Anda di halaman 1dari 1

Anousheh Ansari

Pada tahun 2006, Anousheh mencatatkan dirinya sebagai wanita muslimah pertama
yang berada di luar angkasa. Saat ditanya tentang apa yang ia berharap untuk
mencapai di luar angkasa, Ansari berujar, “Saya ingin bisa menginspirasi setiap orang,
terutama kaum muda, wanita, dan para gadis. Saya ingin katakan bahwa perempuan
juga punya kesempatan yang sama (dengan pria) untuk menggapai impian.”

Wanita asal Iran ini memang selalu memiliki sekaligus menggaungkan semangat
untuk maju. Berbekal semangat pantang menyerah itu pulalah ia sukses menaklukkan
Amerika Serikat (AS) lewat aktivitas bisnisnya.

Menjelajah AS sejak remaja, Ansari menapaki kehidupan yang sarat perjuangan. Ia


berhasil meraih gelar sarjana komputer dari George Mason University, dan gelar
master di bidang teknik elektro dari George Washington University.

Bersama suaminya, ia mendirikan perusahaan telekomunikasi, Telecom Technologies


Inc., pada 1993. Ia juga pendiri dan pemilik perusahaan informasi dan teknologi,
Prodea Systems. Selain berbisnis, Ansari juga giat dalam kegiatan sosial, dan meraih
banyak penghargaan.

Pada September 2006, Ansari melancong ke antariksa dengan Soyuz TMA-9, dan
menjadi orang sipil keempat yang membiayai perjalanannya sendiri ke luar angkasa.

Shirin Ebadi
Dialah wanita muslim pertama peraih hadiah Nobel Perdamaian pada 2003. Ebadi
mengalahkan dua saingan beratnya, Paus Yohanes Paulus II dan mantan Presiden
Ceko, Vaclav Havel. Ia adalah hakim, pengacara, penulis, dosen, serta aktivis
perempuan yang selalu berbicara kritis terhadap kondisi negerinya, Iran. Itulah
yang mengantarnya meraih Nobel Perdamaian.

Sebagai seorang hakim, Ebadi adalah wanita pertama yang mencapai status Ketua.
Namun, diberhentikan dari posisi ini setelah Revolusi 1979. Sebagai pengacara,
Shirin Ebadi telah banyak memecahkan kasus kontroversial, dan ditangkap
beberapa kali karena memperjuangkan idealismenya.

"Sebuah penafsiran Islam yang selaras dengan demokrasi dan persamaan adalah
ekspresi otentik keimanan. Ini bukanlah agama yang mengikat perempuan, tetapi
kebijakan selektif dari penguasa yang berharap mereka tertutup," demikian Shirin.