Anda di halaman 1dari 5

A.

Analisis Rasio Keuangan


Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk menganalisa
laporan keuangan adalah analisis rasio. Analisis rasio adalah cara analisa
dengan menggunakan perhitungan-perhitungan perbandingan atas data
kuantitatif yang ditujukkan dalam neraca maupun laba rugi. Pada dasarnya
perhitungan rasio-rasio keungan adalah untuk menilai kinerja keuangan
perusahaan di masa lalu, saat ini, dan kemungkinannya di masa depan.
Menurut Irawati (2005 : 22) rasio keuangan merupakan teknik
analisis dalam bidang manajemen keuangan yang dimanfaatkan sebagai
alat ukur kondisi keuangan suatu perusahaan dalam periode tertentu ,
ataupun hasil-hasil usaha dari suatau perusahaan pada satu periode tertentu
dengan jalan membandingkan dua buah variabel yang diambil dari laporan
keuangan perusahaan, baik daftar neraca maupun laba rugi.

B. Jenis-Jenis Rasio Keuangan


Menurut Rahardjo (2007 : 104) rasio keuangan perusahaan
diklasifikasikan menjadi lima kelompok, yaitu :

1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratios).


2. Rasio Solvabilitas (Leverage Atau Solvency Ratios).
3. Rasio Aktivitas (Activity Ratios).
4. Rasio Profitabilitas dan Rentabilitas (Profitability Ratios).

1. Rasio Likuiditas
Fred Weston dikutip dari Kasmir (2008:129): menyebutkan bahwa
rasio likuiditas (liquidity ratio) merupakan rasio yang menggambarkan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka
pendek. Dalam rasio-rasio likuiditas, analisa dapat dilakukan dengan
menggunakan rasio sebagai berikut:
a. Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio lancar merupakan rasio untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang
yang segera jatuh tempo dengan aktiva lancar yang tersedia.
Dengan Rumus sebagai berikut :

Aktiva Lancar
Current Ratio = x 100%
Hutang Lancar

b. Rasio Cepat (Quick Ratio atau Acid Test Ratio)


Rasio cepat merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban atau utang lancar dengan
aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai persediaan. Dengan
Rumus sebagai berikut :

Aktiva Lancar − Persediaan


Quick Ratio =
Hutang Lancar

c. Rasio Kas ( Cash Ratio )


Rasio ini membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang bisa
segera menjadi uang kas dengan hutang lancar. Kas yang
dimaksud adalah uang perusahaan yang disimpan di kantor dan di
bank dalam bentuk rekening Koran. Dengan Rumus sebagai
berikut :

Kas + Setara Kas


Cash Ratio = x 100%
Hutang Lancar

2. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
efisiensi / efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang
dimilikinya. Dalam analisa aktivitas rasio yang digunakan adalah:
a. Rasio Perputaran Piutang ( Account Receivable Turnover
Ratio )
Rasio ini mengukur berapa kali, secara rata-rata piutang yang
dikumpulkan dalam satu tahun. Rasio ini mengukur kualitas
piutang dan efisiensi perusahaan dalam pengumpulan piutang dan
kebijakan kreditnya, semakin tinggi tingkat perputarannya semakin
efektif pengelolaan piutangnya. Dengan Rumus sebagai berikut :

Penjualan Bersih
Acc. Receivable Turn-Over =
Rata – Rata Piutang

b. Rasio Perputaran Persediaan (Inventory Turnover Ratio)


Rasio perputaran persediaan, mengukur aktivitas atau likuiditas
dari persediaan perusahaan. Dengan Rumus sebagai berikut :

Harga Pokok Penjualan


Inventory Turn-Over = x 100%
Persediaan

c. Rasio Perputaran Total Aktiva (Total Asset Turn Over Ratio)


Perputaran total aktiva menunjukkan efisiensi dimana perusahaan
menggunakan seluruh aktivanya untuk menghasilkan penjualan.
Dengan Rumus sebagai berikut :

Penjualan
Total Asset Turn-Over = x 1 Kali
Modal Aktiva

3. Rasio Solvabilitas
Menurut Fred Weston dikutip dari Kasmir (150:2008), Rasio
Solvabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana
aktiva perusahaan dibiayai dengan utang dan mengukur kemampuan
perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka
pendek maupun jangka panajang apabila perusahaan dilikuidasi
(dibubarkan). Rasio yang digunakan adalah:
a. Rasio Hutang Terhadap Aktiva (Total Debt to Asset Ratio)
Rasio ini mengukur seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh
utang atau seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap
pengelolaan aktiva. Dengan Rumus sebagai berikut :

Total Hutang
Debt to Assets Ratio = x 100%
Modal Aktiva

b. Rasio Hutang Terhadap Ekuitas (Total Debt to Equity Ratio)


Rasio ini menunjukkan hubungan antara jumlah utang jangka
panjang dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik
perusahaan, guna mengetahui jumlah dana yang disediakan
kreditor dengan pemilik perusahaan. Dengan Rumus sebagai
berikut :

Total Hutang
Debt to Equity Ratio = x 100%
Modal Sendiri

4. Rasio Profitabilitas
Menurut Sofyan Safri Harahap (2008:304), “Rasio profitabilitas
adalah kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua
kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas,
modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya”.
a. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)
Margin laba kotor adalah ukuran persentase dari setiap hasil sisa
penjulan sesudah perusahaan membayar harga pokok penjualan.
Dengan Rumus sebagai berikut :

Laba Kotor
Gross Profit Margin = x 100%
Penjualan
b. Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin)
Margin laba operasi adalah ukuran persentase dari setiap hasil sisa
penjualan sesudah semua biaya dan pengeluaran lain dikurangi
kecuali bunga dan pajak, atau laba bersih yang dihasilkan dari
setiap rupiah penjualan. Dengan Rumus sebagai berikut :

Laba Setelah Pajak


Operating Profit Margin = x 100%
Penjualan

c. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)


Margin laba bersih adalah ukuran persentase dari setiap hasil sisa
penjualan sesudah dikurangi semua biaya dan pengeluaran,
termasuk bunga dan pajak. Dengan Rumus sebagai berikut :

Laba Setelah Pajak


Net Profit Margin = x 100%
Penjualan

d. Return Of Assets ( ROA )


Rasio ini disebut juga rentabilitas ekonomis, merupakan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua
aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam hal ini laba yang
dihasilkan adalah laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT
(Sutrisno, 2001:254). Rasio ini mengukur tingkat keuntungan
(EBIT) dari aktiva yang digunakan. Semakin besar rasionya
semakin baik.

EBIT
Return Of Assets = x 100%
Total Aktiva