Anda di halaman 1dari 29

PENGARUH LAMA PENYINARAN SINAR ULTRAVIOLET (UV) DAN MACAM

STRAIN TERHADAP PERSENTASE PENETASAN TELUR Drosophila melanogaster


STRAIN N dan W

LAPORAN PROYEK

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Genetika I

Yang dibina oleh Prof. Dr. Hj. Siti Zubaidah, M.Pd dan Andik Wijayanto M.Si

Disusun Oleh:
Kelompok 15
Diah Ajeng Mustikarini
(140342600824)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI

Maret 2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mutasi adalah perubahan pada materi genetik baik DNA ataupun RNA suatu makhluk
yang terjadi secara tiba-tiba, acak, dan merupakan dasar bagi sumber variasi organisme hidup
yang bersifat terwariskan (heritable). Bahan-bahan yang menyebabkan mutasi disebut
mutagen. Mutagen dibagi menjadi tiga yaiti : mutagen kimia, fisika dan biologi. Salah satu
mutagen fisika adalah Sinar ultraviolet (UV) merupakan salah satu mutagen yang dapat
menyebabkan mutasi. Sinar UV mempunyai daya tembus yang rendah sehingga tidak semua
organisme yang terkena sinar UV akan mengalami mutasi. Lama penyinaran dapat
menyebabkan mutasi tersebut memungkinkan terjadi pada suatu organisme, namun
tergantung dari tingkat sensitivitas dan perbaikan DNA dari setiap organisme (Jenkis, 1990
dalam Sa’adah, 2000).
Sinar Ultraviolet merupakan gelombang elektromagnetik yang memiliki panjang
gelombang yang berbeda-beda, tidak menimbulkan ionisasi, dan memiliki daya tembus
rendah. Sinar Ultraviolet digunakan untuk menyinari telur Drosophila melanogaster karena
memiliki daya tembus yang rendah sehingga tidak semua bagian dalam telur akan terkena
radiasinya hanya pada lapisan atau permukaan telur luar saja dan masih ada telur yang dapat
menetas. Hal tersebut juga tergantung pada kemampuan perbaikan DNA pada setiap
individu.’
Drosophila melanogaster memiliki banyak strain mutan. Mutan dapat terjadi pada
warna mata, warna tubuh, dan sayap pada Drosophila melanogaster. Salah satu mutan pada
warna mata adalah strain W. Strain W memiliki ciri morfologi sayapnya lebih menutupi
seluruh tubuh, serta lebih panjang dari tubuhnya. Setiap strain dari Drosophila melanogaster
memiliki sensitivitas yang berbeda. Pada penelitian yang dilakukan oleh Muliati (2000) yang
menyimpulkan ada pengaruh perbedaan strain terhadap jumlah turunan Drosophila
melanogaster pada persilangan strain Normal, ebony dan White. Penelitian dari Karmana
(2010) juga menyimpulkan ada pengaruh perbedaan strain terhadap penetasan telur strain N,
Vg, dan tx. Pada D.melanogaster yang memiliki strain N memiliki fenotip mata berwarna
merah serta tubuhnya menutupi seluruh tubuhnya.
Pada tahun 1941,Seorang ilmuwan yang bernama Altenburg meradiasi Drosophila
dewasa, menggunakan sinar ultraviolet. Akan tetapi hasilnya penetrasi sinar ultraviolet pada
lalat dewasa sangat rendah karena sinar ultraviolet ini hanya mampu diabsorbsi pada jaringan
kulit (integumen) dan gagal mencapai sel kelamin (gonad). Dari hasil penelitian tersebut
dapat diketahui bahwa Drosophila dewasa tidak sesuai sebagai bahan eksperimental
ultraviolet mutagenesis serta dapat diketahui pula dalam penelitian tersebut bahwa ultraviolet
mutagenesis lebih sesuai pada objek yang sangat kecil seperti mikroorganisme ataupun sel
yang sedang aktif membelah dan tumbuh seperti telur, karena sel-sel ini sangat sensitif
terhadap sinar ultraviolet daripada individu dewasa. ( Sinnot,1958).
Penelitian ini menggunakan telur Drosophila melanogaster sebagai objek penelitian
karena berdasarkan hasil penelitian Altenburg di tahun 1941 telah dinyatakan bahwa telur
adalah sel yang aktif membelah dan tumbuh,selain itu telur yang dihasilkan Drosophila
melanogaster sangat banyak serta memiliki anatomi cangkang yang memiliki dua lapisan,
yaitu satu selaput vitellin yang mengelilingi sitoplasma dan satu lapis selaput Khorion di
bagian luar (Borror, 1992). Kedua lapisan tersebut adalah lapisan tipis sehingga
memungkinkan untuk ditembus oleh sinar UV, dan secara otomatis dapat diamati pengaruh
lama penyinaran sinar ultraviolet terhadap penetasan telur Drosophila melanogaster.
Dari uraian diatas dapat dilakukan penelitian untuk membuktikan Pengaruh Lama
Penyinaran Ultraviolet dan Macam Strain Terhadap Persentase Penetasan Telur Drosophila
melanogaster Strain N dan W, dengan menyilangkan ♂ N >< ♀ N dan ♂ W >< ♀ W.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dikemukakan rumusan masalah, sebagai
berikut :
1. Apakah ada pengaruh lama penyinaran UV terhadap persentase penetasan telur
Drosophila melanogaster ?
2. Apakah ada pengaruh macam strain terhadap persentase penetasan telur Drosophila
melanogaster?
3. Apakah ada interaksi antara lama penyinaran UV dan macam strain terhadap persentase
penetasan telur Drosophila melanogaster?

1.3 Manfaat Penelitian


Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca
dan yang berkepentingan. Pihak-pihak tersebut antara lain :
a. Pihak peneliti
Sebagai pedoman untuk menambah wawasan dan pengalaman dalam hal penelitian
Untuk memotivasi agar dapat melakukan penelitian lagi dalam bidang genetika maupun
bidang lainnya.
b. Pihak mahasiswa
Untuk menambah wawasan mahasiswa Biologi dalam hal mutasi dan mutagennya dari
Pengaruh radiasi sinar UV terhadap persentase penetasan telur Drosophila melanogaster.
c. Pihak lain
Mendorong para pembaca untuk melakukan penelitian yang sama serta untuk memberi
acuan untuk melakukan penelitian yang sama

1.4 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah


Ruang lingkup dan batasan masalah adalah sebagai berikut :
1. Dalam penelitian ini digunakan dua strain yang berbeda yaitu strain N dan strain W
yang didapat dari Laboratorium Biologi FMIPA UM.
2. Pengambilan data dibatasi pada perhitungan jumlah telur Drosopila melanogaster hasil
persilangan antara ♂ N >< ♀ N dan ♂ W >< ♀ W yang diperlakukan 3 pasang.
3. Pengambilan data dibatasi pada perhitungan telur yang menetas selama 7 hari.
4. Perlakuan yang dilakukan adalah penyinaran UV yang divariasi lama penyinaran 0
menit, 2 menit, 4 menit, 6 menit dan 8 menit.
5. Radiasi penyinaran UV menggunakan sinar UV buatan berasal dari lampu dengan
panjang gelombang 254-269 nm.

1.5 Asumsi Penelitian


Terdapat beberapa asumsi dari penelitian ini antara lain :
1. Pisang yang digunakan untuk tempat bertelurnya Drosophila melanogaster dianggap
sama yaitu pisang raja mala.
2. Kondisi medium yang diberikan kepada Drosophila melanogaster dianggap sama.
3. Umur Drosophila melanogaster yang digunakan dianggap sama, berumur sekitar 2-3
hari.
4. Suhu, kelembaban dan intensitas cahaya yang diberikan pada Drosophila
melanogaster dianggap sama.
5. Panjang gelombang sinar UV dianggap sama sekitar 254-269 nm.
1.6 Definisi Operasional
Untuk memudahkan memahami beberapa bahasan yang ada, terdapat beberapa definisi
sebagai berikut :
1. Mutasi adalah perubahan pada materi genetik baik DNA ataupun RNA suatu makhluk
yang terjadi secara tiba-tiba, acak, dan merupakan dasar bagi sumber variasi organisme
hidup yang bersifat terwariskan (heritable).
2. Strain adalah kelompok intra spesifik yang memiliki sejumlah kecil ciri yang berbeda dan
biasanya ciri tersebut dipertahankan secara sengaja untuk kepentingan di bidang pertanian
ataupun untuk kepentingan eksperimen (Corebima, 1997).
3. Sinar UV adalah jenis gelombang elektromagnetik yang dapat dideteksi oleh sel-sel
sensitif mata yang memiliki panjang gelombang berbeda-beda. Sinar Uv yang digunakan
merupakan sinar UV buatan terbuat dari lampu deuterium dengan panjang gelombang
254-269 nm (Crawder, 1990).
4. Penetasan telur adalah suatu proses biologi yang kompleks untuk mencapai stadium baru
dalam siklus hidupnya (Drosophila melanogaster) yaitu stadium larva (Sander,1976).
5. Interaksi adalah hubungan atau kaitan antara sesuatu yang berbeda atau sama. Interaksi
dalam penelitian ini adalah interaksi antara strain dan lama penyinaran UV (Corebima,
2003).
6. Strain N merupakan Drosophilla yang normal, tidak mengalami mutasi dengan fenotipe
mata berwarna merah, sayap lebih panjang daripada tubuhnya, serta tubuh berwarna
kuning kecoklatan.
7. Stran W merupakan Drosophilla yang mengalami mutasi, dengan fenotipe mata berwarna
putih, sayap lebih panjang daripada tubuhnya, serta tubub berwarna kuning kecoklatan.

.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Drosophila melanogaster

Klasifikasi D. melanogaster
Menurut Strickberger (1985) klasifikasi dari Drosophila melanogaster adalah
sebagai berikut:
Filum : Arthropoda
Anak Filum : Mandibulata
Induk Filum : Hexapoda
Kelas : Insecta
Anak Kelas : Pterygota
Bangsa : Diptera
Anak Bangsa : Cyclorihapda
Induk suku : Ephydroideae
Suku : Drosophilidae
Anak Marga : Saphophora
Marga : Drosophila
Jenis : Drosophila melanogaster
Drosophila melanogaster merupakan jenis lalat buah, dimasukkan dalam filum
antropoda kelas insekta diptera, anak bangsa cyclophorha (pengelompokan lalat yang
pupanya terdapat kulit instar 3, mempunyai jaws hooks, seri acaliptra (imago menetas dengan
keluar dari bagian anterior pupa), suku drosophilidae, jenis drosophila melanogeser di
indonesia terdapat sekitar 600 jenis, pulau jawa sekitar 120 jenis dari suku drosophilidae
(wheeler,1981)
Drosophila memiliki ciri morfologi yang berbeda antara jantan dan betinanya. Pada
Drosophila jantan Memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil bila dibandingkan dengan yang
betina. Memiliki 3 ruas dibagian abdomennya dan memiliki sisir kelamin.Sedangkan pada
yang betina ukuran relatif lebih besar,memiliki 6 ruas pada bagian abdomen dan tidak
memiliki sisir kelamin (Soemartomo.S.S,1979)
Drosophila memiliki empat stadium metamorfosis yaitu sebagai berikut :
1. Telur
Menurut percobaan M. Bownes dan K. Sander pada tahun 1976, tentang perkembangan
embrio Drosophila melanogaster setelah diberi sinar UV menunjukkan bahwa perkembangan
embrio setelah diberi sinar UV mengalami ketidaknormalan.

Gambar 2.3.1 Proses Mutasi pada telur D. melanogaster


Sumber : (Nelson,2005)
Telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang
mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di
anteriornya terdapat dua tangkai tipis. Pada ujung anterior terdapat mikrophil, tempat
spermatozoa masuk ke dalam telur. Walaupun banyak sperma yang masuk ke dalam
mikrophil tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronukleus betina dan yang
lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio (Borror, 1992).
2. Larva
Setelah 2 hari telur menetas menjadi larva yang berwarna putih keruh, berbentuk bulat
panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva berwarna putih keruh atau putih
kekuningan, berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva lalat buah
terdiri atas 3 bagian; yaitu kepala, toraks (3 ruas), dan abdomen (8 ruas). Kepala berbentuk
runcing dengan dua buah bintik hitam yang jelas dan mempunyai alat kait mulut. Ada 3 jenis
larva yaitu :1) Larva 1 yaitu berbentuk lonjong pipih, berwarna putih bening, berukuran ± 1
mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, belum memiliki spirakel anterior,2)
Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran ± 2 mm, bersegmen, berbentuk dan
bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam untuk makan, memiliki
spirakel anterior dan 3) berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran ± 3-4 mm,
bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam
lebih besar dan jelas terlihat dibanding larva instar 2, memiliki spirakel anterior dan terdapat
beberapa tonjolan pada spirakel anteriornya (Borror, 1992).
3. Pupa
Larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi
keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai
dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa)
menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak
aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa (Ashburner, 1985).

Gambar 2. Pupa Drosophilla melanogaster


(Sumber: E. Beers. 2010)
4. Imago
Lalat dewasa yang baru keluar dari pupa sayapnya belum mengembang, tubuhnya
berwarna bening.Keadaan ini akan berubah dalam beberapa jam. Lalat betina mencapai umur
matang kelamin dalam waktu 12 hingga 18 jam dan dapat bertahan hidup selama lebih
kurang 26 hari. Ukuran tubuhnya lebih panjang daripada lalat jantan.Pada permukaan dorsal,
abdomen lalat betina berwarna lebih gelap daripada lalat jantan. Sementara itu, pada bagian
kaki lalat jantan terdapat struktur yang dinamakan sisir kelamin atau sex comb (Borror,
1992).

2.2 Strain N dan W


. Pada strain W memiliki warna mata putih dan strain N yang memiliki warna mata
merah. Strain W terjadi mutasi gen putih secara total sedangkan untuk strain N tidak
mengalami mutasi, termasuk D. melanogaster yang normal. Adanya perubahan karena mutasi
tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan pada genotip kromosom sehingga akan
mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan karena kromosom pada Drosophila
melanogaster berpengaruh terhadap masalah perkelaminan karena ekspresi kelamin pada
Drosophila melanogaster tergantung pada perimbangan antara kromosom x dan autosom.
Hal ini diduga dapat menyebabkan jumlah penetasan yang dihasilkan karena jumlah turunan
sangat terkait dengan ekspresi kelamin.
Strain ini mempunyai mata putih. Seperti lalat orange-eyed, mereka juga mempunyai
suatu cacat di dalam tubuh mereka yaitu gen putih. Tetapi di lalat ini, gen putih secara total
cacat, sehingga tidak menghasilkan pigmen merah sama sekali.
Adanya perbedaan ini menyebabkan kedua strain memiliki sensitivitas yang berbeda
jika terkena radaiasi sinar ultraviolet sehingga menghasilkan persentase penetasan yang
berbeda pula.

2.3 Definisi Mutasi


Mutasi adalah peristiwa perubahan materi genetik baik DNA maupun RNA (Jenkins,
1990 dalam Sa’adah, 2000). Istilah mutasi pertama kali dipergunakan oleh Hugo de vries,
untuk mengemukakan adanya perubahan fenotip yang mendadak pada bunga Oenothera
lamarckiana dan bersifat menurun. Ternyata perubahan tersebut terjadi karena adanya
penyimpangan dari kromosomnya. Seth wright juga melaporkan peristiwa mutasi pada
domba jenis Ancon yang berkaki pendek dan bersifat menurun.
Akan tetapi pada kenyataanya perubahan yang terjadi akibat mutasi tidak selalu
diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan tidak selalu dapat dideteksi
(Corebima, 2000). Penyebab terjadinya mutasi bisa berasal dari banyak faktor. Secara umum
penyebab mutasi (yang spontan maupun terinduksi) adalah keadaan atau faktor-faktor
internal materi genetik. Seperti diketahui mutasi spontan adalah perubahan materi genetik
yang terjadi tanpa sebab-sebab yang jelas sedangkan mutasi terinduksi terjadi karena
pemaparan makhluk hidup pada penyebab mutasi seperti radiasi pengion,berbagai senyawa
kimia dan radiasi ultra violet (Corebima, 2000).
Menurut Gardner,dkk (1991), Bahan-bahan yang dapat menyebabkan mutasi disebut
mutagen. Mutagen dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Mutagen bahan kimia, contohnya kolkisin zat digitonin. Kolkisin adalah zat yang dapat
menghalangi terbentuknya benang-benang spindel pada proses anafase dan dapat
menghambat pembelahan sel pada anafse.
2. Mutagen bahan fisika, contohnya sinar ultraviolet, sinar radioaktif. Sinar ultraviolet (UV)
dapat menyebabkan kanker kulit.
3. Mutagen bahan biologi, diduga virus dan bakteri dapat menyebabkan mutasi. Bagian virus
yang dapat menyebabkan mutasi yaitu DNA virus tersebut

2.2 Radiasi sinar ultraviolet (UV)


Penyebab mutasi dalam lingkungan yang bersifat fisik adalah radiasi dan suhu.
Radiasi sebagai penyebab mutasi dibedakan menjadi radiasi pengion dan bukan pengion
(Gardner dkk, 1991 dalam Corebima, 2000).Radiasi pengion berenergi tinggi sedangkan
radiasi bukan pengion berenergi rendah. Radiasi sinar ultra violet (UV) merupakan contoh
radiasi bukan pengion (Corebima, 2000).
Sinar ultraviolet (UV) merupakan jenis gelombang elektromagnetik yang dapat
dideteksi oleh sel-sel sensitif mata, yang memiliki panjang gelombang berbeda-beda yang
tidak dapat menimbulkan ionisasi dan memiliki daya tembus yang rendah (Crawder, 1990).
Pada tumbuhan dan hewan tingkat tinggi, sinar UV dapat menembus lapisan
permukaan saja. Molekul-molekul yang mengandung atom yang berada dalam keadaan
tereksitasi secara kimiawi laebih reaktif daripada yang memiliki atom-atom dalam keadaan
stabil. Reaktivitas yang meningkat dari atom-atom molekul DNA merupakan dasar dari efek
mutagenik radiasi sinar UV. Reaktifitas yang meningkat tersebut mengundang terjadinya
sejumlah rekasi kimia termasuk mutasi (Gardner, dkk., 1991).
Sinar ultraviolet berperan dalam perbaikan struktur DNA. Sinar ultraviolet dapat
menyebabkan patahnya pita DNA, dan juga menyebabkan ikatan kovalen T-T dan C-T, baik
berdekatan pada suatu pita atau melewati “tangga”. Perbaikan kerusakan ini dapat
menyebabkan pergeseran basa, misalnya CG-TA, dan dengan demikian menyebabkan
perubahan dalam sandi genetik. (Kimball, 1983 )
DNA akan menyerap sinar UV secara maksimum pada λ = 254 nm, sehingga
mutagenitas maksimum juga terjadi pada panjang gelombang tersebut. Sinar UV tidak
mampu menimbulkan pengionan dan hanya sedikit menembus jaringan (umumnya hanya
pada sel-sel lapisan permukaan organisme multiseluler) dikarenakan memiliki energi yang
rendah. Walaupun demikian sinar UV merupakan mutagen yang potensial untuk organism
uniseluler (Gardner,dkk, 1991).
Panjang gelombang dari penyinaran sinar UV tidak memberikan pengaruh yang begitu
tinggi pada termutasinya gamet, karena memiliki daya penetrasi yang rendah. Pengaruh dari
penyinaran UV ini nampak pada perubahan materi genetik. Mikroorganisme yang diberi
perlakuan sinar UV menunjukkan aktivitas adanya peristiwa mutasi. Peristiwa ini
dipengaruhi oleh daya absorpsi materi genetik yang dilakukan mikroorganisme terhadap sinar
UV (Rothwell,1983).
Menurut Crowder (1990) embrio lebih sensitif terhadap kondisi lingkungannya. Sel-sel
embrio yang aktif tumbuh dan membelah memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi
terhadap radiasi.
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual

Radiasi sinar UV dapat


Sinar UV adalah salah satu
menyebabkan terjadinya
faktor penyebab mutasi, yaitu
perubahan materi
mutasi terinduksi. Dengan
genetik
panjang gelombang 254-269
nm.

Embrio lebih sensitif terhadap perubahan


lingkungan dan replikasi DNA serta
Sensitivitas telur
sintesisnya lebih tinggi
tiap strain
berbeda-beda
Sensitivitas telur Drosophila melanogaster
antara Strain N dan strain W berbeda

Jika sensitivitas telur rendah Jika sensitivitas telur tinggi


maka telur dapat menetas maka telur tidak dapat menetas
menjadi larva menjadi larva

Pengaruh strain, lama penyinaran UV dan interaksi antara strain dengan lama
penyinaran UV terhadap persentase penetasan telur D. Melanogaster hasil
persilangan straintx N♂x N♀ dan emal ♂Wx ♀W
3.2 Hipotesis Penelitian

1. H1: Lama penyinaran UV berpengaruh terhadap persentase penetasan telur


Drosophila melanogaster.
2. H1: Macam strain berpengaruh terhadap persentase penetasan telur Drosophila
melanogaster.
3. H1: Interaksi antara lama penyinaran UV dan macam strain berpengaruh terhadap
persentase penetasan telur Drosophila melanogaster.
BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian


Pada penelitian pengaruh sinar UV terhadap terhadap persentase penetasan telur
Drosophila melanogaster dilakukan empat perlakuan dan kontrol serta 3 kali ulangan. Pada
peneletian ini digunakan strain Drosophilla melanogaster yang berbeda yaitu strain N dan
strain W dengan penyilangan ♂ N >< ♀ N dan ♂ W >< ♀ W yang nantinya akan
menghasilkan telur yang akan diberi perlakukan dengan sinar UV.

4.2 Waktu dan tempat pelaksanaan penelitian


Pelaksanaa penelitian dimulai pada bulan Januari 2016 hingga Maret 2016. Tempat di
Laboratorium Genetika FMIPA UM.

4.3 Variabel Penelitian


1. Variabel bebas : Lama penyinaran sinar ultraviolet dan macam strain
Drosophilla melanogaster
2. Variabel terikat : Persentase penetasan telur menjadi larva.
3. Variabel kontrol : Panjang gelombang sinar UV ,umur D.melanogaster yang
disilangkan, dan pisang raja mala sebagai medium.

4.4 Alat dan Bahan


Alat : Botol selai Mikroskop stereo
Selang plastik Gelas arloji
Pupasi Set alat UV
Spons Kasa
Kuas Neraca
Jarum Kompor
Pisau
Blender
Bahan : Pisang Raja Mala yeast
Tape singkong Air
Gula merah Alkohol 70%
Tissue D. melanogaster
4.5 Prosedur Kerja
1. Pembuatan Medium
a. Menimbang bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan medium yailu
pisang Raja mala, tape singkong, dan gula merah dengan perbandingan 7:2:1 (1 resep).
b. Mengiris bahan-bahan tersebut menjadi potongan-potongan kecil dan menimbang serta
menambahkan air secukupnya.
c. Menghaluskan bahan-bahan menggunakan blender.
d. Memasukkan bahan-bahan yang telah halus kedalam panci.
e. Memasak bahan-bahan selama 45 menit dan menambahkan air secukupnya.
f. Memasukkan medium ke dalam bolol selai dan menutupnya dengan spons dalam
keadaan panas.
g. Menunggu hingga dingin
h. Menambahkan yeast kurang lebih 5 butir yeast setelah medium dalam botol selai dingin.
2. Peremajaan
a. Memasukkan medium ke dalam botol
b. Memasukkan pupasi
c. Menambahkan yeast kurang lebih 5 butir pada masing-masing botol
d. Memasukkan beberapa pasang D. melanogaster strain N dan Wpada masing-masing
botol berisi medium yang telah disediakan
e. Memberi label sesuai strain dan tanggal pemasukan
f. Bila telah terdapat pupa berwama hitam, pupa tersebut diampul dalam selang hingga
menetas
3. Persilangan
a. Persilangan dilakukan antara D. melanogaster strain ♀ N><♂ N, ♀ W>< ♂ W yang
telah menetas di selang ampul, dan umur lalat kira-kira 2-3 hari
b. Memasukkan 3 pasang D. melanogasler hasil ampulan dan menyilangkan sesama
strain ke dalam boloi selai yang berisi irisan pisang Raja mala.
c. Setelah 3 hari disilangkan, jantan maupun betina dilepas untuk dihitung telur
yang berada dalam medium pisang dengan menggunakan mikroskop stereo.
d. Pemberian perlakuan sinar UV
e. Pada pisang yang sudah dihitung telurnya kemudian diberi lima perlakuan, yaitu 0
menit, 2 menit, 4 menit, 6 menit, dan 8 menit.
f. Untuk perlakuan 0 menit (kontrol). langsung memasukkan pisang yang mengandung
telur setelah penghilungan ke dalam botol seiai berisi medium dan yeast tanpa
pupasi
g. Untuk perlakuan UV 2 menit,4 menit, 6 menit. dan 8 menit menyinari pisang yang
mengandung telur dengan sinar UV sesuai dengan lama waktu yang ditentukan.
kemudian memasukkannya dalam botol selai berisi medium tanpa pupasi, Telur pada
pisang yang diberi perlakuan diusahakan tidak sampai menetas menjadi larva
h. Menghitung telur yang sudah jadi larva selama 7 hari.

4.6 Teknik Pengambilan Data


Data pada penelitian ini diperoleh dengan menghitung jumlah telur sebelum perlakuan
dan telur yang menetas sesudah perlakuan.
Tabel data 4.1 jumlah telur yang menetas setelah penyinaran UV.
Ulangan
Persilangan Perlakuan 1 2 3
Awal akhir awal akhir awal akhir
0 menit
2 menit
♀N>< ♂N 4 menit
6 menit
8 menit
0 menit
2 menit
♀W >< ♂W 4 menit
6 menit
8 menit

4.7 Teknik Analisis Data

1. Menghitung telur yang menetas dan mempersentasekan data yang diperoleh


Ʃ 𝑡𝑒𝑙𝑢𝑟 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑡𝑎𝑠
dengan rumus : Persentase (%) = 𝑥100%.
Ʃ 𝑡𝑒𝑙𝑢𝑟 𝑎𝑤𝑎𝑙

2. Menstransformasikan hasil persentase menggunakan arcsin


3. Selanjutnya uji statistik Rancangan Acak Kelompok (RAK) Anava ganda, untuk
megetahui ada tidaknya pengaruh sinar UV terhadap penetasan telur D.
melanogaster hasil persilangan ♀ N><♂ N dan ♀W><♂W.
4. Jika Fhit > Ftabel, maka H1 diterima dan H0 ditolak serta dilanjutkan dengan uji
BNT.
5. Jika Fhit < Ftabel, maka H1 ditolak dan H0 diterima sehingga tidak perlu
dilanjutkan dengan uji BNT.
BAB V
DATA DAN ANALISIS DATA

5.1 Data
Drosophilla melanogaster yang digunakan dalam proyek ini adalah strain N dan W
dengan fenotip sebagai berikut:
a. Strain N

Gambar 5.1.1 Drosophilla melanogaster strain N


(sumber: dokumen pribadi)

Warna mata merah


Keadaan faset mata halus
Warna tubuh kuning kecoklatan
Keadaan sayap panjangnya melebihi tubuhnya

b. Strain W

Gambar 5.1.2 Drosophilla melanogaster starinW


(sumber: dokumen pribadi)
Warna mata putih
Keadaan faset mata halus
Warna tubuh kuning kecoklatan
Keadaan sayap panjangnya melebihi tubuh

Tabel data 5.1.1 Jumlah telur yang menetas setelah penyinaran UV

Ulangan
Persilangan Perlakuan 1 2 3
Awal akhir awal akhir awal akhir
0 menit 166 166 158 158 151 150
2 menit 55 51
♀N>< ♂N 4 menit 67 58
6 menit
8 menit
0 menit 128 127 103 103 124 124
2 menit 51 46
♀W >< ♂W 4 menit 58 45
6 menit
8 menit

5.2 Analisis Data sementara


Presentase jumlah telur dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Ʃ telur menetas
Persentase (%) = 𝑥100%
Ʃ telur awal

a. Strain N
Perlakuan 0 menit
166
U1= 166 x 100% = 100%
158
U2=158 𝑥100% = 100%
150
U3= 151 𝑥100% = 99,4 %

Perlakuan 2 menit
51
U1= 55 𝑥 100% = 92,73%
Perlakuan 4 menit
58
U1=67 𝑥 100% = 86,6%

b. Strain W
Perlakuan 0 menit
127
U1=128 𝑥100% = 99,20%
103
U2=103 𝑥100% = 100%
124
U3=124 𝑥100% = 100%

Perlakuan 2 menit
46
U1=51 x100% = 90,19%

Perlakuan 4 menit
45
U1= 58 𝑥100% = 77,58%

Hasil dari perhitungan di tabulasikan dalam tabel berikut


Tabel 5.2.1 Data persentase telur yang menetas

Ulangan (persentase penetasan telur


Persilangan Perlakuan (%)
1 2 3
0 menit 100% 100% 99,4%
2 menit 92,73%
♀N>< ♂N 4 menit 86,6%
6 menit
8 menit
0 menit 99,20% 100% 100%
2 menit 90.19%
♀W >< ♂W 4 menit 77,58%
6 menit
8 menit
120%

100%

80%

60%
strain N
40%
strain W
20%

0%
0 menit 2 menit 4 menit 6 menit 8 menit
lama penyinaran

Grafik.1 persentase penetasan telur hasil persilangan N dan W


terhadap lama penyinaran UV.

Dari data tersebut terlihat perbandingan persentase keberhasilan penetasan telur yang
berbeda-beda dan akan didapatkan persentase tertinggi untuk perlakuan pada menit tertentu
dan pada strain tertentu. Dari data tersebut persentase keberhasilan penetasan yang paling
banyak adalah pada perlakuan ke 0 menit dari strain N maupun strain W. Pada strain N
perlakuan 0 menit persentase penetasan 100% perlakuan 2 menit persentase penetasan
92,73% sedangkan perlakuan 4 menit persetase penetasan 86,6%. Pada strain W perlakuan 0
menit persentase penetasan 99,20% perlakuan 2 menit persentase penetasan 90,19%
sedangkan perlakuan 4 menit persetase penetasan 77,58%. Dapat disimpulkan sementara
bahwa telur yang diberi perlakuan UV dengan waktu yang lama mengalami penetasan yang
rendah.
BAB VI
PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini digunakan telur Drosophila melanogaster karena telur adalah
salah satu tahapan dimana sel-selnya pada saat itu aktif membelah dan tumbuh sehingga
memiliki tingkat sensitivitas yang sangat tinggi jika terpapar sinar ultraviolet. Pernyataan
tersebut ditambah oleh Barror (1992) yang menyatakan bahwa telur Drosophila melanogaster
dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan
suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) dibagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai
tipis sehingga memungkinkan sinar ultraviolet dapat menembus lapisan tersebut.
Perlakuan lama penyinaran UV selama 0 menit, 2 menit, 4 menit, 6 menit, dan 8 menit.
Pada penelitian masih didapatkan data pada perlakuan 0 menit, 2 menit, dan 4 menit,
sehingga dapat diketahui untuk sementara bahwa lama penyinaran berpengaruh terhadap
penetasan telur D. Melanogaster. Persentase penetasan telur untuk sementara, telur yang
paling banyak menetas adalah telur yaang tidak diberi perlakuan (kontrol), kemudian semakin
lama waktu penyinaran maka semakin sedikit telur yang dapat menetas untuk strain N
maupun strain W.
Pada perlakuan 2 menit dan 4 menit untuk kedua strain, telur yang menetas semakin
berkurang. Gardner dkk, (1991) menyebutkan bahwa adanya perubahan materi genetik yang
dikenal dengan istilah mutasi didasari oleh peningkatan reaktivitas atom-atom yang secara
langsung terinduksi oleh radiasi. Bisa jadi hal yang sama juga tejadi pada telur
D.Melanogaster. Peningkatan reaktivitas atom-atom dapat menyebabkan terjadinya
kerusakan pada gen dan dapat menyebabkan berbagai kelainan genetik. Kelainan genetik
yang terjadi mungkin berupa adanya perubahan pada fenotip dan bahkan dapat menyebabkan
terjadinya kematian pada individu yang bersangkutan.
Pada dasarnya radiasi sinar ultraviolet memiliki bentuk radiasi non pengion yang dapat
meningkatkan reaktifitas molekul DNA. Reaktifitas molekul DNA meningkat disebabkan
karena sinar UV membebaskan energinya kepada atom-atom yang dijumpai sehingga dapat
meningkatkan elektron-elektron pada orbit luar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Atom-
atom yang memiliki elektron demikian dinyatakan tereksitasi atau tergiatkan. Molekul yang
mengandung atom yang berada dalam keadaan tereksitasi, secara kimiawi lebih reaktif
dibandingkan molekul yang memiliki atom-atom yang berada dalam keadaan stabil.
Reaktivitas yang meningkat dari atom-atom pada molekul DNA merupakan dasar dari efek
mutagenik radiasi sinar UV(Gardner, dkk, 1991).
Pendapat lain dapat memperkuat pendapat sebelumnya serta mendukung hasil
penelitian adalah pernyataan dari Hamid (2009) yang mengatakan bahwa sinar ultraviolet
dapat menghasilkan pengaruh, baik letal maupun mutagenik, pada semua jenis virus dan sel.
Pengaruh ini disebabkan oleh terjadinya perubahan kimia pada basa DNA akibat absorpsi
energi dari sinar tersebut. Pengaruh terbesar yang ditimbulkan oleh radiasi sinar UV adalah
terbentuknya pirimidin dimer, khususnya timin dimer, yaitu saling terikatnya dua molekul
timin yang berurutan pada sebuah untai DNA. Dengan adanya timin dimer, replikasi DNA
akan terhalang pada posisi terjadinya timin dimer tersebut.
Timin dimer ini menimbulkan mutasi secara tidak langsung yaitu dengan cara
menggangu double helikx DNA serta menghambat pembentukan replikasi DNA. Dalam
hubungannya dengan molekul DNA, senyawa yang paling tergiatkan adalah purin dan
pirimidin, karena kedua senyawa tersebut menyerap cahaya pada panjang gelombang 254 nm
yang merupakan panjang gelombang dari sinar UV. Pada teknik in vitro menunjukkan bahwa
pirimidin terutama timin sangat kuat menyerap sinar pada panjang gelombang 254 nm
sehingga menjadi sangat reaktif.
Mekanisme mutasi pada telur Drosophila melanogaster setelah terpapar sinar ultraviolet
menyabakan ketidaknormalan pada telur tersebut. Berikut ini penjelasan M. Bownes dan K.
Sander pada tahun 1976, tentang perkembangan embrio Drosophila melanogaster setelah
terpapar sinar ultraviolet :
1. Setelah terpapar sinar ultraviolet, nukleus sel telur tidak bisa bermigrasi ke area yang terpapar
radiasi UV, sehingga menyebabkan blastoderm hanya terbentuk pada daerah posterior telur
saja.
2. Karena balstoderm hanya terbentuk pada bagian posterior sacara otomatis pembentukan
blastoderm pada daerah anterior terhambat
3. Ketika efek dari paparan sianr ultraviolet berhenti, inti sel bermigrasi menuju daerah yang
mengalami radiasi ultraviolet, namun blastoderm tetap tidak terbentuk di daerah tersebut.
Karena nantinya blastoderm ini akan bergerak untuk membentuk lapisan blastoderm yang
lengkap.
4. Dalam proses pembentukan lapisan blastoderm yang lengkap,tentunya dibutuhkan energi dan
untuk menfasilitasi hal tersebut maka dilakukan pemotongan sebagian kecil yolk dalam
prosesnya. Hal ini menyebabkan pembentukan kepala embrio yang abnormal dan bagian
mulut tidak terbentuk.

Akibat dari penyinaran tersebut adalah DNA yang terdapat didalam telur D.
melanogaster mengalami mutasi yang berefek dimer timin. Ketika dua molekul timin
berdekatan pada suatu urutan DNA, maka ikatan kovalen akan terbentuk diantara keduanya
sehingga terbentuk dimer timin (Karmana, 2010). Dimer timin ini merupakan saling
terikatnya dua molekul timin yang berurutan pada sebuah untai DNA. Dengan adanya dimer
timin, replikasi DNA akan terhalang pada posisi terjadinya dimer timin tersebut. Mekanisme
perbaikan yang bekerja dalam setiap sel, dapat menghilangkan dimer melalui pergantian basa
nitrogen. Kerusakan pada DNA ini dapat diperbaiki salah satunya dengan mekanisme
fotoreaktivasi.
Akan tetapi pada saat pengamatan pada perlakuan 2 menit,4 menit didapati ada beberapa telur
yang tetap dapat menetas walaupun diberikan paparan sinar ultraviolet. Hasil tersebut didukung oleh
pernyataan Russel (1992) dalam corebima (2000) yang menyatakan bahwa sebelum terjadi kerusakan
yang parah pada jaringan telur, telah terjadi mekanisme perbaikan DNA akibat mutasi induksi yang
disebabkan sinar ultraviolet tersebut. Sel-sel prokariot dan eukariot memiliki sejumlah sistem
perbaikan yang berhubungan dengan kerusakan DNA. Semua sistem itu melakukan perbaikan secara
enzimatis. Kerusakan DNA akibat radiasi sinar ultraviolet dapat diperbaiki antara lain dengan cara
fotoreaktivasi dimmer pirimidin dan perbaikan melalui excision repair yang berjenis nucleotide
excision repair.
Fotoreaktivasi atau Light-dependent repair adalah suatu mekanisme perbaikan DNA yang
memerlukan bantuan cahaya. Proses ini dikatalisasi oleh enzim yang disebut DNA fotoliase. Ketika
DNA terpapar sinar UV,timen dimer akan terbentuk karena adanya ikatan kovalen pada maisng-
masing basa timin. Fotoliase akan mengikat timin dimer pada keadaan gelap,akan tetapi enzim
tersebut tidak dapat mengkatalisasi pemutusan ikatan antara timin satu dengan yang lain tanpa adanya
bantuan dari cahaya tampak (visible light) khususnya cahaya biru dengan panjang gelombang 320-370
nm. Ketika terdapat cahaya biru tersebut maka enzim fotoliase akan teraktifasi sehingga dapat
memutus timen dimer yang bersatu dan bonggolan yang terbentuk akan hilang dan kembali seperti
semulan (Corebima, 2000).
Perbaikan melalui pemotongan (excision repair) disebut juga sebagai perbaikan gelap atau dark
repair, karena tidak dibutuhkan cahaya. Mekanisme Excision repair pada perbaikan DNA melibatkan
3 tahapan penting yaitu :
1. DNA repair endonuklease atau endonuklease adalag enzim kompleks yang mengikat dan
memotong basa DNA yang mengalami kerusakan.
2. DNA polimerase mengisi celah yang terpotong menggunakan unting komplementer baru yang
tidak mengalami kerusakan sebgagai cetakan.
3. DNA ligase menggabungkan bagian yang belum tersambung untuk melengkapi proses
perbaikan DNA(Gardner,1991).
Ada 2 jenis dari Excision repair yaitu base excision repair yang berfungsi untuk mengganti basa
DNA yang abnormal dan nucleotide excision repair yang memperbaiki kerusakan besar seperti dimer
timin.
Nucleotide excision repair memindahkan dan menghilangkan bonggolan yang terbentuk akibat
dimer timin . Proses ini dikatalisasi oleh sebuah enzim nuklease unik yang dapat memotong bagian
yang mengalami kerusakan pada nukleotida, enzim ini disebut eksinuklease untuk membedakannya
dari endonuklease dan eksonuklease yang berperan dalam metabolisme DNA yang lain.Adapun
mekanisme dari nucleotide excision repair adalah sebagai berikut (Gardner,1991):
Aktifitas eksinuklease membutuhkan peranan dari 3 gen yaitu uvrA, uvrB dan uvrC (uvr = uv
repair). Sebuah protein trimer mengandung 2 polipeptida uvrA dan satu polipeptida uvrB yang dapat
mengenali kerusakan DNA. Protein timer tersebut akan mengikat pada bagian DNA yang rusak dan
menggunakan energi berupa ATP untuk membengkokkan DNA pada tempat yang rusak. Kemudian
uvrA dimer terlepas dan digantikan dengan protein uvrC yang mengikat uvrB/Kompleks DNA.Protein
uvrC memotong 4 sampai 5 ikatan fosfodiester dari nukleotida yang rusak pada ujung 3’ dan
menghubungkan 8 ikatan fosfodiester pada ujung 5’. Setelah itu gen uvrD menghasilkan DNA
helicase II untuk melepaskan dodecamer. Dua tahapan terakhir pada mekanisem ini yaitu DNA
polimerase I mengisi celah yang kosong dengan menggunakan unting komplementer sebagai cetakan
dan DNA ligase menggabungkan celah yang belum bergabung pada molekul DNA.
Dari kedua proses mekanisme perbaikan DNA yang ada dapat semakin memperkuat bukti
bahwa telur yang masih dapat menetas walaupun sudah terpapar sinar UV adalah karena adanya
proses perbaikan DNA sebelum terjadi kerusakan yang parah.
Berdasarkan data sementara yang telah didapat macam strain berpengaruh terhadap
penetasan telur D. Melanogaster. Pada strain N untuk sementara memiliki tingkat penetasan
yang lebih banyak daripada starin W. Hal tersebut terjadi karena strain N merupakan wild
type/normal sehingga daya sensitivitasnya lebih rendah daripada strain W yang sudah
merupakan strain mutan. Menurut Sa’adah (2000), rendahnya jumlah penetasan telur serta
tingginya tingkat kematian telur D. Melanogaster, diduga berhubungan dengan sensitivitas
telur terhadap radiasi sinar UV. Seperti yang telah dikemukakan oleh Crawder (1990) bahwa
embrio lebih sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungannya. Sel yang aktif tumbuh dan
membelah lebih sensitif terhadap radiasi. Dalam hal ini ada kemungkinan bahwa telur yang
berhasil menetas adalah telur yang mempunyai viabilitas cukup tinggi terhadap radiasi sinar
UV. Secara lebih spesifik, sensitivitas telur terhadap radiasi dan viabilitas telur D.
Melanogaster berkaitan dengan perubahan materi genetik akibat radiasi yang diterimanya.
BAB VII
PENUTUP
7.1 Kesimpulan sementara
Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang sudah dilakukan didapatkan
kesimpulan sementara sebagai berikut :
1. Lama penyinaran sinar ultraviolet (UV) berpengaruh terhadap persentase penetasan
telur lalat D.melanogaster. Terdapat perbedaan persentase jumlah telur yang menetas
dari lama penyinaran pada strain N dan W yang diberi perlakuan sinar UV, dimana
perlakuan 0 menit menunjukkan rata-rata penetasan tertinggi daripada perlakuan
yang lain.
2. Macam strain berpengaruh terhadap persentase penetasan telur D.melanogaster, hal
ini disebabkan karena strain N merupakan D. melanogaster normal sedangkan strain
W merupakan D. melanogaster yang mengalami mutasi, sehingga tingkat sensitivitas
pada strain W tinggi.

DAFTAR RUJUKAN

Ashburner, Michael. 1985.Drosophila, A Laboratory Handbook. USA : Coldspring Harbor


Laboratory Press.
Beers, E. 2010 (online:http://jenny.tfrec.wsu.edu/opm/displayspecies.php?pn=165) diakses
tanggal 4 April 2016.
Borror J.D. Triplehorn. 1992. Pengenalan Pengajaran Serangga. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Corebima, A.D. 1997. Genetika Mendel. Surabaya : Airlangga University Press
Corebima, A.D. 2000. Genetika Mutasi dan Rekombinan. Malang : FMIPA Universitas
Negeri Malang
Corebima. A. D. 2003. Genetekia Mendel. Surabaya : Airlangga University Press.
Crawder, L.V. Tanpa tahun. Genetika Tumbuhan. Terjemahan oleh Lilik Kusdiarti. 1990.
Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.
Gardner, E. J., Simmons, M. J.,Snustad, D. P. 1991. Principles of Genetic Eight Edition. New
York:Jhon Wiley & Sons, Inc.
Hamid H. (2009). Variasi Genetik Sebagai Dasar Evolusi, Mutasi Gen, Frekuensi Gen dalam
Populasi dan Hukum Hadry-Weinberg. Melalui, [03/10/13]
Karmana, IW. 2010. Pengaruh Macam Strain dan Umur Betina Terhadap Jumlah Turunan
Lalat Buah (Drosophila melanogaster). Ganec Swara Vol. 4, No.2, September
2010.
Kimball, John W. 1983. Biologi.Jakarta : Erlangga
Muliati, L. 2000.Pengaruh Strain dan Umur Jantan Terhadap Jumlah Turunan Jantan dan
BetinaDrosophilamelanogaster . Skripsi tidak diterbitkan.Malang: Fakultas MIPA-
Universitas Negeri Malang.
Nilson, Laura. 2012. (Online : http://biology.mcgill.ca/faculty/nilson/research.html) diakses
tanggal 2 April 2016
Rothwell, Norman V. 1983. Understanding Genetics Third Edition. New York: Oxford
University Press.
Russell, P. J. 1992. Fundamental of Genetics. Harper Collins College. Publisher, USA

Sa’adah, Kamilatus. 2000. Pengaruh Radiasi Sinar Ultraviolet Terhadap Penetasan Telur
dan Kestabilan Genetik Drosophila melanogaster strain N dan b Dalam Kaitan
Dengan Mutasi Gen. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: UM.
Sander, K. Dan M. Bownes. 1976. The Development of Drosophila embryos after partial u.v.
irradiation. J. Embryol. exp. Morph. Vol. 36, 2, pp. 394-408, 1976 (Online). Diakses
pada 30 Maret 2016
Sinnott, Edmund W. 1958. Principal of Genetics. Fifth Edition. New York: McGRAW-HILL
Book Company, Inc.
Strickberger Monroe W. 1985. Genetics Third Edition. New York : Macmilan Publishing
Company
Wheeler, MR. 1981. The Drosophilidae: a taxonomic overview. In: The genetics and biology
of Drosophila (Ashburner M, Carson HL and Thompson JN Jr, eds). New
York: Academic Press.