Anda di halaman 1dari 40

Laporan Praktikum Dosen Pembimbing

Teknologi Tepat Guna Drs. Irdoni, Hs. M.S

PEMBUATAN SHAMPO MOTOR

Kelompok : II (Dua)
Nama : Rita P. Mendrova (1107035609)
Ryan Tito (1107021186)
Yakub J. Silaen (1107036648)

LABORATORIUM TEKNOLOGI BAHAN ALAM DAN MINERAL


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2013
Abstrak
Shampo motor adalah suatu detergen yang sekarang banyak dikonsumsi oleh
masyarakat karena meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor. Tujuan dari
percobaan ini yaitu mempelajari cara pembuatan shampo motor atau mobil dan
menentukan karakteristik (viskositas dan densitas) serta bagaimana kinerjannya
(aplikasi). Bahan yang digunakan yaitu LABS (Linear Alkyl Benzene Sulfonat,
SLS (Sodium Lauryl Sulfonat), NaOH, dan aquades. Adapun langkah-langkah
yang dilakukan adalah membuat larutan NaOH 40%, membuat LABSNa yaitu
dengan mencampurkan LABS (0,2 mol; 0,3 mol dan 0,4 mol) dan NaOH,
kemudian membuat shampo dengan mencampurkan larutan SLS dengan LABSNa
serta penambahan pewarna dan parfum. Karakteristik shampo kemudian
dibandingkan dengan karakteristik Kit. Berdasarkan hasil percobaan, secara
keseluruhan, karakteristik shampo yang mendekati karakteristik shampo
komersial Kit yaitu shampo motor dengan variasi 0,3 mol LABS. Shampo dengan
variasi 0,3 mol LABS memiliki berat jenis, viskositas dan waktu yang dibutuhkan
untuk menembus perbatasan minyak-air secara berturut-turut sebesar 0,984
gr/ml, 0,11 mm/s dan 28,08 sekon.
Kata kunci : densitas; detergen; shampo; surfaktan; viskositas.

Abstract
Motorcycle’s or car’s shampoo is a detergent that is now consumed by many
people because of the increasing use of motorcycle vehicles. The goal of this
experiment is to learn how to manufacture motorcycle’s or car’s shampoos,
determine the characteristics of shampoo (viscosity and density) and to know the
application of shampoo. The materials used are LABS (Linear Alkyl benzene
sulfonate, SLS (Sodium Lauryl sulfonate), NaOH, and aquades. This experiment
begin by making a solution of NaOH 40%, making LABSNa by mixing LABS (0,2
mol; 0,3 mol and 0.4 mol) and NaOH, then making a shampoo by mixing LABSNa
and SLS solution also adding some of dyes and perfumes as well. Then,
characteristics of shampoos compared by characteristic of Kit. According to the
result of experiment, overall, characteristics of shampoos that approaching
characteristic of Kit is shampoo with 0,3 mol LABS. Shampoo with 0,3 mol LABS
has density, viskosity and time that needed by shampoo to crossing the line of oil-
water sequentially 0,984 gr/ml, 0,11 mm/s and 28,08 second.
Key words : density;, detergent; shampoos; surfactants; viscosity.
BAB I

PENDAHULAN

1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan percabaan pembuatan shampo motor antara lain :

1. Mempelajari cara pembuatan shampo motor dan mobil.


2. Menentukan krakteristik shampo motor atau mobil dan bagaimana
kinerjanya

1.2 Landasan teori


1.2.1Pengertian Shampo Motor atau Mobil.
Shampo didefinisikan sebagai sediaan dari surfaktan (bahan aktif
permukaan) dalam bentuk yang sesuai, seperti cair, padat, atau serbuk, dimana
jika digunakan di bawah kondisi khusus dapat menghilangkan lemak dan kotoran
dari bahan yang akan dibersihkan.
Shampo motor atau mobil adalah suatu deterjen yang sekarang banyak
dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan yang penting dalam pembuatan shampo ini
adalah surfaktan, yaitu LABS (Linear Alkyl Benzene Sulfonat) atau kadang
disebut juga Linear Alkyl Benzene (LAS) dan surfaktan penunjang yaitu SLS
(Sodium Lauryl Sulfonat). Teknologi pembuatan produk shampo motor atau mobil
ini termasuk salah satu teknologi tepat guna dalam pembuatannya. Karena dalam
proses pembuatannya tidak memerlukan alat yang canggih dan proses yang rumit.
(Hayyan, Ibnu.2008. Surfaktan).

1.2.2 Pengertian Surfaktan


Surfaktan adalah zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena
cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan (antar muka), atau zat yang dapat
menaikkan dan menurunkan tegangan permukaan. Tegangan permukaan (surface
tension) adalah gaya dalam dyne yang bekerja pada permukaan sepanjang 1 cm
dan dinyatakan dalam dyne/cm, atau energi yang diperlukan untuk memperbesar
permukaan atau antarmuka sebesar 1 cm2 dan dinyatakan dalam erg/cm2. Surface
tension umumnya terjadi antara gas dan cairan sedangkan Interface tension
umumnya terjadi antara cairan dan cairan lainnya atau kadang antara padat dan zat
lainnya (namun hal ini belum diteliti).
Beberapa kegunaan surfaktan antara lain yaitu : deterjen, pelembut kain,
pengemulsi, cat, adesif, tinta, anti–fogging, remidiasi tanah, pendispersi,
pembasah, ski wax dan snowboard wax, daur ulang kertas, pengapungan, pencuci,
zat busa, penghilang busa, laxatives, formula agrokimia, herbisida dan insektisida,
coating, sanitasi, sampo, pelembut rambut, spermicide, pemipaan pemadam
kebakaran, pendeteksi kebocoran, dsb.

1.2.3 Sifat-Sifat Surfaktan


Adapun sifat-sifat umun surfaktan antara lain:
A. Sebagai larutan koloid
Mc. Bain telah membuktikan bahwa larutan zat aktif permukaan larutan
koloid. Molekul-molekulnya terdiri dari gugus yang hidrofil (suka air) dan gugus
yang hidrofob (tak suka air).Pada konsentrasi tinggi partikel koloid ini akan saling
menggumpal, gumpalan ini disebut misel atau agregat baik berbentuk sferik/ ’S’
(daya hantar listriknya tinggi) atau lamelar/ ’L’ (daya hantar listriknya kecil
disebut juga koloid netral) dan ada dalam kesetimbangan bolak – balik dengan
sekitarnya (pelarut atau dispersi larutan). Kesetimbangan ini akan mencapai
konsentrasi kritik misel menurut aturan Jones dan Burry.
B. Adsorpsi
Apabila larutan mempunyai tegangan permukaan lebih kecil daripada
pelarut murni, zat terlarut akan terkonsentrasi pada permukaan dan terjadi
adsorpsi positif. Sebaliknya adsorpsi negatif menunjukkan bahwa molekul-
molekul zat terlarut lebih banyak terdapat dalam rongga larutan daripada
dipermukaan.Hubungan antara derajat penyerapan dan penurunan tegangan
permukaan dinyatakan dalam persamaan Gibbs.
C. Kelarutan dan daya melarutkan
Murray dan Hartly dalam pernyataannya menunjukkan bahwa partikel-
partikel tunggal relatif tidak larut, sedangkan misel mempunyai kelarutan
tinggi.Makin panjang rantai hidrokarbonnya, makin tinggi temperatur kritik
larutan.
Adapun sifat- sifat khusus surfaktan yaitu:
A. Pembasahan
Perubahan dalam tegangan permukaan yang menyertai proses pembasahan
dinyatakan oleh Hukum Dupre.
B. Daya Busa
Busa ialah dispersi gas dalam cairan dan zat aktif permukaan yang
memperkecil tegangan antarmuka, sehingga busa akan stabil, jadi surfaktant
mempunyai daya busa.
C. Daya Emulsi
Emulsi adalah suspensi partikel cairan dalam fasa cairan yang lain, yang
tidak saling melarutkan. Sama halnya dengan pembasahan, maka surfaktan akan
menurunkan tegangan antarmuka, sehingga terjadi emulsi yang stabil.

1.2.4 Klasifikasi Surfaktan


Ada cara penggolongan zat aktif permukaan yang umum yaitu:
1. Berdasarkan gugus hidrofil, surfaktan dapat dibagi sebagai berikut :
a. Surfaktan anionik
Surfaktan anionik merupakan surfaktan dengan bagian aktif pada
permukaannya mengandung muatan negatif. Contoh dari jenis surfaktan anionik
adalah Linier Alkyl Benzene Sulfonat (LAS), Alkohol Sulfat (AS), Alkohol Eter
Sulfat (AES), Alpha Olefin Sulfonat (AOS).
b. Surfaktan kationik
Surfaktan ini merupakan surfaktan dengan bagian aktif pada
permukaannya mengandung muatan positif.Surfaktan ini terionisasi dalam air
serta bagian aktif pada permukaannya adalah bagian kationnya. Contoh jenis
surfaktan ini adalah ammonium kuarterner.
c. Surfaktan nonionik
Surfaktan yang tidak terionisasi di dalam air adalah surfaktan nonionik yaitu
surfaktan dengan bagian aktif permukaanya tidak mengandung muatan apapun,
contohnya: alkohol etoksilat, polioksietilen (R-OCH2CH).
d. Surfaktan ampoterik
Surfaktan ini dapat bersifat sebagai non ionik, kationik, dan anionik di
dalam larutan, jadi surfaktan ini mengandung muatan negatif maupun muatan
positif pada bagian aktif pada permukaannya. Contohnya Sulfobetain
(RN+(CH3)2CH2CH2SO3-).

2. Menurut kelarutannya surfaktan dibedakan atas :


a. Surfaktan yang larut dalam minyak
Ada tiga yang termasuk dalam golongan ini, yaitu senyawa polar berantai
panjang, senyawa fluorokarbon, dan senyawa silikon.
b. Surfaktan yang larut dalam pelarut air
Golongan ini banyak digunakan antara lain sebagai zat pembasah, zat
pembusa, zatpengemulsi, zat anti busa, deterjen, zat flotasi, pencegah korosi, dan
lain-lain. Ada empat yang termasuk dalam golongan ini, yaitu surfaktan anion
yang bermuatan negatif, surfaktan yang bermuatan positif, surfaktan nonion yang
tak terionisasi dalam larutan, dan surfaktan amfoter yang bermuatan negatif dan
positif bergantung pada pH-nya.

NON IONIK

ANIONIK

KATIONIK

AMFOTER

Gambar 1.1.Struktur Surfaktan


1.2.5. Cara surfaktan menghilangkan noda
Kebanyakan kotoran pada pakaian melekat sebagai lapisan tipis minyak.
Jika lapisan minyak ini dapat disingkirkan, berarti partikel kotoran itu dapat
dicuci. Molekul sabun terdiri dari rantai hidrokarbon yang panjang. Rantai karbon
bersifat lipofilik (tidak suka air) dan hidrofilik (suka air). Bila sabun dikocok
dengan air akan membentuk dispersi koloid, bukannya larutan sejati. Larutan
sabun mengandung agregat molekul sabun yang disebut dengan misel. Rantai
karbon nonpolar atau lipofilik atau tidak suka air mengarah kebagian pusat misel,
dan pada bagian yang polar mengarah pada permukaan misel.
Dalam kerjanya untuk menyingkirkan kotoran, molekul sabun mengelilingi
dan mengemulsi butiran minyak atau lemak. Ekor lipofilik dari molekul sabun
melarutkan minyak. Ujung hidrofilik dan butiran minyak menjulur ke arah air.
Dengan cara ini butiran minyak terstabilkan dalam larutan air sebab muatan
permukaan yang negatif dari butiran minyak mencegah penggabungan
(koalesensi). Sifat menonjol lain dari sabun ialah tegangan permukaan yang
sangat rendah yang menjadikan larutan sabun lebih memiliki daya pembasahan
dibandingkan air saja. Akibatnya sabun termasuk golongan zat yang disebut
surfaktan. Gabungan dari daya pengemulsi dan kerja permukaan dari larutan
sabun memungkinkan untuk melepas kotoran dari permukaan yang sedang
dibersihkan dan mengemulsikannya sehingga kotoran itu tercuci bersama air.

1.2.6 Sifat larutan yang mengandung surfaktan


Larutan surfaktan dalam air menunjukkan perubahan sifat fisik yang
mendadak pada daerah konsentrasi yang tertentu. Perubahan yang mendadak ini
disebabkan oleh pembentukan agregat atau penggumpalan dari beberapa molekul
surfaktan menjadi satu, yaitu pada konsentrasi kritik misel (CMC) . Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi nilai CMC, untuk deret homolog surfaktan rantai
hidrokarbon, nilai CMC bertambah dua kali dengan berkurangnya satu atom C
dalam rantai. Gugus aromatik dalam rantai hidrokarbon akan memperbesar nilai
CMC dan juga memperbesar kelarutan. Adanya garam menurunkan nilai CMC
surfaktan ion.Penurunan CMC hanya bergantung pada konsentrasi ion lawan,
yaitu makin besar konsentrasinya makin turun CMC-nya. Secara umum misel
dibedakan menjadi dua, yaitu: struktur lamelar dan sterik seperti telihat pada
gambar dibawah ini:

Gambar 1.2. Struktur misel, (a) sterik (b) lamellar

Pada dasarnya surfaktan mengandung zat pembentuk (builder), zat pengisi


(filler), dan zat aditif guna meningkatkan kinerja surfaktan sebagai pembersih
noda.
Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai
kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contohnya
adalah sodium sulfat. Aditif adalah bahan suplemen/tambahan untuk membuat
produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak
berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Zat aditif ditambahkan
dengan tujuan untuk komersialisasi produk.Contoh zat aditif adalah sodium
klorida dan Carboxy Methyl Cellulose (CMC).

1.2.7 Contoh surfaktan


a. Surfaktan Alkanolamida
Alkanolamida merupakan kelompok surfaktan nonionik yang berkembang
dengan pesat. Alkanolamina seperti etanolamina, jika direaksikan dengan asam
lemak akan membentuk suatu alkanolamida dan melepaskan air. Beberapa contoh
surfaktan alkanolamida ditunjukkan pada gambar diawah ini :
Gambar 1.3. Contoh Surfaktan Alkanolamida

Surfaktan alkanolamida tidak bermuatan atau tidak terjadi ionisasi daripada


molekul. Keberadaan gugus metil amida didalam alkanolamida bermanfaat untuk
meningkatkan kelarutan surfaktan. Disamping itu alkanolamida dapat digunakan
pada rentang pH yang luas, biodegradabel, lembut dan bersifat noniritasi, baik
untuk kulit maupun mata. Surfaktan ini juga menghasilkan reduksi tegangan
permukaan yang besar, toksisitas yang rendah dan pembusaan yang bagus serta
stabil. Surfaktan alkanolamida juga sangat kompatibel dengan ketiga jenis
surfaktan lainnya yaitu surfaktan anionik, kationik dan amfoterik. Sebagaimana
surfaktan nonionic lainnya, alkanolamida menunjukkan performa yang baik
seperti kelarutan yang tinggi, stabil terhadap berbagai enzim dan media yang
alkali. Karena sifat-sifatnya tersebut maka surfaktan ini dapat digunakan sebagai
bahan pangan, obat-obatan, kosmetika dan aplikasi industri serta dapat digunakan
pada rentang penggunaan surfaktan anionik. Produk-produk yang menggunakan
surfaktan alkanolamida diantaranya shampo non iritasi, sabun mandi cair, produk
perawatan rambut, losion, cream, produk pembersih serta produk kosmetika,
produk farmasi, biokimia dan biomedikal.
Menurut monoetanolamida dan dietanolamida digunakan secara luas
sebagai surfaktan, penstabil dan pengembang busa. Meskipun monoetanolamida
bersifat lebih efektif baik sebagai penstabil busa, pengental dan boster busa,
namun karena berbentuk padatan berlilin menyebabkan sulit untuk di
inkorporasikan karena titik cairnya yang tinggi. Sebaliknya, dietanolamida selain
mampu menstabilkan busa juga dapat meningkatkan tekstur kasar busa dan dapat
mencegah terjadinya proses penghilangan minyak yang berlebihan pada kulit dan
rambut. Wujudnya yang cair menyebabkan dietanolamida lebih mudah ditangani
dan diinkorporasikan ke dalam suatu produk kosmetika yang berbentuk cairan.

b. Dietanolamida
Dietanolamida merupakan salah satu surfaktan alkanolamida yang paling
penting. Dietanolamida berfungsi sebagai bahan penstabil dan pengembang busa.
Hal ini disebabkan karena adanya kotoran berminyak seperti sebum menyebabkan
stabilitas busa sabun cair atau shampo akan berkurang secara drastis. Untuk
mengatasi hal tersebut, diperlukan penstabil busa yang berfungsi untuk
menstabilkan dan mengubah struktur busa agar diperoleh busa yang lebih banyak,
pekat dengan buih yang sedikit. Pada pembuatan sabun, dietanolamida digunakan
agar sabun menjadi lembut. Pemakaian dietanolamida pada formula shampo dapat
mencegah terjadinya proses penghilangan minyak yang berlebihan pada rambut
(efek perlemakan berlebihan) dan produk yang dihasilkan tidak menyebabkan rasa
pedih di mata, sehingga cocok untuk digunakan sebagai produk sabun dan shampo
bagi bayi.
Sintesis dietanolamida menggunakan bahan baku dietanolamina dan asam
laurat. Dietanolamina adalah senyawa yang terdiri dari gugus amina dan
dialkohol. Dialkohol menunjukkan adanya dua gugus hidroksil pada molekulnya.

c. N-metil glukamida
N-metil glukamida diperoleh dari reaksi antara asam lemak, metil ester
asam lemak atau trigliserida dengan N-metil glukamina. N-metil glukamida
banyak digunakan sebagai produk farmasi dan biokimia lainnya. N-metil-
glukamida termasuk pada kelompok alkyl-glukamida surfaktan dimana kelompok
surfaktan ini diproduksi dalam jumlah besar sebagai bahan pembersih, contohnya
adalah N-dodekanoil-N metal glukamida.
Sintesis N-metil glukamida menggunakan bahan baku N-metil glukamina
dari golongan gula amina. Senyawa-senyawa gula amina memegang peran
penting dalam pembentukan dan perbaikan tulang rawan. Mekanisme kerja
senyawa-senyawa gula amina adalah dengan menghambat sintetis
glikosaminoglikan dan mencegah destruksi tulang rawan. Gula amina dapat
merangsang sel-sel tulang rawan untuk pembentukan proteoglikan dan kolagen
yang merupakan protein esensial untuk memperbaiki fungsi persendian. Gula
amina dapat diperoleh dari reaksi glukosa, laktosa atau gula lainnya dengan
amonia atau alkil amina. N-metil glukamina merupakan salah satu senyawa gula
amina yang penting. N-metil glukamina diperoleh dari reaksi glukosa dengan
monometil amina.

d. Metil Ester Sulfonat (MES)


Surfaktan Metil Ester Sulfonat termasuk golongan surfaktan anionik, yaitu
surfaktan yang bermuatan negatif pada gugus hidrofiliknya atau bagian aktif
permukaan. Struktur kimianya dapat terlihat pada gambar berikut.

Gambar 1.4. Struktur MES


MES dari minyak nabati dengan ikatan atom karbon C10, C12, C14 biasa
digunakan untuk light duty diwashing detergent, sedangkan MES yang
mempunyai ikatan atom karbon C16-C18 biasa digunakan untuk detergen bubuk
dan cair. Proses produksi surfaktan Metil Ester Sulfonat dilakukan dengan
mereaksikan metil ester dengan pereaksi sulfonasi.
MES adalah yang paling bersahabat dengan lingkungan (ramah lingkungan)
dari surfaktan anionik yang ada dalam deterjen. MES mempunyai sifat detergensi
yang baik bahkan pada jumlah yang sedikit, dibanding dengan surfaktan anionik
yang lain, seperti Linier Alkilbenzen Sulfonat (LAS) dan Alkil Sulfat (AS).
e. Alkohol sulfat (AS)
Alkohol sulfat (AS) merupakan salab satu contoh surfaktan anonik yang
dibuat dari bahan alami (nabati) yaitu fatty alcohol minyak inti sawit. Keunggulan
surfaktan alkohol sulfat dibandingkan dengan surfaktan turunan petroleum, yaitu
pencemaran udara dan jumlah sampah yang ditimbulkan akibat proses produksi
AS lebih sedikit. Selain itu alkohol sulfat memiliki tingkat stabilitas yang sangat
baik di dalam air, bahan bakunya bersifat terbarukan (renewable resources) serta
bersifat dapat terurai secara biologis (biodegradable).

f. Alfa Sulfometil Ester (α-SFMe)


Alfa SFMe (α-SFMe) yang diproduksi dari metil ester telah lama dikenal
dan dipelajari terutama sejak krisis minyak di tahun 1973. Alfa SFMe lebih
banyak dipelajari sebagai surfaktan yang diperoleh dari bahan baku mentah. Alfa
SFMe belum mendapat posisi dalam surfaktan seperti LAS (Linear Alkylbenzene
Sulphonate) atau AS (alcohol sulphate).

g. Linier Alkil Benzen Sulfonat (LABS)


Alkylbenzene merupakan bahan baku dasar untuk membuat Linear
Alkylbenzene sulfonate. Linear alkylbenzene sulfonate disebut juga dengan nama
acid slurry. Acid slurry merupakan bahan baku kunci dalam pembuatan serbuk
deterjen sintetik dan deterjen cair. Alkyl benzene disulfonasi menggunakan asam
sulfat, oleum atau SO3(g). Struktur LABS (linear alkylbenzene sulfonate) :

Gambar 1.5.Struktur LABS


Reaksi pembentukan LABSNa :

+ NaOH + H2O

Gambar 1.6. Reaksi pembentukan LABSNa

h. Surfaktan Alkil Poliglikosida (APG)


Salah satu jenis surfaktan nonionik yang biasa digunakan sebagai bahan
dalam formulasi produk-produk perawatan diri (personal care products),
kosmetik, pemucatan kain tekstil dan herbisida adalah Alkil Poliglikosida (APG).
Borsotti dan Pellizzon (1996) menyatakan bahwa APG merupakan surfaktan
yang baik, karena bahan baku pembuatannya dapat diperoleh dari sumber-sumber
alam yang dapat diperbaharui dan juga merupakan bahan yang 100%
biodegradable.

i. SDS (Sodium Dodecyl Sulphate)


Surfaktan pertama disintesis pada tahun 1940-an, yaitu garam natrium dari
alkyl hydrogen sulfat. Alkohol berantai panjang dibuat dengan cara
penghidrogenan lemak dan minyak. Alkohol berantai panjang ini direaksikan
dengan asam sulfat menghasilkan alkil hidrogen sulfat yang kemudian dinetralkan
dengan basa.

j. Natrium lauryl sulfate (SLS) atau sodium dodecyl sulfate (SDS)


Natrium lauryl sulfate (C12H25SO4Na) adalah anionik surfaktan yang
digunakan dalam produk kebersihan. Molekul ini terdiri dari 12 atom karbon,
yang melekat pada sulfat kelompok, dan menjadikan molekulnya bersifat
amphiphilic, yaitu sifat yang diperlukan dari deterjen. SLS (sodium lauryl sulfate)
adalah suatu surfaktan yang sangat efektif. Sedangkan SLS yang memiliki suatu
konsentrasi rendah biasanya digunakan pada pasta gigi, shampo, dan busa cukur.
SLS adalah suatu formulasi penting bagi deterjen, shampo, dan sabun untuk
menghasilkan busa.
SLS terkadang dijadikan sebagai penunjang busa, pertimbangan banyak
busa adalah pertimbangan salah kaprah tapi selalu dianut oleh banyak konsumen.
Banyaknya busa tidak berkaitan secara signifikan dengan daya bersih deterjen,
kecuali deterjen yang digunakan untuk proses pencucian dengan air yang
jumlahnya sedikit (misalnya pada pencucian karpet). Untuk kebanyakan kegunaan
di rumah tangga, misalnya pencucian dengan jumlah air yang berlimpah, busa
tidak memiliki peran yang penting. Dalam pencucian dalam jumlah air yang
sedikit, busa sangat penting karena dalam pencucian dengan sedikit air, busa akan
berperan untuk tetap "memegang" partikel yang telah dilepas dari kain yang
dicuci, dengan demikian mencegah mengendapnya kembali kotoran tersebut.
Struktur SLS (sodium lauryl sulfate)

Gambar 1.7. Struktur SLS

Natrium lauril sulfat adalah surfaktan yang baik. Karena garamnya berasal
dari asam kuat, larutannya hampir netral. Garam kalsium dan magnesiumnya tidak
mengendap dalam larutannya, sehingga dapat dipakai dengan air lunak atau air
sadah serta biodegradable. Sodium lauryl sulfate dapat dibuat dengan reaksi :
RCH2OH + SO3 RCH2OSO3H
Fatty alcoholsulfur trioxide fatty alcohol sulfuric acid

RCH2OSO3H + NaOH RCH2OSO3Na + H2O


j. ABS (Alkyl Benzene Sulfonate)
Sekitar tahun 1960-an, deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan
kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang
mampu menghasilkan busa. Namun karena sifat ABS yang sulit diurai oleh
mikroorganisme di permukaan tanah, akhirnya digantikan dengan senyawa Linier
Alkyl Sulfonat (LAS) yang diyakini relatif lebih akrab dengan lingkungan.

Tabel 1.1. Sifat-sifat Surfaktan


No. Contoh Surfaktan Sifat
1 AOS (Alkyl Olefin Bentuk : liquid
Sulfonate) Densitas : 1,06
Kelarutan dalam air : larut pada 25oC
Volatilitas : 55 - 60%
pH: 6,5 – 8,5
2 Diethanolamine Bentuk : liquid
Tekanan uap : 0,0003 mmHg / 0,002 kPa
Densitas uap : 3,6
Titik didih : 268 oC/514 o F
Titik beku : 28 o C / 82 o F Densitas :
1,092
Kelarutan dalam air : sempurna
Viskositas : 380 centipoise (30 oC/86 o F)
pH : 11,5
Berat molekul : 105 gr/mol
3 LABS (Linier Alkyl Benzene Rumus molekul : C12H25C6H5
Sulfonate) Berat molekul : 246,435 gr/mol
Titik didih : 327,61 0C
Titik leleh : 2,78 0C
Densitas : 855,065 Kg/m3
Wujud : Cair
Kapasitas panas : 750,6 Kcal/Kg.K
Energi panas : 1787 kj/mol
Viskositas : 12 Cp
4 MES (Methyl Esther Bentuk :Solid
Sulfonate) Berat Molekul : 213,26g/mol
Warna : tak berwarna.

5 N-metanolamida Bentuk : liquid


Titik didih : 100oC
Persen volatil : 98%
Densitas : 0,97 g/ml
Kelarutan : larut dalam air Sepenuhnya
6 Sodium Alkil Eter Bentuk fisik : liquid
pH : 10,78
Titik didih : 212oF
Mudah menyala
Kepadatan : 1,12 g / cc
Kelarutan dalam air : Larut
7 STS (Sodium Toluene Penampilan : Bubukberwarna krem
Sulfonate) Bau : Tidak berbau
pH: 6 – 9
Densitas:0,40-0,50g/ml
Kelarutandalam Air: Larutdalam air
8 Biosurfaktan Penampilan: Sedang, berwarna merah.
Bau: Tidakwangi
Titik didih : >200oF
Titik lebur : 26 oF
Densitas : 1,0175
pH : 9,5 atau11,5
Kelarutandalam air : sempurna
Viskositas : 15Centipoise
Reaktivitasdengan air: Tidak ada
Tegangan permukaan :
29,1Dyne/cmpada 25 ° C
9 Alkanolamida Bentuk : Waxy solid
Warna : Putih kekuningan
Titik didih : 212oF
pH : 7,6
Titik leleh : 85 oF
10 SLS (Sodium Lauryl Keadaan fisikdan penampilan: Solid.
Sulfate) (Kristal padat.)
Warna :Putihkekuningan.
Rumus molekul : NaC12H25SO4
Berat molekul : 288,38 gr/mol
Densitas : 1,01 gr/cm3
Titik lebur : 206 0C

Kebanyakan kotoran pada pakaian melekat sebagai lapisan tipis minyak.


Jika lapisan minyak ini dapat di singkirkan, berarti partikel kotoran itu dapat di
cuci. Molekul sabun terdiri dari rantai hidrokarbon yang panjang. Rantai
hidrokarbon tersebut bersifat lipofilik (tidak suka air) dan hidrofilik ( suka air ).
Bila sabun di kocok dengan air akan membentuk dispersi koloid, bukannya
larutan sejati. Larutan sabun mengandung agregat molekul sabun yang disebut
dengan misel. Rantai karbon nonpolar atau lipofilik atau tidak suka air mengarah
kebagian pusat misel, dan pada bagian yang polar mengarah pada permukaan
misel.
Dalam kerjanya untuk menyingkirkan kotoran, molekul sabun
mengelilingi dan mengemulsi butiran minyak atau lemak. Ekor lipofilik dari
molekul sabun melarutkan minyak. Ujung hidrofilik dan butiran minyak menjulur
ke arah air. Dengan cara ini butiran minyak terstabilkan dalam larutan air sebab
muatan permukaan yang negatif dari butiran minyak mencegah penggabungan
(koalesensi). Sifat menonjol lain dari sabun ialah tegangan permukaan yang
sangat rendah yang menjadikan larutan sabun lebih memiliki daya pembasahan
dibandingkan air saja. Akibatnya sabun termasuk golongan zat yang disebut
surfaktan. Gabungan dari daya pengemulsi dan kerja permukaan dari larutan
sabun memungkinkan untuk melepas kotoran dari permukaan yang sedang
dibersihkan dan mengemulsikannya sehingga kotoran itu tercuci bersama air.

1.2.8 Viskositas
Viskositas adalah gesekan internal fluida. Gaya viskos melawan gerakan
sebagian fluida relatif terhadap yang lain. Viskositas akan mempengaruhi kerja
shampo. Shampo yang terlalu kental akan memperlambat reaksi penyabunan pada
kotoran, sehingga terpecahnya emulsi pada larutan sehingga fasenya tidak
homogen dan apabila terlalu encer maka akan membutuhkan waktu yang lebih
lama. Faktor yang mempengaruhi viskositas :
a. Besar dan Bentuk Molekul
Molekul-molekul yang mudah berasosiasi mempunyai viskositas yang
besar, seperti air dan etanol. Zat ini membentuk asosiasi molekul dengan ikatan
hidrogen. Makin besar berat molekul, makin besar pula viskositas.
b. Suhu
Pada kebanyakan cairan viskositasnya turun dengan naiknya suhu. Menurut
teori ”lubang” terdapat kekosongan dalam cairan dan molekul bergerak secara
kontinyu ke dalam kekosongan ini, sehingga kekosongan akan bergerak keliling.
Proses ini menyebabkan aliran, tetapi memerlukan energi karena ada energi
pengaktifan yang harus mempunyai suatu molekul agar dapat bergerak ke dalam
kekosongan. Energi pengaktifan lebih mungkin terdapat pada suhu yang lebih
tinggi dan dengan demikian cairan lebih mudah mengalir.
c. Tekanan
Viskositas cairan naik dengan bertambahnya tekanan. Hal ini disebabkan
jumlah lubang berkurang, sehingga bagi molekul lebih sukar untuk bergerak
keliling satu terhadap yang lain.
d. Konsentrasi
Untuk suatu larutan viskositasnya bergantung pada konsentrasi atau
kepekatan larutan. Umumnya larutan yang konsentrasinya tinggi, viskositasnya
juga tinggi, sebaliknya larutan yang viskositasnya rendah, konsentrasinya juga
rendah.

1.2.9 Densitas
Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin
tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya.
Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total
volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya besi)
akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang
memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air). Massa jenis berfungsi untuk
menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Rumus untuk
menentukan massa jenis adalah
𝑚
ρ=
𝑣

Dimana: ρ = densitas (g/ml)


m = massa (g)
v = volume (ml)

Nilai massa jenis suatu zat adalah tetap, tidak tergantung pada massa
maupun volume zat, tetapi tergantung pada jenis zatnya, oleh karenanya zat yang
sejenis selalu mempunyai masssa jenis yang sama. Massa jenis zat dapat dihitung
dengan membandingkan massa zat (benda) dengan volumenya. Massa jenis
merupakan salah satu ciri untuk mengetahui kerapatan zat. Pada volume yang
sama, semakin rapat zatnya, semakin besar massanya. Sebaliknya makin
renggang, makin kecil massa suatu benda. Contoh : kubus yang terbuat dari besi
akan lebih besar massanya dibandingkan dengan kubus yang terbuat dari kayu,
jika volumenya sama. Pada massa yang sama, semakin rapat zatnya, semakin
kecil volumenya. Sebaliknya, semakin renggang kerapatannya semakin besar
volumenya. Contoh : volume air lebih besar dibanding volume besi, jika massa
kedua benda tersebut sama.
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat-alat Yang Digunakan


Alat-alat yang digunakan dalam percobaan pembuatan shampo motor
antara lain :
1. Wadah plastik
2. Sendok pengaduk dari plastik
3. Pipet tetes
4. Timbangan digital
5. Botol
6. Gelas ukur 100 ml
7. Cawan petri
8. Gelas piala
9. Batang pengaduk
10. Penangas Air
11. Picnometer
12. Viscometer Oswald

2.2. Bahan-bahan Yang Digunakan

Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan pembuatan shampo motor


antara lain :
1. LABS ( Linear Alkil Benzen Sulfonat)
2. SLS (Sodium Linear Sulfonat)
3. NaOH
4. Aquades
5. Parfum
6. Pewarna
7. Shampo komersial (KIT)
2.3 Prosedur Percobaan

a. Pembuatan larutan NaOH 40%


1. Sebanyak 10 gr NaOH kristal ditimbang kedalam cawan petri.
2. Aquades sebanyak 11,25 ml dimasukkan kedalam gelas ukur
3. 10 gram NaOH dimasukkan kedalam wadah, lalu air dmasukkan sedikit
demi sedikit.
4. NaOH diaduk hingga teraduk sempurna (homogen)

b. Pembuatan larutan LABSNa


1. LABS ditimbang kedalam gelas piala (variasi 0,2 mol, 0,3 mol dan 0,4
mol)
2. Timbang larutan NaOH sebanyak 20 gram.
3. Aquades disiapkan sebanyak 126 ml dalam gelas ukur.
4. Aquades dimasukkan kedalam wadah yang berisi NaOH.
5. LABS dimasukkan sedikit demi sedikit kedalam wadah yang berisi
larutan NaOH dan aquades sambil diaduk hingga homogen.

c. Pembuatan SLS
1. SLS sebanyak 10 gram ditimbang ke dalam cawan petri.
2. 60 ml aquades dimasukkan kedalam gelas piala
3. SLS dan aquades dicampur dan diaduk hingga homogen
4. Parfum dan pewarna dicampurkan kedalam larutan SLS

d. Pembuatan Shampo
1. Larutan LABSNa ditimbang sebanyak 140 gram.
2. Larutan LABSNa dan 6 gram larutan SLS dicampurkan.
3. Larutan diaduk hingga homogen, kemudian disaring
4. Shampo siap dan dimasukkan ke dalam botol.
e. Uji Karakteristik Shampo
 Viskositas
1. Pergunakan viscometer oswald yang bersih dan kering.
2. Dimasukkan (10-15ml ) cairan yang diukur viskositasnya kedalam
reservoir A (bola besar).
3. Atur penangas air pada suhu yang dikehendaki (400C ), biarkan
viskometer dan isinya selama 5 menit untuk mencapai suhu termostat.
4. Cairan dihisap melewati reservoir B (bola kecil), sedikit diatas garis
batas atas viscometer, kemudian ditutup dengan menggunakan jari,
agar cairan tidak turun.
5. Lepaskan jari untuk menurunkan cairan. Mulailah mencatat waktu
yang diperlukan untuk mengalir dari batas atas ke batas bawah
viscometer owsald. Lakukan pengerjaan ini beberapa kali.
6. Lakukan hal yang sama pada shampo KIT dan bandingkan hasilnya
dengan shampo buatan.
𝑡.⍴
µ = 𝜇𝑜
𝑡𝑜.⍴𝑜

Keterangan :
µ = Viskositas sampel
t = Waktu sampel
to = Waktu air
µo = Viskositas air pada suhu tertentu
⍴o = Densitas air padasuhutertentu
⍴ = Densitassampel

 Berat Jenis
1. Piknometer dibersihkan dan ditimbang .
2. Kemudian distandarisasikan volume aquades, masukkan aquades
kedalam piknometer kemudian timbang dan diperoleh volume
piknometer (BJ aqudes : 1 gr/ml)
3. Setelah itu uji densitas sampel, piknometer diisi dengan sampel
bersuhu 250C. Pengisian dilakukan sampai air dalam piknometer
meluap dan tidak ada gelembung udara didalamnya.
4. Piknometer dikeringkan dan ditimbang.
5. Piknometer dibersihkan dan dimasukkan shampo
6. Berat piknometer dengan isinya ditimbang.
7. Lakukan hal yang sama pada shampo KIT dan dibandingkan.
𝑊𝑝𝑜− 𝑊𝑝
⍴ (25oC) = 𝑉𝑝

Keterangan :
Wpo = Berat piknometer dan sampel (gr)
Wp = Berat piknometer kosong (gr)
Vp = Volume piknometer (ml)

 Tes aplikasi
1. 10 ml aquades dimasukkan kedalam gelas ukur
2. Ditambahkan 5 tetes minyak kedalamnya
3. Ditambahkan 5 tetes shampo dan dicatat lama waktu turun shampo
sampai ke dasar gelas.
4. Lakukan hal yang sama pada shampo KIT dan dibandingkan.

2.4 Data Hasil Pengamatan


Berikut merupakan data hasil pengamatan pada pembuatan shampo motor
dengan variasi penggunaan LABS sebesar 0,2 mol.

Pembuatan Larutan NaOH 40%


No. Prosedur Pengamatan
1. 10 gram NaOH dimasukkan ke - Warna larutan bening
wadah berisi 11,25 ml aquades - Timbul panas
Pembuatan LABSNa
No. Prosedur Pengamatan
1. 54 gram LABS dimasukkan ke - Tercampur menjadi
wadah berisi 20 gram larutan campuran yang homogen
NaOH. dan campuran berwarna
2. 126 ml aquades dicampurkan cream dan berbuih
dengan larutan LABS + NaOH

Pembuatan SLS
No. Prosedur Pengamatan
1. 10 gram SLS dimasukkan ke - Warna larutan bening
wadah berisi 60 ml aquades
2. Tambahkan parfum dan - Warna larutan merah
pewarna ke dalam larutan SLS

Pembuatan Shampo
No. Prosedur Pengamatan
1. LABSNa sebanyak 140 gram - Tercampur menjadi
dimasukan ke wadah berisi campuran yang homogen,
larutan SLS kental, dan dihasilkan
shampo berwana cream.

2.5 Reaksi-reaksi Yang Terjadi


Reaksi yang terjadi dalam pembuatan shampo motor antara lain :
a. Pembuatan Larutan NaOH 40%
NaOH(s) + H2O  NaOH(aq)

b. Pembuatan Larutan LABSNa


C12H25OSO3H + H2O C12H25OSO3H
LABS LABS
C12H25OSO3H +NaOH C12H25OSO3Na + H2O

LABS LABSNa

c. Pembuatan Larutan SLS


SLS(s) + H2O SLS(aq)
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Percobaan

Hasil percobaan pembuatan shampo motor dengan memvariasikan LABS


sebesar 0,2 mol (54 gr), 0,3 mol (79,8 gr) dan 0,4 mol (106,4 gr) disajikan pada
Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Hasil pengujian berat jenis aquades, shampo motor dan Kit.

Waktu untuk
melewati
Variasi mol
Berat jenis Viskositas perbatasan
Sampel uji LABS
(gr/ml) (mm/s) minyak dan
(mol)
aquades
(sekon)
0,2 0,932 0,08 23,29
Shampo
0,3 0,984 0,11 28,08
motor
0,4 1,008 0,15 42,2
Kit - 0,997 2,02 29,83

3.2 Pembahasan
Bahan yang penting dalam pembuatan shampo motor adalah surfaktan, yaitu
LABS (Linear Alkyl Benzene Sulfonat) dan surfaktan penunjang yaitu SLS
(Sodium Lauryl Sulfonat). Shampo dapat dengan cepat mengangkat kotoran
dikarenakan pada shampo terkandung NaOH. NaOH tersebut akan
bereaksi/berinteraksi dengan kotoran sehingga kotoran dapat terangkat dan
terbuang.
Tahapan proses pembuatan shampo motor dimulai dengan pembuatan
larutan NaOH 40%, yaitu dengan mencampurkan 11,25 ml aquades secara
perlahan-lahan ke dalam 10 gram NaOH. Pada saat pencampuran NaOH dan
aquades hasil yang didapat adalah timbulnya panas dan larutan bewarna bening
seperti air. Hawa panas yang keluar ini menjadi tanda bahwa NaOH memiliki sifat
eksoterm dikarenakan sifat basa nya.
Tahapan proses selanjutnya yaitu pembuatan LABSNa. Campuran
LABSNa ini dibuat dengan cara mencampurkan NaOH 40% sebanyak 20 gram,
aquades sebanyak 126 ml dan LABS secara perlahan-lahan. Percobaan pembuatan
shampo motor dilakukan dengan memvariasikan mol LABS yang digunakan,
yaitu sebesar 0,2 mol, 0,3 mol dan 0,4 mol. Shampo motor dengan variasi sebesar
0,2 mol dibuat dengan menggunakan 54 gram LABS, variasi sebesar 0,3 mol
dibuat dengan menggunakan 79,8 gram LABS, sedangkan variasi 0,4 mol dibuat
dengan menggunakan 106,4 gram LABS (Mr LABS = 266 gr/mol).
Pencampuran LABS, NaOH dan aquades akan menimbulkan busa.
Timbulnya busa ini merupakan bukti bahwa LABS merupakan surfaktan yang
bisa menghasilkan busa ketika bersatu dengan air dan diberi suatu gerakan
pengadukan. Pengadukan harus dilakukan secara pelan untuk mendapatkan hasil
shampo yang bagus. Campuran yang dihasilkan harus bersifat homogen, yaitu
tercampur secara sempurna. LABSNa dengan variasi 0,2 mol LABS
menghasilkan campuran berwarna cream, LABSNa dengan variasi 0,3 mol LABS
menghasilkan campuran berwarna coklat muda, sedangkan LABSNa dengan
variasi 0,4 mol LABS menghasilkan campuran berwarna coklat tua.
Larutan LABSNa kemudian ditambahkan larutan SLS di mana SLS
berfungsi sebagai surfaktan penunjang. SLS dibuat dengan melarutkan sebanyak
10 gram SLS ke dalam 60 ml aquades. Penambahan larutan SLS diikuti dengan
penambahan zat aditif yakni pewarna dan pengharum. Campuran yang dihasilkan
bersifat homogen, kental dan dikenal dengan shampo. Shampo hasil percobaan
disajikan pada Gambar 3.1.
Uji karakteristik shampo yang dilakukan antara lain pengujian berat jenis
shampo, viskositas shampo dan waktu yang dibutuhkan shampo untuk menembus
batas antara minyak dengan aquades. Sebagai pembanding shampo hasil
percobaan digunakan salah satu jenis shampo motor komersial, yaitu shampo
motor merk “Kit”.
Gambar 3.1 Shampo hasil percobaan: 0,2 mol LABS (kiri), 0,3 mol LABS
(tengah) dan 0,4 mol LABS (kanan)

(Sumber: Arsip pribadi)

3.2.1 Uji Berat Jenis Shampo Motor dan Kit

Berat jenis shampo pada berbagai variasi mol LABS hasil percobaan dan
shampo komersial Kit disajikan pada Gambar 3.2.

1.008
1.02
0.997
1 0.984
Berat Jenis (gr/ml)

0.98
0.96
0.932
0.94
0.92
0.9
0.88
LABS 0,2 mol LABS 0,3 mol LABS 0,4 mol Kit

Sampel Uji

Gambar 3.2 Berat jenis shampo pada berbagai variasi mol LABS hasil percobaan
dan shampo komersial Kit.
Berdasarkan Gambar 3.2 dapat dilihat bahwa adanya peningkatan berat jenis
shampo hasil percobaan pada berbagai variasi mol LABS. Shampo dengan LABS
0,2 mol memiliki berat jenis sebesar 0,932 gr/ml, shampo dengan LABS 0,3 mol
memiliki berat jenis sebesar 0,984 gr/ml sedangkan shampo dengan LABS 0,4
mol memiliki berat jenis sebesar 1,008 gr/ml. Semakin besar mol LABS yang
digunakan, maka semakin banyak massa LABS yang ditambahkan ke dalam
shampo, sehingga shampo yang dihasilkan semakin berat (kerapatan partikel
penyusunnya sangat besar). Akibatnya, berat jenis shampo pun semakin
meningkat.

Berdasarkan Gambar 3.2 juga dapat dilihat bahwa berat jenis shampo
komersial kit didapat sebesar 0,997 gr/ml. Sebelum shampo motor komersial kit
dipasarkan, tentunya telah melalui berbagai pengujian dari pihak yang berwenang
mengenai baku mutu atau karakteristik shampo motor kit tersebut. Oleh karena
itu, dapat dibandingkan karakteristik shampo pada variasi mol LABS mana yang
sesuai atau mendekati karakteristik shampo komersial kit sehingga layak untuk
dipasarkan. Berdasarkan hasil percobaan, berat jenis shampo dengan variasi 0,3
mol LABS mendekati berat jenis kit. Ini berarti shampo dengan 0,3 mol LABS
memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan shampo pada variasi mol LABS
lainnya.
3.2.2 Uji Viskositas Shampo Motor dan Kit

Viskositas shampo pada berbagai variasi mol LABS hasil percobaan dan
shampo komersial Kit disajikan pada Gambar 3.3.

2.02

2
Viskositas (mm/s)

1.5

0.5 0.15
0.08 0.11

0
LABS 0,2 mol LABS 0,3 mol LABS 0,4 mol Kit

Sampel Uji

Gambar 3.3 Viskositas shampo pada berbagai variasi mol LABS hasil percobaan
dan shampo komersial Kit.

Uji viskositas dilakukan dengan cara menghitung berapa lama waktu yang
dibutuhkan shampo dan kit untuk melewati tabung yang terdapat pada viscometer
oswald. Berdasarkan Gambar 3.3 dapat dilihat bahwa adanya peningkatan
viskositas shampo hasil percobaan pada berbagai variasi mol LABS. Shampo
dengan LABS 0,2 mol memiliki viskositas sebesar 0,08 mm/s, shampo dengan
LABS 0,3 mol memiliki viskositas sebesar 0,11 mm/s sedangkan shampo dengan
LABS 0,4 mol memiliki viskositas sebesar 0,15 mm/s. Semakin besar mol LABS
yang digunakan, maka semakin banyak massa LABS yang ditambahkan ke dalam
shampo, Akibatnya, viskositas shampo yang dihasilkan pun semakin meningkat.

Berdasarkan Gambar 3.3 juga dapat dilihat bahwa viskositas shampo


komersial Kit didapat sebesar 2,02 mm/s. Nilai ini sangat jauh berbeda dari
viskositas shampo hasil percobaan. Nilai viskositas yang basar ini terjadi karna
gaya tarik menarik antar molekul penyusun KIT lebih kecil dibandingkan dengan
shampo, gaya tarik menarik (kohesi) ini menyebabkan terjadinya gesekan yang
lebih kecil antar lapisan larutan saat larutan dituangkan. Sedangkan pada shampo
gaya kohesi antar molekul larutan lebih besar, akibatnya gesekan yang timbul
lebih banyak sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama saat dituangkan.
Artinya, shampo motor hasil percobaan memiliki kekentalan yang lebih tinggi
dibandingkan shampo komersial Kit.

3.2.3 Penentuan Waktu yang Dibutuhkan Shampo Motor dan Kit untuk
Menembus Batas antara Minyak dengan Aquades

Waktu yang dibutuhkan shampo motor dan kit untuk menembus batas
antara minyak dengan aquades disajikan pada Gambar 3.4.

42.2

42
Waktu untuk menembus batas

29.83
35 28.08
minyak dengan air

28 23.29
(sekon)

21

14

0
LABS 0,2 mol LABS 0,3 mol LABS 0,4 mol Kit

Sampel Uji

Gambar 3.4 Waktu yang dibutuhkan shampo motor dan kit untuk menembus
batas antara minyak dengan aquades.

Pengujian terakhir yang dilakukan yaitu menghitung waktu yang dibutuhkan


oleh shampo dan Kit untuk menembus campuran minyak-air. Berdasarkan
Gambar 3.4 dapat dilihat bahwa adanya peningkatan waktu yang dibutuhkan oleh
shampo hasil percobaan pada berbagai variasi mol LABS untuk menembus batas
campuran minyak-air. Shampo dengan LABS 0,2 mol memiliki waktu tembus
atau waktu tes aplikasi sebesar 23,29 sekon, shampo dengan LABS 0,3 mol
memiliki waktu tes aplikasi sebesar 28,08 sekon, sedangkan shampo dengan
LABS 0,4 mol memiliki waktu tes aplikasi sebesar 42,2 sekon. LABS merupakan
surfaktan anionik yang digunakan untuk membersihkan lemak/minyak.
Berdasarkan hasil percobaan, shampo yang paling cepat mengikat dan melarutkan
lemak/minyak yaitu sahmpo dengan variasi LABS 0,2 mol.

Berdasarkan Gambar 3.4 juga dapat dilihat bahwa waktu yang dibutuhkan
oleh Kit untuk menembus campuran minyak-air didapat selama 29,83 sekon.
Sebelum shampo motor komersial kit dipasarkan, tentunya telah melalui berbagai
pengujian dari pihak yang berwenang mengenai baku mutu atau karakteristik
shampo motor kit tersebut. Oleh karena itu, dapat dibandingkan karakteristik
shampo pada variasi mol LABS mana yang sesuai atau mendekati karakteristik
shampo komersial kit sehingga layak untuk dipasarkan. Berdasarkan hasil
percobaan, waktu tes aplikasi shampo dengan variasi 0,3 mol LABS mendekati
waktu tembus kit. Ini berarti shampo dengan 0,3 mol LABS memiliki kualitas
yang lebih bagus dibandingkan shampo pada variasi mol LABS lainnya.

Berdasarkan hasil percobaan, secara keseluruhan, karakteristik shampo yang


mendekati karakteristik shampo komersial Kit yaitu shampo motor dengan variasi
0,3 mol LABS. Shampo dengan variasi 0,3 mol LABS memiliki berat jenis,
viskositas dan waktu yang dibutuhkan untuk menembus perbatasan minyak-air
secara berturut-turut sebesar 0,984 gr/ml, 0,11 mm/s dan 28,08 sekon.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

1. Semakin besar mol LABS maka berat jenis shampo yang dihasilkan juga
semakin besar. Shampo dengan LABS 0,2 mol memiliki berat jenis sebesar
0,932 gr/ml, shampo dengan LABS 0,3 mol memiliki berat jenis sebesar
0,984 gr/ml sedangkan shampo dengan LABS 0,4 mol memiliki berat jenis
sebesar 1,008 gr/ml. Berat jenis Kit yang diuji yaitu didapat sebesar 0,997
gr/ml.

2. Semakin besar mol LABS maka viskositas shampo yang dihasilkan juga
semakin besar. Shampo dengan LABS 0,2 mol memiliki viskositas sebesar
0,08 mm/s, shampo dengan LABS 0,3 mol memiliki viskositas sebesar 0,11
mm/s sedangkan shampo dengan LABS 0,4 mol memiliki viskositas sebesar
0,15 mm/s. Viskositas Kit yang diuji yaitu didapat sebesar 2,02 mm/s.

3. Semakin besar mol LABS maka waktu yang dibutuhkan oleh shampo untuk
menembus batas campuran minyak-air juga akan semakin besar. Shampo
dengan LABS 0,2 mol memiliki waktu tembus atau waktu tes aplikasi
sebesar 23,29 sekon, shampo dengan LABS 0,3 mol memiliki waktu tes
aplikasi sebesar 28,08 sekon, sedangkan shampo dengan LABS 0,4 mol
memiliki waktu tes aplikasi sebesar 42,2 sekon. Waktu yang dibutuhkan
oleh Kit untuk menembus batas campuran minyak-air yaitu 29,83 sekon.

4. Karakteristik shampo yang mendekati karakteristik shampo komersial Kit


yaitu shampo motor dengan variasi 0,3 mol LABS.
4.2. Saran.

1. Pada saat pencampuran zat harus mengetahui sifat-sifat dari zat tersebut,
untuk mengetahui zat mana yang harus dimasukkan terlebih dahulu.
2. Proses pengadukan harus dilakukan secara perlahan guna meminimalisir
pembentukan busa.
2. Pada saat tes aplikasi sebaiknya menggunakan volume shampo yang sama
agar hasil yang didapat akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Panduan Deterjen. [Online] Tersedia: http://www.scribd.com


[Diakses pada 17 Desember 2013]
Anonim, 2007. Wacana Tentang Surfaktan. [online] Tersedia :
http://www.scribd.com [Diakses pada 17 Desember 2013]
Anonim. 2008. Massa Jenis. [omline] Tersedia : http://www.scribd.com [Diakses
pada 17 Desember 2013]
Fessenden, 1990. Kimia Organik 3rd Edition, Jakarta: Erlangga
Hayyan, Ibnu, 2008. Surfaktan. [online] Tersedia :
http://www.ibnuhayyan.wordpress.com [Diakses pada 17 Desember 2013]
Kusuma, Ersanghono. 2003. Sintesis Organik. Semarang: Jurusan Kimia FMIPA
UNNES.
LAMPIRAN A
PERHITUNGAN

Berikut merupakan contoh-contoh perhitungan yang terdapat di dapam


percobaan pembuatan shampo motor.

a. Pembuatan Larutan NaOH 40 %


Diketahui: Massa NaOH = 10 gram
Mr NaOH = 40 g/mol
Mr H2O = 18 g/mol
Ditanya : Volume H2O
Jawab : n NaOH = massa NaOH
Mr NaOH
= 10
40
= 0,25 mol

Volume H2O = n NaOH . Mr H2O


0,4
= 0,25 . 18
0,4
= 11,25 ml

Jadi, untuk membuat larutan NaOH 40% dengan massa 10 gram diperlukan
pelarut yaitu aquades sebanyak 11,25 ml.

b. Menghitung berat jenis shampo pada variasi LABS 0,2 mol


Diketahui : Massa picnometer kosong = 15,24 gram
Volume picnometer = 10 ml
Massa shampo + picnometer = 24,56 gram
Ditanya : Berat jenis, 𝜌 ?
Jawab :
(Berat picno + biodiesel) − (Berat picno kosong)
berat jenis =
volume picnometer
(24,56−15,24)𝑔𝑟
=
10 𝑚𝑙
= 0,932 gr/ml

Jadi, didapat berat jenis shampo pada variasi LABS 0,2 mol sebesar 0,96 g/ml.
Perhitungan berat jenis shampo lainnya serta kit menggunakan cara yang sama.

c. Mengitung viskositas shampo pada variasi LABS 0,2 mol


Diketahui : Jarak tanda batas atas hingga bawah = 30 mm
Efflux time = 373 sekon
Ditanya : Viskositas
Jawab :
jarak 30 mm
viskositas = = = 0,08 mm/s
waktu 373 sekon
Jadi, didapat viskositas shampo pada variasi LABS 0,2 mol sebesar 0,08 mm/s.
Perhitungan viskositas shampo lainnya serta kit menggunakan cara yang sama.
LAMPIRAN B

LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum : Pembuatan Sampo Motor


Hari/Tanggal Praktikum : Rabu/13 November 2013
Pembimbing : Drs.Irdoni, Hs. M.S
Asisten Laboratorium : Randi Farlindo
Nama Kelompok II : Rita Puriani Mendrova (1107035609)
Ryan Tito (1107021186)
Yakub Jeffery Silaen (1107036648)

Hasil percobaan :

Tabel B.1 Hasil pengujian berat jenis aquades, shampo motor dan Kit.

Variasi mol Volume Berat picno Picno berisi Berat


Sampel uji LABS picno kosong shampo jenis
(mol) (ml) (gr) (gr) (gr/ml)
Aquades - 10 15,24 25,07 0,983
0,2 10 15,24 24,56 0,932
Shampo 0,3 10 15,26 25,34 0,984
motor
0,4 10 15,26 25,10 1,008
Kit - 10 15,26 25,23 0,997

Tabel B.2 Hasil pengujian viskositas aquades, shampo motor dan Kit.

Variasi Jarak tanda batas atas Eflux


Sampel Suhu Viskositas
mol LABS ke tanda batas bawah time
uji (oC) (mm/s)
(mol) (mm) ( sekon )
Aquades - 40 30 1,14 26,3

0,2 40 30 373 0,08


Shampo 30 0,11
0,3 40 269
motor
0,4 40 30 192 0,15
Kit - 40 30 14,87 2,02
Tabel B.3 Hasil pengukuran waktu yang dibutuhkan oleh sampo motor dan kit
untuk melewati perbatasan minyak dan aquades.

Waktu untuk melewati


Variasi mol LABS perbatasan minyak dan
Sample uji
(mol) aquades
(sekon)
0,2 23,29
Shampo motor 0,3 28,08
0,4 42,2
Kit - 29,83

Pekanbaru, 13 November 2013

Asisten laboratorium,

Randi Farlindo