Anda di halaman 1dari 7

ARTIKEL ILMIAH

“Analisis Perubahan Pola Permukiman Kota Surabaya Tahun 1998 – 2018


Menggunakan Data Penginderaan Jauh dan SIG”

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Geografi Perkotaan

Dosen Pengampu: Drs. Djoko Soelistijo, M.Si

Disusun Oleh:

Diorahma Indra M. (160722614626)

Basofi Andri S. (160722614664)

Offering/Tahun: G/2016

PROGRAM STUDI GEOGRAFI

JURUSAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

2018
Analisis Perubahan Pola Permukiman Kota Surabaya Tahun 1998 – 2018
Menggunakan Data Penginderaan Jauh dan SIG

Basofi Andri S., Diorahma Indra M.

Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial

Universitas Negeri Malang

Abstrak: Peningkatan jumlah penduduk di Kota Surabaya


mengakibatkan perubahan fungsi lahan dari lahan tidak terbangun
menjadi lahan terbangun. Tujuan dilakukkannya penelitian ini
adalah untuk mengetahui pola perubahan lahan pemukiman di
Surabaya dari tahun 1998-2018 dengan interpretasi citra Landsat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan pola
pemukiman dari pola konsentris di tahun 1998 menjadi manjalar
secara linear/axial development di tahun 2018. Hal tersebut
dipengaruhi oleh jumlah penduduk, kepadaran penduduk dan
kurangnya lahan kosong di pusat kota.

Keywords: Kota Surabaya, Permukiman, Pola Permukiman

Latar Belakang dihasilkan dari emisi kendaraan dan industri.


Indikator perkembangan kota ditandai Perubahan penggunaan lahan juga memiliki
dengan terjadinya perubahan fungsi lahan andil terhadap terjadinya banjir (Jaya, 2006).
dari lahan tidak terbangun menjadi lahan Kota Surabaya merupakan kota
terbangun. Perubahan tersebut meliputi terbesar ke-2 di Indonesia setelah Jakarta
permukiman dan pembangunan sarana yang berperan sebagai pusat kegiatan
prasarana kota. Perubahan ini tentunya pelayanan pemerintahan Provinsi Jawa
sangat berpengaruh terhadap penurun Timur. Kota Surabaya sebagai salah satu
kualitas lingkungan kota yang kota yang memiliki tingkat pertumbuhan
membutuhkan ruang terbuka hijau sebagai yang cepat, yang ditandai dengan
pemasok oksigen dan penyerap karbon yang tersedianya aktivitas ekonomi yang
memadai, tersedianya sarana komunikasi pada kurun waktu 20 tahun dari tahun 1998
dan transportasi yang lengkap, serta sarana hingga 2018. Disamping itu, penelitian ini
pendidikan dan kesehatan yang lengkap juga merupakan salah satu bentuk evaluasi
telah menjadikan Kota Surabaya sebagai perubahan lahan yang telah terjadi pada
salah satu tujuan migrasi penduduk. Kondisi kurun waktu tahun 1998 hingga 2018.
ini mengakibatkan peningkatan jumlah
penduduk yang pesat dari tahun ke tahun. Metodologi
Berdasarkan hasil sensus penduduk, terjadi Metode yang digunakan dalam
peningkatan jumlah penduduk sebesar penelitian ini adalah melalui pendekatan
382.237 jiwa dari tahun 2000 hingga tahun data penginderaan jauh dan analisis spasial
2010. Dengan makin bertambahnya SIG untuk memperoleh informasi perubahan
penduduk, maka kebutuhan akan pola permukiman Kota Surabaya. Setelah
penggunaan lahan akan semakin tinggi pula. mendapatkan data citra, langkah selanjutnya
Untuk mengetahui perubahan spasial- adalah interpretasi citra dan mengkomparasi
temporal permukiman di Kota Surabaya perubahan pola permukiman yang terjadi
pada periode waktu tertentu, dapat dilakukan dalam kurun waktu 1998-2018. Dalam
dengan pemanfaatan data penginderaan jauh penelitian ini dilakukan beberapa tahapan
dan sistem informasi geografis. Efisiensi dan antara lain:
efektifitas dalam hal biaya dan waktu 1. Tahap Persiapan Data
merupakan alasan megapa metode tersebut 2. Tahap Pelaksanaan:
banyak digunakan untuk kajian-kajian  Koreksi Geometrik dan Radiometrik
keruangan termasuk perkotaan. Data-data Citra Landsat
variabel yang dibutuhkan dalam analisis  Cropping Batas Wilayah
dapat diperoleh dari citra penginderaan jauh 3. Tahap Layout Peta
dengan cepat dan tingkat akurasi yang cukup 4. Analisis Perubahan Pola Permukiman
baik. Selanjutnya, analisis perubahan dan dengan Interpretasi Citra
arah perkembangan kota dapat dilakukan 5. Penyusunan Laporan
dengan menggunakan sistem informasi
geografis. Maka dalam penelitian kali ini Hasil dan Pembahasan
dilakukan studi mengenai perubahan pola1. Letak Geografis Kota Surabaya
permukiman Kota Surabaya ditinjau dari Kota Surabaya merupakan ibu kota
perubahan penggunaan lahan yang terjadi provinsi Jawa Timur yang terletak antara
07˚09`00” – 07˚21`00“ Lintang Selatan dan Surabaya merupakan daerah limpahan debit
112˚36`- 112˚54` Bujur Timur. Wilayah air dari sungai yang melintas sehingga rawan
Kota Surabaya merupakan dataran rendah banjir pada musim penghujan.
dengan ketinggan 3-6 m diatas permukaan
Pola Perkembangan Lahan Permukiman
laut, kecuali disebelah selatan dengan
Kota Surabaya tahun 1998
ketinggian 25-50 m diatas permukaan laut.
Luas wilayah Surabaya meliputi daratan
dengan luas 326,36 km2 yang terbagi dalam
31 kecamatan dan 163 Desa/kelurahan
(Surabaya Dalam Angka, 2017). Kota
Surabaya berbatasan dengan Selat Madura di
sebelah Utara dan Timur, sebalah Selatan
berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo
sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan
Kabupaten Gresik.

Gambar 2. Citra Kota Surabaya Tahun 2018


(Sumber: Hasil Kelompok)

Gambar 1. Peta Administrasi Kota Surabaya Dengan berbagai pertimbangan baik


(Sumber: Surabaya Dalam Angka, 2017) keadaan morfologi, administrasi, dan faktor

Kota surabaya terletak di hilir Daerah pendukung lainnya maka jika dilihat pada

Aliran Sungai (DAS) Brantas yang bermuara peta/citra kota Surabaya tahun 1998, pola

di Selat Madura. Adapun beberapa sungai pemukiman kota Surabaya cenderung

besar yang mengalir melintasi Kota terpusat di tengah kota dan sedikit condong

Surabaya, yaitu Kali Mas, Kali Jagir, Kali ke arah barat, timur laut, dan selatan. Alasan

Mas dan Kali lamong. Surabaya merupakan pemilihan persebaran permukiman lebih

kota yang berada di pesisir/hilir sungai, Kota mengarah ke arah barat pada waktu itu

Surabaya sehingga dengan sendirinya Kota karena di sebelah barat kota surabaya masih
banyak terdapat lahan kosong (lahan belum oleh faktor kebutuhan akan keamanan atau
terbangun) dan jika dilihat dari keadaan pertahanan, ikatan keluarga atau marga,
morfologi wilayah bagian barat kota kelang-kaan air, kebiasaan dari sistem
surabaya memiliki kemiringan sebesar 12 pembagian waris, datar ekonomi dari hasil
persen dengan keadaan wilayah yang relatif pertanian, politik, agama atau ideologi.
landai dan berada di ketinggian 25-50 mdpl. Persebaran permukiman di kota surabaya
Selain itu berbagai fasilitas seperti fasilitas memang tidak merata di semua wilayah.
umum, jaringan jalan, aliran listrik dan air Terdapat beberapa wilayah yang tidak
minum juga sudah tersedia jadi dalam arah digunakan sebagai arah pembangunan pusat
perkembangan permukiman penduduk permukiman penduduk karena wilayah
menjadi mudah, walaupun memang dari segi tersebut merupakan daerah kawasan
litologi (tanah) di wilayah barat tidak begitu konservasi, daerah yang tidak baik dan
baik. Sedangkan perkembangan berbagai faktor-faktor pertimbangan lainnya
permukiman penduduk mengarah ke timur yang membuat pembangunan pusat
laut dipilih karena pengarahan permukiman permukiman tidak dilakukan atau tidak
penduduk lebih mendekati sumber daya mengarah ke wilayah tersebut.
alam (Daerah pantai pada umumnya
Berdasarkan citra Surabaya tahun
merupakan pemukiman penduduk yang
1998, terdapat beberapa wilayah yang tidak
bermata pencaharian sebagai nelayan dan
dikembangkan sebagai pusat permukiman
kegiatan basis perekonomian lainnya) dan
seperti pembangunan permukiman tidak di
mendekati pusat kegiatan perekonomian
arahkan ke arah timur, dan sebagian barat.
dalam hal ini adalah mendekati pelabuhan
Di bagian timur kota surabaya merupakan
(tanjung perak). Sedangkan arah pola
daerah kawasan konservasi hutang magrove
perkembangan permukiman mengarah ke
yang dilindungi keberadaannya oleh
arah selatan karena di sisi selatan terdapat
pemerintah kota surabaya. Dengan demikian
kabupaten/kota sidoarjo dengan demikian
perkembangan pusat permukiman tidak
penduduk/para pendatang memilih
dilakukan di wilayah tersebut. Selain itu di
bermukim daerah sub urban dengan harapan
wilayah timur kota surabaya keadaan tanah
dapat mencari ketenangan dan jarak antara
berjenis aluvial, dengan banyak kandungan
tempat kerja dan rumah tidak terlalu jauh.
lumpur sehingga tidak baik (sangat tidak
Pacione (1984) mengemukakan bahwa cocok) digunakan sebagai lahan
permukiman yang memusat dipengaruhi permukiman. Sedangkan di beberapa
wilayah bagian barat kota surabaya tidak perkotaan meningkat. Peningkatan ruang
semua tempat dapat digunakan sebagai pusat perkotaan tersebut akan menyebabkan
perkembangan permukiman karena atas perubahan pola permukiman tiap tahunnya.
pertimbangan kondisi litologi daerah yang
Dari hasil interpretasi citra Kota
tidak baik.
Surabaya tahun 2010, dapat diketahui
Pola Perkembangan Lahan Permukiman bahwa pola perkembangan lahan
Kota Surabaya tahun 1998 permukiman di Surabaya tidak berubah
secara signifikan, hanya cenderung makin
padat ditengah kota dan permukiman mulai
menjalar ke pinggiran kota. Jika dikaitkan
dengan pendapat Northam dalam Yunus
(1994), penjalaran fisik kota Surabaya pada
tahun 2018 termasuk dalam jenis
linear/axial development. Linear/Axial
Development merupakan penjalaran fisik
kota yang menyebar menjauhi pusat kota
mengikuti pola jaringan jalan dan
menunjukkan penjalaran yang tidak sama
pada setiap bagian penjalaran kota.
Kegiatan industri di daerah sub-urban juga
mulai muncul di bagian Utara Surabaya
yang berbatasan dengan Gresik. Hal itu
menyebabkan kawasan
Gambar 3. Citra Kota Surabaya Tahun 2018
(Sumber: Hasil Kelompok)
Sesuai dengan perkembangan
penduduk Kota Surabaya yang mengalami
peningkatan, tuntuan dalam aspek
ekonomi, sosial, politik, ekonomi dan
teknologi juga mengalami peningkatan.
Dari aspek tersebut, kesemuanya itu
mengakibatkan kebutuhan akan ruang
Hal tersebut berbanding terbalik Jaya, Ahmad. 2006. Struktur Tata Ruang
dengan keadaan kota Surabaya pada tahun Kota. Yogyakarta: Pustaka
1998 yang pola penjalaran permukimannya Pelajar.
masih terpusat/konsetntris di pusat kota.
Pacione, M. 1984. Rural geography. New
Faktor yang mempengaruhi hal tersebut
York: Harper and Row.
antara lain peningkatan jumlah penduduk
sebesar 382.237 jiwa dari tahun 2000 Yunus, Hadi Sabari. 1994. Klasifikasi

hingga tahun 2010, kepadatan penduduk Permukiman Kota. .Yogyakarta:

yang meningkat mecapai 8.463 jiwa/km2, Universitas Gadjah Mada.

dan minimnya lahan kosong yang ada di


pusat kota.

Kesimpulan

Dengan demikian, dapat diketahui


bahwa pola pemukiman kota Surabaya
periode 1998-2018 mengalami perubahan
yang tidak terlalu signifikan. Pada Tahun
1998 pola pemukiman cenderung terpusat
di tengah kota, sedangkan pada tahun 2018
terjadi sedikit penjalaran menjauhi pusat
kota. Hal yang mempengaruhi perubahan
pola pemukiman tersebut antara lain
peningkatan jumlah penduduk, kepadatan
penduduk meningkat, dan sempitnya lahan
kosong di tengah kota.

Daftar Pustaka

BPS Kota Surabaya. 2017. Surabaya


Dalamn Angka. Surabaya: Badan
Pusat Statistik Kota Surabaya.