Anda di halaman 1dari 55

Tugas 9

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

VALIDITAS, REABILITAS DAN PRAKTIKALITAS


BAHAN AJAR CETAK

Oleh
RISKA WAHYUNI
15175036

DOSEN :
Prof. Dr. Festiyed, M.S

PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN FISIKA


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat

dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Pengembangan

Bahan Ajar mengenai validitas, praktikalitas, efektivitas, dan reabilitas bahan ajar

cetak. Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis banyak dibantu oleh berbagai

pihak terutama penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing

Prof. Dr. Festiyed, MS.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan, baik dari segi

materi maupun penulisan. Oleh karena itu, penulis mohon maaf atas kekurangan

tersebut dan mengharapkan masukan untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga

makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Padang , Desember 2015

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL...............................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
A. Latar belakang ......................................................................................................... 1
B. Rumusan masalah ................................................................................................... 2
C. Tujuan penulisan ..................................................................................................... 3
D. Manfaat Penulisan ................................................................................................... 3
BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................................. 4
A. Bahan Ajar Cetak .................................................................................................... 4
B. Modul ...................................................................................................................... 5
1. Pengertian dan Karakteristik Modul ................................................................... 5
2. Pembelajaran Menggunakan Modul ................................................................... 8
3. Elemen Mutu Modul ......................................................................................... 10
4. Prinsip Penulisan Modul ................................................................................... 13
C. Validasi ................................................................................................................. 16
1. Validitas logis ................................................................................................... 17
2. Validitas empiris ............................................................................................... 19
D. Praktikalitas........................................................................................................... 20
1. Uji Praktikalitas Oleh Guru............................................................................... 21
2. Uji praktikalitas oleh peserta didik ................................................................... 22
E. Efektivitas ............................................................................................................. 23
F. Reliabilitas ............................................................................................................ 25
BAB III PEMBAHASAN ................................................................................................. 28
A. Matriks Pengembangan Angket Validasi .............................................................. 28
B. Matriks Pengembangan Angket Praktikalitas ....................................................... 34
C. Efektivitas Bahan Ajar .......................................................................................... 37
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 38
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 38
D. Saran ..................................................................................................................... 38

ii
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 39

iii
DAFTAR TABEL

1. Kategori ketercapaian indikator ........................................................................ 20


2. Kategori validitas perangkat pembelajaran ....................................................... 20
3. Kategori ketercapaian indikator ........................................................................ 22
4. Kategori Praktikalitas ........................................................................................ 22
5. Matriks Pengembangan Instrumen Validasi Modul .......................................... 31
6. Matriks Pengembangan Angket Praktikalitas ................................................... 34

iv
DAFTAR LAMPIRAN

1Lembar Validasi Modul Fluida ....................................................................................... 41


2Lembar Praktikalitas Modul Fluida(Angket Respon Guru) ........................................... 44
3 Lembar Praktikalitas Modul Fluida(Angket Respon Peserta Didik) ............................. 47

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Salah satu kompetensi yang perlu dimiliki seorang pejabat fungsional
Pengembang Teknologi Pembelajaran adalah mengembangkan bahan ajar sebagai
bagian dari tugas dan pekerjaannya di instansi masing-masing. Bahan ajar ini
perlu dikembangkan karena merupakan bagian yang tidak terpisah dalam suatu
rangkain proses pembelajaran, sehingga keberadaannya sangat diperlukan baik
oleh sasaran (pengguna) baik guru dan siswa, maupun instruktur dan peserta
pelatihan.
Keberadaan bahan ajar merupakan aspek yang penting sebagai penunjang
keberhasilan dalam pembelajaran. Soegiranto dalam Oni (2013) mengungkapkan
bahwa “Bahan ajar adalah bahan atau materi yang disusun oleh guru secara
sistematis yang digunakan peserta didik (siswa) dalam pembelajaran”. Pengertian
bahan ajar lainnya adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara
lengkap dan sistematis berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang digunakan
guru dan siswa dalam proses pembelajaran; merupakan informasi, alat dan teks
yang diperlukan guru /instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi
pembelajaran. Hal ini senada dengan pernyataan oleh Depdiknas (2008) bahwa
“Bahan ajar merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah.
Melalui bahan ajar guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran
dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam belajar”. Bahan yang dimaksud
bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis atau dapat berupa bahan
ajar cetak atau bahan ajar noncetak.

1
2

Allah berfirman dalam Q.S Ali Imran ayat 37 :

Artinya : Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang


baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan
Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di
mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana
kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi
Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya
tanpa hisab.

Bahan ajar bersifat sistematis artinya disusun secara urut, mengikuti proses
pengembangan sistem, sehingga memudahkan siswa belajar. Dalam
mengembangkan bahan ajar tentu banyak hal yang harus diperhatikan guru atau
pendidik sesuai dengan prosedur pengembangan bahan ajar itu sendiri agar bahan
ajar yang dihasilkan nantinya bisa merubah perilaku belajar siswa atau peserta
didik. Salah satu bahan ajar yang dapat dikembangkan adalah bahan ajar berupa
modul. Modul merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari
secara mandiri oleh peserta pembelajaran. Dalam pengembangan modul,
diperlukan kevalidan, kepraktisan, kefektifitasan sebelum diterapkan kepada
peserta didik. dan setelah diterapkan diperlukan reliabilitasnya untuk melihat
keajegan modul tersebut. maka dari itu kita perlu mengetahu bagaimana cara
menentukan validitas, praktikalitas, efektifitas dan reliabilitas modul yang akan
dikembangkan.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini
adalah :
1. Bagaimana cara menentukan validitas bahan ajar?
2. Bagaimana cara menentukan praktikalitas bahan ajar?
3

3. Bagaimana cara menentukan efektivitas bahan ajar?


4. Bagaimana cara menentukan efektivitas bahan ajar?

C. Tujuan penulisan
Tujuan dari studi khusus ini ada 3 yaitu:
1. Untuk mengetahui cara menentukan validitas bahan ajar .
2. Untuk mengetahui cara menentukan praktikalitas bahan ajar.
3. Untuk mengetahui cara menentukan efektivitas bahan ajar.

D. Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan dari makalah ini adalah :
1. Bagi pembaca dapat dijadikan pengalaman dan bekal ilmu pengetahuan.
2. Bagi mahasiswa dapat membantu memahami cara menentukan validitas,
praktikalitas, dan efektivitas bahan ajar.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Bahan Ajar Cetak


Bahan ajar atau materi pembelajaran adalah segala hal yang digunakan oleh
para guru atau para siswa untuk memudahkan proses pembelajaran. Bahan ajar
bisa berupa kaset, video, CD-Room, kamus, buku bacaan, buku kerja, atau
fotokopi latihan soal. Bahan juga bisa berupa koran, paket makanan, foto,
perbincangan langsung dengan mendatangkan penutur asli, instruksi-instruksi
yang diberikan oleh guru, tugas tertulis atau kartu atau juga diskusi antar siswa
(Akhmad Sudrajat, 2008).
Dan E. Mulyasa (2006) menjelaskan bahan ajar atau materi pembelajaran
secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah
ditentukan. Bahan ajar memiliki posisi amat penting dalam pembelajaran, yakni
sebagai representasi (wakil) dari penjelasan guru di depan kelas. Keterangan-
keterangan guru, uraian-uraian yang harus disampaikan guru, dan informasi yang
harus disajikan guru dihimpun di dalam bahan ajar. Dengan demikian, guru juga
akan dapat mengurangi kegiatannya menjelaskan pelajaran, memiliki banyak
waktu untuk membimbing siswa dalam belajar atau membelajarkan siswa.
Berdasarkan teknologi yang digunakan, Depdiknas (2008) mengelompokkan
bahan ajar menjadi empat kategori, yaitu bahan ajar cetak (printed) antara lain
handout, buku, modul, lembar kegiatan siswa, brosur, leaflet, wallchart,
foto/gambar, dan model/maket. Bahan ajar dengar (audio) antara lain kaset, radio,
piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar ( audio
visual) seperti video compact disk, dan film. Bahan ajar multimedia interaktif
(interactive teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction),
compact disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif dan bahan ajar berbasis
web (web based learning material)
Bahan ajar cetak dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk. Jika bahan ajar
cetak tersusun secara baik maka bahan ajar akan mendatangkan beberapa

4
5

keuntungan seperti yang dikemukakan oleh Steffen Peter Ballstaedt dalam


Bandono (2009) yaitu:
1. Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan
bagi seorang guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana
yang sedang dipelajari.
2. Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit.
3. Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah.
4. Susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi
individu.
5. Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca di mana saja.
6. Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan
aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa
7. Bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai
besar
8. Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri
Menurut Bandono (2009) penyusunan bahan ajar cetak memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
1. Susunan tampilan
2. Bahasa yang mudah
3. Menguji pemahaman
4. Stimulan
5. Kemudahan dibaca
6. Materi instruksional

B. Modul
1. Pengertian dan Karakteristik Modul
Modul merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari
secara mandiri oleh peserta pembelajaran. Modul disebut juga media untuk
belajar mandiri karena di dalamnya telah dilengkapi petunjuk untuk belajar
sendiri. Artinya, pembaca dapat melakukan kegiatan belajar tanpa kehadiran
pengajar secara langsung. Bahasa, pola, dan sifat kelengkapan lainnya yang
6

terdapat dalam modul ini diatur sehingga ia seolah-olah merupakan “bahasa


pengajar” atau bahasa guru yang sedang memberikan pengajaran kepada
murid-muridnya. Maka dari itulah, media ini sering disebut bahan
instruksional mandiri. Pengajar tidak secara langsung memberi pelajaran atau
mengajarkan sesuatu kepada para murid-muridnya dengan tatap muka, tetapi
cukup dengan modul-modul ini. (Depdiknas 2008)
Pada Depdiknas (2008) Modul merupakan alat atau sarana pembelajaran
yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang
dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang
diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya. Sebuah modul bisa
dikatakan baik dan menarik apabila terdapat karakteristik sebagai berikut.
a. Self Instructional; yaitu melalui modul tersebut seseorang atau
peserta belajar mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung
pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter self instructional, maka
dalam modul harus;
1) berisi tujuan yang dirumuskan dengan jelas;
2) berisi materi pembelajaran yang dikemas ke dalam unit-unit
kecil/ spesifik sehingga memudahkan belajar secara tuntas;
3) menyediakan contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan
pemaparan materi pembelajaran;
4) menampilkan soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang
memungkinkan pengguna memberikan respon dan mengukur
tingkat penguasa- annya;
5) kontekstual yaitu materi-materi yang disajikan terkait dengan
suasana atau konteks tugas dan lingkungan penggunanya;
6) menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif;
7) terdapat rangkuman materi pembelajaran;
8) terdapat instrumen penilaian/assessment, yang memungkinkan
penggunaan diklat melakukan ‘self assessment’;
9) terdapat instrumen yang dapat digunakan penggunanya
mengukur atau mengevaluasi tingkat penguasaan materi;
7

10) terdapat umpan balik atas penilaian, sehingga penggunanya


mengetahui tingkat penguasaan materi; dan
11) tersedia informasi tentang rujukan/pengayaan/referensi yang
mendukung materi pembelajaran dimaksud.
b. Self Contained; yaitu seluruh materi pembelajaran dari satu unit
kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam
satu modul secara utuh. Tujuan dari konsep ini adalah memberikan
kesempatan pembelajar mempelajari materi pembelajaran yang
tuntas, karena materi dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh.
Jika harus dilakukan pembagian atau pemisahan materi dari satu unit
kompetensi harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan
keluasan kompetensi yang harus dikuasai.
c. Stand Alone (berdiri sendiri); yaitu modul yang dikembangkan tidak
tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-
sama dengan media pembelajaran lain. Dengan menggunakan
modul, pebelajar tidak tergantung dan harus menggunakan media
yang lain untuk mempelajari dan atau mengerjakan tugas pada
modul tersebut. Jika masih menggunakan dan bergantung pada
media lain selain modul yang digunakan, maka media tersebut tidak
dikategorikan sebagai media yang berdiri sendiri.
d. Adaptive; modul hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi
terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika
modul dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta fleksibel digunakan. Dengan memperhatikan
percepatan perkembangan ilmu dan teknologi pengembangan modul
multimedia hendaknya tetap “up to date”. Modul yang adaptif adalah
jika isi materi pembelajaran dapat digunakan sampai dengan kurun
waktu tertentu.
e. User Friendly; modul hendaknya bersahabat dengan pemakainya.
Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat
membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan
8

pemakai dalam merespon, mengakses sesuai dengan keinginan.


Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti serta
menggunakan istilah yang umum digunakan merupakan salah satu
bentuk user friendly.

2. Pembelajaran Menggunakan Modul


Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses komunikasi yang
diwujudkan melalui kegiatan penyampaian informasi kepada peserta didik.
Informasi yang disampikan dapat berupa pengetahuan, keahlian, skill, ide,
pengalaman, dan sebagainya. Informasi tersebut biasanya dikemas sebagai
satu kesatuan yaitu bahan ajar (teaching material). Bahan ajar merupakan
seperangkat materi/substansi pelajaran yang disusun secara sistematis,
menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik
dalam kegiatan pembelajaran. Dengan adanya bahan ajar memungkinkan
peserta didik mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara
runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua
kompetensi secara utuh dan terpadu. Bahan ajar disusun dengan tujuan; (1)
membantu peserta didik dalam mempelajari sesuatu; (2) menyediakan
berbagai jenis pilihan bahan ajar; (3) memudahkan pendidik dalam
melaksanakan pembelajaran; serta (4) agar kegiatan pembelajaran menjadi
lebih menarik. (Depdiknas, 2008)
Pembelajaran dengan modul adalah pendekatan pembelajaran mandiri
yang berfokuskan penguasaan kompetensi dari bahan kajian yang dipelajari
peserta didik dengan waktu tertentu sesuai dengan potensi dan kondisinya.
Sistem belajar mandiri adalah cara belajar yang lebih menitikberatkan pada
peran otonomi belajar peserta didik. Belajar mandiri adalah suatu proses di
mana individu mengambil inisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain
untuk mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri; merumuskan/menentukan
tujuan belajarnya sendiri; mengidentifikasi sumber-sumber belajar; memilih
dan melaksanakan strategi belajarnya; dan mengevaluasi hasil belajarnya
sendiri.
9

Belajar mandiri adalah cara belajar yang memberikan derajat kebe-


basan, tanggung jawab dan kewenangan lebih besar kepada peserta didik.
Peserta didik mendapatkan bantuan bimbingan dari guru/tutor atau orang lain,
tapi bukan berarti harus bergantung kepada mereka. Belajar mandiri dapat
dipandang sebagai proses atau produk. Sebagai proses, belajar mandiri
mengandung makna sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan di mana
peserta didik diberikan kemandirian yang relatif lebih besar dalam kegiatan
pembelajaran. Belajar mandiri sebagai produk mengandung makna bahwa
setelah mengikuti pembelajaran tertentu peserta didik menjadi seorang
pebelajar mandiri.
Implikasi utama kegiatan belajar mandiri adalah perlunya mengopti-
malkan sumber belajar dengan tetap memberikan peluang otonomi yang lebih
besar kepada peserta didik dalam mengendalikan kegiatan belajarnya. Peran
guru/tutor bergeser dari pemberi informasi menjadi fasilitator belajar dengan
menyediakan berbagai sumber belajar yang dibutuhkan, merangsang sema-
ngat belajar, memberi peluang untuk menguji/mempraktikkan hasil belajar-
nya, memberikan umpan balik tentang perkembangan belajar, dan membantu
bahwa apa yang telah dipelajari akan berguna dalam kehidupannya. Untuk
itulah diperlukan modul sebagai sumber belajar utama dalam kegiatan belajar
mandiri.
Pembelajaran menggunakan modul bermanfaat untuk hal-hal sebagai
berikut: (1) meningkatkan efektivitas pembelajaran tanpa harus melalui tatap
muka secara teratur karena kondisi geografis, sosial ekonomi, dan situasi
masyarakat; (2) menentukan dan menetapkan waktu belajar yang lebih sesuai
dengan kebutuhan dan perkembangan belajar peserta didik; (3) secara tegas
mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik secara bertahap melalui
kriteria yang telah ditetapkan dalam modul; (4) mengetahui kelemahan atau
kompetensi yang belum dicapai peserta didik berdasarkan kriteria yang
ditetapkan dalam modul sehingga tutor dapat memutuskan dan membantu
peserta didik untuk memperbaiki belajarnya serta melakukan remediasi.
10

Tujuan pembelajaran menggunakan modul untuk mengurangi keragaman


kecepatan belajar peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri. Pelaksanaan
pembelajaran modul lebih banyak melibatkan peran peserta didik secara
individual dibandingkan dengan tutor. Tutor sebagai fasilitator kegiatan
belajar, hanya membantu peserta didik memahami tujuan pembelajaran,
pengorganisasian materi pelajaran, melakukan evaluasi, serta menyiapkan
dokumen.
Penggunaan modul didasarkan pada fakta bahwa jika peserta didik
diberikan waktu dan kondisi belajar memadai maka akan menguasai suatu
kompetensi secara tuntas. Bila peserta didik tidak memperoleh cukup waktu
dan kondisi memadai, maka ketuntasan pelajaran akan dipengaruhi oleh
derajat pembelajaran. Kesuksesan belajar menggunakan modul tergantung
pada kriteria peserta didik didukung oleh pembelajaran tutorial. Kriteria
tersebut meliputi ketekunan, waktu untuk belajar, kadar pembelajaran, mutu
kegiatan pembelajaran, dan kemampuan memahami petunjuk dalam modul.

3. Elemen Mutu Modul


Di dalam Suaidinmath (2010), untuk menghasilkan modul pembelajaran
yang mampu memerankan fungsi dan perannya dalam pembelajaran yang
efektif, modul perlu dirancang dan dikembangkan dengan memperhatikan
beberapa elemen yang mensyaratkannya, yaitu: format, organisasi, daya tarik,
ukuran huruf, spasi kosong, dan konsistensi.

a. Format
Beberapa yang harus diperhatikan dalam format modul adalah
sebagai berikut :
1) Gunakan format kolom (tunggal atau multi) yang proporsional.
Penggunaan kolom tunggal atau multi harus sesuai dengan
bentuk dan ukuruan kertas yang digunakan. Jika menggunakan
kolom multi, hendaknya jarak dan perbandingan antar kolom
secara proporsional
11

2) Gunakan format kertas (vertikal atau horisontal) yang tepat.


Penggunaan format kertas secara vertikal atau horizontal harus
memperhatikan tata letak dan format pengetikan.
3) Gunakan tanda-tanda (icon) yang mudah ditangkap dan
bertujuan untuk menekankan pada hal-hal yang dianggap
penting atau khusus. Tanda dapat berupa gambar, cetak tebal,
cetak miring atau lainnya.

b. Organisasi
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam hal organisasi modul
adalah sebagai berikut :
1) Tampilkan peta/bagan yang menggambarkan cakupan materi
yang akan dibahas dalam modul.
2) Organisasikan isi materi pembelajaran dengan urutan dan
susunan yang sistematis, sehingga memudahkan peserta didik
memahami materi pembelajaran.
3) Susun dan tempatkan naskah, gambar dan ilustrasi sedemikian
rupa sehingga informasi mudah mengerti oleh peserta didik.
4) Organisasikan antar bab, antar unit dan antar paragraf dengan
susunan dan alur yang memudahkan peserta didik
memahaminya.
5) Organisasikan antar judul, subjudul dan uraian yang mudah
diikuti oleh peserta didik.

c. Daya Tarik
Daya tarik modul dapat ditempatkan di beberapa bagian seperti:
1) Bagian sampul (cover) depan, dengan mengkombinasikan
warna, gambar (ilustrasi), bentuk dan ukuran huruf yang serasi.
2) Bagian isi modul dengan menempatkan rangsangan-rangsangan
berupa gambar atau ilustrasi, pencetakan huruf tebal, miring,
garis bawah atau warna.
12

3) Tugas dan latihan dikemas sedemikian rupa sehingga menarik.

d. Bentuk dan Ukuran Huruf


Beberapa hal yang harus diperhatikan pada bentuk dan ukuran huruf
adalah sebagai berikut :
1) Gunakan bentuk dan ukuran huruf yang mudah dibaca sesuai
dengan karakteristik umum peserta didik.
2) Gunakan perbandingan huruf yang proporsional antar judul, sub
judul dan isi naskah.
3) Hindari penggunaan huruf kapital untuk seluruh teks, karena
dapat membuat proses membaca menjadi sulit.

e. Ruang (spasi kosong)


Gunakan spasi atau ruang kosong tanpa naskah atau gambar untuk
menambah kontras penampilan modul. Spasi kosong dapat berfungsi
untuk menambahkan catatan penting dan memberikan kesempatan jeda
kepada peserta didik/peserta didik. Gunakan dan tempatkan spasi kosong
tersebut secara proporsional. Penempatan ruang kosong dapat dilakukan
di beberapa tempat seperti:
1) Ruangan sekitar judul bab dan subbab.
2) Batas tepi (marjin); batas tepi yang luas memaksa perhatian
peserta didik untuk masuk ke tengah-tengah halaman.
3) Spasi antarkolom; semakin lebar kolomnya semakin luas spasi
diantaranya.
4) Pergantian antar paragraf dan dimulai dengan huruf kapital.
5) Pergantian antar bab atau bagian.

f. Konsisten
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan modul
adalah sebagai berikut :
1) Gunakan bentuk dan huruf secara konsisten dari halam ke
halaman. Usahakan agar tidak menggabungkan beberapa
13

cetakan dengan bentuk dan ukuran huruf yang terlalu banyak


variasi.
2) Gunakan jarak spasi konsisten. Jarak antar judul dengan baris
pertama, antara judul dengan teks utama. Jarak baris atau spasi
yang tidak sama sering dianggap buruk, tidak rapih.
3) Gunakan tata letak pengetikan yang konsisten, baik pola
pengetikan maupun margin/batas-batas pengetikan

4. Prinsip Penulisan Modul


Modul merupakan media pembelajaran yang dapat berfungsi sama
dengan pengajar/pelatih pada pembelajaran tatap muka. Oleh karena itu,
penulisan modul perlu didasarkan pada prinsip-prinsip belajar dan bagaimana
pengajar/pelatih mengajar dan peserta didik menerima pelajaran. Berikut ini
dijelaskan prinsip-prinsip penulisan modul atas dasar prinsip belajar.
Belajar merupakan proses perubahan perilaku yang disebabkan oleh
adanya rangsangan/stimulus dari lingkungan. Terkait hal tersebut, penulisan
modul dilakukan menggunakan prinsip-prinsip antara lain sebagai berikut.
a. Peserta belajar perlu diberikan secara jelas hasil belajar yang
menjadi tujuan pembelajaran sehingga mereka dapat menyiapkan
harapan dan dapat menimbang untuk diri sendiri apakah mereka
telah mencapai tujuan tersebut atau belum mencapainya pada saat
melakukan pembelajaran menggunakan modul.
b. Peserta belajar perlu diuji untuk dapat menentukan apakah mereka
telah mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu, pada penulisan
modul, tes perlu dipadukan ke dalam pembelajaran supaya dapat
memeriksa ketercapaian tujuan pembelajaran dan memberikan
umpan balik yang sesuai.
c. Bahan ajar perlu diurutkan sedemikian rupa sehingga memudahkan
peserta didik untuk mempelajarinya. Urutan bahan ajar tersebut
adalah dari mudah ke sulit, dari yang diketahui ke yang tidak
diketahui, dari pengetahuan ke penerapan.
14

d. Peserta didik perlu disediakan umpan balik sehingga mereka dapat


memantau proses belajar dan mendapatkan perbaikan bilamana
diperlukan. Misalnya dengan memberikan kriteria atas hasil tes yang
dilakukan secara mandiri.
Belajar adalah proses yang melibatkan penggunaan memori, motivasi,
dan berfikir. Banyaknya hal yang dapat dipelajari sesuai dengan kapasitas
pemrosesan, kedalaman pemrosesan, banyaknya upaya yang dilakukan oleh
peserta didik dalam menerima dan mengolah informasi. Terkait dengan hal
tersebut, implikasi penting prinsip belajar terhadap penulisan modul antara
lain sebagai berikut:
a. Rancang strategi untuk menarik perhatian sehingga peserta didik
dapat memahami informasi yang disajikan. Misalnya, dalam modul,
informasi penting diberi ilustrasi yang menarik perhatian dengan
memberikan warna, ukuran teks, atau jenis teks yang menarik.
b. Supaya peserta didik memfokuskan perhatian pada hal-hal yang
menjadi tujuan pembelajaran pada modul, tujuan tersebut perlu
diinformasikan secara jelas dan tegas pada peserta didik.
Informasikan pula pentingnya tujuan tersebut untuk memotivasi.
c. Hubungkan bahan ajar yang merupakan informasi baru bagi peserta
didik dengan pengetahuan yang telah dikuasai sebelumnya oleh
peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan advance
organizer untuk mengaktifkan struktur kognitif. Gunakan juga
pertanyaan-pertanyaan untuk mengaktifkan struktur koginitif yang
relevan.
d. Informasi perlu dipenggal-penggal untuk memudahkan pemrosesan
dalam ingatan pengguna modul. Sajikan 5 sampai 9 butir informasi
dalam satu kegiatan belajar. Jika terdapat banyak sekali butir
informasi, sajikan informasi tersebut dalam bentuk peta informasi.
e. Untuk memfasilitasi peserta didik memproses informasi secara
mendalam, peserta didik perlu didorong supaya mengembangkan
15

peta informasi pada saat pembelajaran atau sebagai kegiatan


merangkum setelah pembela- jaran.
f. Supaya peserta didik memproses informasi secara mendalam, peserta
didik perlu disiapkan latihan yang memerlukan penerapan, analisis,
sintesis, dan evaluasi. Kegiatan tersebut akan mentransfer secara
efektif informasi kedalam memori jangka panjang.
g. Penyajian modul harus dapat memberikan motivasi untuk belajar.
Modul dikembangkan agar menarik perhatian penggunanya selama
mempelajari-nya. Dalam modul harus tersedia informasi mengenai
mafaat pelajaran bagi yang mempelajarinya. Hal ini dapat dilakukan
dengan menjelaskan bagaimana materi pelajaran tersebut dapat
digunakan dalam situasi nyata. Urutan materi diupayakan menjamin
keberhasilan, misalnya dengan mengurutkan pelajaran dari mudah ke
sulit, dari yang tidak diketahui ke yang diketahui, dan dari konkrit ke
abstrak. Di samping itu, modul perlu menyediakan umpan balik
terhadap hasil belajar. Peserta belajar ingin tahu bagaimana kinerja
belajar mereka. Peserta didik juga didorong untuk menerapkan yang
dipelajari kedalam situasi kehidupan nyata. Peserta didik menyukai
keterkaitan antara yang dipelajari dengan menerapkan informasi
kedalam masalah nyata yang dihadapi.
Prinsip lain yang perlu diperhatikan dalam penulisan modul adalah
bahwa proses belajar berlangsung secara aktif dengan menafsirkan informasi
atau bahan ajar dalam konteks penerapan langsung. Terkait dengan hal
tersebut, penulisan modul dilakukan dengan prinsip berikut:
a. Meminta peserta didik menerapkan yang dipelajari ke dalam situasi
praktis merupakan proses aktif. Hal seperti ini akan memfasilitasi
penafsiran peserta didik dan keterkaitan antara yang dipelajari dengan
situasi nyata. Dalam modul, hal ini dapat dilaksanakan dengan
memberikan tugas berupa menerapkan yang dipelajari ke dalam
pekerjaan atau situasi sehari-hari.
16

b. Peserta didik difasilitasi untuk mengembangkan pengetahuan mereka


sendiri bukan menerima pengetahuan saja. Hal ini difasilitasi oleh
pembelajaran yang interaktif. Interaksi pembelajar dengan pembelajar
lain serta interkasi dengan pengajar dapat dilakukan melalui startegi dan
media lain, misalnya melalui jaringan internet, korespondensi, buletin
cetak, atau pertemuan tatap muka sebagai pendukung belajar
menggunakan modul.
c. Peserta didik perlu didorong bekerja sama dalam mempelajari modul.
Bekerja dengan peserta lain dalam suatu kelompok akan memberikan
pengalaman nyata akan yang bermanfaat. Hal ini dapat dilaksanakan
pada saat tutorial tatap muka yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan.
Meskipun demikian, topik dan prosedur pelaksanaan kegiatan dapat saja
dituliskan dalam modul.
d. Peserta didik dibolehkan untuk memilih tujuan pembelajaran. Dalam
penulisan modul, hal ini dapat diterapkan bilamana urutan tujuan
pembelajaran seiring dengan urutan materi pembelajaran, sehingga
penggunanya dapat memilah dan memilih materi pembelajaran sesuai
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
e. Peserta didik perlu diberi kesempatan menuangkan pengalaman
belajarnya. Peserta didik dapat diminta untuk membuat semacam jurnal
belajar. Pada modul perlu dicantumkan penugasan penulisan jurnal
belajar, termasuk format dan tata cara penulisannya.
f. Belajar perlu dibuat bermakna bagi peserta didik. Bahan ajar perlu
mencakup contoh-contoh yang terkait dengan peserta didik sehingga
mereka dapat memaknai informasi yang disajikan. Tugas-tugas perlu
memungkinkan peserta didik memilih kegiatan yang bermakna bagi
mereka.

C. Validasi
Harun Rasyid dan Mansur (2007) mengatakan bahwa validitas didefenisikan
sebagai ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan fungsi ukurnya. Tes hanya
17

dapat melakukan fungsinya dengan cermat kalau ada “sesuatu” yang diukurnya.
Sedangkan Suharsimi Arikunto (2010) menjelaskan bahwa validitas adalah
keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen bersangkutan yang mampu
mengukur apa yang akan diukur.
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan
data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk
mengukur apa yang seharusnya diukur. Dengan menggunakan instrumen yang
valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan
menjadi valid dan reliabel (Sugiyono, 2011).
Menurut Harun Rasyid dan Mansur (2007) validitas dapat dibagi menurut
berbagai tipe, tergantung pada pendekatannya. Secara garis besar ada dua macam
validitas yaitu validitas logis dan validitas empiris.
1. Validitas logis
Istilah validitas logis mengandung kata logis berasal dari kata logika
yang berarti penalaran. Dengan makna demikian maka validitas logis untuk
sebuah instrumen evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrumen
yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid
tersebut dipandang terpenuhi karena instrumen yang bersangkutan sudah
dirancang secara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada. Sebagaimana
pelaksanaan tugas yang lain misalnya membuat karangan, jika penulis sudah
mengikuti aturan mengarang, tentu secara logis karangannya sudah baik.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka instrumen yang sudah disusun
berdasarkan teori penyusunan instrumen, secara logis sudah valid. Dari
penjelasan tersebut kita dapat memahami bahwa validitas logis dapat dicapai
apabila instrumen disusun mengikuti ketentuan yang ada. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa validitas logis tidak perlu di uji kondisinya tetapi
langsung diperoleh sesudah instrumen tersebut selesai di susun.
Ada dua macam validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrumen
yaitu: validitas isi dan validitas konstrak.
18

a. Content validity (validitas isi)


Content validity (validitas isi) suatu tes harus menjawab pertanyaan
“sejauh mana butir-butir tes itu mencakup keseluruhan kawasan yang
ingin diukur oleh tes tersebut”. Sejauh mana suatu tes memiliki content
validity ditetapkan menurut analisis rasional terhadap isi tes, yang
penilaiannya didasarkan atas pertimbangan subjektif individual. Aleks
Maryunis (2007) mengatakan validitas isi biasanya dikaitkan dengan
kisi-kisi alat pengumpul data yang menggambarkan ruang lingkup dan
aspek tingkah laku yang diukur. Dengan kisi-kisi instrumen itu maka
pengujian validitas dapat dilakukan dengan mudah dan sistematis
(Sugiyono,2011).
Sebuah tes di katakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan
khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang
diberikan. Oleh karena materi yang diajarkan tertera pada kurikulum
maka validitas isi sering juga disebut validitas kurikuler. Validitas isi
dapat diusahakan tercapainya sejak saat penyusunan dengan cara
memerinci materi kurikulum atau materi buku pelajaran. Bagaimana cara
memerinci materi untuk kepentingan diperolehnya validitas isi sebuah tes
akan dibicarakan secara lebih mendalam pada waktu menjelaskan cara
penyusunan tes.

b. Construct validity ( validitas konstruk)


Construct validity ( validitas konstruk) menunjukkan sejauh mana
suatu tes mengukur konstruk teori yang menjadi dasar penyusunan tes
itu. Menurut Sugiyono (2007) untuk menguji validitas konstruk, dapat
digunakan pendapat dari ahli (judgment experts). Dalam hal ini setelah
instrumen dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan
berlandaskan teori tertentu, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan
ahli. Para ahli diminta pendapatnya tentang instrumen yang telah disusun
itu. Mungkin para ahli akan memberi keputusan : instrumen dapat
digunakan tanpa perbaikan, ada perbaikan, dan mungkin dirombak total.
19

Sebuah tes di katakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-


butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir
seperti yang disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Dengan kata
lain jika butir-butir soal mengukur aspek berpikir tersebut sudah sesuai
dengan aspek berpikir yang menjadi tujuan instruksional

2. Validitas empiris
Istilah validitas empiris memuat kata empiris yang artinya pengalaman.
Sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah di
uji dari pengalaman. Sebagai contoh sehari-hari, seseorang dapat diakui jujur
oleh masyarakat apabila dalam pengalaman dapat di buktikan bahwa orang
tersebut memang jujur. Dari penjelasan dan contoh-contoh tersebut diketahui
bahwa validitas empiris tidak dapat diperoleh hanya dengan menyusun
instrumen berdasarkan ketentuan seperti halnya validitas logis, tetapi harus
dibuktikan melalui pengalaman.
Validitas empiris terdapat 2 macam, yaitu validitas empiris dan validitas
kongruen.
a. Validitas prediktif
Validitas prediktif merupakan validitas tes berdasarkan kriteria.
Umumnya tes yang akan diuji validitasnya disebut prediktor. Statistik
yang diperlukan untuk pengujian validitas ini adalah koefisien korelasi
antara skorn tes sebagai prediktor dan skor suatu kriteria.
b. Validitas kongruen
Validitas kongruen pada dasarnya dalam menyusun dan
mengembangkan instrumen psikologi. Untuk keperluan pengujian
validitasnya, instrumen yang mau diuji validitas konkruennya harus
diambil dari kelompok subjek yang sama dengan instrumen yang telah
teruji validitasnya
Analisis validitas yang menggunakan skala likert 1-4 dengan
ketentuan seperti tabel 1.
20

Tabel 1. Kategori ketercapaian indikator


Skor Kategori Persentase ketercapaian indikator
1 Tidak setuju 0 – 25
2 Kurang setuju 26 – 50
3 Setuju 51 – 75
4 Sangat setuju 76 – 100

Skor yang telah diperoleh dicari persentasenya menggunakan persamaan


𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑣𝑎𝑙𝑖𝑑𝑖𝑡𝑎𝑠 = 𝑥 100 .....................(1)
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚

Kategori validitas perangkat pembelajaran berdasarkan nilai akhir


yang didapatkan dalam skala 0 – 100 dapat dilihat dalam tabel 2.

Tabel 2. Kategori validitas perangkat pembelajaran


Interval Kategori
0 – 20 Sangat tidak valid
21 – 40 Tidak valid
41 – 60 Kurang valid
61 – 80 Valid
81 - 100 Sangat valid
(Riduan, 2009)

D. Praktikalitas
Dalam kamus besar bahasa Indonesia kepraktisan diartikan sebagai suatu
yang bersifat praktis atau efisien. Menurut KBBI, praktikalitas berarti bahwa
bersifat praktis, yaitu mudah dan senang memakainya. Kepraktisan yang
dimaksud adalah kepraktisan dalam bidang pendidikan (bahan ajar, instrumen,
maupun produk yang lainnya). Praktikalitas berkaitan dengan kemudahan dan
kemajuan yang didapat siswa dengan menggunakan bahan ajar, instrumen,
maupun produk lainnya. Kepraktisan dilakukan melalui uji keterlaksanaan bahan
ajar dalam proses pembelajaran sebagai uji pengembangan (Trisdyanto.2009)
Mengukur tingkat kepraktisan dilihat dari apakah guru dan pakar-pakar
lainnya mempertimbangkan bahwa materi mudah dan dapat digunakan oleh guru
dan siswa (Nieeveen, 1999). Dalam penelitian pengembangan, perangkat yang
dikembangkan dikatakan praktis jika pada ahli dan praktisi menyatakan bahwa
21

secara teoritis model dapat digunakan di lapangan dan tingkat keterlaksanaannya


termasuk kategori baik. Suatu produk dikatakan praktis apabila orang yang
menggunakan produk tersebut menganggap bahwa produk dapat digunakan
(usable).
Untuk mengukur tingkat kepraktisan yang berkaitan dengan pengembangan
instrument berupa materi pembelajaran, Nieveen (1999) berpendapat bahwa untuk
mengukur kepraktisannya dengan melihat apakah guru (dan pakar-pakar lainnya)
mempertimbangkan bahwa materi mudah dan dapat digunakan oleh guru dan
siswa. Khusus untuk pengembangan model yang dikembangkan dalam penelitian
pengembangan, model tersebut dikatakan praktis jika para ahli dan praktisi
menyatakan bahwa secara teoritis bahwa model dapat diterapkan di lapangan dan
tingkat keterlaksanaannya model tersebut termasuk kategori “baik”. Istilah “baik”
ini masih memerlukan indikator-indikator yang diperlukan untuk menentunkan
tingkat “kebaikan” dari keterlaksanaan model yang di kembangkan.
Berkaitan dengan kepraktisan di tinjau dari apakah guru dapat melaksanakan
pembelajaran di kelas. Biasanya peneliti dan observer mengamati aktivitas yang
dilakukan guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Misalnya, melihat kegiatan guru
dalam mempersiapkan siswa untuk belajar, memeriksa pekerjaan siswa, dll.
Uji Praktikalitas dilakukan dengan langkah-langkah:
1. Uji Praktikalitas Oleh Guru
a. Peneliti memberikan bahan ajar cetak atau non cetak yang telah
di validasi dan direvisi kepada guru.
b. Peneliti memberi pengarahan tentang cara pengisian angket
kepada guru.
c. Peneliti memberikan petunjuk singkat bahan ajar cetak ataupun
non cetak yang telah dikembangkan.
d. Guru menggunakan bahan ajar berdasarkan petunjuk yang sudah
ada dalam pembelajaran.
e. Peneliti meminta guru untuk mengisi angket praktikalitas bahan
ajar cetak atu pun non cetak yang dikembangkan.
22

2. Uji praktikalitas oleh peserta didik


a. Peneliti memberikan pengarahan cara pengisian angket kepada
peserta didik.
b. Peneliti membagikan bahan ajar cetak ataupun non cetak yang
dikembangkan kepada masing-masing peserta didik.
c. Peneliti memberikan petunjuk singkat penggunaan bahan ajar
cetak ataupun non cetak yang dikembangkan kepada peserta
didik.
d. Peseta didik menggunakan bahan ajar yang telah dikembangkan
di dalam proses pembelajaran.
e. Peneliti meminta peserta didik untuk mengisi angket
praktikalitas bahan ajar cetak atau non cetak (Kustiawan M,
2012).
Pada uji coba praktikalitas sama seperti uji coba validitas. Uji coba
praktikalitas dapat dilakukan uji coba terbatas dengan jumlah 3-5 orang guru dan
20-30 orang siswa yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda-beda atau
heterogen (cara pengambilan subjek menggunakan teknik random sampling).
Analisis praktikalitas yang menggunakan skala likert 1-4 dengan ketentuan
seperti tabel
Tabel 3. Kategori ketercapaian indikator
Skor Kategori Persentase ketercapaian indikator
1 Tidak setuju 0 – 25
2 Kurang setuju 26 – 50
3 Setuju 51 – 75
4 Sangat setuju 76 – 100

Skor yang telah diperoleh dicari persentasenya menggunakan persamaan


𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 = 𝑥 100 .....................(2)
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚

Kategori praktikalitas dapat dilihat pada tabel 4


Tabel 4. Kategori Praktikalitas
No Interval (%) Kriteria
1 81 – 100 Sangat praktis
2 61 - 80 Praktis
23

No Interval (%) Kriteria


3 41- 60 Cukup praktis
4 21 - 40 Kurang praktis
5 0 - 20 Tidak praktis
(Riduwan:2009).

E. Efektivitas
Efektifitas berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti berhasil,
tepat, atau manjur. Efektifitas menunjukkan tingkat keberhasilan pencapaian suatu
tujuan. Jadi, suatu upaya dikatakan efektif apabila upaya tersebut ampu mencapai
tujuannya. KBBI (2008) mendefinisikan efektif dengan “ada efeknya (akibatnya,
pengaruhnya, kesannya)” atau “dapat membawa hasil, berguna, berhasil guna
(usaha, tindakan)” dan efektifitas diartikan “keadaan pengaruh; hal berkesan” atau
“keberhasilan (usaha, tindakan)”.
Menurut E Mulyasa (2007), suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif
apabila seluruh peserta didik dilibatkan secara aktif baik mental, fisik, maupun
sosial. Dari defenisi efektifitas diatas dapat disimpulkan bahwa efektifitas adalah
suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas, dan
waktu) yang telah dicapai oleh manajemen yang mana target tersebut sudah
ditentukan terlebih dahulu. Produk disebut efektif apabila prosuk tersebut
memberikan hasil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh pengembang.
Aspek efektifitas yang diamati dalam proses pembelajaran menggunakan
perangkat pembelajaran adalah untuk melihat aktivitas belajar peserta didik
meggunakan perangkat yang dikembangkan.
Suatu produk dikatakan efektif apabila adanya pengaruh atau akibat, bisa
diartikan sebagai kegiatan yang bisa memberikan hasil memuaskan setelah diberi
perlakuan. Efektivitas merupakan pengaruh atau dampak yang merupakan hasil
dari kebijakan atau langkah yang diambil, yang tentunya diambil dari keinginan-
keinginan untuk mencapai target dengan melihat kenyataan yang ada di lapangan.
Efektifitas produk dipusatkan untuk mengevaluasi apakah bahan ajar dapat
digunakan sesuai dengan harapan dan efektif untuk meningkatkan kualitas dan
prestasi belajar peserta didik.
24

Efektivitas bahan ajar dilakukan dalam uji terbatas. Untuk mengukur


keefektifan digunakan tes hasil belajar. Instrumen ini digunakan untuk
memperoleh data hasil belajar peserta didik pada pembelajaran dengan
menggunakan bahan ajar yang telah disusun. Penilaian tes hasil belajar didasarkan
pada kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian, kemudian
disesuaikan dengan keseluruhan isi bahan ajar yang telah disusun. Tes hasil
belajar peserta didik bertujuan untuk memperoleh data tentang penguasaan materi
yang telah disusun yang dilaksanakan di akhir uji coba.
Hal ini menggunakan desain eksperimen (before-after) yaitu
membandingkan keadaan sebelum dan sesudah menggunakan bahan ajar.
Sehingga model eksperimen dapat digambarkan seperti Gambar 1.

𝑂1 X 𝑂2
Gambar 1. Desain Eksperimen (before-after). O1 nilai sebelum treatment dan
O2 nilai sesudah treatment

Berdasarkan Gambar 1, yang dimaksud yaitu O1 sebagai treatment awal


yang mana nilai sebelum diberi perlakuan penggunaan bahan ajar. Pada O2
treatment akhir yaitu hasil yang dilihat setelah dilakukan penggunaan bahan
ajar (Sugiyono, 2012). Penggunaan bahan ajar cetak dikatakan efektif dalam
pembelajaran jika hasil belajar peserta didik setelah menggunakan bahan ajar
lebih baik dari sebelumnya.
Analisis perbandingan berkorelasi digunakan untuk melihat efektifitas
penggunaaan bahan ajar pada pembelajaran. Uji statistik yang digunakan adalah
pre-test dan post-test one group desain. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono
(2012) yang menyatakan bahwa “Untuk membuktikan signifikansi perbedaan
sistem kerja lama dan baru perlu diuji secara statistik dengan t-tes berkorelasi
(related)”. Rumus yang digunakan adalah:
25

X1  X1
t .....................(3)
S1
2
S  S  S
2

 2  2r  1  2 
n1 n2  n  n 
 1  2 
Keterangan :
̅
X1 = Rata-rata hasil belajar peserta didik sebelum menggunakan bahan ajar
̅ 2 = Rata-rata hasil belajar peserta didik setelah menggunakan bahan ajar
X
𝑆1= Simpangan baku hasil belajar sebelum menggunakan bahan ajar
𝑆2 = Simpangan baku hasil setelah menggunakan bahan ajar
𝑆1 2 = Varians hasil belajar peserta didik sebelum menggunakan bahan ajar
𝑆2 2 = Varians hasil belajar peserta didik setelah menggunakan bahan ajar
𝑟 = Korelasi hasil belajar peserta didik sebelum dan setelah menggunakan
bahan ajar
Korelasi antara hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan bahan ajar
cetak (r) didapat dari persamaan :
Nx1 x2  x1 x2 
rx1x2 
Nx  x1  Nx 2  x2  
.....................(4)
2 2 2 2
1

Keterangan:
𝑟𝑥1 𝑥2 = Korelasi antara hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan
bahan ajar
𝑋1 = Skor sebelum menggunakan bahan ajar
𝑋2 = Skor sesudah menggunakan bahan ajar
𝑁 = Jumlah peserta tes
Jika diperoleh nilai thitung > ttabel maka penggunaan modul efektif dalam
pembelajaran dan sebaliknya jika thitung < ttabel maka penggunaan modul belum
efektif dalam pembelajaran.

F. Reliabilitas
Kata reliabillitas dalam bahasa Indonesia di ambil dari reliability dalam
bahasa inggris, berasal dari kata, reliable yang artinya dapat di percaya.
26

“reliabilitas” merupakan kata benda, sedangkan “reliable” merupakan kata sifat


atau keadaan.
Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai
asal kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut
sebagai pengukuran yang reliabel (reliable). Walaupun reliabilitas mempunyai
berbagai arti seperti kepercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan dan
konsistensi, namun ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah
sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya.
Reliabilitas berhubungan dengan akurasi instrumen dalam mengukur apa
yang diukur, kecermatan hasil ukur dan seberapa akurat seandainya dilakukan
pengukuran ulang. Reliabilitas sebagai konsistensi pengamatan yang diperoleh
dari pencatatan berulang baik pada satu subjek maupun sejumlah subjek.
Kerlinger memberikan batasan tentang reliabilitas yaitu :
1. Reliabilitas dicapai apabila kita mengukur himpunan objek yang sama
berulang kali dengan instrumen yang sama atau serupa akan memberikan
hasil yang sama atau serupa.
2. Reliabilitas dicapai apabila ukuran yang diperoleh dari suatu instrumen
pengukur adalah ukuran ‘’ yang sebenarnya’’ untuk sifat yang diukur.
3. Reliabilitas dicapai dengan meminimalkan galat pengukuran yang
terdapat pada suatu instrumen pengukur.
Jadi, dari berbagai definisi reliabilitas dapat disimpulkan bahwa reliabilitas
berhubungan dengan kemampuan alat ukur untuk melakukan pengukuran secara
cermat. Reliabilitas merupakan akurasi dan presisi yang dihasilkan oleh alat ukur
dalam melakukan pengukuran.
Menurut Sukardi (2008) koefisien reliabilitas dapat dipengaruhi oleh waktu
penyelenggaraan tes-retes. Interval penyelenggaraan yang terlalu dekat atau
terlalu jauh, akan mempengaruhi koefisien reliabilitas. Faktor-faktor lain yang
juga mempengaruhi reliabilitas instrument evaluasi diantaranya sebagai berikut :
1. Panjang tes, semakin panjang suatu tes evaluasi, semakin banyak jumlah
item materi pembelajaran diukur.
27

2. Penyebaran skor, koefisien reliabilitas secara langsung dipengaruhi oleh


bentuk sebaran skor dalam kelompok siswa yang di ukur. Semakin tinggi
sebaran, semakin tinggi estimasi koefisien reliabel.
3. Kesulitan tes, tes normatif yang terlalu mudah atau terlalu sulit untuk
siswa, cenderung menghasilkan skor reliabilitas rendah.
4. Objektifitas, yang dimaksud dengan objektif yaitu derajat dimana siswa
dengan kompetensi sama, mencapai hasil yang sama
BAB III
PEMBAHASAN

A. Matriks Kisi-kisi Validitas dan Praktikalitas Modul


Tabel Matriks Kisi-kisi Validitas dan Praktikalitas Modul
Elemen mutu Indikator Sub indikator V P
Format kolom Penggunaan format kolom yang proporsional 
Penggunaan format kertas (vertikal/horizontal) harus memperhatikan tata letak dan
Format kertas 
format pengetikan
Format
Penggunaan icon (tanda-tanda) untuk menekankan hal-hal yang dianggap penting
Format icon 
atau khusus (cetak tebal, cetak miring)
Format isi Modul memiliki petunjuk untuk siswa 
Tampilan Tampilan peta/bagan yang menggambarkan cakupan materi yang akan dibahas

peta/bagan dalam modul
Organisasikan isi materi pada modul menggunakan urutan dan susunan yang

sistematis, sehingga memudahkan peserta didik memahami materi
Organisasikan isi modul agar memudahkan guru menghubungkan materi
Organisasi 
pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari
Organisasikan isi modul agar memudahkan guru dalam menyampaikan fakta,

Isi konsep, prinsip dan prosedur materi pembelajaran
Organisasikan isi modul yang dirancang memudahkan guru dalam pemanfaatan

alokasi waktu pembelajaran
Topik disesuaikan dengan tuntunan KI, KD dan indikator yang dirumuskan 
Fakta yang disajikan sesuai dengan topik 
Konsep yang disajikan tidak bermakna ganda 

28
29

Elemen mutu Indikator Sub indikator V P


Materi yang diberikan sesuai dengan materi suhu dan kalor untuk pencapaian KI

dan KD
Contoh contoh yang diberikan up to date dan kontekstual
Ilustrasi pada modul berbentuk komik telah sesuai dengan memperjelas konsep
Membuat materi pokok dan rinciannya 
Modul dapat digunakan untuk perorangan dan kelompok 
Uraian Materi sesuai dengan topik suhu dan kalor
Uraian yang diberikan dalam modul berbentuk komik
Mempermudah siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran
Informasi yang disampaikan jelas
Susunan naskah, gambar, ilustrasi sedemikian rupa sehingga informasi mudah

mengerti oleh peserta didik
Susunan/tata letak Susunan gambar dan ilustrasi yang terdapat dalam modul dapat membantu guru

untuk memudahkan siswa dalam mengingat materi pembelajaran
Modul sistematis (judul, KI, KD, indikator materi dan latihan) 
Organisasi antar bab dan unit bab dengan susunan dan alur yang memudahkan

peserta didik memahaminya
Organisasi antar
Organisasi antar paragraf dengan susunan dan alur yang memudahkan peserta
bab 
didik memahaminya
Organisasi antar judul, sub judul dan uraian yang mudah diikuti oleh peserta didik 
Sampul modul menggambarkan ciri khas materi 
Sampul modul mengkombinasikan warna,gambar,bentuk dan ukuran huruf yang

serasi
Daya tarik Sampul
Sampul modul menarik perhatian peserta didik sehingga senang menggunakannya 
Mempunyai identitas (judul materi)

30

Elemen mutu Indikator Sub indikator V P


Isi modul menempatkan rangsangan-rangsangan berupa gambar atau ilustrasi,

pencetakan huruf tebal, miring, garis bawah atau warna
Contoh yang diberikan memotivasi peserta didik untuk belajar lebih lanjut 
Uraian materi dan contoh yang diberikan relevan dan menarik perhatian siswa 
Isi modul dapat menarik perhatian peserta didik sehingga memotivasi peserta

didik untuk berpartisipasi aktif
Penyajian materi pembelajaran menggunakan bahsa sederhana yang dekat dengan

kehidupan sehari-hari
Isi Kalimat yang digunakan mudah dipahami siswa 
Modul berbentuk komik ini memiliki pemilihan warna yang menarik 
Modul berbentuk komik ini memiliki cerita dan penampilan yang menarik 
Jenis tulisan yang digunakan pada modul berbentuk komik ini menarik dan jelas 
Modul yang digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan kesempatan kepada

siswa untuk menyelesaikan pembelajaran sesuai dengan kecepatan masing-masing
Mendorong siswa belajar/bekerja secara efektif 
Bahasa yang digunakan sudah komunikatif 
Bahasa yang digunakan memotivasi peserta didik untuk melakukan pekerjaan 
Tugas dan latihan Tugas dan latihan dikemas dengan menarik 
Modul menggunakan bentuk dan ukuran huruf yang mudah dibaca sesuai dengan

karakteristik umum peserta didik
Ukuran huruf Modul menggunakan perbandingan huruf yang proporsional antar judul, sub judul

Bentuk dan dan isi naskah
ukuran huruf Ukuran huruf yang digunakan pada modul berbentuk komik ini jelas dan tepat 
Penggunaan huruf kapital sesuai dengan ketentuan yang berlaku sehingga
Penggunaan huruf
memudahkan peserta didik dalam mamahami isi modul 
kapital
31

Elemen mutu Indikator Sub indikator V P


Ruang antar judul Ruang antar judul bab dan sub bab yang digunakan secara proporsional sehingga

Ruang (spasi bab dan sub bab memudahkan untuk memahami isi modul
kosong) Batas tepi marginyang digunakan secara proporsional sehingga memudahkan
Batas tepi (margin) 
untuk memahami isi modul
Huruf Modul menggunakan bentuk dan ukuran huruf yang konsisten 
Spasi Modul menggunakan spasi yang konsisten 
Modul menggunakan tata letak pengetikan yang konsisten 
Konsisten
Tata letak Konsisten dalam menggunakan simbol/lambang 
pengetikan Konsisten dalam menggunakan istilah yang menggambarkan konsep 
Konsisten dalam menggunakan simbol /lambang 

B. Matriks Pengembangan Angket Validasi


Dalam pengembangan angket validasi modul, pernyataan-pernyataan di buat berdasarkan indikator yang ada pada teori. Dalam
makalah ini, validasi logis modul di lihat dari aspek kelayakan isi, kelayakan konstruksi dan komponen bahasa serta dari aspek
karakteristik modul tersebut yaitu:
1. Self Instructional
2. Self Contained
3. Stand Alone
4. Adaptive
5. User Friendly

Tabel 5. Matriks Pengembangan Instrumen Validasi Modul


Pernyataan lembar validasi
Karakteristik modul
Kelayakan isi Kelayakan Konstruk Komponen Bahasa
Self Instructional 1) Contoh yang diberikan 1) Bahasa yang digunakan sudah
32

Pernyataan lembar validasi


Karakteristik modul
Kelayakan isi Kelayakan Konstruk Komponen Bahasa
peserta didik mampu memotivasi peserta didik komunikatif
membelajarkan diri untuk belajar lebih lanjut 2) Bahasa yang digunakan
sendiri, tidak tergantung memotivasi peserta didik untuk
pada pihak lain melakukan pekerjaan

Self Contained 1) Topik yang disajikan 1) Modul sistematis (judul,


seluruh materi dalam bahan ajar sudah KI, KD, indikator materi
pembelajaran dari satu sesuai dengan tuntunan KI, dan latihan)
unit kompetensi atau sub KD dan indikator yang 2) Mempunyai identitas
kompetensi yang dirumuskan (judul materi)
dipelajari terdapat di 2) Fakta yang disajikan 3) Membuat materi pokok
dalam satu modul secara sesuai dengan topik dan rinciannya
utuh 3) Materi yang diberikan
sesuai dengan materi suhu
dan kalor untuk
pencapaian KI dan KD
4) Uraian Materi sesuai
dengan topik Tekanan
Hidrostatis
33

Pernyataan lembar validasi


Karakteristik modul
Kelayakan isi Kelayakan Konstruk Komponen Bahasa
Stand Alone 1) Modul dapat digunakan
tidak tergantung pada untuk perorangan dan
media lain atau tidak kelompok
harus digunakan 2) Mendorong siswa
bersama-sama dengan belajar/bekerja secara
media pembelajaran lain efektif
3) Ilustrasi pada modul
berbasis model pbl telah
sesuai dengan memperjelas
konsep
Adaptive Contoh contoh yang
memiliki daya adaptif diberikan up to date dan
yang tinggi terhadap kontekstual
perkembangan ilmu dan
teknologi
User Friendly 1) Penyajian materi 1) Bahasa yang digunakan tidak
instruksi dan paparan pembelajaran ambigu/ bermakna ganda
informasi yang tampil menggunakan bahasa 2) Informasi yang disampaikan
bersifat membantu dan sederhana yang dekat jelas
bersahabat dengan dengan kehidupan 3) Konsisten dalam menggunakan
pemakainya sehari-hari istilah yang menggambarkan
2) Konsisten dalam konsep
menggunakan 4) Konsisten dalam menggunakan
simbol/lambang simbol /lambang
3) Kalimat yang digunakan
mudah dipahami siswa
34

Pernyataan lembar validasi


Karakteristik modul
Kelayakan isi Kelayakan Konstruk Komponen Bahasa
4) Kalimat yang digunakan
mudah dipahami siswa
5) Jenis tulisan yang
digunakan pada modul
ini menarik dan jelas
6) Modul berbasis model
pbl ini memiliki
pemilihan warna yang
menarik
7) Modul berbasis model
pbl ini memiliki cerita
dan penampilan yang
menarik

C. Matriks Pengembangan Angket Praktikalitas


Dalam pengembangan angket praktikalitas modul, pernyataan-pernyataan di buat berdasarkan indikator yang ada pada teori.
Dalam makalah ini, praktikalitas modul di lihat dari aspek elemen mutu modul.

Tabel 6. Matriks Pengembangan Angket Praktikalitas


Sub indikator Instrumen
Penggunaan format kolom yang proporsional Modul mengguanakan format kolom yang proporsional
Penggunaan format kertas (vertikal/horizontal) harus Modul menggunakan format kertas (vertikal/horizontal) dengan
memperhatikan tata letak dan format pengetikan memperhatikan tata letak dan format pengetikan
35

Sub indikator Instrumen


Penggunaan icon (tanda-tanda) untuk menekankan hal-hal Modul menggunakan icon (tanda-tanda) untuk menekankan hal-hal
yang dianggap penting atau khusus (cetak tebal, cetak yang dianggap penting atau khusus (cetak tebal, cetak miring)
miring)
Tampilan peta/bagan yang menggambarkan cakupan Tampilan peta/bagan yang menggambarkan cakupan materi yang akan
materi yang akan dibahas dalam modul dibahas dalam modul
Organisasikan isi materi pada modul menggunakan urutan Isi materi pada modul menggunakan urutan dan susunan yang
dan susunan yang sistematis, sehingga sistematis, sehingga memudahkan peserta didik memahami materi
memudahkan peserta didik memahami materi
Organisasikan isi modul agar memudahkan guru Isi modul memudahkan guru menghubungkan materi pembelajaran
menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan dengan kehidupan sehari-hari
sehari-hari
Organisasikan isi modul agar memudahkan guru dalam Isi modul memudahkan guru dalam menyampaikan fakta, konsep,
menyampaikan fakta, konsep, prinsip dan prosedur materi prinsip dan prosedur materi pembelajaran
pembelajaran
Organisasikan isi modul yang dirancang memudahkan Isi modul yang dirancang memudahkan guru dalam pemanfaatan alokasi
guru dalam pemanfaatan alokasi waktu pembelajaran waktu pembelajaran
Susunan naskah, gambar, ilustrasi sedemikian rupa Susunan naskah, gambar, ilustrasi sedemikian rupa sehingga informasi
sehingga informasi mudah mengerti oleh peserta didik mudah mengerti oleh peserta didik
Susunan gambar dan ilustrasi yang terdapat dalam modul Susunan gambar dan ilustrasi yang terdapat dalam modul dapat
dapat membantu guru untuk memudahkan siswa dalam membantu guru untuk memudahkan siswa dalam mengingat materi
mengingat materi pembelajaran pembelajaran
Organisasi antar bab dan unit bab dengan susunan dan alur Susunan dan alur antar bab dan unit bab memudahkan peserta didik
yang memudahkan peserta didik memahaminya memahami modul
Organisasi antar paragraf dengan susunan dan alur yang Susunan dan alur antar paragraf memudahkan peserta didik memahami
memudahkan peserta didik memahaminya modul
Organisasi antar judul, sub judul dan uraian yang mudah Susunan dan alur antar judul, sub judul dan uraian memudahkan peserta
diikuti oleh peserta didik didik memahami modul
36

Sub indikator Instrumen


Sampul modul menggambarkan ciri khas materi Sampul modul menggambarkan ciri khas materi
Sampul modul mengkombinasikan warna,gambar,bentuk Sampul modul mengkombinasikan warna,gambar,bentuk dan ukuran
dan ukuran huruf yang serasi huruf yang serasi
Sampul modul menarik perhatian peserta didik sehingga Sampul modul menarik perhatian peserta didik sehingga senang
senang menggunakannya menggunakannya
Isi modul menempatkan rangsangan-rangsangan berupa Isi modul menempatkan rangsangan-rangsangan berupa gambar atau
gambar atau ilustrasi, pencetakan huruf tebal, miring, garis ilustrasi, pencetakan huruf tebal, miring, garis bawah atau warna
bawah atau warna
Isi modul dapat menarik perhatian peserta didik sehingga Isi modul dapat menarik perhatian peserta didik sehingga memotivasi
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif peserta didik untuk berpartisipasi aktif
Tugas dan latihan dikemas dengan menarik Tugas dan latihan dikemas dengan menarik
Modul menggunakan bentuk dan ukuran huruf yang Modul menggunakan bentuk dan ukuran huruf yang mudah dibaca
mudah dibaca sesuai dengan karakteristik umum peserta sesuai dengan karakteristik umum peserta didik
didik
Modul menggunakan perbandingan huruf yang Modul menggunakan perbandingan huruf yang proporsional antar judul,
proporsional antar judul, sub judul dan isi naskah sub judul dan isi naskah
Penggunaan huruf kapital sesuai dengan ketentuan yang Penggunaan huruf kapital sesuai dengan ketentuan yang berlaku
berlaku sehingga memudahkan peserta didik dalam sehingga memudahkan peserta didik dalam mamahami isi modul
mamahami isi modul
Ruang antar judul bab dan sub bab yang digunakan secara Ruang antar judul bab dan sub bab yang digunakan proporsional
proporsional sehingga memudahkan untuk memahami isi sehingga memudahkan untuk memahami isi modul
modul
Batas tepi marginyang digunakan secara proporsional Batas tepi marginyang digunakan proporsional sehingga memudahkan
sehingga memudahkan untuk memahami isi modul untuk memahami isi modul
Modul menggunakan bentuk dan ukuran huruf yang Modul menggunakan bentuk dan ukuran huruf yang konsisten
konsisten
Modul menggunakan spasi yang konsisten Modul menggunakan spasi yang konsisten
37

Sub indikator Instrumen


Modul menggunakan tata letak pengetikan yang konsisten Modul menggunakan tata letak pengetikan yang konsisten

D. Efektivitas Bahan Ajar


Efektivitas bahan ajar dilakukan dalam uji terbatas. Untuk mengukur keefektifan digunakan tes hasil belajar. Instrumen ini
digunakan untuk memperoleh data hasil belajar peserta didik pada pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar yang telah disusun.
Penilaian tes hasil belajar didasarkan pada kompetensi inti, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian, kemudian disesuaikan
dengan keseluruhan isi bahan ajar yang telah disusun. Tes hasil belajar peserta didik bertujuan untuk memperoleh data tentang
penguasaan materi yang telah disusun yang dilaksanakan di akhir uji coba.
38

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan adalah:
1. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau
kesahihan suatu instrumen. Prinsif validitas adalah pengukuran atau
pengamatan yang berarti prinsif keandalan instrumen dalam
mengumpulkan data. Instrumen harus dapat mengukur apa yang
seharusnya diukur. Jadi validitas lebih menekankan pada alat pengukuran
atau pengamatan.
2. Dalam penelitian pengembangan, perangkat yang dikembangkan
dikatakan praktis jika pada ahli dan praktisi menyatakan bahwa secara
teoritis model dapat digunakan di lapangan dan tingkat keterlaksanaannya
termasuk kategori baik. Suatu produk dikatakan praktis apabila orang yang
menggunakan produk tersebut menganggap bahwa produk dapat
digunakan (usable).
3. Pada efektivitas, jika diperoleh nilai thitung > ttabel maka penggunaan modul
efektif dalam pembelajaran dan sebaliknya jika thitung < ttabel maka
penggunaan modul belum efektif dalam pembelajaran.
4. Reliabilitas diartikan dengan keajekan (konsistensi) bila mana tes tersebut
diuji berkali-kali hasilnya relatif sama.

E. Saran
Validitas, praktikalitas, efektivitas, dan reabilitas sangat membantu
peneliti dalam mengembangkan bahan ajar. Sehingga diharapkan peneliti
pengembangan bahan ajar dapat memahami dan mengaplikasikannya dalam
pengembangan yang akan dilakukan.
39

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Sudrajat. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik


dan Model Pembelajaran.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-
metode-teknik-dan-model-pembelajaran (diakses September 2015)
Aleks, Maryunis. 2007. Konsep dan Penerapan Statistika dan Teori Probabilitas
untuk Penelitian Pendidikan. Universitas Negeri Padang. Padang
Arikunto, Suharsimi. 2010. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi
Aksara.
Bandono. 2009. Pengembangan Bahan Ajar.
http://bandono.web.id/2009/04/02/pengembangabahan-ajar (diakses September 2015)
Depdiknas. 2008. Penulisan Modul. Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat
Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
E Mulyasa. 2007. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung : Remaja
Rodaskarya.
E.Mulyasa. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : Remaja
Rosdakarya
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat. 2008. Jakarta :
Gramedia Pustaka.
Nieveen, Nienke.1999. Prototyping to Reach Product Quality. In J. vam den
Akker,R Branch,K Gustafson, N Nieveen and Tj.Plomp (Eds). Design
Approaches and Tools in Education and Training (hlm. 125-136). Dodrecht :
Kluwer Academic Publisher
Oni Arlitasari, dkk. 2013. Pengembangan Bahan Ajar IPA Terpadu Berbasis
Salingtemas Dengan Tema Biomassa Sumber Energi Alternatif Terbarukan.
Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika. Volume 1 No.1 halaman 81, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
Rasyid, Harun dan Mansur. 2007. Penilaian Hasil Belajar. Wacana Prima.
Bandung
Riduwan. 2009. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti
Pemula. Bandung : Alfabeta.
Rochmad. 2011. Model Pengembangan Perangkat Matematika. Diambil dari
http://www.scribd.com/doc/78603233/Desain-Model-an diakses oktober
2015
40

Suaidinmath. 2010. Teknik Penyusunan Modul.


https://suaidinmath.wordpress.com/2010/05/09/teknik-penyusunan-modul/
diakses (30 Oktober 2015)
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta. Bandung
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta
Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara
Trisyanto. 2009. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif. Diambil dari
http://trisdyanto-pembelajaran-mat.blogspot.com/2009/04/pengembangan
perangkat-pembelajaran.html diakses oktober 2015
41

Lampiran 1
LEMBAR VALIDASI
MODUL FLUIDA

Angket ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi tentang validitas


modul pembelajaran pada materi fluida

PETUNJUK PENGISIAN
1. Melalui angket ini bapak/ibu diminta pendapatnya mengenai validasi
modul pembelajaran pada materi fluida.
2. Mohon diberikan pendapat bapak/ibu dengan memberikan tanda ceklis (√)
pada salah satu kolom yang telah disediakan. Adapun kategori penilaian
adalah sebagai berikut:
Skor Kategori Persentase ketercapaian indikator
1 Tidak setuju (TS) 0 – 25
2 Kurang setuju (KS) 26 – 50
3 Setuju (S) 51 – 75
4 Sangat setuju (SS) 76 - 100

3. Jika bapak/ibu merasa perlu memberikan catatan khusus demi perbaikan


modul pada materi fluida ini, mohon tuliskan pada bagian saran

Identitas
Nama Validator: _____________________

NO ASPEK YANG DINILAI SKOR


1 2 3 4
TS KS S SS
A. Kelayakan Isi
1. Topik yang disajikan dalam bahan ajar
sudah sesuai dengan tuntunan KI, KD
dan indikator yang dirumuskan
2. Fakta yang disajikan sesuai dengan
topik
3. Konsep yang disajikan tidak bermakna
ganda
4. Materi yang diberikan sesuai dengan
materi suhu dan kalor untuk pencapaian
KI dan KD
5. Contoh contoh yang diberikan up to
date dan kontekstual
6. Uraian materi dan contoh yang
42

NO ASPEK YANG DINILAI SKOR


1 2 3 4
TS KS S SS
diberikan relevan dan menarik
perhatian siswa
7. Contoh yang diberikan memotivasi
peserta didik untuk belajar lebih lanjut
8. Uraian Materi sesuai dengan topik suhu
dan kalor
9. Uraian yang diberikan dalam modul
berbentuk komik
10. Mempermudah siswa dalam mencapai
tujuan pembelajaran
B Kelayakan Konstruksi (Komponen penyajian)
1. Modul sistematis (judul, KI, KD,
indikator materi dan latihan)
2. Penyajian materi pembelajaran
menggunakan bahsa sederhana yang
dekat dengan kehidupan sehari-hari
3. Konsisten dalam menggunakan
simbol/lambang
4. Kalimat yang digunakan mudah
dipahami siswa
5. Mempunyai identitas (judul materi
6. Membuat materi poko dan rinciannya
7. Modul memiliki petunjuk untuk siswa
8. Modul dapat digunakan untuk
perorangan dan kelompok
9. Mendorong siswa belajar/bekerja
secara efektif
10. Modul yang digunakan dalam
pembelajaran dapat memberikan
kesempatan kepada siswa untuk
menyelesaikan pembelajaran sesuai
dengan kecepatan masing-masing
11. Ilustrasi pada modul berbentuk komik
telah sesuai dengan memperjelas
konsep
12. Ukuran huruf yang digunakan pada
modul berbentuk komik ini jelas dan
tepat
13. Jenis tulisan yang digunakan pada
modul berbentuk komik ini menarik
dan jelas
14. Modul berbentuk komik ini memiliki
43

NO ASPEK YANG DINILAI SKOR


1 2 3 4
TS KS S SS
pemilihan warna yang menarik
15. Modul berbentuk komik ini memiliki
cerita dan penampilan yang menarik
C Komponen Bahasa
1) Bahasa yang digunakan sudah
komunikatif
2) Bahasa yang digunakan memotivasi
peserta didik untuk melakukan
pekerjaan
3) Bahasa yang digunakan tidak ambigu/
bermakna ganda
4) Informasi yang disampaikan jelas
5) Konsisten dalam menggunakan istilah
yang menggambarkan konsep
6) Konsisten dalam menggunakan
simbol /lambang
JUMLAH

Saran :
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
__________________________________________________________________
_________________

Padang , ................
VALIDATOR

(_________________)
44

Lampiran 2
LEMBAR PRAKTIKALITAS
MODUL FLUIDA
(ANGKET RESPON GURU )

Angket ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi tentang praktikalitas


(kepraktisan) modul pembelajaran pada materi fluida
PETUNJUK PENGISIAN
1. Melalui angket ini bapak/ibu diminta pendapatnya mengenai praktikalitas
modul pembelajaran pada materi fluida.
2. Mohon diberikan pendapat bapak/ibu dengan memberikan tanda ceklis (√)
pada salah satu kolom yang telah disediakan. Adapun kategori penilaian
adalah sebagai berikut:
Skor Kategori Persentase ketercapaian indikator
1 Tidak setuju (TS) 0 – 25
2 Kurang setuju (KS) 26 – 50
3 Setuju (S) 51 – 75
4 Sangat setuju (SS) 76 - 100

3. Jika bapak/ibu merasa perlu memberikan catatan khusus demi perbaikan


modul pada materi fluida ini, mohon tuliskan pada bagian saran
4. Identitas bapak/ibu mohon diisi lengkap

Identitas
Nama : __________________________________
Guru mata pelajaran : __________________________________

Skor
No Pernyataan 1 2 3 4
TS KS S SS
1 Modul mengguanakan format kolom yang proporsional
Modul menggunakan format kertas (vertikal/horizontal)
2
dengan memperhatikan tata letak dan format pengetikan
Modul menggunakan icon (tanda-tanda) untuk
3 menekankan hal-hal yang dianggap penting atau khusus
(cetak tebal, cetak miring)
Tampilan peta/bagan yang menggambarkan cakupan
4
materi yang akan dibahas dalam modul
5 Isi materi pada modul menggunakan urutan dan susunan
45

Skor
No Pernyataan 1 2 3 4
TS KS S SS
yang sistematis, sehingga memudahkan peserta didik
memahami materi
Isi modul memudahkan guru menghubungkan materi
6
pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari
Isi modul memudahkan guru dalam menyampaikan fakta,
7
konsep, prinsip dan prosedur materi pembelajaran
Isi modul yang dirancang memudahkan guru dalam
8
pemanfaatan alokasi waktu pembelajaran
Susunan naskah, gambar, ilustrasi sedemikian rupa
9
sehingga informasi mudah mengerti oleh peserta didik
Susunan gambar dan ilustrasi yang terdapat dalam modul
10 dapat membantu guru untuk memudahkan siswa dalam
mengingat materi pembelajaran
Susunan dan alur antar bab dan unit bab memudahkan
11
peserta didik memahami modul
Susunan dan alur antar paragraf memudahkan peserta
12
didik memahami modul
Susunan dan alur antar judul, sub judul dan uraian
13
memudahkan peserta didik memahami modul
14 Sampul modul menggambarkan ciri khas materi
Sampul modul mengkombinasikan warna,gambar,bentuk
15
dan ukuran huruf yang serasi
Sampul modul menarik perhatian peserta didik sehingga
16
senang menggunakannya
Isi modul menempatkan rangsangan-rangsangan berupa
17 gambar atau ilustrasi, pencetakan huruf tebal, miring,
garis bawah atau warna
Isi modul dapat menarik perhatian peserta didik sehingga
18
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif
19 Tugas dan latihan dikemas dengan menarik
Modul menggunakan bentuk dan ukuran huruf yang
20 mudah dibaca sesuai dengan karakteristik umum peserta
didik
Modul menggunakan perbandingan huruf yang
21
proporsional antar judul, sub judul dan isi naskah
Penggunaan huruf kapital sesuai dengan ketentuan yang
22 berlaku sehingga memudahkan peserta didik dalam
mamahami isi modul
Ruang antar judul bab dan sub bab yang digunakan
23 proporsional sehingga memudahkan untuk memahami isi
modul
24 Batas tepi marginyang digunakan proporsional sehingga
46

Skor
No Pernyataan 1 2 3 4
TS KS S SS
memudahkan untuk memahami isi modul
Modul menggunakan bentuk dan ukuran huruf yang
25
konsisten
26 Modul menggunakan spasi yang konsisten
27 Modul menggunakan tata letak pengetikan yang konsisten

Saran :
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________
__________________________

Padang , ................
Guru SMA ............

(_________________)
47

Lampiran 3
LEMBAR PRAKTIKALITAS
MODUL FLUIDA
(ANGKET RESPON PESERTA DIDIK )

Angket ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi tentang praktikalitas


(kepraktisan) modul pembelajaran pada materi fluida
PETUNJUK PENGISIAN
1. Bacalah tiap-tiap pernyataan di bawah ini dengan baik. bandingkan dengan
apa yang kamu rasakan dan lakukan selama ini. jawaban yang kamu
berikan harus sesuai dengan tanggapanmu terhadap modul yang
digunakan.
2. pilih salah satu jawaban yang paling cocok dengan memberikan tanda
ceklis (√) pada salah satu kolom yang telah disediakan. Adapun kategori
penilaian adalah sebagai berikut:
Skor Kategori Persentase ketercapaian indikator
1 Tidak setuju (TS) 0 – 25
2 Kurang setuju (KS) 26 – 50
3 Setuju (S) 51 – 75
4 Sangat setuju (SS) 76 - 100

Identitas
Nama : __________________________________
kelas : __________________________________

Skor
No Pernyataan 1 2 3 4
TS KS S SS
1 Modul mengguanakan format kolom yang proporsional
Modul menggunakan format kertas (vertikal/horizontal)
2
dengan memperhatikan tata letak dan format pengetikan
Modul menggunakan icon (tanda-tanda) untuk
3 menekankan hal-hal yang dianggap penting atau khusus
(cetak tebal, cetak miring)
Tampilan peta/bagan yang menggambarkan cakupan
4
materi yang akan dibahas dalam modul
Isi materi pada modul menggunakan urutan dan susunan
5 yang sistematis, sehingga memudahkan saya dalam
memahami materi
48

Skor
No Pernyataan 1 2 3 4
TS KS S SS
Susunan naskah, gambar, ilustrasi sedemikian rupa
9
sehingga memudahkan saya memahami informasi
Susunan dan alur antar bab dan unit bab memudahkan
11
saya memahami modul
Susunan dan alur antar paragraf memudahkan saya
12
memahami modul
Susunan dan alur antar judul, sub judul dan uraian
13
memudahkan saya memahami modul
14 Sampul modul menggambarkan ciri khas materi
Sampul modul mengkombinasikan warna,gambar,bentuk
15
dan ukuran huruf yang serasi
Sampul modul menarik perhatian,sehingga saya senang
16
menggunakannya
Isi modul menempatkan rangsangan-rangsangan berupa
17 gambar atau ilustrasi, pencetakan huruf tebal, miring,
garis bawah atau warna
Isi modul dapat menarik perhatian saya sehingga saya
18
termotivasi untuk berpartisipasi aktif
19 Tugas dan latihan dikemas dengan menarik
Modul menggunakan perbandingan huruf yang
21
proporsional antar judul, sub judul dan isi naskah
Penggunaan huruf kapital sesuai dengan ketentuan yang
22 berlaku sehingga memudahkan saya dalam mamahami isi
modul
Ruang antar judul bab dan sub bab yang digunakan
23 proporsional sehingga memudahkan untuk memahami isi
modul
Batas tepi margin yang digunakan proporsional sehingga
24
memudahkan untuk memahami isi modul
Modul menggunakan bentuk dan ukuran huruf yang
25
konsisten
26 Modul menggunakan spasi yang konsisten
27 Modul menggunakan tata letak pengetikan yang konsisten

Saran :
_______________________________________________________________
_______________________________________________________________
49

_______________________________________________________________
__________________________

Padang , ................

(_________________)