Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Gizi kurang khususnya pada balita masih menjadi isu kesehatan world health
organization (WHO). Secara global, pada tahun 2012 terdapat 162 juta anak di
dunia yang menderita gizi kurang. Sedangkan di negara berkembang,
prevalensi gizi kurang mencapai 23% Data WHO, pada September 2014
menyebutkan sebanyak 6,3 juta balita di dunia meninggal pada tahun 2013 dan
sebesar 45% dari kematian tersebut terkait dengan kekurangan gizi
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007–2013,
prevalensi kejadian gizi kurang di Indonesia tidak banyak mengalami
perubahan yaitu dari 13,0% menjadi 13,9%. Menurut Riskesdas 2013, Provinsi
Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk provinsi dengan persentase kejadian
gizi kurang dan gizi buruk tertinggi pertama yaitu sebesar 34,0 % dengan
prevalensi gizi kurang lebih dari 25%
data Departemen Kesehatan (2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar 27,5% (5
juta balita kurang gizi), 3,5 juta anak (19,2%) dalam tingkat gizi kurang, dan
1,5 juta anak gizi buruk(8,3%). Jumlah gizi buruk pada balita di Indonesia dari
tahun ke tahun semakin meningkat. Dari tahun 2005 jumlah kasus gizi buruk
pada balita sebanyak 8.349 orang atau 8,8% dan pada tahun 2007 balita yang
mengalami kasus gizi buruk meningkat menjadi 700.000. Sementara yang
mendapat program makanan tambahan hanya 39 ribu anak Kasus gizi buruk
tersebut tersebar di beberapa propinsi, salah salah satunya propinsi sulawesi
tenggara.Tahun 2012, kasus gizi buruk di propinsi sulawesi tenggara
terbanyak di kabupaten Buton dengan 94 kasus, diikuti Kota Kendari 85 kasus,
Muna 31 kasus, Bombana 29 kasus, Kolaka 22 kasus, Konawe 17 kasus,
Konawe Utara 17 kasus, Konawe Selatan 16 kasus, Baubau tujuh kasus,
Wakatobi enam kasus, Buton Utara dua kasus, dan Konawe Utara satu kasus.(
Dinkes Sultra,2012)

1
Secara umum prevalensi gizi buruk di Nanggroe Aceh Darussalam adalah 10,7
% dan gizi kurang 15,8%. Sebanyak delapan kabupaten masih memiliki
prevalensi gizi buruk di atas prevalensi provinsi NAD. Prevalensi nasional
untuk gizi buruk dan kurang adalah 18,4%. Bila dibandingkan dengan target
pencapaian program perbaikan gizi (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan target
MDGs untuk Indonesia sebesar 18,5%, Dari 21 kabupaten/kota hanya 5
kabupaten yang sudah mencapai target nasional, yaitu kabupaten Aceh Tengah,
Gayo Lues, Bener Meriah, Banda Aceh, dan Sabang. Bila dibandingkan
dengan target MDG 2015 maka hanya ada 4 kabupaten/kota yang sudah
mencapai target yaitu: Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Banda Aceh
dan Kota Sabang. Di Provinsi NAD masalah gizi lebih sudah perlu
diperhatikan. Secara umum, prevalensi balita gizi lebih sebesar 4,2 %. Ada 3
kabupaten/kota yang harus diwaspadai karena memiliki prevalensi gizi lebih
10%, yaitu Kabupaten Aceh Timur, Gayo Lues dan Kota Langsa.
Menurut provinsi, Kabupaten Simeulue mempunyai prevalensi kekurusan
tertinggi baik pada anak laki-laki (23,6%) sedangkan pada anak perempuan
kekurusan tertinggiterdapat di kabupaten Aceh Barat daya (20,5%). Sedangkan
prevalensi kekurusan terendah baik pada laki-laki (6,1%) dan perempuan
(2,6%) di Gayo Lues. Lima kabupaten dengan prevalensi kekurusan tertinggi
pada anak laki-laki adalah Simeulue (23,6%), Nagan Raya (20,9%), Kota
Banda Aceh (18,7%), Aceh Tenggara (18,5%), dan Pidie (18,0%). Sedangkan
untuk anak perempuan terdapat di Kabupaten Aceh Barat Daya (20,5%),
Nagan raya (17,6%), Aceh Tenggara (16,8%), Aceh Tamiang (15,6%),
Simeulu dan Aceh Timur mempunyai angka yang sama (14,7%).
(Riskerda, 2007)
Bayi dengan gizi buruk di Kabupaten Aceh Selatan tahun 2015 sebanyak 15
bayi dari 3.845 kelahiran hidup atau sebesar 0,5%, yaitu di Kecamatan
Labuhan Haji sebanyak 2 kasus, Kecamatan Pasie Raja 4 kasus, Kluet Utara 3
kasus, Kluet Timur 1 kasus, Kluet Selatan 3 kasus, dan Bakongan 1 kasus

2
Data tahun 2015 di provinsi Tapaktuan diketahui Balita yang mengalami gizi
buruk dan sudah mendapatkan perawatan adalah sebanyak 15 Balita dengan
jumlah kasus terbanyak terdapat pada Puskesmas Samadua sebanyak 6 balita.

Gizi buruk dan gizi kurang berdampak pada kesehatan balita. Status gizi
kurang akan mempengaruhi morbiditas dan mortalitas. Salah satu dampak gizi
buruk dan gizi kurang pada balita di Indonesia adalah tingginya angka
kematian balita (AKABA) sebesar 40 kematian/1000 kelahiran hidup pada
tahun 2012. Anak yang kekurangan gizi pada usia balita akan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangaan otak yang berpengaruh pada rendahnya
tingkat kecerdasan karena tumbuh kembang otak 80% terjadi pada masa dalam
kandungan sampai usia dua tahun. Diperkirakan bahwa Indonesia kehilangan
220 juta IQ poin akibat kekurangan gizi
Penelitian di Indonesia dengan menggunakan data Riskesdas 2007 yang
dilakukan oleh Trintrin (2011), memukan beberapa faktor-faktor yang
mempengaruhi gizi kurang dan buruk antara lain: pendidikan orang tua,
pekerjaan kepala keluarga, jumlah anggota rumah tangga, status ekonomi,
ISPA, ketersediaan jamban dan saluran pembuangan limbah Penelitian lainnya
menemukan bahwa balita yang mendapatkan vitamin A memiliki risiko gizi
buruk dan gizi kurang yang lebih rendahPenelitian Tarigan (2003), menemukan
bahwa anak yang menderita diare 2,1 kali lebih tinggi terkena gizi kurang,
dibandingkan dengan status gizi baik Penelitian Susanty (2012) menemukan
bahwa ibu yang tidak memberikan ASI ekslusif mempunyai risiko 2,51 kali
mempunyai balita dengan status gizi buruk Penelitian lainnya menemukan
bahwa kelengkapan imunisasi secara tidak langsung memiliki hubungan yang
signifikan dengan status gizi.

3
B. Rumusan Masalah

BAB II
TINJAUN PUSTAKA
A. Status Gizi Balita
Status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh adanya keseimbangan antara
jumlah asupan (intake) zat gizi dengan jumlah yang dibutuhkan (required) oleh
tubuh untuk berbagai fungsi biologis seperti pertumbuhan fisik, perkembangan,
aktivitas atau produktivitas, pemeliharaan kesehatan dan lain-lain. Dalam
pengukuran status gizi anak, ukuran yang umum dan cukup mudah digunakan
adalah melalui antropometri. Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/U
memberikan indikasi masalah gizi secara umum. Indikator ini tidak memberikan
indikasi tentang masalah gizi yang sifatnya kronis ataupun akut karena berat
badan berkorelasi positif dengan umur dan tinggi badan
Gambar 2.1
Status Gizi menurut BB/U

(Sumber: standar antropometri penilaian status gizi)

4
B. Gizi Kurang
Menurut Gibney, Michael J, dkk (2005), menyebutkan bahwa yang dimaksud
dengan gizi kurang adalah keadaan dimana tubuh seseorang kekurangan nutrisi-
nutrisi yang dibutuhkan dan harus ada di dalam tubuh untuk proses pertumbuhan
atau dengan kata lain zat gizi yang dibutukan tubuh hilang dengan jumlah yang
lebih besar daripada yang didapat Jika nutrisi-nutrisi tersebut tidak dapat
dipenuhi di dalam tubuh, maka menyebabkan berkurang atau terhambatnya
pertumbuhan seperti kurang zat sumber tenaga dan kurang protein (zat
pembangun) yang diperoleh dari makanan anak. Selain itu gizi kurang dapat
diartikan suatu keadaan berat badan yang kurang (underweight) dimana berat
badan seseorang lebih rendah daripada berat yang ideal/standar menurut usianya
Sedangkan menurut Ghouwa Ismail dan Shahnaaz Suffla (2013) gizi kurang
adalah penyebab dari asupan makanan yang tidak cukup, perawatan yang tidak
memadai dan adanya penyakit menular yang diderita
Selain itu, gizi kurang paling banyak terjadi pada anak-anak balita, sehingga
golongan anak disebut golongan rawan atau rentan. Keadaan gizi kurang pada
balita dalam konteks kesehatan masyarakat biasanya dinilai dengan
menggunakan kriteria antropometrik atau data yang berhubungan dengan
makronutrien yang ada didalam makanan Menurut antropometri yang digunakan
di Indonesia untuk mengukur status gizi kurang pada balita, dikatan gizi kurang
apabila memiliki berat badan menurut usia kurang dari -2 standar deviasi (< -2.0
SD). Kriteria tersebut digunakan untuk menegakkan doagnosa status gizi kurang

D.Dampak Gizi Kurang

Dampak gizi kurang yang terjadi pada anak sangat banyak, tetapi secara
langsung berdampak terhadap kesakitan dan kematian, risiko meninggal dari
anak yang bergizi kurang 13 kali lebih besar dibandingkan yang normal. WHO
memperkirakan bahwa 54% penyebab kematian bayi dan balita didasari oleh
keadaan gizi anak yang jelek. Dampak lainnya yaitu balita dapat mengalami
gangguan pertumbuhan dan perkembangaan otak, penurunan berat badan dan

5
kurangnya asupan protein, kalori dan zat gizi lainya. Selain itu mereka berisiko
untuk berbagai komplikasi jangka pendek dan panjang. Komplikasi jangka
pendek contohnya implikasi kekebalan dan pertumbuhan, sedangkan implikasi
jangka panjang implikasi kognitif dan motorik seperti penurunan nilai IQ,
keterampilan sosial menurun, kemampuan bahasa kurang, menurunnya
intelektual dan produktivitas. Kekurangan gizi pada anak di Indonesia dapat
diperkirakan dengan hilangnya 220 juta IQ poin akibat kekurangan gizi pada
anak. Selain itu, dampak lain dari gizi kurang adalah menurunkan produktivitas
yang diperkirakan antara 20% - 30%

C. Determinan Kejadian Gizi Kurang

Sosio Demografi
Faktor-faktor sosial-demografi, balita dengan gizi kurang mempunyai
definisi yang sangat luas diantaranya seperti kondisi sosial, ekonomi dan
lingkungan dimana balita tersebut dilahirkan, kehidupan sosial, pekerjaan
dan usia orang tua, termasuk kesehatan dan kesejahteraan sosial. Menurut
ada tiga tingkatan sosial demografi sebagai determinan gizi kurang yaitu,
individu, rumah tangga / masyarakat dan sosial
a. Pendidikan
Menurut Penelitian Peninah K. Masibo (2013) ditemukan bahwa pendidikan
ibu mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian gizi kurang Hal
yang sama menurut rangkuman hasil dari beberapa penelitian yang telah
dilakukan yang diperoleh dari data besar (National Demographic Health
Survey) ditemukan bahwa pendidikan ibu dan kekayaan merupakan faktor
penting terkait dengan status gizi. Hal ini serupa dengan hasil penelitian
yang h dilakukan oleh Saputra dan Murrizka (2012) prevalensi status gizi
buruk dan gizi kurang semakin rendah seiring dengan meningkatnya
pendidikan kepala rumah tangga. Karena dengan tingginya pendidikan
orang tua, maka informasi yang didapat mengenai gizi akan lebih baik.

6
Selain itu, pemberdayaan masyarakat akan lebih mudah dilaksanakan
kepada keluarga (orang tua) yang memiliki status pendidikan tinggi
(minimal SMA) karena dalam teori yang sudah ada menyatakan bahwa
pendidikan yang secara tidak langsung akan mengubah budaya buruk dan
paradigma ditatanan bawah dalam hal perawatan gizi terhadap keluarga
termasuk anak
B.Pekerjaan
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Devi (2010) menunjukkan bahwa
terdapat hubungan antara pekerjaan Ayah dengan status gizi pada Balita
dengan p value sebesar <0,05. Ayah yang bekerja sebagai
Buruh/Petani/Nelayan memiliki risiko sangat besar terhadap Balita yang
memiliki stastus gizi buruk. Pada penelitian yang dilakukan oleh Saputra
tahun 2012 menunjukan bahwa Ayah yang bekerja sebagai
Buruh/Petani/Nelayan berisiko 1,617 kali terhadap Balita dengan status gizi
buruk. Hal ini dikarenakan Ayah yang memiliki pekerjaan sebagai
Buruh/Petani/Nelayan tersebut memiliki pendapatan yang kurang
mencukupi kebutuhan gizi anak, sehingga berpengaruh pada status gizi pada
anaknya Sedangkan ibu yang bekerja mempunyai efek proterktif yaitu
berkontribusi terhadap pengurangan anak gizi kurang, karena ibu yang
bekerja memungkinkan perempuan untuk mendapatkan penghasilan sendiri
untuk memenuhi status gizi balitanya.

Jenis kelamin balita


Menurut penelitian yang dilakukan Trintin, dkk (2009), mengenai faktor
pembeda prevalensi gizi kurang dan buruk pada balita di daerah tidak
miskin, menunjukkan bahwa kelompok balita perempuan mempunyai
presentase tertinggi pada status gizi kurang dan gizi buruk yaitu sebesar
50,9% Menurut penelitian yang telah dilakukan Meylani, dkk (2012)
mengenai pengaruh malnutrisi terhadap faktor lainnya, menujukkan bahwa
status gizi kurang pada balita laki-laki lebih dominan sebesar 26,7%
dibandingkan dengan balita perempuan

7
b. Penyakit Infeksi
a. ISPA dan Diare
Terjadinya hubungan timbal balik antara kejadian infeksi penyakit dan gizi
buruk atau kurang. Anak menderita gizi kurang akan mengalami penurunan
daya tahan tubuh, sehingga anak rentan terhadap penyakit infeksi. Disisi
lain anak yang menderita sakit infeksi akan cenderung menderita gizi buruk
atau gizi kurang. Faktor risiko kejadian gizi buruk yang paling dominan
adalah penyakit penyerta pada balita. Seperti ISPA (infeksi saluran
pernafasan akut ) dan diare, penyakit infeksi termasuk ISPA dan diare dapat
memperburuk keadaan gizi melalui gangguan masukan makanan dan
kehilangan zat-zat sesensial tubuh. Dampak infeksi terhadap pertumbuhan
seperti menurunnya berat badan, hal ini disebabkan oleh hilangnya nafsu
makan penderita infeksi hingga masukan atau intake zat gizi dan energi
kurang dari kebutuhannya.
Menurut penelitian yang dilakukan Tarigan (2003), ditemukan bahwa
kemungkinan anak yang menderita diare 2,1 kali lebih tinggi terkena gizi
kurang. Sama halnya pada penyakit ISPA, kemungkinan terjadinya gizi
kurang pada anak yang menderita ISPA 1,4 kali lebih tinggi dibandingkan
anak yang tidak ISPA dan presentase anak gizi kurang dengan sumber air
minum buruk 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan status gizi baik.
Penelitian tersebut bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh
Mustafa (2013) menganai hubungan penyakit infeksi dengan status gizi
hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna
antara penyakit infeksi dengan status gizi (BB/U) balita di wilayah kerja
Puskesmas Tilote (p=0,102)
.
c. Kesehatan Lingkungan

Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau keadaan


lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap

8
terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup kesehatan
lingkungan tersebut antara lain: pembuangan kotoran manusia
(tinja)/ketersediaan jamban dan penyediaan air bersih atau sumber air
bersih.
a. Ketersediaan Jamban
Ketersediaan jamban merupakan salah satu indikator rumah tangga sehat.
Keberadaan fasilitas buang air besar telah menjadi kebutuhan penting pada
kehidupan masyarakat modern. ketersediaan dan penggunaan fasilitas
tempat buang air besar merupakan isu penting dalam menentukan kualitas
hidup penduduk. Ketersediaan jamban memang tidak berpengaruh secara
langsung dengan kejadian gizi kurang dan gizi buruk pada balita. Namun,
ketersediaan jamban berpengaruh terhadap kejadian penyakit infeksi seperti
diare yang dapat menjadi salah satu faktor penyebab timbulnya kejadian gizi
kurang dan gizi buruk pada balita. Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara status gizi
dengan ketersediaan jamban dirumah tangga

Sumber air bersih utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak
kalah pentingnya berkaitan dengan kejadian diare. Sebagian kuman
infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Mereka dapat
ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda yang
tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari-jari tangan, dan makanan
yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar.Menurut hasil
penelitian Tarigan ditemukan bahwa presentase anak gizi kurang dengan
sumber air minum buruk 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan status
gizi baik

d. Pola Asuh
Asuhan gizi adalah suatu perilaku keluarga terutama ibu dalam upaya
memberikan makanan, mengasuh, memelihara kesehatan, mencegah
penyakit, dan upaya pengobatan saat anak sakit. Pengasuhan yang salah

9
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan keterampilan keluarga atau ibu
sehingga menimbulkan perilaku yang tidak sehat ( Depkes RI, 2004).
Menurut penelitian Mustapa (2013) mengenai analisis faktor determinan
kejadian masalah gizi pada balita, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan
yang bermakna antara pola asuh dengan status gizi pada balita (P=0,023),
Pola asuh ibu dalam penelitian ini meliputi, pemberian ASI ekslusif,
pemberian vitamin A dan imunisasi dasar.
a. Pemberian ASI Ekslusif
Pola asuh Ibu terhadap balita juga dapat menurunkan prevalensi gizi buruk,
misalnya pemberian ASI ekslusif. Pada saat ini 6,7 juta balita atau 27,3%
dari seluruh balita di Indonesia menderita kurang gizi akibat pemberian ASI
dan Makanan pendamping ASI yang salah (6). Menurut penelitian Ernawati,
2009 dalam Mustapa, 2013. Anak-anak yang ketika bayi diberi ASI
esklusif lebih memiliki daya tahan tubuh yang baik dibandingkan anak-
anak yang tidak diberikan ASI esklusif (23). Penelitian tersebut
menghasilkan jawaban yang sama dengan hasil penelitian Susanty (2012)
yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola
pemberian ASI berdasarkan frekuensi menyusui (p=0,017) dan lama
menyusui sehari dengan kejadian gizi buruk dan merupakan faktor risiko
(p=0,037).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Giri, dkk (2013)
menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pemberian ASI
Eksklusif dengan status gizi balita usia 6-24 bulan (P = 0,029 (nilai P <
0,05)) (25). Riskesdas (2007) menunjukkan bahwa gizi buruk dan gizi
kurang sudah dialami oleh bayi berusia di bawah enam bulan akibat
kurangnya pemberian ASI eksklusif
b. Pemberian Imunisasi Dasar
Pemberian imunisasi dilihat berdasrkan kelengkapan dan ketepatan
pemberian imunisasi pada balita. Status imunisasi dasar dapat
mempengaruhi status gizi balita berdasarkan berat badan menurut umur
(BB/U). pada penelitian terdahulu diketahui proporsi anak balita dengan gizi

10
lebih, kurang atau buruk lebih banyak ditemukan pada anak balita dengan
status imunisasi dasar tidak lengkap dibandingkan dengan status imunisasi
dasar lengkap. Sehingga dapat disimpulkan bahwa anak balita dengan status
imunisasi dasar tidak lengkap lebih berisiko menjadi status gizi kurang dan
buruk (26). Jika balita imunisasinya tidak lengkap, maka ketepatan
imunisasinya pun tidak tepat dan akan menimbulkan Penyakit Dapat
Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) dan PD3I akan menyebabkan penurunan
status gizi yang berujung terjadinya gizi kurang atau gizi buruk (27).
Dalam penelitian yang dilakukan di Kelurahan Watonea wilayah kerja
Puskesmas Katobu, Kabupaten Muna ditemukan hasil bahwa ada hubungan
yang signifikan kelengakapan imunisasi dengan status gizi ,dengan nilai p =
0,000. Penelitian ini menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan
imunisasi lengkap sebagian besar (34,3%) jarang menderita sakit. Oleh
karena itu dengan kelengkapan imunisasi, seorang anak dapat membantu
menjaga daya tahan tubuhnya dari serangan penyakit tertentu (14). Hal
tersebut dikarenakan imunisasi memberikan zat kekebalan kepada Balita,
sehingga Balita tersebut tidak rentan terhadap penyakit. Bayi yang terkena
penyakit akan menyebabkan menurunnya nafsu makan dan asupan makanan
ke dalam tubuh Balita menjadi berkurang.

c. Pemberian Vitamin A
Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan sistem kekebalan tubuh,
sumber vitamin A dapat ditemukan di susu, hati, telur, buah-buahan yang
berwarna merah dan oranye, dan sayuran berwarna hijau.asupan harian
vutamin A seringkali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan.
Kapsul vitamin A cukup diberikan 2 kali dalam setahun dengan dosis tinggi.
(28). Kekurangan vitamin A dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh
sehingga dapat meningkatkan terjadinya morbiditas dan mortalitas dari
beberapa penyakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan
bawah. Peranan vitamin A adalah membentuk respon imun melalui
peningkatan respon imun sel T dan retinol yang berpengaruh terhadap

11
pertumbuhan dan diferensiasi limfosit B (leukosit yang berperan dalam
proses kekebalan humoral) (29). Menurut penelitian yang dilakukan Dewi
(2012) apabila presentase balita yang mendapatkan vitamin A naik sebesar
satu persen, maka presentase angka gizi buruk akan turun sebesar 0,7613
persen (11). Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan Saputra (2012)
ditemukan bahwa, balita yang mendapatkan vitamin A memiliki risiko gizi
buruk dan gizi kurang yang lebih rendah (10).

D. Kerangka Teori
Sebuah kerangka konsep dalam penelitian harus sesuai dengan kerangka
teori. Kerangka teori dalam penelitian ini berhubungan dengan penelitian
yang akan dilakukan. Kerangka teori ini disusun berdasarkan teori
determinan kejadian gizi kurang UNICEF (1990) yang telah dimodifikasi
dari beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya (30) (31) (21)
(28) (20). Berikut kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini:

12
Bagan 2.2
Kerangka Teori Determinan Kejadian Gizi Kurang

Gizi Buruk

Tidak ada
penanganan

Gizi Kurang

BB/U ≤-2 SD

Berat Badan tidak


naik setiap bulan
Gangguan
pertumbuhan

Makanan Tidak Penyakit infeksi


seimbang (diare)
13

Sosio demografi
Pola Asuh ibu yang
BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN


HIPOTESIS

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan bagian dari kerangka teori yang akan diteliti,
untuk mendeskripsikan secara jelas antara variabel dependen dengan
variabel independennya (3). Berdasarkan kerangka teori yang telah
dikemukakan sebelumnya, terdapat beberapa faktor yang berhubungan
dengan kejadian gizi kurang. Dari semua faktor pada kerangka teori, tidak
semua diambil sebagai variabel penelitian karena sangat bergantung pada
ketersediaan data Riskesdas 2013 .
faktor yang akan diteliti dalam penelitian ini terdiri dari faktor sosio
demografi (terdiri dari variabel: pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan,
tempat tinggal, jumlah anggota keluarga ), faktor penyakit infeksi (terdiri
dari variabel : penyakit diare), faktor kondisi kesehatan lingkungan (terdiri
dari variabel : saluran pembuangan limbah, ketersediaan jamban dan sumber
air bersih), faktor pola asuh ibu (terdiri dari variabel : pemantauan berat
badan balita, pemberian imunisasi dasar, pemberian ASI dan kapsul vitamin
A). Beberapa variabel tersebut digambarkan dalam kerangka konsep
berikut ini.

14
Gambar 3. 1
Kerangka Konsep

Faktor Sosio Demografi

 Pekerjaan orang tua,


 Tingkat pendidikan ibu
 Tempat tinggal
 jumlah anggota keluarga

Faktor Penyakit Infeksi

 penyakit diare

Kejadian Gizi Kurang


Faktor Kondisi Kesehatan
Lingkungan

 saluran pembuangan
limbah
 ketersediaan jamban
 sumber air bersih

Faktor Pola Asuh Ibu

 pemantauan berat badan


balita,
 pemberian imunisasi dasar
 pemberian ASI
B. dan kapsul Definisi Operasional
vitamin A Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini menyesuaikan
dengan definisi operasional yang digunakan oleh Riskesdas 2013, yang
menjadi perbedaan terletak pada hasil ukur, dimana pengkategorian hasil
ukur dalam penelitian ini disesuaikan dengan keperluan penelitian. Variabel
yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

15
1. Variabel Dependen
a. Kejadian Gizi Kurang
Gizi kurang pada balita didefinisikan sebagai berat badan yang kurang
menurut umur. Untuk mengukur status gizi kurang pada balita dengan
menggunakan standar antropometri yaitu apabila balita memiliki berat
badan menurut umur kurang dari -2 standar deviasi (<-2,0 SD). Kejadian
gizi kurang pada balita dalam kuesioner Riskesdas 2013 dianalisis kembali
berdasarakan kuesioner pengukuran dan pemeriksaan (K01 dan K02) untuk
mendapatkan status gizi balita. hasil ukur yang digunakan adalah 0 apabila
gizi kurang dan 1 apabila normal atau gizi lebih.
2. Variabel Independen
a. Faktor Sosio Demografi
1) Pekerjaan orang tua
Status pekerjaan didefinisikan sebagai status pekerjaan ayah, yang
dilakukan ayah baik dirumah maupun diluar rumah dan memperoleh
penghasilan/imbalan. Hasil ukur yang digunakan adalah 0 apabila ayah
bekerja tidak tetap (nelayan, petani, buruh dan tidak bekerja) dan 1 apabila
bekerja tetap (PNS, Pegawai swasta, wiraswata).
2) Tingkat pendidikan ibu
Pendidikan didefinisikan sebagai jenjang pendidikan tertinggi yang
pernah/sedang dijalani Ibu, yang terdiri dari tidak pernah bersekolah, tidak
tamat SD/MI, tamat SD/MI, tamat SLTP/MTS, tamat SLTA/MA, tamat
D1/D2/D3, tamat PT (perguruan tinggi). Dalam penelitian ini,
pengkategorian pendidikan mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 47 Tahun 2008 mengenai Wajib Belajar. Pendidikan
rendah jika tamat < SMA dan pendidikan tinggi jika tamat = SMA
(Kemendiknas, 2008). Hasil ukur yang digunakan adalah 0 apabila ibu tidak
pernah bersekolah, tidak tamat SD/MI, tamat SD/MI, tamat SLTP/MTS dan
1 apabila ibu telah menamatkan pendidikan pada jenjang SMA, Diploma
atau Perguruan Tinggi.
3) Tempat tinggal

16
Tempat tinggal didefinisikan sebagai daerah tempat tinggal responden yang
dibagi menjadi 2 kategori, yaitu perdesaan dan perkotaan. Hasil ukur yang
digunakan dalam penelitian ini adalah 0 apabila ibu bertempat tinggal di
rural dan 1 apabila ibu bertempat tinggal di urban.
4) Jumlah anggota keluarga
Jumlah anggota keluarga didefinisikan sebagai jumlah yang ada dalam satu
rumah tangga, yang terdiri dari anak dan orang tua, tetap tidak anak yang
sudah menikah. Sesuai dengan kebijakan BKKBN yaitu 2 anak cukup,
sehingga jumlah anggota keluarga tersebut terdiri dari 4 orang. Hasil ukur
yang digunakan adalah 0 apabila mempunyai jumlah anggota keluarga lebih
dari 4 orang dan 1 apabila jumlah anggota keluarga kurang atau sama
dengan 4 ( ≤ 4).
b. Faktor penyakit infeksi
1) Penyakit Diare
Penyakit diare didefinisikan apabila balita pernah menderita buang air besar
lebih dari 3 kali dalam sehari dengan kotoran/tinja lembek atau cair. Hasil
ukur yang digunakan adalah 0 apabila balita pernah menderita diare (dalam
≤ 2 minggu terakhir atau > 2 minggu – 1 bulan) dan 1 apabila balita tidak
pernah menderita diare (dan ibu tidak tahu balitanya pernah menderita diare
atau tidak).
c. Faktor kondisi lingkungan
1) Saluran pembuangan limbah
Saluran pembungan limbah didefinisikan sebagai dimana sarana
pembuangan air limbah dari kamar mandi/tempat cuci/dapur. Hasil ukur
yang digunakan adalah 0 apabila pembuangan air limbah di penampungan
terbuka di pekarangan atau tanpa penampungan (di tanah) atau penampung
diluar pekarangan) dan 1 apbila dibuang ke penampungan tertutup
pekarangan atau langsung dibuang ke got).
2) Ketersediaan jamban
Ketersediaan jamban didefinisikan sebagai ketersediaan penggunaan
fasilitas tempat buang air besar sebagian besar anggota rumah tangga. hasil

17
ukur yang digunakan adalah 0 apabila tidak tersedia/tidak memiliki jamban
(milik bersama atau umum atau tidak ada) dan 1 apabila tersedia (milik
sendiri).
3) Sumber air bersih
Sumber air bersih didefinisikan sebagai jenis sumber air utama untuk
seluruh keperluan rumah tangga. hasil ukur yang digunaakan adala 0 apabila
sumber air dari sumur gali tak terlindung atau dari mata air tak terlindung
atau dari penampungan air hujan atau dari air sungan/irigasi/kali/danau dan
1 apabila sumber air dari air ledeng PDAM, atau dari air ledeng eceran atau
membeli atau dari sumur bor/pompa atau dari sumur gali terlindungi atau
dari mata air terlindungi).
d. Faktor pola asuh ibu
1) Pemantauan Berat Badan Balita
Pemantaun berat badan balita didefinisikan sebagai ibu menimbang
balitanya ke pelayanan kesehatan dalam 6 bulan terakhir. Hasil ukur yang
digunakan 0 apabila balita tidak ditimbang dalam 6 bulan terakhir dan 1
apbila balita ditimbang dalam 6 bulan terakhir.
2) Pemberian Imunisasi Dasar
Pemberian imunisasi dasar pada balita didefinisikan adanya catatan
pemberian imunisasi pada balita yang tercatat dalam KMS/Buku KIA/Buku
Catatan Anak sebagai bukti balita telah diimunisasi. Hasil ukur yang
digunakan adalah 0 apabila tidak ada catatan imunisai dan 1 apabila ada
catatan imunisasi,
3) Pemberian Asi
Pemberian ASI pada balita didefinisikan, apakah balita pernah disusui atau
diberi ASI oleh ibu kandungnya. Hasil ukur yang digunakan adalah 0
apabila tidak diberikan ASI dan 1 apabila pernah diberi ASI pleh ibu
kandungnya.
4) Kapsul Vitamin A
Pemberian kapsul vitamin A didefinisikan sebagai pemberian kapsul
vitamin A kepada balita dalam 6 bulan terakhir. Hasil ukur yang digunakan

18
adalah 0 apabila balita tidak pernah diberikan kapsul vitamin A atau ibu
tidak tahu apakah anaknya pernah dibeikan kapsul vitamin A atau tidak dan
1 apabila balita pernah mendapatkan kapsul vitamin A atau belum waktunya
(umur ≤ 6 bulan).

C. Hipotesis
1. Apakah ada hubungan antara faktor sosio demografi (pekerjaan
orang tua, tingkat pendidikan, tempat tinggal, jumlah anggota keluarga )
dengan kejadian gizi kurang pada balita usia 12-24 bulan di peovinsi NTT?
2. Apakah ada hubungan antara faktor penyakit infeksi (penyakit
diare) dengan kejadian gizi kurang pada balita usia 12-24 bulan di peovinsi
NTT?

19
3. Apakah ada hubungan antara faktor kondisi kesehatan lingkungan
(saluran pembuangan limbah, ketersediaan jamban dan sumber air bersih)
dengan kejadian gizi kurang pada balita usia 12-24 bulan di peovinsi NTT?
4. Apakah ada hubungan antara faktor pola asuh ibu (pemantauan
berat badan balita, pemberian imunisasi dasar, pemberian ASI dan kapsul
vitamin A) dengan kejadian gizi kurang pada balita usia 12-24 bulan di
peovinsi NTT?

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross
sectional atau desain studi potong lintang. Desain cross sectional dipakai
untuk menguraikan distribusi dan frekuensi karakteristik kesehatan dalam
masyarakat dan asosiasi karakteristik itu dengan variabel lainnya, sehingga
dapat diperoleh informasi yang dapat menjadi petunjuk lanjut tentang faktor
yang mempengaruhi masalah kesehatan (32). Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui determinan kejadian gizi kurang balita usia 12-24 bulan di
provinsi NTT dengan menganalisis data sekunder dari hasil Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) 2013.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

20
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 merupakan survei berskala
nasional yang dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan
penduduk di seluruh pelosok Indonesia, yang terwakili oleh penduduk di
tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Riskesdas 2013 dilaksanakan
oleh Badan penelitian dan pengembangan kesehatan (Balitbangkes) dengan
waktu pelaksanaan pengumpulan data dari bulan Mei-Juni 2013, di 33
provinsi dan 497 Kabupaten/Kota. Penelitian ini akan dianalisis lebih lanjut
dengan fokus pada satu provinsi yaitu Provinsi NTT. Adapun penelitian
dengan menggunakan data Riskesdas 2013 ini dilaksanakan pada bulan
Januari-Februari 2015.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini mengacu pada populasi dalam Riskesdas


2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tangga biasa
tercatat dalam Riskesdas 2013 di Provinsi NTT.
2. Sampel
Kerangka sampel yang digunakan dalam Riskesdas 2013 terdiri dari dua
jenis, yaitu kerangka sampel untuk penarikan sampel tahap pertama (daftar
primary sampling unit (PSU) dalam master sampel. Kerangka sampel
pemilihan tahap pertama adalah daftar primary sampling unit (PSU) dalam
master sampel. Jumlah PSU dalam master sampel adalah 30.000 yang
dipilih secara probability proportional to size (PPS) dengan jumlah rumah
tangga hasil sensus penduduk (SP) 2010. Penarikan sampel tahap kedua
Kerangka sampel pemilihan tahap kedua adalah seluruh bangunan sensus
yang didalamnya terdapat rumah tangga biasa tidak termasuk institutional
household (panti asuhan, barak polisi/militer, penjara, dsb) hasil pencacahan
lengkap SP2010 (SP2010C1). Bangunan sensus terpilih dan rumah tangga
di dalam bangunan sensus terpilih terlebih dahulu dilakukan pemutakhiran.
Sampel dalam penelitian ini adalah rumah tangga yang mempunyai balita
usia 12-24 bulan di provinsi NTT.

21
Pengambilan sampel dari data Riskesdas 2013 dilakukan dengan cara
sebagai berikut: proses restriksi sampel dari data Riskesdas 2013 adalah
sebagai berikut:
Gambar 4.1
Proses Retriksi Sampel

. Rumah tangga yang memenuhi syarat untuk diwawancarai dalam


Riskesdas 2013 di Provinsi NTT (10.747 rumah tangga)

Jumlah Rumah tangga yang mempunyai balita dan memenuhi syarat


untuk diwawancarai dalam Riskesdas 2013 di Provinsi NTT (5.254
rumah tangga)

Rumah tangga yang memenuhi syarat untuk diwawancarai dalam


Riskesdas 2013 dan memiliki balita terakhir usia 12-24 bulan di
provinsi NTT (3.890 rumah tangga)
Jika dilakukan perhitungan besar sampel, maka perhitungan besar sampel
dapat dilakukanSetelah melalui proses
menggunakan rumus retriksi,
pengujian diperoleh jumlah
hipotesis sampel
beda dua sebanyak
proporsi
2.009 rumah tangga
dua arah, yaitu sebagai berikut:
(𝑍 )2
1−𝑎⁄2√2𝑃(1−𝑃)+𝑍1−𝛽 √𝑃1 (1−𝑃1 )+𝑃2 (1−𝑃2 )
n=
(𝑃1 − 𝑃2 )2

Keterangan:
n1 = Jumlah sampel minimal
Zα = Nilai Z pada derajat kemaknaan α
Digunakan nilai Z pada derajat kemaknaan α
Zβ = Nilai Z pada kekuatan uji 1- β
Digunakan nilai Z pada kekuatan uji 1- β
P = proporsi total = (P1+P2)/2
P1 = proporsi kejadian gizi kurang pada kelompok 1 yang bersumber
dari kepustakaan/penelitian sebelumnya.

22
P2 = Proporsi kejadian gizi kurang pada kelompok ke 2 yang
bersumber dari kepustakaan/penelitian sebelumnya.
Untuk perhitungan besar sampel pada data survey maka harus dikalikan
dengan efek desain (design effect/deff). Efek desain merupakan
perbandingan (rasio) antara varians yang diperoleh pada pengambilan
sampel secara kompleks dengan varians yang diperoleh jika pengambilan
sampel dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling). Ini
dikarenakan variasi data yang didapat dari desain kompleks seperti dalam
Riskesdas 2013 lebih besar dibandingkan variasi data dari desain sampel
acak sederhana. Nilai deff untuk sampel agar diperoleh presisi yang sama
dengan pengambilan sampel acak sederhana, perlu diambil sampel dua kali
lebih banyak (33).
Maka rumus perhitungan besar sampel menjadi

(𝑍 )2
1−𝑎⁄2√2𝑃(1−𝑃)+𝑍1−𝛽 √𝑃1 (1−𝑃1 )+𝑃2 (1−𝑃2 )
n= x Deff
(𝑃1 −𝑃2 )2

Tabel 4.1

Jumlah sampel Penelitian

N Variabel Independen Peneliti P P Z Z N


o 1 2 α β

1 Faktor Sosio Demografi


.
a. pekerjaan Ingan 0 0 1, 0 1
orang tua Ukur , , 9 , 3
Tarigan, 6 3 6 8 0

23
2003 3 5 4
b. tingkat Ingan 0 0 1, 0 1
pendidikan Ibu Ukur , , 9 , 3

Tarigan, 6 3 6 8 6
6 6
2003 4
c. tempat Peninah 0 0 1, 0 1
tinggal K. , , 9 , 5

Masibo, 7 4 6 8 6
5 6
2010 4
d. jumlah Ingan 0 0 1, 0 7
anggota keluarga Ukur , , 9 , 8

Tarigan, 9 0 6 8
2 8
2003 4
0 4
2 Faktor Penyakit Infeksi
.
a. penyakit Ingan 0 0 1, 0 1
diare Ukur , , 9 , 0
Tarigan, 0 0 6 8 9
2003 6 0 4
8 1
3 Faktor kondisi lingkungan
.
a. saluran Trintrin 0 0 1, 0 1
pembuangan limbah Tjukami, 6 , 9 , 9

Sri 6 4 6 8 0
6
Prihatini 4
dan
Hermina,
2011
b. Ketersedian Trintrin 0 0 1, 0 1

24
jamban Tjukami, , , 9 , 9
Sri 3 2 6 8 6

Prihatini 7 1 4
dan
Hermina,
2011
c. sumber air Trintrin 0 0 1, 0 8
bersih Tjukami, , , 9 , 7

Sri 4 2 6 8
9 1
Prihatini 4
dan
Hermina,
2011
4 Faktor pola asuh ibu
.
a. pemantauan Trintrin 0 0 1, 0 1
berat badan balita Tjukami, , , 9 , 9

Sri 3 0 6 8 5
7 5
Prihatini 4
dan
Hermina,
2011
b. pemberian Trintrin 0 0 1, 0 1
imunisasi dasar Tjukami, , , 9 , 5

Sri 0 0 6 8 6
5 5
Prihatini 4
5
dan
Hermina,
2011
c. pemberian Ingan 0 0 1, 0 1
, , 9

25
ASI Ukur 0 0 9 , 9
Tarigan, 7 3 6 8
2003 6 4
d. pemberian Riana 0 0 1, 0 1
kapsul vitamin A Kurnia , , 9 , 8

Dewi, I 0 0 6 8 7
2 0
Nyoman 4
3 5
Budianta
ra, 2007

D. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Riskesdas
2013. Kuesioner yang digunakan untuk mengumpulkan data terkait
determinan kejadian gizi kurang pada balita usia 12-24 bulan yang terdiri
dari Kuesioner Rumah Tangga dan dan kuesioner individu yang terdiri dari
pengenalan tempat, keterangan rumah tangga, keterangan anggota rumah
tangga, kesehatan lingkungan, pemukiman dan ekonomi, penyakit menular,
kesehatan anak dan imunisasi, pengukuran dan pemeriksaan. Pertanyaan-
pertanyaan yang dikumpulkan dalam kuesioner merupakan pertanyaan yang
terkait dengan variabel penelitian ini yang meliputi; variabel kejadian gizi
kurang (berat badan balita/umur balita), pekerjaan orang tua, tingkat
pendidikan, tempat tinggal, jumlah anggota keluarga, faktor penyakit infeksi
, penyakit diare, saluran pembuangan limbah, ketersediaan jamban dan
sumber air bersih, pemantauan berat badan balita, pemberian imunisasi
dasar, pemberian ASI dan kapsul vitamin A.

E. Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara
mengumpulkan data sekunder hasil Riskesdas tahun 2013. Data yang
diperoleh dan dianalisis dari Riskesdas 2013 yaitu kejadian gizi kurang
(berat badan balita/umur balita), pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan,

26
tempat tinggal, jumlah anggota keluarga, penyakit diare, saluran
pembuangan limbah, ketersediaan jamban dan sumber air bersih,
pemantauan berat badan balita, pemberian imunisasi dasar, pemberian ASI
dan kapsul vitamin A.

Tabel 4.2
Variabel dan Kode penelitian pada data Riskesdas 2013
No Variabel Kode data
Variabel Dependen
1. Kejadian Gizi kurang K01b, IV kolom 7
(BB/U ≤ -2 SD)
Variabel Independen
2. Faktor sosio demografi
a. pekerjaan IV kode kolom 10
orang tua
b. tingkat IV kode kolom 10
pendidikan

27
c. tempat tinggal I kode 5
d. jumlah II kode 2
anggota keluarga
3. Faktor Penyakit Infeksi
a. penyakit diare A03
4. Faktor kondisi lingkungan
a. saluran VIII kode 10
pembuangan limbah
b. ketersediaan IX kode 8a
jamban
c. sumber air VII kode 1a
bersih
5. Faktor pola asuh Ibu
a. pemantauan Ja24
berat badan balita
b. pemberian Ja19
imunisasi dasar
c. pemberian Jb01
ASI
d. pemberian Ja27
kapsul vitamin A

F. Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan salah satu bagian rangkaian kegiatan penelitian
setelah pengumpulan data. Data yang masih mentah (raw data) perlu diolah
sedemikian rupa sehingga menjadi informasi yang akhirnya dapat
digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Pengolahan data ini dilakukan
dengan bantuan perangkat lunak. Melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Filter, yaitu menyaring data yang tidak dibutuhkan dalam
penelitian. Terlebih dahulu peneliti mengidentifikasi pertanyaan kuesioner

28
Riskesdas 2013 yang dianggap berkaitan dengan kejadian gizi kurang sesuai
dengan referensi yang telah didapatkan dan berdasarkan penelitian terdahulu
yang pernah dilakukan.
2. Cleaning (Pembersihan data), pada tahapan ini dilakukan dengan
memeriksa data dengan cara tabulasi frekuensi dari masing-masing variabel
yang akan diteliti. Analisis tabel frekuensi dilakukan agar dapat mengecek
dan mendeteksi adanya ketidak konsistenan data, mengetahui variasi data
dan untuk mengetahui adanya data yang missing/hilang untuk menghindari
bias.
3. Recoding (Pengkodean ulang), dilakukan dengan membuat kode
baru atau pengkodean ulang pada beberapa variabel yang membutuhkan
perubahan tetentu, hal ini untuk memudahkan pada saat analisis data.

G. Analisis Data
Setelah dilakukan pengolahan data, data yang diperoleh masing-masing
dianalisis dengan menggunakan program komputer analisis data. Adapun
analisis data yang dilakukan antara lain:

1. Analisis Univariat
Analisis univariat merupakan analisis yang menggambarkan suatu data yang
akan dibuat baik sendiri maupun secara berkelompok. Tujuan dilakukan
analisis ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik masing-masing
variabel yang diteliti (34). Analisis univariat pada penelitian ini digunakan
untuk menganalisis variabel dependen (kejadian gizi kurang padabalita) dan
variabel independen (pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, tempat
tinggal, jumlah anggota keluarga, penyakit diare, saluran pembuangan
limbah, ketersediaan jamban dan sumber air bersih, pemantauan berat badan
balita, pemberian imunisasi dasar, pemberian ASI dan kapsul vitamin A),
secara deskriptif dengan menganalisis distribusi frekuensi masing-masing
variabel.

29
Tabel 4.3
Analisis Univariat (Distribusi Frekuensi)
N Variabel Kategori Uji
o Statistik
Variabel Dependen
1. Kejadian Gizi 0. Tidak Distribu
kurang (BB/U ≤ 1. Iya si
-2 SD) Frekuen
si
Variabel Independen
2. Faktor sosio demografi
a. pekerja 0. Pekerj Distribu
an orang tua aan tidak tetap si
1. Pekerj Frekuen
aan tetap si
b. tingkat 0. Renda Distribu
pendidikan h si
1. Tinggi Frekuen
si
c. tempat 0. Rural Distribu

30
tinggal 1. Urban si
Frekuen
si
d. jumlah 0. > 4 Distribu
anggota orang si
keluarga 1. ≤ 4 Frekuen
orang si
3. Faktor Penyakit Infeksi
a. penyak 0. Iya Distribu
it diare 1. Tidak si
Frekuen
si
4. Faktor kondisi lingkungan Distribu
si
Frekuen
si
a. saluran 0. Tidak Distribu
pembuangan tersedia si
limbah 1. Tersed Frekuen
ia si
b. Keters 0. Tidak Distribu
edian jamban tersedia si
1. Tersed Frekuen
ia si
c. sumber 0. Tidak Distribu
air bersih terlindungi si
1. Terlind Frekuen
ungi si
5. Faktor pola asuh Ibu
a. pemant 0. Tidak Distribu

31
auan berat 1. Iya si
badan balita Frekuen
si
b. pember 0. Tidak Distribu
ian imunisasi 1. Iya si
dasar Frekuen
si
c. pember 0. Tidak Distribu
ian ASI 1. Iya si
Frekuen
si
d. pember 0. Tidak Distribu
ian kapsul 1. Iya si
vitamin A Frekuen
si

2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang
signifikan antara dua variabel atau dapat juga digunakan untuk mengetahui
apakah ada perbedaan yang signifikan antara dua atau lebih kelompok (34).
Pada penelitian ini analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan
antara satu variabel dependen dengan satu variabel independen. Karena
semua variabel dependen dan independen pada penelitian ini berbentuk
kategorik, maka analisis bivariat yang digunakan adalah uji Chi square
dengan membuat tabel silang antara variabel independen dengan variabel
dependen. Untuk melihat adanya kemaknaan hubungan antara dua variabel
maka digunakan tingkat kepercayaan 95% CI (Confidence Interval) dan
derajat kemaknaan (a) sebesar 5% (0,05). Hubungan antara variabel
dependen dan variabel independen diketahui dengan membandingkan nilai

32
p-value dengan nilai a (derajat kemaknaan). Bila nilai p value lebih kecil
daripada nilai a, maka secara statistik variabel independen tersebut
berhubungan dengan variabel dependen (34).

Tabel 4.4
Analisis Bivariat
No. Variabel Variabel Dependen Uji Statistik
Independen
1. Faktor Sosio Demografi
e. pekerjaan Kejadian gizi kurang Chi square
orang tua pada balita
f. tingkat pendidikan Kejadian gizi kurang Chi square
pada balita
g. tempat Kejadian gizi kurang Chi square
tinggal pada balita
h. jumlah Kejadian gizi kurang Chi square
anggota keluarga pada balita
2. Faktor Penyakit Infeksi
b. penyakit Kejadian gizi kurang Chi square
diare pada balita
3. Faktor kondisi lingkungan
d. saluran Kejadian gizi kurang Chi square
pembuangan limbah pada balita
e. Ketersedia Kejadian gizi kurang Chi square

33
n jamban pada balita
f. sumber air bersih Kejadian gizi kurang Chi square
pada balita
4. Faktor pola asuh ibu
e. pemantaua Kejadian gizi kurang Chi square
n berat badan balita pada balita
f. pemberian Kejadian gizi kurang Chi square
imunisasi dasar pada balita
g. pemberian Kejadian gizi kurang Chi square
ASI pada balita
h. pemberian Kejadian gizi kurang Chi square
kapsul vitamin A pada balita

Daftar Pustaka
1. WHO. Infant and young child feeding. [Online].; 2014 [cited 2014
Oktober 9. Available from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs342/en/.

2. WHO. Children: Reducing Mortality. [Online].; 2014 [cited 2014


Oktober 9. Available from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs178/en/.

3. Kesehatan BPdP. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: BPPK,


Kementrian Kesehatan; 2013.

4. Maghoub MB. Factors Affecting Prevalence Of Malnutrition Among


Children Under Three Years Of Age In Botswana. African Journal Of
Food Agricultural Nutrition and Developmenta (AJfand). 2006; 6(1).

34
5. SDKI. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI). Jakarta:,
Badan Pusat Statistik (BPS); 2012.

6. Adisasmito W. RUU RI Tentang Pemberian Makanan Tambahan dan


Pemeriksaan Kesehatan Berkala Bagi Anak Usia 1- 12 tahun Depok:
Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia; 2008.

7. Dhatrak PNR. Prevalence and Epidemiological Determinants of


Malnutrition Among Under Fives In An Urban Slum, Nagpur. National
Journal of Community Medicine. 2013 Maret; 4(1).

8. Babatunde OFSO. Prevalence and Determinants of Malnutrition Among


Under-Five Children Of Farming Households In Kwara State, Nigeria.
Journal Of Argicultural Science. 2011 September; 3(3).

9. Trintin d. Faktor pembeda Prevalensi Gizi Kurang dan Buruk padaBalita


di Daerah Tidak Maiskin. Buletin Penelitian Kesehatan. 2011; 39(2).

10. Saputra d. Faktor Demografi Dan Risiko Gizi Buruk Dan Gizi Kurang.
Jurnal Makara, Kesehatan. Jurnal Makara Kesehatan. 2012; 16(2).

11. Dewi d. Faktor-faktor yang mempengaruhi Angka Gizi Buruk di Jawa


Timur dengan Pendektan Regresi Nonparametik Spline. Jurnal Sains dan
Seni. 2013; 1(1).

12. Tarigan IU. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Anak
Umur 6-36 Bulan Sebelum dan Saat Krisis Ekonomi di Jawa Tengah.
Buletin Penelitian Kesehatan. 2013; 31(1).

13. Susanty MKMHV&A. Hubungan Pola Pemberian ASI dan MP ASI


dengan Gizi Buruk pda Anak 6-24 Bulan di Kelurahan Pannampu
Makassar. Media Gizi Masyarakat Indonesia. 2012; 1(2).

14. Vindriana d. Hubungan Kelengkapan Imunisasi dengan Status Gizi pada


Balita Usia 1-5 tahun di Kelurahan Watonea Wilayah Kerja Puskesmas
Katobu Kabupaten Muna. STIKES Nani Hasanudin Makaassar. ISSN

35
2302-1721. 2012; 1(2).

15. RI D. Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi


Buruk 2005-2009 Jakarta: DEPKES; 2005.

16. RI K. Kepmenkes RI tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi


Anak. Jakarta:, Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA; 2010.

17. Gibney MJd. Gizi Kesehaatan Masyarakat. Edisi Bahasa Indonesia ed.
Erlita PW&, editor. Jakarta: EGC; 2005.

18. Ismail G&SS. Child Safety, Peace and Health Promotion Child
Malnutrition. Information Sheet. Lenasia. South Africa: MRC-UNISA,
Safety & Peace Promotion Research Unit; 2013.

19. Nutrition O. a child's best start. [Online]. [cited 2014 Oktober 7.


Available from: http://www.orphannutrition.org/understanding-
malnutrition/impact-of-malnutrition-on-health-and-development/.

20. Pridmore PP. Pathways to better Nutrition Series 1 London: Institute of


Education, University ofLondon; 2011.

21. Masibo PK. Trends and Determinants of Malnutrition among Children


Age 0-59 Months in Kenya (KHDS 1993, 1998, 2003 and 2008-2009).
USAID From The American People. 2013 February;(89).

22. Meylani d. pengaruh malnutrsisi dan faktor lainnya terhadap kejadian


wound dehiscience pada pembedahan abdominal anak pada periode
peroperatif. seri pediatric. 2012; 14(2).

23. Mustapa. Analisis Faktor Determinan Kejadian Masalah Gizi pada Anak
Balita Di wilayah kerja Puskesmas Tilote Kecamatan Tilango Kabupaten
Gorontalo Tahun 2013. Jurnal MKMI UNHAS. 2013.

24. DEPKES. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare Jakarta: Ditjen


PPM dan PL; 2010.

36
25. Giri d. Hubungan Pengetahuan dan Sikap ibu tentang Pemberian ASI
Serta Pemberian ASI Eksklusif dengan Status Gizi Balita Usia 6-24
Bulan (Di Kelurahan Kampung Kajanan Kecamatan Buleleng). Jurnal
Magister Kedokteran Keluarga. 2013; 11(1).

26. Lestari. Dampat Status Imunisasi Anak Balita di Indonesia Terhadap


Kejadian Penyakit. Artikel Media Litbangkes. Artikel Media Litbangkes.
2009; 19.

27. DEPKES. PedomanTeknis Pencatatan dan Pelaporan Program Imunisasi


Jakarta; 2009.

28. Haddad L. The Right Ingredients the Need to Invest in child Nutrition:
UNICEF United Kingdom; 2013.

29. Almatsier S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi Jakarta: Gramedia Pustaka Utama;
2004.

30. Mengistu Kd. Prevalence Of Malnutrition and Assoaciated Factors


Among Children Aged 6-59 Months at Hidabu Abote District, North
Shewa, Oromia Regional State. Gondar: Institute Of Public Health;
2013.

31. Nguyen Ngoc Hien d. Nutritional Status and Determinants Of


Malnutrition in Children under Three Years Of Age in Nghean, Vietnam.
Pakistan Journal of Nutrition. 2009; 8(7).

32. Bustan. Pengantar epidemioloi jakarta: rineka cipta; 2006.

33. Ariawan I. Besar dan Metode Sampel pada penelitian Kesehatan depok :
FKM UI; 1998.

34. susanto H. Analisa fata kesehatan Jakarta: FKM UI; 2007.

35. Lutviana Evi d. Prevalensi dan Determinan Kejadian Gizi Kurang pada
Balita. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2010; 5(2).

37
38