan tidak
curang. Dalam berbagai buku juga disebutkan bahwa jujur memiliki
makna satunya kata dan perbuatan. Jujur ilah merupakan salah satu nilai
yang paling utama dalam anti korupsi, karena tanpa kejujuran seseorang
tidak akan mendapat kepercayaan dalam berbagai hal, termasuk dalam
kehidupan sosial. Bagi seorang mahasiswa kejujuran sangat penting dan
dapat diwujudkan dalam bentuk tidak melakukan kecurangan akademik,
misalnya tidak mencontek, tidak melakukan plagiarisme dan tidak
memalsukan nilai. Lebih luas, contoh kejujuran secara umum
dimasyarakat ialah dengan selalu berkata jujur, jujur dalam menunaikan
tugas dan kewajiban, misalnya sebagai seorang aparat penegak hukum
ataupun sebagai masyarakat umum dengan membaya pajak.
2. Kepedulian
Arti kata peduli adalah mengindahkan, memperhatikan dan
menghiraukan. Rasa kepedulian dapat dilakukan terhadap lingkungan
sekitar dan berbagai hal yang berkembang didalamnya.Nilai kepedulian

13
sebagai mahasiswa dapat diwujudkan dengan berusaha memantau
jalannya proses pembelajaran, memantau sistem pengelolaan sumber
daya dikampus serta memantau kondisi infrastruktur di kampus. Selain
itu, secara umum sebagai masyarakat dapat diwujudkan dengan peduli
terhadap sesama seperti dengan turut membantu jika terjadi bencana
alam, serta turut membantu meningkatkan lingkungan sekitar tempat
tinggal maupun di lingkungan tempat bekerja baik dari sisi lingkungan
alam maupun sosial terhadap individu dan kelompok lain.
3. Kemandirian
Di dalam beberapa buku pembelajaran, dikatakan bahwa mandiri
berarti dapat berdiri diatas kaki sendiri, artinya tidak banyak bergantung
kepada orang lain dalam berbagai hal. Kemandirian dianggap sebagai
suatu hal yang penting harus dimiliki oleh seorang pemimpin, karena
tampa kemandirian seseorang tidak akan mampu memimpin orang lain.
4. Kedisiplinan
Definisi dari kata disiplin ialah ketaatan atau kepatuhan kepada
peraturan. Sebaliknya untuk mengatur kehidupan manusia memerlukan
hidup yang disiplin. Manfaat dari disiplin ialah seseorang dapat mencpai
tujuan dengan waktu yang lebih efisien. Kedisiplinan memiliki dampak
yang sama dngan nilai-nilai antikorupsi lainnya yaitu dapat
menumbuhkan kepercayaan dari orang lain dalam berbagai hal.
Kedisiplinan dapat diwujudkan antara lain dalam bentuk kemampuan
mengatur waktu dengan baik, kepatuhan kepada seluruh peraturan dan
ketentuan yang berlaku, mengerjakan segala sesuatu dengan tepat waktu,
dan fokus pada pekerjaan.
5. Tanggung Jawab
Kata tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala
sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan dan
diperkarakan). Seseorang yang memiliki tanggung jawab akan memiliki
kecenderungan menyelesaikan tugas dengan lebih baik. Seseorang yang
dapat menunaikan tanggung jawabnya sekecil apa-pun itu dengan baik

14
akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Penerapan nilai tanggung
jawab antara lain dapat diwujudkan dalam bentuk belajar dengan
sungguh-sungguh, lulus tepat waktu dengan nilai baik, mengerjakan tugas
akademik dengan baik, menjaga amanah dan kepercayaan yang diberikan.
6. Kerja Keras
Kerja keras didasari dengan adanya kemauan. Di dalam kemauan
terkandung ketekadan, ketekunan, daya tahan, daya kerja, pendirian
keberanian, ketabahan, keteguhan dan pantang mundur. Bekerja keras
merupakan hal yang penting guna tercapainya hasil yang sesuai dengan
target. Akan tetapi bekerja keras akan menjadi tidak berguna jika tanpa
adanya pengetahuan.
7. Kesederhanaan
Gaya hidup merupakan suatu hal yang sangat penting bagi interaksi
dengan masyarakat disekitar. Dengan gaya hidup yang sederhana manusia
dibiasakan untuk tidak hidup boros, tidak sesuai dengan kemampuannya.
Dengan gaya hidup yang sederhana, seseorang juga dibina untuk
memprioritaskan kebutuhan diatas keinginannya.
8. Keberanian
Keberanian dapat diwujudkan dalam bentuk berani mengatakan dan
membela kebenaran, berani mengakui kesalahan, berani bertanggung
jawab, dan sebagainya. Keberanian sangat diperlukan untuk mencapai
kesuksesan dan keberanian akan semakin matang jika diiringi dengan
keyakinan, serta keyakinan akan semakin kuat jika pengetahuannya juga
kuat.
9. Keadilan
Berdasarkan arti katanya, adil adalah sama berat, tidak berat sebelah
dan tidak memihak. Keadilan dari sudut pandang bangsa Indonesia
disebut juga keadilan sosial, secara jelas dicantumkan dalam pancasila
sila ke-2 dan ke-5, serta UUD 1945. Keadilan adalah penilaian dengan
memberikan kepada siapapun sesuai dengan apa yang menjadi haknya,
yakni dengan bertindak proposional dan tidak melanggar hukum.

15
Keadilan berkaitan erat dengan hak, dalam konsepsi bangsa Indonesia
hak tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban. Dalam konteks
pembangunan bangsa Indonesia keadilan tidak bersifat sektoral tetapi
meliputi ideologi. Untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.
Adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.

Sedangkan prinsip-pronsip anti korupsi, yaitu :


1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kesesuaian antara aturan dan pelaksanaan kerja.
Semua lembaga mempertanggung jawabkan kinerjanya sesuai aturan
main baik dalam bentuk konvensi (de facto) maupun konstitusi (de jure),
baik pada level budaya (individu dengan individu) maupun pada level
lembaga. Akuntabilitas publik secara tradisional dipahami sebagai alat
yang digunakan untuk mengawasi dan mengarahkan perilaku administrasi
dengan cara memberikan kewajiban untuk dapat memberikan jawaban
(answerability) kepada sejumlah otoritas eksternal (Dubnik : 2005).
Selain itu akuntabilitas publik dalam arti yang lebih fundamental merujuk
kepada kemampuan seseorang terkait dengan kinerja yang diharapkan.
(Pierre : 2007). Seseorang yang diberikan jawaban ini haruslah seseorang
yang memiliki legitimasi untuk melakukan pengawasan dan
mengharapkan kinerja (Prasojo : 2005). Akuntabilitas publik memiliki
pola-pola tertentu dalam mekanismenya, antara lain adalah akuntabilitas
program, akuntablitas proses, akuntailitas keuangan, akuntabilitas
outcome, akuntabilitas hukum, dan akuntabilitas politik (Puslitbang,
2001). Dalam pelaksanaannya, akuntabilitas harus dapat diukur dan
dipertanggungjawabkan melalui mekanisme pelaporan dan
pertanggungjawaban atas semua kegiatan yang dilakukan. Evaluasi atas
kinerja administrasi, proses pelaksanaan, dampak dan manfaat yang
diperoleh masyarakat baik secara langsung maupun manfaat jangka
panjang dari sebuah kegiatan.

16
2. Transparansi
Prinsip transparansi penting karena pemberantasan korupsi dimulai
dari transparansi dan mengharuskan semua proseskebijakan dilakukan
secara terbuka, sehingga segala bentuk penyimpangan dapat diketahui
oleh publik. Transparansi menjadi pintu masuk sekaligus kontrol bagi
seluruh proses dinamika struktural kelembagaan. Dlam bentuk yang
paling sederhana, transparansi mengacu pada keterbukaan dan kejujuran
untuk saling menjunjung tinggi kepercayaan (trust) karena kepercayaan,
keterbukaan, dan kejujuran ini merupakan modal awal yang sangat
berharga bagi semua orang untuk melanjutkan hidupnya di masa
mendatang. Dalam prosesnya transparansi dibagi menjadi lima, yaitu :
– Proses penganggaran,
– Proses penyusunan kegiatan,
– Proses pembahasan,
– Proses pengawasan, dan
– Proses evaluasi.
Proses penganggaran bersifat bottom up, mulai dari perencanaan,
implementasi, laporan pertanggungjawaban dan penilaian (evaluasi)
terhadap kinerja anggaran.
Di dalam proses penyusunan kegiatan atau proyek pembangunan
terkait dengan proses pembahasan tentang sumber-sumber pendanaan
(anggaran pendapatan) dan alokasi anggaran (anggaran belanja).
Proses pembahasan membahas tentang pembutan rancangan
peraturan yang berkaitan dengan strategi penggalangan (pemungutan
dana), mekanisme pengelolaan proyek mulai dari pelaksanaan tender,
pengerjaan teknis, pelaporan finansial dan pertanggungjawaban secara
teknis.
Proses pengawasan dalam pelksnaaan program dan proyek
pembangunan berkaitan dengan kepentingan publik dan lebih khusus lagi
adalah proyek-proyek yang diusulkan oleh masyarakat sendiri.

17
Proses evaluasi ini berlaku terhadap penyelenggaraan proyek
dijalankan secara terbuka dan bukan hanya pertanggungjawaban secara
administratif, tapi juga secara teknis dan fisik dari setiap output kerja-
kerja pembangunan.
3. Kewajaran
Prinsip fairness atau kewajaran ini ditunjukkan untuk mencegah
terjadinya manipulasi (ketidakwajaran) dalam penganggaran, baik dalam
bentuk mark up maupun ketidakwajaran dalam bentuk lainnya. Sifat-sifat
prinsip ketidakwajaran ini terdiri dari lima hal penting komperehensif dan
disiplin, fleksibilitas, terprediksi, kejujuran dan informatif.
Komperehensif dan disiplin berarti mempertimbangkan keseluruhan
aspek, berkesinambungan, taat asas, prinsip pembebanan, pengeluaran
dan tidak melampaui batas (off budget). Fleksibilitas artinya adalah
adanya kebijakan tertentu untuk mencapai efisiensi dan efektifitas.
Terprediksi berarti adanya ketetapan dlam perencanaan atas dasar asas
value for money untuk menghindari defisit dalam tahun anggaran
berjalan. Anggaran yang terprediksi merupakan cerminan dari adanya
prinsip fairness di dalam proses perencanaan pembangunan. Kejujuran
mengandung arti tidak adanya bias perkiraan penerimaan maupun
pengeluaran yang disengaja yang berasal dari pertimbangan teknis
maupun politis. Kejujuran merupakan bagian pokok dari prinsip fairness.
Penerapan sifat informatif agar dapat tercapainya sistem informasi
pelaporan yang teratur dan informatif. Sistem informatif ini dijadikan
sebagai dasar penilaian kinerja, kejujuran dan proses pengambilan
keputusan selain itu sifat ini merupakan ciri khas dari kejujuran.
4. Kebijakan
Kebijakan ini berperan untuk mengatur tata interaksi agar tidak
terjadi penyimpangan yang dapat merugikan negara dan masyarakat.
Kebijakan anti korupsi ini tidak selalu identik dengan undang-undang anti
korupsi, namun bisa berupa undang-undang kebebasan mengakses
informasi, undang-undang desentralisasi, undang-undang anti-monopoli,

18
maupun lainnya yang dapat memudahkan masyarakat mengetahui
sekaligus mengontrol terhadap kinerja dan penggunaan anggaran negara
oleh para pejabat negara. Aspek-aspek kebijakan terdiri dari isi kebijakan,
pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan, kultur kebijakan. Kebijakan anti
korupsi akan efektif apabila didalamnya terkandung unsur-unsur yang
terkait dengan persoalan korupsi dan kualitas dari isi kebijakan
tergantung pada kualitas dan integritas pembuatnya. Kebijakan yang telah
dibuat dapat berfungsi apabila didukung oleh aktor-aktor penegak
kebijakan yaitu kepolisian, kejaksaan, pengadilan, pengacara, dan
lembaga pemasyarakatan. Eksistensi sebuah kebijakan tersebut terkait
dengan nilai-nilai, pemahaman, sikap, persepsi dan kesadaran masyarakat
terhadap hukum atau undang-undang anti korupsi. Lebih jauh lagi kultur
kebijakan ini akan menentukan tingkat partisipasi masyarakat dalam
pemberantasan korupsi.
5. Kontrol Kebijakan
Kontrol kebijakan merupakan upaya agar kebijakan yang dibuat
betul-betul efektif dan mengeliminasi semua bentuk korupsi. Bentuk
kontrol kebijakan berupa partisipasi, evolusi dan reformasi. Kontrol
kebijakan partisipasi yaitu melakukan kontrol terhadap kebijakan dengan
ikut serta dalam penyusunan dan pelaksanaannya. Kontrol kebijakan
evolusi yaitu dengan menawarkan alternatif kebijakan baru yang
dianggap lebih layak. Kontrol kebijakan reformasi yaitu mengontrol
dengan mengganti kebijakan yang dianggap tidak sesuai.

D. Pendidikan Anti Korupsi Serta Peran Mahasiswa Dalam Gerakan Anti


Korupsi
Salah satu upaya dikti dalam membentuk karakter bangsa yaitu dengan
melaksanakan Pendidikan Anti Korupsi di seluruh perguruan tingi di Indonesia.
Sesuai dengan PP 71 Th. 2000: “Peran serta masyarakat adalah peran aktif
perorangan, Ormas, atau LSM dalam pencegahan dan pemberantasan tindak

19
pidana korupsi.” Maka dari itulah mahasiswa harus turut andil dalam upaya
pencegahan serta pemberantasan tindak pidana korupsi.
Program Pendidikan Anti Korupsi mempunyai visi yaitu terwujudnya sarjana
Indonesia berkarakter bersih korupsi. Sedangkan misi dari Pendidikan Anti
Korupsi diantaranya :
• Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa terhadap bahaya
korupsi
• Meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap bahaya korupsi
• Meningkatkan peran mahasiswa dalam gerakan anti korupsi
• Melakukan PENDIDIKAN & PENGAJARAN ANTI KORUPSI
Tujuan diadakannya Pendidikan Anti Korupsi di Indonesia adalah :
 Membangun budaya anti korupsi di kalangan mahasiswa dengan:
 Memberikan pengetahuan tentang korupsi dan pemberantasannya
 Menanamkan nilai-nilai anti korupsi
 Menyiapkan mahasiswa sebagai agent of change bagi kehidupan
bermasyarakat dan bernegara yang bersih dan bebas dari korupsi.
Peran pokok mahasiswa dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi
terbagi dalam 3 tahap yaitu :
a. Tahap Pencegahan
Pendidikan Anti Korupsi
• Mewajibkan Pemimpin Mahasiswa untuk Mengikuti Pendidikan
Anti Korupsi
• Mendorong adanya Pendidikan Anti Korupsi di Kampus
• Mengadakan Seminar Anti-Korupsi
• Adanya Materi Pendidikan Anti-Korupsi di Kaderisasi Mahasiswa
Kampanye Ujian Bersih
• Pembuatan Media Prograganda (Baliho, Spanduk, dan Poster)
• Pembuatan Media On-line untuk mengkampanyekan Ujian Bersih
• Menanamkan Nilai Kejujuran/Ujian Bersih di Kaderisasi
Mahasiswa

20
b. Tahap Opini
Gagasan / Ide
• Memperbanyak opini mengenai kasus korupsi ke media
• Membuat Bunga Rampai (buku) mengenai Anti-Korupsi
• Membuat audiovisual interaktif terkait anti-korupsi
Metode Pencegahan Korupsi
• Gagasan untuk pencegahan korupsi sejak dini (PAUD, SD, SMP,
SMA)
• Membuat Korps Anti Korupsi di Tingkat Universitas
• Adanya Tata Etika dan Norma diantara Mahasiswa
Mengangkat Isu Korupsi Lokal-Nasional
• Mahasiswa diharapkan dapat lebih peka dan siaga menanggapi isu
Korupsi lokal yang terjadi
• Advokasi dan Pengawalan Penyusunan Anggaran serta pelaksanaan
pembangunan di daerah / nasional

c. Tahap Gerakan Moral


Gerakan moral untuk mendorong pemerintah menindaklanjuti kasus
korupsi yang terjadi
 Sebagai kelompok penyeimbang bagi gerakan yang mendukung
koruptor.
 Mendorong Penguatan institusi KPK sebagai lembaga pemberantasan
korupsi yang kredibel, kokoh, dan transparan.

21
BAB 3
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Korupsi yang terjadi di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan dan
berdampak buruk luar biasa pada hampir seluruh sendi kehidupan. Korupsi telah
menghancurkan sistem perekonomian, sistem demokrasi, sistem politik, sistem
hukum, sistem pemerintahan, dan tatanan sosial kemasyarakatan di negeri ini.
Dilain pihak upaya pemberantasan korupsi yang telah dilakukan selama ini belum
menunjukkan hasil yang optimal. Korupsi dalam berbagai tingkatan tetap saja
banyak terjadi seolah-olah telah menjadi bagian dari kehidupan kita yang bahkan
sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Jika kondisi ini tetap kita biarkan
berlangsung maka cepat atau lambat korupsi akan menghancurkan negeri ini. Ini
dapat menjadi indikator bahwa nilai-nilai dan prinsip anti korupsi seperti yang
telah diterangkan diatas penerapannya masih sangat jauh dari harapan. Banyak
nilai-nilai yang terabaikan dan tidak dengan sungguh-sungguh dijalani sehingga
penyimpangannya menjadi hal yang biasa.
Pendidikan memang menjadi hal pokok untuk merubah keadaan ini. Akan
tetapi, semua itu tidak akan berjalan dengan lancar apabila tidak didukung oleh
lingkungan masyarakat serta lingkungan keluarga. Oleh karena itulah tugas kita
sebagai mahasisa untuk membangkitkan lagi nilai-nilai serta prinsip-prinsip anti
korupsi tersebut dalam kehidupan sehari-hari demi kemajuan bangsa dan negara
Indonesia.

B. SARAN
Mahasiswa sebagai calon penerus bangsa ini sudah selayaknya lebih peka dan
peduli akan kondisi bangsa dan negara. Pendidikan Anti Korupsi yang didapat
dari bangku perkuliahan harusnya dapat diimplementasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Apabila sudah mengenali dan memahami korupsi, alangkah baiknya
kita dapat mencegahnya mulai dari diri kita sendiri kemudian setelah itu baru
mencegah orang lain.

22
DAFTAR PUSTAKA

http://dokumen.tips/documents/materi-korupsi.html#
http://dokumen.tips/documents/materi-anti-korupsi.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi
http://r.search.yahoo.com/_ylt=A0LEVoA685pXbgwAAHr3RQx.;_ylu=X3oDMTBya3R2Zm
V1BHNlYwNzcgRwb3MDNARjb2xvA2JmMQR2dGlkAw--
/RV=2/RE=1469801402/RO=10/RU=http%3a%2f%2facch.kpk.go.id%2fdocuments%2f101
80%2f11243%2fBuku-Pendidikan-Anti-Korupsi-untuk-Perguruan-
Tinggi.pdf%2f540542da-4060-4029-ae3e-
5e7dedb36d26/RK=0/RS=TzyeMxv06mpXirC4qZstL.M.T30-

23