Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PEMBAHASAN

DINAMIKA EKONOMI KOLONIAL

A. Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia dari VOC ke Hindia Belanda

Setelah VOC runtuh maka sistem ekonomi dikuasi oleh pemerintahan Hindia Belanda
yang mengakibatkan perubahan struktur ekonomi di Indonesia. Perang Perancis-Inggris
membahayakan Indonesia, karena Inggris berusaha merebut daerah-daerah VOC. Louis
Napoleon mengirim Daendels sebagai Gubernur Jenderal ke Indonesia. Tugas utama
Daendels di Indonesia adalah mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Tugas
lainnya adalah memperbaiki nasib rakyat selaras dengan cita-cita Revolusi Perancis.

Dalam menjalankan tugasnya itu, Daendels memberantas sistem feodal yang


sangat diperkuat oleh VOC. Untuk mencegah penyalah-gunaan kekuasaan, serta hakhak
bupati mulai dibatasi, terutama yang menyangkut penggunaan tanah dan pemakaian
tenaga rakyat. Baik wajib tanam maupun wajib kerja hendak dihapuskannya. Hal ini
tidak hanya akan mengurangipemerasan oleh para penguasa tetapi juga lebih selaras dengan
prinsip kekebasan berdagang.1

Kondisi pada waktu itu menjadi hambatan pokok bagi pelaksanaan ide-ide
bagus tersebut. Hal ini disebabkan karena pada saatitu keadaan masih berlaku zaman VOC
ialah bahwa para bupati dan penguasa daerah lainnya masih memegang peranan dalam
perda-gangan. Sebagai perantara mereka memperoleh keuntungan, antara lain berupa
prosenan kultur. Hadiah tersebut berupa presentasi dari harga tafsiran penyerahan
wajib dan kontingen yang dipungut dari rakyat. Sistem itu membawa akibat bahwa
pasaran bebas tidak berkembang dan tidak muncul suatu golongan pedagang, suatu
unsur sosial yang lazim berperan penting dalam proses liberalisasi masyarakat feodal
atau tertutup.

Di samping itu wajib penyerahan juga masih berlaku yaitu pajak hasil bumi
(kontingenten). Ia juga mengadakan pinjaman paksa dan monopoli beras, serta menjual
sebagian tanah gubernemen (pemerintah) kepada kaum pengusaha (partikelir atau

1
Kartodirdjo.Sartono.1987.Pengantar Indonesia Baru 1500-1900.Yogyakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama. Hlm
:291
swasta). Dengan demikian pada masa pemerintahan Daendels sebenarnya sistem
tradisional masih berjalan terus.

Daendels gagal dalam menjalankan tugasnya dan kemudian pemerintahan jatuh


ketangan Raffles. Tugas utama Raffles adalah memperbaiki nasib rakyat. Dalam rangka
memperbaiki nasib rakyat, pajak hasil bumi (kontingen) dan leveransi paksa dihapus
diganti pajak tanah (landrente). Dengan pengertian bahwa semua tanah milik
Gubernemen sehingga rakyat wajib membayar rente atau sewa. Pajak tanah ditetapkan
sebesar 2/5hasil panen, boleh dibayar dengan hasil bumi atau uang.

Di samping itu, Raffles juga menjual tanah Gubernemen kepada orang-orang


swasta. Raffles juga melarang perdagangan budak dan pandelingschap (membayar
hutang dengan tenaga). Raflles juga mengadakan monopoli garam. Untuk melaksanakan
politiknya, Raffles dihambat oleh unsur feodal yang sangat kuat kedudukannya dan sistem
ekonomi yang masih bersifat tertutup sehingga pembayaran pajak belum dapat
dilakukan sepenuhnya dengan uang, tetapi in natura (hasil bumi). Dengan demikian,
politik kolonial berdasarkan liberalisme tidak cocok dan tidak realistis

Setelah Napoleon jatuh tahun 1814, Inggris dan Belanda mengadakan Tarktat
London I (1814). Setelah Traktat London I ditandatangani (1814), maka pemerintah
Belanda membentuk suatu komisi yang akan menerima kembali semua jajahannya di
Asia Tenggara dari pemerintah Inggris di Indonesia. komisi yang dibentuk Belanda
untuk menerima kembali Indonesia dari Inggris dinamakan Komisi Jenderal. Adapun
anggota komisi tersebut adalah Cornelius Theodore Elout, A. A. Buyskes dan Baron
van der Capellen. Dalam tahun 1816 komisi ini datang ke Indonesia. Dalam tahun itu
juga Letnan Gubernur Inggris, John Fendall menyerahkan Indonesia kepada Belanda.

Di samping bertugas menerima Indonesia dari tangan Inggris, komisi tersebut


juga mempunyai kewajiban-kewajiban dibidang perekonomian, seperti Mengusahakan
ketenteraman dan perbaikan nasib penduduk Indonesia, misalnya penduduk harus
dilindungi dari perlakuan sewenang-wenang, perdagangan dan pertanian (penanaman)
harus bebas, kecuali tanaman kopi, rempah-rempah dan candu.
Berdasarkan hak dan kewajiban Komisi Jenderal, akhirnya berhasil disusun suatu
pedoman pemerinhan yang benar-benar bersifat liberal , yaitu:

a. Pajak tanah yang dibuat oleh Raffles dilanjutkan, hanya lebih disempurnakan agar
peraturan-peraturan yang bersifat sewenang-wenang tidak terjadi lagi.
b. Pajak tersebut dapat dibayar dengan uang kontan atau dengan barang-barang.
Peraturan ini bertujuan untuk menghindarkan rakyat dari para peminjam uang, serta
agar lebih memudahkan bagi mereka yang memiliki uang.
c. Pajak kepala tidak dipungut secara perorangan tetapi dibayar oleh desa. Cara
ini menyimpang dari tujuan, namun merupakan pendekatan yang lebih realistis.
Namun sistem ini bisa mengurangi banyaknya petugas, serta mengatasi kesulitan
tanahtanah yang belum diukur secara renci.
d. Besarnya pajak harus disetujui oleh kerajaan dan desa yang bersangkutan.
e. Rakyat tidak boleh disuruh kerja paksa. Orang-orangyang datang bekerja dengan
sendirinya harus dibayar sesuai dengan bidang garapnya.
f. Penanaman wajib bagi tanaman-tanaman tertentu diteruskan guna mendapatkan
devisa negara, misalnya kopi di Priangan. Pengawasan tanaman model
pelayaran Hongi di Maluku, dihapuskan.
g. Perlu ada penambahan pegawai, pegawai yang buruk dipecat. Pegawai pribumi
diperlakukan dengan hormat, dan digaji dengan uang (bukan tanah atau
memeras rakyat).
h. Sistem pemerintahan tidak langsung dihidupkan kembali, pengadilan dibentuk,
dengan sistem dua lapis. Perkara yang menyangkut orang Eropa dan pribumi
hendaklah diadili dalam pengadilan yang berbeda, dan dipimpin oleh hakim bukan
juri.
i. Pembaruan Raffles yang menghormati hak asasi manusia dan penghapusan
perbudakan diteruskan dan diabadikan.

Pada tahun 1819 tugas Komisi Jenderal dinilai sudah selesai, sehingga Elout dan
Buyskes kembali ke Nederland sedangkan van der Capellen tinggal di Indonesia
sebagai Gubernur Jenderal. Di antara pembaruan-pembaruan yang dicoba oleh van der
Capellen adalah pembaruan sistem perdagangan yang akhirnya mengundang kemarahan
orang-orang Eropa (terutama orang Belanda) terhadapnya.
Dalam tahun 1821 van der Capellen mengeluarkan undang-undang yang
melarang segala bentuk perdagangan Eropa di daerah kopi (Priangan), kecuali dengan izin
khusus.Ia melakukan hal tersebut dengan harapan untuk melindungi orang-orang Indonesia
agartidak ditipu oleh para pedagang Eropa serta untuk memperbesar hasil bagi
pemerintahBelanda.

Tindakan lain yang juga mengundang kemarahan orang Eropa adalah peraturan yang
dikeluarkan tahun 1823. Dalam pembaruan itu dia melarang orang-orang Eropa
menyewa tanah rakyat. Peraturan ini juga untuk melindungi orang pribumi.
Orangorang Eropa (terutama Belanda) yang merasa paling dirugikan adalah yang menyewa
tanah di Surakarta dan Yogyakarta. Mereka sudah membayar uang muka yang besar,
sehingga sewaktu peraturan itu turun, maka mereka menuntut pengembalian uang muka
yang sudah habis dibelanjakan oleh orang-orang pribumi. Akibatnya orangorang
pribumi itu, terutama para pegawai dan peladang merasa kecewa terhadap pemerintah
Belanda.

Anggaran belanja negara semasa pemerintahan van der Capellen senantiasa


menunjukkan defisit, sehingga Negeri Belanda harus menutupnya. Dalam keadaan
kesulitan keuangan yang dialami Negeri Belanda sendiri pada waktu itu, maka suatu
koloni yang tak dapat mencukupi keperluan sendiri adalah sesuatu yang tak ada
gunanya. Karenanya keadaan itu tidak dapat dipertahankan lagi, sehingga pada tahun 1825
Pemerintah Belanda memanggil Gubernur Jenderal van der Capellen kembali ke negeri
Belanda.2

B. Merkantilisme : Negara Sebagai Pedagang

Istilah merkantilisme berasal dari kata merchant yang bererti berdagang. Menurut
paham merkantikisme, syarat mejunya suatu negara adalah dengan cara negara tersebut
berdagang dengan negara lainnya. Dari perdagangan luar negeri itu, negara akan mendapat
keuntungan yang di terima berupa emas maupun perak.

Merkantilisme dianut oleh banyak negara, diantaranya ialah Portugis, Spanyol,


Inggris Prancis, dan Belanda. Perdagangan yang mereka lakukan, bukan saja hanya dengan
sesama bangsa eropa, melaikan pula dengan bangsa bangsa lain di dunia termasuk hindia
belanda (indonesia pada waktu itu). Tujuan perdagangan yang mereka lakukan adalah untuk

2
Ibid Hlm 336
mendapatkan barang dengan semurah murahnya dan menjual barang semahal mahalnya demi
surplus pendapatan negara atau engan kata lain mengekspor sebanyak banyaknya dan
mengimpor se minimal mungkin.

Untuk memenuhi keinginan tersebut banyak cara yang harus mereka lakukan, diantaranya
seperti mengamankan jalur perdagangan, hingga mencari daerah daerah baru yang di jadikan
taklukan agar bisa memproduksi surplus (menjajah).

Bentuk bentuk merkantilisme dan dampaknya bagi perekonomian nusantara

Bentuk merkantilisme di indonesia pada masa kolonial antara lain rodi di zaman
Belanda. Dominasi belanda di nusantara semakin hari semakin merajalela, hingga pada
akhirnya setelah raja raja bisa di taklukan Belanda berlaku sewenang wenang terhadap rakyat
dengan memberlakukan rodi atau kerja paksa tanpa upah.

Rodi terparah yang pernah dilakukan belanda adalah dimasa kepemimpinan gubernur
Jenderal Daendels(1809-1811), yakni dalam rangka pembangunan pangkalan laut di Anyer
serta Jalan Raya dari Anyer, Banten hingga ke Panarukan di Jawa Timur. Bentuk lain dari
merkantilisme pada masa itu yaitu sistem sewa tanah. Pada zaman Gubernur Jenderal Raffles
(1811-1816) yang mewakili pemerintahan Inggris di Nusantara, dilakukan pembaharuan
Raffles ingin mengatur perekonomian Jawa dengan cara yang berbeda dengan VOC. Raffles
meniadakan Rodi dan penyerahan hasil bumi. Dia berpendapat bahwa hal tersebut tidak
sesuai dengan zaman.

Pendapatan negara dimasa pemerintahan Raffles didapat dari pajak sewa tanah.
Raffles berpandangan bahaw pada hakikatnya tanah adalah miiik negara, dan rakyat hanya
memiliki hak untuk mengolahnya dan pembayaran pajak harus dilakukan dengan lancar.

C. Pertanian : Praktek Sistem Tanam Paksa di Jawa dan Luar Jawa (perkembangan di
Minangkabau)

1. Praktek Sistem Tanam Paksa di Jawa

Pelaksanaan Sistem Tanam Paksa di Jawa berjalan terus tanpa diketahui oleh
pemerintah pusat apakah akibat yang akan ditimbulkannya. Pada tahun 1843 terbukalah mata
penguasa di Batavia waktu ada berita tentang kelaparan di Cirebon. Produksi untuk eksport
harus memenuhi target, maka baik tanah maupun tenaga dikerahkan untuk tanam paksa
hingga produksi pangan sendiri terbengkalai. Kelaparan pada tahun 1843-1848
mengakibatkan turunnya jumlah penduduk dengan cepat. Produksi beras merosot dan ekspor
pun juga, sementara itu impornya naik. 3

Penyerahan tenaga untuk mengerjakan tanam paksa tidak jarang melampaui batas-
batasnya, seperti rakyat disuruh pergi jauh dari desanya untuk mengerjakan penanaman
Indigo selama berbulan-bulan, juga untuk menanam kopi didaerah yang baru dibuka.
Penenaman tebu membawa beban yan g sangat berat bagi rakyat oleh karena menunut
pengolahan tanah yang intensif, pengairan, pemeliharaan sampai dengan panen yang bnayak
memakan waktu dan tenaga.

Tanam paksa atau cultuur stelsel adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur
Jenderal Johannes van den Bosch yang mewajibkan setiap desa harus menyisihkan sebagian
tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor khususnya kopi, tebu, nila. Hasil tanaman
ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan
hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki
tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah
yang menjadi semacam pajak. Pada prakteknya peraturan itu dapat dikatakan tidak berarti
karena seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman laku ekspor dan hasilnya
diserahkan kepada pemerintahan Belanda. Wilayah yang digunakan untuk praktek cultur
stelstel pun tetap dikenakan pajak. Warga yang tidak memiliki lahan pertanian wajib bekerja
selama setahun penuh di lahan pertanian. 4

Tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktek ekonomi Hindia Belanda.
Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena
ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani
yang pada jaman VOC wajib menjual komoditi tertentu pada VOC, kini harus
menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya dengan harga yang ditetapkan kepada
pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal
pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia-Belanda pada 1835 hingga 1940.

Akibat sistem yang memakmurkan dan menyejahterakan negeri Belanda ini, Van den
Bosch selaku penggagas dianugerahi gelar Graaf oleh raja Belanda, pada 25 Desember 1839.
Culturstelseldi Jawa dimulai pada tahun 1836 atas inisiatif seseorang yang berpengalaman

3
Kartodirdjo.Sartono.1987.Pengantar Indonesia Baru 1500-1900.Yogyakarta:PT.Gramedia Pustaka Utama. Hlm
:318
4
Poesponegoro,Marwati,Djoened dan Notosusanto,Nugroho.1976.Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta : Balai
Pustaka. Hlm : 180
dalam urusan tersebut yaitu VanDen Bosch yang telah memiliki pengalaman dalam
mengelola perkebunan di wilayah kekuasaan Belanda di Kepulauan Karibia. Tujuan
Van Den Bosch yang dijadikan Gubernur Jenderal adalah “mentransformasikan pulau Jawa
menjadi eksportir besar-besaran dari produk-produk agraria, dengan keuntungan dari
penjualannya terutama mengalir ke keuangan Belanda.

Tujuan Van Den Bosch dengan sistem cultuurstelsel di Jawa itu adalah untuk
memproduksi berbagai komoditi yang menjadi permintaan di pasaran dunia. Untuk
mencapai tujuan tersebut Bosch menganjurkan pembudidayaan berbagai produk seperti
kopi, gula, indigo (nila), tembakau, teh, lada, kayumanis, jarak, dan lain sebagainya.
Persamaan dari semua produk itu adalah bahwa petani dipaksakan oleh pemerintah
kolonial untuk memproduksinya dan sebab itu tidak dilakukan secara voluter.

2. Perkembangan di Minangkabau

Kopi yang berasal dari pegunungan Minangkabau itu merupakan faktor utama dalam
usaha belanda untuk menguasai daerah tersebut. Perdagangan yang sangat menguntungkan
inilah yang merangsang keinginan Belanda, dan karena hasil produksi rumah tangga dan
perorangan inilah, mereka getol sekali untuk mengaturnya di bawah sistem tanam paksa itu.
Untuk mencapai tujuan-tujuan politik dan ekonomi itu, Belanda harus mematahkan pengaruh
para pemimpin gerakan padri yang memiliki kemampuan besar untuk memobilitir
perlawanan orang Minangkabau terhadap tuntutan-tuntutan Belanda. Kelemahan kaum padri,
walaupun para pemimpin mereka secara moral bersatu dalam menghadapi penjajahan
belanda, terletak pada kenyataan, bahwa wewenang pribadi masing-masing pemimpin padri
itu terbatas hanya pada bagian tertentu dari alam Minangkabau. Kelompok-kelompok
komunitas padri di bawah pimpinan yang berlainan, satu par satu dilayani oleh Belanda,
sehingga, tidak lama sesudah itu, Belanda memperoleh kemenangan karena tidak adanya
perlawanan efektif kaum padri yang menyeluruh di Minangkabau.

Awal perkebunan kopi bebas di sumatera barat pada akhir abad ke 18 dan awal abad
ke 19, dan meliputi ekspansi perkebunan itu serta artinya bagi keadaan sosial yang lebih luas.
Antara tahun 1820 dan akhir 1840an Belanda berusaha mengawasi perdagangan kopi di
Minangkabau, baik secara langsung maupun tidak langsung. Van den Bosch menganjurkan
penggunaan pajak dan uang perangsang untuk menggalakkan penjualan kopi kepada kantor
dagang Belanda (NIIM). Upaya mereka untuk membangun perkebunan-perkebunan besar
yang dikerjakan oleh pekerja wajib secara komunal yang diawasi, semua itu gagal.
Karakteristik pada awal penanaman kopi bebas:

1. Boros dalam menggunakan tanah


2. Cukup hemat dalam jumlah tenaga kerja.
3. Spesialisai rumah tangga daalam penanaman kopi tak pernah bersifat menyeluruh.
4. Kopi hanya di tanam di daerah pegunungan yang secara ekologi cocok dengan
lingkungannya.
5. Harga pasar kopi di daerah pantai sedikit lebih tinggi daripada yang diterima oleh
para petani dari pedagang kecil, yang mengangkut kopi itu dari daerah
pegunungan.

Sistem tanam paksa pada akhir tahun-tahun 1840an berusaha mempertahankan tiga
karakteristik pertama tersebut di atas untuk menjamin kesinambungan produksi, dan
menyelesaikan dua karakteristik terakhir demi keuntungan pemerintah. Kopi tetap di
usahakan oleh orang-orang yang bukan ahli dari rumah-rumah tangga dengan menggunakan
banyak lahan dan sedikit pekerja. Tetapi sekarang ia harus di tanam oleh setiap kampung di
pegunungan, dan tidak hanya oleh kampung-kampung dengan lahan yang sesuai untuk
penanaman kopi, dan selisih antara harga pasar dunia dan jumlah uang yang diterima oleh
para produsen setempat tidak mengalir kepada para pedagang kecil, tetapi masuk kantong
pemerintah.

Belanda menamakan kopi tersebut hasil panen rakyat, namun, tujuan utama dari
penanamannya di bawah sistem tanam paksa itu bukanlah demi keuntungan rakyat.
Pentingnya sistem tanam paksa di sumatera barat terletak pada hubungan yang terjalin antara
pemerintah kolonial Belanda dan para petani Minangkabau, tetapi bukan unsur-unsur itu saja
yang dijamah oleh penanaman kopi secara paksa di daerah pegunungan itu. Para pemimpin
agama tidak terpengaruh, tetapi para penghulu merasakan kedudukan mereka agak terjepit
karena hubungan mereka dengan sistem itu.
D. Perkebunan dan pertambangan

Agrarische Wet (UU Agraria) 1870 menandai dimulainya era liberal di Jawa.
Pengelolaan Jawa tidak lagi monopoli pemerintah, kini pihak swasta memiliki kesempatan
yang sama untuk melakukan eksploatasi. UU itu juga menjamin kebebasan dan keamanan
pengusaha perkebunan. Dalam ketentuan yang berlaku hanya orang-orang Hindia Belanda
(Indonesia) dan pemerintah yang diijinkan memiliki tanah. Pemerintah sebagai pemilik tanah
dapat menyewakan kepada pengusaha asing atau Belanda dengan jangka waktu sewa 75
tahun, sementara pihak pribumi yang memiliki tanah diijinkan menyewakan tanahnya selama
5 sampai 20 tahun. Dengan demikian mulai berlakukanya UU Agraria 1870 sampai awal
1900 di Hindia Belanda marak dengan munculnya usaha agroindustri.

Tidak hanya Jawa, wilayah luar Jawa juga mulai dikembangkan untuk usaha
perkebunan dan pertambangan. Selesainya terusan Suez menyusul pembukaan terusan itu
untuk kapal-kapal non militer memangkas jarak tempuh Eropa-Asia sekaligus memicu
perkembangan perhubungan laut. Perkembangan agroindustri swasta dengan dukungan
transportasi laut yang dikelola pemerintah Belanda mendorong pertumbuhan perekonomian
berbasis agroindustri. Ekspor Hindia Belanda pada tahun 1860 baik pemerintah maupun
swasta memiliki nilai sama, tetapi pada 1885 nilai ekaspor pihak swasta sepuluh kali lipat
nilai ekspor pemerintah. Secara keseluruhan nilai ekspor Hindia Belanda tahun 1885 adalah
dua kali lipat dari nilai tahun 1860. Keberadaan orang- orang sipil Eropa meningkat pesat
dari 17.285 pada tahun 1852 menjadi 62.477 pada tahun 1900. Periode liberal adalah periode
peningkatan eksploatasi Hindia Belanda secara besar-besaran 5

Zaman liberal juga berarti masa ketika alat tukar uang menjangkau lebih ke
pedalaman Hindia Belanda terutama pada masyarakat Jawa. Semua ini akibat system sewa
tanah yang mewajibkan pembayaran berupa uang, selain itu usaha perkebunan
memperkenalkan uang melalui system pengupahan atas buruh yang bekerja di perkebunan-
perkebunan besar.

Keberadaan perkebunan besar mendorong munculnya usaha sector jasa yaitu ekspor-
impor. Industry ekspor merupakan penggerak perekonomian Hindia Belanda dan
berpengaruh terhadap sector ekonomi lainnya. Keberadaan industry itu tidak lepas dari
meningkatnya permintaan pasar Eropa akan komoditi (pertanian dan pertambangan) dari

5
Ricklefs,M.c. 2001 sejarah Indonesia modern. Hlm 269-270
Negara-negara koloni. Komoditi primadona yang terus mengalami peningkatan permintaan
adalah gula, kopi, tembakau, karet, dan barang-barang tambang seperti timah, bauxite dan
lain-lain.

Prinsip ekonomi liberal adalah kebebasan ekonomi tanpa campur tangan pemerintah
serta penghapusan semua unsure paksaan. Kaum liberal yakin apabila perekonomian
dibiarkan bebas maka akan berjalan menujun ke taraf yang lebih baik, kebebasan berarti siapa
saja memiliki kesempatan berusaha yang sama, hal itulah yang akan mendorong
perkembangan ekonomi. Liberalism menunjukkan keberhasilannya dalam hal perkembangan
industry khususnya ekspor yang berkembang pesat. Ketersediaan capital dalam jumlah besar
dengan dukungan system keuangan (bank) yang solid perkebunan-perkebunan di Hindia
Belanda berhasil mengembangkan usahanya. Modal membuat perkebunan dapat
menggunakan tehnologi baru hasil Revolusi Industri untuk memaksimalkan produktifitas
mereka. Pada tahun 1870 luas areal perkebunan tebu di Jawa adalah 54.176 bau, luas areal
perkebunan tebu mengalami peningkatan yaitu menjadi 128.301 bau pada 1900. Produksi
gula meningkat dari 2.440.000 pikul pada 1870 menjadi 12.050.544 pikul pada tahun 1900.
Hal yang sama terjadi pada perkebunan teh, khususnya setelah perkebunan-perkebunan
tersebut membudida yakan tanaman the yang berasal dari Assam. Tembakau mengalami hal
yang sama, bahkan sempat memiliki harga yang sangat bagus dan sangat terkenal di Eropa 6

Komoditi dagang lainnya yang dihasilkan perkebunan-perkebunan besar yang telah


mengalami perkembangan pesat selama masa ini adalah kopi dan kina. Selama jaman liberal
Hindia Belanda menjadi Negara penghasil kina yang paling terkemuka di dunia, karena
hamper 90% dari kina yang digunakan di dunia pada waktu itu berasal dari perkebunan-
perkebunan kina di Jawa. Sayangnya kopi tidak lagi menjajikan keuntungan yang bagus
seperti selama masa cultuurstelsel meskipun kopi jawa barat sangat terkenal.

Harga kopi dan gula jatuh setelah tahun 1885, sehingga keuntungan yang diperoleh
juga menurun secara signifikan. Tahun 1891 menyusul harga tembakau jatuh di pasar
internasional. Jatuhnya harga tembakau cukup serius sehingga membahayakan kelangsungan
hidup perkebunan-perkebunan tembakau di Deli. Jatuhnya harga gula terutama disebabkan
oleh munculnya pesaing gula tebu yaitu gula bit yang dibudidayakan di Eropa. Budidaya
tanaman bit di Eropa memangkas ongkos kirim sehingga komoditas baru itu dapat menyaingi
gula dari Hindia Belanda.

6
Notosusanto, nugroho. 1984,sejarah nasional Indonesia hlm124-125)
A. Pajak dan perkembangan bumi putra

Penurunan keuntungan akibat turunnya harga komoditas berimbas terhadap jasa


keuangan atau perbankan yang hidup dari perkebunan. Kredit macet menjadi ancaman yang
akan menjatuhkan lembaga keuangan di Hindia Belanda. Untuk menghindari kejatuhan
semua usaha perekonomian (perusahaan perkebunan dan lembaga perbankan) perlu
dilakukan perubahan mendasar untuk menyelamatkan perekonomian Hindia Belanda.
Keputusan yang diambil pemerintah Hindia Belanda adalah melakukan merger atas
perkebunan yang dimiliki perseorangan menjadi sebuah perseroan terbatas yang dikendalikan
oleh manager professional bukan oleh pemilik perkebunan. Pemilik perkebunan akan menjadi
pemegang saham yang memiliki hak memilih dewan direksi yang akan mengawasi kinerja
perkebunan yang dijalankan oleh sang manajer. Dengan demikian perbankan tetap dapat
menyalurkan kreditnya dengan resiko yang lebih kecil. Namun pihak perbankan kemudian
juga melakukan pengawasan terhadap perusahaan perkebunan sehingga salah urus,
ketidakefisienan operasi perkebunan perkebunan besar dapat diminimalisir. Bank-bank di
Hindia Belanda tidak lagi beroperasi secara mandiri, tetapi menjadi bagian dari bank-bank
yang berkedudukan di Belanda.

Perkembangan usaha perkebunan yang pesat dan sangat menguntungkan, ternyata


hanya dinikmati para pengusaha dan pemerintah Belanda. Rakyat pribumi tetap masih berada
dalam kemiskinan. Kemakmuran seperti yang didengungdengungkan kaum liberal atas
penduduk pribumi tidak terwujud. Widjojo Nitisastro dalam penelitiannya tentang
pertumbuhan penduduk Hindia Belanda setelah 1880 memperlihatkan adanya penurunan laju
pertumbuhan penduduk (Notosusanto, `1984: 128) Di pihak lain ketersediaan produksi
pangan mengalami sedikit penurunan dari pertumbuhan penduduk. Ini berarti pertumbuhan
penduduk Jawa tidak diiringi pertumbuhan produksi pangan, seperti yang sudah diramalkan
Malthus bahwa suatu hari pertumbuhan penduduk akan melampaui pertumbuhan produksi
pangan sehingga kelangkaan pangan menjadi niscaya

Penurunan kesejahteraan penduduk pribumi Jawa dilaporkan oleh Mindere Welvaarts


Commisie (Komisi Kemerosotan Kemakmuran) yaitu suatu badan yang dibentuk pemerintah
colonial Hindia Belanda untuk menyelidiki tingkat kemakuran penduduk pribumi. Hasil
penyelidikannya menyatakan bahwa pada awal abad ke20 pendapatan rata-rata rumah tangga
Jawa berkisar f.80 untuk satu tahun, dari jumlah itu kurang lebih f.16 harus dibayarkan
kepada pemerintah sebagai pajak, sehingga pendapatan sebenarnya adalah f.64/thn atau
f.5,3/bln jumlah yang sangat kecil

Penurunan kemakmuran penduduk Jawa tidak hanya disebabkan penurunan usaha


perkebunan besar Belanda tetapi juga karena sebab-sebab lain. Pertama adalah meningkatnya
penduduk Jawa setelah Perang Jawa dengan tidak diikuti perluasan areal lahan pertanian
untuk pangan. Kedua adanya system kerja rodi baik untuk pejabat colonial maupun pejabat
pribumi sebagai patron mereka. Petani tidak memiliki motivasi kerja keras karena mereka
paham bahwa hasil kerja mereka tidak dapat mereka nikmati. Ketiga adalah kebijakan politik
colonial yang menjadikan Jawa sebagai tulang punggung financial untuk daerah-daerah lain
yang dikuasai Belanda. Keempat adalah system pajak regresif yaitu system perpajakan yang
memberatkan kelompok berpendapatan rendah yang sebagian besar adalah pribumi tetapi di
pihak lain menguntungkan kelompok berpendapatan tinggi (mayoritas Eropa) karena
rendahnya pajak yang harus mereka tanggung. Kelima adalah krisis yang melanda
perkebunan pada tahun 1885 7

7
Notosusanto, nugroho. 1984,sejarah nasional Indonesia. Hlm 129-131
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu tujuan kedatangan bangsa Eropa ke indonesia adalah untuk mengambil
hasil bumi yang laku dipasaran Internasional. Untuk menjamin kebutuhan ekonomi
itu, para penguasa Kolonial di Indonesia membuat berbagai kebijakan ekonomi yang
menguntungkan. Pada bagian berikut ini akan dijelaskan kebijakan ekonomi Kolonial
yang mencakup pokok-pokok pembahasan CulturStelsel, politik Kolonial Liberal.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia dari VOC ke Hindia Belanda?
2. Bagaimana Merkantilisme : Negara Sebagai Pedagang?
3. Bagaimana Pertanian : Praktek Sistem Tanam Paksa di Jawa dan Luar Jawa
(perkembangan di Minangkabau) ?
4. Bagaimana Perkebunan dan pertambangan pada masa Kolonial?
5. Bagaimana Pajak dan perkembangan bumi putra pada masa Kolonial?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Struktur Ekonomi Indonesia dari VOC ke Hindia Belanda
2. Untuk mengetahui Bagaimana Merkantilisme : Negara Sebagai Pedagang
3. Untuk mengetahui Pertanian : Praktek Sistem Tanam Paksa di Jawa dan Luar Jawa
(perkembangan di Minangkabau)
4. Untuk mengetahui Perkebunan dan pertambangan pada masa Kolonial
5. Untuk mengetahui Pajak dan perkembangan bumi putra pada masa Kolonial
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kebijakan ekonomi Kolonial diwarnai oleh perkembangan moral Kolonial, yakni dari
kerakusan yang tamak. Meskipun secara lahiriah kebijakan ekonomi Kolonial itu tampak ada
perkembangan moral yang positif, tetapi kalau dilihat secara mendalam terbukti
perkembangan moral yang positif itu hanya suatu kedok untuk mengelabui Parlemen Belanda
atau dunia Internasional yang memang suddah semakin Liberal.

B. Saran

Dalam makalah ini kami masih kekurangan, kami berharap dengan makalah yang kami
tulis dapat memberi informasi kepada pembaca, dan kami berharap ada tambahan dari
pembaca atau masukan agar makalah kami bisa dikatakan sempurna.
SEJARAH PEREKONOMIAN

Dinamika Ekonomi Kolonial

Oleh :

1. Devy Fakhriyani (15046056)


2. Dian Agustina (15046090)
3. Milda Widya Sandra (15046041)

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2017
DAFTAR PUSTAKA

Kartodirdjo.Sartono.1987.Pengantar Indonesia Baru 1500-1900.Yogyakarta:PT.Gramedia


Pustaka Utama.
Poesponegoro,Marwati,Djoened dan Notosusanto,Nugroho.1976.Sejarah Nasional Indonesia.
Jakarta : Balai Pustaka.
Ricklefs,M.c. 2001 sejarah Indonesia modern.