Anda di halaman 1dari 27

JAWABAN DAN PEMBAHASAN

SOAL PREDIKSI MEDINA BATCH II 2015


STASE MATA

1. Jawaban : D
Rabun senja (xeroftalmia) merupakan penyakit keratokonjungtivitis akibat defisiensi vitamin
A.
Gejala:
- Buta senja,
- mata kering dan nyeri,
- sensasi benda asing,
- penurunan penglihatan
Tahap-tahap :
XN = buta senja (tanda dini)
X1A = xerosis konjungtiva
X1B = xerosis konjungtiva dengan bitot spot
X2 = xerosis kornea bersifat reversible
X3A = xerosis kornea bersifat irreversible
X3B = xerosis kornea dengan keratomalasia
XS = xerophtalmic scar
XF = fundal xerophtalmic
2. Jawaban : D
Pencegahan dengan vitamin A (Februari dan Agustus di Posyandu)
- > 1 tahun : 200.000 IU
- 6-12 bulan : 100.000 IU
- <6 bulan : 50.000 IU
3. Jawaban : E
Mata merah, pandangan kabur, riwayat memakai lensa kontak keratitis
Faktor risiko :
- Riwayat trauma
- Riwayat pemakai lensa kontak (baru pakai tidak tahu caranya, atau sudah lama pakai
tapi tidak tahu cara merawatnya)
- Pakai tetes mata steroid dalam waktu yang lama
- Riwayat mata merah dan mata buram hilang timbul
Gejala & tanda :
- mata merah,berair, silau
- fluoresensi (+)
- Kornea keruh
- Visus turun
- Injeksi siliar
- Palpebra hiperemis
4. Jawaban : A
Gejala & Tanda Katarak :
- Mata tenang, visus turun perlahan
- Penglihatan berkabut, kadang ber-halo atau glaring (pecah), fotofobia, atau tampak
dobel
- Penglihatan sempat membaik padamalam hari dan penglihatan dekat membaik
- Tidak ada gangguan lapang pandang
- Pemeriksaan= Lensa keruh, shadow test positif (fase imatur); penilaian funduskopi sulit
dilakukan
Gejala & Tanda Glaukoma :
- Gejala akut (sakit kepala, nyeri mata,mual, muntah, pandangan ber-halo)
- TIO meningkat
- Pemeriksaan= kornea odem, konjungtiva injeksi siliar, pupil tetap dilatasi saat disinari
lampu,iris bombe)
Gejala & Tanda Retinopati Diabetik :
- Pandangan kabur
- Floater
- Pemeriksaan= *Mikroaneurisma
*Flame-shape hemorrhage
*Venous beading (kapiler menebal)
*Cotton wool spot
*Dapat terlihat neovaskularisasi di retina >1/3 diameter optic disk
Gejala & Tanda Retinopati Hipertensi :
- Pandangan kabur
- Floater
- Pemeriksaan = *Spasme arteriol pada retina
(arteriovenous nicking)
*Arteriol mengalami sklerosis
*Cotton wool spot
*Edema optic disk
*Arteriol berwarna copper-wire/ silver-wire
*Dapat ditemukan ablasi retina
5. Jawaban : C
Miopi = merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang memasuki mata tanpa
akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina.
Gejala miopi :
- kabur melihat benda yang letaknya jauh
- tidak sakit kepala
- penglihatan membaik dengan pinhole
- membaik dengan koreksi lensa negatif (divergen,cekung,minus)
6. Jawaban : B
Konjungtivitis vernal diakibatkan reaksi hipersensitivitas tipe I yang diperantarai IgE.
Biasanya konjungtivitis vernal mengenai usia muda antara 3-25 tahun dan kedua jenis
kelamin sama. Biasanya pada laki-laki mulai pada usia di bawah 10 tahun.
- Bentuk Palpebral
Mengenai konjungtiva tarsalis superior. Terdapat pertumbuhan papil yang besar (Cobble
stone) yang diliputi sekret mukoid.
- Bentuk Limbal
Hipertropi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan hiperplastik
gelatin, dengan Tranta’s dot yang merupakan degenerasi epitel kornea atau eosinofil di
bagian epitel limbus kornea .
7. Jawaban : E
Gejala& tanda glaukoma sudut tertutup serangan akut yaitu :
- Gejala akut (sakit kepala, nyeri mata,mual, muntah, pandangan ber-halo)
- TIO meningkat
- Pemeriksaan= kornea odem, konjungtiva injeksi siliar, pupil tetap dilatasi saat disinari
lampu,iris bombe, COA dangkal)
8. Jawaban : B
Konjungtivitis gonore = radang konjungtiva akut dan hebat yang disertai sekret purulen.
Gonokok merupakan kuman yang sangat pathogen, virulen, dan bersifat invasive sehingga
reaksi radang terhadap kuman ini sangat berat.
Gejala :
- sekret purulen banyak,
- papil konjungtiva,
- kemosis berat,
- adenopathy preaurikular
- dapat disertai reaksi folikular.
Pada neonates infeksi konjungtiva terjadi terjadi pada saat berada pada jalan kelahiran,
penyakitnya ditularkan oleh ibu yang sedang menderita penyakit tersebut.
9. Jawaban : C
Ulkus kornea= adanya perlukaan pada lapisan luar kornea
Etiologi :
Sering karena infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit
Contoh :
*Keratitis acanthamoeba terjadi pada pengguna lensa kontak
*Keratitis fungi dapat terjadi setelah kornea luka akibat bagian tanaman
*Keratitis herpes simpleks, dapat berulang karena dipicu stres, paparan matahari, atau
turunnya sistem imun
Gejala :
- Pandangan kabur
- Mata merah
- Gatal dan discharge
- Sensitif terhadap cahaya
- Sangat nyeri dan berair
Tanda :
- Tes fluoresin (+) defek menggaung

10. Jawaban : B
Penyebab kebutaan pada retinopati diabetik dapat terjadi karena 4 proses berikut, antara
lain:
1) Retinal Detachment (Ablasio Retina)
Peningkatan sintesis growth factor pada retinopati diabetik juga akan menyebabkan
peningkatan jaringan fibrosa pada retina dan corpus vitreus. Suatu saat jaringan fibrosis ini
dapat tertarik karena berkontraksi, sehingga retina juga ikut tertarik dan terlepas dari
tempat melekatnya di koroid. Proses inilah yang menyebabkan terjadinya ablasio retina
pada retinopati diabetik.

2) Oklusi vaskular retina


Penyempitan lumen vaskular dan trombosis sebagai efek dari proses biokimiawi akibat
hiperglikemia kronis pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya oklusi vaskular retina.
Oklusi vena sentralis retina akan menyebabkan terjadinya vena berkelok-kelok apabila oklusi
terjadi parsial, namun apabila terjadi oklusi total akan didapatkan perdarahan pada retina
dan vitreus sehingga mengganggu tajam penglihatan penderitanya. Apabila terjadi
perdarahan luas, maka tajam penglihatan penderitanya dapat sangat buruk hingga
mengalami kebutaan. Perdarahan luas ini biasanya didapatkan pada retinopati diabetik
dengan oklusi vena sentral, karena banyaknya dinding vaskular yang lemah.
Selain oklusi vena, dapat juga terjadi oklusi arteri sentralis retina. Arteri yang mengalami
penyumbatan tidak akan dapat memberikan suplai darah yang berisi nutrisi dan oksigen ke
retina, sehingga retina mengalami hipoksia dan terganggu fungsinya. Oklusi arteri retina
sentralis akan menyebabkan penderitanya mengeluh penglihatan yang tiba-tiba gelap tanpa
terlihatnya kelainan pada mata bagian luar. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat
seluruh retina berwarna pucat.
3) Glaukoma
Mekanisme terjadinya glaukoma pada retinopati diabetik masih belum jelas. Beberapa
literatur menyebutkan bahwa glaukoma dapat terjadi pada retinopati diabetik sehubungan
dengan neovaskularisasi yang terbentuk sehingga menambah tekanan intraokular.
4) Katarak
Katarak diabetik merupakan salah satu penyebab gangguan penglihatan yang utama pada
pasien diabetes melitus selain retinopati diabetik. Patofisiologi terjadinya katarak diabetik
berhubungan dengan akumulasi sorbitol di lensa dan terjadinya denaturasi protein lensa.
11. Jawaban : A
Pembahasan nomor 7
12. Jawaban : B
Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif


Cairan Lensa Normal Bertambah Normal Berkurang
(air masuk) (air+masa lensa
keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik Mata Depan Normal Dangkal Normal Dalam
Sudut Bilik Mata Normal Sempit Normal Terbuka

Shadow Test Negatif Positif Negatif Pseudopositif


Penyulit - Glaukoma - Uveitis+glaukoma

13. Jawaban : E
Glaukoma sudut terbuka, 3 kriteria utama :
1. TIO meningkat (>21 mmHg)
2. Lapang pandang menyempit
3. Funduskopi cup/disk ratio >0,5
Ada dua teori utama mengenai mekanisme kerusakan serabut saraf oleh peningkatan TIO
yaitu teori mekanik dan teori vaskular :
o Peningkatan TIO menyebabkan kerusakan mekanik pada akson nervus optikus
dan penipisan lapisan serat saraf dan inti bagian dalam retina, iris dan korpus
siliar juga menjadi atrofi, dan prosesus siliaris memperlihatkan degenerasi hialin
sehingga terjadi penurunan penglihatan.
o Peningkatan TIO menyebabkan iskemia akson saraf akibat berkurangnya aliran
darah pada papil nervus optikus. Diskus optikus menjadi atrofi disertai
pembesaran cekungan optikus.
Lokasi kerusakan sesuai dengan kasus di atas :

14. Jawaban : A
Mata kanan tidak bisa melihat, mata kiri normal kerusakan pada nervus optikus dekstra

15. Jawaban : C
Keluhan mata kiri pegal, berdenyut, pandangan kabur, visus 1/60  Glaukoma Akut
Gejala & Tanda Glaukoma :
- Gejala akut (sakit kepala, nyeri mata,mual, muntah, pandangan ber-halo)
- TIO meningkat
- Pemeriksaan= kornea odem, konjungtiva injeksi siliar, pupil tetap dilatasi saat disinari
lampu,iris bombe)
Keluhan nyeri yang dirasakn pasien karena adanya peningkatan TIO
16. Jawaban : C
Uveitis anterior = peradangan pada uvea yang meliputi iris dan badan siliar.
Gejala & tanda :
- Mata merah
- Nyeri
- Sensitif terhadap cahaya
- Mata berair
- Penglihatan kabur
- Pemeriksaan = * WBC terkumpul di bilik mata depan (keratic precipitate)
 Hipopion
 Pupil miosis, bisa sampai oklusi
 Kadang ada Sinekia posterior
Uveitis posterior = peradangan pada uvea yang meliputi retina dan koroid
Gejala & tanda :
- Mata tenang
- Floater karena sel granular bearada dalam vitrous humour
- Pemeriksaan = * batas N.II tidak jelas
 Vaskulitis retina
 Kadang ada ablatio retina
17. Jawaban : D
Mata merah, sekret, penglihatan tidak menurun, konjungtiva edem dan hiperemis 
konjungtivitis kataralis akut (konjungtivitis bakteri)
Konjungtivitis Kataralis = infeksi pada konjungtiva oleh bakteri Moraxella Catarrhalis atau
bakteri lain.
Gejala :
- Mata merah,nyeri, kabur
- Gatal, berair, sekret
- Edema palpebra
- Sensitif terhadap cahaya
Konjungtivitis flikten = merupakan reaksi hipersensitifitas tipe IV, ditandai adanya nodul
berupa lesi kecil dan terbatas pada limbus.
Gejala & tanda :
- Mata merah, berair, gatal
- Pemeriksaan = * Lesi sering ditemukan di limbus
 Nodul kecil warna pink tampak di tengah area hiperemis

Konjungtivitis kronik = konjungtivitis yang terjadi lebih dari 3 minggu, biasanya disertai
ektropion, entropion, blefaritis, dan dakriosistitis kronik.
Konjungtivitis gonore dan konjungtivitis vernal  uraian di nomor sebelumnya
18. Jawaban : A
Neuritis Optik Retrobulbar Neuritis Optik Kompresi Neuritis Optik Nutrisional
Definisi Inflamasi demyelin pada optic Injury pada optic nerve, Kerusakan pada optic
nerve, sering berhubungan karena penekanan oleh lesi nerve akibat kekurangan
dengan multiple sklerosis. dari luar, misalnya tumor nutrisi tertentu seperti vit
B12,B1,Bcompleks, asam
folat
Gejala *Penurunan tajam *Penurunan tajam *Bilateral
penglihatan mendadak penglihatan terjadi secara * Penurunan tajam
*Dyschromatopsia (gangguan lambat penglihatan terjadi secara
persepsi warna) *Dyschromatopsia lambat
*Nyeri retroorbital (gangguan persepsi warna) *Dyschromatopsia
*Fenomena Uhtoff *Proptosis, strabismus, (gangguan persepsi
(penurunan tajam penglihatan malposisi kelopak, warna)
dipicu oleh panas dan anosmia, kesemutan pada
excercise) muka
*Fenomena pulfrich ( obyek
yang bergerak lurus nampak
bergerak melengkung)
Pemeriksa *Refleks pupil menurun *Visus menurun sampai *Visus menurun sampai
an Fisik *Visus menurun sampai pada pada kebutaan pada kebutaan
kebutaan *Gangguan sensitifitas *Gangguan sensitifitas
*Gangguan sensitifitas terhadap kontras warna terhadap kontras warna
terhadap kontras warna *Gangguan lapang *Gangguan lapang
*Gangguan lapang pandang pandang pandang
*Scotoma sentral *Scotoma sentral

Atrofi papil optik = degenerasi nervus optikus akibat kerusakan akson


Gejala dan tanda :
- Hilangnya penglihatan
- Gangguan penglihatan warna
- Gangguan lapang pandang
- Pupil semi dilatasi
- Reflek pupil sedikit atau (-)
- Gambaran funduskopi bervariasi tergantung tipe atropi papil
19. Jawaban : E
Nonproliferatif Retinopaty DM Proliferatif Retinopaty DM
Mikroaneurisma Neovaskularisasi (+)
Venous beading Pendarahan vitreous (+)
Pendarahan intraretina
Soft/hard exudate
Neovaskularisasi (-)
Pendarahan vitreous (-)

20. Jawaban : B
Hipermetropi manifes Ditentukan dengan lensa sferis (+) terbesar yang
memberikan visus terbaik
Pemeriksaan tanpa menggunakan obat siklopegik
Dibedakan menjadi 2 :
Manifes fakultatif masih dapat diatasi dengan akomodasi
Manifes absolut tidak dapat diatasi dengan akomodasi
Hipermetropi total Seluruh derajat hipermetropi yang didapatkan setelah
akomodasi dilumpuhkan (misalnya dengan memakai
siklopegik)
Hasilnya lebih besar daripada hipermetropi manifest
Hipermetropi laten Merupakan selisih antara hipermetrop total dan manifes
Menunjukkan kekuatan tonus dari muskulus siliaris
21. Jawaban : D
Konjungtivitis vernal diakibatkan reaksi hipersensitivitas tipe I yang diperantarai IgE.
Biasanya konjungtivitis vernal mengenai usia muda antara 3-25 tahun dan kedua jenis
kelamin sama. Biasanya pada laki-laki mulai pada usia di bawah 10 tahun.
- Bentuk Palpebral
Mengenai konjungtiva tarsalis superior. Terdapat pertumbuhan papil yang besar (Cobble
stone) yang diliputi sekret mukoid.
- Bentuk Limbal
Hipertropi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan hiperplastik
gelatin, dengan Tranta’s dot yang merupakan degenerasi epitel kornea atau eosinofil di
bagian epitel limbus kornea .
Terapi :
Steroid, antihistamin
Jika gagal, mast cells stabilizer atau siklosporin
22. Jawaban : A
23. Jawaban : A
24. Jawaban : A
Uveitis anterior = peradangan pada uvea yang meliputi iris dan badan siliar.
Gejala & tanda :
- Mata merah
- Nyeri
- Sensitif terhadap cahaya
- Mata berair
- Penglihatan kabur
- Pemeriksaan = * WBC terkumpul di bilik mata depan (keratic precipitate)
 Hipopion
 Pupil miosis, bisa sampai oklusi
 Kadang ada Sinekia posterior
25. Jawaban : C
Uveitis dapat membaik dengan pengobatan sesuai penyakit yang mendasari. Terapi
penunjangnya adalah kortikosteroid, baik secara sistemik atau injeksi periokular dan
siklopegik yang bertujuan untuk melemahkan otot siliar sehingga midriasis dan mencegah
sinekia posterior.
26. Jawaban : B
Glaukoma sudut terbuka, 3 kriteria utama :
1. TIO meningkat (>21 mmHg)
2. Lapang pandang menyempit
3. Funduskopi cup/disk ratio >0,5
Sesuai kriteria di atas, pemeriksaan yang belum dilakukan pada kasus ini adalah pemeriksaan
lapang pandang yang disebut octopus perimetry.

27. Jawaban : E
Glaukoma sudut terbuka ditandai 3 kriteria utama :
1. TIO meningkat (>21 mmHg sampai 30 mmHg)
2. Lapang pandang menyempit
3. Funduskopi CD ratio >0,5
Varian glaukoma sudut terbuka :
1. Glaukoma normotensif : kriteria 2 dan 3 memenuhi, tetapi 1 tidak . Terapi : obat
hipertensi sitemik dan trabekulektomi.
2. Hipertensi okular : kriteria 1 memenuhi tapi 2 dan 3 tidak. Terapi : tidak diapa-apakan,
kecuali berisiko glaukoma.
28. Jawaban : E
Mata kabur, membaca lama pusing, OD 5/20 OS 5/5  mengarah pada kelainan refraksi
Pemeriksaan : visus  pinhole  refraksi
29. Jawaban : C
ODS 5/20 dilakukan koreksi dengan S +1,00  Hipermetropi
Tipe :
1. Struktural : sumbu bola mata pendek
2. Kurvatural : lensa tak dapat berakomodasi
3. Refraktif : densitas media refraksi turun
Gejala : mengeluh sakit kepala setelah membaca dan pandangan silau di tempat terang
Koreksi : lensa positif (konvergen,cembung)
30. Jawaban : A

31. Jawaban : A
Ulkus Mooren jarang ditemukan dan termasuk salah satu keratitis ulseratif perifer akibat
proses autoimun. Berkaitan dengan hepatitis C. Bentuk ulserasi biasanya berbentuk seperti
bulan sabit di limbus dengan infiltrat kekuningan di pinggirnya.
Tipe :
1. Limited : unilateral, sering menyerang orang tua, prognosis lebih baik
2. Resisten: bilateral, sangat nyeri, sering menyerang orang muda, prognosis buruk
Tatalaksana
1. Terapi lokal  kortikosteroid topikal diikuti reseksi konjungtiva dengan siklosporin
topikal, atau injeksi heparin subkonjungtiva
2. Terapi imunosupresi sitemik  baru diberikan jika reseksi gagal atau tipe resisten
3. Operasi keratoplasti lameral, epikeratoplasti, atau pembuatan flap
32. Jawaban : D
Gejala & Tanda Glaukoma :
- Gejala akut (sakit kepala, nyeri mata,mual, muntah, pandangan ber-halo)
- TIO meningkat
- Pemeriksaan= kornea odem, konjungtiva injeksi siliar, pupil tetap dilatasi saat disinari
lampu,iris bombe,COA dangkal)
33. Jawaban : C
Gejala & Tanda Glaukoma :
- Gejala akut (sakit kepala, nyeri mata,mual, muntah, pandangan ber-halo)
- TIO meningkat
- Pemeriksaan= kornea odem, konjungtiva injeksi siliar, pupil tetap dilatasi saat disinari
lampu,iris bombe,COA dangkal)
COA dangkal terjadi pada glaukoma sudut tertutup

34. Jawaban : B
Keratitis = peradangan pada kornea lapisan luar
Gejala & tanda :
- mata merah,berair, silau
- fluoresensi (+)
- Kornea keruh
- Visus turun
- Injeksi siliar
- Palpebra hiperemis
Tanda khas dari lesi :
Keratitis bakteri  infiltrat difus
Keratitis jamur  lesi satelit
Keratitis viral  dendritik

35. Jawaban : C
Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif


Cairan Normal Bertambah Normal Berkurang
Lensa (air masuk) (air+masa lensa
keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik Mata Normal Dangkal Normal Dalam
Depan
Sudut Bilik Normal Sempit Normal Terbuka
Mata
Shadow Negatif Positif Negatif Pseudopositif
Test
Penyulit - Glaukoma - Uveitis+glaukoma

36. Jawaban : tidak ada


Tindakan operasi untuk ablasio retina :
- Vitrectomy (mengeluarkan vitrus diganti dengan gas atau silicon bubble agar menekan
retina kembali ke tempatnya)
- Skleral buckling (busa silikon yang diletakkan di sklera bagian luar dan dijahit, sehingga
menimbulkan efek tekanan pada retina yang robek agar kembali ke tempatnya)
Tindakan operasi untuk katarak :
- ICCE (intra capsular cataract extraction)  tindakan untuk membuang seluruh lensa
- ECCE (extra capsular cataract extraction)  tindakan hanya membuang nukleus dan
korteks lensa
- SICS (small incision cataract surgery)  tindakan hampir sama dengan ECCE tapi dengan
sayatan yang sangat sedikit
- Fakoemulsifikasi  menggunakan mesin ultrasonik untuk mengemulsifikasi material
lensa dan selanjutnya diaspirasi
37. Jawaban : tidak ada
Pterigium merupakan jaringan fibrovaskular yang bersifat invasive dan degenerative,
berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah temporal maupun nasal konjungtiva menuju
kornea pada daerah intrapalpebra. Secara klinis pterigium terbagi atas:
 Grade I: pterigium terbatas pada limbus kornea
 Grade II: pterigium sudah melewati tepi limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm
 Grade III: pterigium sudah melewati tepi limbus lebih dari 2 mm tetapi tidak melewati
pinggiran pupil dalam keadaan cahaya normal (pupil 3-4 mm)
 Grade IV: pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga sudah ada gangguan
penglihatan
38. Jawaban : D
Ada dua tipe strabismus dipandang dari ketidakmampuan mengarahkan mata padasatu titik
kesemua arah pandang.
1) Paralitik (non komitan) juling tidak seimbang.
Yaitu akibat kelumpuhan oto-otot ekstravaskular sendiri, kedua mata lurus kecuali bila
berpindah kearah otot yang paralitik.
2) Non paralitik (kon komitan)juling seimbang.
Yaitu suatu kelainan yang dimana mata bervariasi tanpa ada lesi neurologist sehingga
gerakan kedua mata biasanya tidak terganggu karena kelainan tidak disebabkan
kelainan saraf.
Tipe Strabismus Kon Komitan :
1) Strabismus congenital mata juling dimulai sejak bayi usia kurang dari 6 bulan
2) Esotropia didapat, dibedakan menjadi 2 :
Ø Esotropia didapat (akomodatif)  ditemukan pada anak usia 2 tahun
lebih. Juling ini dapat terjadi saat melihat jauh, dekat, atau keduanya
Jenis esotropia akomodatif :
1. Refraktif akibat hipermetropia tidak dikoreksi.
2. Non refraktif akibat rasio akomodasi yang tinggi.
3. Gabungan.
Ø Esotropia didapat (non akomodatif)
Misalnya esotropia setelah pembedahan yang luas pada strabismus
divergen.
39. Jawaban : B
Retinoblastoma = tipe kanker mata yang jarang, biasanya berkembang pada usia anak
sebelum 5 tahun.
Gejala & tanda :
- Pupil tampak putih/kuning ketika disinari
- Mata tidak dapat fokus pada arah yang sama (juling)
- Nyeri pada mata
- Pupil konstan dilatasi
- Mata merah
40. Jawaban : D
OD koreksi S-2,00 OS koreksi S-6,00
Perbedaan dioptri antara kedua mata signifikan (> 3dioptri)  anisometropia
Anisometropia adalah penyebab utama terjadinya ambliopia, meskipun mekanisme
anisometropia ambliopia belum diketahui secara jelas.
Anisometropia miopi dapat menyebabkan ambliopia jika perbedaan > 2,00D.
Hipermetropi dapat menyebabkan ambliopia pada perbedaan 1,00D.
Anisometropia astigmatisme menyebabkan ambliopia ketika perbedaan > 1,50D.
41. Jawaban : B
Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif


Cairan Normal Bertambah Normal Berkurang
Lensa (air masuk) (air+masa lensa
keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik Mata Normal Dangkal Normal Dalam
Depan
Sudut Bilik Normal Sempit Normal Terbuka
Mata
Shadow Negatif Positif Negatif Pseudopositif
Test
Penyulit - Glaukoma - Uveitis+glaukoma

42. Jawaban : B
Konjungtivitis vernal diakibatkan reaksi hipersensitivitas tipe I yang diperantarai IgE.
- Bentuk Palpebral
Mengenai konjungtiva tarsalis superior. Terdapat pertumbuhan papil yang besar (Cobble
stone) yang diliputi sekret mukoid.
- Bentuk Limbal
Hipertropi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan hiperplastik
gelatin, dengan Tranta’s dot yang merupakan degenerasi epitel kornea atau eosinofil di
bagian epitel limbus kornea .
Terapi :
Steroid, antihistamin
Jika gagal, mast cells stabilizer atau siklosporin
43. Jawaban : D

Pada kasus merupakan konjungtivitis bakteri. Terapi sesuai penyebab yaitu pemberian
antibiotik (Polimiksin B)
44. Jawaban : B
Keratitis = peradangan pada kornea lapisan luar
Gejala & tanda :
- mata merah, berair, silau
- fluoresensi (+)
- Kornea keruh
- Visus turun
- Injeksi siliar
- Palpebra hiperemis
Tanda khas dari lesi :
Keratitis bakteri  infiltrat difus
Keratitis jamur  lesi satelit
Keratitis viral  dendritik
45. Jawaban : D
Gejala & Tanda Glaukoma :
- Gejala akut (sakit kepala, nyeri mata,mual, muntah, pandangan ber-halo)
- TIO meningkat
- Pemeriksaan= kornea odem, konjungtiva injeksi siliar, pupil tetap dilatasi saat disinari
lampu,iris bombe,COA dangkal)
46. Jawaban : C
Riwayat DM, visus menurun, tidak membaik dengan refraksi  retinopati DM
Pemeriksaan yang paling tepat adalah oftalmoskopi untuk mengetahui keadaan retina.
47. Jawaban : B
Prinsip dalam perbaikan refraksi:
Untuk miopia diberikan lensa negatif terkecil yangmemberikan visus maksimal.
Untuk hipermetropi diberikan lensa positif terbesar yang memberikan visus maksimal.
48. Jawaban : B
Kelopak mata kiri ptosis  paresis pada Musculus Levator Palpebra kiri  dipersarafi oleh
N. III sinistra
Pupil mata kiri dilatasi  paresis pada Musculus Sfingter Pupilae kiri  dipersarafi oleh N.III
sinistra
Bila melirik ke kanan bola mata kiri tidak dapat sampai ke kantus medialis kiri  paresis
pada Musculus Rectus Medialis kiri  dipersarafi oleh N.III sinistra

49. Jawaban : C

50. Jawaban : C
OS S-8,00 dan OD S-2,00
Perbedaan dioptri antara kedua mata signifikan (> 3dioptri)  anisometropia
51. Jawaban : E
Glaukoma kongenital (buftalmos) = adanya gangguan perkembangan mata segmen anterior,
atau disertai dengan variasi kelainan lainnya, sebagian besar didiagnosis pada 6-12 bulan
pertama.
Gejala & Tanda :
- TIO meningkat
- Epifora
- Fotofobia
- Pembesaran kornea bayi (>11,5 mm)
- Edema dan stroma kornea yang buram
Terapi :
- goniotomi (memperbaiki posisi bilik mata depan)
- trabekulotomi
52. Jawaban : D
HORDEOLUM KALAZION
- Lokasi radang : - Lokasi radang :
Eksterna : kelenjar Kelenjar Meibom
Zeis, Moll - Tidak ada tanda
Interna : kelenjar radang (nyeri(-),
Meibom bengkak(-), merah(-)
- Tanda radang - Pseudoptosis (+)
(nyeri(+), bengkak(+),
merah(+))
- Pseudoptosis (+)

53. Jawaban : C
Konjungtivitis gonore = radang konjungtiva akut dan hebat yang disertai sekret purulen.
Gonokok (bakteri gram negatif diplokokus) merupakan kuman yang sangat pathogen,
virulen, dan bersifat invasive sehingga reaksi radang terhadap kuman ini sangat berat.
Gejala :
- sekret purulen banyak,
- papil konjungtiva,
- kemosis berat,
- adenopathy preaurikular
- dapat disertai reaksi folikular.
54. Jawaban : C
HORDEOLUM KALAZION
- Lokasi radang : - Lokasi radang :
Eksterna : kelenjar Kelenjar Meibom
Zeis, Moll - Tidak ada tanda
Interna : kelenjar radang (nyeri(-),
Meibom bengkak(-), merah(-)
- Tanda radang - Pseudoptosis (+)
(nyeri(+), bengkak(+),
merah(+))
- Pseudoptosis (+)
55. Jawaban : E
Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif


Cairan Normal Bertambah Normal Berkurang
Lensa (air masuk) (air+masa lensa
keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik Mata Normal Dangkal Normal Dalam
Depan
Sudut Bilik Normal Sempit Normal Terbuka
Mata
Shadow Negatif Positif Negatif Pseudopositif
Test
Penyulit - Glaukoma - Uveitis+glaukoma

56. Jawaban : B

57. Jawaban : A
PINGUEKULA PTERIGIUM PSEUDO-PTERIGIUM

 Tidak menimbulkan keluhan  Pterigium merupakan  Adalah keadaan apabila


kecuali bila menunjukan konjungtiva bulbi patologik terdapat suatu ulkus kornea
peradangan akibat iritasi yang menunjukan penebalan atau kerusakan permukaan
yaitu seperti ada benda berupa lipatan berbentuk kornea, dan dalam proses
asing segitiga yang menjalar ke penyembuhannya konjungtiva
 Kelainan ini terdapat pada kornea menutupi luka tersebut
konjungtiva bulbi  dapat menyebabkan sehingga terlihat seolah - olah
 terlihat sebagai penonjolan kerusakan epitel kornea dan konjungtiva menutupi kornea
berwarna putih kuning membran bowman pada  Perbedaan Pseudo-pterigium
keabu - abuan kornea dengan pterigium :
 berupa hipertrofi yaitu  Pemeriksaan histopatologik  puncak pterigium
penebalan selaput lendir, menunjukan epitel yang menunjukan pulau - pulau
secara histopatologik pada ireguler dan degenerasi hialin Fuchs pada kornea
puncak penonjolan ini dalam stromanya sedangkan
terdapat degenerasi hialin.  gejala : rasa panas/nyeri, pseudopterigium tidak
 Panas, debu, sinar matahari gatal dan mengganjal atau  pseudoptergium didahului
dan udara kering mata lekas merah dan berair riwayat kerusakan
mempunyai peranan pada  pengobatan : permukaan kornea,
timbulnya pinguekula o pada keadaan dini tidak sedangkan pterigium tidak
 umumnya tidak memerlukan perlu dilakukan  pembuluh darah
pengobatan, obati anti pengobatan konjungtiva lebih menonjol
radang jika ada radang dan o pada keadaan inflamasi, pada pterigium daripada
cegah rangsangan dari luar diberikan anti radang pseudopterigium
steroid topikal  pada pseudopterigium
o pterigium st lanjut : dapat dimasukan sonde di
pembedahan bawahnya, sedangkan
pterigium tidak
 Pseudopterigium tidak
memerlukan pengobatan,
serta pembedahan kecuali jika
sangat menggangu visus atau
alasan kecantikan

58. Jawaban : B
Pendarahan subkonjungtiva = pendarahan yang terjadi di bawah lapisan konjungtiva, akibat
pecahnya pembuluh darah.
Keadaan yang menyebabkan pendarahan spontan di subkonjungtiva :
- Trauma
- Bersin
- Batuk
- Muntah
- Menggosok mata
- Memasukkan lensa kontak
- Kelainan medis lain yang menyebabkan pendarahan
Gejala :
- Tampak merah di area sklera
- Tidak ada nyeri
- Tidak ada gangguan penglihatan

59. Jawaban : B
HORDEOLUM KALAZION
- Lokasi radang : - Lokasi radang :
Eksterna : kelenjar Kelenjar Meibom
Zeis, Moll - Tidak ada tanda
Interna : kelenjar radang (nyeri(-),
Meibom bengkak(-), merah(-)
- Tanda radang - Pseudoptosis (+)
(nyeri(+), bengkak(+),
merah(+))
- Pseudoptosis (+)
60. Jawaban : B
Entropion = kondisi bulu mata tertekuk ke dalam bola mata.
Etiologi :
- Usia
- Melemahnya otot sekitar bulu mata
- Trauma
- Adanya jaringan parut
- Operasi sebelumnya
Gejala & tanda :
- Merah, iritasi, nyeri, sensitif terhadap cahaya dan angin
61. Jawaban : C
Uveitis anterior = peradangan pada uvea yang meliputi iris dan badan siliar.
Gejala & tanda :
- Mata merah
- Nyeri
- Sensitif terhadap cahaya
- Mata berair
- Penglihatan kabur
- Pemeriksaan = * WBC terkumpul di bilik mata depan (keratic precipitate)
 Hipopion
 Pupil miosis, bisa sampai oklusi
 Kadang ada Sinekia posterior
62. Jawaban : C
Endoftalmitis = radang supuratif berat dalam bola mata termasuk vitreus.
Panoftalmitis = peradangan seluruh bola mata termasuk lapisan mata (retina koroid dan
sklera) dan vitreus sehingga bola mata merupakan rongga abses, akibatnya terjadi kebutaan
Etiologi :
- Endogen akibat sepsis
- Eksogen akibat trauma tembus atau infeksi sekunder pada tindakan pembedahan yang
membuka bola mata
Gejala & tanda :
- penurunan tajam penglihatan
- rasa sakit,
- mata menonjol,
- edem kelopak,
- konjungtiva kemotik,
- kornea keruh,
- bilik mata dengan hipopion dan
- refleks putih di dalam fundus okuli.
63. Jawaban : A
Gejala & Tanda Glaukoma :
- Gejala akut (sakit kepala, nyeri mata,mual, muntah, pandangan ber-halo)
- TIO meningkat
- Pemeriksaan= kornea odem, konjungtiva injeksi siliar, pupil tetap dilatasi saat disinari
lampu,iris bombe)
- COA dangkal terjadi pada glaukoma sudut tertutup (akut)

64. Jawaban : C
Miopi = merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang memasuki mata tanpa
akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina.
Gejala miopi :
- kabur melihat benda yang letaknya jauh
- tidak sakit kepala
- penglihatan membaik dengan pinhole
- membaik dengan koreksi lensa negatif (divergen,cekung,minus)
Prinsip dalam perbaikan refraksi:
- Untuk miopia diberikan lensa negatif terkecil yangmemberikan visus maksimal.
- Untuk hipermetropi diberikan lensa positif terbesar yang memberikan visus maksimal.
65. Jawaban : Tidak ada
Pada astigmatisme, berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik dengan tajam pada retina
akan tetapi pada 2 garis api yang saling tegak lurus yang terjadi akibat kelainan
kelengkungan permukaan kornea.
Tipe Astigmatisma dengan contoh koreksi kacamata:
– Astigmatisma Miopia Simplex C-2.00 X 90
– Astigmatisma Hipermetrop Simplex C+2.00 X 45
– Astigmatisma Miopia Compositium S-1.50 C-1.00 X 60
– Astigmatisma Hipermetrop Compositium S+3.00 C+2.00 X 30
– Astigmatisma Mixtus S+2.00 C-5.00
66. Jawaban : B
Nonproliferatif Retinopaty Proliferatif Retinopaty
DM DM
Mikroaneurisma Neovaskularisasi (+)
Venous beading Pendarahan vitreous
Pendarahan intraretina (+)
Soft/hard exudate
Neovaskularisasi (-)
Pendarahan vitreous (-)
Pasien didiagnosis Retinopati DM yang sudah pada tahap proliferatif
67. Jawaban : B
Gejala & tanda :
- Sakit kepala
- Mual muntah
- Gejala-gejala visual seperti : penglihatan kabur, gangguan lapangan pandang dan
penurunan persepsi warna dapat terjadi, diplopia dapat terkadang ditemukan jika suatu
kelumpuhan saraf ketujuh terjadi, tajam penglihatan biasanya tidak terganggu kecuali
pada penyakit yang sudah lanjut
- Fundoskopi
 Batas pupil kabur
 Hiperemi papil
 Elevasi papil
 Perdarahan ( bentuk flame shaped dan punctata/ bercak
 Eksudat ( sebagai bercak putih/ cotton wool
 Pembendungan vena
 Pulsasi vena akan menghilang
 Hilangnya phisiologyc cup

68. Jawaban : C
Presbiopia = gangguan penglihatan terutama pada usia >40 tahun akibat gangguan
kelenturan lensa. Diperlukan lensa adisi sferis (+) untuk membaca.
Adanya gangguan kelenturan lensa membuat pemeriksaan tidak maju dengan pinhole.
69. Jawaban : A
Hifema = suatu kondisi terkumpulnya darah di bilik mata depan. Hal ini paling sering
disebabkan oleh trauma tumpul. TrUM Kn mwnginduksi robeknya pembuluh darah pada iris
atau badan silier. Hifema dapat juga disebabkan oleh trauma intraoperasi, pecahnya
neovaskularisasi, adanya kanker, atau kelainan vaskuler lain.
Gejala & Tanda :
- Ada darah pada bagian tengah mata
- Penurunan visus
- Gejala yang berkaitan dengan peningkatan TIO (nyeri mata, nyeri kepala, fotofobia)
Terapi :
Nonmedikamentosa
- Elevasi kepala 30-45 derajat
Medikamentosa
- Siklopegik/midriatik
- Analgesik
- Kortikosteroid topical
- Antifibrinolitik
- Antiglaukoma
Operatif
70. Jawaban : D
Trauma Kimia = trauma yang disebabkan oleh bahan kimia baik asam maupun basa.
Trauma mata yang disebabkan oleh zat basa lebih berbahaya dibandingkan dengan asam.
Basa dapat berpenetrasi ke jaringan mata yang lebih dalam dengan menghancurkan struktur
protein dan sel, sehingga menyebabkan kematian jaringan. Sedangkan asam hanya
menyebabkan kematian jaringan superfisial, sehingga tidak bisa berpenetrasi ke jaringan
yang lebih dalam.
Terapi :
- Irigasi dengan normal salin
- Rujuk sp.M
71. Jawaban : B
Atropin menyebabkan paralisis M.siliaris dan M. konstriktor pupil sehingga menyebabkan
pupil midriasis. Pupil yang midriasis ini akan membuat cairan di vitreus mengalir ke anterior
chamber, sehingga dapat semakin meningkatkan TIO.
72. Jawaban : B
Kabur melihat jauh, lensa sferis (-)  miopi
73. Jawaban : A

74. Jawaban : B
Gejala & Tanda Glaukoma :
- Gejala akut (sakit kepala, nyeri mata,mual, muntah, pandangan ber-halo)
- TIO meningkat
- Pemeriksaan= kornea odem, konjungtiva injeksi siliar, pupil tetap dilatasi saat disinari
lampu,iris bombe)
Pasien ini mengalami glaukoma yang disebabkan adanya katarak (+)  lens induce
glaucoma
75. Jawaban : B
Hifema = suatu kondisi terkumpulnya darah di bilik mata depan. Hal ini paling sering
disebabkan oleh trauma tumpul. TrUM Kn mwnginduksi robeknya pembuluh darah pada iris
atau badan silier. Hifema dapat juga disebabkan oleh trauma intraoperasi, pecahnya
neovaskularisasi, adanya kanker, atau kelainan vaskuler lain.
Gejala & Tanda :
- Ada darah pada bagian tengah mata
- Penurunan visus (pada kasus tidak ada penurunan visus karena darah tidak menutup
pupil)
- Gejala yang berkaitan dengan peningkatan TIO (nyeri mata, nyeri kepala, fotofobia)
Terapi :
Nonmedikamentosa
- Elevasi kepala 30-45 derajat
Medikamentosa
- Siklopegik/midriatik
- Analgesik
- Kortikosteroid topical
- Antifibrinolitik
- Antiglaukoma
Operatif
76. Jawaban : E
Bentuk buta warna :
1. Monokromatisme  sama sekali tidak dapat membedakan warna, hanya
tampak abu, hitam, putih
2. Dikromatik  mempunyai 2 pigmen kerucut, kesulitan membedakan warna
tertentu
 Protanipia  paling sering ditemukan dengan cacat merah-hijau
 Deutranopia  kurang pigmen hijau
 Tritanopia  defek biru-kuning
3. Trikromatik  mempunyai 3 pigmen kerucut, penderita dapat melihat
berbagai warna dengan interpretasi yang berbeda dengan orang normal
77. Jawaban : B

78. Jawaban : E
Prinsip dalam perbaikan refraksi:
Untuk miopia diberikan lensa negatif terkecil yangmemberikan visus maksimal.
Untuk hipermetropi diberikan lensa positif terbesar yang memberikan visus maksimal.
79. Jawaban : B

HORDEOLUM KALAZION
- Lokasi radang : - Lokasi radang :
Eksterna : kelenjar Kelenjar Meibom
Zeis, Moll - Tidak ada tanda radang
Interna : kelenjar (nyeri(-), bengkak(-),
Meibom merah(-)
- Tanda radang - Pseudoptosis (+)
(nyeri(+), bengkak(+),
merah(+))
- Pseudoptosis (+)
80. Jawaban : B
Uveitis anterior = peradangan pada uvea yang meliputi iris dan badan siliar.
Gejala & tanda :
- Mata merah
- Nyeri
- Sensitif terhadap cahaya
- Mata berair
- Penglihatan kabur
- Pemeriksaan = * WBC terkumpul di bilik mata depan (keratic precipitate)
 Hipopion
 Pupil miosis, bisa sampai oklusi
 Kadang ada Sinekia posterior

81. Jawaban : A
Drug induce contohnya steroid jangka panjang.
82. Jawaban : A
Trauma Kimia = trauma yang disebabkan oleh bahan kimia baik asam maupun basa.
Trauma mata yang disebabkan oleh zat basa lebih berbahaya dibandingkan dengan asam.
Basa dapat berpenetrasi ke jaringan mata yang lebih dalam dengan menghancurkan struktur
protein dan sel, sehingga menyebabkan kematian jaringan. Sedangkan asam hanya
menyebabkan kematian jaringan superfisial, sehingga tidak bisa berpenetrasi ke jaringan
yang lebih dalam.
Terapi :
- Irigasi dengan normal salin
- Rujuk sp.M
83. Jawaban : A
Visus
• Snellen Chart (20 feet atau 6 meter) 6/6 atau 20/20
• Finger Counting (menghitung jari) 1/60
• Hand Movement (lambaian tangan) 1/300
• Light Perception (persepsi cahaya) 1/tak terhingga
84. Jawaban : C
Terapi konjungtivitis GO (sumber: medscape):
- Eritromisin salep mata
- Sefalosporin generasi III iv atau im
Terapi konjungtivitis GO (sumber : pedoman nasional infeksi menular seksual 2011) :
PENGOBATAN KONJUNGTIVITIS PENGOBATAN KONJUNGTIVITIS
GONORE KLAMIDIA
Seftriakson 50-100 mg/kgBB, injeksi Sirop eritromisin basa , 50
intramuskular, dosis mg/kgBB/hari per oral, 4 kali
tunggal ATAU sehari, selama 14 hari ATAU

Kanamisin 25 mg/kgBB (maksimal 75 Trimetropim-sulfametoksasol 40-200


mg), injeksi mg, per oral, 2 kali
intramuskular, dosis tunggal ATAU sehari, selama 14 hari

85. Jawaban : D
Glaukoma Akut
Terapi :
1. Turunkan TIO : azetazolamid iv/oral bersama siklopegik topikal
(pilokarpin,latanoprost, timolol), steroid topikal, zat hiperosmolar
(manitol,gliserin)
2. Setelah TIO menurun, lakukan operasi iridotomi perifer atau trabekulektomi
 merupakan terapi definitif/kausa
Jika gagal : ALPI (argon laser peripheral iridoplasty) atau iridektomi perifer
86. Jawaban : A
Konjungtivitis viral spesifik herpes
Gejala & tanda :
- Unilateral
- Injeksi konjungtiva
- Fotofobia
- Iritasi
- Vesikel-vesikel sekitar mata
- Fluoresensi : dendritik
Terapi :
- Asiklovir salep 3% 5x sehari selama 7-10 hari
- Atau asiklovir 400 mg 5x sehari selama 7 hari
87. Jawaban : A
Dry eye = kondisi berkurangnya air mata untuk melumasi mata.
Gejala :
- Kering, iritasi
- Serasa berpasir
- Gatal
- Mata seperti terbakar, berat
- Mata berair
- Pandangan kabur
Pemeriksaan : uji schrimer (uji produksi air mata)
Terapi : artificial tear solution

Uji anel uji patensi saluran lakrimalis


Uji hirschberg  pemeriksaan untuk strabismus, ketika disinari apakah titik cahaya jatuh di
tengah pupil

88. Jawaban : E
OS : uveitis anterior
Uveitis anterior = peradangan pada uvea yang meliputi iris dan badan siliar.
Gejala & tanda :
- Mata merah
- Nyeri
- Sensitif terhadap cahaya
- Mata berair
- Penglihatan kabur
- Pemeriksaan = * WBC terkumpul di bilik mata depan (keratic precipitate/flare)
 Hipopion
 Pupil miosis, bisa sampai oklusi
 Kadang ada Sinekia posterior
OD : Katarak imatur

Insipien Imatur Matur Hipermatur


Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan Lensa Normal Bertambah (air Normal Berkurang
masuk) (air+masa lensa
keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik Mata Normal Dangkal Normal Dalam
Depan
Sudut Bilik Normal Sempit Normal Terbuka
Mata
Shadow Test Negatif Positif Negatif Pseudopositif

Penyulit - Glaukoma - Uveitis+glaukoma

89. Jawaban : A
Keratitis
Faktor risiko :
- Riwayat trauma
- Riwayat pemakai lensa kontak (baru pakai tidak tahu caranya, atau sudah lama pakai
tapi tidak tahu cara merawatnya)
- Pakai tetes mata steroid dalam waktu yang lama
- Riwayat mata merah dan mata buram hilang timbul
Gejala :
- Nyeri, silau
- Kornea keruh
- Visus turun
- Injeksi siliar
- Palpebra hiperemis
- Tes fluoresensi (+)
Tanda khas dari lesi :
Keratitis bakteri  infiltrat difus
Keratitis jamur  lesi satelit
Keratitis viral  dendritik
90. Jawaban : E
Atrofi papil optik = degenerasi nervus optikus akibat kerusakan akson
Klasifikasi berdasarkan Etiologi
1. Atropi Papil Primer  disebabkan adanya lesi yang mengenai jalur visual pada bagian
retrolaminar saraf optik ke badan genikulatum lateral. Lesi yang mengenai saraf optik
akan menghasilkan atropi papil yang unilateral,sedang lesi yang mengenai chiasma dan
traktus optikus akan menyebabkan atropi papil yang bilateral.
Penyebab:
o Neuritis retrobulbar
o Lesi yang menekan saraf optik,seperti tumor (pituitary adenoma,
craniopharyngioma dan suprasellar meningioma),
o Toxic neuropati : methanol (spritus),ethambutol,isoniazid,penyebab yang
jarang amiodaron,streptomisin,chlorpropamide.
o Nutritional Optik neuropathy: Defisiensi thiamine (vitamin B1), vitamin B12,
niacin (vitamin B6)
o Traumatic optic neuropathy
o Atropi papil heredite
2. Atropi Papil Sekunder  Didahului oleh pembengkakan optic nerve head
Penyebab :
o Papil edema kronis
o Anterior Ischaemic Optic Neuropathy
o Papillitis
Gejala dan tanda :
- Hilangnya penglihatan
- Gangguan penglihatan warna
- Gangguan lapang pandang
- Pupil semi dilatasi
- Reflek pupil sedikit atau (-)
- Gambaran funduskopi bervariasi tergantung tipe atropi papil
91. Jawaban : B
Rabun senja (xeroftalmia) merupakan penyakit keratokonjungtivitis akibat defisiensi vitamin
A.
Gejala:
- Buta senja,
- mata kering dan nyeri,
- sensasi benda asing,
- penurunan penglihatan
Tahap-tahap :
XN = buta senja (tanda dini)
X1A = xerosis konjungtiva
X1B = xerosis konjungtiva dengan bitot spot
X2 = xerosis kornea bersifat reversible
X3A = xerosis kornea bersifat irreversible
X3B = xerosis kornea dengan keratomalasia
XS = xerophtalmic scar
XF = fundal xerophtalmic
92. Jawaban : D
Insipien Imatur Matur Hipermatur

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif


Cairan Lensa Normal Bertambah (air Normal Berkurang
masuk) (air+masa lensa
keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik Mata Normal Dangkal Normal Dalam
Depan
Sudut Bilik Normal Sempit Normal Terbuka
Mata
Shadow Test Negatif Positif Negatif Pseudopositif

Penyulit - Glaukoma - Uveitis+glaukoma

93. Jawaban : D
Neuritis Optik Kerusakan pada optic nerve akibat kekurangan nutrisi tertentu seperti
Nutrisional vit B12,B1,Bcompleks, asam folat
Neuritis Optik Kerusakan pada optic nerve akibat methanol
Toxic (spritus),ethambutol,isoniazid,penyebab yang jarang
amiodaron,streptomisin,chlorpropamide.
Gejala & tanda *Bilateral
* Penurunan tajam penglihatan
*Dyschromatopsia (gangguan persepsi warna)
* Visus menurun sampai pada kebutaan
* Gangguan sensitifitas terhadap kontras warna
* Gangguan lapang pandang

94. Jawaban : A
95. Jawaban : B
Gejala & Tanda Glaukoma Akut:
- Gejala akut (sakit kepala, nyeri mata,mual, muntah, pandangan ber-halo)
- TIO meningkat  diperiksa dengan tonometri schiotz
- Pemeriksaan= kornea odem, konjungtiva injeksi siliar, pupil tetap dilatasi saat disinari
lampu,COA dangkal, iris bombe)
96. Jawaban : D

Pada kasus di atas merupakan konjungtivitis bakteri. Terapi :


- Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung pada temuan agen mikrobiologiknya.
Terapi dapat dimulai dengan antibiotik topikal spektrum luas. (Pada kasus di atas,
antibiotik pilihannya adalah kloramfenikol)
- Pada setiap konjungtivitis purulen yang dicurigai disebabkan oleh diplokokus gram (-)
negatif harus segera dimulai terapi topical dan sistemik.
- Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis harus dibilas dengan
larutan saline untuk menghilangkan sekret konjungtiva. Atau kompres hangat untuk
konjungtivitis bakteri atau virus, sedangkan kompres air dingin membantu meringankan
konjungtivitis alergi .
97. Jawaban : A
98. Jawaban : D
OD C-1,00D dan OS C-1,50D  astigmatisme
Pada astigmatisme, berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik dengan tajam pada retina
akan tetapi pada 2 garis api yang saling tegak lurus yang terjadi akibat kelainan
kelengkungan permukaan kornea.
Tipe Astigmatisma dengan contoh koreksi kacamata:
– Astigmatisma Miopia Simplex C-2.00 X 90
– Astigmatisma Hipermetrop Simplex C+2.00 X 45
– Astigmatisma Miopia Compositium S-1.50 C-1.00 X 60
– Astigmatisma Hipermetrop Compositium S+3.00 C+2.00 X 30
– Astigmatisma Mixtus S+2.00 C-5.00
99. Jawaban : E
Keratitis
Faktor risiko :
- Riwayat trauma
- Riwayat pemakai lensa kontak (baru pakai tidak tahu caranya, atau sudah lama pakai
tapi tidak tahu cara merawatnya)
- Pakai tetes mata steroid dalam waktu yang lama
- Riwayat mata merah dan mata buram hilang timbul
Gejala :
Gejala & tanda :
- mata merah,berair, silau
- fluoresensi (+)  pemeriksaan yang perlu dilakukan
- Kornea keruh
- Visus turun
- Injeksi siliar
- Palpebra hiperemis
100. Jawaban : C
Pterigium merupakan jaringan fibrovaskular yang bersifat invasive dan degenerative,
berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah temporal maupun nasal konjungtiva menuju
kornea pada daerah intrapalpebra. Secara klinis pterigium terbagi atas:
 Grade I: pterigium terbatas pada limbus kornea
 Grade II: pterigium sudah melewati tepi limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm
 Grade III: pterigium sudah melewati tepi limbus lebih dari 2 mm tetapi tidak melewati
pinggiran pupil dalam keadaan cahaya normal (pupil 3-4 mm)
 Grade IV: pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga sudah ada gangguan
penglihatan