Anda di halaman 1dari 4

BRACKET BUDGETING

Bracket budget adalah budget yang dimaksudkan untuk menutupi

contingency plan (rencana darurat) dimana cost diproyeksikan pada nilai yang

lebih besar dan lebih kecil dari cost dasarnya. Selanjutnya sales (penjualan)

diproyeksikan mengikuti level ini. Tujuan dari metode ini adalah berjaga-jaga jika

realisasi sales tidak mencapai sales yang telah diramalkan, sehingga dengan

bracket budget ini akan dapat mengakomodasi perbedaan ini, dan bisa dijadikan

dasar pertimbangan yang cukup oleh managemen untuk menyusun perencanaan

cost dan biaya yang bersifat contingency. Budget yang bersifat contingency

mungkin dibutuhkan jika perusahaan sedang menghadapi kemungkinan resiko

yang mengakibatkan penurunan revenue yang tajam.

Proses:

Bracket Budgeting merupakan rencana kemungkinan dimana biaya diproyeksikan

pada tingkat lebih tinggi dan rendah dibanding jumlah dasar. Penjualan biasanya

diramalkan pada tingkat ini, tujuan dari metode ini jika anggaran dasar dan hasil

dari ramalan sales yang tidak tercapai.

Bracket Budgeting adalah kombinasi konsep yang sinergis. Dalam pemodelan ini,

dilakukan simulasi dan secara menyeluruh atau heuristik memberi manajemen

pemahaman yang ada di masa depan.

Penggunaan penganggaran braket secara efektif sangat bergantung pada kegunaan

penganggaran model taktis. Aneh rasanya, semakin banyak waktu yang


dikhususkan untuk mengembangkan model ini, mungkin akan menjadi semakin

tidak berguna.

Manajemen dapat dengan mudah akan merasa tertekan jika semakin banyak

anggaran yang diajukan tanpa menyiapkan anggaran secara formal sampai versi

final dievaluasi sepenuhnya. Hal ini akan menyederhanakan proses perencanaan

dan mengurangi frustrasi manajerial.

Secara ringkas, proses dari bracket budgeting dapat diuraikan sebagai berikut:

setelah anggaran realita terjadi, jika ada selisih yang terjadi antara anggaran yang

dianggarkan dengan realitas yang terjadi, maka dilakukan penyesuaian anggaran

berupa bracket budgeting untuk menutup cost tidak terduga.

Keunggulan:

1. Menggambarkan secara jelas tujuan-tujuan organisasi.

2. Menghindarkan adanya program-program yang saling overlapping

(tumpang tindih) dan bertentangan satu sama lain.

3. Memungkinkan pemilihan alokasi sumber daya secara efisien berdasarkan

analisis manfaat-biaya (cost and benefit analysis).

4. Dana dapat dialokasikan dengan efisien karena terdapat beberapa alternatif

keputusan dan alternatif bagi pelaksanaan kegiatan.

5. Pengambilan keputusan dapat memperoleh informasi mengenai kegiatan

yang dianggap kritis dan mendesak.

6. Memungkinkan pendelegasian wewenang dalam pengambilan keputusan.


7. Merangsang partisipasi motivasi aktif unit-unit operasional melalui proses

usul dari bawah dan penilaian anggaran yang bersifat aktual.

8. Meningkatkan fungsi perencanaan dan mempertajam pembuatan

keputusan pada setiap tingkat eksekutif.

9. Memungkinkan alokasi dana secara optimal karena setiap kegiatan selalu

dipertimbangkan dari segi efisiensi.

10. Dapat menghindarkan pemborosan

Kelemahan:

1. Klasifikasi berdasarkan jenis penerimaan dan pengeluaran kurang dapat

memberikan informasi yang berguna bagi kepentingan analisis ekonomi.

2. Hanya memberikan informasi tentang kegiatan yang dilakukan, bukan

hasil dari kegiatan tersebut.

3. Klasifikasi anggaran tidak menggambarkan adanya suatu program.

4. Hanya mencakup satu tahun anggaran sehingga kurang dapat menjelaskan

pengeluaran yang akibatnya lebih dari satu tahun anggaran.

5. Mengabaikan aspek analisis manfaat (cara menentukan bahwa suatu

kegiatan mendapatkan alokasi yang lebih besar dibandingkan kegiatan

yang lain)

6. Sulit diterapkan karena tidak semua kegiatan dapat disusun rangking

keputusannya secara konsisten dari tahun ke tahun.

7. Memerlukan keahlian khusus terutama untuk menganalisis dan

menentukan prioritas/rangking.
8. Memerlukan data yang lebih banyak dan perlu dukungan analisis yang

kuat.