Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada saat ini banyak kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam
belajar. Hal ini disebabkan karena proses belajar didalam kelas yang begitu-
begitu saja, sehingga mahasiswa merasa jenuh belajar. Oleh karena itu,
sekarang banyak inovasi dalam pembelajaran yang dilakukan oleh sekolah-
sekolah. Misalnya inovasi pembelajaran kuantum, kompetensi, kontekstual,
dan problem based learning. Untuk mengatasi kejenuhan dalam proses
belejar-mengajar dan meningkatkan kualitas diri siswa.

Salah satu inovasi dalam pembelajaran yaitu problem based learning,


problem based learning ini merupakan progam student center yang dimana
siswa belajar tentang subjek dalam konteks yang beraneka ragam, dan
masalah yang benar-benar terjadi (nyata). Tujuan dari problem based learning
ini sendiri adalah untuk menolong perkembangan pengetahuan siswa secara
fleksibel, efektif, dan terampil dalam memecahkan masalah.

Model Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran


dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik sehingga siswa
dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan
keterampilan yang lebih tinggi dan inquiry, memandirikan siswa dan
meningkatkan kepercayaan diri sendiri. Model ini bercirikan penggunaan
masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk
melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan
masalah serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting, dimana
tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai
keterampilan mengarahkan diri (Hosnan, 2014).

1
Model pembelajaran berbasis masalah ini menemukan akar
intelektualnya dalam karya John Dewey. Di dalam Democracy and Education
(1916), Dewey mendiskripsikan pandangan tentang pendidikan dengan
sekolah sebagai cermin masyarakat yang lebih besar dan kelas akan menjadi
laboratorium untuk penyelidikan dan pengentasan masalah kehidupan nyata.
Pedagogis Dewey mendorong guru untuk melibatkan peserta didik dalam
berbagai proyek berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki
berbagai masalah sosial dan intelektual penting.

Jika dilihat dari sudut pandang psikologi belajar, model pembelajaran


ini berdasarkan pada psikologi kognitif yang berakar dari asumsi bahwa
belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
Melalui model pembelajaran ini peserta didik dapat berkembang secara utuh,
artinya bukan hanya perkembangan kognitif, tetapi peserta didik juga akan
berkembang dalam bidang affektif dan psikomotorik secara otomatis melalui
masalah yang dihadapi. Berdasarkan uraian diatas kami akan memaparkan
hasil kajian pustaka mengenai Problem Based Learning yang kemudian
dituangkan dalam bentuk makalah yang berjudul “Pembelajaran Problem
Based Learning”.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana proses pembelajaran model Problem Based Learning ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Memahami proses pembelajaran model Problem Based Learing ?
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat memahami tentang definisi Problem Based Learning
b. Mahasiswa dapat memahami tentang tahap-tahap dalam Problem
Based Learning

2
c. Mahasiswa dapat memahami tentang penulisan scenario dalam
Problem Based Learning
d. Mahasiswa dapat memahami tentang peran partisipan dalam Problem
Based Learning
e. Mahasiswa dapat memahami tentang kelebihan dan kelemahan dalam
Problem Based Learning
f. Mahasiswa dapat memahami tentang evaluasi dalam Problem Based
Learning

D. Manfaat Penulisan
Mahasiswa dapat memahami tentang konsep dan proses metode pembelajaran
Problem Based Learning.

E. Sistematika Penulisan
Berdasarkan dari hasil penyusunan makalah ini, disini kelompok
membuat sistematika penulisan yang dimulai dari :

BAB I : PENDAHULUAN
Yang terdiri dari Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah,
Tujuan penulisan, Manfaat Penulisan, Sistematika Penulisan.
BAB II : TINJAUAN TEORITIS
Yang terdiri dari Definisi, Tahap-Tahap Dalam PBL,
Penulisan Skenario Dalam PBL, Peran Partisipan Dalam PBL,
Kelebihan Dan Kelemahan Dalam PBL, Evaluasi Dalam PBL.
BAB III : PENUTUP
Yang meliputi dari kesimpulan dan saran .

3
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi
Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu model
pembelajaran yang dapat menolong siswa untuk meningkatkan keterampilan
yang dibutuhkan pada pada era globalisasi saat ini. Problem Based Learning
(PBL) dikembangkan untuk pertama kali oleh Prof. Howard Barrows sekitar
tahun 1970-an dalam pembelajaran ilmu medis di McMaster University
Canada (Amir, 2009 ,h. 124). Model pembelajaran ini menyajikan suatu
masalah yang nyata bagi siswa sebagai awal pembelajaran kemudian
diselesaikan melalui penyelidikan dan diterapkan dengan menggunakan
pendekatan pemecahan masalah.

Beberapa definisi tentang Problem Based Learning (PBL) :

1. Menurut Duch (1995,h. 201), Problem Based Learning (PBL) merupakan


model pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar bagaimana
belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari
permasalahan dunia nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa
pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud.
2. Menurut Arends (Trianto, 2007,h. 68), Problem Based Learning (PBL)
merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa dihadapkan
pada masalah autentik (nyata) sehingga diharapkan mereka dapat
menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan
tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan
kepercayaan dirinya.
3. Menurut Glazer (2001,h.89 ), mengemukakan Problem Based Learning
merupakan suatu strategi pengajaran dimana siswa secara aktif
dihadapkan pada masalah kompleks dalam situasi yang nyata.

4
Dari beberapa uraian mengenai pengertian Problem Based Learning
dapat disimpulkan bahwa Problem Based Learning merupakan model
pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real
world) untuk memulai pembelajaran dan merupakan salah satu model
pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada
siswa. Problem Based Learning adalah pengembangan kurikulum dan proses
pembelajaran. Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-masalah yang
menuntut siswa mendapatkan pengetahuan yang penting, membuat mereka
mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta
kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan
pendekatan yang sistemik untuk memecahkan masalah atau tantangan yang
dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Model Problem Based Learning bercirikan penggunaan masalah
kehidupan nyata sebagai suatu yang harus dipelajari siswa. Dengan model
Problem Based Learning diharapkan siswa mendapatkan lebih banyak
kecakapan daripada pengetahuan yang dihafal. Mulai dari kecakapan
memecahkan masalah, kecakapan berpikir kritis, kecakapan bekerja dalam
kelompok, kecakapan interpersonal dan komunikasi, serta kecakapan
pencarian dan pengolahan informasi (Amir, 2007 h. 35).
Savery, Duffy, dan Thomas (1995) mengemukakan dua hal yang harus
dijadikan pedoman dalam menyajikan permasalahan. Pertama, permasalahan
harus sesuai dengan konsep dan prinsip yang akan dipelajari. Kedua,
permasalahan yang disajikan adalah permasalahan riil, artinya masalah itu
nyata ada dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa dalam Problem Based Learning
pembelajarannya lebih mengutamakan proses belajar, dimana tugas guru
harus memfokuskan diri untuk membantu siswa, mencapai keterampilan
mengarahkan diri. Guru dalam model ini berperan sebagai penyaji masalah,
penanya, mengadakan dialog, membantu menemukan masalah, dan pemberi
fasilitas pembelajaran. Selain itu, guru memberikan dukungan yang dapat

5
meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa. Model ini hanya
dapat terjadi jika guru dapat menciptakan lingkungan kelas yang terbuka dan
membimbing pertukaran gagasan.

B. Tahap-Tahap Dalam PBL


Pelaksanaan model Problem Based Learning terdiri dari 5 tahap
proses, yaitu :
1. Tahap pertama, adalah proses orientasi peserta didik pada masalah. Pada
tahap ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik
yang diperlukan, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas
pemecahan masalah, dan mengajukan masalah.
2. Tahap kedua, mengorganisasi peserta didik. Pada tahap ini guru membagi
peserta didik kedalam kelompok, membantu peserta didik mendefinisikan
dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah.
3. Tahap ketiga, membimbing penyelidikan individu maupun kelompok.
Pada tahap ini guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan
informasi yang dibutuhkan, melaksanakan eksperimen dan penyelidikan
untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
4. Tahap keempat, mengembangkan dan menyajikan hasil. Pada tahap ini
guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan
laporan, dokumentasi, atau model, dan membantu mereka berbagi tugas
dengan sesama temannya.
5. Tahap kelima, menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil
pemecahan masalah. Pada tahap ini guru membantu peserta didik untuk
melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses dan hasil penyelidikan
yang mereka lakukan. (Trianto, 2007 h. 70 )
Kelima tahap yang dilakukan dalam pelaksanaan model Problem
Based Learning ini selengkapnya dapat disimpulkan melalui tabel 2.1 yang
dapat dilihat di bawah ini :

6
Tahapan Pembelajaran Kegiatan Guru
Tahap 1 Guru menjelaskan tujuan
Orientasi peserta didik pembelajaran, menjelaskan logistik
pada masalah yang diperlukan, mengajukan
fenomena atau demonstrasi atau
cerita untuk memunculkan masalah,
memotivasi siswa untuk terlibat
dalam aktivitas pemecahan masalah.
Tahap 2 Guru membagi siswa ke dalam
Mengorganisasi peserta kelompok, membantu siswa
Didik mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar
yang berhubungan dengan masalah.
Tahap 3 Guru mendorong peserta didik untuk
Membimbing penyelidikan individu mengumpulkan
maupun kelompok informasi yang dibutuhkan,
melaksanakan eksperimen dan
penyelidikan untuk mendapatkan
penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap 4 Guru membantu siswa dalam
Mengembangkan dan merencanakan dan
menyajikan hasil menyiapkan laporan, dokumentasi,
atau model, dan
membantu mereka berbagi tugas
dengan sesama
temannya.
Tahap 5 Guru membantu siswa untuk
Menganalisis dan melakukan refleksi atau
mengevaluasi proses dan evaluasi terhadap proses dan hasil

7
hasil pemecahan masalah penyelidikan yang
mereka lakukan.
Tabel 2.1 Tahap-Tahap Pembelajaran Problem Based Learning

C. Penulisan Skenario Dalam PBL


1. Explanation problem
Tujuan dari skenario tipe ini yaitu memahami struktur dan suatu
mekanisme, biasanya dipakai pada tahun pertama.
2. Aplication problem
Tujuan dari skenario tipe ini merupakan aplikasi pengetahuan
dengan simulasi situasi praktek dengan memakai penugasan, mengukur
kompetensi.
3. Discussion problem
Tipe skenario ini yaitu dapat digunakan untuk mengerti berbagai
point masalah, dan mahasiswa diharapkan untuk dapat memecahkan
masalah yang disajikan.
4. Strategi problem
Tipe skenario ini mengharapkan mahasiswa untuk dapat berfikir
analisis dan memutuskan berdasarkan pengetahuan mereka dan dapat
mengerti hal pokok. Fokus strategi dalam skenario ini yaitu pertanyaan.
5. Multilevel problem
Tujuan dari skenario tipe ini yaitu untuk dapat mempelajari suatu
penyakit secara mendalam (Lisiswanti et al., 2011).
Adapun fungsi skenario dalam diskusi PBL yaitu:
a. Mengaktifkan prior knowledge (pengetahuan awal yang ada pada
mahasiswa).
b. Sebagai pemicu (trigger) pencapaian tujuan blok atau pembelajaran.
c. Untuk mendorong mahasiswa dalam kegiatan dan sebagai motivasi
belajar lebih lanjut.

8
d. Dapat merumuskan masalah serta dapat menghubungkan kenyataan
dengan pengetahuan (Lisiswanti et al., 2011

D. Peran Partisipan Dalam PBL


1. Peran Guru (Instruktur) dalam PBL
Guru mengidentifikasi sebuah masalah yang kompleks, menarik,
dan mengundang pertanyaan terbuka dari peserta didik. Sehingga peserta
didik tertarik, mau melakukan penelitian tentang hal tersebut, dan
membuat beragam solusi yang masuk akal bagi masalah tersebut.
Permasalahan yang disajikan harus terkait dengan konten pembelajaran.
Walaupun permasalahan tersebut tidak familiar dengan peserta didik, tapi
harus tetap relevan untuk digunakan di masa depan mereka.
Lakukan identifikasi masalah yang sesuai untuk pembelajaran dan
populasi peserta didik. Permasalahan harus dapat mengajarkan keahlian
baru yang dapat digunakan peserta didik apabila menghadapi masalah
mereka yang lebih sulit. Nyatakan masalah dalam format naratif yang
berisi rincian latar belakang, namun jangan masukkan terlalu banyak
informasi sehingga peserta didik dapat menggunakannya sebagai solusi
instan.
Kelompokkan peserta didik dengan pemetaan beragam level
kemampuannya supaya berhasil menciptakan dinamika kelompok. Cari
cara untuk menyatukan peserta didik dalam sebuah tim kolaboratif. Hal ini
dapat dicapai dengan mengidentifikasi kelebihan dan keterbatasan peserta
didik. Dan Anda harus selalu siap untuk memberikan dukungan
pembelajaran, karena Anda adalah fasilitator, pelatih, dan mentor bagi
peserta didik.
2. Peranan Peserta Didik dalam PBL
Selama pelaksanaan PBL, peserta didik berkolaborasi dalam
kelompok kecil untuk mengeksplorasi situasi permasalahan yang
diberikan. Sehingga peserta didik dapat mengkaji pengetahuan

9
kemampuan yang mereka miliki dan memutuskan bagaimana cara
menyelesaikan masalah dengan kedua hal tersebut. Berikut ini yang perlu
dilakukan peserta didik selama PBL:
a. Eksplorasi isu yang terkait permasalahan. Baca, diskusi, dan analisis
permasalahan
b. Catat apa yang anggota tim lain tau tentang masalah tersebut. Lakukan
curah pendapat.
c. Kembangkan dan narasikan permasalahan dalam bahasamu sendiri.
d. Buat daftar solusi yang memungkinkan bagi masalah tersebut. Daftar
dapat berisi ide, spekulasi dan hipotesis masalah.
e. Buat rencana tindakan dalam bentuk linimasa (timeline).
f. Buat daftar mengenai apa yang kelompokmu ketahui untuk
menyelesaikan masalah. Diskusikan sumber-sumber yang
memungkinkan digunakan untuk menyelesaikan masalah
g. Tuliskan laporan hasil pemecahan masalah berisi solusi dilengkapi
dengan dokumen pendukung.
h. Presentasikan hasil pemecahan masalahmu, sertai dengan teori dan
bukti-buktinya serta bagaimana proses kelompok mencapai solusi
tersebut.
i. Kaji ulang dan refeksikan kinerja dan penampilanmu dan
kelompokmu.

E. Kelebihan Dan Kelemahan Dalam PBL


1. Kelebihan
Sebagai suatu model pembelajaran, Problem Based Learning
memiliki beberapa kelebihan, diantaranya :
a. Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk
menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
b. Meningkatakan motivasi dan aktivitas pembelajaran siswa.

10
c. Membantu siswa dalam mentransfer pengetahuan siswa untuk
memahami masalah dunia nyata.
d. Membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan
bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
Disamping itu, PBM dapat mendorong siswa untuk melakukan
evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
e. Mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan
mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan
pengetahuan baru.
f. Memberikan kesemnpatan bagi siswa untuk mengaplikasikan
pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
g. Mengembangkan minat siswa untuk secaraterus menerus belajar
sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
h. Memudahkan siswa dalam menguasai konsep-konsep yang dipelajari
guna memecahkan masalah dunia. (Sanjaya, 2007 h.45)
2. Kelemahan
Disamping kebihan di atas, Problem based learning juga memiliki
kelemahan, diantaranya:
a. Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan,
maka mereka akan merasa enggan untuk mencobanya.
b. Untuk sebagian siswa beranggapan bahwa tanpa pemahaman
mengenai materi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah
mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang
sedang dipelajari, maka mereka akan belajar apa yang mereka ingin
pelajari. (Sanjaya, 2007 hlm 45)
Selain itu ada beberapa pendapat yang menjelaskan bahwa
beberapa Kelebihan dalam penerapan metode Pembelajaran Problem
Based Learning antara lain:

11
1) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memecahkan
masalah-masalah menurutcara-cara atau gaya belajar individu
masing-masing. Dengan cara mengetahui gaya belajar masing-
masing individu, kita diharapkan dapat membantu menyesuaikan
dengan pendekatan yang kitapakai dalam pembelajaran.
2) Pengembangan keterampilan berpikir kritis (critical thinking
skills).
3) Peserta didik dilatih untuk mengembangkan cara-cara menemukan
(discovery), bertanya(questioning), mengungkapkan (articulating),
menjelaskan atau mendeskripsikan (describing)
mempertimbangkan atau membuat pertimbangan (considering),
dan membuat keputusan (decision-making).
Dengan demikian, peserta didik menerapkan suatu proses kerja
melalui suatu situasi bermasalah yang mengandung masalah.
Selanjutnya adalah Kelemahan dalam penerapan metode
Pembelajaran Problem Based Learning antara lain:
a) Pembelajaran model Problem Based Learning memnbutuhksn
waktu yang lama.
b) Perlu ditunjang oleh buku yang dapat dijadikan pemahaman dalam
kegiatan belajar terutama membuat soal.
Dapat disimpulkan bahwa dari beberapa kelebihan dan kelemahan
model pembelajaran problem based learning ini di peroleh beberapa nilai
pokok yang harus dikembangkan oleh guru dalam menghidupkan suasana
pembelajaran ,disini guru tidak hanya berperan sebagai subjek utama dalam
pembelajaran tapi disisi lain guru harus melibatkan siswa agar kemampuan
berfikir kritis siswa dapat berkembang walaupun masih saja dapat di nilai
tidak semua materi pelajaran dapat di sajikan dalam bentuk permasalahn
untuk memperoleh penyelesaian tapi setidaknya dengan bekerja sama dapat
menumbuh kembnagkan minat dan bakat peserta didik secara tidak langsung.

12
F. Macam-Macam PBL Beserta Contohnya
1. Metode Ceramah (Demonstration)

Metode ceramah boleh dikatakan sebagai metode tradisional,


karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi
lisan antara guru dan peserta didik dalam interaksi edukatif. Metode
ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi
dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya
mengikuti secara pasif (Santoso, 2013: 92). Menurut Syah dalam
(Santoso, 2013: 92) metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya
metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi dan paling
efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai
dengan jangkauan daya beli dan paham bagi siswa.

a. Kelebihan Metode Ceramah


1) Guru mudah menguasai kelas

2) Mudah dilaksanakan

3) Dapat diikuti peserta didik dalam jumlah banyak

4) Guru mudah menerangkan bahan pelajaran dalam jumlah banyak

b. Kekurangan Metode Ceramah


1) Kegiatan pembelajaran menjadi verbalisme

2) Anak didik yang lebih tanggap dari sisi visual akan menjadi rugi
dan anak didik yang lebih tanggap audionya dapat lebih besar
menerimanya

3) Bila terlalu lama membosankan

4) Sukar mengontrol perolehan peserta didik

13
5) Menyebabkan anak didik pasif

2. Metode Tanya Jawab


Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk
pertanyaan yang harus dijawab (Djamarah dan Zain, 2010: 94). Metode
tanya jawab merupakan metode tertua yang banyak digunakan dalam
proses pendidikan.

a. Kelebihan Metode Tanya Jawab


1) Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa
2) Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir
dan daya ingat siswa
3) Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam
menjawab dan mengungkapkan pendapat
b. Kekurangan Metode Tanya Jawab
1) Siswa merasa takut untuk mengungkapkan pendapat
2) Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat
berpikir dan mudah dipahami siswa
3) Waktu sering banyak terbuang
4) Dalam jumlah siswa yang banyak, alokasi waktu mungkin tidak
cukup untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa
3. Metode Role Playing
Menurut Zaini (2008: 98) role playing adalah suatu aktivitas
pembelajaran terencana yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan
pendidikan yang spesifik. Role Playing atau bermain peran atau teknik
sosiodrama adalah suatu jenis teknik simulasi yang umumnya digunakan
untuk pendidikan sosial dan hubungan antarinsani (Hamalik, 2009: 199).
Teknik itu bertalian dengan studi kasus, tetapi kasus tersebut melibatkan
individu manusia dan tingkah laku mereka atau interaksi antar individu
tersebut dalam bentuk dramatisasi.

14
Bermain peran sebagai suatu metode pembelajaran bertujuan untuk
membantu siswa menemukan makna diri (jati diri) di dunia sosial dan
memecahkan dilema dengan bantuan kelompok.
Proses bermain peran ini dapat memberikan contoh kehidupan
perilaku manusia yang berguna sebagai sarana bagi siswa untuk:
a. menggali perasaannya
b. memperoleh inspirasi dan pemahaman yang berpengaruh terhadap
sikap, nilai, dan persepsinya
c. mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah,
dan
d. mendalami mata pelajaran dengan berbagai macam cara.
1) Kelebihan Metode Role Playing
Metode role playing memiliki beberapa kelebihan seperti
berikut ini (Djamarah dan Zain, 2010: 89):
a) Siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami dan
mengingat materi yang akan didramakan.
b) Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreasi
c) Dapat memunculkan bakat siswa dalam bidang seni dengan
bermain peran
d) Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina sebaik-
baiknya
e) Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi
tanggungjawab dengan sesamanya
f) Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar
mudah dipahami orang lain
2) Kelemahan Role Play
Berikut ini adalah kelemahan-kelemahan dalam
pembelajaran dengan menggunakan metode role playing
(Djamarah dan Zain, 2010: 89).

15
a) Siswa yang tidak ikut berpartisipasi dengan bermain peran
cenderung pasif
b) Alokasi yang dibutuhkan relatif lama, untuk persiapan dan
pelaksanaannya
c) Memerlukan tempat yang cukup luas
d) Menggangu kelas lain

G. Evaluasi Dalam PBL


Prosedur-prosedur penulisan harus di sesuaikan dengan tujuan
pengajaran yang ingin di capai dan hal yang peling utama bagi guru adalah
mendapatkan informasi penilaian yang raliabel dan valid, prosedur evaluasi
berbasis masalah ini tidak hanya cukup mengadakan tes tertulis saja tetapi
juga di adakan dalam bentuk checklist, reating scales, dan performance.

Untuk evaluasi dalam bentuk performance atau kemampuan ini dapat


di gunakan untuk mengukur potensi peserta didik untuk mengatasi masalah
maupun untuk mengukur kerja kelompok, evaluasi harus menghasilkan
definisi tentang masalah baru, mendiagnosanya dan mulai lagi proses
penyelesaian baru.

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendekatan PBM berkaitan dengan penggunaan kecerdasan dari dalam


diri individu yang berbeda dalam sebuah kelompok atau lingkungan untuk
memecahkan masalah yang bermakna, relevan, dan konteksual. Penerapan
PBM dalam pembelajaran menuntut kesiapan baik pihak guru yang harus
berperan sebagai seorang fasilitator sekaligus bagi pembimbing. Guru dituntut
dapat memahami secara utuh dari setiap bagian dan konsep PBM dan menjadi
penengah yang mampu merangsang kemampuan berpikir siswa. Siswa juga
harus siap terlibat teraktif secara pembelajaran siswa menyiapkan diri untuk
mengoptimalkan kemampuan berpikir melalui inquiry kolaboratif dan
kooperative dalam setiap tahap proses PBM.

Bagi para guru, pemahaman terhadap berbagai pendekatan yang


berpusat pada siswa, salah satunya pembelajaran berbasis masalah, perlu
ditingkatkan karena tantangan kehidupan masa sekarang dan masa yang akan
datang akan semakin kompleks dan menuntut setiap orang secara individual
mampu menghadapinya dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan yang
relevan.
B. Saran
PBM harus diterapkan dalam pembelajaran karena menuntut kesiapan
baik pihak guru sebagai seorang fasilitator sekaligus bagi pembimbing. Dan
guru diharuskan memiliki skill atau kemampuan dan kreatifitas untuk bisa
menjadi pendidik yang baik.

17