Anda di halaman 1dari 4

Patogenesis ulkus kornea

Ulkus Kornea Bakteri


Dalam patogenesis ulkus kornea bakteri yang terlokalisir terjadi 4 stadium yaitu:
1. Stadium Infiltrasi Progresif. Peranan yang menonjol dalam stadium ini adalah
infiltrasi dari polimorfonuklear dan/atau limfosit ke epithelium dari
suplementasi sirkulasi perifer melalui stroma jika lapisan tersebut terkena.
Nekrosis jaringan bisa terjadi tergantung virulensi agen dan daya tahan tubuh
orang tersebut.1
2. Stadium Ulkus Aktif. Ulkus aktif merupakan hasil dari nekrosis dan pelepasan
epithelium, lapisan bowman dan stroma. Dinding dari ulkus aktif
membengkak pada lamella dengan meginhibisi cairan dan sel leukosit yang
terdapat diantara lapisan bowman dan stroma. Zona infiltrasi tersebut
memberikan jarak antara tepi ulkus dengan jaringan sekitar. Pada stadium ini,
sisi dan dasar ulkus tampak infiltrasi keabu-abuan dan pengelupasan. Lalu
timbul hyperemia pada pembuluh darah jaringan circum corneal yang
menimbulkan eksudat purulen pada kornea. Eksudasi akan menuju kamera
okuli anterior melalui pembuluh darah iris dan badan silier yang akan
menimbulkan hipopion.. Apabila agen infeksius sangat purulen disertai daya
tahan tubuh orang tersebut rendah maka penetrasinya dapat lebih dalam lagi
pada stadium ulkus aktif ini1.
3. Stadium regresi. Regresi dipicu oleh produksi antibodi dan imunitas selular
serta respon terapi yang baik. Disekeliling ulkus terdapat garis demarkasi
yang terdiri atas leukosit dan fagosit yang menghambat perkembangan
organisme dan debris sel nekrotik. Proses tersebut didukung oleh vaskularisasi
superfisial yang meningkatkan imunitas humoral dan selular. Ulkusnya
mulai membaik dan epithelium mulai tumbuh pada sekeliling ulkus.1
4. Stadium sikatrik. Proses penyembuhan pada stadium ini mulai berlanjut
dengan membentuk epitelisasi lapisan terluar secara permanen. Jaringan
fibrous juga membentuk fibroblast pada kornea dan sel endothelial
membentuk pembuluh darah baru. Stroma akan menebal dan mengisi lapisan
bawah epithelium dan mendorong epitel ke anterior. Bila ulkus hanya
mengenai epithelium saja, maka ulkus tersebut akan sembuh tanpa ada
kekaburan pada kornea. Apabila ulkus mencapai lapisan bowman dan
sebagian lamella stroma, maka jaringan parut akan terbentuk yang disebut
dengan nebula. Apabila ulkus mengenai lebih dari 1/3 stroma, maka
terbentuk macula dan leukoma dalam penyembuhannya.1

Gambar 2.2
Stadium Ulkus
kornea (A=
Stadium
Infiltrasi
Progresif,
B=Stadium
Ulkus Aktif, C=
Stadium regresi,
D= Stadium
sikatrik)1
Ulkus kornea
yang perforasi
Perforasi ulkus
kornea terjadi
apabila ulkus
mengenai
membrane
descemet.
Membran
tersebut keluar
sebagai descemetocele. Tekanan secara tiba-tiba dari pasien misalnya batuk,
bersin, mengejan, akan menyebabkan perforasi, kehilangan aquos humor dan
tekanan intraokuler menurun, serta lensa bergeser ke anterior1.

Ulkus Kornea Jamur


Fungi/jamur biasanya tidak menyebabkan keratitis mikroba karena
normalnya fungi tidak dapat berpenetrasi kedalam lapisan epitel kornea yang
intak dan tidak masuk ke dalam kornea lewat pembuluh darah limbus episklera.
Fungi dapat berpenetrasi ke dalam stroma kornea melalui defek pada
epiteliumnya. Defek pada epitel sering diakibatkan oleh trauma (misal,
pemakaian lensa kontak, benda asing, riwayat operasi kornea ). Saat memasuki
stroma tadi maka organisme tersebut akan berproliferasi dan akan menyebabkan
nekrosis jaringan maupun terjadi reaksi inflamasi1. Protease, collagenase, dan
phospholipase akan memfasilitasi penetrasi toksin ke dalam stroma kornea.
Enzim – enzim ini, antigen fungi, dan toksinnya akan disebarkan ke dalam kornea
sehingga terjadi nekrosis dan kerusakan arsitektur, integritas dan fungsi mata.
Saat sudah terjadi perforasi ke COA, infeksi akan sangat susah di eradikasi dan
membutuhkan terapi bedah2.

Patofisiologi Ulkus Kornea


Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya,
dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan
sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama
terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan
kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di
retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan
gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil3.
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak
segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi.
Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma
kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi
pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea.
Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit
polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak
sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan
permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah
ulkus kornea5.
Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada
kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan
fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama
palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat
progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia, sedangkan
iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang
berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris6.
Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut.
Infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini
menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Jika ulkus yang timbul kecil
dan superficial maka akan lebih cepat sembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi
bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran Bowman dan sebagian stroma
maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan terjadinya
sikatrik.3