Anda di halaman 1dari 2

Pengobatan

Penderita yang sudah positif menderita tuberkulosis diobati melalui Program Nasional
Penanggulangan TBC (strategi DOTS). Penderita harus mengkonsumsi OAT (obat anti
tuberkulosis) minimal 6 bulan.
OBAT-OBAT ANTI TUBERKULOSIS
a. Insonlazid (INH)
Dosis : 5 mg/Kg BB, PO
Efek samping : periferal neurotis, hepatitis, dan hipersensitivitas.
b. Ethambutol Hidrochloride (EMB)
Dosis :
1) Dewasa 15 mg/Kg BB, PO, untuk pengobatan ulang melalui dengan 25 mg/Kg
BB/hari selama 60 hari, kemudian diturunkan sampai 15 mg/Kg BB/hari.
2) Anak 6-12 tahun : 10-15 mg/Kg BB/hari
Efek samping : optik neuritis (dapat sampai menjadi buta) dan skin rash.
c. Rifamin/rifamicin (RFP)
Dosis : 10 mg/Kg BB/hari PO.
Efek samping : hepatitis, reaksi demam, purpura, neusea, dan vomiting.
d. Pyrazinamide (PZA)
Dosis : 15-30 mg/Kg BB PO
Efek samping : Hiperurikemia, hepatotoksisitas, skin rash, artralgia, dan distress
gastrointestinal.
DETEKSI DINI TB
Untuk memastikan bahwa anda penderita TB, harus dilakukan beberapa tes antara lain
sebagai berikut.
1. Anamnesa, terhadap pasien maupun anggota keluarganya.
2. Pemeriksaan fisik secara langsung.
3. Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, dan cairan otak).
4. Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
5. Uji tuberkulin.
6. Pemeriksaan X-ray (rontgen dada atau torax photo).
7. PPD (Purified Protein Drivative) skin tes, ini yang biasanya pertama kali dijalankan,
sebelum di rontgen paru-paru. Setelah kulit ditindik, dilihat dalam waktu 48-72 jam,
untuk diukur besar bengkak yang terjadi pada kulit. Biasanya kalau bengkak lebih
dari 10 mm, anda harus dirontgen dan di tes darah.
8. Sputum Culture testing. Sputum adalah kelenjar yang dihasilkan di dalam paru-paru
dan sistem pernafasan manusia. Cara pengambilan dengan jalan pasien membatukan
sekuat mungkin,bila tidak bisa, sputum harus diambil dengan menggunakan suction
tube.
9. CT-Scan.
10. Lung Biopsy.