Anda di halaman 1dari 16

RESUME

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

GAGAL GINJAL KRONIS

Oleh:

Sandi Santriyanda

0101217A029

S1 KEPERAWATAN TRANSFER

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

2015
RESUME ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

GAGAL GINJAL KRONIS

A. DEFINISI

Gagal ginjal kronik (chronic renal failur, CRF) terjadi apabila kedua ginjal sudah

tidak mampu mempertahankan lingkungan, yang cocok untuk kelangsungan hidup.

Kerusakna pada keduaginjal ini ireversebel (Baradero dkk, 2009).

Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan

fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk

mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan

uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2002).

Menurut National Kidney Foundation kriteria penyakit ginjal kronik adalah

kerusakan ginjal (renal damage) yang terjadi lebih dari 3 bulan, berupa kelainan struktural

atau fungsional, dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG), dengan

tanda dan gejala Kelainan Patologis, terdapat tanda kelainan ginjal, termasuk kelainan

dalam komposisi darah atau urin, atau kelainan dalam tes pencitraan (imaging tests), dan

laju filtrasi glomerulus (LFG) kurang dari 60 ml/menit/1,73 m2 selama 3 bulan, dengan

atau tanpa kerusakan ginjal

B. ETIOLOGI

1. Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis

2. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis

maligna, stenosis arteria renalis

3. Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis

nodosa,sklerosis sistemik progresif


4. Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik,asidosis

tubulus ginjal

5. Penyakit metabolik misalnya DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis

6. Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal

7. Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis

netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra,

anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.

8. Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis

C. MANIFESTASI

1. Gejala dini: letargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, BB berkurang, mudah

tersinggung, depresi.

2. Gejala lebih lanjut: Sistem Gastrointestinal:

a. Anoreksia, nausea, dan vomitus yang berhubungan dengan gangguan metabolisme

protein di dalam usus, terbentuknya zat toksik akibat metabolisme bakteri usus

seperti amonia dan metil guanidin, serta sembabnya mukosa usus

b. Foetor uremik disebabkan oleh ureum yang berlebih pada air liur diubah oleh

bakteri di mulut menjadi amonia sehingga nafas bau amonia.

c. Cegukan

d. Gastritis erosif, ulkus peptik dan kolitis uremik

3. Kulit:

a. Kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuningan akibat penimbunan urokrom

b. Gatal-gatal dengan ekskoriasi akibat toksin uremik dan pengendapan kalsium di

pori-pori kulit

c. Ekimosis akibat gangguan hematologik


d. Urea frost: akibat kristalisasi urea yang ada pada keringat

e. Bekas-bekas garukan karena gatal

4. Sistem Hematologik:

a. Anemia normokrom, normositer

Disebabkan :

1) Berkurangnya produksi eritropoetin, sehingga rangsangan eritropoesis pada

sumsum tulang menurun

2) Hemolisis, akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia

toksisk

3) Defisensi besi, asam folat, akibat nafsu makan yang berkurang

4) Perdarahan pada saluran pencernaan dan kulit

b. Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia

c. Gangguan fungsi leukosit

1) Fagositosis dan kemotaksis berkurang, hingga memudahkan timbulnya infeksi

2) Fungsi limfosit menurun menimbulkan imunitas yang menurun

5. Sistem saraf dan otot

a. Restless leg syndrome

Penderita merasa pegal di tungkai bawah dan selalu menggerakan kakinya

b. Burning feet syndrome

Rasa kesemutan dan seperti terbakar, terutama di telapak kaki

c. Ensefalopati metabolik

1) Lemah, tidak bisa tidur, gangguan konsentrasi

2) Tremor, kejang-kejang

6. Sistem Kardiovaskular
a. Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam atau peningkatan aktivitas sistem

renin-angiotensin-aldosteron

b. Gangguan irama jantung akibat aterosklerosis dini, gangguan elektrolit dan

kalsium metastatik

c. Edema akibat penimbunan cairan

d. Nyeri dada dan sesak nafas akibat perikarditis, efusi perikardial, penyakit jantung

koroner akibat aterosklerosis yang timbul dini, dan gagal jantung akibat

penimbunana cairan dan hipertensi

7. Sistem Endokrin

a. Gangguan seksual: libido, fertilitas dan ereksi menurun pada laki-laki akibat

produksi testosteron dan spermatogenesis yang menurun, juga dihubungkan

dengan metabolik tertentu. Pada wanita timbul gangguan menstruasi, gangguan

ovulasi sampai amenorea.

b. Gangguan toleransi glukosa

c. Gangguan metabolisme lemak

d. Gangguan metabolisme vitamin D

8. Gangguan sistem lain

a. Tulang: osteodistrofi renal

b. Asam basa: asidosis metabolik akibat penimbunana asam organik sebagai hasil

metabolisme

c. Elektrolit: hipokalsemia, hiperfosfatemia, hiperkalemia

D. KLASIFIKASI
Secara laboratorik gagal ginjal dinilai dari tes klirens kreatinin (TKK). Nilai tes

klirens kreatinin dianggap mendekati laju filtrasi glomerulus (LFG). Sesuai dengan nilai

TKK, GGK dibagi sebagai berikut:

1. Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang

masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2

2. Stadium 2 : kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-89

mL/menit/1,73 m2

3. Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2

4. Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15- 29mL/menit/1,73m2

5. Stadium 5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal

terminal.

Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test )

dapat digunakan dengan rumus :

Clearance creatinin ( ml/ menit ) = ( 140-umur ) x berat badan ( kg )

72 x creatinin serum

Pada kasus = (140-45)x56 = 5320/223.2 = 23,83 ml/menit (Stadium 4)

72x3,1

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Radiologi: menilai keadaan ginjal dan derajat komplikasi GGK

b. Foto polos abdomen: menilai bentuk dan besar ginjal, apakah ada batu atau obstruksi

lain. Foto polos yang disertai tomogram memberikan keterangan yang lebih baik.

c. Pielogravi Intravena (PIV)


Untuk menilai sistem pelvikoalises dan ureter.

d. USG

Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal,

anatomi sistem pelviokalises dan ureter proksimal, kandung kemig serta prostat.

e. Renogram

Menilai fungsi ginjal kiri dan kanan, lokasi gangguan (vaskular, parenkim, ekskresi)

serta sisa fungsi ginjal.

f. Pemeriksaan laboratorium

Untuk menetapkan adanya GGK, menentukan ada tidaknya kegawatan, menentukan

derajat GGK, menetapkan gangguan sistem, dan membantu menetapkan etiologi.

1) TKK

2) Pemeriksaan ureum darah/nitrogen urea darah: sebagai tes penguji faal glomerulus

3) Asam urat: karena dapat meningkat sekunder karena GGK sendiri tetapi dapat

pula meningkat karena gout

4) Pemriksaan K

5) Pemeriksaan darah rutin

6) Pemeriksaan protein serum

F. PENATALAKSANAAN

1. Terapi Konservatif

Tujuan terapi ini untuk meredakan atau meperlambat gangguan fungsi ginjal

progresif:

a. Lakukan pemeriksaan lab.darah dan urin

b. Observasi balance cairan

c. Observasi adanya edema


d. Pengaturan diet protein, kalium, natrium dan cairan

e. Pencegahan dan pengobatan komplikasi

2. Terapi Pengganti Ginjal (Renal Placement Therapy)

Dialisis dilakukan apabila kadar kreatinin serum biasanya diatas 6mg/100ml

pada laki-laki atau 4 ml/100 ml pada wanita, dan GFR kurang dri 4 ml /menit.

a. Hemodialisis

Hemodialisa adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah

buangan. Hemodialisa digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau

pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialysis waktu singkat (Nursalam,

2008).

Hemodialisa ini bertujuan untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksik

dari dalam tubuh dan mengeluarkan cairan yang berlebihan.

b. Transplantasi Ginjal

Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti ginjal (anatomi dan faal).

1) Ginjal cangkok (kidney transplant) dapat mengambil alih seluruh (100%) faal

ginjal,sedangkan hemodialisis hanya mengambil alih 70 - 80% faal ginjal

alamiah.

G. KOMPLIKASI

1. Hiperkalemia: akibat penurunan ekskresi, asidosis metabolik, katabolisme dan

masukan diit berlebih

2. Perikarditis: Efusi pleura dan tamponade jantung akibat produk sampah uremik dan

dialisis yang tidak adekuat

3. Hipertensi, akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem renin-angiotensin-

aldosteron
4. Anemia: akibat penurunan eritropoetin

5. Penyakit tulang serta kalsifikasi akibat retensi fosfat, kadar kalsium serum rendah,

metabolisme vitamin D dan peningkatan kadar kalsium

6. Asidosis metabolik
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Identitas klien

2. Identitas penanggung jawab

3. Riwayat kesehatan masa lalu

a. Penyakit yang pernah diderita

b. Kebiasaan buruk: menahan BAK, minum bersoda

c. Pembedahan

4. Riwayat kesehatan sekarang

5. Keluhan utama: nyeri, pusing, mual, muntah

6. Pemeriksaan fisik

a. Umum: Status kesehatan secara umum

b. Tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu tubuh

c. Pemeriksaan fisik

Teknik pemeriksaan fisik

1) Inspeksi

a) Kulit dan membran mukosa

Catat warna, turgor, tekstur, dan pengeluaran keringat.

Kulit dan membran mukosa yang pucat, indikasi gangguan ginjal yang

menyebabkan anemia. Tekstur kulit tampak kasar atau kering. Penurunan

turgor merupakan indikasi dehidrasi. Edema, indikasi retensi dan

penumpukan cairan.

b) Mulut

Stomatitis, nafas bau amonia.

c) Abdomen
Klien posisi telentang, catat ukuran, kesimetrisan, adanya masa atau

pembengkakan, kulit mengkilap atau tegang.

d) Meatus urimary

Laki-laki: posisi duduk atau berdiri, tekan gland penis dengan memakai

sarung tangan untuk membuka meatus urinary.

Wanita: posisi dorsal rekumben, litotomi, buka labia dengan memakai

sarung tangan.

2) Palpasi

a) Ginjal

b) Ginjal kiri jarang teraba, meskipun demikian usahakan untuk mempalpasi

ginjal untuk mengetahui ukuran dan sensasi. Jangan lakukan palpasi bila

ragu karena akan merusak jaringan.

Posisi klien supinasi, palpasi dilakukan dari sebelah kanan

Letakkan tangan kiri di bawah abdomen antara tulang iga dan spina iliaka.

Tangan kanan dibagian atas. Bila mengkilap dan tegang, indikasi retensi

cairan atau ascites, distensi kandung kemih, pembesaran ginjal. Bila

kemerahan, ulserasi, bengkak, atau adanya cairan indikasi infeksi. Jika

terjadi pembesaran ginjal, maka dapat mengarah ke neoplasma atau

patologis renal yang serius. Pembesaran kedua ginjal indikasi polisistik

ginjal. Tenderness/ lembut pada palpasi ginjal maka indikasi infeksi, gagal

ginjal kronik. Ketidaksimetrisan ginjal indikasi hidronefrosis.

Anjurkan pasien nafas dalam dan tangan kanan menekan sementara tangan

kiri mendorong ke atas.

Lakukan hal yang sama untuk ginjal di sisi yang lainnya.

c) Kandung kemih
Secara normal, kandung kemih tidak dapat dipalpasi, kecuali terjadi ditensi

urin. Palpasi dilakukan di daerah simphysis pubis dan umbilikus. Jika

kandung kemih penuh maka akan teraba lembut, bulat, tegas, dan sensitif.

3) Perkusi

a) Ginjal

Atur posisi klien duduk membelakangi pemeriksa

Letakkan telapak tangan tidak dominan diatas sudut kostavertebral (CVA),

lakukan perkusi di atas telapak tangan dengan menggunakan kepalan

tangan dominan.

Ulangi prosedur pada ginjal di sisi lainnya. Tenderness dan nyeri pada

perkusi merupakan indikasi glomerulonefritis atau glomerulonefrosis.

b) Kandung kemih

Secara normal, kandung kemih tidak dapat diperkusi, kecuali volume urin

di atas 150 ml. Jika terjadi distensi, maka kandung kemih dapat diperkusi

sampai setinggi umbilikus.

Sebelum melakukan perkusi kandung kemih, lakukan palpasi untuk

mengetahui fundus kandung kemih. Setelah itu lakukan perkusi di atas

region suprapubic.

4) Auskultasi

Gunakan diafragma stetoskop untuk mengauskultasi bagian atas sudut

kostovertebral dan kuadran atas abdomen. Jika terdengan bunyi bruit (bising)

pada aorta abdomen dan arteri renalis, maka indikasi adanya gangguan aliran

darah ke ginjal (stenosis arteri ginjal).

B. Diagnosa
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urin, diet

berlebihan dan retensi cairan dan natrium.

Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan

Kriteria hasil: tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output.

Intervensi Rasional

a. Kaji status cairan dengan menimbang a. Pengkajian merupakan dasar dan

berat badan perhari, keseimbangan data dasar berkelanjutan untuk

masukan dan haluaran, turgor kulit dan memantau perubahan dan

adanya edema, distensi vena leher, dan mengevaluasi intervensi.

tanda-tanda vital. b. Pembatasan cairan akan menentukan

b. Batasi masukan cairan berat tubuh ideal, haluaran urin, dan

c. Jelaskan pada pasien dan keluarga respon terhadap terapi.

tentang pembatasan cairan. c. Pemahaman meningkatkan

d. Bantu pasien dalam menghadapi kerjasama pasien dan keluarga dalam

ketidaknyamanan akibat pembatasan pembatasan cairan

cairan. d. Kenyamanan pasien meningkatkan

e. Tingkatkan dan dorong hygiene oral kepatuhan terhadap pembatasan diet

dengan sering. e. Hygiene oral mengurangi kekeringan

membrane mukosa mulut.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk

sampah dan prosedur dialisis.

Tujuan: Berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi.


Kriteria Hasil: Berpartisipasi dalam meningkatkan tingkat aktivitas dan latihan

Intervensi Rasional

a. Kaji faktor yang menimbulkan a. Menyediakan informasi tentang

keletihan; anemia, ketidakseimbangan indikasi tingakt keletihan.

cairan dan elektrolit, retensi produk b. Meningkatkan aktivitas ringan/

sampah, depresi. sedang dan memperbaiki harga

b. Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas diri.

perawatan diri yang dapat ditoleransi; c. Mendorong latihan dan aktivitas

bantu jika keletihan terjadi. dalam batas-batas yang dapat

c. Anjurkan aktivitas alternatif sambil ditoleransi dan istirahat yang

istirahat. adekuat.

d. Anjurkan untuk beristirahat setelah d. Istirahat yang adekuat

dialisis. dianjurkan setelah dialysis, yang

bagi banyak pasien sangat

melelahkan.

3. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis berhubungan dengan kurang

terpajan, salah interprestasi imformasi

Tujuan : Meningkatkan pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan yang

bersangkutan.

Kriteria Hasil: Menunjukkan/ melakukan pola hidup yang benar

Intervensi Rasional

a. Kaji ulang pengetahuan klien tentang a. Memberikan dasar pengetahuan

proses penyakit/ prognosis. dimana pasien dapat membuat

b. Kaji ulang pembatasan diet, fosfat, dan pilihan berdasarkan imformasi.


Mg. b. Pembatasan fosfat meransang

c. Kaji ulang tindakan mencegah kelenjar paratiroid untuk

perdarahan : sikat gigi halus. pergeseran kalsium dan tulang.

d. Buat program latihan rutin, c. Menurunkan resiko sehubungan

kemampuan dalam toleransi aktivitas. dengan perubahan pembekuan/

e. Identifikasi tanda dan gejala yang penurunan jumlah trombosit.

memerlukan evaluasi medik segera, d. Membantu dalam

seperti: demam, menggigil, perubahan mempertahankan tonus otot dan

urin/ sputum, edema, ulkus, kebas, kelenturan sendi.

spasme pembengkakan sendi, pe↓ e. Depresi sistem imun, anemia,

ROM, sakit kepala, penglihatan kabur, malnutrisi, dan semua

edema. meningkatkan resiko infeksi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonym. (2010). http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/12/04/jurnal-ckd-chronic-


disease-kidney/
Baradero, dkk. (2009). Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Ginjal. Jakarta: EGC
Carpenito, Lynda Juall. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta: EGC.
Chang, dkk,. (2010). Patofisiologi Aplikasi pada Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC.
Smeltzer & Bare. (2002). Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8. Jakarta:
EGC.
Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.: Balai
Penerbit FKUI
Sudoyo, dkk,. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2 Edisi 5. Jakarta:
InternaPublishing.