Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengendalian hama dan penyakit secara konvensional pada tanaman
dengan menggunakan pestisida kimia saat ini sudah tidak merupakan solusi
bijak lagi, hal ini terkait dengan berbagai dampak negatif, berupa residu
bahan kimia pada lingkungan yang dapat menimbulkan pencemaran tanah
dan air serta residu tersebut juga akan terdapat pada hasil panen pada
tanaman pangan, dapat menyebabkan hama sasaran menjadi kebal terhadap
bahan kimia yang terkandung dalam pestisida tersebut dan dapat
menghambat atau membunuh populasi seranga parasitoid dan serangga
predator.
Pengendalian hayati sebagai komponen utama Pengendalian Hama
Terpadu pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami
untuk mengendalikan populasi hama yang merugikan. Pengendalian hayati
sangat dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan dasar ekologi terutama
teori tentang pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan
ekosistem. Musuh alami yang terdiri atas parasitoid, predator dan patogen
merupakan pengendali alami utama hama yang bekerja secara “terkait
kepadatan populasi” sehingga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan dan
perkembangbiakan hama. Adanya populasi hama yang meningkat sehingga
mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani disebabkan karena keadaan
lingkungan yang kurang memberi kesempatan bagi musuh alami untuk
menjalankan fungsi alaminya. Apabila musuh alami kita berikan
kesempatan berfungsi antara lain dengan introduksi musuh alami,
memperbanyak dan melepaskannya, serta mengurangi berbagai dampak
negatif terhadap musuh alami, musuh alami dapat melaksanakan fungsinya
dengan baik.
Parasitoid merupakan serangga yang penting dalam teknik
pengendalian hayati, hal ini dikarenakan dalam proses kehidupannya
terdapat fase/tahapan dimana serangga parasitoid tersebut hidup didalam
tubuh inangnya. Parasitoid adalah serangga yang stadia pradewasanya
menjadi parasit pada atau di dalam tubuh serangga lain, sementara imago
hidup bebas mencari nektar dan embun madu sebagai makanannya.
Serangga yang diparasit atau inangnya akhirnya mati ketika parasitoid
menyelesaikan perkembangan pradewasanya. Parasitoid biasanya
berukuran lebih kecil daripada inangnya (Shelton, 1993).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana peran parasitoid sebagai agensia hayati?
2. Apa saja parasitoid yang digunakan dalam pengendalian hayati?
3. Bagaimana sifat-sifat parasitoid dan parasitisme?

C. Tujuan
1. Mengetahui peran parasitoid sebagai agensia hayati
2. Mengetahui parasitoid yang digunakan dalam pengendalian hayati
3. Mengetahui sifat-sifat parasitoid dan parasitisme
Perbedaan definisi antara parasitoid dan parasit adalah

1. Parasitoid selalu menghabiskan inangnya di dalam perkembangannya ,


sedangkan parasit tidak.

2. Inang parasitoid adalah serangga juga, sedangkan parasit tidak

3. Ukuran tubuh parasitoid bisa lebih kecil atau sama dengan inangnya, sedangkan
parasit pasti lebih kecil dari inangnya

4. Parasitoid dewasa tidak melakukan aktivitas parasitasi, akan tetapi hanya pada
stadia pradewasa, sedangkan parasit seluruh stadia melakukan parasitasi

5. Parasitoid hanya berkembang hanya pada satu inang dalam siklus hidupnya,
sedangkan parasit tidak.

6. Umumnya adalah serangga ordo Hymenoptera dan Diptera.

Parasitologi adalah bidang ilmu yang sangat berhuhungan dengan fenomena-


fenomena ketergantungan dari satu organisme terhadap yang lainnya. Parasitologi
adalah ilmu yang mempelajari organisme yang hidup untuk sementara atau menetap
di dalam atau pada permukaan organisme lain dengan maksud untuk mengambil
sebagian atau seluruh kebutuhan makanannya serta mendapat perlindungan dari
organisme lain tersebut. Organisme yang mengambil makanan serta mendapat
perlindungan dari
organisme lain tersebut disebut parasit (sites artinya makanan, parasit artinya orang
yang ikut makan), sedang-kan organisme yang mengandung parasit disebut hospes
atau tuan rumah. Biasanya organisme yang Iebih besar merupakan hospes yang
akan memberikan perlindungan serta makanan pada organisme lainnya yang lebilt
kecil yang disebut parasit. Hubungan timbal balik antara parasit dengan hospes
yang berguna untuk kelangsungan hidup parasit tersebut disebut parasitisme.

Pustaka
Parasitologi kedokteran:ditinjau dari organ tubuh yang diserang Oleh Djaenudin
Natadisastra, dr., Sp.ParK & Prof. Dr. Ridad Agoes, MPH
Pengantar Pengendalian Hayati Ir. Hari Purnomo,M.Si, Ph.D,
DIC