Anda di halaman 1dari 5

Cara Menerbitkan Buku di Penerbit

Mayor? Ada 10 Hal yang Harus


Kamu Perhatikan
Posted on 14 January 2015 by SPOILA.NET1 Comment

Ilustrasi Menerbitkan Buku. Sumber: alexemipublishing.com

Oleh Leyla Hanai


Menerbitkan naskah di penerbit mayor memang susah-susah gampang, terlebih untuk penulis pemula. Sebagai
seorang penulis yang sudah menerbitkan puluhan buku, saya juga mengalami masa-masa naskah ditolak dan
memulai dari nol. Salah satu mimpi saya adalah menerbitkan novel di Penerbit Gramedia Pustaka Utama, sebagai
penerbit nomor satu di Indonesia. Pemicunya adalah komentar seorang kerabat ketika novel saya baru terbit,
“Penerbitnya siapa? Gramedia, ya?” Padahal, novel saya waktu itu bukan diterbitkan oleh Gramedia. Setelah enam
tahun berjuang menerbitkan novel di GPU, akhirnya pertengahan tahun 2014 lalu, novel saya yang berjudul Dag,
Dig, Dugderan pun memasang logo Gramedia di sampul kanan atas.
Novel Dag, Dig, Dugderan (GPU, 2014)

Selain GPU, beberapa penerbit di tanah air juga sudah menerbitkan buku-buku saya, sebut saja: Gema Insani Press,
Zikrul Hakim, Asy Syaamil (sekarang sudah tidak ada), kelompok Mizan, kelompok Elex Media, Diva Press,
Salsabila-Pustaka Al Kautsar, Edu Penguin, Penerbit Moka (grup Wahyu Media), dan Pelangi Indonesia. Semuanya
adalah penerbit mayor, alias penerbit yang memasarkan bukunya ke seluruh toko buku di Indonesia tanpa
mengenakan biaya apa pun kepada penulis. Malah, penulis diberikan uang muka dan royalti atas naskah yang
diterbitkan. Banyak penulis pemula yang bertanya, bagaimana cara menerbitkan naskah di penerbit mayor? Tentu
saja itu adalah impian semua penulis, karena kita hanya menulis dan tak perlu mengeluarkan modal untuk
menerbitkan buku. Melalui Spoila saya akan bagikan tipsnya.
Novel Aku, Juliet (Moka, 2014)

1. Tulislah naskah yang berkualitas.

Sebuah naskah semestinya tidak hanya memuaskan penulisnya, tetapi juga memuaskan pembaca. Bagaimana cara
menulis naskah berkualitas? Caranya dengan banyak membaca. Dengan banyak membaca, kita bisa belajar banyak
dari buku-buku yang kita baca.

2. Banyak membaca buku yang sudah diterbitkan oleh penerbit mayor, terutama penerbit yang kamu
tuju.

Bila kamu ingin menerbitkan buku di GPU, beli dan baca buku-buku terbitan GPU. Pelajari kelebihan buku-buku
tersebut sehingga dapat diterbitkan oleh GPU. Begitu juga dengan buku-buku dari penerbit lain.

3. Jeli melihat peluang pasar.

Sebagaimana industri pada umumnya, industri buku pun memiliki tren tertentu. Tahun 2014 lalu adalah tren
novel romance, sehingga banyak penerbit yang mencari naskah novel romance. Tahun 2015 ini agaknya
disemarakkan oleh novel berbau horor, thriller, dan kriminal. Jika kamu bisa menulis genre apa pun, kemungkinan
untuk bertahan dalam industri perbukuan akan semakin besar. Kecuali bila kamu sudah memiliki penggemar, novel
apa pun yang kamu tulis akan diburu oleh mereka.
4. Jeli mengambil kesempatan.

Setiap tahun, ada beberapa penerbit yang mengadakan lomba menulis. Manfaatkan kesempatan itu untuk mengambil
perhatian penerbit, sebab di dalam lomba, hanya karya terbaiklah yang akan diterbitkan.

5. Bergabung dengan berbagai komunitas menulis.

Kalau kamu sering bergaul di sosial media seperti facebook, blog, twitter, dan sebagainya, kamu akan menemukan
berbagai komunitas penulis. Masuki dan serap ilmu yang dibagikan. Bergaullah yang baik dengan penulis-penulis
senior, sebab biasanya mereka sudah punya jaringan ke penerbit. Jangan bergaul hanya saat ada maunya. Mereka
akan membagikan informasi lowongan naskah dari penerbit, yang biasanya sudah diketahui lebih dulu.

6. Ketika mengirimkan naskah ke penerbit, cermati dan penuhi syarat dan ketentuannya.

Saat ini, penerbit sudah memberikan informasi tersebut di web atau blog mereka. Seringkali ada naskah yang tidak
dibaca hanya gara-gara penulis tidak memenuhi syarat-syarat teknis. Misalnya, ada penerbit yang hanya menerima
naskah hard copy, maka jangan sekali-sekali mengirim via surel, kecuali kamu berteman dekat dengan editornya.

7. Buat surat pengantar yang sopan dan baik di setiap kiriman naskahmu.

Bila naskah dapat dikirim melalui surel, tulis surat pengantar di badan surel. Jangan biarkan badan surel kosong
melompong. Naskah dikirim dalam bentuk lampiran, bukan di badan surel. Jangan menulis dengan huruf besar
semua, apalagi diakhiri dengan tanda seru, karena terkesan kamu sedang marah-marah. Percayalah, hal-hal kecil
semacam itu juga mempengaruhi penerbit untuk menerima naskahmu.

8. Aktif di media sosial, kalau perlu gunakan semua jenis media sosial yang ada: facebook, twitter,
instagram, blog, path, linkedin, dan lain-lain, untuk memperkenalkan dirimu ke khalayak.

Belakangan ini banyak penerbit yang melihat jumlah follower twitter atau banyaknya pengunjung blog seorang
calon penulis guna menyeleksi naskah mereka, karena diduga akan berkaitan dengan jumlah buku yang terjual
kelak. Walaupun hal itu tidak benar-benar menjamin, toh banyak juga public figure yang bukunya tidak laku,
setidaknya keaktifanmu di medsos itu berguna untuk meyakinkan penerbit.

9. Sabar menunggu jawaban naskahmu.

Bila penerbit memberikan waktu 3 bulan, tunggulah sampai 3 bulan. Jangan baru seminggu dikirim, kamu sudah
tanya kabar naskah. Apalagi kalau setiap jam, setiap menit, setiap detik kamu meneror penerbit dengan pertanyaan
yang sama. Jangan mengirimkan naskah yang sama kepada beberapa penerbit berbeda. Jika 3 bulan berlalu dan
kamu belum mendapatkan jawaban, jangan sungkan untuk menanyakannya kepada penerbit. Jika tak ada jawaban,
segera buat surat penarikan naskah, dan kirimkan naskahmu ke penerbit lain. Setidaknya, bila kelak penerbit itu
menghubungimu untuk menerbitkan naskahmu, padahal naskahmu sudah diterbitkan penerbit lain, kamu bisa
menunjukkan surat penarikan naskah tersebut.

10. Tetap semangat saat naskah ditolak, karena naskah ditolak bukan berarti naskahmu tidak bagus.
Kadang ada faktor lain berkaitan dengan tren pasar yang berubah dan sudah tidak sesuai dengan naskahmu, faktor
kebangkrutan penerbit (dengan kata lain, penerbit akan bangkrut sehingga tidak menerbitkan naskah baru), adanya
pergantian editor di mana editor yang menerima naskahmu itu keluar dari pekerjaannya dan digantikan oleh editor
baru yang tidak tahu bahwa kamu sudah mengirim naskah, naskahmu terselip, dan hal-hal “aneh” lainnya yang bisa
terjadi di luar perkiraan.

Perlu diketahui bahwa proses penerbitan buku di penerbit mayor tidaklah instan, tidak seperti di
penerbit indieatau self publishing. Penerbit mayor harus menyiapkan dana yang cukup untuk menerbitkan satu
naskah, padahal ada ratusan naskah yang menunggu diterbitkan. Dari proses seleksi hingga proses terbit bisa
memakan waktu antara 3 bulan sampai 2 tahun (berdasarkan pengalaman saya). Hal ini berbeda jauh bila kita
menerbitkan buku secara indie, yang biaya ditanggung penulis, dalam waktu seminggu pun buku bisa langsung
terbit. Mulai sekarang, belajarlah menjadi penulis yang sabar jika naskahmu ingin diterbitkan oleh penerbit mayor.

Sudah siap mengirimkan naskah ke penerbit mayor? Segera selesaikan naskahmu dan bidik penerbit yang kamu
sasar! [Spoila]

i Leyla Hana adalah penulis Novel Aku, Juliet (Penerbit Moka, 2014), Dag, Dig, Dugderan (Gramedia Pustaka
Utama, 2014), dan Brisbane (DAR! Mizan)