Anda di halaman 1dari 9

UJPH 2 (2) (2013)

Unnes Journal of Public Health


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph

UJI SENSITIVITAS KERTAS SARING UNTUK IDENTIFIKASI PEWARNA


RHODAMIN B PADA MAKANAN JAJANAN

Novie Retno Utami 

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang,
Indonesia

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
Sejarah Artikel: Makanan tradisional Indonesia mempunyai kekayaan ragam baik macam, bentuk, warna, serta aroma sesuai
Diterima Februari 2013 dengan budaya masyarakat Indonesia. Tetapi banyak penemuan makanan yang mengandung pewarna
Disetujui Februari 2013 berbahaya seperti rhodamin B. Puskesmas sebagai pelaksanan teknis tidak didukung fasilitas pemeriksaan
makanan dan minuman. Metode sederhana menggunakan kertas saring dapat mendeteksi zat pewarna sintetis
Dipublikasikan Maret
dalam makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sensitivitas pengujian metode sederhana dengan
2013
kertas saring dalam mengidentifikasi zat pewarna Rhodamin B pada makanan jajanan. Jenis penelitian ini
________________ menggunakan observasional bersifat analitis dengan menggunakan cara seperti uji diagnostik menggunakan
Keywords: desain cross sectional pada makanan jajanan di Pasar Johar sebanyak 20 buah. Pemeriksaan dilakukan di
identification; traditional Laboratorium Kimia Kesehatan, Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta. Hasilnya didapat bahwa 5 sampel
street food; filter paper; (25%) positif mengandung rhodamin B dan 15 sampel (75%) negatif. Berdasarkan metode kromatografi didapat
rhodamine B; sensitivity test 8 sampel (40%) positif mengandung rhodamin B dan 12 sampel (60%) negatif. Sensitivitas metode kertas saring
terhadap metode kromatografi didapat 25%, spesifitas 75%, nilai prediksi positif 40%, nilai prediksi negatif 60%.
____________________
Kesimpulannya adalah bahwa metode sederhana menggunakan kertas saring tidak dapat digunakan sebagai
acuan dalam percobaan identifikasi zat pewarna berbahaya. Saran yang direkomendasikan adalah tetap selektif
dalam membeli makanan jajanan tradisional, dan dapat dilanjutkan untuk menemukan metode yang sederhana.

Abstract
___________________________________________________________________
Traditional street foods found contains dye substances like rhodamine B with POM 2010 have 70% from samples. Public
health center is supporting food and drink laboratory facilities. This simple method is using filter paper can detect synthetic
dyes in snack food. This experiment is for to know the sensitivity of the test is simple method with filter paper for identifying
dye rhodamine B on street food. This research use to analytical observational with diagnostic test use cross sectional design in
Johar Market street snacks food in 20 pieces. Investigation performed center of health laboratory in Yogyakarta. The results
found that the sensitivity of filter paper method for chromatographic method obtained 25%, specificity 75%, positive prediction
score 40%, negative prediction score 60%. The conclusion of this simple method using filter paper can not be used as a reference
in the identification experiment is harmful dyes. Solution for recommendation is public health center to public selected for
buying traditional street foods and to be continued for experiment simple method.

© 2013 Universitas Negeri Semarang


Alamat korespondensi: ISSN 2252-6528
Gedung F1 Lantai 2 FIK Unnes
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229
E-mail: naomi_nophi@yahoo.com

1
Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 2 (2) (2013)

PENDAHULUAN Laporan Badan POM (2009: 55) total


sampel yang diuji 1847 sampel, 546 sampel
Makanan jajanan tradisional merupakan (29,56%) dinyatakan tidak memenuhi syarat.
makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Dari 124 sampel makanan yang positif
menurut golongan etnik dan wilayah spesifik, mengandung rhodamin B 74 buah atau
diolah dari resep yang dikenal masyarakat mencapai 60%. Laporan tahunan Badan POM
secara turun temurun (Haslina, 2004 : 8). (2010: 52) dilakukan operasi gabungan
Makanan tradisional Indonesia mempunyai pengamanan makanan di 7 Kab/Kota termasuk
kekayaan ragam yang luar biasa. Baik macam, Kota Semarang diambil 118 sampel dari DIPA
bentuk, warna, serta aroma sesuai dengan yang positif mengandung rhodamin B 28 buah
budaya masyarakat Indonesia. Seperti gethuk, atau 23,7%, sedangkan sampel dari pihak ketiga
geplak, klepon, dan jajanan lain yang ada di berjumlah 20 buah yang positif mengandung
pasar saat ini telah dimodifikasi dan dikemas rhodamin B 14 buah mencapai 70%. Jenis
menjadi paket buah tangan dengan warna yang makanan berbahaya yang mengadung rhodamin
menarik (Wahyu Utami dan Andi Suhendi, B antara lain aneka kue, arum manis, brondong,
2009: 148). es cincau, es serut, gula kelapa, jajanan dan
Dalam pemakaiannya seringkali terjadi jipang, kolang kaling, koyah asem suka rasa/
penyalahgunaan pemakaian zat pewarna untuk permen, krupuk bawang barokah sm, krupuk
sembarang bahan pangan, misalnya zat terasi super, krupuk usus, kue moho, kuping
pewarna yang digunakan untuk tekstil dan kulit gajah, manisan sirsak, rengginang, terasi.
dipakai untuk mewarnai bahan pangan. Hal ini Standar pemisahan pewarna sintetis
jelas berbahaya bagi kesehatan karena adanya berdasarkan Berdasarkan SNI 01-2895-1992
residu logam berat pada zat pewarna tersebut. (2011: 2) dari Badan Standar Nasional tentang
Timbulnya penyalahgunaan tersebut antara lain cara uji pewarna tambahan makanan
disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat menjelaskan cara uji kualitatif pewarna
mengenai zat pewarna untuk pangan, dan makanan. Uji kualitatif tersebut berisi prinsip,
disamping itu harga zat pewarna untuk industri peralatan, cara kerja, dari beberapa metode
jauh lebih murah dibandingkan dengan harga diantaranya metode kromatografi kertas
zat pewarna untuk pangan (Wisnu Cahyadi, menggunakan wol, metode menggunakan
2009: 63). kolom poliamida, metode menggunakan kolom
Rhodamin B adalah pewarna sintetis poliamida I dan metode TLC scanner. Dalam
yang digunakan pada industri tekstil dan kertas. penelitian ini hanya akan menggunakan salah
Pewarna sintetis ini berbentuk serbuk kristal satu cara uji kualitatif dengan metode
berwarna merah keunguan dan di dalam larutan kromatografi menggunakan benang wol.
akan berwarna merah terang berpendar. Zat Menurut Nollet (2004) dalam karya ilmiah Aziz
pewarna sintetis ini sangat berbahaya apabila Eko H (2008:9) diantara berbagai jenis teknik
terhirup, mengenai mata dan kulit, serta kromatografi, kromatografi lapis tipis (KLT)
tertelan. (Desi Wijaya, 2011: 30). Sehubungan adalah yang paling cocok untuk analisis obat di
dengan berbagai kelemahan atas penggunaan laboratorium farmasi. Kromatografi Lapis Tipis
pewarna sintetis pada bahan makanan dan digunakan untuk memisahkan berbagai
minuman di Indonesia, pemerintah menerbitkan senyawa seperti ion-ion organik, kompleks
larangan pemanfaatan pewarna tertentu yang senyawa-senyawa organik dengan anorganik,
tertuang pada Peraturan Menteri Kesehatan dan senyawa-senyawa organik baik yang
Republik Indonesia nomor terdapat di alam dan senyawa-senyawa organik
235/Menkes/Per/VI/79, tanggal 19 juni 1979 sintetik.
tentang Larangan Penggunaan Bahan Pewarna Puskesmas sebagai sebuah lembaga atau
(Wisnu Cahyadi, 2009: 63). institusi di bidang kesehatan dibawah
pengawasan Dinas Kesehatan yang memiliki

2
Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 2 (2) (2013)

Standar Pelayanan Minimal (SPM). Kota Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk
Semarang Memiliki 37 Puskesmas Induk dan 33 mengetahui sensitivitas pengujian metode
Puskesmas Pembantu. Menurut surat edaran sederhana dengan kertas saring untuk
Mendagri No. 100/756/OTODA, yang tentang mengidentifikasi keberadaan zat pewarna
rancangan kewenangan wajib dan standar Rhodamin B pada makanan jajanan.
pelayanan minimal salah satunya
penyelenggaraan pelayanan alat kesehatan serta METODE PENELITIAN
makanan dan minuman (Anonim,2013).
Namun dalam penyelenggaraan puskesmas Penelitian ini hanya menguji secara
berdasarkan kepmenkes No. 128 Tahun 2004 kualitatif dan dilihat sensitivitas metode
tentang kebijakan dasar puskesmas yang sederhana menggunakan kertas saring tersebut
mengandung tugas pokok dan fungsi dan dibandingkan dengan uji standar sebagai baku
Peraturan Menteri Kesehatan Republik emas yaitu kromatografi menggunakan benang
Indonesia Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008 wol dalam mengidentifikasi zat pewarna
tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) rhodamin B dalam makanan jajanan tradisional.
bidang kesehatan di Kabupaten/Kota tidak Jenis penelitian ini menggunakan observasional
terdapat penyelengaraan identifikasi makanan bersifat analitis dengan menggunakan cara
berbahaya. seperti uji diagnostik menggunakan desain cross
Metode sederhana yang dilaporkan oleh sectional. Variabel bebas menggunakan uji
Babu S dan Induskhelar S dari India dapat kualitatif pada makanan jajanan di Pasar Johar
mendeteksi zat pewarna sintetis dengan dengan metode kertas saring dan kromatografii
peralatan yang sederhana dan terjangkau. sebagai baku emasnya. Kemudian akan diiuji
Sehingga tidak diperlukan adanya pelarut sensitivitas kedua metode dan akan dianalisis.
ataupun tersedianya peralatan khusus. Dalam Sampel dalam penelitian ini adalah
melakukan percobaan ini dapat dikerjakan di makanan jajanan dengan kriteria inklusi dalam
rumah ataupun lapangan. Metode ini telah penellitian ini yaitu makanan yang berwarna
diujicobakan pada obat dan kosmetik untuk merah mencolok. Teknik pengambilan sampel
mengidentifikasi adanya dyes dalam bahan menggunakan purposive sampling. Jumlah
tersebut. Akan tetapi, hasil uji dengan metode sampel dihitung menggunakan rumus besar
tersebut perlu dikonfirmasi lebih lanjut dengan sampel untuk proporsi tunggal yaitu perkiraan
uji yang dikerjakan di laboratorium dengan sensitivitas 75% dan spesifitas 80%,
menggunakan metode konvensional (Wisnu penyimpangan untuk sensitivitas dan spesivitas
Cahyadi, 2009: 74). masing-masing adalah 25% dan interval
Dari latar belakang di atas yaitu adanya kepercayaan yang dikehendaki 95% (0,05),
penemuan makanan yang mengandung dengan jumlah total sampel 20 buah.
rhodamin B oleh Badan POM selama tahun Adapun alat dan bahan yang digunakan
2009-2010 dengan presentase 60-70% dari total ada dua macam. Alat dan bahan yang
sampel yang diambil, sedangkan semua digunakan untuk pengujian dengan metode
puskesmas di Kota Semarang yang berjumlah penetapan zat pewarna menggunakan kertas
37 puskesmas induk dan 33 puskesmas saring adalah : gelas ukur, kertas saring, dan air.
pembantu tidak terdapat pelayanan pemeriksaan Sedangkan alat dan bahan untuk pengujian
makanan dan adanya metode sederhana untuk dengan metode penetapan zat pewarna
mengidentifikasi keberadaan pewarna makanan menggunakan kromatografi adalah : gelas ukur,
Rhodamin B, Maka penulis merumuskan botol aquades, gelas ukur 50 ml, neraca analitik,
masalah yaitu “bagaimana sensitivitas antara water bath (pemanas air), makanan jajanan
metode sederhana kertas saring dengan metode yang telah dilarutkan, aquades, kertas
kromatografi untuk identifikasi pewarna kromatoografi, NH4OH 10%, KHSO4 10%
rhodamin B pada makanan jajanan tradisional?”

3
Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 2 (2) (2013)

Prosedur penelitian dibagi menjadi II (2 gr NaCl dalam 100 ml etanol 50%).


beberapa tahap. Pada pengambilan sampel Keringkan kertas kromatografi di udara pada
antara lain: 1. Mencari makanan berwarna suhu kamar. Amati bercak yang timbul, 11.
merah yang mencolok, 2. Tambahkan air ke Bandingkan Rf bercak contoh dengan Rf bercak
dalam makanan yang diletakkan di cawan, 3. standar. Perhitungan penentuan zat warna
Aduk hingga makanan tercampur. dapat dilakukan dengan cara mengukur nilai Rf
Pada perlakuan dengan metode dari masing-masing bercak tersebut, dengan cara
penetapan zat pewarna menggunakan kertas membagi jarak zat terlarut oleh jarak gerak
saring antara lain : 1. Terlebih dahulu membuat pelarut. pembuatan baku pembanding.
ekstraksi dengan cara gerus 10 gram sampel Ditimbang 25,00 mg rhodamin B, kemudian
hingga rata dengan penambahan 50 ml larutan dilarutkan dalam 25,0 ml etanol 96 % p.a
amonia 2% di dalam etanol 70%., 2. biarkan (Azizahwati, dkk., 2007). Hasil tersebut dapat
selama 2 jam, kemudian diputar-putar, 3. dipertegas juga dengan penampakan bercak
Pindahkan cairan ke dalam cawan porselin dan dipertajam menggunakan lampu UV 254nm dan
larutkan residu dalam air yang telah ditambah 366nm serta visualisasi dengan menggunakan
asam asetat hingga dalam keadaan asam. 4. pereaksi semprot H2SO4 dan HCl pekat. Bila Rf
Panaskan larutan di penangas air dengan =1, dan nilai hRf yang sama, adanya
ditambah aseton 70%, 5. Larutan diujikan pemadaman pada UV 254nm, fluorensensi pada
dalam spot pada ± 2 cm dari ujung kertas saring UV 366nm, warna merah muda dengan
yang berukuran 20 x 20 cm, 6. Kertas saring pereaksi semprot HCl dan warna jingga dengan
dimasukkan ke dalam gelas yang diisi air, 7. pereaksi semprot H2SO4. berarti bahwa zat
Biarkan merembes sampai ¾ tinggi gelas, 8. pewarna tersebut adalah Rhodamin B.
Kertas saring diangkat dan dikeringkan di Hasil uji lapangan menggunakan tabel
udara, 9. Setelah kering, kertas dilipat dua dan 2x2 (Himam Sohibul H, 2008) Hasil analisa dan
dilipat lagi menjadi tiga sehingga terdapat 8 pemeriksaan kemudian diolah secara diskriptif.
bagian antara spot asli dengan batas pelarut. Struktur dasar uji hasil uji menunjukkan tabulasi
Perlakuan dengan metode penetapan zat hasil uji sederhana dan baku emas. Positif benar
pewarna menggunakan kromatografi antara lain (PB) = hasilnya menyatakan terdapat pewarna
: 1. Ekstrak/ rendam benang wol dengan eter Rhodamin B dan dalam kenyataannya memang
atau petroleum, 2. Geruslah 10 gram sampel terdapat Rhodamin B. positif semu (PS) =
hingga rata dengan penambahan 50 ml larutan hasilnya menunjukkan terdapat pewarna
ammonia 2 % di dalam etanol 70%, 3. biarkan Rhodamin B padahal sebenarnya sampel tidak
untuk beberapa lama, kemudian diputar-putar, mengandung Rhodamin B, negatif semu (NF) =
4. Pindahkan cairan ke dalam cawan porselin menunjukkan tidak mengandung Rhodamin B
dan uapkan di atas penangas air., 5. Larutkan sedangkan sebenarnya sampel terdapat
residu air yang telah ditambahkan sedikit asam Rhodamin B, negatif benar (NB) = hasil uji
asetat, 6. Tarik zat warna dengan benang wol, 7. menunjukkan tidak mengandung Rhodamin B
Cuci berulang-ulang benang wol dengan air dan sampel memang tidak mengandung
bersih, 8. Larutkan benang wol dengan Rhodamin B.
ditambah aseton 70% dan panaskan cairan Pengolahan data secara deskriptif akan
hingga didapat endapan , 9. Totolkan pada ditampilkan dengan presentase (Suhermin Ari
kertas kromatografi, serta totolkan juga zat P,2012). Hasil pemeriksaan sensitivitas dapat
warna pembanding yang cocok, 10. Masukkan dimasukkan dengan rumus [PB/(PB+NF)],
kertas tersebut ke dalam bejana kromatografi spesifitas [NB/(PS+NB)], nilai prediksi positif
yang terlebih dahulu sudah dijenuhkan dengan [PB/(PB+PS)], nilai prediksi negatif
uap elusi. Jarak rambatan elusi 12 cm dari tepi [NB/(NF+NB)].
bawah kertas. Elusi dengan eluen I
(etilmeilketon : aseton = 70 : 30 : 30) dan eluen HASIL DAN PEMBAHASAN

4
Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 2 (2) (2013)

saring antara lain : 1. Terlebih dahulu membuat


Penelitian ini hanya menguji secara ekstraksi dengan cara gerus 10 gram sampel
kualitatif dan dilihat sensitivitas metode hingga rata dengan penambahan 50 ml larutan
sederhana menggunakan kertas saring tersebut amonia 2% di dalam etanol 70%., 2. biarkan
dibandingkan dengan uji standar sebagai baku selama 2 jam, kemudian diputar-putar, 3.
emas yaitu kromatografi menggunakan benang Pindahkan cairan ke dalam cawan porselin dan
wol dalam mengidentifikasi zat pewarna larutkan residu dalam air yang telah ditambah
rhodamin B dalam makanan jajanan tradisional. asam asetat hingga dalam keadaan asam. 4.
Jenis penelitian ini menggunakan observasional Panaskan larutan di penangas air dengan
bersifat analitis dengan menggunakan cara ditambah aseton 70%, 5. Larutan diujikan
seperti uji diagnostik menggunakan desain cross dalam spot pada ± 2 cm dari ujung kertas saring
sectional. Variabel bebas menggunakan uji yang berukuran 20 x 20 cm, 6. Kertas saring
kualitatif pada makanan jajanan di Pasar Johar dimasukkan ke dalam gelas yang diisi air, 7.
dengan metode kertas saring dan kromatografii Biarkan merembes sampai ¾ tinggi gelas, 8.
sebagai baku emasnya. Kemudian akan diiuji Kertas saring diangkat dan dikeringkan di
sensitivitas kedua metode dan akan dianalisis. udara, 9. Setelah kering, kertas dilipat dua dan
Sampel dalam penelitian ini adalah dilipat lagi menjadi tiga sehingga terdapat 8
makanan jajanan dengan kriteria inklusi dalam bagian antara spot asli dengan batas pelarut.
penellitian ini yaitu makanan yang berwarna Perlakuan dengan metode penetapan zat
merah mencolok. Teknik pengambilan sampel pewarna menggunakan kromatografi antara lain
menggunakan purposive sampling. Jumlah : 1. Ekstrak/ rendam benang wol dengan eter
sampel dihitung menggunakan rumus besar atau petroleum, 2. Geruslah 10 gram sampel
sampel untuk proporsi tunggal yaitu perkiraan hingga rata dengan penambahan 50 ml larutan
sensitivitas 75% dan spesifitas 80%, ammonia 2 % di dalam etanol 70%, 3. biarkan
penyimpangan untuk sensitivitas dan spesivitas untuk beberapa lama, kemudian diputar-putar,
masing-masing adalah 25% dan interval 4. Pindahkan cairan ke dalam cawan porselin
kepercayaan yang dikehendaki 95% (0,05), dan uapkan di atas penangas air., 5. Larutkan
dengan jumlah total sampel 20 buah. residu air yang telah ditambahkan sedikit asam
Adapun alat dan bahan yang digunakan asetat, 6. Tarik zat warna dengan benang wol, 7.
ada dua macam. Alat dan bahan yang Cuci berulang-ulang benang wol dengan air
digunakan untuk pengujian dengan metode bersih, 8. Larutkan benang wol dengan
penetapan zat pewarna menggunakan kertas ditambah aseton 70% dan panaskan cairan
saring adalah : gelas ukur, kertas saring, dan air. hingga didapat endapan , 9. Totolkan pada
Sedangkan alat dan bahan untuk pengujian kertas kromatografi, serta totolkan juga zat
dengan metode penetapan zat pewarna warna pembanding yang cocok, 10. Masukkan
menggunakan kromatografi adalah : gelas ukur, kertas tersebut ke dalam bejana kromatografi
botol aquades, gelas ukur 50 ml, neraca analitik, yang terlebih dahulu sudah dijenuhkan dengan
water bath (pemanas air), makanan jajanan uap elusi. Jarak rambatan elusi 12 cm dari tepi
yang telah dilarutkan, aquades, kertas bawah kertas. Elusi dengan eluen I
kromatoografi, NH4OH 10%, KHSO4 10% (etilmeilketon : aseton = 70 : 30 : 30) dan eluen
Prosedur penelitian dibagi menjadi II (2 gr NaCl dalam 100 ml etanol 50%).
beberapa tahap. Pada pengambilan sampel Keringkan kertas kromatografi di udara pada
antara lain: 1. Mencari makanan berwarna suhu kamar. Amati bercak yang timbul, 11.
merah yang mencolok, 2. Tambahkan air ke Bandingkan Rf bercak contoh dengan Rf bercak
dalam makanan yang diletakkan di cawan, 3. standar. Perhitungan penentuan zat warna
Aduk hingga makanan tercampur. dapat dilakukan dengan cara mengukur nilai Rf
Pada perlakuan dengan metode dari masing-masing bercak tersebut, dengan cara
penetapan zat pewarna menggunakan kertas membagi jarak zat terlarut oleh jarak gerak

5
Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 2 (2) (2013)

pelarut. pembuatan baku pembanding. Rhodamin B dan dalam kenyataannya memang


Ditimbang 25,00 mg rhodamin B, kemudian terdapat Rhodamin B. positif semu (PS) =
dilarutkan dalam 25,0 ml etanol 96 % p.a hasilnya menunjukkan terdapat pewarna
(Azizahwati, dkk., 2007). Hasil tersebut dapat Rhodamin B padahal sebenarnya sampel tidak
dipertegas juga dengan penampakan bercak mengandung Rhodamin B, negatif semu (NF) =
dipertajam menggunakan lampu UV 254nm dan menunjukkan tidak mengandung Rhodamin B
366nm serta visualisasi dengan menggunakan sedangkan sebenarnya sampel terdapat
pereaksi semprot H2SO4 dan HCl pekat. Bila Rf Rhodamin B, negatif benar (NB) = hasil uji
=1, dan nilai hRf yang sama, adanya menunjukkan tidak mengandung Rhodamin B
pemadaman pada UV 254nm, fluorensensi pada dan sampel memang tidak mengandung
UV 366nm, warna merah muda dengan Rhodamin B.
pereaksi semprot HCl dan warna jingga dengan Pengolahan data secara deskriptif akan
pereaksi semprot H2SO4. berarti bahwa zat ditampilkan dengan presentase (Suhermin Ari
pewarna tersebut adalah Rhodamin B. P,2012). Hasil pemeriksaan sensitivitas dapat
Hasil uji lapangan menggunakan tabel dimasukkan dengan rumus [PB/(PB+NF)],
2x2 (Himam Sohibul H, 2008) Hasil analisa dan spesifitas [NB/(PS+NB)], nilai prediksi positif
pemeriksaan kemudian diolah secara diskriptif. [PB/(PB+PS)], nilai prediksi negatif
Struktur dasar uji hasil uji menunjukkan tabulasi [NB/(NF+NB)]:
hasil uji sederhana dan baku emas. Positif benar
(PB) = hasilnya menyatakan terdapat pewarna

Tabel 1. Hasil identifikasi menggunakan kertas saring

MAKANAN JAJANAN TRADISIONAL FREKUENSI PRESENTASE (%)


Positif 5 25

Negatif 15 75

Total 20 100

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui sintetik. KLT merupakan metode pemisahan


bahwa 5 sampel (25%) makanan positif yang lebih mudah, cepat, dan memberikan
mengandung rhodamin B dan 15 sampel (75%) resolusi yang lebih baik dibandingkan
makanan negatif. Makanan yang positif kromatografi kertas. Kromatografi Lapis Tipis
mengandung rhodamin B adalah bolu kukus II, dapat digunakan untuk memisahkan berbagai
kue moho, kue ku I, kue ku II, dan cenil. Hal senyawa seperti ion-ion organik, kompleks
tersebut terbukti bahwa spot makanan yang senyawa-senyawa organik dengan anorganik,
positif mengandung rhodamin B tetap pada dan senyawa-senyawa organik baik yang
tempatnya setelah kertas saring dicelupkan terdapat di alam dan senyawa-senyawa organik
dalam air. Sedangkan sampel yang tidak sintetik. Pada hakekatnya KLT melibatkan dua
mengandung rhodamin B didapatkan pada fase yaitu fase diam (sifat lapisan) dan fase gerak
kertas saring tidak tampak warna pada spot. (campuran larutan pengembang). (Anonim,
Namun hal tersebut perlu diujikan pada metode 2004). Berikut merupaka hasil dari identifikasi
kromatografi untuk mendapatkan hasil yang menggunakan kromatografi:
baik.
Kromatografi lapis tipis (KLT) telah
banyak digunakan pada analisis pewarna

Tabel 2. Hasil Identifikasi Menggunakan Metode Kromatografi

6
Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 2 (2) (2013)

MAKANAN JAJANAN
TRADISIONAL FREKUENSI PRESENTASE (%)
Positif 8 40

Negatif 12 60

20 100
Total

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui terhadap zat warna tersebut. Di Amerika Serikat
bahwa 8 sampel (40%) makanan positif penggunaan zat warna sintetis telah diatur
mengandung rhodamin B dan 12 sampel (60%) sekitar tahun 1906 dengan nama FDA (Food
makanan negatif. Sampel positif dapat dilihat and Drug Administration). Di Indonesia,
adanya warna pada kertas kromatografi lapis peraturan penggunaan zat warna sintetis mulai
tipis yang sejajar dengan baku pembanding dari dibuat pada tahun 1973 melalui SK Menkes RI
rhodamin B. Sampel makanan yang positif No. 11332/73/SK. Sedangkan peraturan
mengandung rhodamin b adalah bolu kukus II, tentang zat pewarna yang diizinkan dan
kue moho, getuk I, getuk II, cendol, apem, dilarang untuk pangan diatur melalui SK
dadar gulung, dan kue ketela.sedangkan warna Menteri Kesehatan RI Nomor
yang negatif, tampak pada kertas kromatografi 722/Menkes/Per/IX/88 mengenai bahan
tidak muncul warna ataupun jika muncul warna tambahan pangan (Wisnu Cahyadi, 2009: 63).
merah akan lebih tinggi dari warna rhodamin B. Berdasarkan laporan Direktorat
Rhodamin B merupakan zat warna Keamanan Pangan Indonesia, penyebaran KLB
tambahan yang dilarang penggunaannya dalam keracunan makanan menurut jenis pangan
produk-produk pangan. Rhodamin B bersifat penyebab dari pangan jajanan pada tahun 2007
karsinogenik sehingga dalam penggunaan hanya 18 kasus, sedangkan pada tahun 2008
jangka panjang dapat menyebabkan kanker. Uji naik menjadi 31 kasus. Jumlah kejadian luar
toksisitas rhodamin B telah dilakukan terhadap biasa (KLB) keracunan makanan yang
mencit dan tikus dengan injeksi subkutan dan dilaporkan Balai Besar/ Balai POM pada tahun
secara oral. Rhodamin B dapat menyebabkan 2007 di Semarang terdapat 15 buah sedangkan
karsinogenik pada tikus ketika diinjeksi pada tahun 2008 menjadi 16 buah. Berdasarkan
subkutan, yaitu timbul sarcoma lokal. penelitian di Amerika Serikat, pengaruh zat
Sedangkan secara IV didapatkan LD50 89,5 pewarna sintetis relative merugikan kesehatan.
mg/kg yang ditandai dengan gejala adanya Pengaruh tersebut terlihat jelas, khususnya pada
pembesaran hati, ginjal, dan limfa diikuti anak-anak yang sering tertarik dengan makanan
perubahan anatomi berupa pembesaran yang bewarna-warni. Terdapat peningkatan
organnya (Merck Index, 2006). akademis dan penurunan masalah kedisiplinan
Pewarna sintetis tidak dapat digunakan siswa setelah bahan pangan yang mengandung
secara sembarangan. Di Negara maju, pewarna pewarna sintetis dihilangkan dari makanan
sintetis ini harus melalui proses sertifikasi mereka.
terlebih dahulu sebelum digunakan pada bahan Dari hasil perbandingan antara metode
makanan, sehingga sering disebut certified kertas saring dengan metede kromatografi
color. Proses sertifikasi ini meliputi pengujian adalah
kimia, biokimia, toksikologi, dan analisis media

Tabel 3. Hasil Sensitivitas Menggunakan Metode Kertas Saring Dengan Kromatografi


Metode kromatografi kertas Total

7
Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 2 (2) (2013)

Positif Negatif
Metode kertas saring Positif 2 3 5

Negatif 6 9 15
Total 8 12 20

Sensitivitas = (2/8) = seperti kertas saring yang memiliki kapilaritas


0,25 atau 25% yang rendah. Kertas saring yang lebih baik
Spesifitas = (9/12) seperti kertas whatman ,namun harganya lebih
= 0,75 atau 75% mahal dibandingkan dengan kertas saring biasa.
Nilai prediksi positif = (2/5) Ketersediaan bahan banding rhodamin B yang
= 0,4 atau 40% tidak murni dan terdapat campuran zat lain
Nilai prediksi negatif = (9/15) dapat mempengaruhi hasil penyerapan.
= 0,6 atau 60% Pewarna rhodamin B yang murni yaitu tidak
Berdasarkan Tabel 3 untuk sensitivitas mudah larut dalam air dan jika diuji pada kertas
metode kertas saring terhadap metode saring, maka tidak akan terserap tinggi seperti
kromatografi didapat dua buah dari delapan pewarna pangan. Ada pula zat pewarna non
total positif-negatif sampel yang menggunakan pangan lain yang berwarna merah pada
metode kromatografi atau 25%. Sedangkan makanan selain rhodamin B yang dapat
spesifitas didapatkan sembilan buah dari dua mempengaruhi hasil penyerapan pada kertas
belas sampel total total positif-negatif yang saring. Selain itu, kadar zat pewarna dalam
menggunakan metode kromatografi atau 75%. makanan yang sedikit juga dapat
Hasil nilai prediksi positif didapatkan dua buah mempengaruhi dalam identifikasi pada kertas
dari lima hasil total positif-negatif menggunakan saring.
metode kertas saring atau 40%. Sedangkan nilai Dari segi spesifitas metode kertas saring
prediksi negatif didapatkan enam dari 15 sampel menghasilkan 75% yang mendekati perkiraan
total total positif-negatif menggunakan metode yaitu 80%, berarti kemampuannya sangat baik
kertas saring 60%. Hal tersebut menandakan dalam memperkirakan sampel makanan tidak
bahwa metode sederhana menggunakan kertas mengandung rhodamin. Kromatografi sebagai
saring tidak dapat digunakan sebagai acuan baku emas memiliki sensitivitas dan spesifitas
dalam percobaan identifikasi zat pewarna yang tinggi dalam mengidentifikasi keberadaan
berbahaya karena hanya memiliki sensitivitas pewarna rhodamin B dalam makanan jajanan
25%. tradisional meskipun dalam jumlah sedikit.
Bila hasil metode sederhana kertas saring Dalam memastikan keberadaan zat pewarna
didapatkan sensitivitas 25%, dengan demikian juga diperiksa di sinar UV 365nm.
variabel ini tidak dapat digunakan untuk SIMPULAN
mengidentifikasi zat pewarna makanan
rhodamin B pada makanan jajanan tradisional. Berdasarkan identifikasi adanya zat
Walaupun spesifitas tinggi yaitu 75% dengan pewarna rhodamin B dalam makanan jajanan
nilai p 0,508, tetap belum memenuhi ketentuan tradisional di Pasar Johar kota Semarang
untuk digunakan sebagai tolak ukur. menggunakan metode kertas saring dan
Sensitivitas dari kertas saring rendah bisa kromatografi kertas sebagai baku emas dapat
diakibatkan beberapa alasan antara lain karena disimpulkan bahwa sensitivitas metode kertas
kualitas kertas yang jelek, kualitas baku banding saring terhadap metode kromatografi didapat
dari rhodamin B yang tidak murni, dan kadar 25%. Hal tersebut menandakan bahwa metode
dari pewarna pada sampel makanan yang sederhana menggunakan kertas saring tidak
sedikit. Prosedur dalam pemeriksaan telah dapat digunakan sebagai acuan dalam
sesuai namun dari ketersediaan alat dan bahan percobaan identifikasi zat pewarna berbahaya.

8
Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 2 (2) (2013)

Wijaya Desi, 2011, Waspada Zat aditif dalam


DAFTAR PUSTAKA Makananmu (Inilah Biang Kerok Beragam
Serangan Penyakit Mematikan), Yogyakarta,
Ari Suhermin P, 2012, Pengukuran dan Statistik dalam Buku Biru
Epidemiologi,
http://berbagi.net/content/view/417/85/
diakses tanggal 12 Oktober 2012.
Balai Besar POM Semarang, 2008, Laporan Tahunan,
Semarang: Badan POM Republik Indonesia
, 2009, Laporan Tahunan, Semarang: Badan POM
Republik Indonesia
, 2010, Laporan Tahunan, Semarang: Badan POM
Republik Indonesia
Cahyadi Wisnu, 2009, Analisis & Aspek Kesehatan
Bahan Tambahan Pangan, Jakarta: Bumi
Aksara.
Eko Azis Hastomo, 2008, Analisis Rhodamin B Dan
Metanil Yelow Dalam Jelly Di Pasar Kecamatan
Jebres Kotamadya Surakarta Dengan Metode
Kromatografi Lapis Tipis, Skripsi: Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Haslina, 2004, Nilai Gizi, Daya Cerna Protein dan Daya
Terima Patilo sebagai Makanan Jajanan yang di
Perkaya dengan Hidrolisat Protein Ikan Mujair,
Tesis: Universitas Negeri Diponegoro
Semarang.
Himam Sohibul H, 2008, Kromatografi Lapis Tipis
, http: //d4him. files. Wordpres
com/2009/02/paper-kromatografi-lapis-
tipis.pdf diakses 6 Februari,2013
Merck Index, 2006, Chemistry Constant Companion,
Now with a New Additon, Ed 14Th, 1410,
1411, Merck & Co., Inc, Whitehouse Station,
NJ, USA.
Sistem keamanan pangan terpadu, http ://www. Pom
.go. id/ surv/ events/ foodwatch
%201st%20edition.pdf, diakses tanggal 5 Mei
2011
SNI 01-2895-1992,
http://sisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/
detail_sni/3285 diakses tanggal 5 Mei 2011.
Soekidjo Notoadmojo, 2005, Metodologi Penelitian dan
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Tata-tata kerja puskesmas, Monday, 18 February 2013,
http:
//puskesmasprimaryhealthcare.wordpress.co
m/author/puskesmasprimaryhealthcare/page
s2/ diakses tgl 19 Februari 2013
Utami Wahyu dan Suhendi Andi, 2009, Analisis
Rhodamin B Dalam Jajanan Pasar Dengan
Metode Kromatografi Lapis Tipis, Jurnal
Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 10, No. 2,
2009: 148 – 155.