Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya sehingga dalam pembuatan makalah ini dapat terselesaikan
sebagaiman mestinya. Salam dan shalawat semoga tetap tercurah kepada
rasulullah Muhammad SAW, kepada sahabat-sahabatnya, dan kepada umatnya
hingga akhir zaman.
Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada dosen yang dengan
kegigihan dan keikhlasannya membimbing kami sehingga kami bisa mengetahui
sedikit demi sedikit apa yang sebelumnya kami tidak ketahui. Juga tak lupa
teman-teman seperjuangan yang telah membantu kami dalam pembuatan laporan
ini.
Laporan ini kami buat dengan sederhana dan jika ada kesalahan dalam
penulisan laporan ini, kami berharap dan memohon saran serta kritikan dari
pembaca demi kesempurnaan laporan ini ke depannya. Semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Ciputat, 15 April 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................... ............i

DAFTAR ISI ................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................
1.3 Tujuan Makalah ...........................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kosmetik .....................................................................................
2.2 Body scrub ...................................................................................
2.3 Manggis ........................................................................................
2.4 Beras .............................................................................................
2.5 Preformulasi bahan.......................................................................

BAB III METODELOGI


3.1 Alat ...............................................................................................
3.2 Bahan ..........................................................................................
3.3 Prosedur Kerja ..............................................................................

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil .............................................................................................
4.2 Pembahasan ..................................................................................

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ..................................................................................
5.2 Saran .............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................


LAMPIRAN GAMBAR...................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kosmetik memang sudah menjadi sahabat untuk wajah seorang wanita,


apalagi dengan aktifitas mereka sehari-hari. Misal saja wanita karier, tuntutan
pekerjaan dan aktifitas yang padat membuat para wanita selalu menjaga penampilan
terutama wajah. Pada abad ke-19, pemakaian kosmetik mulai mendapat perhatian
baik untuk kecantikan maupun kesehatan. Kosmetik adalah bahan atau sediaan yang
dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia seperti pada
epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar, atau gigi dan mukosa
mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan atau
memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik
(BPOM, 2003).
Kosmetika tradisional adalah kosmetika yang terdiri dari bahan-bahan yang
berasal dari alam dan diolah secara tradisional. Di samping itu, terdapat kosmetika
semi-tradisional, yaitu kosmetika tradisional yang pengolahannya dilakukan secara
modern dengan mencampurkan zat- zat kimia sintetik ke dalamnya. Seperti bahan
pengawet, pengemulsi dan lain-lain. Keberadaan kosmetika tradisional yang dibuat
dengan cara tradisional dari bahan baku alami, tidak dapat dipungkiri telah diakui
dan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.
Body scrub merupakan kosmetika yang paling lumrah digunakan sebagai
perawatan kulit. Tujuannya adalah menghilangkan lapisan kulit yang mati pada kulit
tubuh, mencerahkan kulit sekaligus menghilangkan bau tak sedap, mengabsropsi
kotoran dan sebagai abrasiver, peeling sel kulit mati pada lapisan tanduk,
merangsang pertumbuhan sel kulit baru. Bahan-bahan lulur ini dibuat dengan
memanfaatkan beberapa jenis tanaman yang berkhasiat dan telah lama terbukti
digunakan orang-orang tua jaman dahulu untuk perawartan kulit seperti kunyit,
kencur yang mampu membersihkan dan menjadikan kulit sehat dan berseri.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana formulasi sediaan body scrub?
b. Bagaimana proses pembuatan sediaan body scrub?

1.3 Tujuan Praktikum


a. Untuk mengetahui formulasi sediaan body scrub
b. Untuk mengetahui proses pembuatan sediaan body scrub
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kosmetik
a. Perkembangan Kosmetik
Sejak jaman dahulu ilmu kedokteran telah turut berperan dalam dunia
kosmetik. Data dari hasil penyelidikan antropologi, arkeologi dan etnologi di Mesir
dan India membuktikan ramuan seperti bahan pengawet mayat dan salep-salep
aromatik, yang dapat dianggap sebagai bentuk awal kosmetik yang kita kenal
sekarang ini. Penemuan tersebut menunjukkan berkembangnya keahlian khusus
dibidang kosmetik pada masa lalu. Hippocrates (460-370 SM) dan kawan-kawannya
berperan penting pada awal perkembangan kosmetik modern melalui dasar-dasar
dermatologi, diet dan olahraga sebagai sarana yang baikuntuk kesehatan dan
kecantikan. Cornelius Celsus, Dioscorides, Galen adalah ahli-ahli ilmu pengetahuan
yang memajukan ilmu kesehatan gigi, bedah plastik, dermatologi, kimia dan
farmasi. Pada Zaman Renaisans (1300-1600) banyak universitas didirikan di Inggris,
Eropa Utara, Eropa Barat dan Eropa Timur. Karena ilmu kedokteran bertambah luas,
maka kosmetik dipisahkan dari ilmu kedokteran (Henry De Modevili, 1260-1325).
Kemudian dikenal ilmu kosmetik untuk merias (decoratio) dan kosmetik yang
dipakai untuk pengobatan kelainan patologi kulit. Pada tahun 1700-1900 pembagian
tersebut dipertegas lagi dengan cosmetic treatment yang berhubungan dengan ilmu
kedokteran dan ilmu pengetahuan lainnya, misalnya dermatologi, farmakologi,
kesehatan gigi, ophalmologi, diet dan sebagainya. Disini mulai diletakkan konsep
kosmetologi yang kemudian dikembangkan di Prancis, Jerman, Belanda dan Italia.

1. Kosmetik, Obat dan Medicated Cosmetics


Kosmetik berasal dari bahasa Yunani Kosmetikos yang berarti keterampilan
menghias, mengatur. Definisi kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
445/Menkes/Permenkes/1998 adalah “Kosmetik adalah sediaan atau panduan bahan
yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir
dan organ kelamin bagian luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan,
menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam
keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati
atau menyembuhkan suatu penyakit.”
Sementara itu obat adalah bahan, zat, atau benda yang dipakai untuk
diagnosa, pengobatan, dan pencegahan suatu penyakit atau yang dapat
mempengaruhi stuktur dan faal tubuh.
Dalam definisi kosmetik diatas, yang dimaksud dengan “tidak dimaksudkan
untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit” adalah sediaan tersebut
seyogianya tidak mempengaruhi struktur dan faal kulit. Namun bila bahan kosmetik
tersebut adalah bahan kimia-meskipun berasal dari alam-dan organ tubuh yang
dikenai (ditempeli) adalah kulit, maka dalam hal tertentu kosmetik itu akan
mengakibatkan reaksi-reaksi daan perubahan faal kulit tersebut. Tak ada bahan kia
yang bersifat indeferens (tidak menimbulkan efek apa-apa) jika dikenakan pada kulit
(Lubowe, 1955, Kligman, 1982, Celleno, 1988).
Karena itu, pada tahun 1955 Lubowe menciptakan istilah Cosmedicsyang
merupakan gabungan dari Kosmetik dan Obat yang sifatnya dapat mempengaruhi
faal kulit secara positif, namun bukan obat. Pada tahun 1982, Faust mengeukakan
istilah Medicated Cometics.
Untuk memperbaiki dan mempertahankan kesehatan kulit diperlukan jenis
kosmetik tertentu-bukan hanya obat. Selama kosmetik tersebut tidak mengandung
bahan yang berbahaya yang seccara farmakologis aktif mempengaruhi kulit,
penggunaan kosmetik jenis ini menguntungan dan bermanfaat untuk kulit itu sendiri.
Contohnya adalah preparat antiketombe, antiperspirant, deodoran, preparat untuk
mempengaruhi warna kulit (untuk memutihkan atau mencoklatkan kulit), preparat
antijerawat, preparat pengriting rambut, dll.
Tujuan utama penggunaan kosmetik pada masyarakat modern adalah untuk
kebersihan pribadi, meningkatkan daya tarik melalui make-up, meningkatkan rasa
percaya diri dan perasaan tenang, melindungi kulit dan rambut dari kerusakan sinar
UV, polusi dan faktor lingkungan yang lain, mencegah penuaan, dan secara umum
membantu seseorang lebih menghargai dan menikmati hidup. (New Cosmetic
Science, T Mitsui).
b. Penggolongan Kosmetik
Penggolongan kosmetik antara lain menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI,
menurut sifat modern atau tradisionalnya, dan menurut kegunaannya bagi kulit.
Menurut peraturan Menteri Kesehatan RI, kosmetikdibagi kedalam 13 :
 Preparat untuk bayi, misalnya minyak bayi, bedak bayi, dll
 Preparat untuk mandi misalnya sabun mandi, bath capsule, dll
 Preparat untuk mata, misalnya maskara, eye shadow, dll
 Preparat wangi-wangian misalnya parfum, toilet water, dll
 Preparat untuk rambut misalnya cat rambut, hair spray, dll
 Preparat warna rambut misalnya cat rambut, dll
 Preparat make up (kecuali mata) misalnya bedak, lipstick, dll
 Preparat kebersihan mulut misalnya pasta gigi, mouth wash, dll
 Preparat kebersihan badan misalnya deodorant, dll
 Preparat kuku misalnya cat kuku, lotion kuku, dll
 Preparat perawatan kulit misalnya pembersih, pelembab pelindung, dll
 Preparat cukur misalnya sabun cukur, dll
 Preparat untuk suntan dan sunscreen misalnya sunscreen foundation, dll

Menurut sifat dan cara pembuatan :


 Kosmetik modern, dari bahan kimia dan diolah secara modern (termasuk
antaranya adalah cosmedics)
 Kosmetik tradisional :
a) Betul-betul tradisional, misalnya mangir, lulur yang dibuat dari bahan alam
dan diolah dari bahan resep dan diolah secara turun-temurun.
b) Semitradisional diolah se3cara modern dan diberi bahan pengawet agar
tahan lama
c) Hanya namanya yang tradisional tanpa komponen yang benar-benar
tradisional dan diberi zat warna yang menyerupai bahan tradisional.

Menurut kegunaan bagi kulit :


a) Skin (skin-care cosmetics). Jenis ini perlu untuk merawat kebersihan dan
kesehatan kulit, termasuk diantaranya :
- Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser) : sabun, celansing cream,
clensing milk, dan penyegar kulit (freshener)
- Kosmetik untuk pelembab kulit (moisturizer)
- Kosmetik pelindung kulit
- Kosmetik untuk menipiskan / mengamplas kulit (peeling)
Kosmetik riasan (dekoratif/makeup) jenis ini diperlukan untuk merias dan
menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik
serta menimbulkan psikologis yang baik seperti percaya diri. Dalam kosmetik riasan,
peran zat pewarna dan zat pewangi sangat besar.

2.2 Pengertian Body scrub

Body scrub adalah perawatan tubuh dengan menggunakan lulur. Produk lulur
berupa krem yang mengandung butiran – butiran kasar didalamnya. Bahan alami
yang dapat digunakan sebagai bahan lulur antara lain bengkoang, beras giling kasar,
belimbing, jeruk nipis, pepaya, bunga-bungaan, daun-daunan, biji cokelat, kopi dan
kedelai (Traggono, 2007).

Scrub berfungsi mengangkat sel kulit mati dipermukaan kulit tubuh yang
kasar dan kusam, selain itu juga berfungsi membantu mempercepat pergantian sel-
sel kulit tubuh yang baru, bersih dan sehat. Scrub/peeling atau lulur adalah
perawatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggerakan telapak tangan
memutar sambil mnegusap permukaan kulit yang sudah diberi produk lulur.
Perawatan ini dapat dilanjutkan dengan perawatan body masker. Perawatan ini
diakhiri dengan bath terapy, dan pengolesan lotion, body cream atau body butter
untuk memaksimalkan hasil perawatan (Traggono, 2007).

Bahan-bahan body scrub dibuat dengan memanfaatkan beberapa jenis


tanaman yang berkhasiat dan telah lama terbukti digunakan orang-orang tua jaman
dahulu untuk perawatan kulit. Berikut manfaat body scrub (Traggono, 2007) :
a. Body scrub membantu menyehatkan kembali dan merawat kulit agar tidak
kusam, memutihkan kulit, mengencangkan dan menyehatkan kulit.
b. Body scrub membantu membuang sisa-sisa tumpukan sel-sel kulit mati dan
memberi nutrisi bagi kulit.
c. Body scrub membuat kulit menjadi halus.

2.3 Manggis

Taksonomi manggis
Kingdom : Plantae
Kelas : Magnolipsida
Famili : Clusiaceae
Genus : Garcinia
Spesies : Garcinia mangostana

Manggis (Garcinia mangostana Linn.) merupakan tumbuhan yang


mempunyai banyak khasiat, manggis memiliki kulit buah yang tebal dengan
manfaatnya yang sangat banyak. Kulit buah manggis mengandung senyawa
xanthone yang berkhasiat sebagai antioksidan. Xanton berfungsi sebagai antioksidan,
antiproliferasi, anti-inflamasi, dan antimikrobial. Xanton adalah antioksidan kuat,
yang sangat dibutuhkan untuk penyeimbang pro-oxidant di dalam tubuh dan
lingkungan, yang dikenal sebagai radikal bebas. Sejumlah peneliti menjelaskan, kulit
manggis matang mengandung polyhydroxyxanton, yang merupakan derivat
mangostin dan ß-mangostin, yang berfungsi sebagai antioksoidan, antibakteri,
antitumor, dan antikanker. Sifat antioksidan xanton melebihi vitamin E dan vitamin
C, yang selama ini terkenal sebagai antioksidan tingkat tinggi.

2.4 Taksonomi Beras


Kingdom : Plantae
Divisi : Tracheophyta
Kelas : Magnolipsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa

Bagian terbesar beras didominasi oleh pati sekitar 80-85%. Beras juga
mengandung protein, vitamin terutama pada bagian aleuron, mineral, dan air. Pati
beras dapat digolongkan menjadi dua kelompok yaitu amilosa dengan struktur tidak
bercabang dan amilopektin yang berstruktur bercabang. Komposisi kedua golongan
pati ini menentukantransparan atau tidaknya beras dan tekstur nasi (lengket, lunak,
keras, atau pera). Beras pera memiliki kandungan amilosa lebih dari 20% yang
membuat butiran nasinya terpencar-pencar, tidak berlekatan dan keras (Anonim,
2010).
Beras mengandung amilosa, amilopektin, hidralized amylum, gamma
oryzanol dan asam kojik yang dapat mencerahkan kulit. Selain itu, scrub beras dapat
mengangkat sel kulit mati pada kulit.

2.5 Preformulasi Bahan

2. Setil Alkohol
 Pemerian : Berupa lilin, berwarna putih, berbentuk serpihan,
granul, kubus, bau dan rasa lemah.
 Berat Molekul : 242,44 gram/mol
 Kelarutan : Larut dalam etanol 95% dan eter, kelarutan
meningkat dengan peningkatan temperatur, praktis tidak larut dalam air.
Ketika dilelehkan dapat bercampur dengan lemak, paraffin padat atau
 cair dan isopropil miristat.
 Titik lebur : 49oC
 Stabilitias : Setil alkohol stabil dengan asam, alkali, cahaya serta
udara dan tidak menjadi tengik.
 Inkompatibilitas : Tidak kompatibel dengan oksidator kuat
 Fungsi : Sebagai stiffening agent
 Sumber : HOPE 6th Edition
2. Propilen glikol

 Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, kental, praktis tidak


berbau, rasa sedikit tajam menyerupai gliserin
 Kadar lazim : Sampai dengan 15 %
 Kelarutan : Larut dengan aseton, kloroform, etanol 95%, gliserin
dan air. Larut pada 1:6 bagian eter
 Stabilitias : Stabil saat dicampur dengan etanol 95%,
gliserin, higroskopis, terlindung dari cahaya. Stabil dalam wadah tertutup,
ditempat dingin dan bila terbuka cenderung teroksidasi
 Inkompatibilitas : Tidak kompatibel dengan reagen oksidasi seperti
kalium permanganat
 Fungsi : Humektan pada sediaan topikal (15%), Sebagai
kosolven pada sediaan topikal (5 – 80%)
 Sumber : HOPE 6th Edition

3. Asam Stearat

 Pemerian : Berwarna putih agak kuning, agak mengkilap,


kristal/bubuk putih kekuningan sedikit berbau
 Bobot molekul : 284,47 gram/mol
 Titik lebur : 69 – 70 oC
 Kelarutan : Sangat mudah larut dalam benzen, karbon
tetraklorid, kloroform dan eter. Larut dalam etanol 95%, heksana,
propilen glikol. Tidak larut dalam air
 Stabilitias : Asam stearat adalah material yang stabil, antioksidan
juga dapat ditambahkan pada asam stearat.
 Inkompatibilitas : Asam stearat tidak tercampurkan dengan kebanyakan
logam hidroksida dan basa, agen pereduksi dan agen pengoksidasi. Basis
ointment yang dibuat dari asam stearat dapat menunjukkan pengeringan atau
penggumpalan berkaitan dengan reaksi ketika dicampurkan dengan garam
zink atau garam kalsium.
 Fungsi : Pada penggunaan topikal, asam stearat digunakan
sebagai agen pengemulsi dan agen untuk meningkatkan kelarutan.
 Sumber : HOPE 6th Edition

4. TEA

 Pemerian : Cairan tidak berwarna sampai kuning pucat,


memiliki bau amoniak
 Bobot molekul : 149,19 gram/mol
 pH : 10,5
 Kelarutan : Dapat bercampur dengan aseton, metanol, air dan
karbon tetra klorid. Kelarutan 1 : 24 dalam benzen, kelarutan 1:63 dalam etil
eter.
 Stabilitias : TEA dapat berubah menjadi cokelat pada paparan
udara dan cahaya. Harus disimpan dalam wadah kedap udara, terlindung dari
cahaya, tempat sejuk dan kering
 Inkompatibilitas : Bereaksi dengan asam mineral membentuk kristal
garam dan eter, dengan asam lemak tinggi larut dalam air memiliki
karakteristik sabun. Bereaksi dengan tembaga membentuk kompleks
garam
 Fungsi : Agen pengemulsi, stabilizer, dan alkalizing agent
 Sumber : HOPE 6th Edition

5. Gliserin

 Pemerian : Serbuk putih, butiran / berbentuk kubus yang


memiliki bau khas dan rasa hambar.
 Bobot molekul : 92,09 gram/mol
 Titik lebur : 17,8 oC
 Kelarutan : Larut dalam air, etanol, metanol. Sedikit larut dalam
aseton. Praktis tidak larut dalam benzen, kloroform, dan minyak.
Kelarutan dalam eter 1:500, kelarutan dalam etil asetat 1:11
 Stabilitias : Gliserin bersifat higroskopis, gliserin murni tidak
mudah dioksidasi oleh atmosfer dibawah kondisi penyimpanan biasa, tapi
akan terdekomposisi oleh panas dan akan berubah menjadi zat yang
toksik. Gliserin membentuk kristal jika disimpan pada temperatur rendah.
Kristal tidak meleleh sampai penghangatan hingga 20oC
 Inkompatibilitas : Gliserin dapat meledak apabila dicampur dengan
agen pengoksidasi kuat seperti kromium trioksida atau potasium
permanganat. Dalam larutan cair, hasil reaksi pada kecepatan lebih lambat
dengan membentuk beberapa produk oksidasi
 Fungsi : Pada sediaan topikal dan kosmetik, gliserin
digunakan sebagai humektan dan emolient.
 Sumber : HOPE 6th Edition

6. Aquadest

 Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau dan tidak


berasa
 Stabilitias : Air adalah salah satu bahan kimia yang stabil dalam
bentuk fisik (es, uap, air). Air harus disimpan dalam wadah yang sesuai. Pada
saat penyimpanan dan penggunaanya harus terlindungi dari kontaminasi
partikel – partikel ion dan bahan organik yang dapat menaikan
konduktifitas dan jumlah karbon organik. Serta harus terlindungi dari
partikel – partikel lain dan mikroorganisme yang dapat tumbuh
 Inkompatibilitas : Bereaksi dengan bahan eksipien lain yang mudah
terhidrolisis
 Fungsi : Sebagai fase air
 Sumber : Farmakope Indonesia 3
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1.Waktu dan Tempat Praktikum

Hari, tanggal : Kamis,13 April 2018


Tempat praktikum : Laboratorium Tablet FIK UIN Jakarta
Waktu : Pukul 7.30 – 9.20 wib

3.2.1 Alat

 Penangas air
 Beaker glass
 Kaca arloji
 Cawan penguap
 Spatel
 Neraca analitik
 Wadah Sediaan Body scrub
 Pipet tetes
 Ayakan Mesh 40

3.2.2 Bahan

 Ekstrak kulit manggis


 Setil Alkohol
 Propilen
 Glikol
 TEA
 Asam Stearat
 Gliserin
 Scrub Beras
 Parfum
 Aquadest

3.3. Formula

 Ekstrak Kulit Manggis 5%


 Setil Alkohol 0,2%
 Propilen Glikol 5%
 TEA 1,2%
 Asam stearat 15%
 Gliserin 5%
 Scrub Beras 2,5%
 Parfum qs
 Aquadest ad 100%

Sediaan dibuat untuk 50 gram

3.4. ProsedurKerja

 Dilebur fase minyak ( setil alkohol dan asam stearat) diatas penangas air
hingga suhu 70oC (M1)
 Dipanaskan fase air ( PPG, Gliserin, Tea, dan air) diatas penangas air hingga
suhu 70oC (M2)
 Dicampur M1 dan M2 didalam mortir yang sebelumnya telah dihangatkan,
diaduk hingga homogen sampai terbentuk massa seperti putih susu
 Ditambahkan ekstrak kulit buah manggis saat csuhu campuran sekitar 40 oC,
diaduk hingga homogen
 Ditambahkan scrub beras, diaduk hingga homogen
 Ditambahkan parfum, diaduk higga homogen
 Dimasukan kedalam wadah

3.5 Evaluasi sediaan

a Penampilan lotion
Pengamatan organoleptis terdiri dari warna, bau dan bentuk dari sediaan.
(Departemen Kesehatan RI, 1995).
b Uji pH
Pengujian pH dilakukandengan menggunakan pH indikator universal.
c Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan cara, sejumlah sediaan di oleskan tipis pada
kaca objek yang kering dan bersih lalu tutup dengan cover glass. Uji
homogenitas di amati pada mikroskop. Uji homogenitas dinyatakan baik bila
sediaan bertekstur rata dan tidak menggumpal (Voight,1994).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
No. Uji Hasil Foto
1. Organoleptis Warna : Kecoklatan
Bau : Bau parfum mawar
Bentuk : krim
2. Ph Ph ekstrak :
Ph sediaan : 7
3. Homogenitas Homogen

4. Hedonik Uji Hedonik dilakukan oleh


kelompok 2D
Oganoleptik: 4.8/5
Kenyamanan digunakan : 4.7/5
Rasa setelah digunakan : 4.8/5

4.3 Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami membuat sediaan body scrub. Body scrub ini
merupakan sediaan kosmetik yang bertujuan untuk mengangkat sel-sel kulit mati
sehingga kulit tampak lebih cerah, bersih dan lembut yang terdiri dari fase air
dan fase minyak. Body scrub adalah perawatan tubuh dengan menggunakan
lulur. Produk lulur berupa krem yang mengandung butiran – butiran kasar
didalamnya. Bahan alami yang dapat digunakan sebagai bahan lulur antara lain
bengkoang, beras giling kasar, belimbing, jeruk nipis, pepaya, bunga-bungaan,
daun-daunan, biji cokelat, kopi dan kedelai (Traggono, 2007).
Scrub berfungsi mengangkat sel kulit mati dipermukaan kulit tubuh yang
kasar dan kusam, selain itu juga berfungsi membantu mempercepat pergantian
sel-sel kulit tubuh yang baru, bersih dan sehat. Scrub/peeling atau lulur adalah
perawatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggerakan telapak
tangan memutar sambil mengusap permukaan kulit yang sudah diberi produk
lulur. Perawatan ini dapat dilanjutkan dengan perawatan body masker.
Perawatan ini diakhiri dengan bath terapy, dan pengolesan lotion, body cream
atau body butter untuk memaksimalkan hasil perawatan (Traggono, 2007).
Basis body scrub merupakan basis emulsi, tipe emulsi yang cocok untuk
sediaan body scrub adalah minyak dalam air (o/w atau m/a). Yang bertujuan
untuk memberikan kelembaban pada kulit, memberikan lapisan tipis yang tidak
lengket pada kulit, pemakaian yang merata pada permukaan kulit yang luas,
bertujuan untuk mengangkat sel-sel kulit mati sehingga kulit tampak lebih cerah,
bersih dan lembut.
Pada kali ini kami memformulasikan ekstrak kulit manggis pada sediaan
body scrub, ekstrak kulit manggis dipilih karena memiliki kandungan Xanton
berfungsi sebagai antioksidan, antiproliferasi, anti-inflamasi, dan antimikrobial.
Selain itu, kulit manggis matang mengandung polyhydroxyxanton, yang
merupakan derivat mangostin dan ß-mangostin, yang berfungsi sebagai
antioksoidan, antibakteri, antitumor, dan antikanker. Sifat antioksidan xanton
melebihi vitamin E dan vitamin C, yang selama ini terkenal sebagai antioksidan
tingkat tinggi. Sifat antioksidan ini membantu mencerahkan, mengencangkan,
dan mencegah kerutan pada kulit. Selan itu, kulit manggis juga sangat mudah
didapatkan dan murah. Untuk mendapatkan ekstrak kulit manggis juga cukup
mudah yaitu dengan cara Kulit buah manggis dikupas dari kulit bagian luar yang
keras dan berwarna hitam, diambil hanya kulit bagian dalam saja yang berwarna
merah keunguan. Kemudian kulit manggis tersebut di cuci bersih dengan air
mengalir, lalu diblender dengan penambahan air secukupnya. Hasil blender
disaring dan dibuang ampasnya. Ekstrak yang didapat adalah ekstrak kulit
manggis murni.
Pada formula ini digunakan scrub beras. Scrub beras dipilih karena memiliki
sifat ekfoliator yang baik sebagai agen eksfoliasi atau pengangkatan sel-sel kulit
mati. Beras juga sangat mudah didapatkan dan harganya murah. Tahapan yang
dilalui adalah beras dicuci bersih, kemudian direndam selama satu malam.
Perendaman dimaksudkan untuk melunakkan konsistensi beras yang keras,
sehingga mudah untuk dihaluskan, serta untuk memunculkan amilumnya
sehingga warna butir beras menjadi lebih putih. Setelah direndam, beras
dikeringkan untuk menghindari terbentuknya jamur. Selanjutnya beras
dihaluskan dan diayak sesuai dengan ukuran partikel yang dinginkan. Pada
formula kali ini digunakan ukuran ayakan nomor 40 dengan besar partikel yaitu
425µm.
Ukuran ayakan nomor 40 dipilih karena menurut Erna Yulianti dalam jurnal
berjudul Pengaruh Ukuran Partikel Tepung Beras Terhadap Daya Angkat Sel
Kulit Mati Lulur Bedak Dingin, ukuran ayakan mesh nomor 40 memiliki daya
angkat sel kulit mati yang besar. Ukuran partikel scrub yang terlalu kecil
mempunyai gaya gesek yang kecil, sehingga kemampuan mengangkat sel kulit
mati juga menjadi lebih kecil dibandingkan ukuran partikel scrub yang lebih
besar, selain itu, ukuran partikel yang terlalu kecil memiliki kemungkinan bahwa
akan tertahan dilubang pori kulit sehingga tidak dapat mengkat sel kulit mati.
Tidak hanya menentukan efektivitas pengangkatan sel kulit mati, ukuran
partikel scrub juga berpengaruh pada kemampuan daya lekatnya terhadap kulit.
Semakin kecil ukuran partikel, maka semakin besar daya lekatnya terhadap kulit.
Hal tersebut dapat disebabkan karena adanya ruang udara antar partikel pada
ukuran partikel yang lebih besar sehingga membuat kelekatannya menjadi lebih
kecil. Sedangkan pada formula lulur dengan ukuran partikel lebih kecil, ruang
udara antar partikelnya lebih kecil sehingga daya lekatnya menjadi lebih besar.
Menurut jurnal Pengaruh Ukuran Partikel Tepung Beras Terhadap Daya Angkat
Sel Kulit Mati Lulur Bedak Dingin, ukuran partikel yang memiliki daya lekat
yang baik adalah ayakan nomor 50 dan 40.
Selain daya lekat, ukuran partikel scrub juga mempengaruhi daya sebar.
Semakin besar ukuran partikel scrub, maka daya sebarnya semakin meningkat.
Ukuran partikel scrub besar memiliki kerapatan yang lebih kecil dibandingkan
dengan scrub dengan ukuran partikel kecil. Kerapatan yang kecil tersebut
menyebabkan masih adanya ruang kosong diantara partikel yang tidak terisi, hal
itulah yang menyebabkan luas daya sebarnya menjadi besar. Menurut jurnal
Pengaruh Ukuran Partikel Tepung Beras Terhadap Daya Angkat Sel Kulit Mati
Lulur Bedak Dingin, ukuran ayakan yang memiliki daya sebar yang baik adalah
ukuran 30, akan tetapi tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan ayakan
ukuran 40.
Untuk pembuatan body scrub ini adalah terdapat dua fase, yaitu fase minyak
(asam stearat dan cetil alkohol) dan fase air (TEA, gliserin, PPG, dan air).
Dalam formula ini, asam stearat bersama-sama dengan TEA (triethanolamin)
berfungsi sebagai pengatur pH. Ketika alkalis (triethanolamin) dalam sediaan ini
digunakan untuk menaikkan nilai pH, maka asam stearat adalah kombinasi yang
cocok untuk menetralkan pH kosmetik ini (menurunkan sebagian pH nya
menjadi lebih netral dan cocok untuk diaplikasikan ke kulit). Selain itu asam
stearat dan TEA (trieatanolamin) akan membentuk sabun stearat yang berfungsi
sebagai emulsifying agent.Dalam sediaan ini, yang berfungsi sebagai emulsifying
agent larut air adalah TEA (triethanolamin), selain juga berfungsi sebagai
alkalizing agent.
Cetil alkohol sebagai stiffening agent (pengental/pengeras) karena dalam
proses pembuatan dilakukan peleburan oleh karena itu diperlukan siffening agent
yang akan membantu lebih cepat sediaan mengental. Pada sediaan emulsi
minyak dalam air, setil alkohol akan membentuk massa emulsi yang stabil bila
dikombinasikan dengan emulsifying agent larut air. Gabungan dari dua
emulsifying agent ini akan menghasilkan barrier monomolekular yang rapat,
yang membentuk barrier pada daerah antarmuka air dan minyak sehingga
mencegah terjadinya droplet-droplet koalesen.
Gliserin dapat difungsikan sebagai emollient (agen pelembab) dalam krim
pelembab, lotion, body scrub, maupun sunblock karena sifatnya yang dapat
melembutkan dan melembabkan kulit. Gliserin dapat menyerap air (higroskopis),
tidak beracun sehingga cocok untuk segala jenis kulit, mulai dari bayi hingga
dewasa. Penggunaan gliserin untuk kulit tidak hanya terbatas pada kulit yang
kering karena dapat mengisi matriks antar sel dan membangun struktur kulit, tapi
bisa bermanfaat untuk setiap jenis kulit. Gliserin juga membantu meningkatkan
kesehatan kulit, sifat kimianya stabil tidak berubah ketika dicampur dengan zat
lainnya.
Propilen glikol pada formula ini difungsikan sebagai co-solvent yang
digunakan bersamaan dengan gliserin. Propilen glikol juga digunakan dalam
kosmetik sebagai pengangkut emulsifiers.
Proses selanjutnya adalah penimbangan seluruh bahan yang
digunakan. Setelah ditimbang, kemudian disiapkan seluruh alat untuk membuat
sediaan. Kali ini, body scrub dibuat dengan melebur setil alkohol dan asam
stearat di atas penangas air hingga suhu 70oC (sebagai massa A), pada saat yang
bersamaan propilen glikol, gliserin, TEA, air dipanaskan di atas penangas
yang lain hingga suhu 700C (sebagai massa B). Alasan dipanaskan pada suhu
700C untuk meleburkan bahan-bahan yang berbentuk padatan agar mudah ketika
proses pencampuran kedua fase. Sambil menunggu kedua fase mencapai suhu
yang diinginkan dan homogen, mortar dipanaskan dengan dituangkan air
mendidih kedalam mortar. Hal ini bertujuan agar pada saat menghomogenkan
tidak langsung menjadi kaku dan sulit untuk dihomogenkan terutama pada fase
minyak. Setelah mortar hangat, buang air yang ada di dalam mortar dan di lap
menggunakan tisu.
Setelah kedua fase dan mortar telah siap, fase air dimasukkan terlebih dahulu
ke dalam mortar lalu disusul dengan fase minyak. Hal ini dilakukan karena
sistem emulsi yang digunakan adalah sistem emulsi minyak dalam air. Setelah
kedua fase masuk, kemudian diaduk terus secara geometris dan searah hingga
terbentuk massa putih seperti susu dan di tambahkan ekstrak pisang dan scrub
biji kedelai. Setelah terbentuk massa dan suhu sediaan telah turun sampai suhu
40oC, kemudian di tambahkan parfum dan ekstrak ke dalam sediaan. Hal
ini dilakukan untuk mencegah menguapnya parfum dan mencegah
dekomposisi senyawa aktif dari ekstrak kulit manggis. Setelah tercampur
homogen, masukan scrub beras kedalam campuran dan aduk hingga homogen,
kemudian sediaan dimasukkan kedalam wadah dan diberi label.
Dalam uji organoleptis, kami melakukan pemeriksaan dengan mengamati
warna, bentuk, bau, tekstur dari sediaan krim pelembab uji. Bentuk sediaaan
kami berupa semi solid yang merupakan campuran dari dua fase berupa air dan
minyak, dengan tipe O/W, pemilihan tipe emulsi O/W karena body scrub karena
dapat membentuk lapisan yang bersifat higroskopis, yang menyerap uap air dari
udara dan mempertahankannya di permukaan kulit. Preparat ini membuat kulit
tampak lebih halus dan mencegah dehidrasi lapisan stratum korneum kulit.
Selain itu bentuk sediaan yang semi solid ini desebabkan oleh cetil alkohol yang
merupakan stiffening agent yang dapat mengentalkan/mengeraskan sediaan.
Warna yang dihasilkan dari body scrub yaitu putih kecoklatan, dengan bau segar
khas parfum mawar dan tekstur lembut.
Pada uji homogenitas, dilakukan dengan cara mengoleskan secukupnya
sediaan pada sekeping kaca objek/preparat yang bersih dan kering. Sediaan harus
menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar
(DepKes RI, 1985). Ketika kelompok kami melakukan evaluasi ini, tidak
terdapat butiran kasar dan gelembung pada kaca objek yang kami oleskan
sediaan kosmetik kami dan sediaan dapat dikatakan bahwa kedua fase antara
minyak dan air telah bercampur dan tidak membentuk bulir bulir gelembung
yang memisah, dan membukrikan bahwa emulgator yang digunakan telah sesuai.
Pada uji pH, udilakukan dengan pH indikator, kemudian lihat nilai pH nya
dengan dicocokan pada keterangan yang terdapat pada kotak kertas indikator pH.
Uji ini diharapkan sesuai dengan persyaratan pH fisiologis kulit normal untuk
penggunaan topikal, yaitu 4,5 – 6,5 (Soeratri dan Tutik, 2005). Tetapi, pada
pemeriksaan dengan menggunakan ph indikator, hasil yang didapat tidak sesuai
dengan yang seharusnya, hasil yang didapat adalah 7. Hal ini disebabkan oleh
adanya alkalizing agent yaitu TEA. Meskipun tidak berada dalam rentang, tetapi
tidak terlalu jauh dari rentang yang disarankan, oleh karena itu sediaan body
scrub ini tidak akan mengiritasi kulit.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :

1. Scrub berfungsi mengangkat sel kulit mati dipermukaan kulit


tubuh yang kasar dan kusam, selain itu juga berfungsi
membantu mempercepat pergantian sel-sel kulit tubuh yang
baru, bersih dan sehat.
2. Tipe emulsi O/W lebih cocok untuk body scrub jadi pada
praktikum ini kami membuat pelembab berdasarkan basis emulsi
tipe O/W.
3. Sediaan kami belum memenuhi standar SNI dimana belum
memasuki rentan pH untuk penggunaan topikal.
4. Ekstrak kulit manggis xanton sebagai antioksidan, dan dipilih
scrub beras karena dipilih karena memiliki sifat ekfoliator yang
baik sebagai agen eksfoliasi atau pengangkatan sel-sel kulit mati.

5.2 Saran
Perhatikan suhu pada saat pencampuran kedua fase karena itu merupakan
titik krusial yang akan menentukan kedua fase terdispersi atau tidak.
DAFTAR PUSTAKA
Anief, Muhammad. 1993. F a r m a s e u t i k a D a s a r . Yogyakarta : UGM press.
Anief, Muhammad. 1997. I l m u M e r a c i k O b a t . Yogyakarta : UGM press.
Ansel, Howard.1989. P e n g a n t a r B e n t u k S e d i a a n F a r m a s i , E d i s i I V .
Jakarta : UI press.
Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1979.
Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 4.
Formularium Kosmetika Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia
1985.
Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th edition.
Harjasaputra, Purwanto, dkk. 2002. D a t a O b a t d i I n d o n e s i a . Jakarta :
Grafidian Medipress.
Ilmu Meracik Obat. Mohammad Anief. Gadjah Mada University Press.
Ilmu Resep Drs. H. A. Syamsuni. Penerbit Buku Kedokteran.
Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempatt. Howard C. Ansel.
Reynold, James E F. 1982. M a r t i n d a l e T h e E x t r a P h a r m a c o p o e i a .
Twenty Eight edition. London : The Pharmaseutical Press.
Septiana Indratmoko, Meli Widiarti. 2017. Formulasi dan Uji Sifat Fisik Lulur
Serbuk Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana Linn) dan Serbuk Kopi
(Coffea arabica Linn) Untuk Perawatan Tubuh.
Tranggono, R.I., Latifah, F., 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik, PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Waide, Ainley, and Waller, Paul J. 1994. H a n d b o o k o f P h a r m a s e u t i c a l
E x i p i e n t s . Second edition. Washington.
Wasitaatmadja.SM.1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. UI Press.Jakarta.
Yulianti Erna. 2010. Pengaruh Ukuran Partikel Tepung Beras Terhadap Daya
Angkat Sel Kulit Mati Lulur Bedak Dingin.
LAMPIRAN