Anda di halaman 1dari 10

Myoma Uteri di Atas Simphysis

Gloria Kemala Ate*


NIM: 102010032 (Kelompok E7)

*Mahasiswa Semester Keenam Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida


Wacana

Alamat Korespondensi:
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Terusan Arjuna No. 6
Jakarta 11510
Email: gloria_ate@yahoo.com
4 Juni 2013

Pendahuluan

Mioma uteri adalah suatu tumor jinak yang tumbuh dalam otot uterus dan jaringan
ikat sekitarnya. Mioma bisa menyebabkan gejala yang luas termasuk perdarahan
menstruasi yang banyak dan penekanan pada pelvis. Etiologi yang pasti terjadinya
mioma uteri saat ini belum diketahui. Mioma uteri banyak ditemukan pada usia
reproduktif dan angka kejadiannya rendah pada usia menopause. Ibu M yang
berbadan gemuk berumur 45 tahun, datang berobat kerumah sakit karena sejak 6
bulan yang lalu haid nya sangat banyak dan baru berhenti setelah 8 hari. Ibu M
mempunyai anak semata wayang berumur 18 tahun. Tidak pernah memakai
kontrasepsi. Keadaan umum baik, T 130/85 mm Hg, N 76/ m, P 20x/m. Pada
pemeriksaan didapatkan adanya tumor diatas symphysis. sebesar kepala bayi,
konsistensi kenyal, mudah digerakkan. Diagnosis mengarah ke mioma uteri, dan
dengan memperlajari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,
penatalaksanaan dan prognosis, diagnosis dapat ditegakkan.

1
Pembahasan

Anamnesis1
Pada anamnesis yang harus ditanyakan adalah:
1. Identitas
Mencakup nama pasien, umur, status pernikahan, dan nama suami
2. Keluhan utama
3. Keluhan tambahan
4. Riwayat kehamilan
a. Riwayat kehamilan, persalinan dan keguguran. Untuk persalinan, perlu
ditanyakan metode persalinan yang digunakan (persalinan spontan,
atau section), berat badan dan tinggi badan bayi ketika baru lahir.
b. Mual, muntah dan atau nyeri kepala.
c. Perdarahan pervaginam.
d. Keluar cairan pervaginam (air ketuban, leukorea?)
e. Merasakan gerakan anak yang kurang atau bahkan tidak bergerak.
f. Merasa akan melahirkan (inpartu).
Berhubungan dengan penyakit yang menyertai kehamilan
5. Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit sistemik atau penyakit kronis yang sudah dirasakan sebelum
kehamilan ini.
6. Riwayat penyakit keluarga
Untuk mengetahui apakah ada riwayat anak kembar (gemili) dalam keluarga.

Pemeriksaan fisik1
Myoma dapat secara mudah ditemukan dengan pemeriksaan rutin bimanual dari
uterus atau kadang-kadang dengan palpasi pada abdomen bawah.

Pemeriksaan Bimanual akan mengungkapkan tumor padat, keras, teraba berbenjol-


benjol, gerakan bebas, tidak sakit, umumnya terletak di garis tengah atau agak ke
samping dan harus dipastikan bahwa tumor merupakan bagian dari rahim. Myoma

2
submukosa kadang kala dapat teraba dengan jari yang masuk ke dalam kanalis
servikalis dan terasanya benjolan pada permukaan kavum uteri.

Pemeriksaan bimanual

Pemeriksaan bimanual dilakukan dengan cara:


• Dua jari dimasukan ke vagina dan tangan lainnya diletakkan pada perut bagia bawah
di atas simfisis
• Dengan perasaan kedua tangan ini kita usahakan untuk mendapat kesan mengenai
ukuran, letak dan kemungkinan pergerakan dari genitalia interna (pada nulipara
lebih baik dipergunakan satu jari)
• Porsio di raba, bagaimana bentuk dan konsistensinya
• Dari dalam forniks posterior mengangkat uterus sedangkan tangan yang di luar
menekan dinding perut ke dalam dan diusahakan supaya meraba korpus uteri
diantara kedua tangan dan ditentukan besar, bentuk, letak dan kemungkinan
pergerakannya
• Ukuran dan bentuk uterus : ukuran tergantung pada paritas dan umur pasien, tetapi
biasanya ukuran uterus yang normal ialah sebesar telur bebek
• Bentuk uterus normal seperti bola lampu gepeng dalam arah muka belakang, sedang
permukaannya licin
• Konsistensi rahim yang tidak hamil adalah kenyal padat. pada kehamilan
konsistensinya menjadi lunak
• Letak rahim : letak uterus yang dianggap normall ialah dalam antefleksi. dengan
kesua jari dalam forniks posterior uterus dalam antefleksi jelas teraba, sebaliknya
uterus dalam rektifleksi hanya teraba porsionya saja

Penilaian adneksa dan parametrium

 Tuba pada umumnya dapat teraba dengan pemeriksaan bimanual tapi ovarium
kadang-kadang
 Adneksa diperiksa dengan menggerakkan jari yang berada di dalam keforniks lateral
dan tangan luar pindah ke samping uterus
 Bila ovarium tertekan akan terasa nyeri

3
 Kalau teraba tumor, tentukan besar, konsistensi dan kemungkinan pergerakannya

Pemeriksaan rektovagina

• Berguna untuk memeriksa proses-proses di belakang dan kiri kanan uterus


(parametrium) seperti infiltrat dan tumor
• Jari telunjuk dimasukan ke dalam vagina sedangkan jari tengah ke dalam rektum

Pemeriksaan melalui rektum

• Dilakukan pada anak dan virgin karena himen masih utuh


• Satu jari dimasukkan ke dalam rektum setelah dibasaho dengan pelumas
tangan luar diletakkan di atas simpisis, tangan yang berada di luar ini mendekatkan
apa yang hendak di periksa pada tangan yang berada di dalam

Diagnosis
Ibu M, 45 tahun dengan keluhan tersebut didagnosis menderita mioma uteri

Diagnosis banding
Kista ovarium2-3
Kista ovarium adalah kantung berisi cairan yang terdapat pada ovarium.
Penemuan kista ovarium pada seorang wanita akan sangat ditakuti oleh karena adanya
kecenderungan menjadi ganas, tetapi kebanyakan kista ovarium memiliki sifat yang
jinak. Pertumbuhan kista ovarium berhubungan dengan stimulasi oleh hormon
gonadotropin, yaitu FSH dan LH. Adanya iritasi juga merupakan pencetus tumbuhnya
kista. Selain itu disebabkan oleh adanya transformasi dari sel-sel ovarium.
Banyak tumor ovarium tidak menunjukkan gejala dan tanda, terutama tumor
ovarium yang kecil. Adanya tumor bisa menyebabkan pembenjolan perut. Rasa sakit
atau tidak nyaman pada perut bagian bawah. Rasa sakit tersebut akan bertambah jika
kista tetsebut terpuntir atau terjadi ruptur. Terdapat juga rasa penuh di perut.
Tekanan terhadap alat-alat di sekitarnya dapat menyebabkan rasa tidak
nyaman, gangguan miksi dan defekasi. Dapat terjadi penekanan terhadapat kandung
kemih sehingga menyebabkan frekuensi berkemih menjadi sering.

4
Kista ovarium dapat menyebabkan obstipasi karena pergerakan usus
terganggu atau dapat juga terjadi penekanan dan menyebabkan defekasi yang sering.
Pasien juga mengeluhkan ketidaknyamanan dalam coitus, yaitu pada penetrasi
yang dalam. Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak adanya nafsu makan dan rasa
enak dan rasa sesak.
Tidak ada tes laboratorium diagnostik untuk kista ovarium. Cancer antigen
125 (CA 125) adalah protein yang dihasilkan oleh membran sel ovarium normal dan
karsinoma ovarium.
Laparoskopi dapat dianjurkan untuk mengetahui asal tumor dari ovarium atau
tidak, dan menentukan sifat-sifat tumor. Ultrasonografi dapat dianjurkan untuk
menentukan letak dan batas tumor kistik atau solid, cairan dalam rongga perut yang
bebas dan tidak.
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan tumor di rongga perut bagian depan
dengan ukuran > 5 cm. Pada pemeriksaan dalam, letak tumor di parametrium kiri atau
kanan atau mengisi kavum douglasi. Konsistensi kistik, mobile, permukaan tumor
umumnya rata

Pemeriksaan penunjang4
a. Pemeriksaan laboratorium
Akibat yang terjadi pada mioma uteri adalah anemia akibat perdarahan
uterus yang berlebihan dan kekurangan zat besi. Pemeriksaaan laboratorium
yang perlu dilakukan adalah darah lengkap terutama untuk mencari kadar Hb.
Pemeriksaaan lab lain disesuaikan dengan keluhan pasien.

b. Imaging
1) Pemeriksaaan dengan USG akan didapat massa padat dan homogen pada
uterus. Mioma uteri berukuran besar terlihat sebagai massa pada abdomen
bawah dan pelvis dan kadang terlihat tumor dengan kalsifikasi.
2) Histerosalfingografi digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang tumbuh
ke arah kavum uteri pada pasien infertil.
3) MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, jumlah mioma uteri,
namun biaya pemeriksaan lebih mahal.

5
c. Tumor Marker Ca 125
Cancer antigen 125 (CA 125) adalah protein yang dihasilkan oleh membran
sel ovarium normal dan karsinoma ovarium. Level serum kurang dari 35 U/ml
adalah kadar CA 125 ditemukan meningkat pada 85% pasien dengan
karsinoma epitel ovarium. Terkadang CA 125 ditemukan meningkat pada
kasus jinak dan pada 6% pasien sehat.

Penatalaksanaan5-6
Pilihan pengobatan mioma tergantung umur pasien, paritas, status kehamilan,
keinginan untuk mendapatkan keturunan lagi, keadaan umum dan gejala serta ukuran
lokasi serta jenis mioma uteri itu sendiri.
1. Konservatif
Tidak semua mioma uteri memerlukan pengobatan bedah ataupun
medikamentosa terutama bila mioma itu masih kecil dan tidak menimbulkan
gangguan atau keluhan. Penanganan konservatif, bila mioma yang kecil pada pra dan
post menopause tanpa gejala. Cara penanganan konservatif sebagai berikut :
- Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan.
- Bila anemia, Hb < 8 g% transfusi PRC.
- Pemberian zat besi.
- Penggunaan agonis GnRH leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari 1-3 menstruasi
setiap minggu sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan pengerutan tumor dan
menghilangkan gejala. Obat ini menekan sekresi gonadotropin dan menciptakan
keadaan hipoestrogenik yang serupa yang ditemukan pada periode
postmenopause. Efek maksimum dalam mengurangi ukuran tumor diobservasi
dalam 12 minggu.
- Terapi agonis GnRH ini dapat pula diberikan sebelum pembedahan, karena
memberikan beberapa keuntungan: mengurangi hilangnya darah selama
pembedahan, dan dapat mengurangi kebutuhan akan transfusi darah.
- Baru-baru ini, progestin dan antipprogestin dilaporkan mempunyai efek
terapeutik. Kehadiran tumor dapat ditekan atau diperlambat dengan pemberian
progestin dan levonorgestrol intrauterin.

6
2. Pengobatan Operatif
Penanganan operatif, bila:
- Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu.
- Pertumbuhan tumor cepat.
- Mioma subserosa bertangkai dan torsi.
- Bila dapat menjadi penyulit pada kehamilan berikutnya.
- Hipermenorea pada mioma submukosa.
- Penekanan pada organ sekitarnya.
Jenis operasi yang dilakukan dapat berupa :
a. Enukleasi Mioma
Dilakukan pada penderita infertil atau yang masih menginginkan anak atau
mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Sejauh ini tampaknya aman,
efektif, dan masih menjadi pilihan terbaik. Enukleasi sebaiknya tidak dilakukan bila
ada kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus, juga
dihindari pada masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada tumor dengan
tangkai dan jelas yang dengan mudah dapat dijepit dan diikat. Bila miomektomi
menyebabkan cacat yang menembus atau sangat berdekatan dengan endometrium,
kehamilan berikutnya harus dilahirkan dengan seksio sesarea.

Kriteria preoperasi adalah sebagai berikut :


 Kegagalan untuk hamil atau keguguran berulang.
 Terdapat leiomioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas.
 Apabila tidak ditemukan alasan yang jelas penyebab kegagalan kehamilan dan
keguguran yang berulang.

b. Histerektomi
Dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita yang
memiliki leiomioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria ACOG
untuk histerektomi adalah sebagai berikut:
 Terdapatnya 1 sampai 3 leiomioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar
dan dikeluhkan olah pasien.
 Perdarahan uterus berlebihan :
Perdarahan yang banyak bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih
dari 8 hari.

7
Anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.
 Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma meliputi :
Nyeri hebat dan akut.
Rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah yang kronis.
Penekanan buli-buli dan frekuensi urine yang berulang-ulang dan tidak
disebabkan infeksi saluran kemih.
c. Penanganan Radioterapi
- Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient).
- Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu.
- Bukan jenis submukosa.
- Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum.
- Tidak dilakukan pada wanita muda, sebab dapat menyebabkan menopause.
- Maksud dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan.

Prognosis6
Histerektomi dengan mengangkat seluruh mioma adalah kuratif. Miomektomi yang
ekstensif dan secara signifikan melibatkan myometrium atau menembus
endometrium, maka diharuskan SC pada persalinan berikutnya. Mioma yang kambuh
kembali setelah miomektomi terjadi pada 15-40% pasien dan 2/3-nya memerlukan
tindakan lebih lanjut.

8
Penutup

Mioma uteri adalah suatu tumor jinak yang tumbuh dalam otot uterus dan jaringan
ikat sekitarnya. Mioma bisa menyebabkan gejala yang luas termasuk perdarahan
menstruasi yang banyak dan penekanan pada pelvis. Etiologi yang pasti terjadinya
mioma uteri saat ini belum diketahui. Mioma uteri banyak ditemukan pada usia
reproduktif dan angka kejadiannya rendah pada usia menopause. Pengobatan yang
diberikan dapat berupa konservatif yaitu mengatasi komplikasi yang timbul akibat
kehilangan darah yang cukup banyak; anemia. Dapat diberikan preparat besi, atau
tranfusi bila pasien kehilangan darah cukup banyak. Selain itu, dapat dilaksanakan
tindakan operatif, bila tumor terlalu besar dan menekan organ-organ di sekitar tumor
tersebut. Biasanya prognosis pasien setelah pengobatan adalah baik.

9
Daftar Pustaka
1. Sofian A. Rustam Mochtar synopsis obstetri: obstetri fisiologi, obstetric
patologi. Edisi 3. Jilid 1. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran. 2011.h.38-
45.
2. Silen W. Abdominal pain. Dalam: Longo DL, Kasper DL, Jameson JL.
Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. Vol. 1. New York: The
McGraw-Hill Companies, Inc. 2012.p111-2.
3. Sjamsuhidajat R, de Jong W. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC
Penerbit Buku Kedokteran. 2011;h.842-5.
4. Joyce LeFever Kee. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik.
Dalam: Kapoh PR, editor. Uji Laboratorium. Edisi ke 6. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2008.h. 116.
5. Sofian A. Rustam Mochtar synopsis obstetri: obstetric operatif, obstetric
sosial. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran. 2011.h. 98-9.
6. Tulandi T. Treatment of uterine fibroids. The New England Journal of
Medicine. Vol. 356. Januari 2007; h. 411-413

10