Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI

KIMIA ORGANIK

PEMISAHAN DAN PEMURNIAN ZAT PADAT

“EKSTRAKSI CAIR CAIR

Dosen Pengajar : Dr. Arief Budiono, Msch

Disusun oleh : M. Hafizh As’ad / 1731410059


Nunung Iswati / 1731410146
Reva Rizki N.R / 1731410121

D3 TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI MALANG
EKSTRAKSI CAIR-CAIR

Tujuan

1. Mampu menentukan koefisien distribusi bahan terlarut dalam dua pelarut yang berbeda
2. Mahasiswa mampu melakukan ektraksi untuk pemisahan dan pemurnian zat
padat organik

Dasar Teori

Suatu pelarut cair dapat melarutkan berbagai zat di dalamnya, sebaliknya suatu zat tertentu
dapat larut dalam berbagai pelarut. Akan tetapi banyaknya suatu zat yang dapat larut dalam
sejumlah volume pelarut tertentu berbeda dengan jika digunakan pealrut lain. Ekstraksi cair cair
adalah cara pemisahan yang berdasarkan perbedaan kemampuan berbagai pelarut dalam
melarutkan berbagai zat terlarut.

Distribusi zat terlarut dalam kedua pelarut itu secara kuantitatif dinyatakan dengan koefisien
distribusi atau koefisien partisi. Pernyataan ini menunjukan bahwa suatu zat terlarut A jika
dimasukkan ke dalam campuran dua pelarit (S atau S’) yang tidak saling melarutkan akan
terdistribusi atau terpartisi diantara kedua pelarut itu sehingga akan terbentuk kesetimbangan
konsentrasi A dalam kedua pelarut itu.

Apabila diinginkan mengektraksi zat A yang terlarut dalam V mL, pelarut S dengan
menggunakan V’ ml pelarut S’ dapat dilakukan dengan menambahkan seluruh pelarut S’ tersebut
kedalam larutan, kemudian mengocoknya dan memisahkannya. Akan tetapi pemisahan dilakukan
secara betahap dengan membagi pelarut S’ menjadi dua atau lebih, akan memberikan hasl ekstraksi
yang lebih menguntungka.

Pemisahan zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak saling mencampur antara lain
menggunakan alat corong pisah. Ada suatu jenis pemisahan lainnya dimana pada satu fase dapat
berulang-ulang dikontakkan dengan fase yang lain, misalnya ekstraksi berulang-ulang suatu
larutan dalam pelarut air dan pelarut organik, dalam hal ini digunakan suatu alat yaitu ekstraktor
sokshlet.

IV. PERALATAN DAN BAHAN PERCOBAAN

No Peralatan Percobaan Jumlah

1. Corong pisah 250 ml 1 buah

2. Buret 250 ml 1 set

3. Gelas ukur 100 ml 1 buah

4. Gelas kimia 100 ml 1 buah

5. Gelas kimia 200 ml 1 buah

No Bahan Percobaan

1. Asam benzoat, C6H5COOH

2. Larutan NaOH 0,025 N

3. Larutan NaOH 1 N

4. Larutan HCL 1 M

5. Toluena
V. CARA KERJA
A. Penetuan koefisien distribusi asam benzoat dalam air - toluena
1) Buatlah larutan 1 gram asam benzoat dalam 50 ml toluena.

2) Masukkan 50 ml larutan diatas kedalam corong pisah, tambahkan 100 ml akuades lalu kocok
beberapa saat, diamkan aar membentuk kesetimbangan.

3) Pisahkan larutan, fraksi air dibagi dua kemudian masing masing titrasilah dengan larutan
NaOH 0,025 N.

4) Hitung massa asam benzoat yang larut dalam fraksi air


Massa asam benzoat dalam fraksi air (x)
x = Volume NaOH (L) x 0,025 (mol/L) x 122,12 (g/mol)
Massa asam benzoat dalam toluena (y):
y = ( 1 – x ) gram

Massa asam benzoat (x)/50 ml H20


5) Menentukan harga Kd =
Massa asam benzoat (y)/50 ml toluen

B. Proses Ekstraksi Pelarut


1) Membuat larutan 1 gram asam benzoat dalam 50 ml toluena.

2) Memasukkan larutan asam benzoat tsb ke dalam corong pisah. Kemudian tambahkan 25 Ml,
akuades lalu kocok.

3) Memisahkan fraksi air, tampung dalam gelas kimia 100 ml.

4) Fraksi toluena yang masih tertinggal dalam corong pisah ditambah lagi dengan 25 ml akuades,
kocok dan pisahkan. Fraksi air dimasukkan ke dalam gelas kimia yang sama (langkah 3).

5) Mengulangi langkah (4) dua kali sehingga terkumpul fraksi air sebnyak 100 ml.

6) Menitrasi fraksi air dengan NaOH 0,025 N.

7) Menghitung asam benzoat yang terlarut dalam fraksi air ( Lihat prosedur A)
8) Membuat kesimpulan.

C.Isolasi Asam Benzoat dari Pelarut Toluena


1) Membuat larutan 2 gram asam benzoat dalam 50 ml toluena.

2) Memasukkan ke dalam corong pisah.

3) Menambahkan 100 ml larutan NaOH 1N, kemudian kocok.

4) Memisahkan fraksi NaOH kedalam gelas kimia 200 ml.

5) Menambahkan tetes demi tetes HCl 5 M, sehingga terbentuk endapan secara sempurna.

6) Saring endapan, keringkan dan timbang. Ukur titik lelehnya.

Massa hasil asam benzoat hasil reaksi


7) Hitung % recovery = X100 %
2

VI. Data pengamatan

1. Penentuan koefisien distribusi asam benzoat dalam air – toluena


Massa asam benzoat : 1,062 gram
Volume NaOH (titrasi 1) : 0,028 L
Volume NaOH (titrasi 2) : 0,028 L
2. Proses ekstraksi pelarut
Volume NaOH 0,025 N (titrasi 1) : 0,0189 L
Volume NaOH 0,025 N (titrasi 2) : 0,0183 L
Volume NaOH 0,025 N (titrasi 3) : 0,0183 L
Volume NaOH 0,025 N (titrasi 4) : 0,0169 L
3. Isolasi asam benzoat dalam pelarut toluen
Massa asam benzoat : 2,0017 gram
Volume NaOH 5M yang diteteskan : 15 mL
Massa kertas saring kosong : 1,0996 gram
Massa kertas saring + endapan : 3,023 gram

Analisis Data

A. Penentuan koefisien distribusi asam benzoate dalam air-toluene


 Massa benzoate dalam fraksi air (x)
𝑚𝑜𝑙 𝑔
𝑥 = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑁𝑎𝑂𝐻 (𝐿) . 0,025 ( ) . 122,12 ( )
𝐿 𝑚𝑜𝑙
= 0,028 L . 0,025 mol/L . 122,12 g/mol
= 0,0854 gr
 Massa benzoate dalam toluene (y)
𝑦 = (1 − 𝑥)𝑔𝑟
= ( 1 - 0,0854 ) gr
= 0,9146 gr
 Harga Kd
𝑥
𝑚𝑙 𝐻2𝑂
100
𝐾𝑑 = 𝑦
𝑚𝐿 𝑡𝑜𝑙𝑢𝑒𝑛𝑎
25
0,854
= 36,584

= 31, 2427

B. Proses ekstraksi pelarut


 Massa benzoate dalam fraksi air (x)
𝑚𝑜𝑙 𝑔
𝑥 = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑁𝑎𝑂𝐻 . 0,025 . 122,12
𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟 𝑚𝑜𝑙
= 0,0181 . 0,025 . 122,12

= 0,0552 𝑔𝑟

 Massa benzoate dalam toluene (y)


𝑦 = (1 − 0,0552)𝑔𝑟
= 0,9448 𝑔𝑟
 Harga Kd
𝑥
𝑚𝑙 𝐻2𝑂
25
𝐾𝑑 = 𝑦
𝑚𝐿 𝑡𝑜𝑙𝑢𝑒𝑛𝑎
25

2,208
=
37,792

= 0,058

C. Isolasi asam benzoate dari pelarut toluene

1,9234
% 𝑅𝑒𝑐𝑜𝑣𝑒𝑟𝑦 = % = 96,17
2.100
Pembahasan

Nunung Iswati

1A/ D3 Teknik Kimia

Praktikum kali ini merupakan praktikum ekstraksi car – cair. Pada praktikum kali ini bahan
yang digunakan adalah asam benzoat, toluena, larutan NaOH 0,025 N, larutan HCL 5 M, toluena,
dan indikator pp. Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan da ri suatu
padatan ataucairan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu
atau lebih komponen dari suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair
(solven)sebagai separating agen. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbedadari
komponen-komponen dalam campuran. E k s t r a k s i p e l a r u t a t a u s e r i n g d i s e b u t j u g a
e k s t r a k s i a i r m e r u p a k a n m e t o d e pemisahan atau pengambilan zat terlarut dalam larutan
(biasanya dalam air) denganmenggunakan pelarut lain (biasanya organik).

Pada praktikum ini, asam benzoat dipisahkan dari air dengan menggunakan pelarut toluena.
Pada percobaan pertama, fraksi air hasil pemisahan dilakukan titrasi dengan menggunakan larutan
NaOH 0,025 N. Sebelum dlakukan titrasi fraksi air dibagi menjadi dua kemudian ditetesi dengan
indikator pp. Indikator pp digunakan karena air akan dititrasi dengan larutab basa yaitu NaOH,
oleh karena itu digunakan indikator pp dengan rentang pH 8,0 – 10,0. Dari hasil titrasi, diperoleh
volume rata – rata NaOH 0,028 L sehingga diperoleh massa asam benzoat dalam fraksi air sebesar
0, 0854 gram, dan massa benzot dalam toluena sebesar 0,9146 gram. Dari data tersebut, diperoleh
perhitungan koefisien distribusi asam benzoat sebesar 0,0933.

Untuk percoobaan yang kedua yaitu proses ekstraksi pelarut, dengan cara yang sama
dengan percobaan pertama hanya saja pada proses pemisahan, penambahan akuades 100 mL
dibagi menjadi 4 kali. Sehingga dalam sekali pemisahan ditambahkan akuades 25 mL. Dari
percobaan tersebut, diperoleh volume rata – rata NaOH sebanyak 0,0181 L. Kemudian dengan
perhitungan yang sama dengan percobaan pertama, pada praktikum kedua ini diperoleh koefiisien
distribusi asam benzoat sebesar 0,0584.

Dengan cara yang sama, namun berbeda penambahan volume antara percobaan 1 dan 2
ternyata menyebabkan selisih yang cukup besar yaitu 0,0933 – 0,0584 = 0,0349. Hal ini mungkin
dikerenakan pada percobaan pertama, air 100 mL ditambahkan secara langsung sehingga banyak
asam benzoat yang ikut terbawa oleh fraksi air. Selain itu, sebelum dititrasi fraksi air juga
ditampung jadi satu. Sementara pada percobaan kedua, akuades sebanyak 100 mL ditambahkan 4
kali dengan satu kali penambahan 25 mL. Selain itu, fraksi air tidak ditampung terlebih dahulu
tapi langsung dititrasi. Sehingga menyebabkan perbedaan koefisien distribusi yang cukup jauh.

Percobaan ketiga yaitu isolasi asam benzoat dari pelarut lain. Pada percobaan ini asam
benzoat yang dibutuhkan yaitu 2 gram dengan pelarut toluena 25 mL. Pelarut lain yang
ditambahkan yaitu NaOH 1 N bukan akuades lagi. Setelah itu ditambahkan tetes demi tetes HCl
5 M agar terbentuk endapan secara sempurna. Setelah terjadi endapan, maka endapan di saring
dan ditimbang untuk mengetahui % recavery. Dari hasil praktikum, hasil endapan yang terbentuk
yaitu 1,927. Namun hasil endapan ini tidak akurat karena tidak dalam kedaaan benar – benar
kering. Sehingga % recavery yang di peroleh juga tidak akurat yaitu 96,35%.

Kesimpulan

1. Koefisien ditribusi asam benzoat pada percobaan pertama sebesar 0,0933. Sedangkan pada
percobaan kedua yaitu 0,0584.
2. Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan
ataucairan dengan bantuan pelarut. Pada praktikum ini, yang dipisahkan yaitu asam
benzoat dari air dengan bantuan pelarut toluena.
Saran

1. Dalam melakukan praktikum lebih hati – hati saat mengunakan bahan – bahan berbahaya
seperti toluena dan HCl pekat.
2. Melakukan praktikum secara teliti dan benar. Seperti halnya ketika harus menimbang
endapan dalam keadaan kering, maka endapan harus di oven untuk mengeringkan. Baru
setelah itu endapan bisa ditimbang.

PEMBAHASAN // Reva Rizki Nur Rohmah, 1A D3 TEKNIK KIMIA, 19.

Pemisahan dan pemurnian merupakan suatu cara yang dilakukan untuk memisahkan atau
memurnikan suatu senyawa maupun sekelompok senyawa yang mempunyai susunan kimia yang
berkaitan dari suatu bahan. Pada prinsipnya, pemisahan dilakukan untuk memisahkan 2 zat atau
lebih yang bercampur sedangkan pemurnian dilakukan untuk mendapatkan suatu zat yang murni
dari suatu zat yang tercampur.

Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan dengan
bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu
campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven) sebagai separating agen. Pemisahan terjadi
atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran. Contoh
ekstraksi : pelarutan komponen-komponen kopi dengan menggunakan air panas dari biji kopi yang
telah dibakar atau digiling.

Ekstraksi akan lebih menguntungkan jika dilaksanakan dalam jumlah tahap yang banyak.
Setiap tahap menggunakan pelarut yang sedikit. Kerugiannya adalah konsentrasi larutan ekstrak
makin lama makin rendah, dan jumlah total pelarut yang dibutuhkan menjadi besar, sehingga untuk
mendapatkan pelarut kembali biayanya menjadi mahal.

Semakin kecil partikel dari bahan ekstraksi, semakin pendek jalan yang harus ditempuh
pada perpindahan massa dengan cara difusi, sehingga semakin rendah tahanannya. Pada ekstraksi
bahan padat, tahanan semakin besar jika kapiler-kapiler bahan padat semakin halus dan jika
ekstrak semakin terbungkus di dalam sel (misalnya pada bahan-bahan alami).
Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran dipisahkan
dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan
cara destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrop atau karena
kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair
selalu terdiri dari sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan
pelarut dan pemisahan kedua fase cair itu sesempurna mungkin. Pada makalah ini akan dijelaskan
lebih lanjut mengenai ekstraksi cair-cair.

Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): solute dipisahkan dari cairan
pembawa (diluen) menggunakan solven cair. Campuran diluen dan solven ini adalah heterogen
( immiscible, tidak saling campur), jika dipisahkan terdapat 2 fase, yaitu fase diluen (rafinat) dan
fase solven (ekstrak). Perbedaan konsentrasi solute di dalam suatu fasadengan konsentrasi pada
keadaan setimbang merupakan pendorong terjadinya pelarutan (pelepasan) solute dari larutanyang
ada. Gaya dorong (driving force) yang menyebabkan terjadinya proses ekstraksi dapatditentukan
dengan mengukur jarak system dari kondisi setimbang.

Dalam percobaan ini digunakan sampel asam benzoate dan air dengan menggunakan
sedikit toluene. Pada saat asam benzoate dilarutkan dengan air, maka terbentuka 2 fase yaitu
padatan (dari asam benzoate) dan cairan (dari H2O) atau dapat dikatakan asam benzoate memiliki
cincin benzene dan karbon yang berjumlah 7, sehingga memiliki berat molekul lebih besar,
sehingga kemungkinan untuk dilarutkan oleh air sangat kecil kemungkinannya.

Larutan asam benzoate-toluene ini dititrasi dengan NaOH 0,025 N, yang bertujuan untuk
mengubah asam benzoate dalam toluene menjadi garam natrium benzoate yang dapat larut dalam
air dan tidak larut dalam toluene, sehingga larutan akan memisah menjadi 2 fase. Dimana terdiri
dari fase organic dan fase cair. Titrasi ini dilakukan sebanyak 2x pengulangan yang bertujuan agar
semua asam benzoate dalam toluene dapat bereaksi keseluruhan dengan NaOH, sehingga
dihasilkan asam benzoate yang maksimal.
Hasil yang diperoleh yaitu massa asam benzoate dalam fraksi air yaitu sebesar 0,0854 gr,
lalu massa asam benzoate dalam toluene sebesar 0,9146 gr. Sedangkan nilai Kd yang dihasilkan
sebesar 31,2427.

Pada percobaan kedua terdapat perbedaan dalam cara kerjanya, hasil yang diperoleh juga
memiliki sedikit perbedaan yaitu memiliki massa asam benzoate dalam fraksi air sebesar 0,0552
gram, massa asam benzoate dalam toluene yaitu 0,948 gram, sedangkan nilai Kd yang dihasilkan
yaitu 0,0058.
Pada percobaan yang ketiga yaitu isolasi asam benzoate dari pelarut toluene, disini
dilakukan perlakuan yang hamper sama yaitu membuat larutan asam benzoate terlebih dahulu yang
menggunakan toluene sebagai pelarutnya. Setelah larutan jadi dilakukan perlakuan yaitu
menambah larutan 100 mL NaOH 1 N yang telah dimasukkan kedalam corong terpisah, kemudian
melakukan pengocokan sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi solute pada kedua pelarut.
Setelah itu didiamkan hingga terbentuk dua lapisan.

Fasa air yang terdapat dibawah, dipisahkan dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan
ditambahkan larutan HCl 5 M tetes demi tetes sehingga terbentuk endapan sempurna. Pengasaman
ini dilakukan agar mendapatkan kembali kristal asam benzoate. Sehingga atom H akan mengikat
benzoate dan natrium klorida akan mengikat klorida, sehingga terbentuk Kristal asam benzoate
dan natrium klorida yang nantinya endapan dari asam benzoate ersebut akan disaring dan
ditimbang untuk mengetahui besar nilai persen recovery nya, yaitu 96,32%

Kesimpulan

1. Koefisien ditribusi asam benzoat pada percobaan pertama sebesar 0,0933. Sedangkan
pada percobaan kedua yaitu 0,0584.
2. Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan
ataucairan dengan bantuan pelarut. Pada praktikum ini, yang dipisahkan yaitu asam
benzoat dari air dengan bantuan pelarut toluena.

Saran

1. Dalam melakukan praktikum lebih hati – hati saat mengunakan bahan – bahan
berbahaya seperti toluena dan HCl pekat.
2. Melakukan praktikum secara teliti dan benar. Seperti halnya ketika harus menimbang
endapan dalam keadaan kering, maka endapan harus di oven untuk mengeringkan. Baru
setelah itu endapan bisa ditimbang.
Pembahasan (Mohammad Hafizh As’ad/1731410059/1A D3)

Praktikum kali ini ditujukan untuk menentukan koefisien distribusi bahan terlarut dalam
dua pelarut yang berbeda serta untuk melakukan ekstrasi untuk pemisahan dan permunian zat padat
organanik. Pada percobaan ini digunakan ekstraksi cair-cair karena metode ini dapat dilakukan
dalam skala mikro maupun makro, pemisahannya tidak memerlukan alat khusus, melainkan hanya
dengan corong pemisah. Pemisahan yang dilakukan bersifat sederhana, bersih, cepat dan mudah,
dan seringkali untuk melakukan pemisahan diperlukan beberapa menit. Dalam percobaan ini
digunakan sampel asam benzoate, dengan pelarut air dan toluene.
Pada metode ekstraksi cair-cair ekstraksi dapat dilakukan dengan kontinyu atau dengan
cara bertahap.Pada percobaan pertama dilakukan secara kontinyu dengan mengekstrak asam
benzoate didalam pelarut toluene dengan 100 ml air yang dilakukan menggunakan corong pisah.
Terbentuk 2 lapisan ketika campuran ( toluene dan asam benzoate) dicampurkan dengan air. Fraksi
air berada dibawah sedangkan fraksi toluena berada di atas, lapisan yang berada di bawah dengan
kerapatan lebih besar dapat dipisahkan ntuk melakukan analisa. hal ini disebabkan massa jenis air
lebih besar dibanding toluena. Setelah dilakukan analisa didapatkan massa asam benzoat dalam
fraksi air adalah 0.0854 gram. Massa asam benzoate dalam toluene sebesar 0.946 gram. Dan harga
dari koefisien distribusi asam benzoate didalam pelarut air dan toluene sebesar 31.2417. hal ini
membuktikan bahwa kelarutan asam benzoat lebih besar didalam pelarut toluene dibandingkan
didalam air.
Percobaan kedua dilakukan secara bertahap yaitu proses penambahan air dilakukan 4
tahap, masing-masing 25 ml. Setelah didiamkan beberapa saat akan terbentuk dua lapisan. Lapisan
yang berada dibawah dengan kerapatan lebih besar dapat dipisahkan untuk melakukan analisa
selanjutnya. Setelah dilakukan titrasi terhadap fraksi air yang ditampung didalam elenmeyer
didapatkan hasil pengamatan volume NaOH 0,025N yang ditirasikan sebesar 18.9 ml pada fraksi
air ekstrasi pertama, 18.3 ml pada fraksi air ekstrasi ke dua, 18.3 ml pada fraksi ekstrasi ke tiga
dan 16.9 ml pada fraksi ekstrasi ke empat. Hal ini disebabkan karena pada fraksi air pertama
konsentrasi asam benzoate di dalam air lebih tinggi disbanding konsentrasi asam benzoate pada
fraksi air ke dua, ketiga dan ke empat. Ketika asam benzoat dititrasi dengan NaOH akan terjadi
reaksi penggaraman sesuai dengan persamaan reaksi:

C6H5COOH + NaOH C6H5COONa + H2O

Setelah dilakukan analisis massa asam benzoate dalam fraksi air sebesar 0.052 gram,
Massa asam benzoate dalam toluene sebesar 0.9448 gram. Dan harga dari koefisien distribusi asam
benzoate didalam pelarut air dan toluene sebesar 0.0058. hal ini tidak sesuai dengan literature yang
kami miliki, karena jumlah asam benzoate yang larut dalam air yang dilakukan secara bertahap
lebih kecil disbanding dengan jumlah asam benzoate yang larut dalam air dengan cara kontinyu.
Hal ini dapat disebabkan kesalahan praktikan dalam menganalisa data hasil percobaan.
Pada percobaan ketiga adalah melakukan pemurnian asam benzoate yang semula
dilarutkan didalam toluene dan NaOH 0.1 N. Setelah dilakukan proses pencampuran dan
pemisahan antara pelarut toluene dengan NaOH. Fraksi NaOH ditetesi HCl 5 M sebanyak 15 tetes
menggunakan pipet tetes, setelah mencapai 15 tetes terbentuk awan putih didalan larutan NaOH.
Menurut literature yang kami temukan terbentuk reaksi antara natrium benzoate dengan HCl
membentuk asam benzoate yang tidak larut dalam air sesuai reaksi :

C6H5COONa + HCl C6H5COOH + NaCI

Tetapi pada percobaan kali ini kami mengalami kegagalan dikarenakan tidak terbentuk
endapan ketika ditetesi HCl. Hal ini dapat disebabkan oleh human error, langkah yang tida sesuai
prosedur atau kontaminan dari bahan lain. Massa kertas saring yang ditimbang kemungkinan besar
bukan merupakan massa dari asam benzoate melainkan massa air, karena pada saat proses
penimbangan kertas dalam kondisi basah.

KESIMPULAN
1. Koefisien ditribusi asam benzoat pada percobaan pertama sebesar 0,0933. Sedangkan pada
percobaan kedua yaitu 0,0584.
2. Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan
ataucairan dengan bantuan pelarut. Pada praktikum ini, yang dipisahkan yaitu asam
benzoat dari air dengan bantuan pelarut toluena.

SARAN

Dalam melakukan percobaan sebaiknya lebih diperhatikan komponen dan bahan-


bahan yang digunakan supaya tidak mengalami masalah saat melakukan praktikum