Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU REPRODUKSI TERNAK


ACARA IV
HISTOLOGI ORGAN REPRODUKSI BETINA

Disusun oleh:
Ananda Restu Prasetya
15/378383/PT/06874
Kelompok XI

Asisten : Khoirunnisa Gustami Wisnuntari

LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK


DEPARTEMEN PEMULIAAN DAN REPRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
ACARA IV
HISTOLOGI ORGAN REPRODUKSI BETINA

Tinjauan Pustaka

Organ reproduksi betina pada dasarnya dapat dibagi atas 3


komponen, yaitu organ reproduksi primer, organ reproduksi sekunder, dan
organ pelengkap. Organ reproduksi primer betina terdiri dari ovaria
(tunggal ovarium), yang menghasilkan ovum dan hormon-hormon
reproduksi betina. Organ reproduksi sekunder betina terdiri dari saluran
reproduksi yang terdiri atas: tuba falopii oviduk, uterus, serviks, vagina,
dan vulva (Budipitojo, 2014).
Kelenjar Hyphophysis
Salah satu faktor yang mempengaruhi reproduksi adalah hormon.
Marks et al. (2000), menyatakan bahwa hormon adalah zat yang
dhasilkan oleh suatu kelenjar endokrin, disekresikan ke dalam darah, dan
sampai ke sel sasaran di jaringan lain dalam tubuh tempat hormon
tersebut menimbulkan efek fisiologis. Kelenjar Hyphophysis memiliki dua
komponen, yaitu adenohypophysis (Hyphophysis anterior) dan
neurohypophysis (Hyphophysis posterior). Kelenjar Hyphophysis anterior
dapat menstimulasi keluarnya (release) atau mencegah (inhibit) keluarnya
hormon tertentu (Baradero et al., 2009).
Ovarium
Ovarium merupakan bagian organ kelamin betina yang utama
bentuk dan ukuran ovarium, berbeda-beda setiap spesies, umur, dan
status reproduksinya. Ovarium terdiri dari 2 bagian yaitu medulla dan
korteks. Ovarium adalah salah satu organ reproduksi betina yang
berfungsi sebagai penghasil sel telur. Ovarium pada sapi berbentuk oval
dan bervariasi dalam ukuran menurut struktur yang berada di dalamnya
(Sobari, 2012).
Oviduk
Saluran ini terdapat sepasang dan merupakan penghubung antara
ovarium dengan uterus. Oviduk terdiri dari bagian interstisialis, bagian
ismika, bagian ampularis dan infundibulum yang berfimbria. Oviduk terdiri
dari 3 bagian yaitu tunica serosa, tunica muskularis dan tunica mucosa.
Oviduk berfungsi pada saat ovulasi dimana ovum disapu ke dalam ujung
oviduk yang berfimbria. Fungsi lain dari oviduk adalah kapasitasi sperma,
fertilisasi, dan pembelahan embrio yang terjadi dibagian ampulla.
Pengangkutan sperma ke tempat fertilisasi dan pengangkutan ovum ke
uterus diatur oleh kontraksi muskuler yang dikoordinir oleh hormon ovarial,
estrogen dan progesteron (Akbar, 2010).
Uterus
Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk
seperti buah pir dengan bagian bawah yang mengecil. Berfungsi sebagai
tempat pertumbuhan embrio. Uterus mempunyai 3 macam lapisan
dinding, yaitu perimetrium yaitu lapisan yang terluar yang berfungsi
sebagai pelindung uterus, miometrium yaitu lapisan tengah uterus, dan
endometrium yang merupakan lapisan paling dalam uterus yang
berhubungan langsung dengan lumen (Sumiati, 2013).
Materi dan Metode

Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum histologi organ
reproduksi jantan adalah mikroskop cahaya, lembar kerja, optilab, laptop
dan pensil warna.
Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum histologi organ
reproduksi betina adalah preparat dan poster histologi ovarium, oviduk,
dan uterus
Metode
Metode yang dilakukan pada saat praktikum kali ini adalah pertama
mengamati preparat menggunakan mikroskop cahaya, kemudian
dibedakan masing-masing preparat histologi dan diketahui peran dari
masing-masing sel dalam rangka membantu fungsi reproduksi secara
keseluruhan. Kedua mengamati poster histologi organ reproduksi betina.
Semua hasil pengamatan digambar pada lembar kerja menggunakan
pensil warna.
Hasil dan pembahasan

Reproduksi pada hewan betina adalah suatu proses kompleks yang


melibatkan seluruh tubuh hewan. Sistem reproduksi hewan itu sendiri
terdiri dari ovarium, oviduk, uterus, vagina, vulva, dan klitoris Ternak
betina memiliki ovarium yang berfungsi untuk menghasilkan ovum dan
tempat perkembangan folikel. Perkembangan folikel sangat penting bagi
proses pembentukan ovum (Budipitojo, 2014).
Kelenjar Hyphophysis
Kelenjar hipofisis adalah kelenjar endokrin seukuran kacang
(penghasil hormon) dengan berat sekitar 0,5 g yang terletak di bagian
bawah tengkorak terjepit di antara saraf optik, pada manusia. Kelenjar
pituitari mensekresi hormon. Hormon adalah bahan kimia yang berjalan
melalui aliran darah. Kelenjar pituitari sekarang dan kemudian disebut
“master” kelenjar dari sistem endokrin.
Disebut master kelenjar karena mengontrol fungsi kelenjar endokrin
lainnya, seperti suhu, aktivitas tiroid, pertumbuhan selama masa awal
kelahiran, produksi urine, produksi testosteron pada laki-laki dan ovulasi
dan estrogen pada wanita produksi. Pituitari secara fungsional
dihubungkan ke hipotalamus, bagian dari otak yang memiliki sejumlah inti
kecil dengan berbagai fungsi. Hipofisis fossa, di mana kelenjar hipofisis
terletak, terletak di tulang sphenoid, tulang berpasangan terletak di dasar
otak. Kelenjar pituitari mensekresi sembilan hormon yang mengatur
homeostasis, baik terbuka atau tertutup, yang mengatur lingkungan
internal dan cenderung mempertahankan kondisi konstan dan stabil.
Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa fungsi dari kelenjar
Hyphophysis adalah untuk mensekresikan hormon-hormon yang berguna
bagi tubuh, khususnya alat reproduksi. Hormon yang mengatur reproduksi
betina di antaranya hormon FSH, LH, estrogen, dan progesteron. Marks et
al., (2000) menambahkan bahwa hormon dihasilkan di kelenjar endokrin,
disekresikan ke dalam darah, dan sampai ke sel sasaran di jaringan lain
dalam tubuh tempat hormon tersebut menimbulkan efek fisiologis.
Kelenjar Hyphophysis memiliki 2 bagian yaitu adenohypophysis,
neurohypophysis. Secara embriologis kelenjar Hyphophysis berasal dari
sel-sel krista neural. Pengontrolan aktivitas kelenjar Hyphophysis
sebagian besar dilakukan oleh hipotalamus dengan suatu modulasi
langsung yang sangat penting melalui mekanisme umpan balik (Heffner,
2006). Adenohypophysis Terdiri dari pars distalis dan pars tubelaris. Pars
distalis merupakan bagian utama adenohypophysis dan mengandung sel-
sel kelenjar yang mensekresikan STH (Somatotrophs Hormone atau
Growth Hormone atau GH), ACTH, TSH, FSH (Follicle Stimulating
Hormone), LH (Luteinizing Hormon) dan LTH. STH disekresikan oleh sel
somatotrop dan tipe sel asidofil (Widayati et al., 2008). Fungsi FSH
adalah stimulasi pertumbuhan dan pematangan folikel de Graaf di dalam
ovarium dan spermatogenesis di dalam tubuli seminiferi testis. LH bekerja
sama dengan FSH untuk menstimulasi pematangan folikel dan pelepasan
estrogen. Feradis (2010) menambahkan bahwa LTH atau prolaktin
dipandang sebagai hormon reproduksi karena kemampuannya
merangsang laktasi pada mamalia dan pertumbuhan tembolok burung
merpati. Pars tubelaris merupakan suatu pertumbuhan ke luar epihel tipis
dari pars distalis dan mengelilingi tangkai neural. Bagian ini sangat banyak
mengandung darah, serabut syaraf dan sedikit sel-sel kelenjar (Widayati
et al., 2008).
Neurohypophyis terdiri dari pars intermedia dan pars nervosa
(processus infundibularis). Pars intermedia merupakan tempat sintesa
MSH yang berperan dalam kontraksi uterus dan penurunan susu, tetapi
pada jenis hewan tanpa pars intermedia, MSH mungkin dihasilkan oleh
adenohypophysis. Bagian terbesar neurohypophysis terdiri dari pars
nervosa yang mengandung banyak ujung-ujung saraf. Neurohypophysis
mensekresikan hormon vasopresin (ADH) yang berfungsi untuk
pertumbuhan tubuh, perkembangan dan pematangan, oksidasi zat
makanan dan oxytocin yang berfungsi saat kontraksi uterus dan
penurunan susu (Mescher, 2011).

Gambar 1. Histologi Adenohypophysis


( Mescher, 2011)
Mekanisme umpan balik negatif (negative feedback mechanism atau
servemechanism) yang utama meliputi hormon-hormon tropik dari kelenjar
hypophysa dan hormon-hormon yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar
sasaran. Estradiol yang dibebaskan oleh ovarium akan mempengaruhi
hypothalamus untuk mengatur pelepasan FSH. Apabila terlampaui banyak
FSH yang dilepaskan, kadar estradiol dalam darah akan menjadi tinggi
dan bekerja pada adehohypophysa baik secara langsung maupun tidak
langsung. Positive feedback adalah kenaikan LH pada preovulasi karena
kenaikan kadar hormon estrogen. (Feradis, 2010).

Gambar 2. Mekanisme feedback hormon


(Yusuf, 2012)
Ovarium
Ovarium atau indung telur adalah kelenjar kelamin yang dibawa
oleh hewan betina. Vertebrata, termasuk manusia, memiliki
dua ovarium yang berfungsi memproduksi sel telur dan mengeluarkan
hormon. Sel telur pada wanita (manusia) berada bagian dalam di kiri dan
kanan pinggul.
Berdasarkan praktikum dapat diketahui bahwa ovarium terdiri dari 2
lapisan yaitu medulla dan korteks. Yusuf (2012) menyatakan bahwa
Ovarium terdiri dari medulla dan korteks korteks pada kulit terluarnya,
medula tersusun dari pembuluh darah, saraf, dan jaringan ikat. Korteks
berisi lapisan-lapisan sel dan jaringan yang terkait dengan ovum dan
produksi hormon. Folikel primer terbentuk selama masa kehamilan dari
induk. Ternak sapi muda diperkirakan memiliki sekitar 75.000 folikel
primer di dalam ovarium. Pertumbuhan dan pematangan folikel pada sapi
selama hidupnya terus berlanjut, namun hanya sekitar 2.500 ovum yang
berpotensi menjadi ovum. Beberapa potensial ovum mencapai
kematangan dan dilepaskan ke dalam sistem saluran untuk kemungkinan
terjadinya fertilisasi dan perkembangan anak. Kebanyakan mulai
berkembang dan menjadi atresia (merosot).
Hasil praktikum menunjukkan bahwa ovarium berfungsi
menghasilkan sel telur. Perkembangan folikel yang terjadi mulai dari
oogonium sampai menjadi sel telur yang siap difertilisasi. Hasil
pengamatan yang tampak pada mikroskop menunjukkan berbagi jenis
perkembangan folikel, Perkembangan folikel ovarium pada suatu spesies
hewan sangat mempengaruhi perkembangan oosit (sel telur), dan
perkembangan berbagai tahapan folikel primer, folikel sekunder, folikel
tersier, dan folikel de graaf.
Gambar 2. Histologi Ovarium
( Anonim, 2013)
Folikel primer terdiri dari “satu bakal isi telur” yang pada fase ini
berkumpul di bawah tunica albuginea. Folikel sekunder berkembang ke
arah pusat stroma cortex sewaktu kelompok sel-sel folikuler yang
memperbanyak diri membentuk suatu lapisan multiseluler sekeliling
vitellus. Folikel tertier timbul sewaktu sel-sel pada lapisan folikuler
memisahkan diri untuk membentuk tepian dari suatu rongga, antrum, ke
mana oogonium akan menonjol. Antrum dibatasi oleh membrana
granulosa, dan diisi oleh liquor folliqulli, yang kaya akan protein dan
estrogen (Anwar, 2005). Folikel-folikel tersebut juga sangat dipengaruhi
oleh banyak faktor, diantaranya interaksi antara hormon steroid intrafolikel
dengan faktor-faktor pertumbuhan, faktor di luar ovarium, dan sistem
hypothalamus dengan Hyphophysis. Proses pematangan oosit sangat
dipengaruhi oleh perkembangan folikel di dalam ovarium dari hewan mulai
dari folikel primordial sampai menjadi folikel de Graaf yang siap
menghasilkan oosit yang matang dan siap untuk dibuahi spermatozoa.
Proses perkembangan folikel ditentukan oleh beberapa mekanisme
hormonal yang berkaitan dengan reproduksi, khususnya hormon FSH.
Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar Hyphophysis atas pengaruh hormon
yang dihasilkan oleh hipotalamus yaitu GnRH (Gonadotrophin Realising
Hormon) (Hamny et al., 2010).
Oogenesis merupakan proses pembentukan dan perkembangan
sel ovum. Proses oogenensis dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu
FSH, estrogen, LH, dan progesteron. Oogenesis dimulai dengan
pembentukan bakal sel-sel telur yang disebut oogonia. Proses oogenesis
terdiri dari beberapa tahap yaitu oogonium yang mengalami pembelahan
mitosis berubah menjadi oosit primer yang memiliki 46 kromosom. Oosit
primer melakukan meiosis I yang meghasilkan dua sel anak yang
ukurannya tidak sama. Sel anak yang lebih besar adalah oosist sekunder
yang bersifat haploid (n). Sel anak yang lebih kecil disebut badan polar
pertama yang kemudian membelah diri Hormon FSH yang berfungsi
untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel sekitar sel ovum. Hormon
Estrogen yang berfungsi merangsang sekresi hormon LH. Hormon LH
yang berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pematangan
sel ovum). Hormon progesteron yang berfungsi untuk menghambat
sekresi FSH dan LH (Sumiati, 2013).

Gambar 5. Oogenesis
(Manuaba et al., 2003)
Periode estrus pada hewan terjadi secara berulang dan
membentuk suatu siklus yang disebut siklus estrus. Siklus estrus
merupakan salah satu aspek reproduksi yang menggambarkan perubahan
kandungan hormon reproduksi yang disebabkan oleh aktivitas ovarium
dibawah pengaruh hormon gonadotrophin. Perubahan kandungan hormon
reproduksi selanjutnya menyebabkan perubahan struktur pada jaringan
penyusun saluran reproduksi. Siklus estrus pada mencit terdiri dari 4 fase
utama, yaitu proestrus, estrus, metestrus dan diestrus (Sitasiwi, 2008).

Gambar 4. Grafik siklus estrus


(Feradis, 2010)
Penjelasan sintesis estrogen
Oviduk
Tuba fallopi atau oviduk dapat didefinisikan sebagai bagian
melengkung pada gambar anatomi alat reproduksi wanita, dimana pada
bagian ujung atas dari oviduk inilah yang dinaman sel telur atau ovarium,
sedangkan bagian ujung satunya lagi dari oviduk mengarah ke rahim.
Sepanjang oviduk, terdapat sel sel cilia, atau bulu cilia, yang bertugas
sebagai penghantar ovum menuju rahim untuk kemudian berkembang
menjadi embrio dan kemudian menjadi janin.
Hasil pengamatan di bawah mikroskop menunjukkan bahwa oviduk
terdiri dari tiga lapis, yakni tunika serosa, tunika muskularis, dan tunika
mukosa. Oviduk adalah sepasang saluran melengkung-lengkung yang
mehubungkan antara ovarium dan uterus. Oviduk menyediakan
lingkungan mikro untuk jalan masuk sperma, fertilisasi, dan tahap
pembelahan perkembangan embrionik, yakni ketika terjadi tanda morfologi
dan perubahan fungsional selama siklus estrus. (Ayen et al., 2012).
Fungsi oviduk yaitu menerima sel telur yang diovulasikan oleh
ovarium, transport spermatozoa dari uterus menuju ke tempat
pembuahan, tempat terjadinya pertemuan antara ovum dan spermatozoa,
tempat terjadinya kapasitasi spermatozoa, memproduksi cairan sebagai
media terjadinya pertumbuhan dan kapasitasi spermatozoa, transport
ovum yang telah dibuahi (zigot) menuju uterus (Widayati et al., 2008).
Tunika mukosa membentuk tonjolan bercabang. Tonjolan itu
membentuk beberapa alur longitudinal, yang dikira untuk melancarkan
penyaluran spermatozoa atau oosit yang sudah dibuahi. Tunika mukosa
berfungsi sebagai penghasil mucus untuk melicinkan lumen. Tunika
muskularis berfungsi sebagai kontraksi dari oviduk. Kedua tunika dibatasi
oleh lapisan tipis jaringan ikat. Tunika ini dibina atas serat otot polos yang
terdiri dari dua lapis yaitu sirkuler sebelah dalam dan sirkuler sebelah luar.
Lapisan otot ini berperan untuk kontraksi saluran, yang perlu untuk
melancarkan transport spermatozoa atau oosit. Tunika serosa adalah
penerusan selaput peritoneum, dibina atas serat jaringan ikat dan dilapis
sebelah luar sekali oleh sel mesotel yang gepeng. Tunika serosa
berfungsi untuk melindungi oviduk agar tidak bergesekan dengan organ
lain (Budipitojo et al., 2014).

Gambar 5. Histologi Oviduk


(Hill, 2011)
Uterus
Uterus adalah organ yang menarik dan kompleks yang merupakan
bagian dari struktur reproduksi anatomi perempuan. Organ kompleks ini
ukurannya cukup kecil, jika dibandingkan dengan ukuran buah pir.
Namun, organ berukuran ini bertanggung jawab atas apa yang bisa
dibilang menjadi aspek yang paling penting dari kehidupan manusia:
kelangsungan spesies manusia.
Hasil pengamatan di bawah mikroskop menunjukkan bahwa
terdapat tiga bagian utama pada uterus, yakni endometrium, myometrium,
dan perimetrium. Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot,
berbentuk seperti buah pir dengan bagian bawah yang mengecil.
berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio. Uterus mempunyai 3
macam lapisan dinding, yaitu perimetrium yaitu lapisan yang terluar yang
berfungsi sebagai pembatas dengan jaringan lain, miometrium yakni
lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi dan
relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap
bulannya, dan lapisan yang paling dalam adalah endometrium yang
merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah. Bila tidak
terjadi pembuahan maka dinding endometrium inilah yang akan meluruh
bersamaan dengan sel ovum matang (Sumiati, 2013).
Ketebalan selaput lendir dan vaskularisasi pada endometrium
bervariasi sesuai dengan perubahan-perubahan hormon ovarium yaitu
estrogen, progesteron dan kehamilan. Variansi kepadatan atau jarak satu
kelenjar dengan lainya selama siklus estrus adalah sebagai berikut Pada
fase proestrus, selama pertumbuhan folikel ovarium, terjadi pertumbuhan
dan perubahan dalam endometrium, kelenjar- kelenjar uterus tumbuh
memanjang. Fase estrus, sebagai akibat dari perubahan di dalam ovarium
yakni terjadinya ovulasi, kelenjar uterus sederhana dan lurus. Selama fase
metestrus, progesteron beraksi terhadap uterus, hal ini membuat
endometrium bertambah tebal secara mencolok. Diameter dan panjang
kelenjar meningkat secara cepat, menjadi bercabang-cabang dan
berkelok-kelok. Permulaan fase diestrus, endometrium masih
memperlihatkan aktivitas pertumbuhan kelenjar-kelenjar dari panjang
hinga berkelok- kelok dan membentuk spiral. Tetapi pada akhir fase
diestrus endometrium yang tadinya tebal semakin mengkerut, dengan
kelenjar- kelenjar yang bertambah kecil (Akbar, 2010)

Gambar 6. Histologi Uterus

(Amita, 2015)
Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum histologi organ reproduksi betina,


didapatkan organ penyusun organ reproduksi betina terdiri dari ovarium,
oviduk, uterus. Kelenjar hypophysis terdiri dari adenohypophysis dan
neurohypophysis. Adenohypophysis terdiri dari pars tuberalis dan pars
distalis, sedangkan neurohypophysis terdiri dari pars nervosa dan
intermedia Ovarium merupakan tempat pembentukan ovum dengan
melalui empat tahap yaitu folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier,
dan folikel de Graaf. Oviduk terdiri tiga lapisan yaitu tunica serosa, tunica
muscularis,dan tunica mucosa. Uterus memliki tiga lapisan yaitu lapisan
peritonium, myometrium dan endometrium.
Daftar Pustaka

Akbar, B. 2010. Tumbuhan dengan Kandungan Senyawa Aktif yang


Berpotensi sebagai Bahan Antifertilitas. Adabia Press. Jakarta.
Amita, H. 2015. Pengaruh kombinasi ekstrak daun pegagan (Centella
asiatica (L.) urban) dan beluntas (Plucea indica (L.) urban)
terhadap gambaran histologi uterus dan oviduk tikus putih (Rattus
norvegicus) betina. Universitas Islam Negeri. Skripsi.
Anwar, R. 2005. Morfologi dan Fungsi Ovarium. Fakultas Kedokteran
Universitas Padjajaran. Bandung.
Ayen, E., R. Shahrooz, dan S. Kazemie. 2012. Histological and
histomorphometrical changes of different regions of oviduk during
follicular and luteal phases of estrus cycle in adult Azarbaijan.
Iranian Journal of Veterinary Research, Shiraz University. 13(1).
Baradero, M., W. D. Mary, S. Yakobus. 2009. Seri Asuhan Keperawatan:
Klien Gangguan Endokrin. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Budipitojo, T., Ariana., dan T.W, Pangestuningsih. 2014. Histologi.
Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Gadjah Mada.
Feradis. 2010. Reproduksi Ternak. Penerbit Alfabeta. Bandung
Hafez, E. S. E. dan B. Hafez. 2000. Reproduction In Farm Animal.
Seventh Edition. Leafebiger. Philadelphia
Hamny, S. A., I. Djuwita, W. E. Prasetyaningtyas, dan I. Nasution. 2010.
Histologi perkembangan folikel ovarium fase luteal Kancil
(Tragulus javanicus). Indonesian Journal of Veterinary Science
and Medicine. 2(1).
Heffner, L. J. 2006. Sistem Reproduksi edisi kedua. Erlangga. Jakarta
Hill, M. 2011. UNSW Embryology. London: Manson Publish.
Manuaba, I. B. G., I. A. C. Manuaba, I. B. G. F. Manuaba. 2003.
Pengantar Kuliah Obstetri. EGC. Jakarta.
Marks, D. B., D. M. Allan, dan M. S. Collen. 2000. Biokimia Kedokteran
Dasar: Sebuah Kedekatan Klinis. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Mescher, A. L. 2010. Junqueira’s basic histology 12th ed. Singapore : Mc.
Graw Hill.
Sitasiwi, A. J. 2008. Hubungan kadar hormon estradiol 17-ß dan tebal
endometrium uterus mencit (mus musculus l.) selama satu siklus
estrus. E-journal UNDIP. 38-45.
Sobari, I., I. G. N. B. Tiolaksana dan I. K. Suatha. 2012. Perbedaan
aktivitas ovarium sapi bali kanan dan kiri serta morfologi oosit yang
dikoleksi menggunakan metode slicing. Universitas Udayana. Bali.
Sumiati. 2013. Sistem Reproduksi Manusia. Jurnal biologi. 2(2).
Walker, R. 2003. Ensiklopedia Mini Tubuh Manusia. Jakarta. Erlangga
Widayati, D. T., Kustono, Ismaya, dan S. Bintara. 2008. Bahan Ajar Mata
Kuliah Ilmu Reproduksi Ternak. UGM. Yogyakarta.
Yusuf, M. 2012. Buku Ajar Ilmu Reproduksi Ternak. Jurusan Produksi
Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin. Makassar.