Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Serat Kapas


Serat kapas mempunyai bentuk penampang melintang yang sangat bervariasi
dari elips sampai bulat. Tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal. Bentuk
membujur serat kapas adalah pipih seperti pita yang terpuntir. Bentuk penampang
melintang dan membujur serat kapas dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Penampang Melintang Penampang Membujur


Gambar 2.1 Bentuk Morfologi Serat Kapas

2.1.1 Struktur Molekul


Komposisi selulosa murni diketahui sebagai suatu zat yang terdiri dari
unit-unit anhidro-β-glukosa dengan rumus empiris (C6H10O5)n , dimana n
merupakan derajat polimerisasi yang tergantung dari besarnya molekul.
Hubungan antara selulosa dan glukosa telah lama dikenal yaitu pada peristiwa
hidrolisa selulosa oleh asam sulfat dan asam klorida encer, yang menghasilkan
suatu hasil akhir yang memiliki bentuk glukosa.
Hal ini membuktikan bahwa selulosa terbentuk dari susunan cincin
glukosa. Glukosa diketahui sebagai turunan (derivate) pyranosa yang berarti
memilki enam segi (sudut), dan struktur kimia dari glukosa sendiri memiliki
dua bentuk tautomeri yaitu α-glukosa dan β-glukosa
Adapun gambarnya adalah seperti pada Gambar 2.2.

CH 2 OH
CH 2 OH
O O
H H H OH
H H

H
OH H HO OH
HO OH H

H OH H OH

α- Glukosa β- Glukosa

Gambar 2.2 Struktur Molekul Glukosa

Setelah melalui berbagai diskusi dan penyelidikan, maka ditetapkan


bahwa struktur kimia dari selulosa adalah seperti pada Gambar 2.3 sebagai
berikut.

H OH CH 2 OH H OH CH 2 OH
HO H H O H O
OH H O OH H OH
H H H

H H H O H
O OH H OH
H H H
O O
CH 2 OH H OH CH 2 OH H OH

Gambar 2.3 Struktur Rantai Molekul Polimer Selulosa

2.1.2 Sifat Fisika


a) Warna kapas tidak betul-betul putih, biasanya sedikit krem
b) 2 – 3 gram/denier, kekuatan akan meningkat 10 % ketika basah
c) Mulur berkisar antara 4-13 % bergantung pada jenisnya dengan mulur rata-
rata 7 %.
d) MR 7 – 8,5%
e) Mudah kusut , Untuk mengatasi kekusutan dapat dicampur serat polyester.
2.1.3 Sifat Kimia
a) Terhidrolisis dalam asam kuat sehingga kekuatan turun.

CH2OH H OH
H O H
H O OH H
O OH H H H O
H
O
H OH CH2OH

Hidrolisa

CH2OH H OH
H O
H H OH H
C OH H
O OH H O H O
H
O
H OH CH2OH

CH2OH H OH
H O
OH OH H
H OH H
C
O OH H O H O
H
O
H OH CH2OH

Gambar 2.4 Reaksi Hidroselulosa

b) Oksidator berlebih menghasilkan oksiselulosa.

CH2OH H OH
O
H O H
H OH H
O OH H H O
H H O
H OH CH2OH

Oksidasi
CH2OH CH2OH
O OH OH
H O H
H H O
O H O
C C C C H
O H O H O H O H

CH2OH
O CH2OH
H O OH OH
H H
H O
O H
C C O
C C H
O OH O OH
O OH O OH

Gambar 2.5 Reaksi Oksiselulosa


2.2 Serat Poliester
Poliester sering digunakan sebagai blends bersama dengan kapas atau
rayon, hal ini dimaksudkan untuk menggabungkan sifat-sifat yang dimiliki
oleh kedua serat tersebut sehingga didapatkan serat campuran yang memiliki
sifat-sifat yang lebih baik seperti yang dikehendaki. Contohnya serat kapas
yang memiliki sifat regain yang baik tetapi memiliki sifat kekusutan dibuat
serat campuran dengan menggunakan polyester yang memiliki sifat crease
recovery (tahan kusut) namun sifat regainnya buruk. Dengan membuat serat
campuran dari kedua bahan tersebut, maka akan didapatkan serat campuran
yang memiliki sifat tahan kusut dan regain yang lebih baik.
Pada penggunaannya di zaman sekarang, polyester banyak digunakan
untuk tekstil industri selain digunakan untuk tekstil sandang, karena banyak
sekali keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh serat polyester seperti
kekuatannya yang besar, dan lain-lain.

Poliester dibuat dari reaksi antara senyawa asam tereftalat dengan etilena
glikol. Berikut ini skema pembuatan serat tersebut :

Gambar Struktur Serat Polyester

Etilena yang berasal dari penguraian minyak tanah dioksidasi dengan


udara, menjadi etilena oksida yang kemudian dihidrasi menjadi etilena glikol.
Asam tereftalat dibuat dari para-xilena yang harus bebas dari isomer meta dan
orto, p-xilena merupakan bagian dari destilasi minyak tanah dan tidak dapat
dapat dipisahkan dari isomer meta dan orto dengan cara destilasi. Oksidasi
dengan asam nitrat pada suhu 220 0C ddan tekanan 30 atmosfer merubah p-
xilena menjadi asam tereftalat. Asam tereftalat atau esternya dan etilena glikol
dipolimerisasikan dalam hampa udara dan suhu tinggi. Polimer disemprotkan
dalam bentuk pita dan kemudian dipotong-potong menjadi sserpih-serpih dan
dikeringkan.
Pemintalan dilakukan dengan cara pemintalan leleh. Filamen yang terjadi
ditarik dalam keadaan panas sampai lima kali panjang semula, kecuali filamen
yang kasar ditarik dalam keadaan dingin. Bentuk penampang melintang serat
polyester umumnya bulat, tetapi banyak yang sudah mengalami modifikasi
sehingga penampang melintangnya berbentuk gerigi atau trilobal dimana
keduanya memiliki kilau yang lebih baik dibandingkan serat polyester yang
penampang melintangnya bulat.

Penampang melintang penampang membujur

Sifat Fisika
 Kekuatan & Mulur
Terylene mempunyai kekuatan dan mulur dari 4,5 gram/denier dan 25 %
sampai 7,5 gram/denier dan 7,5 % bergantung pada jenisnya, sedangkan
dacron mempunyai kekuatan dan mulur dari 4,0 gram/denier dan 40 % sampai
6,9 gram/denier.
 Elastisitas
Polyester mempunyai elastisitas yang baik, sehingga kain polyester tahan
kusut. Jika benang polyester ditarik dan kemudian dilepaskan pemulihan yang
terjadi dalam satu menit adalah penarikan 2 % pulih 97 %, penarikan 4 %
pulih 90 %, penarikan 8 % pulih 80 %.
 Moisture Regain
Dalam kondisi standar moisture regain polyester hanya 0,4 %, dalam RH.
moisture regainnya hanya o,6-0,8 %.
 Berat Jenis
Berat jenis polyester adalah 1,38.
Sifat Kimia
Serat polyester tahan terhadap asam lemah meskipun pada suhu didih
dan tahan asam kuat dingin. Selain itu polyester tahan terhadap basa lemah
tetapi kurang tahan terhadap basa kuat. Polyester tahan terhadap zat oksidasi,
alkohol, keton, sabun, dan zat-zat pencucian kering.
Serat polyester mempunyai kritalinitas yang tinggi, bersifat hidrofob dan
tidak mengandung gugus-gugus yang aktif sehingga sukar untuk dicelup. Oleh
karena itu polyester hanya dapat dicelup dengan zat warna dispersi pada suhu
tinggi. Sedangkan pada suhu mendidih untuk pencelupannya diperlukan zat
peggelembung atau dengan beberapa senyawa naftol yang dikoplingkan
dengan zat warna dispersi yang diazotasikan

2.3 Serat campuran Poliester Kapas


Tujuan pencampuran
Tujuan utama dari pencampuran serat poliester dan kapas adalah untuk
mendapatkan kain yang mutunya lebih baik dibandingkan dengan kain yang
terbuat dari masing – masing seratnya. Faktor yang merupakan suatu
keuntungan dalam pencampuran antar serat poliester dan kapas adalah sifat
buruk dari poliester merupakan sifat yang baik dari serat kapas, begitu pula
sebaliknya. Sehingga dari pencampuran kedua jenis serat ini, sifat – sifat yang
kurang dari salah satu jenis serat dapat diimbangi dengan sifat – sifat yang
baik dari serat lain.
Hal tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :

Sifat – sifat Poliester Kapas


Sifat mekanik A B–A
Kemampuan menyerap air C B–A
Kemampuan untuk dicelup C A
Sifat estetika A B
Abrasi basah B B
Abrasi kering B C–B
Tahan kusut A C
Daya menahan lipatan A C
Tahan listrik statis C A
Tahan piling C A

Keterangan :
A = Baik, B = Sedang, C = Buruk

Dari tabel tersebut terlihat bahwa masing – masing serat tidak memiliki
semua sifat yang sempurna untuk bahan tekstil. Meskipun telah diupayakan
suatu perubahan fisik pada serat tersebut, namun sifat kimia masing – masing
serat tidak berubah sehingga karakteristik pencelupannya bergantung pada
masing – masing serat.

Sifat – sifat Bahan Campuran Poliester – Kapas


Bahan – bahan yang terbuat dari serat poliester merupakan bahan yang
memiliki sifat – sifat yang baik seperti kekuatan tinggi, daya tahan abrasi yang
baik, sifat cuci pakai yang baik, dan lipatan yang lama. Sifat – sifat yang baik
dari serat poliester tersebut akan lebih baik lagi jika dicampur dengan serat
selulosa pada kondisi tertentu. Serat selulosa yang dicampur dengan serat
poliester ini akan memberikan bahan campuran dengan sifat yang baik,
diantaranya : Rasa yang nyaman dalam pemakaian.
- Daya Elektrostatik
Bahan yang terdiri dari 100 % serat poliester dapat menimbulkan daya
elektrostatik. Daya ini menyebabkan bahan melekat pada tubuh, sehingga
memberikan rasa yang kurang nyaman pada pemakai. Dalam pencampuran
serat poliester dan kapas, jumlah serat sampai 35 % dari campurannya, dapat
menghilangkan daya elektrostatik dari serat poliester sampai tingkat minimal.
- Kekuatan Tarik
Jumlah yang kecil dari serat poliester dalam pencampurannya tidak
akan memberikan perbaikan pada kekuatan tarik kapas dan bahkan akan
melemahkan bahan tersebut. Untuk mendapatkan kain campuran serat
poliester dan kapas dengan kekuatan baik, paling sedikit dibutuhkan 60 %
serat poliester dalam larutan.
- Daya Tahan Abrasi
Daya tahan abrasi merupakan salah satu faktor penting dalam
menentukan keawetan. Bahan yang terdiri dari 100 % serat poliester memiliki
daya tahan abrasi yang baik sekali. Jumlah 30 – 40 % serat kapas dalam
campuran masih memberikan daya tahan abrasi yang cukup baik.
- Daya Tahan Kusut
Jumlah serat kapas tidak melebihi 35 % dalam kain campuran poliester
kapas, masih memberikan daya tahan kusut yang baik.
- Ketahanan Gesek
Kain 100% poliester mempunyai ketahanan gesekan yang tinggi.
Ketahanan gesekan berbanding lurus dengan komposisi campurannya. Jumlah
30 – 40% kapas didalam campuran menunjukkan penurunan ketahanan
geseknya, tetapi masih lebih baik dari pada kain kapas.
2.4. Penyempurnaan Kain Keras

Untuk tujuan tertentu dibutuhkan kain yang mempunyai pegangan lembut, pada kasus
lain kadang diperlukan kain dengan pegangan/penampakan kaku dan diberi zat
pengisi sehingga dapat menaikkan beratnya. Kadang orang melakukan
penyempurnaannya dengan menggabungkan keduanya dalam satu proses sehingga
didapatkan kai yang kaku sekaligus padat berisi.

Pengkakuan atau pemberatan bahan tekstil dapat divariasikan tanpa batas dan
memungkinkan untuk menaikkan berat hingga 200-300% meskipun hal ini
menggunakan bahan-bahan tertentu. Pada awalnya proses penyempurnaan tersebut
hanya untuk menaikkan berat kain, saat ini pada umunya digunakan untuk bahan yang
berhubungan dengan pakaian jadi yang penggunaannya tiap hari dan harus tahan
pencucian berulang. Hal tersebut sesuai dengan permintaan masyarakat selaku
pemakai langsung produk pakaian jadi tersebut.

Pada suatu waktu, cara yang banyak digunakan untuk pembuatan kain keras adalah
dengan bahan kapas. Jika permintaan kain pelapis kerah (interlining) yang tdak tahan
cuci biasa dipakai kanji, akan tetapi sekarang penggunaan kanji tidak popular adalah
kain keras dengan sifat semi kak. Disini terjadi peningkatan terhadap bahan dari jenis
serat kapas yang dapat menahan kaku dan menjadi lunak pada saat pencucian.

Pada awalnya metoda yang digunakan adalah dengan melewatkan kain kapas dengan
ukuran tertentu pada larutan asam sulfat konsentrasi tinggi, kemudian dengan segera
kain dilewatkan pada air dingin dan dicuci untuk mnahan aksi selanjutnya pada kapas.
Dengan cara tersebut serat kapas telah menjadi kaku dan tahan pencucian, akan tetapi
proses seperti ini berbahaya dan juga harus dikontrol dengan cermat kondisi waktu,
suhu dan konsentrasi asamnya.

Kekakuan yang dihasilkan dengan penggelatinan pada permukaan serat membuat


serat kapas mudah dicuci pada air dingin karena kain tersebut akan lemas, dan pada
pengeringan menjadi keras kembali. Kekakuan tersebut diperoleh dengan menutup
permukaan serat kapas dengan cara pelapisan. Sejak lapisan tersebut bergabung
dengan serat kapas dan melekat sehingga menghasilkan efek kaku dan tidak berubah
pada pencucian berulang.

2.5. Penggunaan Resin Sintetik (Eltex Va)

Cara lain untuk menghasilkan kain keras adalah dengan cara mengimpreganasikan
bahan pada larutan atau disperse zat yang dapat berpolimersasi jika serat dikeringkan
dan dipanaskan pada suhu yang sesuai dan menghasilkan polimer yang kuat dan kaku.

Resin sintetik adalah salah satu zat yang mampu diaplikasikan pada serat untuk
pertama kali dari larutan atau disperse. Resin yang berbahan dasar formaldehida dan
urea melamin adalah yang paling banyak dipasarkan oleh perusahaan pembuat zat
pembantu tekstil. Formaldehida dan melamin sering disebut sebagai pra-kondensat
yang akan berubah menjadi resin yang tidak larut (stabil) jika dipanaskan pada suhu
yang sesuai. Ukuran partikel pra-kondensat harus cukup besar untuk menjamin dapat
tersebar di permukaan serat dan tidak berpenetrasi ke serat. Susunan tersebut adalah
cara yang mudah digunakan untuk mengkakukan serat.

Resin sintetik dapat juga digunakan bersama-sama dengan kanji atau zat lain yang
dapat digunakan untuk mengeraskan/membuat kain menjadi kaku, tetapi mudah
hilang dalam pencucian

Bahan diimpregnasikan dengan pasta kanji yang telah dtambahkan resin pra-
kondensat lalu dikeringkan dan dipanasawetkan pada suhu 150⁰C selama 2 menit,
beberapa ada yang membutuhkan waktu yang cepat untuk mengkakukan bahan. Kanji
yang ditopang resin menjadi tidak larut, sedikit tahan dalam pencucian dan hasilnya
cukup permanen. Metoda ini kadang-kadang digunakan untuk penyempurnaan kain
keras yang tahan air.

Resin yang digunakan adalah resin Eltex VA (Vinil Asetat). Vinil asetat, atau VAM
(vinyl acetate monomer) adalah senyawa kimia dengan rumus
kimia CH3COOCH=CH2, dan merupakan monomer dari polivinil asetat. Senyawa ini
merupakan cairan tak berwarna dengan rasa manis. Nama sistematis dari senyawa ini
adalah 1-asetoksietilena atau etenil asetat.
Senyawa ini biasanya dibuat melalui reaksi dari etilena ,Asam asetat dan Oksigen
dengan katalis paladium. Senyawa ini dapat dipolimerisasi sendiri
membentuk polivinil asetat (PVA), atau bersama monomer lain untuk
membentuk kopolimer, seperti asetat etilen-vinil. Usaha untuk mengontrol
polimerisasi ini merupakan suatu hal yang sulit, karena ketidakstabilan dari radikal
yang dapat diturunkan vinil asetat. Namun, polimerisasi RAFT (atau lebih spesifik
lagi, MADIX) adalah salah satu metode yang tepat untuk mengontrol sintesis PVA
dengan penambahan agen transfer rantai xantat.

2.6. Katalis
Katalis adalah suatu senyawa yang bisa mempengaruhi laju reaksi tanpa zat itu sendiri
mengalami perubahan oleh reaksi tersebut. Dalam proses fiksasi resin, katalis
diperlukan untuk memberikan kondisi asam yang akan mempercepat terjadinya
polimerisasi resin. Macam-macam katalis adalah :
 Asam organik seperti asam asetat, asam maleat dan lain-lain.
 Garam-garam amonium seperti amonium klorida dan amonium sulfat.
 Garam amino seperti etanol amino.
 Garam-garam logam seperti magnesium klorida, seng klorida, magnesium nitrat
dan lain-lain.
Katalis yang digunakan adalah katalis berjenis garam logam yaitu magnesium
klorida. Magnesium Klorida merupakan garam anorganik yang banyak diproduksi
secara komersial. Dalam perdagangan biasa tersedia sebagai anhidrat (MgCl2)
maupun hexahidrat (MgCl2 6H2O). Digunakan sebagai katalis karena cukup efektif
dipakai bersama resin dari golongan karbamat, metilol dan reaktan. Proses ini sangat
tergantung pada banyak hal seperti optimum suhu & konsentrasi katalis, suhu
pemanasawetan, jenis resin yang akan digunakan dan jenis serat itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

 Purwanti, dkk. 1978. Pedoman Praktikum Pencapan dan Penyempurnaan. Bandung :


Institut Teknologi Tekstil.

 Teknologi Penyempurnaan Tekstil, 1977. ITT.

 Susyami, dkk. 2005. Bahan Ajar Praktikum Evaluasi Tekstil III (Evaluasi Kain).
Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.
LAMPIRAN

Kain Kapas
Kain Poliester
Kain T/C
Kapas 10x10 cm
Poliester 10x10 cm
T/C 10x10 cm