Anda di halaman 1dari 14

1.

1 TEORI DASAR
1.2.1 KAPAS
Serat kapas merupakan salah satu jenis bahan tekstil yang sudah dikenal sejak ±
5.000 tahun sebelum masehi. Merupakan salah satu bahan tekstil yang berasal dari serat
alam, yaitu serat biji tanaman Gossypium yang tumbuh di daerah lembab dan banyak disinari
matahari. Tanaman Gossypium termasuk keluarga Malvaceae. Pertumbuhan tanaman kapas
sangat bergantung pada tempat tumbuhnya.Tanaman ini tumbuh di daerah yang beriklim
subtropis seperti Asia, Afrika, Amerika Selatan dan Amerika Utara.
Komposisi serat kapas tergantung pada jenis tanaman dan derajat kesadahannya.
Sekitar 90% komposisi serat kapas terdiri dari selulosa, sedangkan sisanya adalah protein,
pektin, malam, lemak, pigmen alam, mineral, dan air. Serat kapas memegang peranan
penting dalam bidang tekstil. Dengan berkembangnya serat sintetik tidak menyebabkan serat
kapas mulai ditinggalkan, namun dengan adanya perkembangan serat buatan, meningkatkan
penggunaan serat campuran yang memiliki sifat saling melengkapi kedua sifat tersebut. Hal
ini disebabkan karena serat kapas masih memiliki beberapa keunggulan yang tidak dapat
ditiru oleh serat buatan. Keunggualan serat kapas diantaranya mempunyai daya serap yang
baik terhadap air, sehingga nyaman apabila dipakai. Serat kapas juga mempunyai beberapa
kekurangan seperti mudah kusut dan mengkeret dalam pencucian.
Morfologi Serat Kapas
Bentuk morfologi penampang melintang serat kapas sangat bervariasi dari bentuk
pipih sampai bentuk bulat, tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal yang terdiri dari
bagian kutikula, dinding primer, dinding sekunder, dan lumen. Sedangkan bentuk
penampang membujur serat kapas adalah pipih seperti bentuk pita yang terpilin atau terpuntir
membentuk puntiran dengan interval tertentu. Kearah memanjang, serat dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu bagian besar, bagian badan, dan bagian ujung.
Bentuk penampang melintang dan bentuk penampang membujur serat kapas
disajikan pada gambar berikut ini :

melintang membujur
Sumber : Soeprijono, dkk, Serat-Serat Tekstil, ITT, Bandung, 1973, hlm 41.
Gambar 1.2.1 Penampang Melintang dan Membujur Serat Kapas
Komposisi Serat Kapas
Serat kapas mentah mengandung selulosa. Selain selulosa, pada kapas mentah
mengandung pektin, lemak/malam, pigmen alam, mineral dan air. Komposisi serat kapas
berbeda-beda tergantung dari berbagai hal, antara lain jenis tanaman kapasnya, kondisi
tanah, cuaca, kualitas air untuk irigasi, dan zat kimia yang digunakan untuk pupuk dan
pestisidanya. Komposisi serat kapas dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut :
Tabel 2.1 Komposisi Kimia Serat Kapas

Konstitusi % Terhadap Berat Kering

Selulosa 94

Protein 1,3

Pektat 1,2

Lilin 0,6

Abu 1,2

Pigmen dan zat-zat lain 1,7

Sumber : P.Soeprijono, dkk, Serat-Serat Tekstil, ITT Bandung 1974,


hlm 46
Stuktur Molekul Serat Kapas
Stuktur Kimia Serat Kapas
Serat kapas tersusun atas selulosa yang komposisi murninya telah lama diketahui
sebagai zat yang terdiri dari unit-unit anhidro-beta-glukosa dengan rumus empiris (C6H10O5)n
dengan n adalah derajat polimerisasi yang tergantung dari besarnya molekul.
Selulosa dengan rumus empiris (C6H10O5)n merupakan suatu rantai polimer linier
yang tersusun dari kondensat molekul-molekul glukosa yang dihubungkan oleh jembatan
oksigen pada posisi atom karbon nomor satu dan empat. Stuktur rantai-rantai molekul selulosa
disusun dan diikat satu dengan yang lainnya melalui ikatan Van der Waals. Struktur kimia dari
selulosa dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut ini

H OH CH2OH H OH CH2OH
OH H H O H H O OH
O
OH H H OH H H
H OH H H OH H
O O
H H
O H O H
CH2OH H OH CH2OH H OH

n-1

Sumber : P. Soepriyono,dkk, Serat-serat tekstil, ITT, Bandung, 1973, hlm 45


Gambar 2.2 Struktur Kimia Selulosa
Setiap satuan glukosa mengandung tiga gugus hidroksil (-OH). Gugus hidroksil pada
atom karbon nomor lima merupakan alkohol primer (-CH2OH), sedangkan pada posisi 2 dan
3 merupakan alkohol sekunder (HCOH). Kedua jenis alkohol tersebut mempunyai tingkat
kereaktifan yang berbeda. Gugus hidroksil alkohol primer lebih reaktif daripada gugus hidroksil
alkohol sekunder. Gugus hidroksil merupakan gugus fungsional yang sangat menentukan sifat
kimia serat kapas, sehingga serat selulosa dinotasikan sebagai sel-OH dalam penulisan
mekanisme reaksi.
Susunan Fisika Serat Kapas

Komposisi fisika serat kapas terdiri dari bagian amorf dan kristalin, dimana bagian
amorf mempunyai daya serap yang lebih besar dari pada bagian kristalin, tetapi kekuatannya
lebih kecil. Pada bagian kristalin memiliki susunan molekul yang teratur dan sejajar satu sama
lain. Sedangkan pada bagian amorf, susunan molekulnya tersusun secara tidak pararel dan
tidak teratur. Bagian kristalin dan amorf pada serat kapas disajikan pada Gambar 2.3 dibawah
ini :
Sumber : Trotman, E.R., Texlile Scouring and Bleaching, Charles Griffin
and Company Limited, London 1976, hlm15.
Gambar 2.3 Bagian Kristalin dan Amorf Serat Kapas

Sifat-sifat Serat Kapas


Sifat-sifat Fisika
1. Warna
Warna kapas tidak betul-betul putih biasanya sedikit krem. Adanya warna ini
disebabkan oleh pigmen alam yang terkandung di dalam serat kapas. Pigmen
yang menimbulkan warna pada kapas belum diketahui dengan pasti. Warna
kapas akan semakin tua setelah penyimpanan selama 2 sampai 5 tahun. Karena
pengaruh cuaca yang lama, debu, dan kotoran akan menyebabkan warna keabu-
abuan.
2. Kekuatan
Kekuatan serat terutama dipengaruhi oleh kadar selulosa dalam serat, panjang
rantai dan orientasinya. Dalam suasana basah, serat kapas akan memiliki
kekuatan yang lebih besar dibanding dalam keadaan kering. Hal ini disebabkan
karena pada keadaan basah bentuk serat akan mengelembung sehingga
puntiran hilang. Dengan demikian gaya tarik yang diderita akan tersebar
sepanjang serat.
3. Mulur
Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi diantara serat-serat selulosa yang
lainnya yaitu berkisar 4-13 % bergantung pada jenis serat kapasnya dan rata-
rata mulur sebesar 7%.

4. Moisture Regain
Serat kapas mempunyai affinitas yang besar terhadap air. Serat kapas yang
kering bersifat kasar, rapuh dan kekuatannya rendah. Moisture regain serat
kapas bervariasi sesuai dengan perubahan kelembaban relatif, pada kondisi
standar kandungan air serat kapas berkisar antara 7-8,5%.
5. Keliatan (Toughness)
Keliatan adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan suatu benda untuk
menerima kerja. Serat kapas memiliki keliatan yang relatif tinggi jika
dibandingkan dengan serat-serat selulosa yang diregenerasi.
6. Indeks Bias
Indeks bias serat kapas sejajar dengan sumbu serat adalah 1,58. Sedangkan
indeks bias melintang sumbu serat adalah 1,53.
7. Berat Jenis
Berat jenis serat kapas adalah 1,5 sampai 1,56
Sifat-sifat Kimia
1. Pengaruh asam
Serat kapas tahan terhadap asam lemah, sedangkan asam kuat akan
mengurangi kekuatan serat kapas karena dapat memutuskan rantai molekul
selulosa (hidroselulosa).
2. Pengaruh alkali
Alkali kuat pada suhu didih air dan pengaruh adanya oksigen dalam udara akan
menyebabkan terbentuknya oksiselulosa. Alkali pada kondisi tertentu akan
mengelembungkan serat kapas.
3. Pengaruh oksidator
Oksidator dapat menyebabkan terjadinya oksiselulosa yang mengakibatkan
penurunan kekuatan serat. Derajat kerusakan serat bergantung pada
konsentrasi, pH dan suhu pengerjaan.
4. Pengaruh mikroorganisma
Dalam keadaan lembab dan hangat, serat kapas mudah terserang jamur dan
bakteri. Tetapi pada kondisi kering, serat kapas mempunyai ketahanan yang
cukup baik terhadap jamur dan mikroorganisma.

1.2.2 RAYON
Serat rayon merupakan serat buatan dari ppolimer alam yang banyak diproduksi
disamping serat asetat. Serat rayon itu sendiri memiliki jenis yang beragam, dan yang
digunakan disini adalah jenis viskosa yang perkembangannya paling pesat. Dilihat dari
struktur kimianya, karena serat rayon merupakan serat selulosa yang diregenerasi, maka
struktur kimianya pun memiliki persamaan yaitu merupakan rantai selulosa yang mengandung
unit beta glukosa dengan pengecualian pada derajat polimerisasinya yang lebih rendah akibat
terjadinya degradasi rantai polimer selama pembuatan serat.
Gambar diatas merupakan skema dari strukur molekul serat selulosa. Struktur molekul
diatas tersusun dari molekul selulosa yang merupakan pengulangan dari d-anhidroglukosa.
Serat diatas memiliki gugus hidroksil (-OH) yang memberikan sifat kelarutan didalam air.
Meskipun demikian, selulosa yang banyak mengandung gugus hidroksil dapat bersifat tidak
larut didalam air. Hal tersebut dimungkinkan karena berat molekul selulosa yang sangat besar,
juga karena terjadinya ikatan hidrogen antar molekul selulosa yang mempersukar kelarutan
selulosa didalam air. Beberapa sifat pada serat rayon ini memiliki kemiripan yang hampir sama
dengan serat kapas yang merupakan serat selulosa. Rayon memiliki sifat elastisitas yang
rendah, hal ini membuat benang yang mengalami tarikan secara mendadak pada saat
ditenun, kemungkinan benangnya tetap mulur dan tidak mudah kembali lagi, yang
mengakibatkan saat diberi warna akan memberikan hasil yang tidak rata pada beberapa
bagian dan terlihat beberapa garis yang lebih berkilau. Dalam ketahanan terhadap panas saat
penyetrikaan, serat rayon ini memiliki sifat yang cukup baik, akan tetapi pemanasan dalam
waktu yang lama akan membuat warna rayon menjadi lebih kuning.

1.2.3 POLIESTER
Poliester pertama kali mulai dikembangkan oleh J.R. Whinfield dan J.T. Dickson, yaitu
para ahli dari perusahaan Inggris Calico Printers Association Ltd. Pembuatan serat poliester
yang pertama kali dilakukan pada tahun 1944, kemudian pada tahun 1952 perusahaan ICI
(Imperial Chemical Industries, Ltd) di Inggris mulai memproduksi serat poliester secara
komersial. Oleh Imperial chemical Industries, Ltd 9ICI), hasil penelitian J.R
Whinfield dan J.T Dickson ini diberi nama “Terylene”. Menyusul kemudian pada tahun 1953,
E.I Du pont de Numours di Amerika Serikat memberi nama “Dacron”. Kedua poliester tersebut
memiliki senyawa kimia pembentuk yang sama yaitu etilena tereftalat.
Proses polimerisasi asam tereftalat dan etilena glikol dilakukan dalam kondisi suhu
tinggi dan ruang hampa.
Gambar 3.2.I. Penampang serat poliester

Susunan rantai molekul Poliester terbentuk secara kondensasi menghasilkan


polietena tereftalat yang merupakan satu ester dari komponen dasar asam dan alkohol, yaitu
asam tereftalat dan etilena glikol. Ini merupakan pengembangan pembuatan poliester yang
pada mulanya terbuat dari dimetil teraftalat sebagai asamnya dan etilena glikol sebagai
alkoholnya dan dikenal dengan nama Terylene.
Penggunaan asam tereftalat sebagai bahan baku poliester menyebabkan beberapa
perbedaan sifat poliester, diantaranya titik leleh poliester yang dihasilkan lebih tinggi dan
hampir larut dalam glikol. Pembuatan poliester dari asam tereftalat lebih menguntungkan
dibandingkan poliester dari metil tereftalat.
Serat poliester dibuat dengan cara pemintalan leleh. Serpihan-serpihan poliester
dilelehkan dan dilewatkan melalui lubang spineret yang mempunyai bentuk dan diameter
tertentu. Filamen yang terjadi ditarik dalam keadaan panas sampai lima kali panjang semula,
sedangkan untuk filamen yang kasar ditarik dalam keadaan dingin. Untuk memperoleh
benang stapel, dapat dilakukan dengan mengeritingkan filamen dan dipotong-potong dengan
panjang tertentu.

Sifat kimia poliester adalah sebagai berikut :


1. Larut dalam meta-kresol panas, asam trifluoro asetat-orto-klorofenol.

2. Tahan terhadap zat-zat oksidator, alkohol, keton dan sabun dan zat – zat
pencucian kering.

3. Tahan terhadap asam lemah, meskipun pada suhu didih dan tahan terhadap
asam kuat dalam keadaan dingin.
4. Tahan terhadap alkali lemah, tetapi kurang tahan terhadap alkali kuat.

5. Mempunyai kritalinitas yang tinggi, bersifat hidrofob dan tidak mengandung gugus
– gugus aktif sehingga sukar untuk dicelup.

Sifat fisika Poliester


Sifat fisika merupakan sifat yang berhubungan dengan kukuatan, sifat fisika poliester
meliputi :
1. Kekuatan dan mulur
Serat poliester mempunyai kekuatan dan mulur yang tinggi, yang dalam keadaan
kering dan basah tidak mengalami perubahan. Kekuatan serat poliester sebesar
4,0 – 6,9 g/d dan mulur poliester sebesar 11 – 20%.
2. Elastisitas
Poliester mempunyai elastisitas yang baik sehingga kain poliester bersifat tahan
kusut. Jika benang pliester ditarik kemudian dilepaskan pemulihan yang terjadi
dalam 1 menit adalah :
Penarikan 2% ………. Pemulihan 97%
Penarikan 4% ………. Pemulihan 90%
Penarikan 8% ………. Pemulihan 80%
3. Moisture regain
Moisture regain poliester pada kondisi standar (27oC dan RH 65%) sebesar 0,4%.
Dalam RH 100% moisture regainnya hanya 0,6 – 0,8%.
4. Berat jenis
Berat jenis poliester adalah 1,38 gram/cm3.
5. Titik leleh
Poliester tidak akan menguning pada suhu tinggi. Poliester mulai meleleh pada
suhu 250 - 290oC dan terbakar, namun tidak meneruskan nyala api.
6. Ketahanan sinar
Poliester berkurang kekuatannya dalam penyinaran yang cukup lama, tetapi
ketahanan sinarnya masih lebih baik dibandingkan dengan serat lain.
7. Mengkeret
Serat poliester jika direndam dalam air mendidih akan mengkeret sampai 7%.
Beberapa zat organik seperti aseton, kloroform, trikloretilen pada titik didihnya akan
mengakibatkan serat poliester mengkeret.
8. Morfologi
Penampang melintang serat poliester berbentuk bulat dan di dalamnya terdapat bintik-
bintik, sedangkan penampang membujurnya berbentuk silinder dinding kulit yang tebal
9. Pembakaran
Poliester meskipun dapat dibakar tetapi nyala api tidak dapat menjalar karena serat
yang terbakar akan meleleh sehingga tidak meneruskan pembakaran.
1.2.4 POLIESTER/RAYON
Keburukan dari serat poliester merupakan kebaikan pada serat rayon viskosa, demikian
pula sebaliknya.
Sifat-sifat yang didapat dari pencampuran kedua macam serat tersebut adalah :
1. Ketahanan kusut dan kestabilan dimensi baik
2. Tahan terhadap mikrobiologi
3. Mempunyai daya serap terhadap air dan keringat
4. Ketahanan terhadap tekanan dan ketahanan gososnya baik
5. Kekuatan kain baik.

1.2.5 KANJI
Zat kanji/pati (starch) atau bahasa lainnya amilum, yang berarti tepung halus, adalah
suatu substansi glukosida yang terdapat banyak sekali pada spesies tanaman. Zat kanji
tersebut terdiri dari butiran-butiran sferik yang kecil sekali dengan ukuran dan bentuk beragam
bergantung pada jenis tanamannya.
Tanaman memproduksi zat kanji dengan cara pengasimilasian CO2 dan ditimbun pada
biji atau pada umbinya dalam bentuk karbohidrat. Secara komersial zat kanji diperoleh dengan
merendam parutan ubi atau tepung biji tanaman yang mengandung banyak zat kanjinya dalam
air dingin.
Konstitusi kimia zat kanji sangat beragam, bila diberi air panas kemudian didinginkan
maka zat-zat kanji tersebut akan membentuk pasta atau gel, yang terjadi oleh adanya
hibridasi, Penggembungan dan akhirnya perekahan butir zat kanji tersebut. Zat kanji
merupakan campuran dua polisakarida, yaitu amilosa dan amilopektin yang berasal dari
penambahan molekul-molekul glukosa. Air panas dapat menyebabkan zat kanji terpisah
menjadi dua bagian, yaitu yang bersifat tidak larut (amilopektin) dan yang larut dalam air
(amilosa). Zat kanji dengan kandungan amilopektin tinggi dapat menimbulkan masalah pada
proses penghilangan kanjinya, bahkan dengan enzim amylase sekalipun.
Macam-macam zat kanji
Berdasarkan komposisi kimianya maka kanji dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Kanji/Pati
2. Kanji yang dimodifikasi
3. Turunan-turunan selulosa, CMC
4. Kanji dengan bahan dasar PVA
5. Poliakrilat (PAC)
6. Galaktomanan (GM)
7. Kanji-kanji Poliester (PES)
8. Homopolimer dan Kopolimer dari vinil, akrilat dan stirena.
9. Lilin dan lemak
10. Pareafin, silicon, pelembut, fungisida dan lainnya.
Komposisi dasar kimia zat-zat kanji tersebut di atas adalah :
Tabel 2.3.1. Komposisi Dasar Kimia Berbagai Jenis Kanji

Komposisi kimia
Unsur
Kanji Pati CMC PVA PAC

Karbon 44,4 42,4 54,4 40,5

Hidrogen 6,2 5,5 9,1 7,9

Oksigen 49,4 48,0 36,4 36,0

Nitrogen - - - 15,4

Suatu suspensi kanji akan menggembung pada suhu 65-70 oC dan menjadi suatu
larutan kanji yang kental. Baik amilosa maupun amilopektin dapat diidentifikasi dengan
iodium. Zat kanji dapat mengandung kelembaban hingga 20 %. Pada medium asam kedua
substansi akan terhidrolisa sebagian menjadi glukosa dan dekstrin.
Kanji Tapioka
Larutan tapioka berbentuk gel yang transparan dan memberikan hasil finish yang tipis,
halus dan fleksibel. Dalam penggunaannya sering dicampur kanji-kanji yang lain untuk
mendapatkan modifikasi sifat-sifat yang diinginkan.
Kanji Karboksimetilselulosa (CMC)
Molekul CMC merupakan turunan glukosida. Rantai glukosidanya mengandung 3 gugus
alcohol, dimana fungsi alcohol primernya tersubstitusi. Derajat substitusinya bervariasi dari
0,68 hingga 0,85 yang akan membedakan kelarutan dan viskositasnya. CMC dibuat dari
reaksi alkali selulosa dengan asam monokloroasetat.
CMC banyak digunakan dalam industri tekstil karena mudah dihilangkan dari bahan
dengan proses penghilangan kanji. Keunggulan sifat CMC terutama terletak pada
pembentukan film dan daya penganjiannya lapisan film yang terbentuk tidak seperti “kulit” dan
tidak terpengaruh oleh kelembaban udara yang rendah. Pada penggunannya kekurangannya
bersifat korosif bila tercampur dengan garam. Larutannya mudah menimbulkan endapan,
pada kelembaban udara yang tinggi dapat “mencair” dan menjadi lengket, dan menggembung
kembali dalam larutan penghilang kanji.
Kanji Polivinilalkohol (PVA)
Polivinil alcohol atau PVA tidak dibuat dari monomer tetapi dari polimerisasi monomer vinil
asetat. Bila Reaksi hidrolisanya dikendalikan maka akan diperoleh PVA yang terhidrolisa
penuh. PVA yang terhidrolisa sebagian misalnya PVA 88% lebih mudah larut dalam air. Makin
panjang rantai makro molekulnya, makin tinggi viskositasnya.
PVA banyak digunakan dalam industri tekstil karena sifat fleksibilitas dan ketahanan
terhadap abrasinya berkat gugus-gugus OH-nya yang membentuk dwikutub. PVA tidak dapat
di-biodegradasi tetapi dapat di daur ulang dengan ultrafiltrasi. Sifat lain yang kurang
menguntungkan adalah sangat peka terhadap elektrolit dan pH alkali. Oleh karena itu sangat
riskan bila melakukan pengelantangan dan pemasakan bahan yang dikanji dengan PVA.
Zat-zat pembantu
Larutan finish kanji selain mengadung kanji juga mengandung zat-zat lainnya yang
berfungsi untuk memperbaiki sifat-sifat atau untuk mendapatkan hasil finis dengan sifatsifat
tertentu. Zat- zat tersebut dapat berupa zat anti septic, zat pelemas dan zat pengikat atau
pemberat..
Zat anti septic
Kain yang difinis kanji mudah diserang oleh jamur apabila disimpan di tempat yang
lembab. Demikian juga larutan kanji yang disimpan, mudah rusak karena pengaruh jamur.
Untuk menghalangi tumbuhnya jamur perlu penambahan-penambahan zat anti septic ke
dalam larutan kanji. Zat- zat anti septic yang umum digunakan dalam industri tekstil adalah
magnesium klorida, seng klorida, seng sulfat, barium klorida, fenol,asam kresilat, asam
salisilat, formaldehida dan salisil anilida.
Zat pelemas
Pelemas perlu ditambahkan untuk mendapatkan hasil finis yang mempunyai
pegangan halus. Zat- zat pelemas yang digunakan antaralain gliserin, TRO, minyak- minyak,
gajih, Textile Finishing Oil.
Zat pengisi
Dalam beberapa hal, zat pengisi ditambahkan untuk mendapatkan hasil finis yang
cukup berat. Kaolin adalah zat pengisi yang banyak digunakan dalam industri tekstil.
Fiksasi zat kanji
Penyempurnaan menggunakan campuran zat kanji merupakan pelapisan serat
dengan lapisan film pelindung yang pada akhirnya lapisan tersebut harus mudah dihilangkan
pada saat proses penghilangan kanji. Oleh sebab itu suatu ikatan yang terlalu kuat antara
serat dan zat kanji bukan merupakan suatu hal yang utama. Lebih disukai ikatan tersebut
berupa ikatan hidrogen atau van der walls atau jenis ikatan elektrostatik yang relative lemah
dan sifatnya fisik. Fiksasi tersebut dapat berbentuk gaya-gaya dwi kutub atau
elektrolit. Suatu dwi kutub listrik terdiri dari dua pusat dengan muatan sama tetapi
berlawanan.
Syarat-syarat kanji yang dalam penganjian :
1. Membentuk film
Sebagai pelindung, sehingga bahan tidak berbulu. Film dapat menutupi serat-serat
yang menonjol keluar dari permukaan yang menyebabkan bahan menjadi berbulu.
2. Menaikkan kekuatan
Sehingga bahan menjadi lebih tahan terhadap tarikan dan tegangan.
3. Fleksibel
4. Adesi
Adesi antara kanji dengan bahan tergantung pada gaya tarik menarik antara film
kanji dengan bahan. Gaya tarik menarik ini pada umumnya terdiri dari ikatan
hidrogen dan gaya van der walls. Dimana, gaya tarik menarik dari ikatan hidrogen
jauh lebih besar dari gaya van der walls. Pada umunya adesi yang baik terjadi
karena terbentuknya ikatan hidrogen antara serta dengan kanji.
5. Penetrasi
Penetrasi yang sempurna dapat menimbulkan kekakuan bahan, oleh karena itu
hal ini perlu diperhatikan.
6. Kekenyalan
7. Lemas
8. Tahan jamur dan bakteri
kanji harus tahan jamur, sehingga dalam penyimpanan tidak akan timbul jamur
dan bakteri yang dapat merusak bahan.
9. Mempunyai daya rekat
Ikatan Serat Selulosa Dengan Kanji
Benang terdiri dari kumpulan serat-serat yang disatukan dengan jalan memberikan
puntiran dan penarikan sehingga terbentuk suatu untaian benang yang panjang. Diantara
serat-serat tersebut, akan terdapat suatu rongga-rongga yang halus sehingga pada benang
tersebut dimasukkan ke dalam larutan kanji, maka rongga-rongga kosong yang halus tersebut
akan terisi oleh larutan kanji. Oleh karena kanji mempunyai daya rekat, maka serat satu
dengan yang lainnya akan terikat, sehingga benang akan tampak lebih padat. Larutan kanji
selain masuk kedalam rongga-rongga serat, juga melapisi bagian luar dari benang/bahan dan
mengikat serat-serat yang tersembul keluar.
Ikatan yang terjadi antara serat selulosa dengan kanji adalah ikatan hidrogen
dan gaya-gaya van der walls. Ikatan hidrogen terjadi karena pada molekul kanji
terdapat gugus-gugus R-OH, begitu juga dengan serat selulosa. Disamping itu, atom
hidrogen mempunyai kecenderungan untuk menggabungkan diri dengan atom oksigen dari
gugus-gugus R-OH yang lain
. Oleh karena itu terjadilah ikatan molekul kanji dengan molekul serat.

R1 R1

│ │

O–H---O–H---O–H---O–H

│ │

R2 R2

Gambar Ikatan Hidrogen Kanji Dengan Serat

Sumber : Ricolavedri, Penelitian Tentang Penggunaan Enzim Raktase Pada


Proses Penghilangan Kain Tenun Kapas, Laporan Kerja Praktek, STTT, Bandung,
1994, hal.107
Keterangan :
R1 – OH : molekul serat R2 –
OH : molekul kanji
DAFTAR PUSTAKA

Teknologi Penyempurnaan Tekstil, 1977. ITT


Yunara Heri, 1997. Pengaruh NaOH pada proses kostisasi kain Poliester-Rayon yang
dicelup dengan zat warna dispersi terhadap hasil celup serat rayon
https://www.academia.edu/9804462/PRAKTIKUM_PENGANJIAN