Anda di halaman 1dari 35

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biaya

2.1.1 Pengertian Biaya

Pemahaman umum dari pengertian biaya yang digunakan dalam akuntansi

ekonomi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk perusahaan. Selain itu,

seringkali penggunaan istilah biaya (cost) dianggap memiliki arti yang sama dengan

beban (expense), walaupun banyak ahli akuntansi dan keuangan menyatakan

bahwa beban dan biaya memiliki definisi yang berbeda.

Menurut Mulyadi (2014:08), biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi,

yang dapat diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan

terjadi untuk tujuan tertentu. Menurut Carter dan Usry (2009:30), biaya adalah suatu

nilai tukar, pengeluaran, pengorbanan, atau pengorbanan yang dilakukan untuk

menjamin perolehan manfaat.

Sedangkan menurut Carter (2009:30), beban adalah penurunan dalam aset

bersih sebagai akibat dari penggunaan jasa ekonomi dalam menciptakan

pendapatan atau dari pengenaan pajak oleh badan pemerintah. Menurut Soemarso

(2013:29),beban didefinisikan sebagai aliran keluar yang terukur dari barang atau

jasa, kemudian ditandingkan dengan pendapatan untuk menentukan laba atau

sebagai penurunan dalam aktiva bersih sebagai akibat dari penggunaan jasa

ekonomis dalam menciptakan pendapatan atau pengenaan pajak oleh badan

pemerintah.

Lestari dan Permana (2017:14) mendefinisikan biaya sebagai kas atau nilai

ekuivalen kas yang dikorbankan untuk memperoleh barang atau jasa dan

6
7

diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perusahaan. Lestari dan Permana

(2017:14) mendefinisikan ekuivalen kas sebagai sumber non kas yang dapat ditukar

dengan barang atau jasa yang diinginkan.

Berdasarkan beberapa definisi biaya yang telah dijabarkan diatas dapat

diambil kesimpulan bahwa pengeluaran untuk membeli aset (gedung, mesin dan

mobil) dan kemudian digunakan dalam operasional perusahaan untuk memperoleh

pendapatan, akan diidentifikasikan sebagai biaya. Sedangkan beban termasuk

semua biaya yang sudah terpakai atau telah habis masa ekonomis nya.

2.1.2 Klasifikasi Biaya

Aspek penting yang harus diperhatikan untuk management perusahaan yang

berkaitan dengan biaya yaitu biaya perlu dikelompokkan sesuai dengan

pengelompokan biaya. Tujuan penggunaan biaya bagi pihak manajemen (pimpinan

perusahaan), mengetahui klasifikasi ini sangat penting, utamanya untuk mengetahui

karakteristik biaya yang pada akhirnya akan membantu manajemen mengambil

keputusan. Biaya dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu : 1) Objek

Pengeluaran, 2) Fungsi-Fungsi Dalam Perusahaan, 3) Sesuatu Yang Dibiayai, 4)

Volume Aktivitas, dan 5) Jangka Waktu.

Menurut Mulyadi (2014:13-16) biaya dapat diklasifikasikan ke dalam lima

macam penggolongan biaya yaitu :

1. Penggolongan Biaya Menurut Objek Pengeluaran

Jenis biaya berdasarkan objek pengeluaran, contoh penggolongan biaya

berdasarkan objek pengeluaran dalam perusahaan manufaktur kertas adalah


8

biaya merang, biaya jerami, biaya gaji dan upah, biaya soda, biaya depresiasi

mesin, biaya asuransi, biaya bunga dan biaya zat warna.

2. Penggolongan Biaya Menurut Fungsi Pokok Dalam Perusahaan

Biaya dikelompokan menjadi tiga kelompok berdasarkan fungsi pokok dalam

perusahaan yaitu :

a. Biaya Produksi

Merupakan biaya-biaya yang timbul dalam proses produksi yang mengelola

bahan baku menjadi produk jadi. Contohnya biaya depresiasi mesin, biaya

bahan baku, biaya bahan penolong, biaya gaji karyawan, baik yang langsung

maupun tidak langsung yang berhubungan dengan proses produksi. Biaya

produksi dapat digolongkan ke dalam biaya bahan baku, biaya tenaga kerja,

dan biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja

langsung disebut dengan istilah biaya utama (prime cost), sedangkan biaya

tenaga kerja tidak langsung dan biaya overhead pabrik disebut dengan biaya

konversi (conversion cost).

b. Biaya Pemasaran

Merupakan biaya-biaya untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.

Contohnya biaya iklan, biaya promosi, biaya sampel, dan gaji karyawan bagian

yang melaksanakan kegiatan pemasaran.

c. Biaya Administrasi dan Umum

Merupakan biaya-biaya yang tidak memiliki hubungan dengan kegiatan

produksi, mengkoordinasikan kegiatan produksi dan pemasaran produk.

Contohnya biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi, personalia, biaya


9

pemeriksaan akuntan, biaya fotocopy. Jumlah biaya pemasaran dan biaya

administrasi dan umum sering pula disebut dengan istilah biaya komersial

(commercial expenses).

3. Penggolongan Biaya Menurut Hubungan Biaya Dengan Sesuatu Yang Dibiayai

Dikelompokkan sebagai berikut :

a. Biaya Langsung (Direct Cost)

Biaya yang terjadi dimana penyebab adalah karena adanya sesuatu yang

dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung

tidak akan terjadi. Dengan demikian biaya langsung akan diidentifikasi dengan

sesuatu yang dibiayai. Biaya produksi langsung berupa biaya bahan baku dan

biaya tenaga kerja langsung. Biaya langsung departemen (direct departmental

costs) adalah semua biaya yang terjadi didalam departemen tertentu.

Contohnya biaya tenaga kerja yang bekerja dalam departemen pemeliharaan

dan biaya depresiasi mesin yang dipakai dalam departemen tersebut,

merupakan biaya langsung departemen bagi departemen tersebut.

b. Biaya Tidak Langsung (In Direct Cost)

Biaya Tidak Langsung adalah biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan

oleh sesuatu yang dibiayai, namun biaya yang tidak langsung hubungannya

dengan produk, contohnya biaya overhead pabrik (factory overhead cost).

Dalam hubungannya dengan departemen, biaya tidak langsung adalah biaya

yang terjadi di suatu departemen, tetapi manfaatnya dapat dinikmati oleh lebih

dari satu departemen. Contohnya biaya yang terjadi di departemen


10

pembangkit tenaga listrik. Biaya ini dinikmati oleh departemen lain di

perusahaan.

4. Penggolongan Biaya Menurut Perilaku Biaya Dalam Hubungannya Dengan

Perubahan Volume Aktivitas

Perilaku biaya (cost behavior) diklarifikasikan berdasarkan volume aktivitas yang

tetap atau berubah-ubah dalam hubungannya dengan perubahan keluaran

aktivitas. Dengan demikian, jika dilihat dari perilakunya, biaya dapat

dikelompokkan sebagai biaya tetap, biaya variabel, dan biaya semivariabel.

a. Biaya Tetap

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume

kegiatan tertentu. Contohnya biaya tetap adalah gaji direktur produksi.

Menurut Lestari dan Permana (2017:19) biaya tetap adalah biaya yang

cenderung untuk bersifat konstan atau tidak mengalami tambahan tidak untuk

suatu periode tertentu. Biaya tetap adalah biaya yang totalnya tetap untuk

suatu periode tertentu dan per unitnya berubah-ubah berbanding terbalik

dengan volume kegiatan. Namun tidak berubahnya biaya tersebut tetap

dibatasi oleh rentang relevan (relevant range).

Berdasarkan pendapat di atas, maka biaya tetap adalah biaya yang tidak

terpengaruh pada saat terjadi perubahan aktivitas dan berada pada

rentang yang relevan. Rentang yang relevan adalah daerah sampai pada

batas tertentu mesin dapat berproduksi untuk menghasilkan output, jadi jika

output yang diinginkan melebihi kapasitas mesin maka akan terbentuk


11

biaya tetap yang baru, contoh dari biaya tetap adalah biaya sewa, asuransi

dan depresiasi.

Dalam perspektif manajemen, biaya tetap sering diperlakukan sebagai biaya

periode sesuai dengan pernyataan Horngren, et al. (2015:40) “Biaya periode

adalah semua biaya selain harga pokok penjulan, sehingga di dalamnya

termasuk biaya marketing, biaya servis ke pelanggan dan sebagainya”.

Penulis dapat menyimpulkan bahwa tidak tergantung pada unit atau kegiatan,

namun tergantung pada periode.

b. Biaya Variabel (Variable Cost)

Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan

perubahan volume kegiatan. Contoh biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja

langsung. Menurut Lestari dan Permana (2017:18) biaya variabel adalah biaya

yang secara total selalu mengalami perubahan searah dan sebanding dengan

perubahan tingkat kegiatan, output atau aktivitas tetapi jumlah per unitnya

tetap. Semakin besar volume kegiatan, semakin besar jumlah total biaya

variabel, dan semakin rendah volume kegiatan, maka jumlah total biaya

variabel akan semakin rendah. Selanjutnya biaya variabel persatuan tidak

dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan, misalnya dengan perubahan

volume penjualan.

c. Biaya Semivariabel

Biaya semivariabel atau biaya campuran adalah tambahan biaya tidak

sebanding dengan perubahan volume kegiatan yang mengandung unsur

biaya tetap dan unsur biaya variabel. Menurut Lestari dan Purnama (2017:20)
12

biaya semivariabel adalah biaya yang mengandung biaya tetap dan biaya

variabel. Biaya ini mengalami perubahan tetapi tidak sebanding.

Disimpulkan bahwa biaya semivariabel adalah biaya yang mengandung

unsur-unsur biaya tetap dan variable. Contoh biaya sales person (tenaga

penjual). Selain mendapat gaji yang bersifat tetap, sales person mendapat

bonus yang besarnya sesuai dengan unit produk yang dapat dijualnya.

d. Biaya Semifixed

Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan

tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi

tertentu. Contoh biaya penelitian, biaya pemeriksaan, dan pengawasan

produksi.

5. Penggolongan Biaya Atas Dasar Jangka Waktu Manfaatnya

Biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya dibagi menjadi dua :

a. Pengeluaran Modal (Capital Expenditurs)

Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu

periode akuntansi dan dibebankan sebagai aktiva dan dalam masa

manfaatnya melalui didepresiasi, diamortisasi atau dideplesi, contohnya

pengeluaran modal untuk pembelian aktiva tetap, untuk reparasi besar

terhadap aktiva tetap, promosi besar-besaran dan pengeluaran untuk riset dan

pengembangan suatu produk.

b. Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditures)

Pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam

satu periode akuntansi. Pengeluaran pendapatan akan dibebankan sebagai


13

biaya dan dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh sehingga

ditemukan nilai laba atau rugibiaya iklan, biaya telex dan biaya tenaga kerja.

2.2 Penetapan Harga

2.2.1 Pengertian Harga

Menurut Kotler dan Armstrong (2008:345) harga adalah jumlah yang

ditagihkan atas suatu produk atau jasa. Pengertian lebih luas, harga adalah jumlah

yang diberikan oleh pelanggan untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki suatu

produk atau jasa. Harga memiliki peranan penting sebagai bahan pertimbangan

konsumen dalam memutuskan dalam membeli suatu produk. Walaupun terdapat

beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi konsumen. Harga merupakan

elemen yang paling utama dalam menentukan pangsa pasar dan keuntungan suatu

perusahaan.

Sesuai pendapat Kotler and Armstrong (2008:364-365), harga merupakan

satu dari elemen bauran pemasaran yang fleksibel. Dalam penetapannya harga

memiliki faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi.

1. Faktor internal

Faktor Internal lainnya yang mempengeruhi keputusan penetapan harga yaitu

strategi pemasaran, tujuan, bauran, dan penetapan harga. Harga merupakan

salah satu elemen dari strategi pemasaran perusahaan yang lebih luas. Bila

perusahaan memiliki pasar sasaran dan positioning secara cermat, maka bauran

pemasarannya, termasuk harga, akan mengikutinya. Beberapa perusahaan

memposisikan produk mereka terhadap harga dan kemudian menyesuaikan


14

keputusan bauran pemasaran lain terhadap harga yang ingin perusahaan

tetapkan.

2. Faktor eksternal

Faktor eksternal lainnya dalam pertimbangan penetapan harga yaitu kondisi

pasar dan permintaan strategi dan harga dari pesaing, dan faktor lingkungan

seperti ekonomi, kebutuhan penyalur, dan kebijakan pemerintah. Kebebasan

penetapan harga oleh penjual bervariasi untuk setiap jenis pasar. Pelanggan

menimbang antara harga terhadap nilai anggapan untuk menggunakan produk,

bila harga melebihi jumlah nilai, pelanggan tidak akan membelinya. Dalam hal ini,

pihak perusahaan harus memahami konsep seperti kurva permintaan (hubungan

harga dengan permintaan) dan elastisitas harga. Elastisitas harga adalah suatu

persentase perubahan jumlah harga yang diminta disebabkan oleh perubahan

harga barang tersebut dengan nilai satu persen Konsumen membandingkan

harga produk dengan harga perusahaan dari pesaing. Sebuah perusahaan harus

mempelajari nilai pelanggandan harga dari tawaran pesaing.

Menurut Tjiptono dan Chandra (2012:315) istilah harga bisa diartikan sebagai

jumlah uang (satuan moneter) dan/atau aspek lain (non-moneter) yang mengandung

utilitas/kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan sebuah produk.

Harga memliki peranan utama penting bagi perkonomian, konsumen, dan

perusahaan, yaitu :

a. Perekonomian

Harga merupaka regulator dasar dalam sistem perekonomian, karena harga

berpengaruh terhadap alokasi faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, tanah,


15

modal, dan kewirausahaan. Tingkat upah yang tinggi menarik tenaga kerja,

tingkat bunga yang tinggi menjadi daya tarik bagi investasi modal, dan

seterusnya. Sebagai alokator sumber daya, harga menentukan apa yang akan

diproduksi (penawaran) dan siapa yang akan membeli barang dan jasa yang

dihasilkan (permintaan).

b. Konsumen

Dalam penjualan ritel (eceran) ada segmen pembeli sangat sensitif terhadap

faktor harga (menjadikan harga sebagai satu-satunya pertimbangan pembelian

produk) dan ada pula yang tidak. Mayoritas konsumen agak sensitif terhadap

harga, namun juga mempertimbangkan faktor lain (seperti citra merek, lokasi

toko, layanan, nilai (value), fitur produk, dan kualitas produk). Selain itu, persepsi

konsumen terhadap kualitas produk seringkali dipengaruhi harga. Dalam

beberapa kasus, harga yang lebih mahal dianggap mencerminkan kualitas tinggi,

terutama dalam kategori produk spesial.

c. Perusahaan

Dibandingkan dengan bauran pemasaran lainnya (produk distribusi, dan promosi)

yang membutuhkan pengeluaran dana dalam jumlah besar, harga merupakan

satu-satunya elemen bauran pemasaran yang mendatangkan pendapatan.

Harga produk adalah determinan utama bagi permintaan pasar atas produk

yang bersangkutan, sehingga harga mempengaruhi posisi bersaing dan pangsa

pasar perusahaan. Perusahaan mendapatkan uang melalui harga yang dibebankan

atas produk atau jasa yang dijualnya dan pada akhirnya akan mempengaruhi laba

bersih perusahaan.
16

2.2.2 Strategi Penyesuaian dengan Harga

Menurut Kotler dan Armstrong (2008:09) terdapat strategi penyesuaian

harga, yaitu :

1. Penetapan Harga Diskon dan Potongan Harga

Pengurangan harga langsung terhadap pembelian selama periode waktu tertentu.

Bentuk diskon : 1) diskon tunai, pengurangan harga bagi pembeli membayar

tagihan mereka dengan segera, 2) diskon fungsional atau diskon dagang,

ditawarkan oleh penjual kepada anggota saluran yang melaksanakan fungsi

tertentu, seperti penjualan, penyimpanan, dan pencatatan, 3) diskon musiman,

adalah pengurangan harga bagi pembeli yang membeli barang atau jasa diluar

musim. Potongan harga, adalah jenis lain pengurangan harga dari harga resmi.

Potongan harga promosi, adalah pembayaran atau pengurangan harga untuk

memberi penyalur penghargaan atas partisipasinya dalam program iklan dan

dukungan penjualan.

2. Harga Tersegmentasi

Menjual produk atau jasa dalam dua harga atau lebih, di mana perbedaan harga

tersebut bukan berdasarkan perbedaan biaya. Penetapan harga tersegmentasi

memiliki beberapa bentuk, yaitu :

a. Penetapan Harga Segmen Pelanggan

Pelanggan yang berbeda membayar harga yang berbeda untuk produk atau

jasa yang sama. Misalnya, dikenakan harga tiket rendah bagi siswa dari pada

pengunjung umum.
17

b. Harga Berdasarkan Lokasi

Perusahaan mengenakan harga berbeda untuk lokasi berbeda, meskipun

biaya penawaran masing-masing lokasi adalah sama. Misalnya, teater

membedakan harga tempat duduk.

3. Harga Psikologis

Pendekatan penetapan harga yang mempertimbangkan psikologi harga dan

bukan hanya ekonomi; harga digunakan untuk mengatakan sesuatu tentang

produk. Misalnya, konsumen biasanya menganggap produk yang harganya lebih

tinggi memiliki kualitas yang tinggi. Aspek lain penetapan harga psikologis adalah

harga pembanding, harga yang tertanam dalam pikiran pembeli dan menjadi

acuan ketika melihat produk tertentu.

4. Harga Promosi

Untuk sementara menetapkan harga produk di bawah harga resmi, dan kadang-

kadang bahkan di bawah harga biaya, untuk meningkatkan penjualan jangka

pendek.

5. Penetapan Harga Geografis

Menetapkan harga bagi pelanggan yang terletak di berbagai belahan negeri atau

dunia. Memiliki bentuk penetapan harga, yaitu :

a. Harga Free On Board (FOB-Origin)

Strategi penetapan harga geografis di mana barang dikirimkan dengan gratis

melalui kurir; pelanggan membayar biaya pengiriman dari pabrik ke tempat

tujuan.
18

b. Harga Dengan Tarif Pengiriman Seragam

Strategi penetapan harga geografis di mana perusahaan mengenakan harga

yang sama ditambah biaya pengiriman ke semua pelanggan, tanpa

memperhatikan lokasi mereka.

c. Harga Berdasarkan Zona

Strategi penetapan harga geografis di mana perusahaan menetapkan dua

zona atau lebih. Semua pelanggan di dalam zona membayar harga total yang

sama; semakin jauh zonanya, semakin tinggi harganya.

d. Harga Meliputi Harga Pengiriman

Strategi penetapan harga di mana penjual menyerap semua atau sebagian

biaya pengiriman untuk mendapatkan bisnis yang diinginkan.

6. Harga Dinamis

Menyesuaikan harga terus menerus untuk memenuhi karakteristik dan kebutuhan

pelanggan individual dan situasi.

7. Harga Internasional

Perusahaan yang memasarkan produk mereka secara int ernasional harus

memutuskan berapa harga yang diterapkan di berbagai negara di mana mereka

beroperasi.

2.3 Harga Pokok Produksi

2.3.1 Pengertian Harga Pokok Produk

Menurut Lestari dan Permana (2017:158), manajemen harga menjadi

salah satu kebijakan penting sebuah perusahaan yang akan memengaruhi

tingkat penjualan produksi dari perusahaan. Penetapan harga jual merupakan


19

angka yang sudah menutupi biaya produksi secara utuh dan ditambahkan

dengan laba atau keuntungan dalam jumlah yang wajar.

Harga merupakan cerminan pemahaman yang mendalam pihak perusahaan

mengenai konsumen, kompetitor dan biaya perusahaan itu sendiri (Horngren, et

al., 2015:516). Kemampuan untuk menentukan harga jual yang tepat akan

sangat menentukan nasib penjualan produk di pasaran. Upaya menentukan

harga jual di pasaran sebagai salah satu bagian dari manajemen harga perlu

dilakukan dengan memerhatikan banyak faktor. Hal tersebut tentunya untuk

mencegah tidak lakunya barang produksi di pasaran.

Beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam menetapkan harga jual

di pasaran sebagai bagian dari manajemen harga, sebagai berikut :

1. Strategi Pemasaran Yang Dijalankan Oleh Perusahaan

Semakin baik strategi pemasaran yang dilakukan oleh sebuah perusahaan,

akan memungkinkan pihak perusahaan untuk menyajikan tawaran harga

yang lebih ramah kepada konsumen. Laba akan tertutupi dari kemampuan

dan strategi pemasaran kreatif yang dijalankan oleh pihak perusahaan.

Dalam hal ini, merupakan modal untuk mampu bersaing lebih baik di tengah

pasar. Namun apabila pemasaran yang dilakukan tidak maksimal dan tidak

memiliki inovasi baru, langkah yang dilakukan adalah dengan upaya

peningkatan harga jual. Hal ini tentunya akan sedikit berdampak kepada

minat konsumen terhadap produk atau layanan jasa yang ditawarkan.


20

2. Kualitas Dan Inovasi Produk

Di dalam manajemen harga kualitas dan inovasi produk perusahaan menjadi

salah satu faktor penting yang akan mempengaruhi kebijakan dalam

menetapkan harga jual. Apabila perusahaan memiliki kualitas produknya

berada di atas rata-rata dengan tawaran inovasi yang baik, maka

perusahaan bisa menetapkan harga jual yang tinggi dari harga pasar. Hal

tersebut tentunya juga bertujuan untuk menutupi biaya produksi yang

dikeluarkan untuk menghasilkan sebuah produk berkualitas.

3. Harga Pesaing

Faktor yang memengaruhi manajemen harga jual yang selanjutnya adalah

harga dari produk saingan. Semakin tinggi tingkat persaingan harga, maka

akan semakin sulit bagi perusahaan menetapkan harga yang

menguntungkan bagi perusahaan. Akibatnya perusahaan dituntut lebih

kreatif untuk mencari pasar atau area penjualan baru dengan tingkat pesaing

yang masih rendah. Harga pesaing jika tidak diperhatikan maka akan

berdampak pada tidak lakunya produk di pasaran.

4. Ketersediaan Serta Jumlah Harga Dari Produk Pengganti

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam manajemen harga pejualan adalah

ketersediaan serta jumlah harga produk pengganti yang ada. Produk

pengganti ini adalah pesaing. Semakin banyak tingkat ketersediaan jumlah

barang pengganti serta harganya yang juga terjangkau oleh konsumen,

artinya perusahaan harus semakin bisa menekan harga jual agar mampu

bersaing dengan produk produk di pasaran.


21

Strategi penetapan harga menjadikan tantangan yang semakin

meningkat bagi banyak perusahaan, karena regulasi, informasi dari pembeli,

persaingan global yang ketat, pertumbuhan pasar yang lambat dan peluang

perusahaan untuk meningkatkan posisi pasarnya. Pada akhirnya, harga

berdampak pada kinerja keuangan dan berpengaruh penting pada nilai

penempatan posisi merek di benak pelanggan. Harga juga bisa menjadi sebuah

cerminan kualitas produk manakal pelanggan sulit mengaevaluasi pihak yang

kompleks.

Di dalam proses penetapan harga jual suatu produk, perusahaan

hendaknya mengikuti prosedur yang terdiri dari enam langkah pokok, yaitu :

1. Memilih Harga Sasaran

Perusahaan bertujuan bertahan hidup akan berusaha dengan menurunkan

harga. Laba tidak begitu dipentingkan, selama harga dapat menutupi biaya

variabel dan sebagian biaya tetap. Harga Sasaran untuk jangka pendek,

namun dan diharapkan untuk jangka panjang.

Sasaran berorientasi pada volume penjualan dilakukan perusahaan dengan

mengatur harga sedemikian rupa untuk meningkatkan volume penjualan.

Perusahaan mengasumsikan volume penjualan yang lebih tinggi akan

menghasilkan biaya per unit lebih rendah dan laba jangka panjang lebih

tinggi serta berasumsi bahwa pasar peka terhadap harga. Sasaran unggul

dalam pangsa pasar dilakukan dengan meningkatkan atau memelihara

pangsa pasar tanpa mempertimbangkan fluktuasi penjualan dalam industri.


22

Sasaran unggul dalam pangsa pasar sering digunakan untuk produk yang

mencapai tahap dewasa dalam siklus hidup produk.

Sasaran permintaan pasar adalah penetapan harga yang dihubungkan

dengan harapan pelanggan dan situasi pembelian yang khusus, sering

dikenal dengan “beri harga dengan apa yang dikehendaki”.

Sasaran persaingan merancang harga untuk mengalahkan harga pesaing.

Dengan tujuan untuk memelihara persepsi nilai yang baik relatif terhadap

pesaing.

Sasaran prestis dilakukan dengan merancang harga yang konsisten dengan

sebuah produk yang mempunyai status tinggi atau prestis. Harga ini

dirancang dengan sedikit memerhatikan struktur biaya perusahaan atau

pesaing.

2. Menentukan Permintaan

Perusahaan menentukan permintaan yang akan memperlihatkan jumlah

produk yang akan dibeli di pasar dalam periode tertentu, pada berbagai

tingkat harga. Makin inelastis permintaan, makin mampu perusahaan

menaik-turunkan harganya. Menentukan permintaan harus

mempertimbangkan beberapa aspek : 1) faktor-faktor yang memengaruhi

kepekaan harga, 2) mengukur kurva permintaan dengan berbagai metode

seperti analisis statistik data, 3) melakukan eksperimen harga, 4) meminta

pembeli untuk mengusulkan harga. 5) mengetahui elastisitas permintaan

terhadap perubahan harga.


23

3. Memperkirakan Biaya

Perusahaan memperkirakan perilaku biaya pada berbagai tingkat produksi dan

perilaku biaya dalam kurva pengalamannya. Biaya perusahaan ada dua jenis,

yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap (overhead) adalah biaya yang

tidak bervariasi dengan produksi atau penjualan, misalnya gaji karyawan. Biaya

variabel adalah biaya yang bervariasi langsung dengan tingkat produksi, misalnya

biaya bahan untuk produksi. Biaya total adalah biaya tetap dan biaya variabel

untuk tingkat produksi. Sedangkan biaya rata-rata adalah biaya per unit untuk

tingkat produksi atau total biaya dibagi produksi. Perusahaan harus mengetahui

bagaimana biaya bervariasi dengan tingkat produksi agar dapat menetapkan

harga yang tepat.

4. Menganalisis Biaya, Harga dan Penawaran Pesaing

Perusahaan dapat menggunakan analisis biaya, permintaan pasar, biaya

pesaing, harga pesaing dan kemungkinan reaksi pesaing sebagai penetapan

harga. Perusahaan juga perlu untuk membandingkan biaya dengan biaya

pesaing, apakah biaya produksinya lebih rendah atau lebih tinggi, harga dan

kualitas penawaran pesaing. Dengan mengetahui biaya, harga dan kualitas

pesaing, perusahaan dapat mengetahui sebagai titik orientasi untuk menetapkan

harga.

5. Memilih Metode Penetapan Harga

Perusahaan memilih salah satu dari berbagai metode harga, yaitu maksimalisasi

laba, tingkat pengembalian atas modal yang digunakan, biaya konversi, margin

kontribusi dan biaya standar.


24

6. Memilih Harga Akhir

Harga merupakan keputusan penting perusahaan yang menyangkut banyak hal

antara lain : 1) kemampuan menutup biaya, 2) kemampuan dalam kinerja, dan 3)

kemampuan penetrasi pasar.

2.4 Sistem Biaya Tradisional

2.4.1 Pengertian Sistem Biaya Tradisional

Menurut Brimson (1991:7) sistem biaya tradisional atau konvensional mampu

mengukur secara akurat sumber daya yang dikonsumsi secara proporsional dengan

jumlah unit yang diproduksi dari suatu produk. Sumber daya tersebut meliputi : 1)

biaya bahan baku, 2) biaya tenaga kerja, dan 3) biaya overhead pabrik. Menurut

Supriyono (2015:263) sistem biaya tradisional hanya membebankan biaya pada

produk sebesar biaya produksinya. Biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung

merupakan biaya langsung sehingga dapat dilakukan secara akurat dengan

menggunakan pelacakan langsung atau pelacakan driver.

Berdasarkan definisi biaya tradisional yang telah dijabarkan diatas dapat

diambil kesimpulan bahwa sistem biaya tradisional dapat membantu manajemen

dalam perencanaan dan pengendalian kegiatan perusahaan yang perusahaan

tersebut masih menggunakan teknologi yang sederhana dalam proses produksinya

untuk menghasilkan produk.

Pada pendekatan tradisional/konvensional terdapat dua metode yang

dipergunakan, yaitu metode tarif tunggal (plantwide rate) dan metode tarif

departemental (departemental rate).


25

1. Tarif Tunggal

Dalam pendekatan tarif tunggal, biaya overhead pabrik diasumsikan hanya dipicu

satu aspek pada semua fasilitas produksi (pabrik) dan produk. Terdapat dua

tahapan dalam perhitungan biaya overhead pabrik.

a. Penentuan Tarif Pembebanan Overhead Pabrik

Anggaran overhead diakumulasi menjadi satu untuk seluruh fasilitas pabrik

dengan langkah-langkah sebagai berikut :

 Biaya diakumulasi secara sederhana dengan langsung menambahkan

semua biaya yang diharapkan akan terjadi selama satu periode dalam satu

fasilitas pabrik.

 Setelah biaya diakumulasi, dihitung tarif pembebanannya berdasarkan satu

pemicu (driver) level unit.

Perhitungan tarif pembebanan overhead pabrik dapat dilakukan sebagai berikut :

Anggaran Biaya Overhead Pabrik


Tarif Overhead Pabrik =
Anggaran Penggunaan Aktivitas

b. Pembebanan Biaya Overhead Pabrik

Biaya overhead pabrik dibebankan ke dalam produk menggunakan dasar tarif

yang telah ditentukan. Pembebanan biaya overhead ke dalam produk

dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Overhead Pabrik Dibebankan Total = Tarif Overhead x Aktivitas Sesungguhnya

Langkah terakhir perhitungan biaya produk adalah menjumlahkannya dengan

biaya bahan baku sesungguhnya yang digunakan ditambah dengan biaya tenaga

kerja langsung sesungguhnya.


26

Biaya Overhead

Penelusuran Langsung

Pembebanan Biaya

Tahap 1

Pabrik

Pemicu Level Unit

Pembebanan Biaya

Tahap 2

Produk

Gambar 2.1

Tahapan Dalam Pembebanan Biaya Overhead Dengan Tarif Tunggal

Sistem Tradisional

2. Tarif Departemental

Tahapan perhitungan biaya produk dengan tarif departemental adalah :

a. Biaya overhead di seluruh pabrik dibagi dan dimasukkan ke dalam beberapa

kelompok departemen produksi sehingga diperoleh kelompok biaya

departemen. Setelah itu, dihitung tarif pembebanannya menggunakan rumus

berikut ini :

Anggaran Biaya Overhead Pabrik


Tarif Overhead Pabrik =
Anggaran Penggunaan Aktivitas
27

b. Biaya overhead pabrik dibebankan ke produk dengan cara mengalikan antara

tarif biaya overhead departemen dan jumlah pemicu yang digunakan oleh

produk departemen tersebut.

2.4.2 Kelebihan Sistem Biaya Tradisional

Kelebihan sistem biaya berbasis unit ada pada kemudahan dalam

aplikasinya. Sehingga tidak memerlukan sistem informasi yang canggih dan mahal

untuk mendapatkannya. Sistem ini memadai untuk digunakan pada bisnis yang

menghasilkan produk atau jasa yang seragam (satu jenis) atau tidak banyak variasi

proses produksi.

2.4.3 Kelemahan Sistem Biaya Tradisional

Sistem ini sering mengakibatkan distorsi dalam penentuan biaya produk.

Perusahaan menjadi sering salah dalam pembuatan keputusan yang berbasi pada

informasi biaya produk sehingga perusahaan kalah dalam persaingan. Berikut

kelemahan sistem biaya tradisional menurut Supriyono (2015:267) :

1. Hasil penawaran sulit dijelaskan karena terjadinya distorsi biaya.

2. Harga jual yang ditawarkan pada konsumen terlalu besar, karena produk

bervolume banyak dibebani biaya per unit terlalu besar.

3. Harga yang diminta oleh konsumen untuk produk bervolume banyak mungkin

sudah menguntungkan, namun ditolak oleh perusahaan karena biaya per unitnya

terdistorsi menjadi tinggi.

4. Harga jual yang ditawarkan pada konsumen terlalu kecil, karena produk

bervolume sedikit dibebani biaya per unit yang terlalu kecil.


28

5. Produk bervolume sedikit kelihatannya laba, namun sebenarnya mungkin rugi

karena biaya per unitnya dibebani terlalu kecil.

6. Konsumen tidak mengeluh terhadap kenaikan harga jual produk bervolume

rendah, karena biaya per unitnya terdistorsi terlalu rendah sehingga para pesaing

yang biaya per unitnya tepat menjual produk yang sama dengan harga yang jauh

lebih mahal.

7. Manager produksi ingin menghentikan produk bervolume kecil karena lebih sulit

untuk dibuat dan menyebabkan kerusakan bagi perusahaan.

2.5 Activity Based Costing (ABC)

2.5.1 Pengertian Activity Based Costing (ABC)

Menurut Supriyono (2015:252), activity based costing (ABC) merupakan alat

untuk membebankan biaya aktivitas-aktivitas pada rangkaian nilai. Dalam metode

ABC, aktivitas-aktivitas adalah objek biaya yang penting, karena aktivitas adalah unit

kerja basis yang dilaksanakan dalam suatu organisasi.

Menurut Blocher et al (2009:222) ABC adalah pendekatan perhitungan biaya

yang membebankan biaya sumber daya ke objek biaya seperti produk, jasa atau

pelanggan berdasarkan aktivitas yang dilakukan untuk objek biaya tersebut. Menurut

Siregar et al (2013:232) ABC adalah suatu pendekatan perhitungan biaya yang

membebankan biaya sumber daya ke dalam objek biaya, (produk, jasa, atau

konsumen) berdasarkan aktivitas yang dilakukan.


29

Terdapat dua keyakinan dasar dalam sistem ABC :

1. Operasional perusahaan menyebabkan munculnya biaya, sehingga dibutuhkan

pemahaman mendalam mengenai operasional perusahaan dan faktor-faktor yang

mempengaruhinya. Dalam keyakinan dasar sistem ABC merupakan sumber daya

yang menyediakan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas, bukan sekedar

menyebabkan timbulnya biaya harus dialokasikan.

2. Penyebab terjadinya biaya yaitu aktivitas dapat dikelola. Melalui pengelolaan

terhadap aktivitas yang menjadi penyebab timbulnya biaya personal perusahaan

yang dapat mempengaruhi besar kecilnya biaya. Untuk dapat melakukan

pengelolaan yang baik, perlu informasi yang andal mengenai biaya dan

penyebabnya (aktivitas).

2.5.2 Penentuan Biaya Produk Activity Based Costing (ABC)

Cara penyediaan informasi mengenai biaya yang muncul dari proses

produksi untuk produk adalah menggunakan sistem ABC. Sistem ABC,

membebankan biaya produksi untuk produk secara langsung dapat dilihat

hubungannya dengan aktivitas-aktivitas yang dilakukan berkaitan dengan produk

tersebut.

ABC membebankan biaya overhead pabrik ke produk dengan beberapa

langkah :

1) Mengidentifikasi sumber daya dan aktivitas. Dengan menggunakan dasar pemicu

konsumsi biaya sumber daya dapat dihitung tarif biaya per unit sumber daya yang

dikonsumsi oleh setiap aktivitas atau pusat aktivitas (pusat aktivitas/pusat biaya).
30

2) Biaya dibebankan ke dalam produk dengan mengalikan tarif biaya per unit setiap

aktivitas dengan jumlah aktivitas sesungguhnya

Kedua langkah diatas membebankan biaya sumber daya seperti biaya

overhead pabrik ke dalam kelompok biaya aktivitas. Dan pembebanan dilakukan ke

objek biaya yang bertujuan untuk menentukan biaya sumber daya setiap biaya

objek. Langkah pertama dalam prosedur ini adalah membebankan biaya overhead

ke dalam aktivitas atau pusat biaya aktivitas menggunakan dasar pemicu konsumsi

biaya sumber daya yang tepat. Tahap kedua, membebankan biaya aktivitas atau

kelompok biaya aktivitas ke dalam objek biaya menggunakan dasar pemicu

konsumsi biaya aktivitas yang sesuai dalam mengukur permintaan objek biaya pada

aktivitas.

Biaya Sumber Daya

Penentuan Pemicu Pembebanan Biaya Pemicu Sumber


Biaya Daya

Aktivitas Tahap 1:
Kelompok Aktivitas

Penentuan Pemicu Pembebanan Biaya Pemicu Aktivitas


Aktivitas

Produk Tahap 2 :
Pembebanan Biaya

Gambar 2.2

Tahapan Dalam Pembebanan Biaya Overhead Dengan Sistem ABC


31

2.5.3 Kondisi Penyebab Perlunya Sistem Activity Based Costing (ABC)

Kondisi perusahaan yang mendasari penerapan sistem ABC menurut

Supriyono (2015:281) yaitu :

1. Menghasilkan Beberapa Jenis Produk

Sistem ABC dapat diterapkan apabila perusahaan menghasilkan beberapa

jenis produk dengan menggunakan fasilitas yang sama (common products) maka

biaya overhead pabrik merupakan biaya bersama untuk seluruh produk yang

dihasilkan. Sistem ABC menentukan driver-driver biaya untuk mengidentifikasikan

biaya overhead pabrik yang dikonsumsi oleh masing-masing produk.

2. Biaya Overhead Pabrik Berlevel Non Unit Jumlahnya Besar

Biaya berbasis nonunit harus merupakan persentase signifikan dari biaya

overhead pabrik. Apabila biaya-biaya berbasis nonunit jumlahnya kecil,

perusahaan cukup menggunakan sistem biaya tradisional.

3. Diversitas Produk

Diversitas produk mengakibatkan rasio konsumsi antara aktivitas-aktivitas

berbasis unit dan nonunit berbeda. Apabila perusahaan mempunyai diversitas

produk maka diperlukan sistem ABC. Namun, jika berbagai jenis produk

menggunakan aktivitas-aktivitas berbasis unit dan nonunit dengan rasio yang

relatif sama, berarti diversitas produk relatif rendah sehingga tidak ada masalah

jika digunakan sistem biaya tradisional.


32

2.5.4 Langkah-Langkah Sistem ABC

Berikut ini merupakan tiga tahap pengaplikasian sistem ABC berdasarkan

langkah pertama :

1. Mengidentifikasi Biaya Sumber Daya dan Aktivitas

Identifikasi biaya sumber daya untuk berbagai macam aktivitas dapat dilakukan

dengan cara membedakan aktivitas berdasarkan cara aktivitas mengonsumsi

sumber daya. Sehingga, aktivitas dikelompokkan menjadi empat level aktivitas,

sebagai berikut :

a. Aktivitas Level Unit (unit level activity)

Aktivitas yang dilakukan dalam rangka menghasilkan satu unit individual dari

produk atau jasa, contohnya, bahan baku, tenaga kerja langsung dan inspeksi

unit.

b. Aktivitas Level Batch (batch level activity)

Aktivitas yang dilakukan untuk menghasilkan setiap batch dari produk atau

jasa. Perusahaan mengelompokkan dalam satu batch apabila produk

dihasilkan oleh satu proses yang dijadwalkan dalam satu waktu, contohnya,

pengesetan mesin-mesin produksi, penanganan bahan dan pengiriman

produk.

c. Aktivitas Level Produk product level activity)

Aktivitas yang dilakukan untuk mendukung produksi dari satu tipe produk atau

jasa yang spesifik, contohnya, pendesainan produk, modifikasi produk dan

administrasi suku cadang produk.


33

d. Aktivitas Level Fasilitas (facility level activity)

Aktivitas pendukung operasi secara umum atau tidak berkaitan dengan proses

produksi produk. Aktivitas ini juga tidak dapat ditelusur pada produk unit

individual, contohnya, keamanan pabrik, pajak bumi dan bangunan, perawatan

bangunan dan penutup bukuan.

2. Mengalokasikan Biaya Aktivitas ke dalam Objek Biaya

Sistem ABC menggunakan dasar pemicu konsumsi sumber daya dalam

mengalokasikan biaya ke dalam produk. Biaya sumber daya dapat dialokasikan

ke dalam aktivitas berdasarkan estimasi atau penelusuran langsung dalam

penggunaan sumber daya yang sesungguhnya.

3. Mengalokasikan Biaya Aktivitas Ke Dalam Objek Biaya

Langkah terakhir adalah mengalokasikan biaya aktivitas ke dalam objek biaya

berdasarkan pemicu biaya aktivitas yang dapat menjelaskan naik turunnya biaya.

Pengalokasian biaya aktivitas ke dalam objek biaya dilakukan dengan

menggunakan tarif pembebanan. Yang dapat dihitung menggunakan rumus

sebagai berikut :
Anggaran biaya overhead pabrik per
pool aktivitas
Tarif Biaya Overhead Pabrik Dibebankan =
Aktivitas diestimasi per pool

Penggunaan aktivitas yang berbeda akan menghasilkan tarif yang berbeda,

tetapi biaya yang dibebankan akan sama karena kesamaan rasio aktivitas. Satu

fasilitas produksi sangat dimungkinkan untuk memiliki banyak tarif pembebanan

overhead.
34

Pembebanan biaya overhead dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :

Overhead Dibebankan Total = Tarif Overhead x Aktivitas Sesungguhnya

2.5.5 Manfaat Sistem Activity Based Costing

Manfaat utama sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas menurut

Blocher et al (2009:232) adalah :

1. Pengukuran Profitabilitas Yang Lebih Baik

Sistem ABC menyajikan biaya produk yang lebih akurat dan informatif,

mengarahkan pada pengukuran profitabilitas produk yang lebih akurat dan

keputusan strategis yang diinformasikan dengan lebih baik tentang penetapan

harga jual, lini produk dan segmen pasar.

2. Keputusan Dan Kendali Yang Lebih Baik

Sistem ABC menyajikan pengukuran yang lebih akurat tentang biaya yang timbul

karena dipicu oleh aktivitas, membantu manajemen untuk meningkatkan nilai

produk dan nilai proses dengan membuat keputusan yang lebih baik tentang

desain produk, mengendalikan biaya secara lebih baik dan membantu

perkembangan proyek-proyek yang meningkatkan nilai.

3. Informasi Yang Lebih Baik Untuk Mengendalikan Biaya Kapasitas

Sistem ABC membantu para manajer untuk mengidentifikasikan dan

mengendalikan biaya kapasitas yang tidak terpakai. Manfaat sistem ABC menurut

Supriyono (2015:281) yaitu :

1. Menentukan biaya produk secara lebih akurat;

2. Meningkatkan mutu pembuatan keputusan;

3. Menyempurnakan perencanaan strategis;


35

4. Meningkatkan kemampuan yang lebih baik untuk mengelola aktivitas-aktivitas

melalui penyempurnaan berkesinambungan;

5. Mengidentifikasi penyebab biaya (cost driver);

6. Mengarahkan organisasi agar berorientasi pada operasi-operasi atau aktivitas-

aktivitas;

7. Menggunakan ukuran-ukuran kinerja yang konsisten dengan tujuan-tujuan

strategis;

8. Menimbulkan rasa memiliki dan pertanggungjawaban;

9. Memusatkan pada masa depan organisasi;

10. Menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan dengan biayanya.

2.6 Perbandingan Antara Sistem Activity Based Costing (ABC) dengan Sistem

Biaya Tradisional

Perbedan utama antara sistem perhitungan berdasarkan volume dengan

sistem ABC menurut Blocher et al (2009:234) sebagai berikut :

Bedasarkan Volume Activity Based Costing

1. Menggunakan penggerak biaya Menggunakan penggerak biaya

berdasarkan volume. berdasarkan aktivitas (termasuk yang

berdasarkan volume maupun yang tidak

berdasarkan volume).

2. Membebankan biaya overhead Membebankan biaya overhead pertama

pertama ke departemen dan kedua ke pusat biaya aktivitas dan kedua ke

ke produk atau jasa. sebelum produk dan jasa.


36

3. Fokus pada pengelolaan biaya Fokus pada pengelolaan proses dan

departemen fungsional atau pusat aktivitas serta pemecahan masalah lintas

pertanggungjawaban. fungsional.

Tabel 2.1

Perbandingan Antara Sistem ABC dengan Sistem Biaya Tradisional

Beberapa perbandingan antara sistem biaya tradisional dan sistem biaya

ABC adalah sebagai berikut: :

1. Sistem ABC menggunakan aktivitas-aktivitas sebagai pemacu biaya (cost driver)

untuk menentukan seberapa besar konsumsi overhead dari setiap produk.

Sedangkan sistem biaya tradisional mengalokasikan biaya overhead secara

arbitrer berdasarkan satu atau dua basis alokasi yang non representatif.

2. Sistem ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu. Sistem biaya

tradisional terfokus pada performansi keuangan jangka pendek seperti laba.

Apabila sistem biaya tradisional digunakan untuk penentuan harga dan

profitabilitas produk, angka-angkanya tidak dapat diandalkan.

3. Sistem ABC memerlukan masukkan dari seluruh departemen, persyaratan ini

mengarah ke integrasi organisasi yang lebih baik dan memberikan suatu

pandangan fungsional silang mengenai organisasi. Sedangkan biaya tradisional

tidak memerlukan masukkan dari seluruh departemen.

4. Sistem ABC mempunyai kebutuhan yang jauh lebih kecil untuk analisis varian

dari pada sistem tradisional, karena kelompok biaya (cost pools) dan pemacu

biaya (cost driver) jauh lebih akurat dan jelas, selain itu ABC dapat menggunakan
37

data biaya historis pada akhir periode untuk menghitung biaya aktual apabila

kebutuhan muncul.

5. Sistem ABC merupakan pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan

aktivitas berlevel unit maupun non unit sehingga penentuan biaya lebih akurat

karena ditelusuri ke masing-masing produk. Sedangkan sistem biaya tradisional

penentuan tarif suatu produk berdasarkan aktivitas level unit (bahan baku dan

tenaga kerja).

2.7 Tahap-Tahap Sistem ABC

Tahap sistem ABC menurut Supriyono (2007:270) yaitu :

1. Tahap Pertama, penentuan harga pokok berdasarkan aktivitas meliputi empat

langkah sebagai berikut :

a. Penggolongan Berbagai Aktivitas

Berbagai aktivitas diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok aktivitas yang

mempunyai hubungan fisik yang jelas dan mudah ditentukan.

b. Pengasosiasian Biaya Dengan Aktivitas

Menghubungkan berbagai biaya dengan setiap kelompok aktivitas berdasar

pelacakan langsung dan driver sumber.

c. Penentuan Kelompok-Kelompok Biaya Homogen

Kelompok biaya homogen (homogeneous cost pool) adalah sekumpulan biaya

overhead yang terhubungkan dengan tugas-tugas dan berbagai macam biaya

tersebut dapat diterangkan oleh cost driver tunggal. Aktivitas-aktivitas biaya

overhead pabrik harus dihubungkan secara logis dan mempunyai rasio

konsumsi yang sama untuk semua produk. Rasio konsumsi yang sama
38

menunjukkan eksistensi dari sebuah cost driver. Yang harus dapat diukur

sehingga biaya overhead pabrik dapat dibebankan ke beberapa produk.

d. Penentuan Tarif Kelompok

Tarif kelompok (pool rate) adalah tarif biaya overhead per unit cost driver yang

dihitung untuk suatu kelompok aktivitas. Tarif kelompok dihitung dengan rumus

total biaya overhead untuk kelompok aktivitas tertentu dibagi dasar pengukur

aktivitas kelompok tersebut.

2. Tahap Kedua, biaya overhead pabrik (BOP) setiap kelompok aktivitas dilacak ke

berbagai jenis produk dengan menggunakan tarif kelompok yang dikonsumsi oleh

setiap produk.

2.8 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini yang dapat dijadikan

tinjauan pustaka yaitu beberapa penelitian berikut :

NO. Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian

1. Siti Farhah Penerapan Metode ABC Penggunaan metode ABC


(2017) Untuk Penentuan Harga menunjukkan bahwa
Pokok Produksi Pada menggunakan ABC lebih
CV. Rumah Kerudung akurat dibandingkan dengan
Jihan Sukoharjo. metode tradisional.
2. Ardino Analisis Penerapan Penggunaan metode ABC
(2017) Metode Activity Based menunjukkan bahwa tarif sewa
Costing Dalam kamar penginapan lebih
Menentukan Sewa akurat.
Kamar Penginapan
(Studi Pada Dive Resort
Pulau Onemoba’a
Kecamatan Tomia
Kabupaten Wakatobi).
39

Danang Rahmaji Penerapan Activity Penggunaan metode Activity


3. (2013) Based Costing System Based Costing (ABC) lebih
untuk Menentukan akurat dibandingkan dengan
Harga Pokok Produksi metode tradisional
PT. Celebes Mina
Pratama Sulawesi Utara.
4. Qona’ah Analisis Penentuan Harga kerupuk dengan
(2012) Harga Pokok Produksi menggunakan sistem Activity
Berdasarkan Sistem Based Costing (ABC) lebih
Activity Based Costing akurat dan realistis
Pada Pabrik Kerupuk dibandingkan dengan sistem
“Langgeng” Gunung Pati biaya konvensional
5. Arbianto Analisis Penerapan Tingkat pengembalian yang
(2011) Sistem Activity Based dihasilkan melebihi tingkat
Costing (ABC) Untuk biaya modal. Sehingga pihak
Memperoleh Suatu Perusahaanmempertimbangkan
Harga Pokok Produksi perhitungan harga pokok
Yang Lebih Akurat Dan produksi dengan
Digunakan Sebagai Alat menggunakan metode Activity
Pengendalian Terhadap Based Costing (ABC) karena
Biaya CV. Asia Bumi harga tidak mengalami
Kelurahan Tangkerang pembebanan biaya produksi
Tengah Kecamatan yang terlalu besar.
Marpoyan Damai.
6. Dhania Analisis Penggunaan Menunjukkan bahwa tarif SPP
Anggarani Putri Metode Activity Based dengan perhitungan
(2011) Costing Sebagai menggunakan metode Activity
Alternatif Dalam Based Costing (ABC) yang
Menentukan Tarif SPP diberlakukan harga tidak
SMP-SMA Pada YPI terpaut jauh dengan metode
Nasima Semarang yang telah diterapkan Sekolah
Tahun 2010 Nasima.
7. Juliana Analisis Perbandingan Menunjukkan bahwa PT.
(2008) Penerapan Sistem Trijaya Tirta Dharma Bandar
Tradisional dan Sistem Lampung menggunakan
Activity Based Costing sistem tradisional tidak akurat
Pada Harga Pokok dan dibandingkan dengan
Produk Pada PT. Trijaya sistem ABC ternyata lebih
Tirta Dharma Bandar akurat.
Lampung

Tabel 2.2

Penelitian Terdahulu
40

2.9 Kerangka Pikir

Suatu perusahaan sangat membutuhkan perhitungan harga pokok produksi

yang efesien dan efektif. Perhitungan harga pokok produksi yang tepat akan

berujung pada penentuan harga jual produk yang tepat pula, sehingga perusahaan

memporoleh laba yang telah direncanakan sebelumnya secara maksimal. Dengan

menggunkan pendekatan biaya sebagai dasar penentuan harga jual. Dimana semua

biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan baik itu biaya produksi maupun biaya

nonproduksi akan diperhitungkan sebagai dasar penetapan harga.

Penentuan Harga Jual Steak Pada


Lotus Garden Cafe And Steak

Perhitungan Perusahaan Perhitungan Berdasarkan


Teori Akuntansi Biaya

Sistem Tradisional Sistem ABC

Perbandingan Harga Pokok Produksi

Berdasarkan Dua Pendekatan Biaya

Penentuan Harga Jual Steak


Berdasarkan ABC

Laba Yang Diharapkan

Gambar 2.3

Kerangka Pikir