Anda di halaman 1dari 7

HIJRAHNYA NABI MUHAMMAD SAW

KE MADINAH

Disusun Oleh:
N.N. Rayya Diaji
BAB I

PENDAHULUAN

Rasulullah saw. Serta para pengikutnya sering mengalami cobaan besar dan siksaan
yang sangat pedih saat berada di kota Mekah. disamping itu hak kemerdekaan mereka
dirampas, mereka diusir dan harta benda mereka disita. Itulah tekanan yang sangat dasyat
dialami Rasulullah beserta pengikutnya selama menyampaikan dakwah demi tersebarnya
risalah tauhid di tengah – tengah kaum kafir Quraisy.

Denga sikap kaum Quraisy yang berkecamuk maka Rasulullah beserta kaum muslimin
hijrah untuk menyelamatkan diri serta menyelamatkan agama tauhid, risalah kebenarannya
yang sedang berada dalam tanggung jawabnya dengan tujuan untuk mencari temapat yang
kondusif untuk selanjutnya menyusun kekuata baru demi tercapainya kemenangan yang
tertunda.

BAB II

ISI

Hijrah berasal dari bahasa arab “ ‫ ”هِجْ َرة‬yang artinya: pindah, menjauhi atau menghindari.
Kerasnya sesuatu (‫ ;)الهاجرة الهجير الهجر‬berarti tengah hari di waktu panas sangat menyengat
(keras). Secara bahasa “Hijrah” itu adalah Menjauhi sesuatu dengan sangat keras karena
adanya ketidak setujuaan dan kebencian. Hijrah adalah Pindah, meninggalkan, menjauhi atau
berpisah dari sesuatu dengan kebencian, menuju sesutu yang dia sukai atau cintai, bukan
pindah atau berpisah biasa biasa saja seperti pindah rumah.

Dikala Kaum Quraiy membuat keputusan keji yaitu menghabisi Nabi saw, malaikat jibril
turun membawa wahyu rabbaya yang isinya memberi tahukan kepada Nabi Muhammad SAW
konspirasi Quraisy, dan Allah SWT telah mengizinkan untuk berhizrah pada waktu yang telah
di tentukan.

Selama tujuh hari terus-menerus rombongan Rasululloh Saw berjalan, mengaso di bawah
panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan
padang pasir dengan perasaan kuatir. Hanya karena adanya iman kepada Allah Swt membuat
hati dan perasaan mereka terasa lebih aman.Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh
meletihkan itu, berita-berita tentang Hijrah Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya sudah

1
tersiar di Madinah. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini mengalami
kekerasan dari Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu semua kaum
Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasululloh dengan hati penuh
rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka itu yang
belum pernah melihatnya, meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui
pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali
ingin bertemu, ingin melihatnya

Demikanlah akhirnya rombongan Rosululloh selamat sampai Madinah. Hari itu adalah
hari Jum’at dan Nabi Muhammad berjum’at di Madinah. Di tempat itulah, ke dalam mesjid
yang terletak di perut Wadi Ranuna kaum Muslimin datang, masing-masing berusaha ingin
melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini
belum pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman akan risalahnya,
dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang. Orang-orang terkemuka di
Medinah menawarkan diri supaya ia tinggal pada mereka.

Tersebarnya Islam di Madinah dan keberanian kaum Muslimin di kota itu sebelum hijrah
Nabi ke tempat tersebut sama sekali di luar dugaan kaum Muslimin Mekah. Ketika Nabi masih
berada di Mekkah, banyak dari penduduk Yatsrib sering melaksanakan Ibadah Haji ke kota
Mekkah. Kesempatan ini digunakan oleh Nabi untuk mengajak penduduk Yatsrib yang datang
ke Mekkah untuk masuk Islam. Akhirnya, setiap orang Yatsrib yang datang ke Mekkah
menyatakan masuk Islam. Bahkan, pada tahun 621 M Nabi menemui rombongan haji dari
Yatsrib yang berjumlah 12 orang di bukit aqabah dan melakukan perjanjian. Perjanjian ini
disebut “Perjanjian Aqabah I” yang isinya:

1. Penduduk Yatsrib akan setia melindungi Nabi

2. Rela berkorban harta dan jiwa

3. Tidak akan menyekutukan Allah

4. Tidak membunuh dan berdusta

5. bersedia membantu menyebarkan Islam

Saat berada di madinah Rosululloh melakukan beberapa Hal, yaitu:

1. Mendirikan Masjid

Masjid yang pertama kali didirikan oleh Nabi di Madinah adalah Masjid Nabawi. Pendirian
masjid ini dimaksudkan selain sebagai pusat Ibadah dan dakwah Islam, namun juga berperan
sebagai tempat bermusyawarah kaum Muslimin, tempat untuk mempersatukan kaum
Muslimin, bahkan dijadikan sebagai pusat pemerintahan.

2
Di salah satu penjuru masjid disediakan tempat tinggal untuk orang-orang miskin yang tidak
mempunyai tempat tinggal, mereka dinamai Ahlus-Suffah.

2. Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Anshor

Cara ini dilakukan Nabi untuk mengokohkan persatuan Umat Islam di Madinah. Persaudaraan
ini didasarkan atas persaudaraan seagama dan bukan atas dasar kesukuan. Sebagai contoh,
Nabi mempersaudarakan Hamzah bin Abdul Muthalib dengan Zaid bekas budaknya, Abu
Bakar bersaudara dengan Kharija bin Zaid, dan Umar bin Khattab bersaudara dengan 'Itban
bin Malik Al-Khazraji. Kaum Muhajirin kemudian banyak yang menjadi pedagang dan petani.
Di antaranya Abdurrahman bin Auf menjadi pedagang, sedangkan Umar bin Khottob dan Ali
bin Abi Tholib menjadi petani.

3. Membuat perjanjian damai antara Kaum Muslimin dan Kaum Yahudi

Perjanjian damai ini dilakukan untuk menciptakan rasa damai dan tenteram bagi masyarakat
Madinah, baik yang Muslim atau yang bukan Muslim. Dari sini maka Nabi membuat
peraturan-peraturan yang disebut dengan “Piagam Madinah” yang isinya antara lain:

a. Kaum Muslim dan Yahudi akan hidup berdampingan dan bebas menjalankan agamanya
masing-masing.

b. Apabila salah satu pihak diperangi musuh, maka yang lain wajib membantu.

c. Apabila terjadi perselisihan antara keduanya, penyelesaian diserahkan kepada Nabi


Muhammad SAW selaku pemimpin tertinggi di Madinah.

d. Dalam Piagam Madinah tersebut terdapat beberapa asas, yaitu: asas kebebasan beragama,
asas persamaan, asas keadilan, asas perdamaian dan asas musyawarah.

4. Meletakkan Dasar-dasar Pemerintahan, Ekonomi dan Kemasyarakatan

Dalam bidang pemerintahan diterapkan prinsip musyawarah (demokrasi), yaitu dalam


memutuskan masalah harus bermusyawarah terlebih dahulu. Dalam bidang ekonomi
diterapkan asas koperasi, yaitu tiap-tiap Muslim harus saling membantu. Dalam kehidupan
bermasyarakat diterapkan asas keadilan, harus saling tolong menolong, menghargai
persamaan hak dan kewajiban sesama Muslim, tidak ada perbedaan pangkat, harta dan
keturunan, harus mengasihi dan memelihara anak yatim, menyantuni janda-janda.

Dengan demikian, maka berdirilah kota Madinah sebagai kota terbesar di Jazirah Arab
dengan kemegahan yang ditampilkannya. Pada masa ini, masyarakat Muslim berkembang
menjadi masyarakat besar dan menjadi pusat untuk kegiatan perekonomian, perdagangan
dan pertanian.

3
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1. Dari Peristiwa Hijrah ini, Terjadi Perubahan Sosial. Islam Sebagai Sebuah
Kelompok/Golongan Didalam Masyarakat Telah Berkembang Menjadi Sebuah Kesatuan
Ummat Islam. Maka Sirnalah Diskriminasi Atas Dasar Warna Kulit, Kredo, Ataupun Kekayaan.
Semua Muslim Setara/Egaliter.

2. Menurut Para Ahli Sejarah Muslim, Rasulullah (Saw) Tiba Di Quba‘ Pada Tanggal 16 Juli
632 M. Yang Mana Berada Dalam Bulan Muharram, Dari Sinilah Dimulainya Perhitungan
Kalender Hijriyah.

3. Di Madinah, Diletakkan Dasar-Dasar Khilafah (Pemerintahan) Islam. Peristiwa Bersejarah


Berupa Perjanjian-Perjanjian Yang Dibuat Bersama Dengan Kelompok Yahudi Dan Beberapa
Suku Yang Lain Menjadi Panduan Bagi Generasi-Generasi Yang Kemudian.

4
4. Diantara Sekian Banyak Sahabat Nabi (Saw), Beliau Memilih Abu Bakar (Ra) Sebagai
Teman Dalam Perjalanan Hijrah. Hal Ini Di Abadikan Didalam Al-Quran, Surah At-Taubah. Ini
Merupakan Penghargaan Paling Utama Bagi Abu Bakar (Ra).

5. Setiap Orang Yang Berpola-Pikir Adil Dan Terbuka, Dari Tulisan Ini Dapat Mengambil
Kesimpulan Bahwa Abu Bakar (Ra) Telah Memiliki Peranan Yang Amat Penting Dalam
Peristiwa Hijrah. Maka Sungguh Amat Menyedihkan Bahwasanya Sebagian Orang Masih
Menilai Secara Tidak Adil Terhadap Diri Sahabat Yang Demikian Dihormati Ini.