Anda di halaman 1dari 26

BED SIDE TEACHING

KATARAK SENILIS IMATUR

Disusun Oleh:

Ildiani Ramli 0910312123

Nurhayati 1010313096

Farisah Izzati 1110312033

Mila Permata Sari 1210313008

Preseptor :

dr. Getry Sukmawati, Sp.M (K)

dr. Havriza Vitresia, Sp.M (K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2017
BAB 1

ILUSTRASI KASUS

Identitas Pasien

- Nama : Tn. A

- Jenis Kelamin : Laki – laki

- Usia : 64 tahun

- Pekerjaan : Wiraswasta

- Agama : Islam

- Alamat : Air Bangih

Anamnesa

Seorang pasien laki – laki berusia 64 tahun datang ke Poliklinik Mata RSUP Dr M

Djamil Padang pada tanggal 30 Januari 2017.

Keluhan Utama :

Mata kiri terasa kabur sejak 2 bulan sebelum berobat ke RS

Riwayat Penyakit Sekarang :

- Penglihatan mata kiri kabur dan tidak disertai rasa nyeri sejak 2 bulan

yang lalu.

- Pandangan seperti melihat dibalik asap (+)

- Mata kiri merah, berair, sekret pada kedua mata (-)

- Keluhan mata silau (-), gatal (-)

- Keluhan penglihatan ganda (-)

- Keluhan sakit kepala (-)

- Riwayat penggunaan kacamata (-)


- Pasien pernah dirawat di bangsal mata RSUP Dr. M. Djamil Padang pada

tanggal 14 Oktober 2016 sampai 25 Oktober 2016 dengan diagnosa ulkus

kornea parasentral OD ec. Susp virus + jamur. Pasien datang ke poliklinik

mata untuk kontrol mata kanan sekaligus memeriksakan mata kiri pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu :

- Riwayat hipertensi tidak ada

- Riwayat diabetes mellitus tidak ada

- Riwayat trauma pada mata tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan seperti pasien

Status Oftalmikus (30 Januari 2017) :

STATUS OFTALMIKUS OD OS

Visus tanpa koreksi 6/24 6/15

Silia / supersilia Trikiasis (-) Trikiasis (-)

Madarosis (-) Madarosis (-)

Palpebra superior Edema (-) Edema (-)

Palpebra inferior Edema (-) Edema (-)

Margo Palpebra Entropion (-) Entropion (-)

Ektropion (-) Ektropion (-)

Sikatrik (-) Sikatrik (-)

Aparat lakrimalis Dalam batas normal Dalam batas normal

Konjungtiva Tarsalis Hiperemis (+)↓, Papil (-), Hiperemis (-), Papil (-), folikel
folikel (-), sikatrik (-) (-), sikatrik (-)

Konjungtiva Forniks Hiperemis (-) Hiperemis (-)

Konjungtiva Bulbii Injeksi konjungtiva (-) Injeksi siliar (-)

Injeksi siliar (-) Injeksi konjungtiva (+)

Sklera Putih Putih

Kornea Ulkus (+) di sentral dengan Bening

epitelisasi

Kamera Okuli Anterior Cukup dalam Cukup dalam

Iris Coklat Coklat

Pupil Semi midriasis (SA) Bulat, RP +/+, diameter 2-3

mm

Lensa Relatif bening Keruh subkapsul posterior

Korpus vitreum Jernih Jernih

Fundus : Tidak diperiksa

- Media Keruh

- Papil optikus Tidak dapat dinilai

- Retina Tidak dapat dinilai

- aa/vv retina Tidak dapat dinilai

- Makula Tidak dapat dinilai

Tekanan bulbus okuli Normal (palpasi) Normal (palpasi)

Posisi bulbus okuli Ortho Ortho

Gerakan bulbus okuli Bebas ke segala arah Bebas ke segala arah


Gambar OS

Diagnosis Kerja :

Katarak senilis imatur OS

Ulkus kornea sentral OD ec virus + jamur OD dengan epitelisasi

Rencana : Ekstraksi lensa OS


BAB 2
DISKUSI

Pasien laki-laki berumur 64 tahun dengan keluhan utama pasien adalah


penglihatan mata kiri dirasa kabur dan tidak disertai rasa nyeri sejak 2 bulan yang
lalu. Pandangan seperti melihat di balik asap ada. Gejala-gejala yang dialami
pasien ini sesuai dengan kepustakaan yang menuju kearah katarak. Katarak
merupakan kekeruhan pada lensa sehingga mengakibatkan penurunan tajam
penglihatan. Tingkat kekaburan yang dialami pasien bervariasi tergantung dari
tingkat kekeruhan lensa. Usia pasien yang lebih dari 50 tahun merupakan salah
satu penentu jenis katarak. Jenis katarak yang sesuai adalah katarak senilis.
Keluhan mata silau tidak ada, gatal tidak ada. Mata merah, berair, sekret pada
kedua mata tidak ada. penglihatan ganda tidak ada. Keluhan sakit kepala tidak
ada. Riwayat memakai kaca mata tidak ada. Penyakit ini masuk dalam kelompok
penyakit visus turun perlahan tanpa mata merah.
Pada pemeriksaan didapatkan visus pasien 6/15, terdapat kekeruhan pada
lensa mata kiri, tidak ditemukan adanya hiperemis pada konjungtiva. Dari hasil
anamnesa dan pemeriksaan fisik, didapatkan diagnosis yang sesuai adalah katarak
senilis imatur. Pada katarak senilis imatur terjadi intumesensi yang
mengakibatkan hidrasi korteks sehingga lensa menjadi cembung. Hal ini
menyebabkan indeks refraksi berubah karena daya bias bertambah (miopisasi).
Penatalaksanaan pada katarak imatur adalah ekstraksi lensa. Ekstraksi
lensa dapat dilakukan dengan metode ECCE atau Fakoemulsifikasi. Dimana
pemilihan teknik operasi ini juga diserahkan pada pasien, namun sebelumnya kita
harus memberikan edukasi mengenai kelebihan ataupun kekurangan dari masing-
masing teknik tersebut. Pada ECCE, pembedahan yang dilakukan lebih lebar
dibandingkan dengan teknik fakoemulsifikasi sehingga proses penyembuhan akan
berlangsung lebih lama. Sementara teknik fakoemulsifikasi biayanya lebih mahal
dibandingkan dengan ECCE.
Prognosis pasien ini baik, hal ini disebabkan karena katarak merupakan
suatu kekeruhan pada lensa yang dapat diperbaiki. Sehingga tajam penglihatan
pasien setelah dioperasi akan lebih baik dibandingkan dengan sebelum dioperasi.
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Anatomi dan Fisiologi Lensa
3.1.1 Anatomi Lensa
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan
transparan. Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan. Tebal sekitar 4 mm dan
diameternya 9mm. Dibelakang iris lensa digantung oleh zonula (zonula Zinnii)
yang menghubungkan dengan korpus siliare. Disebelah anterior lensa terdapat
humour aquos dan disebelah posterior terdapat vitreus. Kapsul lensa adalah suatu
membran semipermeabel yang dapat dilewati air dan elektrolit. Disebelah depan
terdapat selapis epitel subkapsular. Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya.
Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamelar subepitel terus diproduksi,
sehingga lensa lama-kelamaan menjadi kurang elastik.1,2
Nukleus dan korteks tersusun atas serat lamellar yang panjang. Masing-
masing serat lamellar mengandung sebuah inti gepeng. Lensa ditahan ditempatnya
oleh liganmentum suspensorium yaitu zonula, Zonula Zinnii. Zonula ini tersusun
atas banyak fibril yang berasal dari permukaan korpus siliar dan menyusup ke
dalam ekuator lensa.2
Lensa terdiri dari 65% air, 35% protein, dan sedikit sekali mineral yang
biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa
daripada di kebanyakan jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam
bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah atau
pun saraf di lensa.2
Gambar 2.1 Potong lintang lensa3

3.1.2 Fisiologi Lensa


Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk
memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi,
menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa
sampai ukurannya yang terkecil, daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas
cahaya paralel atau terfokus ke retina. Untuk memfokuskan cahaya dari benda
dekat, otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang. Kapsul lensa
yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh
peningkatan daya biasnya. Kerjasama fisiologik tersebut antara korpus siliaris,
zonula, dan lensa untuk memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai
akomodasi. Seiring dengan pertambahan usia, kemampuan refraksi lensa
perlahan-lahan berkurang.2

3.1.3. Metabolisme Lensa Mata


Lensa membutuhkan ATP dalam melakukan transport aktif ion dan asam
amino, menjaga dehidrasi lensa, serta untuk sinteis protein. Energi pada umumnya
digunakan di epitel sebagai bagian utama proses tranpor aktif. Hanya sekitar 10-
20% ATP digunakan dalam sintesis protein. Lensa merupakan suatu struktur
avaskular yang metabolismenya tergantung pada pertukaran kimia dengan
aqueous humor, sehingga komposisi kimiawi lensa mirip dengan cairan aqueous.4
Lensa membutuhkan glukosa agar dapat bekerja secara normal. Aktivitas
metabolisme lensa sebagian besar terbatas pada epitel dan korteks, sementara pada
nukleus metabolisme berlangsung lambat. Pada lensa, 80% glukosa
dimetabolisme secara anaerob melalui jalur glikolisis.4

Gambar 2.2 Pertukaran biokimia lensa dan aqueous humor.4

3.2. Definisi Katarak


Kata Katarak berasal dari bahasa Yunani ‘rrhakie’, bahasa Inggris
‘cataract’, dan bahasa Latin ‘cataracta’ yang berarti ‘air terjun’, karena orang
yang menderita katarak mempunyai penglihatan yang kabur seolah-olah
penglihatannya dihalangi air terjun. Menurut istilah, katarak dapat diartikan
sebagai keadaan dimana terdapat kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (peningkatan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau keduanya.
Kekeruhan lensa dapat mengenai satu atau kedua mata dan tampak
kekeruhan lensa yang mengakibatkan lensa tidak transparan, sehingga pupil akan
berwarna putih. Walaupun demikian, jika karatak mengenai satu mata tidak
berarti akan menularkan ke mata lain.5
3.3. Klasifikasi Katarak
Klasifikasi katarak berdasarkan usia :1
1. Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun
2. Katarak juvenile, katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
3. Katarak senil, katarak setelah usia 50 tahun
Klasifikasi Katarak Senilis
1. Berdasarkan maturitas yakni sebagai berikut :2
a. Stadium insipient
b. Stadium imatur
c. Stadium matur
d. Stadium hipermatur
2. Berdasarkan morfologisnya, yakni sebagai berikut :3
a. Katarak posterior subcapsular
b. Katarak nuclear
c. Katarak kortikal
3.4. Katarak Senilis

Definisi
Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu
usia di atas 50 tahun. Katarak senilis dapat dibagi kedalam 4 stadium, yaitu
katarak insipien, katak imatur, katarak matur dan katarak hipermatur. Katarak
insipient merupakan stadium katarak yang paling awal dan belum menimbulkan
gangguan visus. Pada katarak imatur, kekeruhan belum mengenai seluruh bagian
lensa sedangkan pada katarak matur, kekeruhan telah mengenai seluruh bagian
lensa. Sementara katarak hipermatur adalah katarak yang mengalami proses
degenerasi lanjut, dapat menjadi keras atau lembek dan mencair. Kekeruhan pada
katarak imatur utamanya terjadi di bagian posterior dan belakang nukleus lensa.
Pada katarak imatur, volume lensa dapat bertambah akibat meningkatnya tekanan
osmotik bahan degeneratif lensa. Pada keadaan ini, lensa akan mencembung dan
dapat menimbulkan hambatan pupil sehingga terjadi glaukoma sekunder.1,2
Epidemiologi Katarak senilis
Menurut WHO, katarak merupakan penyebab utama gangguan penglihatan
dan kebutaan di seluruh dunia. Gangguan penglihatan dan katarak terkait usia
telah menjadi faktor risiko independen terhadap peningkatan mortalitas pada
orang tua. Pada 2002, WHO memperkirakan katarak telah mengakibatkan lebih
dari 17 juta (47,8%) kebutaan di seluruh dunia, dan diperkirakan akan mencapai
40 juta pada 2020.3
Katarak Senilis dilaporkan telah diderita lebih dari 90% individu berusia 70
tahun. Penelitian The Beaver Dam Eye melaporkan 38,8% laki-laki dan 45,9%
perempuan berusia lebih dari 74 tahun telah menderita katarak. Katarak biasanya
menyerang kedua mata, nammun hampir pada semua kasus satu mata lebih dahulu
terkena dibanding mata lainnya.3,4

Etiologi dan Faktor Risiko Katarak Senilis


Katarak senilis merupakan bagian dari suatu proses penuaan. Walaupun
patogenesis katarak belum diketahuai secara pasti, terdapat beberapa faktor yang
terlibat.4
Faktor-faktor yang mempengaruhi onset usia, tipe dan maturase katarak
senilis yaitu:4
1. Keturunan : mempengaruhi peran genetik dalam mulainya awitan seorang
individu terkena katarak dan maturasi dari kataraknya tersebut,
2. Radiasi Ultraviolet: paparan UV yang tinggi mempercepat maturasi dan usia
munculnya katarak.
3. Faktor diet: Defisiensi dari beberapa jenis protein, asam amino dan vitamin C,
E serta riboflavin dihubungkan dengan kecepatan maturasi dan usia munculnya
katarak
4. Krisis dehidrasi: Riwayat dehidrasi berat seperti pada kolera meningkatkan
resiko.
5. Merokok: Merokok menyebabkan penumpukan molekul berpigmen -3
hydroxykhynurine dan chromophores, yang menyebabkan terjadinya
penguningan warna lensa, yang menyebabkan kekuningan. Sianat dalam rokok
juga menyebabkan terjadinya karbamilasi dan denaturasi protein.
Patogenesis dan Patofisiologi Katarak Senilis
Penyebab yang paling sering gangguan penglihatan pada pasien dewasa tua
adalah katarak senilis, patogenesisnya masih multifkatorial dan tidak diketahui
dengan komplit. Terdapat tida tipe katarak senilis: nuclear, kortikal dan
subkapsular posterior. Pada kebanyakan pasien ditemuka lebih dari satu tipe
katarak.3

Katarak nuklear3
Penyebaran sinar yang berlebihan dan penguningan lensa disebut sebagai
katarak nuclear, yang menyebabkan opasitas sentral. Dokter spesialis mata dapat
menilai derajat peningkatan warna dan kekeruhan menggunakan biomikroskop slit
lamp dan menilai reflek merah dengan dilatasi pupil.
Progresivitas katarak nuclear biasanya berjalan lambat. Katarak nuclear
menyebabkan gangguan yang lebih parah pada penglihatan jauh daripada dekat.
Pada tahap awal, pengerasan pada nukleus lensa menyebabkan peningkatan
indeks refraksi lensa sehingga terjadi keadaan myopia. Pada mata yang
hipermetrop, perubahan myopia menyebabkan indvidu yang presbyopia dapat
membaca tanpa kacamata, suatu kondisi yang siebut sebagai second sight.
Kadang-kadang, perubahan secara tiba-tiba indeks refraksi antara nukelus
sklerotik (atau kekeruhan lensa) dan korteks lensa dapat menyebabkan diplopia
monocular. Pada kasus yang lanjut, nukleus menjadi opak dan coklat, disebut
katarak nuclear brunescent.
Gambar 2.3 A. katarak nuclear dilihat dengan diffuse illumination (A) dan dilihat
dengan slitlamp (B), C. Skema katarak nuklear

Secara histologi, nukleus pada katarak nuclear sulit dibedakan dengan


nukleus normal, pada lensa yang tua. Pemeriksaan dengan mikroskop electron
dapat mengidentifikasi suatu peningkatan jumlah serat membrane lamella pada
beberapa katarak nuclear.

Katarak kortikal3
Berbeda dengan katarak nuclear, katarak kortikal dikaitkan dengan
gangguan lokal pada struktur sel serat lensa. Saat integritas membran terganggu,
metabolit penting hilang dari sel yang terkena. Kehilangan ini menyebabkan
oksidasi dan presipitasi protein yang berlebihan. Katarak kortikal biasannya
bilateral tapi sering juga asimetris. Efek pada fungsi penglihatn sangat bervariasi
tergantung pada lokasi kekeruhan yang mempengaruhi aksis visual. Gejala yang
sering pada katarak kortikal adalah silau saat melihat cahaya yang terang, seperti
lampu mobil. Diplopia monocular juga dapat terjadi. Katarak kortikal sangat
bervariasi dalam kecepatan progresivitasnya, beberapa kekeruhan kortikal tidak
berubah dalam waktu lama dan lainnya dapat berubah dengan cepat.
Tanda pertama terbentuknya katarak kortikal terlihat dengan biomkroskop
slit lamp berupa vakuola dan air pada korteks anterior atau posterior. Lamela
korteks dapat dipisahkan oleh cairan. Wedge-shape opasiti (sering disebut cortical
spokes atau cuneiform opacities) terbentuk di dekat perifer lensa, dengan ujung
opasitas mengarah ke tengah. Karena kekeruhan perifer terjadi pada sel serat yang
meluas dari sutura posterior atau anterior, hal ini hanya mempengaruhi region
ekuator sel serat.

Gambar 2.4 A. katarak kortikal dilihat dengan retroillumination, B. skema


katarak kortikal imatur

Pada tahap awal katarak, sel yang terkena tetap jernih pada ujung anterior
dan posterior. Jari-jari kortikal muncul sebagai kekeruhan putih ketika dilihat
dengan biomikroskop slit lamp dan terlihat sebagai bayangan hitam saat diamati
dengan retroiluminasi. Opasitas wedge-shaped dapat menyebar ke sel serat yang
berdekatan dan sepanjang serat yang terkena, menyebabkan derajat kekeruhan
bertambah dan meluas ke aksis visual. Saat seluruh kortek dari kapsul hingga
nukleus manjadi putih dan opak, katarak menjadi matur. Pada opasitas yang
matur, lensa menyerap air dan bengkak menjadi suatu katarak kortikal yang
intumescent.
Saat material yang berdegenerasi dari korteks bocor melalui kapsul lensa,
kapsul yang ditinggalkan menjadi berkerut dan menyusut, katarak menjadi
hipermatur. Ketika pencairan lebih lanjut kortek membuat pergerakan nukleus
dengan bebas pada kantong kapsular, disebut sebagai katarak morgagnian.
Secara histologi, katarak kortikal dicirikan dengan pembengkakan lokal dan
gangguan pada sel serat lensa. Percikan dari material yang eosinofilik (globula
morgagnian) diamati pada slit lamp sperti ruang antara serat.

Katarak subscapsula posterior3


Katarak subkapsula posterior berada di lapisan kortikal. Indikasi pertama
pembentukan katarak subkapsula posterior adalah suatu kilau warna warni di
lapisan kortikal posterior yang terlihat pada slitlamp. Pada tahap selanjutnya,
opasitas granular dan opasitas seperti plak pada subkapsula posterior terlihat.
Pasien sering mengeluhkan silau dan penglihatan yang buruk pada keadaan
yang terang karena katarak mengaburkan sebagian besar pupil yang miosis saat
diinduksi sinar yang terang, akomodasi, atau miotik. Penglihatan dekat lebih
berkurang dibandingkan penglihatan jarak jauh. Beberapa pasien mengalami
monocular diplopia. Deteksi katarak subkapsula posterior dengan slit lamp dapat
diamati dengan baik pada pupil yang berdilatasi. Retroiluminasi juga dapat
membantu.
Secara histologi, katarak subkapsula posterior dikaitkan dengan migrasi
posterior sel spitel lensa dari ekuator lensa ke aksis visual pada permukaan dalam
kapsul posterior. Selama imigrasi atau setelah smapai pada aksis posterior, sel
mengalami pemesaran yang tidak normal. Sel yang membengak ini disebut sel
Wedl atau Bladder.
Gambar 2.7 Posterior subcapsula cataract (PSC) dilihat dengan slit lamp (A),
dan dilihat dengan indirect illumination (B), C. Skema PSC

Katarak senilis secara klinik dikenal dalam 4 stadium yaitu insipien, imatur,
matur, dan hipermatur.
1. Katarak Insipien
Pada stadium ini kekeruhan lensa tidak teratur, tampak seperti bercak-
bercak yang membentuk gerigi dangan dasar di perifer dan daerah jernih di
antaranya. Kekeruhan biasanya terletak di korteks anterior dan posterior.
Kekeruhan ini pada awalnya hanya nampak jika pupil dilebarkan. Pada stadium
ini terdapat keluhan poliopia yang disebabkan oleh indeks refraksi yang tidak
sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang menetap untuk waktu yang
lama.
2. Katarak Imatur
Pada katarak imatur terjadi kekeruhan yang lebih tebal, tetapi belum
mengenai seluruh lapisan lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang
jernih pada lensa. Terjadi penambahan volume lensa akibat meningkatnya tekanan
osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa yang mencembung
akan dapat menimbulkan hambatan pupil, mendorong iris ke depan,
mengakibatkan bilik mata dangkal sehingga terjadi glaukoma sekunder. Pada
pemeriksaan uji bayangan iris atau sahdow test, maka akan terlihat bayangan iris
pada lensa, sehingga hasil uji shadow test (+).
3. Katarak Matur
Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Proses
degenerasi yang berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama hasil
disintegrasi melalui kapsul, sehingga lensa kembali ke ukuran normal. Bilik mata
depan akan berukuran kedalaman normal kembali. Tidak terdapat bayangan iris
pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.
5. Katarak Hipermatur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa, sehingga masa lensa yang
mengalami degenerasi akan mencair dan keluar melalui kapsul lensa. Lensa
menjadi mengecil dan berwarna kuning. Bila proses katarak berjalan lanjut
disertai kapsul yang tebal, maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat
keluar, maka korteks akan memperlihatkan sekantong susu dengan nukleus yang
terbenam di korteks lensa. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni. Uji
bayangan iris memberikan gambaran pseudopositif. Cairan / protein lensa yang
keluar dari lensa tersebut menimbulkan reaksi inflamasi dalam bola mata karena
di anggap sebagai benda asing. Akibatnya dapat timbul komplikasi uveitis dan
glaukoma karena aliran melalui COA kembali terhambat akibat terdapatnya sel-
sel radang dan cairan / protein lensa itu sendiri yang menghalangi aliran cairan
bola mata.
Gambar 2.5 A. Katarak kortikal matur, B. Skema Katarak kortikal matur4
Gambar 2.6 A. Katarak kortikal hipermatur, B. Skema katarak hipermatur

Gambar 2.6 A. Katarak Morgagnian, B. Skema katarak Morgagnian

Tabel 2.1 Perbedaan stadium katarak senilis1


Insipien Imatur Matur Hipermatur
Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan lensa Normal Bertambah Normal Berkurang
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik mata Normal Dangkal Normal Dalam
depan
Sudut bilik Normal Sempit Normal Terbuka
mata
Shadow test Negatif Positif Negatif Pseudopos
Penyulit - Glaukoma - Uveitis+Glaukoma

Manifestasi Klinis3
1. Penurunan ketajaman visual
Keluhan ini adalah keluhan katarak senilisyang paling umum. Tipe katarak
yang berbeda memiliki efek yang berbeda terhadap ketajaman penglihatan,
tergantung oleh jumlah cahaya yang masuk, ukuran pupil, dan derajat miopia.
Pada katarak subkapsular posterior, ketajaman penglihatan jarak dekat bisa sangat
terganggu akan tetapi penglihatan jarak jauh tidak mengalami gangguan. Akan
tetapi, pada katarak “oil droplet” yang terjadi myopic shift, penglihatan jarak jauh
jadi memburuk sementara penglihatan jarak dekat tetap baik. Gangguan
penglihatan warna juga bisa dirasakan oleh pasien, terutama jika lensa berubah
warna jadi kekuningan atau kecokelatan.

2. Glare dan Perubahan Contrast Sensitivity


Pasien katarak sering mengeluhkan penglihatan silau, dimana tingkat
kesilauannnya berbeda-beda mulai dari sensitiftas kontras yang menurun dengan
latar belakang yang terang hingga merasa silau disiang hari atau merasa silau
terhadap lampu mobil yang berlawanan arah atau sumber cahaya lain pada malam
hari. Keluhan ini sering kali muncul pada penderita katarak kortikal.
3. Myopic shift
Perkembangan katarak pada awalnya dapat meningkatkan kekuatan dioptri
lensa, biasanya menyebabkan derajat miopia yang ringan hingga sedang.
Ketergantungan pasien presbiopia pada kacamata bacanya akan berkurang karena
pasien ini mengalami penglihatan kedua. Namun setelah sekian waktu bersamaan
dengan memburuknya kualitas lensa,rasa nyaman ini berangsur menghilang dan
diikuti dengan terjadinya katarak sklerotik nuklear. Perkembangan miopisasi yang
asimetris pada kedua mata bisa menyebabkan anisometropia yang tidak dapat
dikoreksi lagi, dan cenderung untuk diatasi dengan ekstraksi katarak.
4. Diplopia monokuler
Gambaran ganda dapat terbentuk pada retina akibat refraksi ireguler dari
lensa yang keruh, menimbulkan diplopia monocular, yang dibedakan dengan
diplopia binocular dengan cover test dan pin hole.

Diagnosis
1. Anamnesis
Pada anamnesis harus ditanyakan manifestasi klinis, apakah simtomatis atau
tidak. Gejala-gejala umum dari katarak adalah: glare atau intoleransi terhadap
cahaya terang, poliopia uniokuler, halo berwarna, spot hitam di depan mata,
pandangan kabur atau berawan, dan kehilangan penglihatan.4 Penyakit intraokuler
lain yang dapat menyebabkan katarak juga harus ditanya untuk menentukan
katarak sekunder atau tidak.2 Perlu juga ditanyakan penyakit sistemik untuk
menentukan etiologi dari katarak seperti diabetes mellitus, galaktosemia,
hemodialisa, distrofi miotonik, riwayat trauma, dan penggunaan obat-obatan
tertentu yang dapat menyebabkan katarak toksik seperti steroid, klorpromazin,
agen miotik, dan lain-lain.6
2. Pemeriksaan Oftalmologi
Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada penyakit katarak adalah
pemeriksaan visus, pemeriksaan glare dan contrast sensitivity test untuk
mengukur derajat gangguan penglihatan, pemeriksaan slit lamp, dan pengukuran
kekuatan intraocular lens (IOL).

Tatalaksana
Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Tatalaksana
nonsurgikal dapat diberikan pada pasien yang tidak mau dioperasi atau ketika
pembedahan tidak bisa dilakukan. Tatalaksana nonsurgikal yang diberikan adalah
pembuatan kacamata untuk membantu penglihatan. Sementara, agen farmakologi
untuk mengatasi katarak masih dalam penelitian. Belum ada pengobatan yang
dapat menghentikan progresifitas atau mengembalikan lensa seperti semula pada
manusia. Aldose reduktase inhibitor melihatkan efek yang baik pada hewan coba,
akan tetapi tidak berefek pada manusia.3
Indikasi untuk pembedahan adalah keinginan pasien untuk memperbaiki
penglihatan guma meningkatkan kualitas hidup, glaukoma fagolitik, glaukoma
fakomorfik, uveitis fakoantigenik, dan dislokasi lensa ke anterior chamber.
Indikasi lain untuk pembedahan adalah katarak mengganggu pemeriksaan fundus
sehingga menghambat diagnosis dan tatalaksana penyakit mata lain seperti
retinopati diabetik, degenerasi makula, atau glaukoma. Indikasi operasi untuk
pasien dengan katarak monokuler adalah hilangnya stereopsis, penurunan
penglihatan perifer, glare, dan anisometropia simtomatik. Pada pasien dengan
katarak bilateral, operasi dilakukan pertama pada mata dengan katarak yang lebih
berat.3
Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa.
Terdapat 2 tipe ekstraksi lensa yaitu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan
ekstra capsuler cataract ekstraksi (ECCE). ECCE sendiri terdiri dari dua teknik
yaitu Small Incision Cataract Surgery (SICS) dan Phakoemulsifikasi.2
1. Intracapsular cataract extraction (ICCE)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama
kapsulnya. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan
dipindahkan dari mata melalui insisi korneal superior yang lebar. Sekarang
metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan subluksasio lensa dan dislokasi.
Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan
pembedahan yang sangat lama popular.2 Kontraindikasi absolut untuk tindakan ini
adalah anak-anak dan dewasa muda dan ruptur kapsular traumatika.
Kontraindikasi relatif adalah miopia tinggi, sindroma Marfan, katarak hipermatur,
dan adanya vitreous di bilik depan mata.3
2. Extracapsular cataract extraction (ECCE)
Tindakan pembedahan ECCE adalah pembuangan nukleus dan korteks lensa
melalui pembukaan kapsul anteriorlensa, dengan “capsular bag” yang tetap
tersisa di dalam lensa. Teknik ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan
ICCE oleh karena insisi lebih kecil, trauma ke endotel kornea lebih minimal,
astigmatisma lebih jarang teradi, insisi lebih aman dan stabil, dan karena kapsula
posterior tetap intak, risiko vitreous loss intraoperatif lebih kecil. ECCE juga
menjadi barrier antara aqueous dan vitreous, dapat meletakkan posisi IOL lebih
anatomis, dan menurunkan komplikasi jangka pendek dan jangka panjang.3
3. Phakoemulsifikasi
Phakoemulsifikasi adalah teknik yang menggunakan ultrasound untuk
memecah nukleus katarak dan mengemulsifikasi fragmen-fragmen ini.
Komplikasi lebih jarang terjadi, penyembuhan lebih cepat, dan rehabilitasi
penglihatan lebih baik dibandingkan yang membutuhkan insisi yang lebih besar.3
Getaran ultrasonik akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya
mesin phako akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih.
Sebuah lensa Intra Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut.
Karena incisi yang kecil maka tidak diperlukan jahitan dan irisan akan pulih
dengan sendirinya sehingga memungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali
melakukan aktivitas sehari-hari. Teknik ini bermanfaat pada katarak kongenital,
traumatik, dan kebanyakan katarak senilis. Teknik ini kurang efektif pada katarak
senilis padat.2
4. Small Incision Cataract Surgery (SICS).
SICS adalah teknik ECCE yang dapat digunakan dengan menggunakan
insisi yang kecil. Teknik ini sering digunakan pada negara berkembang.
5. Implantasi Intraocular Lens (IOL).
Sebelum tahun 1949, pembedahan katarak menyebabkan afakia pada
pasien.3 Pada hampir semua ekstraksi katarak, selalu dilakukan implantasi IOL.
Mata dengan lensa dibuatan disebut dengan pseudophakia. Beberapa jenis dari
IOL adalah IOL monofokal, multifokal, Toric IOL, dan IOL akomodatif.6

Komplikasi
1. Komplikasi Preoperatif4
Komplikasi preoperatif yang sering terjadi pada pasien adalah ansietas,
nausea dan gastritis, dan konjungtivitis alergi atau iritasi konjungtiva akibat
antibiotik topikal preoperatif yang diberikan.
2. Komplikasi Intraoperatif
Komplikasi intraoperatif yang dapat terjadi adalah ruptur dari kapsul atau
zonula posteror, vitreous loss, trauma iris atau badan siliar, perdarahan
suprakoroidalis dan perdarahan retrobulbar.3
3. Komplikasi Postoperatif Dini
a. Udem kornea dapat langsung terjadi pada periode postoperatif.
Insidennya terjadi lebih sering pada pasien yang telah memiliki
disfungsi endotel kornea sebelumnya. Etiologi dari udem kornea ini
adalah trauma mekanik dan kimiawi, inflamasi, operasi yang lama atau
peningkatan tekanan intraokuler.3
b. Hifema. Hifema dapat teradi oleh karena trauma okular minor atau
trauma dari bilik depan mata seperti pembuluh darah konjungtiva atau
sklera. Kebanyakan dari kasus ini tidak memerlukan tatalaksana, kecuali
jika hifemanya berukuran besar dan disertai dengan peningkatan tekanan
intraokular.4
c. Prolaps iris dapat terjadi oleh karena penjahitan insisi ICCE yang tidak
adekuat.4
d. Keratopati striata dicirikan dengan udem membran Descemet’s yang
teradi akibat trauma endotel kornea intraoperatif. 4
e. Uveitis anterior dapa terjadi oleh karena trauma dari instrumen selama
operasi atau karena reaksi terhadap zat kimia yang digunkan pada
pasien.4
f. Endoftalmitis bakterialis, terjadi dengan insiden 0,2 – 0,5%, dengan
sumber infeksi yang berasal dari instrumen atau zat kimia yang
terkontaminasi, atau dari flora normal konjungtiva, palpebra, dan bakteri
yang berada di udara. 4
4. Komplikasi Postoperatif Lambat 4
a. Cystoid macular edema (CME) adalah penumpukan cairan dalam bentuk
lokuli sistik pada lapisan Henle makula.
b. Endoftalmitis kronik terjadi pada infeksi dengan etiologi yang memiliki
virulensi yang rendah (seperti bakteri P. acne atau S. epidermidis).
c. Pseudophakic bullous keratopathy (PBK) adalah udem kornea oleh
karena trauma mekanik atau kimia selama operasi.
d. Retinal detachment
e. Katarak sekunder atau “After Cataract” dapat terjadi setelah teknik
ECCE dilakukan. Hal inidapat terjadi oleh karena adanya residu lensa
yang tertinggal pada saat dilakukannya ECCE.4 Sel yang tertinggal ini
dapa menyebabkan fibrosis atau proses regeneratif pada kapsula
posterior sehingga terbentuk katarak yang baru.6

Prognosis
Dengan terapi pembedahan, kembalinya ketajaman penglihatan memiliki
tingkat kesuksesan yang tinggi. Lebih dari 90% mendapatkan ketajaman
penglihatan postoperatif 20/40 atau lebih tinggi. Pada pasien yang menjalani
terapi pembedahan juga terlihat peningkatan kualitas hidup yang signifikan.3
DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI,
2005.
2. Vaughan DG, Asbury T, Riodan Eva P. Oftalmologi umum. Edisi 17. Jakarta
: EGC, 2013.
3. American Academy of Opthalmology. Lens and Cataract. Section 11. San
Fransisco: MD Association, 2014-2015.
4. Khurana, AK. Comprehensive Ophthalmology. New Delhi: New Age
International Publisher. 2007. pp 92-101
5. Kanski Jack J. Clinical Ophtalmology. Edisi 6. Saunders Elsevier. British.
2008
6. Lang, G. 2006. Ophthalmology – A Pocket Textbook Atlas 2nd ed. Thieme:
Stuttgart. pp 191-192