Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Motaritas Pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah besar di negara yang

berkembang. Di Negara miskin sekitar 25-50 % kematian wanita usia subur disesbabkan

hal berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan , biasanya menjadi faktor

utama mortalitas wanita muda pada puncak produktifitasnya. Tahun 1996, WHO

memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahun meninggal saat hamil bersalin.Dari data

di atas di perlukan peningkatan derajat kesehatan masyarakat perubahan prilaku dan

pradigma sakit menuju pradigma sehatdan akses pelayanan kesehatan yang terjangkau

dan merata serta kesehatan lingkungan dan peningkatan umur harapan hidup.

Untuk mencapai tingkat kesehatan yang baik mungkin bagi ibu-ibu yang baru

melahirkan(post partum), bayi dan keluarga khususnya, serta masyarakat umumnya,

asuhan masa nifas merupakan salah satu bidang pelayanan kesehatan seperti dokter, bidan

dan perawat atau ibu itu sendiri.

Asuhan masa nifas diperlukan dalam perioda ini karena merupakan masa kritis baik

bagi ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan

terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjai dalam 24 jam pertama (

buku acuan nasional, pelayanan kesehatan maternal dan neonatal 2006)

Asuhan nifas sejak dulu kala telah dilakukan dengan cara yang sederhana dan

tradisional. Namun, dengan bertmbah majunya ilmu kedokteran dan kebidanan, sudah

seseharusnya asuhan ibu nifas dilakukan dengan cara-carayang lebih maju.Hal ini

menuntut bidan dan perawat sebagai tenaga profesional maupun memberikan pelayanan

perat kebidanan kepada setiap ibu yang menghadapi masa nifas secara prfesional.

1
Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan pisiologi maupun pisikologis, yaitu :

perubahan fisik, ivolusi uterus dan pengeluaran lochea, laktasi/pengeluaran air susu ibu,

perubahan system tubuh lainnya dan perubahan psikis, karena pada masa ini ibu-ibu yang

baru melahirkan mengalami berbagai kejadian yang sangat kompleks baik fisiologis

maupun psikologis, maka bidan dan perawat berperan penting dalam membtu ibu sebagai

orang tua baru dan memberikan support kepada ibu serta keluarga untuk menghadapi

kehadiran buah hatiyang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang sehingga dapat

memulai menjalani kehidupan sebagai keluarga baru.

Meskipun persalinan dengan riwayat ketuban pecah dini ditunjang dengan kemajuan

yang pesat dalam bidang kesehatan, adanya antibiotika berspektrum luas, teknik

pertolongan persalinan yang lebih sempurna serta tenaga kesehatan yang terampil dan

terlatih, namun tidak menutup kemungkinan timbulnya komplikasi pada ibu seperti

infeksi pada masa ifas, partus lama, atonia uteri, pendarahan post partum, serta terhadap

bayi yaitu IVFD, asfeksia, prematuritas. Bila komplikasi yang terjadi pada bayi tidak

ditanggulangi secara dini dapat meningkatkan angka morbilitas dan mortalitas pada ibu

dan bayi.

Bedasarkan hal tersebut diatas, untuk menekan angka kematian pada ibuakibat

komplikasi dari persalian dengan riwayat ketuban pecah dinidiperlukan adanya

peningkatan pengetahuan dan keterampilan kususnya bagitenaga keperawatan untuk

membeikan asuhan pada ibu post partum denganriwayat ketuban pecahdini yang

komprehensif, sehingga ibu dapat kembalipada keadaan semuala sesuai waktunya tanpa

komplikasi. Bertitik tolak darihal tersebut di atas penulisan tertarik mengatakan kasus

dengan judulKetuban Pecah Dini (KPD), dengan harapan dapat bermanfaat

dalammemberikan asuhan keperawatan pada kasus.Kasus yang terjadi khususnyapada

pasien ketuban pecah dini.

2
B. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan laporan studi kasus ini dikelompokan menjadi 2 yaitu tujuan umum dan

tujuan khusus.

1. Tujuan Umum

Agar dapat gambaran secara jelas dan lengkap tentang asuhan keperawatan ketuban

pecah dini dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penulisan laporan ini dapat di uraikan sebagaiberikut :

a. Mampu melakukan pengkajian pada pasien ketuban pecah dini (KPD)

b. Mampu menyusun rencana keperawatan pada pasien katuban pecah dini (KPD)

c. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien katuban pecah dini

(KPD)

d. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien ketuban pecah dini

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Ketuban Pecah Dini adalah rupturnya membrane ketuban sebelum persalinan

berlangsung (Manuaba,2002). Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya

ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan

maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia

kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam

sebelum waktunya melahirkan.

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan

setelah ditunggu satu jam belum memulainya tandapersalinan (ilmu kebidanan, penyakit

kandungan, dan KB 2010) Ketuban merupakan hal yang penting dalam kehamilan karena

ketuban memiliki fungsi seperti:

1. Untuk proteksi janin.

2. Untuk mencegah perlengketan janin dengan amnion.

3. Agar janin dapat bergerak dengan bebas.

4. Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.

5. Mungkin untuk menambah suplai cairan janin, dengan cara ditelan atau diminum

yang kemudian dikeluarkan melalui kencing janin.

6. Meratakan tekanan intra – uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban pecah.

B. Etiologi

Meningkatnya tekanan intrauterin.Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh

adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.Selain itu ketuban pecah dini

merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya adalah sebagai berikut :

1. Inkompetensi serviks (leher rahim)

4
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher

atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka

ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang

semakin besar.

2. Peninggian tekanan intra uterin

Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat

menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini.Misalnya :

a. Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis

b. Gemelli

Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih.Pada kehamilan

gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya

ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi

rahim yang lebih besar dan kantung (selaputketuban ) relative kecil sedangkan

dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban

tipis dan mudah pecah. (Saifudin. 2002)

c. Makrosomia

Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan

denganmakrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over

distensidan menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga

menekanselaput ketuban, manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang,tipis,

dankekuatan membrane menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketubanmudah

pecah. (Winkjosastro, 2006)

d. Hidramnion

Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL.Uterus

dapat mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak.Hidramnion kronis

5
adalah peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur.

Hidramnion akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami

distensi nyata dalam waktu beberapa hari saja.

3. Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.

4. Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalopelvic

disproporsi).

5. Korioamnionitis

Adalah infeksi selaput ketuban.Biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme

vagina ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah pecahnyaselaput ketuban >

24 jam dan persalinan lama.

6. Penyakit Infeksi

Adalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme yang meyebabkan

infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkanterjadinya proses

biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan

ketuban pecah.

7. Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetic

8. Riwayat KPD sebelumya

9. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban

10. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu

C. Patofisiologi

Ada factor penyebab seperti hipermotilitas rahim, selaput ketuban yang terlallu tipis,

infeksi dan factor predisposisi, multipara, malposisi, servik, inkompeten, gemeli,

hidramnion, adanya factor-faktor tersebut akan berpengaruh terhadap kehamilan dan

persalinan. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan tersebut disebut

periode laten atau large periode (lp). Makin muda umur hehamilan makin memanjang

6
lpnya. Sedangkan lamanya persalinan lebih pendek dari biasanya yaitu pada premi 10 jam

dan pada multi 10 jam. Pengaruh ketuban pecah dini terhadap janin yaitu walaupun ibu

belum menunjukkan gejala gejala infeksi tetapi janin sudah terkena infeksi, karena infeksi

intra uterin lebih dulu terjadi ( amnionitis). Sebelum gejala dirasakan pengaruh terhadap

ibu yaitu karenajalan yang telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi apalagi terlalu sering

dipriksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai peritonitis dan sptikemia, ibu merasa lelah

karena berbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama maka terjadi peningkatan

suhu tubuh lebih dari 37,50 C, nadi cepat dan nampaklah gejala gejala infeksi yang akan

meningkatkan angka kematian ibu.

D. Tanda dan Gejala

Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.

Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, Cairan ini tidak akan

berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk

atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau

“menyumbat” kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri

perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

E. Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini

1. Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangya jaringan ikat dan vaskularisasi

bila terjadi pembukaan servik maka selaput ketuban sangat melemah dan mudah

pecah dengan mengeluarkan air ketuban.

2. Kolagen terdapat pada lapisan kompakta. Amnion, fibroblast, jaringan rektikuler,

korion, dan trofotblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh

system aktifitas dan inhibisi interleukin – 1(IL-I) dan prostaglandin. Jika ada infeksi

dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-I dan prostaglandin, menghasilkan

7
kolagenese jaringan sehingga terjadi depolimrisasi kolagen pada selaput korin/amnion

menyebabkan selaput ketuban tipis.

F. Komplikasi

Komplikasi yang timbul akibat Ketuban Pecah Dini bergantung pada usia kehamilan.

Dapat terjadi Infeksi Maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena

kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden SC, atau gagalnya persalinan

normal.

1. Infeksi Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada Ketuban Pecah Dini.

Pada ibu terjadi Korioamnionitis.Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia,

omfalitis.Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi.Pada ketuban

Pecah Dini premature, infeksi lebih sering dari pada aterm. Secara umum insiden

infeksi pada KPD meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.

2. Hipoksia dan asfiksia Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang

menekan tali pusat hingga terjadi asfiksia atau hipoksia.Terdapat hubungan antara

terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin

semakin gawat

3. Syndrom deformitas janin. Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan

pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan

janin, serta hipoplasi pulmonal.

G. Pemeriksaan Diagnostik

1. Memeriksa adanya cairan yang keluar dari vagina berisi mekonium, verniks caseosa,

rambut lanugo, atau bila infeksi berbau

2. Inspekulo : lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keluar dari kanalis servik

dan apakah ada bagian yang sudah pecah

8
3. Test ferning : bila menjadi biru (basa) berarti air ketuban, bila menjadi merah (asama)

berartiair kemih ( urine ). Darah dari infeksi vagina dapat menghasilkan test positif

palsu.

4. Pemeriksaan leukosit darah >15.000/ Ul bila terjadi infeksi.

5. USG : menentukan usia kehamilan, indeks cairan amnion berkurang

H. Penatalaksanaan

1. Pasien dirawat di rumah sakit

2. Mempertahankan kehamilan sampai cukup matur khususnya maturitas parusehingga

mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang sehat.

3. Dengan pemikiran janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung

dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid sehingga kematangan paru dapat

terjadi

4. Pada umur kehamilan 24 sampai 32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin

cukup, perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan

5. Menghadapi ketuban pecah dini, diperlukan KIE terhadap ibu dan keluarga sehingga

terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan

pertimbangan atau menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan bayi.

I. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Ketuban Pecah Dini

1. Pengkajian

Adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang

sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi

dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2008)

9
a. Biodata klien

Biodata klien berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama,

Alamat, No. Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan , Suku,

Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian.

b. Keluhan utama

Keluar cairan warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit /

banyak, pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering,

inspeksikula tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air

ketuban sudahkering.

c. Riwayat menstruasi

Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi,

siklus haid, hari pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal partus

d. Riwayat Perkawinan

Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan sah

atau tidak, atau tidak direstui dengan orang tua ?

e. Riwayat Obstetris

Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium : USG , darah, urine,

keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya

mengatasi keluhan, tindakan dan pengobatan yang diperoleh

f. Riwayat penyakit dahulu

Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang

dijalani nya, dimana mendapat pertolongan, apakah penyakit tersebut diderita

sampai saat ini atau kambuh berulang – ulang

10
g. Riwayat kesehatan keluarga

Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara genetic

seperti panggul sempit, apakah keluarga ada yg menderita penyakit menular,

kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah di derita oleh keluarga.

h. Data biologis

1) Bernapas

Tanyakan kesulitan dalam bernapas terutama setelah pembedahan.

2) Makan dan Minum

Tanyakan bagaimana kebisaan makan dan minum pasien apakah telah

mengandung zat gizi.

3) Eliminasi

Tanyakan kebiasaan dan kesulitan atau masalah dalam BAB dan BAK.

4) Istirahat dan Tidur

Perlu ditanyakan bagaimana kebiasaan dan masalah apa yang dapat

menganggu istirahat dan tidur pasien.

5) Gerak dan Aktifitas

Observasi hal-hal yang dapat dilakukan oleh pasien sebelum dan setelah

aktifitas.

6) Kebersihan Diri

Observasi kebersihan diri terutama payudara dan vulva.

7) Berpakaian

Tanyakan kebiasaan mengganti pakaian .

8) Pengaturan Suhu Tubuh

Tanyakan apakah pasienselama hamil dan pasca pembedahan mengalami

peninggkatan suhu tubuh dan penurunan suhu tubuh.

11
9) Seksualitas

Tanyakan pola seksualitas dan frekuensi sebelum,saat dan setelah hamil serta

keluhan saat melakukan hubungan seksual.

i. Data Psikologis

1) Rasa nyaman

Tanyakan ketidak nyamanan yang dirasakan pasca melahirkan.

2) Rasa aman

Kaji hal-hal yang berkaitan dengan kecemasan pasien.

j. Data Sosial

1) Sosial

Tanyakan tentang interaksi atau tingkat ketergantungan pasien terhadap orang

lain.

2) Identitas Diri

Tanyakan pada pasien apakah sudah merasa sudah menjadi seorang ibu.

3) Harga Diri

Tanyakan pada pasien apakah merasa minder atau senang dengan kehadiran

anaknya.

4) Ideal Diri

Tanyakan pada pasien apakah ada cita-cita untuk merawat anaknya.

5) Gambaran Diri

Tanyakan pendapat tentang dirinya.

6) Peran Diri

Tanyakan pada pasien sadarkah pada perannya sekarang setelah memiliki

anak.

12
k. Data Spritual

Kaji kepercayaan pasien terhadap tuhan

2. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum

b. Observasi kesadaran, bangun tubuh, postur tubuh dan keadaan kulit

c. Gejala Kardinal

Observasi vital sign seperti suhu, tekanan darah, nadi dan respirasi

d. Ukuran ukuran lain

Kaji berat badan sebelum, saat hamil, saat pengkajian dan tinggi badan.

e. Keadaan fisik

1) Kepala

Observasi kulit kepala, kebersihan, adanya nyeri tekan

2) Muka

Pucat, koloasma gravidarum, adanya nyeri tekan, adanya odema

3) Mata

Observasi pergerakan bola mata, adanya nyeri tekan, konjungtiva pucat atau

tidak

4) Hidung

Observasi kesimetrisan, adanya sekret, adanya nyeri tekan, pernafasan

cupinghidung

5) Telinga

Observasi kesimetrisan, adanya nyeri tekan, kebersihan, pendengaran

6) Mulut

Observasi membran mukosa, lidah, stomatis, adanya pembesaran tonsil,

kebiruan dan karies.

13
7) Leher

Bendungan vena jugularis, pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe.

8) Torak

Observasi pergerakan otot dada saat bernafas, retraksi otot dada,

adanyawheezing, rhonci dan bunyi jantung

9) Payudara

Bentuk simetris atau tidak, kebersihan, keadaaan puting susu, hiperpigmentasi

aerola mamae, lecet/luka, pembengkakan buah dada, pengeluaran (kolostrum,

asi, nanah)

10) Abdomen

Kontraksi uterus, tinggi fundus uteri, keadaan luka post operasi, distensi

kandung kemih, bising usus, terdapat strie

11) Ekstremitas

Kemampuan pergerakan, cianocis dan odema

12) Genetalia dan anus

Kebersihan, pengeluaran rochea (jumlah, warna, bau, konsistensi) haemoroid

13) Data penunjang

Mencakup semua pemeriksaan yang menunjang keadaan pasien seperti data

laboratorium.

14
J. Diagnosa dan intervensi keperawatan

NANDA NOC NIC

Domain 11 Domain IV:pengetahuan tentang Domain IV: Keamanan

:Keamanan/perlindungan kesehatan dan prilaku Kelas V: Manajemen resiko

Kelas : infeksi Kelas T: Kontrol resiko dan Intervensi: Indentifikasi

Diagnosa: Resiko keamanan resiko (6610)

Infeksi(00004) Outcome: Kontrol Resiko Definisi: Analisis factor

Definisi : Rentan (1902) resiko potensial

mengalami invasi dan Definisi: tindakan individu pertimbangan resiko

multiplikasi organism untuk mengerti , mencegah , kesehatan dan

patogenetik yang dapat mengeleminasi atau mengurangi memprioritaskan strategi

menggangu kesehtan ancaman kesehatan yang telah pengurangan resiko bagi

Faktor resiko: dimodifikasi. individu maupun kelompok

1. prosedur Invasi Setelah dilakukan tindakan 1. kaji ulang riwayat

2. ketuban pecah dini keperawatan 3x24 jam dengan kesehtan masa lalu dan

kriteria hasil: dokumentasikan bukti

1. mencari informasi tentang yang menunjukan adanya

resiko kesehtan penyakit medis , diagnose

1-2-3 keperawatan serta

2. mengidentifikasi factor perawatannya

resiko 2. kaji ulang data yang

1-2-3 didapatkan dari

3. mengenali factor resiko pengkajian resiko secara

individu rutin

1-2-3 3. identifikasi resiko bilogis,

15
4. mememonitor factor resiko lingkungan dan perilaku

individu serta hubungan timbale

1-2-3 balik.

5. menggunakan fasilitas 4. Pertimbangkan

kesehatan yang seseuai pemenuhan terhadap

dengan kebutuhan perawatan dan medis

1-2-3 5. Intruksikan factor resiko

6. mengenali perubahan status rencana untuk

kesehatan mengurangi factor resiko

1-2-3 6. Diskusikan dan rencana

aktivitas pengurangan

resiko berkolaborasi

dengan individu/

kelompok

7. Inisisasi rujukan kepada

personil kesehtan dengan

tepat

8. Rencanakan monitor

resiko dalam jangka

panjang

Domain 12: Kenyaman Domain IV: pengetahuan Domain I: Fisologis Dasar

Kelas 1; kenyaman fisik tentang kesehatan dan perilaku Kelas E: peningkatan

Diagnosa: nyeri Kelas Q: Perilaku Sehat kenyaman fisik

(persalinan) (00256) Outcome: Kontrol Nyeri (1605) Intervensi: Manajemen Nyeri

Definisi: pengtalaman Definisi: tindakan pribadi untuk (1400)

16
sensorik dan emosional mengontrol nyeri. Definisi : pengurangan atau

yang bervariasi dari Setelah dilakukan tindakan induksi nyeri sampai pada

menyenangkan sampai keperawatan 3x24 jam dengan tingkatan kenyamanan yang

tidak menyenangkan, yang criteria hasil: dapat diterima oleh pasien

dikaitkan dengan 1. Menggambarkan factor 1. lakukan pengkajian nyeri

persalinan dan melahirkan penyebab komprehensif yang

Factor yang berhubungan: 1-2-3 meliputi lokasi,

1. Kontraksi uteri 2. Menggunakan tindakan karakteristik,

2. Perubahan ketegangan pengurangan nyeri tanpa onset/durasi, frekuensi ,

otot analgetik kualitas , intensitas atau

1-2-3 berat nyeri dan factor

3. Melaporkan perubahan pencetus.

terhadap gejala nyeri pada 2. Gunakan startegi

professional kesehatan komunikasi teraputik

1-2-3 untuk mengetahui

4. Mengenali apa yang terkait pengalaman nyeri dan

dengan gejala nyeri sampaikan penerimaan

5. Melaporkan nyeri terkontrol pasien terhadap nyeri

1-2-3 3. Gali bersama pasien

factor yang dapat

menurunkan atau

memperberat nyeri

4. Berikan informasi

mengenai nyeri sperti

penyebab nyeri,

17
nbeberapa lama nyeri

akan dirasakan dan

antisipasi dari

ketidaknyamanan akibat

prosedur

5. Koloborasi dengan

pasien, orng terdekat dan

tim kesehatan lainnya

untuk memilih dan

mengimplimentasikan

tindakan penurun nyeri

nonfarmakologi sesuai

keburuhan

6. Monitor kepuasan pasien

terhadap manajemen

nyeri dalam interval yang

spesifik,

Domain 9: koping/ Domain 3: kesehatan Domain 3: Perilaku

toleransi stress psikososial Kelas T : penigkatan

Kelas 2: respon koping Kelas : Kesejahteraan psikologis kenyaman psikologis

Diagnosa: Ansietas Outcame: tingkat kecemasan Intervensi : pengurangan

(00146) (1211) kecemasan (5820)

Definisi: Perasaan tidak Definisia : Keparahan dari Definisi :mengurangi

nyaman/ kekhawatiran tanda-tanda ktakutan , tekanan, ketakutan, firasat ,

yang sama di sertai respon ketegangan , atau kegelisahan maupun ketidaknyaman

18
otonom (sumber sering yang berasal dari sumber yang terkait dengan sumber

kali tidak spesifik atau tidak dapat diidentifikasi. bahaya yang tidak

tidak diketahui oleh setelah dilakukan tindakan teridentifikasi

individu), perasaan takut keperawatan selama 2x24 Jam 1. Gunakan pendektan yang

yang disebabkan antisipasi dengan kriteria hasil: tenang dan menyakinkan

terhadap bahaya, hal ini 1. Persaan gelisah 2. Jelaskan semua prosedur

menurunkan kewaspadaan 1-2-3 termasuk sensai yang

yang memperingatkan 2. Tidak bisa mengambil akan dirasakan yang

individu akan adanya keputusan mungkin akan dialami

bahaya dan memampukan 1-2-3 klien selama prosedur

individu untuk beridak 3. Rasa takut yang (dilakukan)

menghadapi ancaman. disampaikan secara lisan 3. Berikan informasi factual

Batas karekteristik: 1-2-3 terkait diagnosis,

1. Mengekspresikan 4. Rasa cemas yang perawatan dan prognosis

kekhawatiran karena disampaikan secara lisan 4. Dorong keluarga untuk

perubahan dalam 1-2-3 mendampingi klien

pristiwa hidup dengan cara yang tepat.

2. Ketakutan 5. Dorong verbalisasi

Factor yang berhubungan perasaan, persepsi dan

1. Ancaman pada status ketakutan

terkini 6. Identifikasi pada saat

terjadi perubahan

kecemasan

7. Bantu klien

mengidentifikasi situasi

19
yang memicu kecemasan

8. Pertimbangkan kemapuan

klien duluan mengambil

keputusan

9. Itruksikan klien untuk

menggunakan teknik

relaksasi

10. Kaji untuk tanda verbal

dan non verbal

20
BAB III

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Ketuban pecah dini merupakan sumber persalinan prematuritas, infeksi dalamrahim

terhadap ibu maupun janin yang cukup besar dan potensiil. Oleh karena itu,tatalaksana

ketuban pecah dini memerlukan tindakan yang rinci sehingga dapat menurunkan kejadian

persalinan prematuritas dan infeksi dalam rahim.

B. Saran

Ketuban Pecah Dini dapat menimbulkan kecemasan pada wanita dan keluarganya.

Perawat harus membantu wanita mengeksplorasi rasa takut yang menyertai perkiraan

kelahiran janin premature serta risiko tambahan korioamnionitis. Rencana

penatalaksanaan yang melibatkan kemungkinan periode tirah baring dan hospitalisasi

yang memanjang harus di diskusikan dengan wanita dan keluarganya. Pemahaman dan

kerja sama keluarga merupakan hal yang penting untuk kelanjutan kehamilan.

21