Anda di halaman 1dari 70

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA TN.

A
TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA DENGAN USIA
JOMPO DENGAN MASALAH HIPERTENSI
Asuhan Keperawatan
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktik Klinik
Keperawatan Keluarga

Disusun Oleh
Fanny Julianti (043315150013)

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN TINGKAT III


STIKEP PPNI JAWA BARAT
2018
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA NY. T PASCA STROKE
DENGAN HIPERTENSI

A. PENGKAJIAN
1. DATA UMUM
a. Nama Kepala Keluarga (KK) : Tn. A
b. Usia : 69 Tahun
c. Pendidikan : SD
d. Pekerjaan : Tidak Bekerja
e. Alamat : Kp. Kendal Gede, RT. 07/ 02,
Sukagalih
f. Tanggal Pengkajian : Senin, 16 April 2018
g. Komposisi Anggota Keluarga :
No Nama Jenis Hub. Umur Pendidikan Pekerjaan
Kelamin Dengan
KK
1. Ny.T Perempuan Istri 65 Thn SD IRT

h. Genogram

69 65

44 39 35 31
Keterangan:
: Laki-laki : Meninggal

: Perempuan : Tinggal serumah

Penjelasan Genogram:
Keluarga Tn. A memiliki 4 orang anak, semuanya sudah menikah
dan memiliki rumah masing- masing. Kini ia tinggal dengan istrinya Ny.
T. Tn. A mulanya adalah seorang buruh, dan istrinya adalah seorang ibu
rumah tangga. Sekarang Tn. A sudah tidak bekerja lagi karena faktor
usia, namun ia memiliki investasi berupa rumah kontrakan.
Kehidupannya sebagian di dukung oleh keempat anaknya dan sebagian
dari penghasilan rumah kontrakan. motivasi keluarga khususnya anak-
anaknya untuk mengetahui wawasan baru cukup tinggi sehingga mampu
mendukung upaya perawatan di keluarga.
Riwayat kesehatan keluarga meliputi penyakit diabetes mellitus
pada almarhum ibu Ny. T, kakak dan adik Ny. T juga mengidap penyakit
yang sama, namun Ny. T tidak memiliki penyakit diabetes mellitus. Ny.
T mengidap penyakit stroke sejak 2 tahun yang lalu. Masalah stroke yang
pada saat ini di alami merupakan stroke ulang, jadi sampai dengan saat
ini Ny. T sudah mengalami serangan stroke selama 2x. saat ini Ny. Stroke
ulang terjadi pada tahun 2016, sebelum terjadi stroke Ny. T jatuh di
kamar mandi, dan tekanan darahnya mencapai 170/ 100 dan . Ny. T
memiliki riwayat kolesterol tinngi, namun tidak memiliki riwayat
hipertensi namun pada saat terjadi stroke Ny. T menjadi hipertensi. Ny.
T mengalami kelemahan anggota gerak sebelah kanan, dan segala
kebutuhan dasarnya dibantu secara penuh. Setelah menjalani terapi
selama 2 tahun, Ny. T mampu menggerakan anggota gerak kanan nya,
dan mampu memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri namun Ny. T
masih kesulitan dalam berjalan. Serta Ny. T seringkali merasa kesemutan
pada kaki kiri. Keluarga sendiri masih belum mengetahui secara pasti
cara memberikan latihan gerak di rumah yang secara efektif mempu
melatih ekstremitas bawah Ny.T. keluarga hanya mengetahui bahwa Ny.
T harus sering latihan berjalan agar dapat kembali berjalan secara
normal.

i. Tipe Keluarga
Keluarga Tn. A termasuk kedalam tipe Nuclear Family, dimana
semua yang tinggal didalam rumah adalah keluarga inti yang terdiri dari
ibu dan bapak. Tn. A berperan sebagai kepala keluarga yang berfungsi
untuk mencari nafkah dalam memenuhi semua kebutuhan anggota
keluarga sebagai wirausahawan (pemilik rumah kontrakan).

j. Suku Bangsa
Tn. A dan Ny. T merupakan orang Sunda, tepatnya Bandung.
Bahasa yang digunakan didalam rumah adalah bahasa Sunda/ Indonesia.
Dilingkungan sekitar keluarga Tn. A kebanyakan adalah orang asli
sunda, sebagian kecil orang jawa. Ny. T mengatakan tidak ada norma
atau kebiasaan keluarga yang tidak sesuai dengan prinsip kesehatan.
Pola kebiasaan makanan dan menu makanan yang dimasak sehari-hari
tidak dipengaruhi oleh budaya, seperti ikan asin, jengkol, Ny. T jarang
mengkonsumsi makanan tersebut, namun Tn. A masih menyukai ikan
asin.

k. Agama
Keluarga Tn. A menganut agama Islam dan masing-masing anggota
keluarga menjalan ibadahnya sesuai dengan ajaran agama yang dianut
dan tidak ada perbedaan agama dalam keluarga Tn. A. Tn. A dan Ny. T
telah menunaikan ibadah haji. Terdapat tempat peribadatan yaitu Mesjid
di dekat rumah Tn. A, Tn. A rutin mengikuti sholat berjamaah di Mesjid
tersebut. Ny. T mengatakan pada saat sebelum sakit, ia sering mengikuti
pengajian yang ada dimasyarakat, namun dikarnakan sekarang ia tidak
dapat menjangkau lokasi pengajian, Ny. T cukup mengaji di rumah.

l. Status Sosial Ekonomi Keluarga


Penghasilan keluarga Tn. A selama satu bulan sekitar Rp. 1.000.000
– 2.000.000. Sumber dana yang didapatkan oleh keluarga berasal dari
Tn. A yang mendapat dana dari rumah yang disewakan (rumah
kontrakan) dan dari anak Tn. A yang rutin memberi uang kepada Tn. A
setiap bulan.

m. Aktivitas Rekreasi Keluarga


Keluarga Tn. A melakukan rekreasi dan mengisi waktu luang
dengan menonton televisi, bersantai dan bercengkrama dengan anggota
keluarga lainnya di samping rumah dan sesekali Tn. A pergi ke lapang
untuk bermain bulu tangkis, lari pagi, dan Ny, T berjemur di samping
rumahnya.

2. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


a. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini
Keluarga Tn. A berada pada tahap perkembangan keluarga dengan usia
jompo.
b. Tugas Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi
Ny. T mengatakan ia belum mampu berdaptasi sepenuhnya dengan
perubahan fisik yang saat ini ia alami, akibat dari penyakit yang diderita.
Ny. T masih berharap bahwa ia akan pulih kondisinya seperti sedia kala.
c. Riwayat Keluarga Inti
Tn. A menikah dengan Ny. T atas dasar saling mencintai satu sama lain.
Sejak muda Tn. A mempunyai kebiasaan merokok dan minum kopi,
mulanya Tn. A mengatakan sudah berhenti merokok selama 10 tahun,
namun sekitar 2 bulan ini Tn. A kembali merokok.
d. Riwayat Keluarga Sebelumnya
Keluarga Tn. A mengatakan, bahwa Ibu dari Ny.T meninggal akibat dari
penyakit diabetes mellitus. Sedangkan ibu dan bapak dari Tn A tidak
memiliki riwayat hipertensi maupun diabetes, mereka meninggal karena
faktor usia.

3. LINGKUNGAN
a. Karakteristik Rumah
Tipe bangunan keluarga Tn. A adalah permanen dengan memakai
semen dan batu bata. Status kepemilikan rumah adalah milik sendiri.
Ukuran rumah Tn. A kurang lebih 30 m2, lantai rumah menggunakan
keramik dan dalam keadaan bersih. Keluarga membersihkan dan
merapihkan rumahnya 1 kali sehari secara bergantian. Jumlah ruangan
terdiri dari 1 ruang utama, 2 buah kamar tidur, 1 ruang dapur dan ruang
makan, 1 kamar mandi. Rumah keluarga Tn. A memiliki ventilasi yaitu
terdapat jendela di depan rumah dekat pintu diatasnya terdapat banyak
lubang- lubang ventilasi kecil, selain itu ventilasi terdapat di samping
dapur, dan di setiap kamar ventilasi dibuka setiap hari. Cahaya matahari
dapat langsung masuk kedalam rumah khususnya dapur dan ruang
tengah.
Keluarga memiliki sumber air sendiri yang berupa jet pump yang
ditampung kedalam bak air, dimana airnya tidak berasa, tidak berbau dan
tidak berubah warna sehingga layak untuk dikonsumsi dan digunakan
untuk aktivitas sehari-hari keluarga yang menggunakan air. Keluarga
juga memiliki jamban sendiri dengan pembuangan kotoran ke sarana
pembuangan khusus yang dibuatkan, jaraknya dengan sumur pompa
lebih dari 10 meter. Adapun untuk pembuangan sampah dikumpulkan
ditempat sampah yang berada di dalam dapur untuk dibuang didepan
rumah dan kemudian dibuang ke tempat khusus pembuangan sampah
atau dibakar oleh Tn. A di pekarangan rumahnya,
Denah Rumah:

b. Karakteristik Tetangga
Tetangga disekitar rumah keluarga Tn. A kebanyakan berasal dari
suku sunda dan jawa. Hubungan keluarga Tn. A dengan tetangga sekitar
sangat baik. Kebersihan jalan di sekitar rumah cukup bersih dan tidak
terdapat pabrik industri sehingga tidak terdapat limbah pabrik atau
limbah industri. Keluarga Tn. A seringkali memanfaatkan pelayanan
kesehatan, sering pergi ke posbindu, puskesmas, balai pengobatan
yayasan, dan praktek dokter klinik atau rumah sakit yang berada
diwilayah Sukagalih- Sukajadi.

c. Mobilitas Geografis Keluarga


Tn. A masih aktif mengendarai sepeda motor. Kadang Tn. A suka
mengantarkan cucunya berangkat sekolah, karena rumah anaknya dekat
dari rumah Tn. A.

d. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat


Perkumpulan antar warga adalah pengajian. Keluarga Tn. A
biasanya berkumpul saat hari-hari besar keagamaan dan disaat salah satu
keluarga sedang mengadakan acara atau hajatan. Namun setiap harinya
pasti ada anak Tn. A yang mengunjungi rumah Tn. A.
e. Sistem Pendukung Keluarga
Masyarakat di RW 02 merupakan masyarakat yang saling
membantu satu sama lain dan memiliki posbindu yang aktif sehingga
belakangan ini pihak posbindu seringkali mengunjungi rumah Tn. A
untuk memeriksa keadaan Ny. T. keluarga Tn. A sering meminta
pertolongan tetangga jika diperlukan.

4. STRUKTUR KELUARGA
a. Pola Komunikasi Keluarga
Komunikasi antara anggota keluarga Tn. A sering dilakukan dan
berjalan dengan baik dan lancar. Pola komunikasi yang digunakan oleh
keluarga Tn. A adalah pola komunikasi Switchboard (Segala arah),
dimana semua anggota keluarga berhak dan bebas mengutarakan
pendapatnya. Keluarga Tn. A selalu mengusahakan keterbukaan diantara
sesama anggota keluarganya. Jika terdapat masalah pada salah satu
anggota keluarga, Tn. A akan mencoba memecahkan masalah dan
mencari jalan keluarnya.

b. Struktur Kekuatan Keluarga


Pengambil keputusan pada keluarga Tn. A adalah Tn. A sendiri yang
betindak sebagai kepala keluarga. Seperti jika terdapat masalah atau
salah satu anggota keluarga ada yang sakit, Ny. T akan
mendiskusikannya dengan Tn. A. Hasil dari keputusan yang diambil
adalah merupakan persetujuan bersama.

c. Struktur Peran
1) Formal
(a) Tn. A sebagai kepala keluarga mampu menjalankan perannya
sebagai suami Ny. T.
(b) Ny. T sebagai istri dari Tn. A dapat menjalankan perannya sebagai
istri dari Tn. A.
2) Informal
(a) Tn. A berperan sebagai pendorong dan koordinator keluarga. Tn.
A selalu memberikan semangat kepada anggota keluarganya
terutama kepada istrinya yang sebelumnya terserang stroke, untuk
memiliki semangat juang untuk sembuh.
(b) Ibu. S berperan sebagai penjaga, pengontrol serta merawat
kondisinya sendiri saat ini untuk mencapai pemulihan yang
optimal.

d. Nilai dan Norma Budaya


norma yang berlaku didalam keluarga Tn. A adalah norma agama,
adat istiadat, budaya dan norma sosial. Keluarga Tn. A selalu
menanamkan rasa menghormati dan menghargai orang lain, sopan santun
kepada sesama dan menanamkan nilai kebersamaan didalam keluarga.

5. FUNGSI KELUARGA
a. Fungsi Afektif
Menurut keluarga Tn. A mereka saling menyayangi satu sama lain.
Ny. T mengatakan, ia dan suaminya selalu memberikan perhatian satu
sama lain, serta berusaha memenuhi dan memberikan yang terbaik.

b. Fungsi Sosial
Keluarga Tn. A merupakan keluarga yang sering dan mudah
bersosialisasi serta keluarga yang di hormati di sekitar wilayahnya
karena merupakan sesepuh juga di wilayah tersebut.

c. Fungsi Perawatan Kesehatan


Keluarga Tn. A sangat memperhatikan setiap masalah kesehatan
yang ada pada masing-masing anggota keluarganya. Hal tersebut terbukti
dengan khawatirnya Tn. A saat Ny. T mengalami Stroke. Tn. A
memanfaatkan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan yang ada dan
mengikutsertakan istrinya untuk terapi guna memulihkan kesehatan
istrinya.

6. POLA KEBIASAAN KELUARGA


a. Makan
Tn. A dan Ny. T biasanya makan 2-3x sehari tergantung keinginan untuk
makan. Tn. A mengatakan senang makan ikan asin dan masih sering
minum kopi, sedangkan Ny. T masih sering mengkonsumsi hidangan
dengan minyak goreng yang banyak, makanan berlemak. Sehingga
membuat tekanan darah Tn. A selalu meningkat, dan Ny. T mempunyai
kolesterol dan tekanan darah yang seringkali meningkat.
Nama Ritme Makan dan Porsi Camilan dan porsi
Anggota Sarapan Makan Siang Makan Malam
Keluarga Pagi
Tn. A Kopi, - Nasi - Nasi (2 centong) - Buah- buahan
Gorengan (2 centong) - Sayur (1/2
- Sayur Mangkok)
(1/2 Mangkok) - Telur
- Ikan asin peda/
daging ayam

Ny. T Gorengan/ - Nasi (1 - Nasi (1 centong) - Susu


Nasi centong) - Sayur (1/2 - Buah pisang
goreng - Sayur (1/2 Mangkok) - biskuit
Mangkok) - Telur
- Daging

b. Aktivitas
Aktivitas sehari- hari anggota keluarga berbeda- beda. Tn. A mengambil
alih sebagian besar pekerjaan rumah. Ketika pagi hari, Tn. A
membersihkan rumah dan mengantarkan cucu nya sekolah, setelah itu Tn.
A biasanya menggandeng Ny. T untuk berjemur di pekarangan rumah.
Biasanya Tn. A rutin mengikuti Sholat berjamaah di masjid dekat
rumahnya. Sedangkan Ny. T, aktivitasnya terbatas, dikarenakan ada
keterbatasan berjalan, karena masih dalam pemulihan pasca stroke,
aktivitasnya hanya sekitar area rumahnya, Ny. T tidak mampu berjalan
terlalu jauh.

c. Olahraga
Tn. A sesekali bermain bulu tangkis di gor sukagalih, kadang Tn. A
menyempatkan untuk lari pagi, atau hanya sekedar jalan kaki. Sedangkan
Ny. T berjalan- jalan di dalam rumahnya/ sekitar pekarangan untuk
melatih kakinya.

7. STRESS DAN KOPING KELUARGA


a. Stressor Jangka Pendek
Ny. T mengatakan bahwa yang menjadi pikiran saat ini adalah masalah
kesehatan dirinya. Dari mulai masalah kakinya yang masih agak sulit
untuk berjalan, masalah tekanan darah dan kolesterolnya yang selalu naik
turun.
b. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Masalah
Tn. A jika terdapat masalah di keluarganya hanya pasrah, berdoa pada
Alloh SWT dan berusaha melakukan yang terbaik untuk semua anggota
keluarganya.
c. Strategi Koping yang Digunakan
Ny. T mengatakan jika ada masalah dalam keluarga, mereka selalu
langsung membicarakannya bersama- sama, sehingga mendapat
penyelesaian masalah yang dihadapi.
d. Strategi Adaptasi Disfungsional
Tidak ditemukan.

8. PEMERIKSAAN FISIK
a. Pemeriksaan Fisik Ny. T
Pemeriksaan Ny. T
Penampilan Umum Kesadaran: Komposmentis, E: 4, V:5, M: 6.
1) Penampilan umum: Klien sadar tidak
kebingungan ketika di tanya klien sedang
dimana klien dapat menjawab dengan
benar, klien kooperatif ketika diajak
berkomunikasi dengan perawat, klien
gemuk, cara berjalan seperti robot, terlihat
kaku ketika berjalan.
2) Personal Hygiene: Penampilan klien
bersih dan rapi, badan tidak berbau, kuku
bersih, gigi bersih.
Tanda- Tanda Vital 1) Tekanan darah : 160/ 100 mmHg
2) Nadi : 83 x/ menit
3) Respirasi rate : 20 x/ menit
4) Suhu : 36,7 °C

Kepala Bentuk simetris, distribusi tidak merata, tipis,


berwarna hitam, terdapat banyak uban
Leher Pembesaran kelenjar tiroid (-)
Telinga Bentuk simetris antara telinga kanan dan kiri,
lubang telinga terlihat bersih, eritema (-).
Fungsi pendengaran baik, klien dapat
menjawab dengan cepat saat ditanya, saat
dilakukan pemeriksaan bunyi dengan
menutup mata, klien dapat menyatakan
dengan benar ketika bunyi mendekat/
menjauh.

Mata Kelopak mata terlihat dapat membuka


menutup, sclera bening, alis mata berbatas
tegas dan simetris, pembengkakan mata (-).
Penglihatan baik, klien dapat membaca
nametag perawat jarak 30 cm. Pergerakan
bola mata simetris (klien dapat menggerakkan
bola mata ke 8 arah secara bersamaan), Pupil
isokor, reaksi terhadap cahaya miosis.

Mulut dan hidung Bentuk simetris, ekspresi muka sesuai, lidah


berwarna putih kemerahan, tidak ada sekret
yang keluar melalui hidung, tidak ada kotoran
yang terlihat melalui hidung. Bibir simetris,
mukosa bibir lembab, perdarahan dan
pembengkakan (-), karies gigi (-). Fungsi
pengecap dan penghidu berfungsi dengan
baik.
Dada dan paru- paru Frekuensi napas 20x/ menit, irama napas
teratur, pernapasan dalam, tidak ada retraksi
dinding dada, tidak ada batuk. Bunyi napas
vesikuler di area lapang paru, tidak terdengar
bunyi napas tambahan.
TD: 160/ 100 mmHg, Nadi: 83x/ mnt,
Konjungtiva ananemis, tidak ada distensi vena
jugularis, JVP: 5+1, CRT <2 detik.

Abdomen Nafsu makan klien tidak mengalami


penurunan, pola makan teratur 3x sehari 1
posi dalam sekali makan. Bentuk abdomen
membuncit, tidak ada distensi abdomen,
bising usus 5x/mnt, klien BAB sertiap 1x/
hari.

Reproduksi Klien memiliki 4 orang anak, 2 laki- laki dan


2 perempuan, semuanya sudah menikah,
Klien mengatakan sudah berhenti menstruasi
sejak usia 40 lebih.
Sistem Integumen Warna kulit kuning langsat, kulit bersih, tidak
ada edema, tidak ada lesi, turgor kulit <2
detik, kuku bersih dan rapi.
Sistem Rentang gerak ekstremitas atas penuh/ tidak
muskuloskeletal mengalami kekakuan. Rentang gerak
ekstremitas bawah kurang
maksimal/mengalami kekakuan. Gerakan
fleksi jari- jari kaki kanan kurang, gaya
berjalan seperti robot. Klien dapat memenuhi
kebutuhan mandi berpakaian secara mandiri,
namun tidak dapat melakukan pekerjaan
seperti mencuci pakaian. Kekuatan Otot 5 5
5 5
Sistem Perkemihan Pola BAK 6-7x/ hari, klien mengatakan
apabila sedang batuk klien seringkali tidak
dapat mengontrol keluarnya air seni.
Asam Urat 5.4
Gula Darah sewaktu 164 mg/dl
Kolesterol 342 mg/dl

b. Pengkajian Psikososial dan Spiritual Ny. T


1) Psikologis
Ketika dilakukan pengkajian, Ny. T menyatakan perasaannya tidak
nyaman terkait masalah yang sedang dihadapi (sulit berjalan dengan
normal), sepengetahuan Ny. T saat ini sakitnya disebabkan oleh
penyakit Stroke yang diderita selama 2 tahun kebelakang. Selama ini
Ny. T sudah berobat ke berbagai balai kesehatan klinik dan rumah
sakit dan sudah menjalani berbagai terapi selama 2 tahun, sudah
banyak kemajuan dari kondisi Ny. T, tetapi tinggal ekstremitas
bawahnya yang masih agak kaku, sudah mampu menopang badan,
tetapi masih agak sulit untuk berjalan. Sedangkan Ny. T hanya tinggal
berdua dengan suaminya, sehingga terkadang merasa agak kesulitan
ketika suaminya hendak keluar rumah. Klien berencana untuk
memeriksakan darah ke laboratorium di sukajadi tanggal 17 maret
2018 dan berobat kembali ke balai pengobatan yayasan di sukagalih
tanggal 18 maret 2017, dengan harapan perlahan- lahan ia dapat
berjalan dengan normal kembali.

2) Sosial
Pada saat dilakukan pengkajian, Ny. T mengatakan bahwa ia
sudah lama tidak keluar rumah, seperti sengaja keluar rumah untuk
bersosialisasi dengan tetangga. Akan tetapi, seringkali tetangganya
mengunjungi ketika Ny. T sedang berjemur di pekarangan rumah, atau
sengaja mendatangi rumah Ny, T, karena tetangganya mengganggap
Ny. T dan Tn. A sebagai salah satu tetua di RT. 07/02.

3) Budaya
Budaya yang diikuti Ny. T adalah budaya sunda, Ny. T merasa
tidak ada masalah dengan budaya yang diikuti.

4) Spiritual
Ny. T mengatakan tetap menjalani ibadan Sholat dengan posisi
duduk, serta terkadang melaksanakan Sholat tahajud. Ny. T juga
seringkali menghabiskan waktu luang dengan mengaji di rumah. Ny.
T berharap dan selalu berdo’a agar di sembuhkan dari sakit yang ia
alami.

c. Katz Indeks Ny. T


Klien termasuk dalam kategori B, yaitu mandiri dalam semua hal
kecuali dalam menahan buang air kecil (inkontinensia urin parsial).
d. Bartel Indeks Ny. T
Dengan
No Kriteria Mandiri Ket
Bantuan
1. Makan Frekuensi: 3x/ hari
Jumlah: 3 porsi
5 10
Jenis: nasi, sayur, daging,
telur.

2. Minum Frekuensi : Sering

5 10 Jumlah : 6-8 liter


Jenis : Air putih

3. Berpindah dari kursi roda ke


5-10 15
tempat tidur atau sebaliknya

4. Personal toilet (cuci muka, Frekuensi :


menyisir rambut, dan gosok Cuci muka setiap hendak
10 5
gigi) wudhu, gosok gigi
2x/hari.

5. Keluar masuk toilet Klien mengatakan


(mencuci pakaian, menyeka mencuci pakaian
tubuh, atau menyiram) 5 10 menggunakan jasa tukang
cuci/ kadang dicucikan
oleh anaknya.

6. Mandi 5 15 Frekuensi : 2x/ hari

7. Jalan di permukaan datar 5 10

8. Naik turun tangga 5 10

9. Mengenakan pakaian 5 10

10. Kontrol bowel 5 10 Frekuensi: 1 hari sekali


11. Kontrol bladder Frekuensi : ketika klien
5 10
tersedak/ batuk.

12 Olahraga dan latihan Frekuensi :1x sehari,


5 10
jalan jalan kecil di rumah.

Rekreasi dan pemanfaatan


13 5 10
waktu luang

Total Score : 110 Jadi, bartel indeks klien termasuk ke dalam kategori
ketergantungan sebagian.

e. Pengkajian Status Mental Gerontik Ny. T dengan SPMSQ

Benar Salah No Pertanyaan

0 1 Tanggal berapa hari ini ? 16 April 2018

0 2 Hari apa sekarang ? Senin

0 3 Apa nama tempat ini ? Rumah saya

0 4 Dimana alamat anda ? Kenal Gede RT. 07/ 02

0 5 Berapa umur anda ? 65 Tahun

0 6 Kapan anda lahir ? Februari 1953

0 7 Siapa presiden Indonesia sekarang ? Jokowi

0 8 Siapa presiden Indonesia sebelumnya ? SBY

0 9 Sebutkan nama ibu anda ? Emi

0 Kurang 3 dari 20 terus menerus secara menurun

17
10
14
11
Jadi, Ny. S mengalami Fungsi Intelektual utuh (Skor 0).
f. Pengkajian Keseimbangan Ny. T
Komponen
utama dalam Langkah Kriteria Nilai
bergerak
Perubahan Mata dibuka Tidak bangun dari
posisi/gerakan Bangun dari tempat duduk dengan
keseimbangan kursi satu gerakan, tetapi
mendorong tubuhnya
keatas dengan tangan 1
atau bergerak ke depan
kursi terlebih dahulu,
tidak stabil pada saat
berdiri pertama kali
Duduk ke Menjatuhkan diri ke
kursi kursi, tidak duduk 0
ditengah kursi
Menahan Pemeriksa mendorong
dorongan pada sternum (perlahan-lahan
sternum sebanyak 3 kali). Klien
menggerakkan kaki, 0
memegang objek untuk
dukungan, kaki tidak
menyentuh sisi-sisinya
Mata ditutup Kriteria sama dengan
Bangun dari kriteria untuk mata 1
kursi terbuka
Duduk ke Kriteria sama dengan
kursi kriteria untuk mata 1
terbuka
Menahan Kriteria sama dengan
dorongan pada kriteria untuk mata
sternum terbuka 0

Perputaran Menggerakkan kaki,


leher memegang obyek untuk
dukungan, kaki tidak
menyentuh sisi-sisinya,
keluhan vertigo, pusing 0
atau keadaan tidak stabil

Gerakan Tidak mampu untuk


menggapai menggapai sesuatu
sesuatu dengan bahu fleksi max,
sementara berdiri pada 0
ujung-ujung jari kaki
tidak stabil, memegang
sesuatu untuk dukungan

Membungkuk Tidak mampu


membungkuk untuk
mengambil objek-objek
kecil dari lantai,
memegang objek untuk 1
bisa berdiri,
memerlukan usaha-
usaha multiple untuk
bangun.
Gaya berjalan Minta klien Ragu-ragu tersandung,
dan gerak untuk berjalan memegang objek untuk
ke tempat dukungan 1
yang
ditentukan
Ketinggian Kaki tidak naik dari
langkah kaki lantai secara konsisten
(saat berjalan) (menggeser atau
menyeret kaki), 1
mengangkat kaki terlalu
tinggi (>50 cm)

Kontinuitas Setelah langkah-langkah


langkah kaki awal, langkah-langkah
(diobservasi menjadi tidak konsisten,
dari sampinh memulai mengangkat 1
klien) satu kaki sementara
yang lain menyentuh
tanah
Kesimetrisan Tidak berjalan pada
langkah garis lurus,
(diobservasi bergelombang dari sisi 1
dari samping ke sisi
klien)

Penyimpangan Tidak berjalan pada


jalur pada saat garis lurus,
berjalan bergelombang dari sisi 1
(diobservasi ke sisi
dari belakang
klien)
Berbalik Berhenti sebelum
berbalik, jalan
sempoyongan,
bergoyang, memegang 1
obyek untuk dukungan

SKOR: 10 Resiko Jatuh Sedang

a. Pemeriksaan Fisik Tn. A


Pemeriksaan Tn. A
Penampilan Umum Kesadaran: Komposmentis, E: 4, V:5, M: 6.
1) Penampilan umum: Klien sadar tidak
kebingungan ketika di tanya klien sedang
dimana klien dapat menjawab dengan
benar, klien kooperatif ketika diajak
berkomunikasi dengan perawat, klien
kurus, cara berjalan normal.
2) Personal Hygiene: Penampilan klien
bersih dan rapi, badan tidak berbau, kuku
bersih, gigi bersih.
Tanda- Tanda Vital 1) Tekanan darah : 150/ 100 mmHg
2) Nadi : 79 x/ menit
3) Respirasi rate : 22 x/ menit
4) Suhu : 35,8 °C

Kepala Bentuk simetris, distribusi merata, rambut


tipis, berwarna hitam, terdapat uban.
Leher Pembesaran kelenjar tiroid (-)
Telinga Bentuk simetris antara telinga kanan dan kiri,
lubang telinga terlihat bersih, eritema (-).
Fungsi pendengaran baik, klien dapat
menjawab dengan cepat saat ditanya, saat
dilakukan pemeriksaan bunyi dengan
menutup mata, klien dapat menyatakan
dengan benar ketika bunyi mendekat/
menjauh.

Mata Kelopak mata terlihat dapat membuka


menutup, sclera anicteric, konjungtiva
ananemis, alis mata berbatas tegas dan
simetris, pembengkakan mata (-). Penglihatan
baik, klien dapat membaca nametag perawat
jarak 30 cm. Pergerakan bola mata simetris
(klien dapat menggerakkan bola mata ke 8
arah secara bersamaan), Pupil isokor, reaksi
terhadap cahaya miosis.

Mulut dan hidung Bentuk simetris, ekspresi muka sesuai, lidah


berwarna merah muda, tidak ada sekret yang
keluar melalui hidung, tidak ada kotoran yang
terlihat melalui hidung. Bibir simetris,
mukosa bibir lembab, perdarahan dan
pembengkakan (-), karies gigi (-). Fungsi
pengecap dan penghidu berfungsi dengan
baik.
Dada dan paru- paru Frekuensi napas 22x/ menit, irama napas
teratur, pernapasan dalam, tidak ada retraksi
dinding dada, tidak ada batuk. Bunyi napas
vesikuler di area lapang paru, tidak terdengar
bunyi napas tambahan.
TD: 150/ 100 mmHg, Nadi: 79x/ mnt,
Konjungtiva ananemis, tidak ada distensi vena
jugularis, JVP: 5+1, CRT <2 detik.

Abdomen Nafsu makan klien tidak mengalami


penurunan, pola makan teratur 3x sehari 1
posi dalam sekali makan. Bentuk abdomen
datar, tidak ada distensi abdomen, bising usus
6x/mnt, klien BAB sertiap 1x/ hari.

Reproduksi Tidak ada kelainan.


Sistem Integumen Warna kulit kuning langsat, kulit bersih, tidak
ada edema, tidak ada lesi, turgor kulit <2
detik, kuku bersih dan rapi.
Sistem Rentang gerak ekstremitas atas penuh/ tidak
muskuloskeletal mengalami kekakuan. Rentang gerak
ekstremitas penuh/ maksimal/ tidak
mengalami kekakuan. Kekuatan Otot 5 5
5 5
Sistem Perkemihan Pola BAK 6-7x/ hari, klien tidak mengalami
inkontinensia urine.

b. Pengkajian Psikososial dan Spiritual Tn. A


1) Psikologis
Ketika dilakukan pengkajian, Tn. A mengatakan merasa bersyukur
atas kesehatan yang diberikan kepada Tn. A. Namun, Tn. A
mengatakan kadang merasa khawatir dengan kondisi istrinyayang
sudah mengalami serangan stroke 2x. Tn. A berharap bahwa dengan
berangsur pulihnya Ny. T, stroke nya tidak akan terulang lagi. Upaya
Tn. A untuk mencegah hal tersebut adalah dengan cara rajin mengajak
istrinya control, dan menjaga istrinya dari segi makanan, dan lainnya.
2) Sosial
Pada saat dilakukan pengkajian, Tn. A mengatakan bahwa ia
masih aktif mengikuti kegiatan di RT. 07/02. Seperti kegiatan rapat
warga atau sekedar bercengkrama. Tn. A juga sering mengantar
cucunya berangkat sekolah.

3) Budaya
Budaya yang diikuti Tn. A adalah budaya sunda, Tn. A merasa
tidak ada masalah dengan budaya yang diikuti.

4) Spiritual
Tn. A mengatakan jika ia masih suka sholat berjamaah di masjid
dekat rumahnya, seringkali ia menjalani sholat dan puasa sunah, serta
mengaji di rumah.

c. Katz Indeks Tn. A


Klien termasuk dalam kategori A, yaitu Mandiri dalam makan,
kontinensia (BAB, BAK), menggunakan pakaian, pergi ke toilet,
berpindah dan mandi.

d. Bartel Indeks
Dengan
No Kriteria Mandiri Ket
Bantuan
1. Makan Frekuensi: 3x/ hari
Jumlah: 3 porsi
5 10
Jenis: nasi, sayur, daging,
telur, ikan asin.

2. Minum Frekuensi : Sering

5 10 Jumlah : 6-8 liter


Jenis : Air putih
3. Berpindah dari kursi roda ke
5-10 15
tempat tidur atau sebaliknya

4. Personal toilet (cuci muka, Frekuensi :


menyisir rambut, dan gosok Cuci muka setiap hendak
10 5
gigi) wudhu, gosok gigi
2x/hari.

5. Keluar masuk toilet


(mencuci pakaian, menyeka 5 10
tubuh, atau menyiram)
6. Mandi 5 15 Frekuensi : 2x/ hari

7. Jalan di permukaan datar 5 10

8. Naik turun tangga 5 10

9. Mengenakan pakaian 5 10

10. Kontrol bowel 5 10 Frekuensi: 1 hari sekali

11. Kontrol bladder 5 10

12 Olahraga dan latihan Frekuensi :1x sehari/ 1x

5 10 seminggu, lari pagi, bulu


tangkis.

Rekreasi dan pemanfaatan


13 5 10
waktu luang

Total Score : 135 Jadi, bertel indeks klien termasuk ke dalam kategori
mandiri.

e. Pengkajian Status Mental Gerontik Tn. A dengan SPMSQ

Benar Salah No Pertanyaan


0 1 Tanggal berapa hari ini ? 16 April 2018

0 2 Hari apa sekarang ? Senin

0 3 Apa nama tempat ini ? Rumah

0 4 Dimana alamat anda ? Kenal Gede RT. 07/ 02

0 5 Berapa umur anda ? 69 Tahun

0 6 Kapan anda lahir ? 1948

0 7 Siapa presiden Indonesia sekarang ? Jokowi

0 8 Siapa presiden Indonesia sebelumnya ? SBY

0 9 Sebutkan nama ibu anda ? Ati

0 Kurang 3 dari 20 terus menerus secara menurun

17
10
14

11

Jadi, Tn A mengalami Fungsi Intelektual utuh (Skor 0).

f. Pengkajian Keseimbangan Tn A
Komponen
utama dalam Langkah Kriteria Nilai
bergerak
Perubahan Mata dibuka Tidak bangun dari
posisi/gerakan Bangun dari tempat duduk dengan
keseimbangan kursi satu gerakan, tetapi
mendorong tubuhnya
keatas dengan tangan 0
atau bergerak ke depan
kursi terlebih dahulu,
tidak stabil pada saat
berdiri pertama kali
Duduk ke Menjatuhkan diri ke
kursi kursi, tidak duduk 0
ditengah kursi
Menahan Pemeriksa mendorong
dorongan pada sternum (perlahan-lahan
sternum sebanyak 3 kali). Klien
menggerakkan kaki, 0
memegang objek untuk
dukungan, kaki tidak
menyentuh sisi-sisinya
Mata ditutup Kriteria sama dengan
Bangun dari kriteria untuk mata 0
kursi terbuka
Duduk ke Kriteria sama dengan
kursi kriteria untuk mata 0
terbuka
Menahan Kriteria sama dengan
dorongan pada kriteria untuk mata
sternum terbuka 0

Perputaran Menggerakkan kaki,


leher memegang obyek untuk
dukungan, kaki tidak
menyentuh sisi-sisinya,
keluhan vertigo, pusing 0
atau keadaan tidak stabil
Gerakan Tidak mampu untuk
menggapai menggapai sesuatu
sesuatu dengan bahu fleksi max,
sementara berdiri pada 0
ujung-ujung jari kaki
tidak stabil, memegang
sesuatu untuk dukungan

Membungkuk Tidak mampu


membungkuk untuk
mengambil objek-objek
kecil dari lantai,
memegang objek untuk 0
bisa berdiri,
memerlukan usaha-
usaha multiple untuk
bangun.
Gaya berjalan Minta klien Ragu-ragu tersandung,
dan gerak untuk berjalan memegang objek untuk
ke tempat dukungan 0
yang
ditentukan
Ketinggian Kaki tidak naik dari
langkah kaki lantai secara konsisten
(saat berjalan) (menggeser atau
menyeret kaki), 0
mengangkat kaki terlalu
tinggi (>50 cm)
Kontinuitas Setelah langkah-langkah
langkah kaki awal, langkah-langkah
(diobservasi menjadi tidak konsisten,
dari sampinh memulai mengangkat 0
klien) satu kaki sementara
yang lain menyentuh
tanah
Kesimetrisan Tidak berjalan pada
langkah garis lurus,
(diobservasi bergelombang dari sisi 0
dari samping ke sisi
klien)

Penyimpangan Tidak berjalan pada


jalur pada saat garis lurus,
berjalan bergelombang dari sisi 0
(diobservasi ke sisi
dari belakang
klien)
Berbalik Berhenti sebelum
berbalik, jalan
sempoyongan,
bergoyang, memegang 0
obyek untuk dukungan

SKOR: 0 Resiko Jatuh Rendah


9. ANALISA DATA
No Data Masalah
1. Data Subjektif: Ketidakefektifan
 Tn. A mengatakan senang makan ikan asin manajemen
dan masih sering minum kopi, sedangkan kesehatan keluarga
Ny. T masih sering mengkonsumsi (NANDA 2015-
hidangan dengan minyak goreng yang 2017, Domain 1:
banyak, makanan berlemak. Sehingga Promosi Kesehatan,
membuat tekanan darah Tn. A selalu 00080)
meningkat, dan Ny. T mempunyai
kolesterol dan tekanan darah yang
seringkali meningkat.
 Sejak muda Tn. A mempunyai kebiasaan
merokok dan minum kopi, mulanya Tn. A
mengatakan sudah berhenti merokok
selama 10 tahun, namun sekitar 2 bulan ini
Tn. A kembali merokok.

Data Objektif:
 Ny. T: Tekanan darah: 160/100 mmHg,
Kolesterol total: 342mg/dl, riwayat stroke
2x.
 Tn. A: Tekanan Darah: 150/100 mmHg

2. Data Subjektif: Hambatan


 Ketika dilakukan pengkajian, Ny. T Mobilitas Fisik
menyatakan perasaannya tidak nyaman Pada Ny. T
terkait masalah yang sedang dihadapi (sulit (NANDA 2015-
berjalan dengan normal), disebabkan oleh 2017, Domain 4 :
00085)
penyakit Stroke yang diderita selama 2
tahun kebelakang.

Data Objektif:
 Bartel indeks klien termasuk ke dalam
kategori ketergantungan sebagian (Skor:
110).
 Total skor pengkajian keseimbangan Ny.
T: 10 (Resiko Jatuh Sedang).
 Rentang gerak ekstremitas bawah kurang
maksimal/mengalami kekakuan. Gerakan
fleksi jari- jari kaki kanan kurang, gaya
berjalan seperti robot. Kekuatan oto 5 5
5 5

10. PRIORITAS MASALAH


a. Ketidakefektifan manajemen kesehatan keluarga
(NANDA 2015-2017, Domain 1: Promosi Kesehatan, 00080)

Angka
Kriteria Skor Bobot Perhitungan Pembenaran
Tertinggi
Sifat masalah: 3 3 1 3/3 x 1 = 1 Masalah bersifat aktual
Aktual karena sudah terjadi
(keluarga tidak dapat
melakukan tindakan
mengurangi resiko
terjadinya penyakit.

Kemungkinan
masalah untuk 1 2 2 1/2 x 2 = 1 Tn. A memiliki motivasi
diubah: yang cukup kuat untuk
sebagian menyehatkan keluarganya.

Potensi
masalah untuk Keluarga mengatakan akan
dicegah: 2 3 1 2/3 x 1 = 2/3 berusaha mencoba
cukup berhenti dan mengurangi
hal- hal yang merugikan
kesehatannya.

Menonjol-nya Keluarga mengatakan


masalah : bahwa masalah kebiasaan
segera diatasi buruk di keluarga, yang
2 2 1 2/2 x 1 = 1 tidak diperbaiki akan
memperburuk kondisi
kesehatan, sehingga perlu
untuk segera diatasi.

TOTAL 3 2/3
SKOR

b. Hambatan Mobilitas Fisik Pada Ny. T


(NANDA 2015-2017, Domain 4 : 00085)

Angka
Kriteria Skor Bobot Perhitungan Pembenaran
Tertinggi
Sifat 3 3 1 3/3 x 1 = 1 Masalah bersifat aktual
masalah : karena sudah terjadi
Aktual kekakuan jari- jari kaki dan
keterbatasan berjalan.

Kemungkina 1 2 2 1/2 x 2 = 1 Ny. T memiliki motivasi


n masalah yang cukup kuat untuk
untuk memulihkan kondisinya.
diubah :
sebagian
Ny. T mengatakan
Potensi pemulihannya pasca stroke
masalah 1 3 1 1/3 x 1 = 1/3 sudah belangsung selama 2
untuk tahun, dan menurutnya akan
dicegah : butuh waktu lama untuk
Rendah membuat kakinya dapat
berjalan normal.

Menonjol- Keluarga mengatakan


nya masalah 1 2 1 1/2 x 1 = 1/2 bahwa masalah berharap
: tidak bisa segera diatasi namun
segera diutamakan yang masalah
diatasi kolesterol dan tekanan darah
Ny. T
TOTAL 2 5/6
SKOR

11. PRIORITAS DIAGNOSIS KEPERAWATAN PADA KELUARGA


TN. A
a. Ketidakefektifan manajemen kesehatan keluarga (NANDA 2015-2017,
Domain 1: Promosi Kesehatan, 00080)
b. Hambatan Mobilitas Fisik Pada Ny. T (NANDA 2015-2017, Domain 4
: 00085)

12. PERENCANAAN KEPERAWATAN


No Dx. Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Perencanaan Keperawatan
1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan Pengajaran: Proses Penyakit
manajemen tindakkan keperawatan, (Hipertensi)
kesehatan keluarga diharapkan tingkat 1) Kaji tingkat pengetahuan yang
(NANDA 2015- pengetahuan: Manajemen spesifik terkait dengan proses
2017, Domain 1: Hipertensi keluarga dapat penyakit yang spesifik.
Promosi meningkat, 2) Jelaskan mengenai proses
Kesehatan, 00080) Kriteria Hasil: penyakit, sesuai kebutuhan.
1) Keluarga mengetahui 3) Identifikasi kemungkinan
Kisaran normal untuk penyebab, sesuai kebkutuhan.
tekanan darah, (AUS, 3- 4) Jelaskan tanda dan gejala yang
4). umum dari penyakit
2) Keluarga mengetahui 5) Jelaskan komplikasi kronik
potensial komplikasi yang mungkin ada, sesuai
hipertensi, (AUS, 2-4). kebutuhan.
3) Keluarga mengetahui 6) Review pengetahuan pasien
pentingnya mematuhi terkait dengan kondisinya.
Pengobatan, (AUS< 2- 7) Diskusikan perubahan gaya
4). hidup yang mungkin
diperlukan untuk mencegah
4) Keluarga mengetahui komplikasi di masa yang akan
diet yang dianjurkan dating/ mengontrol proses
(AUS, 2-3). penyakit.
5) Keluarga mengetahui 8) Diskusikan pilihan terapi/
Pentingnya pantang penanganan.
tembakau (AUS, 2-4).
6) Keluarga mengetahui
manfaat olahraga
teratur (AUS, 2-4).
2. Hambatan Setelah dilakukan Terapi Latihan: Mobilitas
Mobilitas Fisik tindakkan keperawatan, sendi.
Pada Ny. T pergerakkan sendi klien 1) Tentukan batasan pergerakan
(NANDA 2015- dapat ditingkatkan, sendi dan efeknya terhadap
2017, Domain 4 : Kriteria Hasil: fungsi sendi.
00085) 1) Jari kaki kanan dan kiri, 2) Jelaskan pada pasien dan
AUS (2-4). keluarga terkait dengan
2) Pergelangan kaki kanan manfaat dan tujuan dilakukan
dan kiri, AUS (2-4). latihan sendi.
3) Lutut kanan dan kiri, 3) Instruksikan pasien/ keluarga
AUS (3-4). cara melakukan latihan ROM
aktif.
4) Monitor lokasi,
kecenderungan adanya nyeri
dan ketidaknyamanan selama
aktivitas.
5) Sediakan petunjuk tertulis
untuk melakukan latihan,
6) Bantu pasien untuk membuat
jadwal latihan ROM aktif.
13. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
No Nomor Tanggal Implementasi Evaluasi Paraf
Dx.Kep Jam Perawat
1. 1 17/04/18 1) Melakukan S:
14.30 WIB pemeriksaan fisik 1) Ny. T mengatakan
dan tanda-tanda sudah melakukan
vital pada pemeriksaan darah
keluarga Tn A (AU, Colest.,
(hari ke-2). GDS) di
2) Menentukan laboratorium
Prioritas masalah sukajadi.
keluarga Tn. A 2) Ny. T dan Tn. A
3) Melakukan mengatakan akan
promosi berusaha
kesehatan tentang mengubah pola
hipertensi pada hidup yang tidak
keluarga Tn. A baik untuk
kesehatan (yg
menyebabkan
hipertensi).
O:
1) TD Ny. T: 150/
100 mmHg.
2) TD Tn. A: 150/ 90
mmHg.
3) Keluarga Tn. A
menentukan
prioritas
masalahnya.
4) Keluarga Tn. A
mengetahui dan
memahami Proses
penyakit hipertensi
serta
penanganannya.
5) Hasil Lab. Ny. T:
 AU: 5,4 mg/dl
 Colest: 384
mg/dl.
 GDS: 140
mg/dl

14. CATATAN PERKEMBANGAN


No Nomor Tanggal Catatan Perkembangan Paraf
Dx.Kep. Jam Perawat
1. 1 18/04/18 S: - Keluarga mengatakan Ny. T sudah
13.30 WIB berobat ke balai pengobatan yayasan.
- Keluarga mengatakan sudah
membatasi makanan yang berlemak,
asin, dan gorengan.
- Tn. A mengatakan sudah mengurangi
merokoknya.
O: - TD Ny. T: 140/90 mmHg.
- TD Tn. A: 150/90 mmHg.
A: Kesiapan meningkatkan manajemen
kesehatan keluarga
P: Anjurkan keluarga untuk melanjutkan
pengobatan dan memanajemen pola hidup
sehat.
2 2 18/04/18 S: - Ny. T mengatakan masih kakinya
14.00 WIB masih agak kaku untuk berjalan.
O: - Bartel indeks klien termasuk ke dalam
kategori ketergantungan sebagian
(Skor: 110).
- Total skor pengkajian keseimbangan
Ny. T: 10 (Resiko Jatuh Sedang).
- Rentang gerak ekstremitas bawah
kurang maksimal/mengalami
kekakuan. Gerakan fleksi jari- jari kaki
kanan kurang, gaya berjalan seperti
robot. Kekuatan oto 5 5
5 5
A: - Hambatan Mobilitas Fisik
P:
- Tentukan batasan pergerakan sendi dan
efeknya terhadap fungsi sendi.
- Beri keluarga promkes ROM dan
ajarkan pasien/ keluarga cara
melakukan latihan ROM aktif.
I:
- Menentukan batas pergerakan fungsi
sendi kaki Ny. T
- Memberikan promosi kesehatan
kepada keluarga mengenai latihan
ROM aktif.
- Mengajarkan Ny. T dan keluarga untuk
melakukan latihan ROM aktif pada
ekstremitas bawah.
E: Keluarga dan Ny. T dapat
memperagakan cara- cara latihan
ROM aktif pada ekstremitas bawah.
R: Anjurkan keluarga untuk
mendampingi Ny. T untuk rutin
melakukan latihan ROM.
Lampiran A: SAP HIPERTENSI
SATUAN ACARA PENYULUHAN PENCEGAHAN
HIPERTENSI PADA LANSIA
(SAP)
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktik Klinik
Keperawatan Keluarga

Disusun oleh
Fanny Julianti (043315150013)

PRODI D3 KEPERAWATAN TINGKAT III


STIKEP PPNI JAWA BARAT
BANDUNG
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
PENCEGAHAN HIPERTENSI PADA LANSIA

Pokok Bahasan : Pencegahan Hipertensi Pada Lansia


Sub Pokok Bahasan : Pengertian penyakit hipertensi, penyebab hipertensi, tanda
dan gejala hipertensi, pencegahan hipertensi, perawatan
keluarga pada lansia hipertensi.
Sasaran : Keluarga Tn. A
Tempat : Rumah Tn. A, Kp. Kendal Gede RT. 07/ 02, Sukagalih.
Waktu : 14.30 WIB
Hari, tanggal : Selasa, 17 April 2018
Penyuluh : Fanny Julianti

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah diberikan penyuluhan mengenai pencegahan hipertensi pada lansia,
peserta/ lansia mampu melakukan pencegahan terhadap penyakit hipertensi.

B. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah diberikan penyuluhan mengenai pencegahan hipertensi pada lansia,
peserta mampu:
1. Menjelaskan pengertian penyakit hipertensi
2. Menjelaskan penyebab hipertensi
3. Menjelaskan tanda dan gejala hipertensi.
4. Menjelaskan pencegahan hipertensi.
5. Menjelaskan Perawatan keluarga pada lansia hipertensi

C. Materi (Terlampir)
1. Pengertian penyakit hipertensi.
2. Penyebab hipertensi.
3. Tanda dan Gejala hipertensi.
4. Pencegahan hipertensi.
5. Perawatan keluarga pada lansia hipertensi

D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab

E. Media
1. Leaflet

F. Kegiatan belajar mengajar


No. Waktu Kegiatan Respon
1. 2 menit Pembukaan:
 Mengucapkan salam  Menjawab salam
 Mengingatkan kontrak  Menyepakati
waktu kontrak
 Menjelaskan tujuan dan  Mendengarkan
pokok bahasan yang
akan disampaikan  Menjawab
 Melakukan A persepsi pertanyaan

2. 10  Menjelaskan pengertian  Mendengarkan


menit penyakit hipertensi
 Menjelaskan penyebab  Mendengarkan
hipertensi
 Menjelaskan tanda dan  Mendengarkan
gejala hipertensi.
 Menjelaskan pencegahan
 Mendengarkan
hipertensi.
 Menjelaskan perawatan  Mendengarkan
keluarga pada lansia
hipertensi

3. 3 menit Terminasi:
 Evaluasi kegiatan berupa  Aktif menjawab
post tes
 Merangkum materi yang  Mendengarkan
telah diberikan
 Mengucap salam  Menjawab
salam

G. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. SAP telah dikonsultasikan kepada pembimbing sebelum pelaksanaan
kegiatan
b. Tersedianya media dan alat
c. Mahasiswa dan peserta berada di tempat sesuai kontrak waktu yang
telah disepakati
2. Evaluasi Proses
a. Pelaksanaan sesuai rencana
b. Peserta berperan aktif dalam tanya jawab
c. Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga selesai
3. Evaluasi Hasil
a. Peserta mampu menjelaskan pengertian penyakit hipertensi.
b. Peserta mampu menjelaskan 1 dari 2 penyebab hipertensi.
c. Peserta mampu menjelaskan 5 dari 9 tanda dan gejala hipertensi.
d. Peserta mampu menjelaskan 2 dari 3 pencegahan hipertensi.
e. Keluarga mampu menjelaskan perawatan keluarga pada lansia
hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. Vol I . Jakarta: EGC.
Mansjoer, et al. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Prince A. Silvia. (1995). Pathofisiologi. Edisi 4. Jakarta: EGC
Tim Editor. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Pusat
Penerbitan.
Lampiran 1: Materi
A. Definisi
Hipertensi secara umum adalah tekanan darah persisten dimana tekanan darah
sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan darah diastoliknya diatas 90 mmHg tetapi
pada populsi lansia didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan
diastoliknya 90 mmHg.
Seseorang dikatakan hipertensi apabila tekanan darah sistolik (TDS) ≥140
mmHg atau tekanan darah diatolik (TDD) ≥ 90 mmHg.
Menurut Kaplan menyatakan bahwa Pria usia <45 tahun, dikatakan hipertensi
apabila tekanan darah pada waktu berbaring atau sama dengan 130/90 mmHg dan
pria usia >45 tahun, dikatakan hipertensi apabila tekanan darahnya diatas 145/95
mmHg.sedangkan pada wanita tekanan darah diatas atau sama dengan 160/90
mmHg dinyatakan hipertensi.

B. Penyebab
Faktor resiko yang dapat mempengaruhi hipertensi ada dua yaitu sebagai
berikut:
1. Faktor yang tidak dapat diubah/dikontrol
a. Umur
Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua seseorang
semakin besar risiko terserang hipertensi. Umur lebih dari 40 tahun
mempunyai risiko terkena hipertensi. Dengan bertambahnya umur, risiko
terkena hipertensi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan
usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 %
diatas umur 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitasnya atau kelenturannya
dan tekanan darah seiring bertambahnya usia, kebanyakan orang
hipertensinya meningkat ketika berumur lima puluhan dan enam puluhan.
Dengan bertambahnya umur, risiko terjadinya hipertensi meningkat.
Meskipun hipertensi bisa terjadi pada segala usia, namun paling sering
dijumpai pada orang berusia 35 tahun atau lebih. Sebenarnya wajar bila
tekanan darah sedikit meningkat dengan bertambahnya umur. Hal ini
disebabkan oleh perubahan alami pada jantung, pembuluh darah dan
hormon. Tetapi bila perubahan tersebut disertai faktor-faktor lain maka bisa
memicu terjadinya hipertensi.

b. Jenis Kelamin
Bila ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata terdapat
angka yang cukup bervariasi. Dari laporan Sugiri di Jawa Tengah
didapatkan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6% untuk wanita.
Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% pria dan 17,4% perempuan, sedangkan
daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7%
wanita. Ahli lain mengatakan pria lebih banyak menderita hipertensi
dibandingkan wanita dengan rasio sekitar 2,29 mmHg untuk peningkatan
darah sistolik. Sedangkan menurut Arif Mansjoer, dkk, pria dan wanita
menapouse mempunyai pengaruh yang sama untuk terjadinya hipertensi.
Menurut MN. Bustan bahwa wanita lebih banyak yang menderita hipertensi
dibanding pria, hal ini disebabkan karena terdapatnya hormon estrogen pada
wanita.

c. Riwayat Keluarga
Menurut Nurkhalida, orang-orang dengan sejarah keluarga yang
mempunyai hipertensi lebih sering menderita hipertensi. Riwayat keluarga
dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan) juga mempertinggi
risiko terkena hipertensi terutama pada hipertensi primer. Keluarga yang
memiliki hipertensi dan penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2-
5 kali lipat. Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya
menderita hipertensi. Menurut Sheps, hipertensi cenderung merupakan
penyakit keturunan. Jika seorang dari orang tua kita mempunyai hipertensi
maka sepanjang hidup kita mempunyai 25% kemungkinan mendapatkannya
pula. Jika kedua orang tua kita mempunyai hipertensi, kemungkunan kita
mendapatkan penyakit tersebut 60%.
d. Genetik
Peran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti dengan
ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada kembar
monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel telur). Seorang
penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila
dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya
akan menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-
50 tahun akan timbul tanda dan gejala.

2. Faktor yang dapat diubah/dikontrol


a. Kebiasaan Merokok
Rokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Hubungan antara rokok
dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. Selain
dari lamanya, risiko merokok terbesar tergantung pada jumlah rokok yang
dihisap perhari. Seseorang lebih dari satu pak rokok sehari menjadi 2 kali
lebih rentan hipertensi dari pada mereka yang tidak merokok. Zat-zat kimia
beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida yang diisap melalui rokok,
yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh
darah arteri dan mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi. Nikotin
dalam tembakau merupakan penyebab meningkatnya tekanan darah segara
setelah isapan pertama. Seperti zat-zat kimia lain dalam asap rokok, nikotin
diserap oleh pembuluh-pembuluh darah amat kecil didalam paru-paru dan
diedarkan ke aliran darah. Hanya dalam beberapa detik nikotin sudah
mencapai otak. Otak bereaksi terhadap nikotin dengan memberi sinyal pada
kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin). Hormon yang kuat ini
akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk bekerja
lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. Setelah merokok dua batang saja
maka baik tekanan sistolik maupun diastolik akan meningkat 10 mmHg.
Tekanan darah akan tetap pada ketinggian ini sampai 30 menit setelah
berhenti mengisap rokok. Sementara efek nikotin perlahan-lahan menghilang,
tekanan darah juga akan menurun dengan perlahan. Namun pada perokok
berat tekanan darah akan berada pada level tinggi sepanjang hari.

b. Konsumsi Asin/Garam
Secara umum masyarakat sering menghubungkan antara konsumsi
garam dengan hipertensi. Garam merupakan hal yang sangat penting pada
mekanisme timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap hipertensi
melalui peningkatan volume plasma (cairan tubuh) dan tekanan darah.
Keadaan ini akan diikuti oleh peningkatan ekskresi kelebihan garam sehingga
kembali pada keadaan hemodinamik (sistem pendarahan) yang normal. Pada
hipertensi esensial mekanisme ini terganggu, di samping ada faktor lain yang
berpengaruh. Reaksi orang terhadap natrium berbeda-beda. Pada beberapa
orang, baik yang sehat maupun yang mempunyai hipertensi, walaupun
mereka mengkonsumsi natrium tanpa batas, pengaruhnya terhadap tekanan
darah sedikit sekali atau bahkan tidak ada. Pada kelompok lain, terlalu banyak
natrium menyebabkan kenaikan darah yang juga memicu terjadinya
hipertensi. Garam merupakan faktor yang sangat penting dalam patogenesis
hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa
dengan asupan garam yang minimal. Asupan garam kurang dari 3 gram tiap
hari menyebabkan prevalensi hipertensi yang rendah, sedangkan jika asupan
garam antara 5-15 gram perhari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-
20 %. Pengaruh asupan terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui
peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah. Garam
menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, karena menarik cairan diluar
sel agar tidak keluar, sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
Pada manusia yang mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang ditemukan
tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan asupan garam sekitar 7-8 gram
tekanan darahnya rata-rata lebih tinggi. Konsumsi garam yang dianjurkan
tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol natrium atau 2400
mg/hari. Menurut Alison Hull, penelitian menunjukkan adanya kaitan antara
asupan natrium dengan hipertensi pada beberapa individu. Asupan natrium
akan meningkat menyebabkan tubuh meretensi cairan yang meningkatkan
volume darah.

c. Konsumsi Lemak Jenuh


Kebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan peningkatan
berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi. Konsumsi lemak jenuh juga
meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan
darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam makanan
yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh
secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain
yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan darah.

d. Penggunaan Jelantah
Jelantah adalah minyak goreng yang sudah lebih dari satu kali dipakai
untuk menggoreng, dan minyak goreng ini merupakan minyak yang telah
rusak. Bahan dasar minyak goreng bisa bermacam-macam seperti kelapa,
sawit, kedelai, jagung dan lain-lain. Meskipun beragam, secara kimia isi
kendungannya sebetulnya tidak jauh berbeda, yakni terdiri dari beraneka
asam lemak jenuh (ALJ) dan asam lemak tidak jenuh (ALTJ). Dalam jumlah
kecil terdapat lesitin, cephalin, fosfatida, sterol, asam lemak bebas, lilin,
pigmen larut lemak, karbohidrat dan protein. Hal yang menyebabkan berbeda
adalah komposisinya, minyak sawit mengandung sekitar 45,5% ALJ yang
didominasi oleh lemak palmitat dan 54,1% ALTJ yang didominasi asam
lemak oleat sering juga disebut omega-9. minyak kelapa mengadung 80%
ALJ dan 20% ALTJ, sementara minyak zaitun dan minyak biji bunga
matahari hampir 90% komposisinya adalah ALTJ. Penggunaan minyak
goreng sebagai media penggorengan bisa menjadi rusak karena minyak
goreng tidak tahan terhadap panas. Minyak goreng yang tinggi kandungan
ALTJ-nya pun memiliki nilai tambah hanya pada gorengan pertama saja,
selebihnya minyak tersebut menjadi rusak. Bahan makanan kaya omega-3
yang diketahui dapat menurunkan kadar kolesterol darah, akan tidak berkasiat
bila dipanaskan dan diberi kesempatan untuk dingin kemudian dipakai untuk
menggoreng kembali, karena komposisi ikatan rangkapnya telah rusak.
Minyak goreng terutama yang dipakai oleh pedagang goreng-gorengan
pinggir jalan, dipakai berulang kali, tidak peduli apakah warnanya sudah
berubah menjadi coklat tua sampai kehitaman. Alasan yang dikemukakan
cukup sederhana yaitu demi mengirit biaya produksi. Dianjurkan oleh Ali
Komsan, bagi mereka yang tidak menginginkan menderita
hiperkolesterolemi dianjurkan untuk membatasi penggunaan minyak goreng
terutama jelantah karena akan meningkatkan pembentukan kolesterol yang
berlebihan yang dapat menyebabkan aterosklerosis dan hal ini dapat memicu
terjadinya penyakit tertentu, seperti penyakit jantung, darah tinggi dan lain-
lain.

e. Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman Beralkohol


Alkohol juga dihubungkan dengan hipertensi. Peminum alkohol berat
cenderung hipertensi meskipun mekanisme timbulnya hipertensi belum
diketahui secara pasti. Orang-orang yang minum alkohol terlalu sering atau
yang terlalu banyak memiliki tekanan yang lebih tinggi dari pada individu
yang tidak minum atau minum sedikit. Menurut Ali Khomsan konsumsi
alkohol harus diwaspadai karena survei menunjukkan bahwa 10 % kasus
hipertensi berkaitan dengan konsumsi alkohol. Mekanisme peningkatan
tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas. Namun diduga, peningkatan
kadar kortisol dan peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan
darah merah berperan dalam menaikkan tekanan darah. Diperkirakan
konsumsi alkohol berlebihan menjadi penyebab sekitar 5-20% dari semua
kasus hipertensi. Mengkonsumsi tiga gelas atau lebih minuman berakohol per
hari meningkatkan risiko mendapat hipertensi sebesar dua kali. Bagaimana
dan mengapa alkohol meningkatkan tekanan darah belum diketahui dengan
jelas. Namun sudah menjadi kenyataan bahwa dalam jangka panjang, minum-
minuman beralkohol berlebihan akan merusak jantung dan organ-organ lain.
f. Obesitas
Obesitas atau kegemukan dimana berat badan mencapai indeks massa
tubuh > 25 (berat badan (kg) dibagi kuadrat tinggi badan (m)) juga merupakan
salah satu faktor risiko terhadap timbulnya hipertensi. Obesitas merupakan
ciri dari populasi penderita hipertensi. Curah jantung dan sirkulasi volume
darah penderita hipertensi yang obesitas lebih tinggi dari penderita hipertensi
yang tidak obesitas. Pada obesitas tahanan perifer berkurang atau normal,
sedangkan aktivitas saraf simpatis meninggi dengan aktivitas renin plasma
yang rendah. Olah raga ternyata juga dihubungkan dengan pengobatan
terhadap hipertensi. Melalui olah raga yang isotonik dan teratur (aktivitas
fisik aerobik selama 30-45 menit/hari) dapat menurunkan tahanan perifer
yang akan menurunkan tekanan darah. Selain itu dengan kurangnya olah raga
maka risiko timbulnya obesitas akan bertambah, dan apabila asupan garam
bertambah maka risiko timbulnya hipertensi juga akan bertambah. Obesitas
erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi makanan yang
mengandung tinggi lemak. Obesitas meningkatkan risiko terjadinya
hipertensi karena beberapa sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak
darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan
tubuh. Ini berarti volume darah yang beredar melalui pembuluh darah
menjadi meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding
arteri. Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung
dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan insulin menyebabkan tubuh
menahan natrium dan air. Menurut Alison Hull dalam penelitiannya
menunjukkan adanya hubungan antara berat badan dan hipertensi, bila berat
badan meningkat diatas berat badan ideal maka risiko hipertensi juga
meningkat. Penyelidikan epidemiologi juga membuktikan bahwa obesitas
merupakan ciri khas pada populasi lansia hipertensi. Dibuktikan juga bahwa
faktor ini mempunyai kaitan yang erat dengan timbulnya hipertensi
dikemudian hari. Pada penelitian lain dibuktikan bahwa curah jantung dan
volume darah sirkulasi lansia obesitas dengan hipertensi lebih tinggi
dibandingkan dengan penderita yang mempunyai berat badan normal dengan
tekanan darah yang setara. Obesitas mempunyai korelasi positif dengan
hipertensi. Anak-anak remaja yang mengalami kegemukan cenderung
mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi). Ada dugaan bahwa
meningkatnya berat badan normal relatif sebesar 10 % mengakibatkan
kenaikan tekanan darah 7 mmHg. Oleh karena itu, penurunan berat badan
dengan membatasi kalori bagi orang-orang yang obes bisa dijadikan langkah
positif untuk mencegah terjadinya hipertensi. Berat badan dan indeks Massa
Tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan
darah sistolik. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang obes 5 kali
lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal. Pada
penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30 % memiliki berat badan lebih.

g. Olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi, karena
olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan
menurunkan tekanan darah. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas
pada hipertensi. Kurang melakukan olahraga akan meningkatkan
kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga bertambah akan
memudahkan timbulnya hipertensi. Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan
risiko menderita hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan berat
badan. Orang yang tidak aktif juga cenderung mempunyai frekuensi denyut
jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras
pada setiap kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung harus memompa,
makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri.

h. Stres
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf
simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Apabila
stress menjadi berkepanjangan dapat berakibat tekanan darah menjadi tetap
tinggi. Hal ini secara pasti belum terbukti, akan tetapi pada binatang
percobaan yang diberikan pemaparan tehadap stress ternyata membuat
binatang tersebut menjadi hipertensi. Menurut Sarafindo (1990) yang dikutip
oleh Bart Smet, stres adalah suatu kondisi disebabkan oleh transaksi antara
individu dengan lingkungan yang menimbulkan persepsi jarak antara
tuntutan-tuntutan yang berasal dari situasi dengan sumber daya sistem
biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Stres adalah yang kita rasakan
saat tuntutan emosi, fisik atau lingkungan tak mudah diatasi atau melebihi
daya dan kemampuan kita untuk mengatasinya dengan efektif. Namun harus
dipahami bahwa stres bukanlah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar itu.
Stres adalah respon kita terhadap pengaruh-pengaruh dari luar itu. Stres atau
ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, bingung, cemas, berdebar-debar,
rasa marah, dendam, rasa takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar
anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut
lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika
stres berlangsung cukup lama, tubuh berusaha mengadakan penyesuaian
sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis. Gejala yang
muncul dapat berupa hipertensi atau penyakit maag. Menurut Slamet Suyono
stres juga memiliki hubungan dengan hipertensi. Hal ini diduga melalui saraf
simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila
stress berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang
menetap. Stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan
bila stres sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali. Peristiwa
mendadak menyebabkan stres dapat meningkatkan tekanan darah, namun
akibat stress berkelanjutan yang dapat menimbulkan hipertensi belum dapat
dipastikan.

C. Tanda dan Gejala


1. Kepala terasa pusing
2. Peningkatan tekanan darah
3. Rasa berkunang-kunang
4. Pegal di bahu dan perasaan panas/
5. gelisah
6. Kurang tidur
7. Gangguan penglihatan
8. Kelelahan
9. Anoreksia
10. Hidung mimisan

D. Pencegahan
1. Pencegahan Primer
a. Pola Makan yang Baik
1) Mengurangi asupan garam dan lemak tinggi
Terlalu banyak mengonsumsi garam dapat meningkatkan tekanan
darah hingga ke tingkat yang membahayakan. Panduan terkini dari
British Hypertension Society menganjurkan asupan natrium dibatasi
sampai kurang dari 2,4 gram sehari. Mengurangi diet lemak dapat
menurunkan tekanan darah TDS/TDD 6/3 mmHg.
2) Meningkatkan konsumsi sayur dan buah
Dengan mengonsumsi sayur dan buah secara teratur dapat
menurunkan risiko kematian akibat hipertensi, stroke, dan penyakit
jantung koroner, menurunkan tekanan darah, dan mencegah kanker.
Sayur dan buah mengandung zat kimia tanaman (phytochemical)
yang penting seperti flavonoids, sterol, dan phenol. Mengonsumsi
sayur dan buah dengan teratur dapat menurunkan tekanan darah
TDS/TDD 3/1 mmHg.

b. Perubahan Gaya Hidup


1) Olahraga teratur
Melakukan olahraga secara teratur dapat menurunkan tekanan
darah sistolik 4-8 mmHg. Di usia tua, fungsi jantung dan pembuluh
darah akan menurun, demikian juga elastisitas dan kekuatannya.
Tetapi jika berolahraga secara teratur, maka sistem kardiovaskular
akan berfungsi maksimal dan tetap terpelihara.
c. Menghentikan rokok
Tembakau mengandung nikotin yang memperkuat kerja jantung dan
menciutkan arteri kecil hingga sirkulasi darah berkurang dan tekanan
darah meningkat. Berhenti merokok merupakan perubahan gaya hidup
yang paling kuat untuk mencegah penyakit kardiovaskular pada
penderita hipertensi.
d. Membatasi konsumsi alkohol
Minum alkohol secara berlebihan telah dikaitkan dengan
peningkatan tekanan darah. Wanita sebaiknya membatasi konsumsi
alkohol tidak lebih dari 14 unit per minggu dan laki-laki tidak melebihi
21 unit perminggu.31 Menghindari konsumsi alkohol bisa menurunkan
TDS 2-4 mmHg.
e. Mengurangi Kelebihan Berat Badan
Dibandingkan dengan yang kurus, orang yang gemuk lebih besar
peluangnya mengalami hipertensi. Penurunan berat badan pada
penderita hipertensi dapat dilakukan melalui perubahan pola makan dan
olahraga secara teratur. Menurunkan berat badan bisa menurunkan TDS
5-20 mmHg per 10 kg penurunan BB.

2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya pencegahan hipertensi yang sudah
pernah terjadi atau menjadi berat. Pencegahan ini ditujukan untuk mengobati
para penderita dan mengurangi akibat-akibat yang lebih serius dari penyakit,
yaitu:
a. Melalui diagnosis dini (pemeriksaan tekanan darah secara teratur).
b. Pemberian pengobatan (kepatuhan berobat).

3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya untuk mencegah terjadinya komplikasi
yang lebih berat atau kematian. Upaya yang dilakukan pada pencegahan tersier
ini yaitu :
a. Menurunkan tekanan darah sampai
batas yang aman dan mengobati penyakit yang dapat memperberat
hipertensi.
d. Follow up penderita hipertensi yang mendapat terapi dan rehabilitasi
dimana Follow up ditujukan untuk menentukan kemungkinan
dilakukannya pengurangan atau penambahan dosis obat.

E. Perawatan Keluarga Pada Lansia Hipertensi


1. Menurunkan faktor risiko yang menyebabkan aterosklerosis.
2. Olahraga dan aktifitas fisik
3. Perubahan pola makan
4. Menghilangkan stres
5. Konsumsi TOGA (Tumbuhan Obat Keluarga), seperti:
a. Mengkudu
Buah mengkudu mengandung sejenis fitonutrien, yaitu scopoletin.
Scopoletin berfungsi memperlebar saluran darah yang mengalami
penyempitan. Dinding pembuluh darah yang lebar dapat mempercepat
proses aliran darah ke jantung dan mempercepat penghantaran darah ke
seluruh tubuh, mencegah terjadinya konstriksi pembuluh darah, sehingga
tekanan darah menjadi normal (5). Selain scopoletin, juga terdapat arginin
yang berfungsi dalam sintesis nitric oksida (NO), suatu vasodilator yang
dapat menyebabkan terjadinya vasodilatasi pembuluh darah (6).
b. Bunga Rosella
Antioksidan yang dimiliki oleh kelopak rosella terdiri atas senyawa
gossipetin, antosianin, dan glukosida hibiscin yang mempunyai efek
diuretic, memperlancar peredaran darah, mencegah tekanan darah tinggi,
meningkatkan kinerja usus serta berfungsi sebagai obat kuat.
c. Timun
Tanaman mentimun mengandung zat saponin, protein, Fe atau zat besi,
sulfur, lemak, kalsium, vitamin A, vitamin B1, dan juga vitamin C. berbagai
zat ini bersifat porgonik yang disinyalir mampu menurunkan tekanan darah
dalam tubuh. Menurut penelitian Zauhani, pemberian jus mentimun
sebanyak 100 gram kepada lansia selama lima hari mampu menurunkan
hipertensi. Cara pembuatan minuman herbal ini yaitu dengan memblender
100 gram mentimun yang diberi 100 cc air tanpa diberi tambahan apapun 3
kali dalam sehari.
d. Seledri
Tanaman seledri (Apium Graveolens Linn) varietas secalinum
mengandung berbagai zat aktif antara lain flavonoid (apigenin), senyawa
butyl phthalide, dan kalium yang mempunyai efek menurunkan tekanan
darah. Menurut penelitian Upik Rahmawati (2010), pemberian jus seledri
kepada ibu rumah tangga usia 40-60 tahun mampu menurunkan
hipertensinya. Sedangkan menurut penelitian Tantya Marlien (2009)
pemberian air rebusan seledri pada wanita dewasa selama 3 hari mampu
menurunkan hipertensi secara signifikan. Cara membuat minuman herbal
ini yaitu dengan mencuci bersih seledri dan ditambahkan air bersih
secukupnya kemudian direbus. Setelah mendidih air rebusan disaring dan
diminum sehari tiga kali sebanyak dua sendok makan.
Lampiran 2: Leaflet
Lampiran B: SAP ROM
SATUAN ACARA PENYULUHAN RANGE OF MOTION (ROM)
PADA STROKE
(SAP)
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktik Klinik
Keperawatan Keluarga

Disusun oleh
Fanny Julianti (043315150013)

PRODI D3 KEPERAWATAN TINGKAT III


STIKEP PPNI JAWA BARAT
BANDUNG
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
RANGE OF MOTION (ROM) PADA STROKE

Pokok Bahasan : Range of motion (ROM) pada stroke


Sub Pokok Bahasan : Pengertian ROM, tujuan ROM, Indikasi ROM, Prosedur
ROM.
Sasaran : Keluarga Tn. A
Tempat : Rumah Tn. A, Kp. Kendal Gede RT. 07/ 02, Sukagalih.
Waktu : 13.30 WIB
Hari, tanggal : Rabu, 18 April 2018
Penyuluh : Fanny Julianti

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan diharapkan pada Ny. T dan
keluarga dapat melakukan latihan ROM aktif .

B. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan, keluarga Ny. T mampu :
1. Mendemonstrasikan dengan benar latihan gerakan aktif anggota gerakan
bawah
2. Mendemonstrasikan latihan aktif anggota gerak bawah

C. Metode
1. Ceramah dan tanya jawab
2. Demonstrasi

D. Media
Leaflet

E. Materi Pembelajaran: Terlampir


1. Pengertian ROM
2. tujuan ROM
3. Indikasi ROM
4. Prosedur ROM

F. Kegiatan Belajar Mengajar


Tahap
Hari/Tgl/Jam Kegiatan Waktu
Kegiatan
Rabu, 17 April 1. Persiapan Mempersiapkan materi, media, 5 menit
2017 sasaran dan tempat
13.30 WIB 2. Pembukaa Mengucapkan salam , perkenalan 5 menit
n dan penyampaian maksud dan
tujuan
3. Inti Menjelaskan tentang materi 15 menit
meliputi pengertian ROM, tujuan
ROM, indikasi ROM, prosedur
ROM dan demonstrasi
4. Penutup Diskusi, mengevaluasi tujuan 5 menit
penyuluhan kesehatan,
mengucapkan terima kasih atas
perhatian yang diberikan dan
memberi salam penutup.

G. Evaluasi
1. Evaluasi Proses
Ny. T dan keluarga dapat kooperatif, respon mendengarkan dan
memperhatikan penyampaian materi.
2. Evaluasi Akhir
Setelah diberikan pendidikan kesehatan Ny. T dan keluarga dapat
menjelaskan dan mendemonstrasikan kembali teknik ROM yang
disampaikan.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan medikal bedah. Edisi 8. EGC, Jakarta.
Price S.A, Lorraine MW. Patophysiology, konsep klinis proses-proses penyakit.
EGC, Jakarta.
Potter & perry, 2006, Buku ajar fundamental keperawatan edisi 4, EGC, Jakarta.
Triyanto, E. 2006. Range of motion. Modul skill lab keperawatan edisi 3 univ.
Jenderal Soedirman NANDA, 2005, Nursing diagnoses; Definitions &
Classification, Nanda Internasional, Philadelphia.
Lampiran 1: Materi ROM

1. Pengertian
Range of Motion adalah latihan gerakan sendi yang memungkinkan
terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan
masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif
ataupun pasif. (Potter and Perry, 2006)
2. Tujuan
a. Memelihara dan mempertahankan kekuatan otot
b. Memelihara mobilitas persendian
c. Menstimulasi persendian
d. Mencegah kontraktur sendi
3. Indikasi
a. Pasien tirah baring lama
b. Pasien yang mengalami penurunan tingkat kesadaran
c. Pasien dengan kasus fraktur
d. Pasien post operasi yang kesedarannya belum pulih
4. Prosedur ROM
1) Leher, spina, serfikal
a. Fleksi : Menggerakkan dagu menempel ke dada, rentang 45°
b. Ekstensi : Mengembalikan kepala ke posisi tegak, rentang 45°
c. Hiperektensi : Menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin, rentang
40-45°
d. Fleksi lateral : Memiringkan kepala sejauh mungkin sejauh mungkin
kearah setiap bahu, rentang 40-45°.
e. Rotasi :Memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkuler,
rentang 180°.
f. Ulangi gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
2) Bahu
a. Fleksi : Menaikan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan ke
posisi di atas kepala, rentang 180°
b. Ekstensi : Mengembalikan lengan ke posisi di samping tubuh, rentang
180°
c. Hiperektensi : Menggerakkan lengan kebelakang tubuh, siku tetap
lurus, rentang 45-60°
d. Abduksi : Menaikan lengan ke posisi samping di atas kepala dengan
telapak tangan jauh dari kepala, rentang 180°
e. Adduksi : Menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubuh
sejauh mungkin, rentang 320°
f. Rotasi dalam : Dengan siku pleksi, memutar bahu dengan
menggerakan lengan sampai ibu jari menghadap ke dalam dan ke
belakang, rentang 90°
g. Rotasi luar : Dengan siku fleksi, menggerakan lengan sampai ibu jari
ke atas dan samping kepala, rentang 90°
h. Sirkumduksi : Menggerakkan lengan dengan lingkaran penuh, rentang
360°
i. Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
3) Siku
1) Fleksi : Menggerakkan siku sehingga lengan bahu bergerak ke
depan sendi bahu dan tangan sejajar bahu, rentang 150°
2) Ektensi : Meluruskan siku dengan menurunkan tangan, rentang 150°
4) Lengan bawah
a. Supinasi : Memutar lengan bawah dan tangan sehingga telapak tangan
menghadap ke atas, rentang 70-90°.
b. Pronasi : Memutar lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap
ke bawah, rentang 70-90°
c. Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
5) Pergelangan tangan
a. Fleksi : Menggerakkan telapak tangan ke sisi bagian dalam lengan
bawah, rentang 80-90°
b. Ekstensi : engerakkan jari-jari tangan sehingga jari-jari, tangan,
lengan bawah berada dalam arah yang sama, rentang 80-90°
c. Hiperekstensi : Membawa permukaan tangan dorsal ke belakang
sejauh mungkin, rentang 89-90°
d. Abduksi : Menekuk pergelangan tangan miring ke ibu jari, rentang
30°
e. Adduksi : Menekuk pergelangan tangan miring ke arah lima jari,
rentang 30-50°.
f. Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
6) Jari- jari tangan
a. Fleksi : Membuat genggaman, rentang 90°
b. Ekstensi : Meluruskan jari-jari tangan, rentang 90°
c. Hiperekstensi : Menggerakan jari-jari tangan ke belakang sejauh
mungkin, rentang 30-60°
d. Abduksi : Meregangkan jari-jari tangan yang satu dengan yang lain,
rentang 30°
e. Adduksi : Merapatkan kembali jari-jari tangan, rentang 30°
f. Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
7. Ibu jari
a. Fleksi : Menggerakkan ibu jari menyilang permukaan telapak tangan,
rentang 90°
b. Ekstensi : Menggerakkan ibu jari lurus menjauh dari tangan, rentang
90°
c. Abduksi : Menjauhkan ibu jari ke samping, rentang 30°
d. Adduksi : Menggerakkan ibu jari ke depan tangan, rentang 30°
e. Oposisi : Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada tangan
yang sama
f. Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
8. Pinggul
a. Fleksi : Menggerakkan tungkai ke depan dan atas, rentang 90-120°
b. Ekstensi : Menggerakkan kembali ke samping tungkai yang lain,
rentang 90-120°
c. Hiperekstensi : Menggerakkan tungkai ke belakang tubuh, rentang
30-50°
d. Abduksi : Menggerakkan tungkai ke samping menjauhi tubuh, rentang
30-50°
e. Adduksi : Menggerakkan tungkai kembali ke posisi media dan
melebihi jika mungkin, rentang 30-50°
f. Rotasi dalam : Memutar kaki dan tungkai ke arah tungkai lain,
rentang 90°
g. Rotasi luar : Memutar kaki dan tungkai menjauhi tungkai lain,
rentang 90°
h. Sirkumduksi : Menggerakkan tungkai melingkar
i. Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
9. Lutut
a. Fleksi : Menggerakkan tumit ke arah belakang paha, rentang 120-
130°
b. Ekstensi : Mengembalikan tungkai kelantai, rentang 120-130°
c. Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
10. Mata kaki
a. Dorsifleksi : Menggerakkan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke
atas, rentang 20-30°
b. Flantarfleksi : Menggerakkan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk
ke bawah, rentang 45-50°
c. Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
11. Kaki
a. Inversi : Memutar telapak kaki ke samping dalam, rentang 10°
b. Eversi : Memutar telapak kaki ke samping luar, rentang 10°
c. Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
12. Jari-jari kaki
a. Fleksi : Menekukkan jari-jari kaki ke bawah, rentang 30-60°
b. Ekstensi : Meluruskan jari-jari kaki, rentang 30-60°
c. Abduksi : Menggerakkan jari-jari kaki satu dengan yang lain,
rentang 15°
d. Adduksi : Merapatkan kembali bersama-sama, rentang 15°
e. Ulang gerakan berturut-turut sebanyak 4 kali.
Lampiran 2: Leaflet
Lampiran C: Dokumentasi