Anda di halaman 1dari 15

8

BAB III. PENGKAJIAN GIZI

1. Anamnesis

a. Identitas Pasien

Tabel 1. Identitas pasien

Nama Ny. T S No. RM / No. 878253 / -


Reg
Tanggal lahir/usia 07 Mei 1965/ 52TH Ruang/kelas EG3PD/2/ 311 B
10BL 13HR
Jenis kelamin Perempuan Tanggal masuk 19/03/2018
Pekerjaan Wiraswasta Tanggal kasus 20/03/2018
Pendidikan S1 Alamat Perum Jatisawi Asri
B7 Gamping Sleman
Agama Islam Diagnosis medis Dyspneu pd CKD
Susp Selulitis
Antebrachii

b. berkaitan dengan riwayat penyakit

Tabel 2. Riwayat penyakit

Keluhan utama Sesek, kencing sedikit, tangan kiri herpes dan


bengkak.
Riwayat penyakit dahulu HD 2x dalam seminggu pada hari Rabu dan Sabtu
di RSPR dr. Sidarto
CKD Januari 2014
Hipertensi Januari 2014
Riwayat penyakit sekarang Sesak, kencing sedikit, tangan kiri herpes dan
bengkak.
Riwayat penyakit keluarga Tidak ada
c. Berkaitan dengan riwayat gizi

Tabel 3. Riwayat Gizi Pasien


9

Data sosio ekonomi Penghasilan: -


Jml anggota keluarga: -
Suku: Jawa
Aktifitas fisik Jumlah jam kerja: -
Jumlah jam tidur sehari: 7 jam
Jenis olahraga: -
Frekuensi olahraga:-
Alergi makanan Tidak ada
Masalah Tidak ada
gastrointestinal
Penyakit kronis Jenis penyakit: Chronic Kidney Disease
Jenis dan lama pengobatan:
Kesehatan mulut Sulit menelan (-), stomatitis (-), gigi lengkap (-)
Pengobatan -
Perubahan berat Ada perubahan berat badan setelah HD sekitar 1- 2,5 kg
badan
Mempersiapkan Fasilitas memasak: kompor gas
makanan Fasilitas menyimpan makanan: lemari es dan lemari biasa
Riwayat pola makan Makanan pokok: Nasi 2x/hari @50 g ½ ctg, jagung rebus
1x/hari @200 g 1½ buah.
Lauk hewani: Bakso 4x/minggu @4 buah 40 g, telur
5x/minggu @50 g, ayam 4x/minggu @ 50 g 1 potong, hari
ayam 2x/minggu @50 g, lebih sering digoreng.
Lauk nabati: Tempe dan tahu 3x/minggu @100 g 2 iris.
Buah: Apel dan pir 3x/minggu @ 1 buah 100 g
Selingan: Nogosari, lemet, monte, heppy tos, roti tawar isi
coklat, roti manis 3x/minggu @50 g
Minuman: air mineral ± 1 liter, jus wortel , jus tomat
3x/minggu @200 g, susu Neprisol 1x/hari @30 g, teh
manis 1x/hari @200 g.
Hasil Skrining Gizi Skirining Awal : 0
Skrining Lanjut : 0

Asupan Zat Gizi di rumah


10

Implementas Energi Protein Lemak Kh Na K


i (kkal) (gram) (gram) (gram) (mg) (mg)
Asupan 1952,72 57,17 71,84 355,59 547,75 1926,80
Kebutuhan 1814,40 60,50 60,48 257,19 < 1000 < 3000
Tingkat 133,14% 100,33% 152,12% 165,56% 54,78% 64,23%
konsumsi (%)
Kategori Lebih Baik Lebih Lebih Baik Baik
Klasifikasi % asupan menurut WHO, tahun 2005 :
< 80 % : Kurang
80-100% : Baik
>110% : Lebih

Kesimpulan :
Pasien Ny. T S berusia 52 tahun dengan diagnosis medis Dyspneu pd
Chronic Kidney Disease Susp Selulitis Antebrachii dan memiliki sesek, kencing
sedikit, tangan kiri herpes dan bengkak. Pasien memiliki riwayat penyakit Chronic
Kidney Disease dan hipertensi sejak bulan Januari 2014 dan pasien setiap 2x
dalam seminggu pada hari Rabu dan Sabtu melakukan Hemodialisis di Rumah
Sakit Panti Rapih. Pasien menyukai makanan manis dan gurih. Pasien
menghindari makanan yang tinggi kalium seperti buah-buahan dan sayuran
tertentu. Pasien masih suka mengkonsumsi gorengan. Pasien mempunyai
kebiasaan makan 3x dalam sehari yaitu nasi dan jagung rebus saat pagi hari. Pola
minum pasien baik yaitu menyesuaikan dengan urin yang dkeluarkan.
Berdasarkan hasil perhitungan asupan riwayat / pola makan pasien dapat diketahui
asupan makan pasien untuk energy, lemak, karbohidrat lebih sedangkan untuk
protein baik, dari hasil perbandingan energy 133,14%, protein 100,33%, lemak
152,12% dan karbohidrat 165,56%. Hal ini diakrenakan pasien suka
mengkonsumsi snack yang manis seperti nogosari, lemet, monte, roti tawar isi
coklat dan roti basah . Hasil skrining gizi menunjukkan jumlah skor awal dan
lanjut yaitu 0.

2. Antropometri
Tabel 4. Data Antropometri

BB : 68 kg LILA: IMT: 27,23


kg/m2
11

TB recall : 158 cm RL:

IMT = BB / TB2
= 68 / (1,58)2
= 27,23 kg/m2 (Obesitas 1)
BBI = TB – 100
= 158 – 100
= 58 kg
BB adjesment = BBI + (0,25 x BB aktual – BB ideal)
= 58 + (0,25 x 68 – 58)
= 58 + 2,5
= 60,5 kg
. Batas ambang kriteria status gizi berdasarkan IMT menurut WHO Asia-Pasifik
tahun 2000 yaitu:
1. Status gizi kurang < 18,5
2. Status gizi normal 18,5 – 22,9
3. Status gizi lebih ≥ 23
 Dengan resiko 23,0 – 24,9
 Obes 1 25,0 – 29,9
 Obes 2 > 30

Kesimpulan:
Status gizi pasien berdasarkan IMT yaitu 27,23 kg/m2 termasuk kategori status
obesitas 1. Status gizi tersebut harus ditindak lanjuti dengan monitoring asupan
pasien. agar tidak memiliki resiko penyakit atau gangguan fungsi organ yang lain.

3. Pemeriksaan biokimia

Tabel 5. Data Pemeriksaan Biokimia

Awal masuk
Jenis Nilai normal
Satuan 19 Maret Keterangan
pemeriksaan
2018
Hematologi

Hemoglobin g% 12.0 - 15,5 7,9 Rendah

Lekosit 10^3/ul 4,0 – 11,0 19,3 Tinggi


12

Eritrosit 10^6/ul 3,80 – 5,80 2,94 Rendah

Hematokrit % 37,0 – 47,0 24,1 Rendah

Hitung Jenis Leukosit

Eosinofil % 1,0 – 6,0 0,7 Rendah

Basofil % 1,0 – 2,0 0,3 Rendah

Neutrofil % 40,0 – 80,0 87,0 Tinggi

Limfosit % 20,0 – 40,0 5,8 Rendah

Fungsi ginjal

Ureum mg/dl 10,0 – 50,0 127 Tinggi

Creatinin mg/dl 0,50 – 0,90 9,04 Tinngi

Elektrolit

Natrium mmol/l 136,0 – 145,0 134 Rendah

Kalium mmol/l 3,5 – 5,1 5,0 Normal

Kesimpulan :
Dari pemeriksaan biokimia didapatkan hasil nilai hemoglobin pasien rendah
hal ini karena secara umum ginjal mengalami kerusakan sehingga terjadi
gangguan pada semua proses fisiologi yang ada pada ginjal termasuk dalam hal
produksi hormon eritropoetin. (Adamson JW, 2005) . Terjadi penurunan produksi
eritropoetin yang mengakibatkan hambatan stimulus terhadapa sum-sum tulang
dalam memproduksi sel darah. Hal ini menjelaskan pada pasien gagal ginjal
kronis dapat terjadi anemia. Pada penderita dapat timbul keluhan adanya
kelemahan dan kulit terlihat pucat menyebabkan tubuh tidak toleran terhadap
aktifitas.( Tambunan KL, 2006)
Selain itu dari hasil pemeriksaan nilai ureum dan kreatinin pasien tinggi,
peningkatan ureum dalam darah terjadi karena gagal ginjal akut yang di derita
pasien dan akibat peningkatan katabolisme protein pada hemodialisis. Sedangkan
peningkatan kreatinin dalam darah menunjukkan adanya penurunan fungsi ginjal
dan penyusutan masa otot. Peningkatan kadar kreatinin terjadi pada gagal ginjal
akut dan kronis. Selain itu nilai natrium pasien rendah hal ini terjadi pada
13

penderita gagal ginjal. (Sutedjo, 2009) Kadar natrium rendah bisa terjadi ketika
cairan dan natrium dalam tubuh tidak seimbang, bisa karena terlalu banyak cairan
dalam tubuh atau karena kadar natrium dalam tubuh tidak cukup.
Kalium merupakan kation utama yang terdapat di dalam cairan intraseluler,
(bersama bikarbonat) berfungsi sebagai buffer utama. Lebih kurang 80% - 90%
kalium dikeluarkan dalam urin melalui ginjal. Dari hasil laboraturium pasien nilai
kalium masih batas normal. Jika kalium pasien tinggi maka dapat menyebabkan
terganggunya aktivitas listrik di dalam jantung yang ditandai dengan
melambatnya detak jantung. Gagal ginjal merupakan salah satu penyebab paling
umum hiperkalemia. Ketika fungsi ginjal terganggu, ginjal tidak mampu
membuang kelebihan kalium dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan jumlah
kalium dalam tubuh meningkat.

4. Pemeriksaan Fisik Klinis


Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis dilakukan untuk mendeteksi adanya
kelainan klinis yang berkaitan dengan gangguan gizi. Pemeriksaan fisik terkait
gizi merupakan kombinasi dari tanda-tanda vital dan antropometri yang dapat
dikumpulkan dari catatan rekamedik pasien. Pemeriksaan fisik dan klinis pasien
berdasarkan data hasil pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi, suhu dan
keadaan umum pasien yang dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini :
Tabel 6. Data pemeriksaan Fisik klinis
1) Kesadaran : Compos mentis
2) KU : Sesak nafas
3) Vital sign :

Pemeriksaan Satuan Nilai Awal Kasus Keterangan


normal 20 Maret 2108
TD mmHg 120/80 165/101 Tinggi
0
S C 36 – 37 36,4 Normal
N x/ menit 60-100 92 Normal
RR x/menit 12-20 22 Tinggi
14

Kesimpulan:
Dari hasil yang didapat pada pemeriksaan tekanan darah dan respirasi
menunjukkan hasil yang tinggi. Tekanan darah pasien termasuk dalam kategori
hipertensi grade 2. Hal ini disebabkan karena pasien memiliki riwayat hipertensi
sejak Januari 2014. Gagal ginjal kronis dan hipertensi memiliki hubungan yang
sangat erat, selain hipertensi dapat berakibat pada gagal ginjal kronis hubungan
keduanya dapat berupa hipertensi sebagai komplikasi yang sering terjadi pada
gagal ginjal kronis. (Sudoyo, A. W dkk, 2009)

5. Asupan Zat Gizi


Hasil recall 24 jam diet
Tanggal : 19 - 20 Maret 2018
Diet Rumah : Biasa Nasi (19/03/2018, Siang)
Diat Rumah Sakit : Diet HD II*RG(20/03/2018, Sore dan pagi)

Tabel 7. Asupan Zat Gizi


Implementasi Energi Protein Lemak Kh Na K
(kkal) (gram) (gram) (gram) (mg) (mg)
Asupan 1139,38 39,98 45,05 143,18 202,6 715,13
Kebutuhan 1814,4 60,5 60,48 257,19 < 1000 < 3000
Tingkat konsumsi 62,80% 66,09% 74,49% 55,67% 20,26% 23,84%
(%)
Kategori Kurang Kurang Kurang Kurang Baik Baik

Klasifikasi % asupan menurut WHO, tahun 2005 :


< 80 % : Kurang
80-100% : Baik
>110% : Lebih
15

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil recall asupan makan pasien tanggal 20 maret 2018,
diketahui bahwa asupan energi, protein, karbohidrat dan lemak pasien termasuk
dalam kategori kurang, hal ini dikarenakan selera makan pasien menurun yang
disebabkan karena pasien mengalami sesak nafas, sehingga pasien tidak selalu
menghabiskan makanannya.

6. Terapi medis
Tabel 8. Terapi medis
Jenis obat Fungsi Interaksi obat Solusi
Drip Lasix Digunakan untuk Obat lasik Dikonsumsi
mengobati edema diberikan pada bersamaan dengan
saat bersamaan makanan.
dengan makanan
untuk mengurangi
rasa ketidak
nyaman pada
gastrointestinal.
Acyclour salep Acyclovir adalah Tidak ada Tidak ada
obat anti virus
yang digunakan
untuk mengobati
infeksi herpes
simplex, herpes
zoster, dan
campak.
Ketrolac Mengatasi nyeri Mengonsumsi Minum sesuai
16

sedang hingga alkohol atau dengan dosis yang


nyeri berat untuk tembakau dengan dianjurkan
sementara. obat-obatan
tertentu juga dapat
menyebabkan
interaksi terjadi.
Kalnex Untuk perawatan Absorbsi dalam Minum sesuai
perdarahan saluran cerna tidak anjuran dan resep
menstruasi yang dipengaruhi dokter
berat, Masalah makanan.
pembekuan darah,
Pembengkakan di
berbagai bagian
tubuh, Kehilangan
berat darah,
Pembengkakan di
berbagai bagian
tubuh dan kondisi
lainnya

3.2 DIAGNOSA GIZI

NI-5.1 Peningkatan kebutuhan protein berkaitan dengan mengganti protein yang


hilang selama hemodialisis ditandai dengan diagnosis medis Chronic Kidney
Disease dan pasien melakukan hemodialisis rutin setiap 2x dalam seminggu.

NI-2.1 Kekurangan intake makanan dan minuman oral berkaitan dengan sesak
nafas yang ditandai dengan recal 1x24 jam yaitu energi 62,80%, protein 66,9%,
lemak 74,49%, dan karbohidrat 51,16% dari kebutuhan pasien.

NC-2.2 Perubahan nilai laboraturium berkaitan dengan dengan gangguan fungsi


ginjal yang ditandai dengan hemoglobin rendah, ureum tinggi, kreatinin tinggi,
dan natrium rendah.
17

3.3 INTERVENSI GIZI


1. Planning
a. Tujuan diet:
1. Mengganti protein yang hilang untuk mempertahankan keseimbangan
nitrogen dan mengganti asam amino yang hilang selama dialisis.
2. Memberikan makanan adekuat untuk pemenuhan kebutuhan pasien.

b. Syarat dan prinsip diet:


1. Energi yang diberikan cukup.
2. Protein yaitu 1 g/kg BB.
3. Lemak 30% dari kebutuhan energi total.
4. Karbohidrat 56,7% sisa dari total kebutuhan energi.
5. Natrium diberikan sesuai dengan diet rendah garam III yaitu tidak lebih
dari 1000 mg
6. Kalium sesuai dengan urin yang keluar/24 jam, yaitu :
3000 mg.
7. Cairan dibatasi, yaitu jumlah urin /24 jam ditambah 500 – 750 ml.
(1000 ml + 500 ml = 1500 ml)
c. Perhitungan kebutuhan energi dan zat gizi (Harris Benedict)
1. BEE = 655 + (9,6 x BB) + (1,7 x TB) – (4,7 x U)
= 655 + (9,6 x 60,5) + (1,7 x 158) – (4,7 x 52)
= 655 + 580,8 + 268,6 – 244,4
= 1260 kcal
2. TEE = BEE x FA x FS
= 1260 kcal x 1,2 x 1,2
= 1814,4 kcal
Protein = 1 gr/kg x BB
= 1 x 60,5 kg
= 60,5 g (13,3%)
Lemak = 30% x TEE
= 0,30 x 1814,4 kcal
=544,32 kcal
= 60,48 g
KH = 56,7% x TEE
= 0,56 x 11814,4 kcal
= 1028,76 kcal
= 257,19 g
18

d. Terapi diet yang diberikan


Terapi diet : Diet HD II (P :60g), RG III
Bentuk makanan : Biasa/Nasi
Cara pemberian : Oral

e. Rencana monitoring dan evaluasi


Tabel 11. Rencana monitoring dan evaluasi
Status gizi Yang diukur Pengukuran Evaluasi /target
(jangka waktu)
Antropometri
Biokimia Hasil lab Menyesuaikan Normal
abnormal medis
Klinis KU, Vital sign Menyesuaikan Normal
(tekanan darah medis
dan respiratory)
Dietary Asupan makan Setiap hari >80% asupan
(energi, lemak, makanan
protein dan
karbohidrat)

Rencana konsultasi gizi


Tabel 12. Rencana konsultasi gizi
Masalah gizi Tujuan Materi konseling Keterangan
Membatasi 1. Memberi 1. Penjelasan mengenai Pemberian
makanan informasi dan bahan makanan tinggi konseling kepada
sumber pengetahuan kalium dan natrium. pasien dan
2. Penjelasan mengenai
kalium dan kepada pasien keluarga pasien
konsumsi cairan yang
natrium dan keluarga ketika dirawat
disesuaikan dengan
mengenai dan ketika akan
jumlah air kemih satu
konsumsi pulang.
hari ditambah 500 ml
bahan
air (yaitu air yang
19

makanan keluar dari keringat


yang dapat dan pernafasan)
3. Penjelasan mengenai
memperparah
kebutuhan energi,
kerja ginjal
protein, lemak dan
dan
karbohidrat pasien.
hipertensi.

1. Penjelasan tentang
2. Memberi pentingnya makanan
informasi dan dan minuman gizi
Kekurangan
pengetahuan seimbang
intake
2. Memilih makanan
kepada
makanan dan
dan minuman yang
pasien dan
minuman
dianjurkan sesuai
keluarga
penyakit
mengenai
pentingnya
kecukupan
kebutuhan
gizi pasien

3.4 Implementasi
a. Kajian diet rumah sakit
- Jenis diet/bentuk makanan / cara pemberian : HD II (Protein 60 gr) * RG
kelas II/Nasi/oral
20

Tabel 13. Kajian diet rumah sakit


Energi Protein Lemak KH (gr) Natrium Kalium
(mg) (mg)
(kkal) (gr) (gr)
Standar 2109,1 62,9 61,9 325,2 131,2 1631,9
diet RS
Kebutuhan 1814.4 60.5 60.48 257.19 < 1000 < 3000
(planning)
% Standar 116,24% 103,9% 102,34% 126,44% 13,12% 54,39%
kebutuhan

Pembahasan diet RS:


Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa dari standar diet HD II * RG kelas II
rumah sakit kebutuhan lemak dan protein sudah terpenuhi, tetapi untuk
kebutuhan karbohidrat belum dapat terpenuhi. Sehingga perlu adanya
rekomendasi diet agar memenuhi kebutuhan pasien.

b. Rekomendasi diet
Tabel 14. Rekomendasi Diet
STANDAR DIET RS REKOMENDASI DIET
06.00 Teh Teh
Makan pagi Makanan pokok (150g) Makanan pokok (100g)
Lauk hewani (50g) Lauk hewani (50g)
Sayur (50g) Sayur (50g)
Minyak (10g) Minyak (10g)

10.00 Teh manis Teh manis


(Madu) (Madu)

Makan siang Makanan pokok (150g) Makanan pokok (150g)


Lauk hewani (50g) Lauk hewani (50g)
Lauk nabati (25g) Lauk nabati (25g)
Sayur (75g) Sayur (75g)
21

Minyak (10g) Minyak (10g)


Buah (100g) Buah (100g)
16.00 Snack Snack
Makan sore Makanan pokok (150g) Makanan pokok (150g)
Lauk hewani (50g) Lauk hewani (50g)
Lauk nabati (25g) Lauk nabati (25g)
Sayur (75g) Sayur (75g)
Minyak (10g) Minyak (10g)
20.00 Neprisol D/Susu bubuk Neprisol D/Susu bubuk
30 g 30 g
Nilai gizi total E = 2109,1 kkal E = 2018,9 kkal
P = 62,9 gr P = 61,2 gr
L =61,9 gr L = 61,7 gr
KH = 325,2 gr KH = 305,3 gr
Na = 131,2 mg Na = 131,2 mg
K = 1631,9 mg K = 1611,6
Kebutuhan E = 1814,4 kkal E = 1814,4 kkal
P = 60,5 gr P = 60,5 gr
L = 60,48 gr L = 60,48 gr
KH = 257,19 gr KH = 257,19 gr
Na = ≤ 1000 Na = ≤ 1000
K = ≤ 3000 K = ≤ 3000
% Pemenuhan E = 116,24% E = 111,27%
P = 103,9% P = 101,1%
L = 102,34% L = 102%
KH = 126,44% KH = 118,7%
Na = 13,12% Na = 13,12%
K = 54,39% K = 53,72%

Penerapan diet berdasarkan rekomendasi


Pemesanan diet : HD II (Protein 60 gr) * RG kelas II/Nasi/oral
Bentuk : Nasi
Rute : Oral
Pemberian : 3x makan utama
22