Anda di halaman 1dari 3

2.

7 Statigrafi
Menurut Katili (1967) batuan-batuan yang dijumpai di Pulau Bangka terdiri atas
batuan Pra-Tersier diantaranya, batupasir, batulempung, lapisan-lapisan pasir,
lempung mengandung sisa tanaman, campuran antara lempung-pasir-lanau. Kemudian
granit dan batuan metamorf seperti sekis.
Berikut formasi yang merupakan penyusun stratigrafi daerah Pulau Bangka :
1. TQr (Formasi Ranggam) :
Perselingan batupasir, batu lempung dan konglomerat. Batupasir putih kotor,
berbutir halus-kasar, menyudut-membundar tanggung, mudah diremas, berlapis
baik, struktur sedimen pada batupasir silang siur. Setemat ditemukan lensa-lensa
timah dengan tebal 0,5 m dan mengandung pasir timah sekunder yang tercampur
dengan batupasir kuarsa. Batulempung mengandung sisa-sisa tumbuhan dan
lensa gambut. Konglomerat, komponen terdiri dari pecahan granit, kuarsa dan
batuan malihan. Dalam batupasir ditemukan fosil moluska terdiri dari Olivia
iricinela Mart, Cyproea sonderava Mart, Arca cornea Roeva, Topes mimosa Phil,
dan Venus squanosa Lam, sedangkan fosil foraminifera bentos antara lain
Amonia sp., Triloculina sp. Berdasarkan fosil-fosil tersebut Formasi Ranggam
relarif tidak lebih tua dari umur Miosen Akhir. Tebal formasi ini kira-kira 150 m.
2. Granit Klabat (Rjkg) :
Granit biotit, granodiorit dan granit genesan. Granit biotit, kelabu, tekstur
porfiritik dengan butiran kristal berukuran sedang-kasar, fenokris feldspar
panjangnya mencapai 4 cm dan memperlihatkan struktur foliasi. Umur dari hasil
analisis radiometri menunjukkan umur 217 + 5 atau Trias Akhir.
3. Formasi Tanjung Genting (Rt) :
Perselingan batupasir dan batu lempung. Batupasir, kelabu kecoklatan, berbutir
halus-sedang, terpilah baik, keras, tebal lapisan 2-60 cm dengan struktur sedimen
silangsiur dan laminasi bergelombang, setempat ditemukan lensa batugamping
setebal 1,5 m. Batulempung kelabu kecoklatan, berlapis baik dengan tebal 15 m,
setempat dijumpai lensa batupasir halus. Dalam lensa batugamping, Osberger
menemukan fosil Montlivaultia molukkana, Entrochous sp., dan Encrinus sp.,
yang menunjukan umur Trias. Berdasarkan fosil-fosil tersebut Formasi Tanjung
Genting diduga berumur Trias Awal dan terendapkan di lingkungan laut dangkal.
Kontak dengan granit ditemukan di utara Lembar. Formasi Tanjung Genting
tidak selaras di atas batuan malihan.
4. Kompleks Malihan Pemali (CPp) :
Filit, sekis, kuarsit. Filit, kelabu kecoklatan, struktur mendaun dan berurat kuarsa.
Sekis, kelabu kehijauan, struktur mendaun, terkekarkan, setempat rekahannya
terisi kuarsa atau oksida besi, berselingan dengan kuarsit. Kuarsit, putih kotor,
kecoklatan, keras tersusun oleh kuarsa dan feldspar, halus-sedang, perlapisannya
mencapai tebal 1 cm. Umur satuan ini tidak diketahui dengan pasti tetapi
kedudukannya ditindih tidak selaras oleh Formasi Tanjung Genting maka
umurnya diduga Perm atau Karbon (Cissar dan Baum dalam Osberger, 1965).

2.8 Kondisi Iklim dan Cuaca


Kepulauan Bangka Belitung memiliki iklim tropis yang dipengaruhi angin
musim yang mengalami bulan basah selama tujuh bulan sepanjang tahun dan bulan
kering selama lima bulan terus menerus. Keadaan alam Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung sebagian besar merupakan dataran rendah, lembah dan sebagian kecil
pegunungan dan perbukitan. Ketinggian dataran rendah rata-rata sekitar 50 meter di
atas permukaan laut dan ketinggian daerah pegunungan antara lain untuk gunung
Maras mencapai 699 meter, gunung Tajam Kaki ketinggiannya kurang lebih 500 meter
di atas permukaan laut.
Sedangkan untuk daerah perbukitan seperti bukit Menumbing ketinggiannya
mencapai kurang lebih 445 meter dan Bukit Mangkol dengan ketinggian sekitar 395
meter di atas permukaan laut. Musim penghujan dan kemarau di Kabupaten Bangka
juga dipengaruhi oleh dua musim angin, yaitu muson barat dan muson tenggara. Angin
muson barat yang basah pada bulan Nopember, Desember dan Januari banyak
memengaruhi bagian utara Pulau Bangka. Sedangkan, angin muson tenggara yang
datang dari laut Jawa memengaruhi cuaca di bagian selatan Pulau Bangka.