Anda di halaman 1dari 32

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Negara hukum dan Demokrasi adalah dua konsepsi mekanisme kekuasan

dalam menjalankan roda pemerintahan negara. Kedua konsepsi tersebut saling

berkaitan yang satu sama lainnya tidak dapat dipisahkan, karena pada satu sisi

demokrasi memberikan landasan dan mekanisme kekuasaan berdasarkan

prinsip persamaan dan kesederajatan manusia, pada sisi yang lain negara

hukum memberikan patokan bahwa yang memerintah dalam suatu negara

bukanlah manusia, tetapi hukum.

Konsepsi demokrasi selalu menempatkan rakyat pada posisi yang sangat

strategis dalam sistem ketatanegaraan. Paham negara hukum yang demikian

dikenal dengan sebutan “negara hukum yang demokratis” (democratische

rechtsstaat) atau dalam bentuk konstitusional disebut constitutional democracy.

Professor Jimmly Asshidiqie menegaskan bahwa negara hukum yang

bertopang pada sistem demokrasi pada pokoknya mengidealkan suatu

mekanisme bahwa negara hukum itu haruslah demokratis, dan negara

demokrasi itu haruslah didasarkan atas hukum.1

Semua negara mengakui bahwa demokrasi sebagai alat ukur dari

keabsahan politik. Demokrasi meletakkan rakyat pada posisi penting, hal ini

karena masih memegang teguh rakyat selaku pemegang kedaulatan.

1
Satjipto Rahardjo, 2009, Negara Hukum yang Membahagiakan Rakyatnya, Genta
Publishing, Jakarta, hlm. 10.
1
2

Sejak merdeka, perjalanan kehidupan demokrasi di Indonesia telah

mengalami pasang surut. Dari Demokrasi Parlementer/Liberal (1950–1959),

Demokrasi Terpimpin (1959–1966) dan Demokrasi Pancasila (1967–1998).

Tiga model demokrasi ini telah memberi kekayaan pengalaman bangsa

Indonesia dalam menerapkan kehidupan demokrasi. Setelah reformasi

demokrasi yang diterapkan di Indonesia semakin diakui oleh dunia luar.

Penerapan Demokrasi juga berkaitan dengan Konsep Hak Asasi Manusia

serta Penegakan Hukum di Indonesia. Dari kalangan masyarakat yang

mengikuti perkembangan politik dan hukum pada tingkat nasional maupun

internasional saat ini sudah dapat dipastikan tidak asing dengan persoalan

HAM, Demokrasi, dan Penegakan Hukum. Masyarakat juga sering

membicarakan dan mendiskusikan tentang tiga persoalan diatas, baik

menyangkut tentang pelanggaran HAM oleh seseorang, sekelompok maupun

oleh pihak aparat pemerintah sendiri serta berbagai kontrovesial dalam

pelaksanaan di berbagai negara. Demikian pula ketika menjalani hidup di

masyarakat terutama saat menghadapi persoalan yang ada kaitannya dengan

persoalan HAM, Demokrasi dan Hukum akan lebih siap. 2

B. RUMUSAN MASALAH

Dari pembahasan di atas maka penyusun merumuskan permasalah sebagai

berikut:

1. Apa yang dimakasud dengan negara dan demokrasi berdasarkarkan pancasila?

2. Bagaimana Negara dengan ciri-ciri dan prinsip demokrasi pancasila?

2
A. Rizki “Permasalahan Demokrasi” repo.unand.ac.id/2437/4/BAB%2520I.pdf diakses
tanggal 10 oktober 2017, pukul 20:00 wit
3

3. Bagaimana penerapan demokrasi pancasila pada hukum pidana di Negara

Indonesia

4. Bagaimana hubungan Hak Asasi Manusia terhadap hukuman mati?

C. TUJUAN

1. Mengetahui maksud dari Negara dan Demokrasi Dalam Pancasila

2. Mengetahui ciri-ciri dan Prinsip-Prinsip Demokrasi Pancasila di Indonesia

3. Mengatahui dan mampu memahami permasalah hukum pidana di Indonesia

terutama pidana Mati.

4. Memahami dan mampu mengatasi permasalahan Hukum yang timbul di

masyarakat sekitar serta dapat membedakan kejahatan yang berakhir

dengan pidana mati atau kejahatan yang mendapatkan pelindungan HAM.


4

BAB II

PEMBAHASAN

NEGARA DAN DEMOKRASI BERDASARKARKAN PANCASILA

(STUDI KASUS: HUKUMAN MATI)

A. PENGERTIAN

1. NEGARA

Negara merupakan tempat dimana sekumpulan orang menempati suatu

wilayah dengan sistem organisasi di atur oleh pemerintah negara yang sah

yang memiliki kedaulatan. Syarat primer dari sebuah negara yaitu memiliki

rakyat, memiliki wilayah dan memiliki pemerintahan yang berdaulat.

Sedangkan syarat sekunder dari sebuah negara yaitu mendapat pengakuan

dari negara lain.

Secara etimologis, negara merupakan terjemahan dari beberapa bahasa

asing yaitu State (bahasa Inggris), Staat (bahasa Jermand an Belanda) dan

Etat (bahasa Prancis), Kata-kata tersebut diambil dari bahasa latin pada abad

ke -15 yaitu dari kata Statum atau Satus, yang memiliki arti keadaan yang

tegak dan tetap.

Begitu banyak perngertian Negara dari para ahli, salah satunya Prof.

Djokoseotono, S.H, yang mana menurutnya negara adalah suatu organisasi

manusia atau kumpulan manusia-manusia yang berada dibawah pemerintah yang

sama.3

3
Min, “20 Pengertian Negara Menurut Para Ahli dan Unsur Negara Dalam Negara”
http://www.pelajaran.co.id/2017/13/pengertian-negara-menurut-para-ahli-dan-unsur-unsur-
dalam-negara.html, diakses tanggal 10 Oktober 2017, pukul 20.05 WIT
4
5

2. DEMOKRASI

Kata Demokrasi berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία (dēmokratía)

"kekuasaan rakyat", yang terbentuk dari δῆμος (dêmos) "rakyat" dan κράτος

(kratos) "kekuatan" atau "kekuasaan" pada abad ke-5 SM untuk menyebut sistem

politik negara-kota Yunani, salah satunya Athena; kata ini merupakan antonim dari

ἀριστοκρατία (aristocratie) "kekuasaan elit". Secara teoretis, kedua definisi tersebut

saling bertentangan, namun kenyataannya sudah tidak jelas lagi. Sistem politik

Athena Klasik, misalnya, memberikan kewarganegaraan demokratis kepada pria

elit yang bebas dan tidak menyertakan budak dan wanita dalam partisipasi politik.

Di semua pemerintahan demokrasi sepanjang sejarah kuno dan modern,

kewarganegaraan demokratis tetap ditempati kaum elit sampai semua penduduk

dewasa di sebagian besar negara demokrasi modern benar-benar bebas setelah

perjuangan gerakan hak suara pada abad ke-19 dan 20. Kata demokrasi

(democracy) sendiri sudah ada sejak abad ke-16 dan berasal dari bahasa Perancis

Pertengahan dan Latin Pertengahan lama.

Secara pengertian Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua

warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat

mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—

baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan,

dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya

yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.4

Sedangkan Demokrasi Pancasila adalah suatu paham demokrasi yang

bersumber dari pandangan hidup atau falsafah hidup bangsa Indonesia yang digali

4
Wikipedia, “Demokrasi”, https://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi, diakses tanggal 10
Oktober 2017, pukul 20.15 WIT
6

berdasarkan kepribadian rakyat Indonesia sendiri. Dari falsafah hidup bangsa

Indonesia, kemudian akan timbul dasar falsafah negara yang disebut dengan

Pancasila dimana terdapat, tercemin, terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.5

Dalam demokrasi Pancasila, sistem pengorganisasian Negara dilakukan oleh

rakyat sendiri atau dengan persetujuan rakyat. Serta dalam Demokrasi Pancasila

kebebasan individu tidaklah bersifat mutlak, tetapi harus diselaraskan atau

disesuaikan dengan tanggung jawab social, dan Keuniversalan cita-cita demokrasi

dipadukan dengan cita-cita hidup bangsa Indonesia yang dijiwai oleh semangat

kekeluargaan, sehingga tidak ada dominasi meyoritas atau minoritas6

Jadi Negara dan Demokrasi Berdasarkan pancasila merupakan sebuah Negara

yang dimana berpegang pada asas Asas Kerakyatan dan Asas Musyawara. Yang

mana Pada asas kerakyatan, intinya adalah demokrasi pancasila ini memiliki

dasar rasa cinta dan padu dengan rakyat supaya memenuhi cita-citanya yang

satu. Sedangkan Asas Musyawarah yang memperhatikan aspirasi dan kehendak

seluruh rakyat yang jumlahnya banyak dan melalui forum permusyawaratan

untuk menyatukan pendapat serta mencapai kesepatakan bersama atas kasih

sayang, pengobaranan untuk kebahagian bersama.

5
Yugi, “Pengertian asas dan ciri-ciri demokrasi pancasila”
https://www.eduspensa.id/pengertian-asas-dan-ciri-ciri-demokrasi-pancasila/ diakses
tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.05
6
Rohmatullah, “Pengertian Demokrasi Pancasila Indonesia Lengkap”,
http://rohmatullahh.blogspot.co.id/2014/03/pengertian-demokrasi-pancasila.html diakses
tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.05
7

B. Negara dengan Ciri-ciri dan Prinsip Demokrasi Pancasila

Indonesia merupakan Negara yeng beridiologi Pancasila, serta dengan

pemerintahan Demokrasi. Untuk itu Demokrasi Pancasila yang diterapkan oleh

Indonesia berbeda dengan Demokrasi Universal (secara luas) oleh Negara lain.

Tentu hal itu dikarenakan Demokrasi Pancasila tidak lepas dari Pancasila dan

Undang-Undang Dasar 1945 dimana ciri-cirinya yaitu :

1. Kedaulatan ada di tangan rakyat, yang memiliki arti bahwa kekuasaan

tertinggi ada pada kehendak rakyat.

2. Selalu berdasarkan kekeluargaan dan gotong-royong, bahwa

demokrasi sudah menjadi ciri dan budaya masyarakat ketimuran

terutama Indonesia.

3. Cara pengambilan keputusan melalui musyawarah untuk mencapai

mufakat.

4. Tidak kenal adanya partai pemerintahan dan partai oposisi, demokrasi

artinya netral dan tidak memihak.

5. Diakui adanya keselarasan antara hak dan kewajiban, demokrasi

mengakui persamaan hak serta kewajiban.

6. Menghargai hak asasi manusia, hak asai merupakan hak mendasar

yang tak boleh diganggu gugat oleh siapapun bahkan oleh negara.

7. Ketidaksetujuan pada kebijakan pemerintah disalurkan melalui wakil-

wakil rakyat yang duduk dalam lembaga tinggi negara yang

merupakan salah satu Fungsi DPR.


8

8. Tidak menganut sistem monopartai, atau partai tunggal atau dengan

kata lain memonopoli hak politik warga negara yang bertentangan

dengan Fungsi Partai Politik itu sendiri.

9. Pemilu dilaksanakan secara terbuka dan jujur serta adil ini merupakan

fungsi pemilu yang selalu dijunjung tinggi di Indonesia.

10. Tidak kenal adanya diktator mayoritas dan tirani minoritas, ini

mengandung makna persamaan warga negara yang memiliki

kedudukan yang sama di segala bidang tanpa terkecuali tanpa

membedakan apapun.

11. Mendahulukan kepentingan rakyat atau kepentingan umum, dalam

demokrasi mendahulukan kepentingan umum adalah hal utama yang

harus dilaksanakan daripada kepentingan pribadi maupun golongan.7

Dari ciri-ciri tersebut maka Demokrasi Pancasila mempunyai prinsip

sebagai berikut:

1. Demokrasi yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, maksudnya bahwa

demokrasi selalu dijiwai dan diliputi oleh nilai-nilai Ketuhanan Yang

Maha Esa.

2. Demokrasi yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia,

maksudnya dalam demokrasi Pancasila negara/pemerintah

menghargai dan melindungi hak-hak asasi manusia.

3. Demokrasi yang berkedaulatan rakyat, maksudnya kepentingan rakyat

banyak harus diutamakan daripada kepentingan pribadi.

7
Guru PPK “Ciri-ciri demokrasi pencasila”, https://guruppkn.com/ciri-ciri-demokrasi-
pancasila diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.17
9

4. Demokrasi yang didukung oleh kecerdasan warga negara, maksudnya

bahwa dalam demokrasi Pancasila didukung oleh warga negara yang

mengerti akan hak dan kewajibannya serta dapat melakukan

peranannya dalam demokrasi.

5. Demokrasi yang menerapkan prinsip pemisahan kekuasaan,

maksudnya bahwa dalam negara demokrasi menganut sistem

pemisahan kekuasaan, masing-masing lembaga negara memiliki

fungsi dan wewenang masing-masing.

6. Demokrasi yang menjamin berkembangnya otonomi daerah,

maksudnya bahwa negara menjamin berkembangnya setiap daerah

untuk memajukan potensi daerahnya masing-masing sesuai dengan

ketentuan yang berlaku.

7. Demokrasi yang menerapkan konsep negara hukum, maksudnya

bahwa Negara Indonesia berdasarkan hukum, bukan kekuasaan

belaka, sehingga segala kebijaksanaan maupun tindakan pemerintah

berdasarkan pada hukum yang berlaku.

8. Demokrasi yang menjamin terselenggaranya peradilan yang bebas,

merdeka, dan tidak memihak, maksudnya badan peradilan yang tidak

terpengaruhi dan tidak dapat dipengaruhi oleh pihak lain.

9. Demokrasi yang menumbuhkan kesejahteraan rakyat, maksudnya

adalah demokrasi yang dikembangkan bertujuan untuk menjamin dan

mewujudkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan kualitas hidup

manusia dalam segala aspek kehidupan baik lahir maupun batin.


10

10. Demokrasi yang berkeadilan sosial, maksudnya bahwa tujuan akhir

upaya pelaksanaan ketatanegaraan adalah tercapainya keadilan sosial

bagi seluruh rakyat Indonesia.8

C. PENERAPAN DEMOKRASI PANCASILA PADA HUKUM PIDANA DI

NEGARA INDONESIA

Masalah demokrasi di Indonesia diatur dalam Pasal 1 Ayat (2) Undang-

Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan

“Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-

Undang Dasar”.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak

menganut sistem pemisahan kekuasaan Trias Politica sebagaimana yang

diajarkan Montesquieu, melainkan menganut sistem pembagian kekuasaan. Hal

tersebut disebabkan beberapa hal berikut.

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak

membatasi secara tajam, bahwa tiap kekuasaan itu harus dilakukan oleh

suatu organisasi/badan tertentu yang tidak boleh saling campur tangan.

2. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak

membatasi kekuasaan dibagi atas 3 bagian saja dan juga tidak

membatasi kekuasaan dilakukan oleh 3 bagian saja.

3. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak

membagi habis kekuasaan rakyat yang dilakukan MPR, Pasal 1 Ayat

(2), kepada lembaga-lembaga negara lainnya.9

8
Zona Siswa, “Demokrasi Pancasila Pengertian dan Ciri-ciri”
http://www.zonasiswa.com/2014/11/demokrasi-pancasila-pengertian-ciri-ciri.html diakses
tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.18
11

Sebagaimana pembahasan sebelumnya bahwa dasar negara Indonesia

adalah Pancasila, artinya segala bentuk pemerintahan dan aturan-aturan yang

dibuat oleh negara harus berkiblat pada nilai-nilai yang mengkristal dalam lima

sila Pancasila tersebut. Juga karena Pancasila merupakan sumber dari segala

sumber hukum, maka segala kebijakan negara tidak boleh bertentangan dengan

Pancasila.

Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum Eropa,

hukum agama, dan hukum adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik

perdata maupun pidana berbasis pada hukum Eropa, khususnya dari Belanda

karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan

dengan sebutan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum agama karena

sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum

atau syariat Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan,

dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum adat yang

diserap dalam perundang-undangan atau yurisprudensi. yang merupakan

penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya

yang ada di wilayah Nusantara.

Berdasarkan Pembagian Hukumnya, Hukum di Indonesia dibagi menjadi

Hukum Perdata dan Hukum Pidana. Hukum Perdata lebih pada hukum Privasi

di mana mencakup pada Invidu, Keluarga, Kekayaan dan Waris. Sedangkan

Hukum pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pidana terbagi

menjadi dua bagian, yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil.

9
BUKU PPKN, “PPKN KELAS 10”, https://Buku-Siswa-SMA-Kelas-10-PPKn-Semester-1
(revisi-2014), diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.20
12

Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan tindak pidana, pelaku

tindak pidana, dan pidana (sanksi). Di Indonesia, pengaturan hukum pidana

materiil diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Hukum

pidana formil mengatur tentang pelaksanaan hukum pidana materiil. Di

Indonesia, pengaturan hukum pidana formil telah disahkan dengan UU nomor

8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana (KUHAP).

Dalam hukum acara pidana (KUHAP) di Indonesia terdapat pula asas-asas

sebagai berikut:

1. Asas perintah tertulis, yaitu segala tindakan hukum hanya dapat

dilakukan berdasarkan perintah tertulis dari pejabat yang berwenang

sesuai dengan UU.

2. Asas peradilan cepat, sederhana, biaya ringan, jujur, dan tidak

memihak, yaitu serangkaian proses peradilan pidana (dari penyidikan

sampai dengan putusan hakim) dilakukan cepat, ringkas, jujur, dan

adil (pasal 50 KUHAP).

3. Asas memperoleh bantuan hukum, yaitu setiap orang punya

kesempatan, bahkan wajib memperoleh bantuan hukum guna

pembelaan atas dirinya (pasal 54 KUHAP).

4. Asas terbuka, yaitu pemeriksaan tindak pidana dilakukan secara

terbuka untuk umum (pasal 64 KUHAP).


13

5. Asas pembuktian, yaitu tersangka/terdakwa tidak dibebani kewajiban

pembuktian (pasal 66 KUHAP), kecuali diatur lain oleh UU.10

Sedangkan Asas-asas hukum pidana itu sendiri, sebagai berikut:

1. Asas Legalitas, tidak ada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas

kekuatan aturan pidana dalam Peraturan Perundang-Undangan yang

telah ada sebelum perbuatan itu dilakukan (Pasal 1 Ayat (1) KUHP).

Jika sesudah perbuatan dilakukan ada perubahan dalam Peraturan

Perundang-Undangan, maka yang dipakai adalah aturan yang paling

ringan sanksinya bagi terdakwa (Pasal 1 Ayat (2) KUHP)

2. Asas Tiada Pidana Tanpa Kesalahan, Untuk menjatuhkan pidana

kepada orang yang telah melakukan tindak pidana, harus dilakukan

bilamana ada unsur kesalahan pada diri orang tersebut.

3. Asas teritorial, artinya ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku atas

semua peristiwa pidana yang terjadi di daerah yang menjadi wilayah

teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk pula kapal

berbendera Indonesia, pesawat terbang Indonesia, dan gedung

kedutaan dan konsul Indonesia di negara asing (pasal 2 KUHP).

4. Asas nasionalitas aktif, artinya ketentuan hukum pidana Indonesia

berlaku bagi semua WNI yang melakukan tindak pidana di mana pun

ia berada (pasal 5 KUHP).

10
Wikipedia, “Hukum” https://id.wikipedia.org/wiki/Hukum diakses tanggal 10 Oktober 2017
pukul 20.23
14

5. Asas nasionalitas pasif, artinya ketentuan hukum pidana Indonesia

berlaku bagi semua tindak pidana yang merugikan kepentingan negara

(pasal 4 KUHP).11

Dari Asas-Asas tersebut dalam hukum pidana dikenal macam-macam

pembagian delik, diantaranya:

1. Delik yang dilakukan dengan sengaja, misalnya, sengaja merampas

jiwa orang lain (Pasal 338 KUHP) dan delik yang disebabkan karena

kurang hati-hati, misalnya, karena kesalahannya telah menimbulkan

matinya orang lain dalam lalu lintas di jalan.(Pasal 359 KUHP).

2. Menjalankan hal-hal yang dilarang oleh Undang-undang, misalnya,

melakukan pencurian atau penipuan (Pasal 362 dan378 KUHP) dan

tidak menjalankan hal-hal yang seharusnya dilakukan menurut

Undang-undang, misalnya tidak melapor adanya komplotan yang

merencanakan makar.

3. Kejahatan (Buku II KUHP), merupakan perbuatan yang sangat tercela,

terlepas dari ada atau tidaknya larangan dalam Undang-undang.

Karena itu disebut juga sebagai delik hukum.

4. Pelanggaran (Buku III KUHP), merupakan perbuatan yang dianggap

salah satu justru karena adanya larangan dalam Undang-undang.

Karena itu juga disebut delik Undang-undang.

Sebagaimana penjabaran Delik tersebut, mengenai hukuman apa yang

dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah bersalah melanggar ketentuan-


11
Wikipedia, “Hukum Pidana” https://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_pidana diakses tanggal 10
Oktober 2017 pukul 20.23
15

ketentuan dalam undang-undang hukum pidana, dalam Pasal 10 KUHP

ditentukan macam-macam hukuman yang dapat dijatuhkan, yaitu bisa berupa

Hukuman-Hukuman Pokok (Hukuman Mati, Hukuman Penjara, Hukuman

Kurungan, Hukuman denda, Hukuman tutupan), ataupun Hukuman Tambahan

(Pencabutan hak-hak tertentu, Penyitaan barang-barang tertentu. Dan

Pengumuman keputusan hakim). 12

D. HUKUMAN MATI DI INDONESIA

Hukuman mati adalah suatu hukuman atau vonis yang dijatuhkan

pengadilan (atau tanpa pengadilan) sebagai bentuk hukuman terberat yang

dijatuhkan atas seseorang akibat perbuatannya. Hukuman mati juga merupakan

salah satu hukum yang diberlakukan di Indonesia. Hukuman ini berlaku untuk

kasus pembunuhan berencana, terorisme, dan perdagangan obat-obatan

terlarang.

Pada tahun 2005, setidaknya 2.148 orang dieksekusi di 22 negara,

termasuk Indonesia. Dari data tersebut 94% praktik hukuman mati hanya

dilakukan di beberapa negara, misalnya: Iran, Tiongkok, Arab Saudi, dan

Amerika Serikat.

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memberlakukan resolusi

tidak mengikat pada tahun 2007, 2008, 2010, 2012, dan 2014 untuk

menyerukan penghapusan hukuman mati di seluruh dunia. Meskipun hampir

sebagian besar negara telah menghapus hukuman mati, namun sekitar 60%

12
Op.cit
16

penduduk dunia bermukim di negara yang masih memberlakukan hukuman

mati seperti di Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan Indonesia

Survey yang dilakukan PBB pada 1998 dan 2002 tentang hubungan antara

praktik hukuman mati dan angka kejahatan pembunuhan menunjukkan, praktik

hukuman mati lebih buruk daripada penjara seumur hidup dalam memberikan

efek jera pada pidana pembunuhan.

Tingkat kriminalitas berhubungan erat dengan masalah kesejahteraan dan

kemiskinan suatu masyarakat, maupun berfungsi atau tidaknya institusi

penegakan hukum.

Dukungan hukuman mati didasari argumen di antaranya bahwa hukuman

mati untuk pembunuhan sadis akan mencegah banyak orang untuk membunuh

karena gentar akan hukuman yang sangat berat. Jika pada hukuman penjara

penjahat bisa jera dan bisa juga membunuh lagi jika tidak jera, pada hukuman

mati penjahat pasti tidak akan bisa membunuh lagi karena sudah dihukum mati

dan itu hakikatnya memelihara kehidupan yang lebih luas.

Dalam berbagai kasus banyak pelaku kejahatan yang merupakan residivis

yang terus berulang kali melakukan kejahatan karena ringannya hukuman.

Seringkali penolakan hukuman mati hanya didasarkan pada sisi kemanusiaan

terhadap pelaku tanpa melihat sisi kemanusiaan dari korban sendiri, keluarga,

kerabat ataupun masyarakat yang tergantung pada korban. Lain halnya bila

memang keluarga korban sudah memaafkan pelaku tentu vonis bisa diubah

dengan prasyarat yang jelas.


17

Dalam penerapan hukuman mati, ternyata tidak luput juga dari kesalahan

Vosis Hakim. Dalam rangka menghindari kesalahan vonis mati tersebut

terhadap terpidana mati, sedapat mungkin aparat hukum yang menangani kasus

tersebut adalah aparat yang mempunyai pengetahuan luas dan sangat memadai,

sehingga Sumber Daya manusia yang disiapkan dalam rangka penegakan

hukum dan keadilan adalah sejalan dengan tujuan hukum yang akan menjadi

pedoman di dalam pelaksanaannya, dengan kata lain khusus dalam penerapan

vonis mati terhadap pidana mati tidak adalagi unsur politik yang dapat

memengaruhi dalam penegakan hukum dan keadilan dimaksud.

Di Indonesia sudah puluhan orang dieksekusi mati mengikuti sistem

KUHP peninggalan kolonial Belanda. Bahkan selama Orde Baru korban yang

dieksekusi sebagian besar merupakan narapidana politik.

Walaupun amendemen kedua konstitusi UUD '45, pasal 28I ayat 1,

menyebutkan: "Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan

pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk

diakui sebagai pribadi di depan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar

hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi

dalam keadaan apapun", tetapi peraturan perundang-undangan dibawahnya

tetap mencantumkan ancaman hukuman mati.

Kelompok pendukung hukuman mati beranggapan bahwa bukan hanya

pembunuh saja yang punya hak untuk hidup dan tidak disiksa. Masyarakat luas

juga punya hak untuk hidup dan tidak disiksa. Untuk menjaga hak hidup

masyarakat, maka pelanggaran terhadap hak tersebut patut dihukum mati.


18

Hingga Juni 2006 hanya 68 negara yang masih menerapkan praktik

hukuman mati, termasuk Indonesia, dan lebih dari setengah negara-negara di

dunia telah menghapuskan praktik hukuman mati. Ada 88 negara yang telah

menghapuskan hukuman mati untuk seluruh kategori kejahatan, 11 negara

menghapuskan hukuman mati untuk kategori kejahatan pidana biasa, 30 negara

negara malakukan moratorium (de facto tidak menerapkan) hukuman mati, dan

total 129 negara yang melakukan abolisi (penghapusan) terhadap hukuman

mati.

Di tahun 2006 juga tercatat ada 11 peraturan perundang-undangan yang

masih memiliki ancaman hukuman mati, seperti: KUHP, UU Narkotika, UU

Anti terorisme, dan UU Pengadilan HAM. Daftar ini bisa bertambah panjang

dengan adanya RUU Intelijen dan RUU Rahasia Negara.

Vonis atau hukuman mati mendapat dukungan yang luas dari pemerintah

dan masyarakat Indonesia. Pemungutan suara yang dilakukan media di

Indonesia pada umumnya menunjukkan 75% dukungan untuk adanya vonis

mati.

Adapulah Beberapa Pasal dalam KUHP yang Menjatuhkan

Hukuman Mati:

1. Pasal 104: Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas

kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil

Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana

penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua

puluh tahun.
19

2. Pasal 111: Jika perbuatan permusuhan dilakukan atau terjadi perang,

diancam dengan pidana mati atua pidana penjara seumur hidup atau

pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

3. Pasal 124: Pidana mati atau pidana seumur hidup atau selama waktu

tertentu paling lama dua puluh tahun dijatuhkan jika si pembuat :

(1) memberitahukan atau menyerahkan kepada musuh,

menghancurkan atau merusakkan sesuatu tempat atau pos yang

diperkuat atau diduduki, suatu alat perhubungan, gudang

persediaan perang, atau kas perang ataupun Angkatan Laut,

Angkatan Darat atau bagian daripadanya, merintangi,

menghalang-halangi atau menggagalkan suatu untuk

menggenangi air atau karya tentara lainya yang direncanakan atau

diselenggarakan untuk menangkis tau menyerang;

(2) menyebabkan atau memperlancar timbulnya huru-hara,

pemberontakan atau desersi dikalangan Angkatan Perang.

4. Pasal 140:

(2) Jika mekar terhadap nyawa mengakibatkan kematian atau

dilakukan dengan rencana terlebih dahulu mengakibatkan

kematian, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara

seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua

puluh tahun.

(3) Jika makar terhadap nyawa dilakukan dengan rencana terlebih

dahulu mengakibatkan kematian, diancam dengan pidana mati


20

atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara

paling lama dua puluh tahun.

5. Pasal 365

(4) Diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup

atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, jika

perbuatan mengakihntkan luka berat atau kematian dan dilakukan

oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, disertai pula oleh

salah satu hal yang diterangkan dalam no. 1 dan 3.

6. Pasal 444

Jika perbuatan kekerasan yang diterangkan dalam pasal 438 – 441

mengakibatkan seseorang di kapal yang diserang atau seseorang yang

diserang itu mati maka nakoda. komandan atau pemimpin kapal dan

mereka yang turut serta melakukan perbuatan kekerasan, diancam

dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara

selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.

7. Pasal 479 k

(3) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya seseorang atau

hancurnya pesawat udara itu, dipidana dengan pidana mati atau

pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama-lamanya

dua puluh tahun.


21

E. HAK HIDUP DAN HUKUMAN MATI

Di dalam Pasal 28A Undang-Undang Dasar 1945 berbunyi "Setiap orang

berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya".

Namun pada penerapannya UU terdapat yang namanya Hukuman Mati. Begitu

Pula dasar hukum yang menjamin hak untuk hidup di Indonesia juga terdapat

dalam Pasal 9 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi

Manusia (“UU HAM”) yang berbunyi:

1. Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan

meningkatkan taraf kehidupannya

2. Setiap orang berhak hidup tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera

lahir dan batin

3. Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Lebih lanjut, dalam Penjelasan Pasal 9 UU HAM dikatakan bahwa setiap

orang berhak atas kehidupan, mempertahankan kehidupan, dan meningkatkan

taraf kehidupannya. Hak atas kehidupan ini bahkan juga melekat pada bayi

yang belum lahir atau orang yang terpidana mati. Dalam hal atau keadaan yang

sangat luar biasa yaitu demi kepentingan hidup ibunya dalam kasus aborsi atau

berdasarkan putusan pengadilan dalam kasus pidana mati. Maka tindakan

aborsi atau pidana mati dalam hal dan atau kondisi tersebut, masih dapat

diizinkan. Hanya pada dua hal tersebut itulah hak untuk hidup dapat dibatasi.

Dari penjelasan Pasal 9 UU HAM di atas dapat diketahui bahwa dalam kondisi

tertentu seperti pidana mati, hak untuk hidup dapat dibatasi.


22

Pada putusan Mahkamah Konstitusi mengenai pengujian Pasal 80 Undang-

Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (“UU Narkotika”) yang

memuat sanksi pidana mati terhadap UUD 1945.

Berkaitan dengan hal ini, di dalam artikel Terikat Konvensi Internasional

Hukuman Mati Mesti Jalan Terus, diberitakan bahwa Mahkamah Konstitusi

(“MK”) dalam putusannya pada 30 Oktober 2007 menolak uji materi hukuman

mati dalam UU Narkotika dan menyatakan bahwa hukuman mati dalam UU

Narkotika tidak bertentangan dengan hak hidup yang dijamin UUD 1945

lantaran jaminan hak asasi manusia dalam UUD 1945 tidak menganut asas

kemutlakan. Menurut MK, hak asasi dalam konstitusi mesti dipakai dengan

menghargai dan menghormati hak asasi orang lain demi berlangsungnya

ketertiban umum dan keadilan sosial. Dengan demikian, MK, hak asasi

manusia harus dibatasi dengan instrumen Undang-Undang, yakni Hak untuk

hidup itu tidak boleh dikurangi, kecuali diputuskan oleh pengadilan.

Alasan lain pertimbangan putusan MK salah satunya karena Indonesia

telah terikat dengan konvensi internasional narkotika dan psikotropika yang

telah diratifikasi menjadi hukum nasional dalam UU Narkotika. Sehingga,

menurut putusan MK, Indonesia justru berkewajiban menjaga dari ancaman

jaringan peredaran gelap narkotika skala internasional, yang salah satunya

dengan menerapkan hukuman yang efektif dan maksimal.

Masih dalam artikel yang sama dijelaskan bahwa dalam konvensi tersebut

Indonesia telah mengakui kejahatan narkotika sebagai kejahatan luar biasa

serius terhadap kemanusiaan (extra ordinary) sehingga penegakannya butuh


23

perlakuan khusus, efektif dan maksimal. Salah satu perlakuan khusus itu,

menurut MK, antara lain dengan cara menerapkan hukuman berat yakni pidana

mati. Dengan menerapkan hukuman berat melalui pidana mati untuk kejahatan

serius seperti narkotika, MK berpendapat, Indonesia tidak melanggar perjanjian

internasional apa pun, termasuk Konvensi Internasional Hak Sipil dan Politik

(ICCPR) yang menganjurkan penghapusan hukuman mati. Bahkan MK

menegaskan, Pasal 6 ayat 2 ICCPR itu sendiri membolehkan masih

diberlakukannya hukuman mati kepada negara peserta, khusus untuk kejahatan

yang paling serius.13

F. CONTOH KASUS

KASUS I: PEMBUNUHAN BERENCANA OLEH ANAK DI BAWAH

UMUR

Pasal 340 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) berbunyi

“Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu

menghilangkan nyawa orang lain, dihukum karena pembunuhan direncanakan

(moord), dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara

sementara selama-lamanya dua puluh tahun.”

Dari uraian bunyi pasal diatas, bisa disimpulkan bahwa Pembunuhan

Berencana itu memiliki dua unsur, yaitu Unsur Subyektif dan Unsur

Obyektif. Unsur Subyektif, yaitu: dengan sengaja, dengan rencana lebih

dahulu. Dan Unsur Obyektif, yaitu: Perbuatan (menghilangkan nyawa),

Obyeknya (nyawa orang lain).

13
Klinik Hukum Online, “Hak Hidup VS Hukuman Mati”
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4ef039a2d0c28/hak-hidup-vs-hukuman-mati
diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.25
24

Namun, tersangka di bawah umur tak bisa dihukum mati atau dihukum

penjara seumur hidup. Sesuai kesepakatan internasional yang sudah diakui

Indonesia, tersangka hanya bisa dihukum penjara di bawah 20 tahun. Begitu

pula dengan isi undang-undang no 39 Tahun 1999 tentang HAM.

Hal tersebut juga disampaikan Ketua Umum Komisi Perlindungan Anak

(Komnas Anak) Arist Merdeka Sirait, Jumat (2/8/2013). Ia menyampaikan hal

itu menanggapi tersangka perkosaan, perampokan, dan pembunuhan berencana

yang dilakukan KH alias Kus (16) terhadap SW (14).

"Jika akhirnya hakim memvonis tersangka dengan hukuman penjara 20

tahun, atau seumur hidup, atau hukuman mati, maka pelaksanaan hukumannya

otomatis akan berubah, penjara di bawah 20 tahun," kata Arist.

Hal ini sudah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2002

tentang Perlindungan Anak dan UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem

Peradilan Tindak Pidana oleh Anak. "Semua jeratan pasal yang menghukum

anak di bawah umur tidak boleh lebih dari 20 tahun penjara," ujarnya.

Tersangka KH mengaku kepada polisi bahwa dia merencanakan

pembunuhan terhadap SW. KH membunuh mantan pacarnya itu untuk

mendapatkan sepeda motor dan telepon genggam yang dibawa SW. KH lalu

menjual telepon genggam dan sepeda motor tersebut untuk membayar uang

muka sepeda motor pacarnya yang lain. KH membunuh SW di kebun kosong

Perumahan Gama Setia, Serua, Ciputat, Tangerang Selatan, Senin (15/7/2013).

Kanit V Sat Jatanras Direskrimum Polda Metro Jaya Komisaris Antonius

Agus yang dihubungi terpisah mengatakan, KH dijerat Pasal 340 KUHP juncto
25

Pasal 338 KUHP juncto Pasal 339 KUHP. "Tersangka sudah berniat

membunuh untuk mendapatkan harta korban," kata Antonius.

Bunyi Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana: "Barang siapa

dengan sengaja dan dengan rencana menghilangkan nyawa seseorang, dipidana

karena pembunuhan berencana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup

atau paling lama 20 tahun".

Pasal 338 KUHP menyebutkan, "Barang siapa dengan sengaja

menghilangkan nyawa orang lain dipidana karena pembunuhan dengan pidana

penjara paling lama 15 tahun". Adapun Pasal 339 KUHP berbunyi:

"Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu tindak pidana

lain, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau memermudah

pelaksanaannya dan atau menghindarkan diri sendiri maupun peserta lainnya

dari pidana dalam hal tertangkap tangan ataupun untuk memastikan

penguasaan benda yang diperolehnya secara melawan hukum, dipidana dengan

pidana penjara seumur hidup atau sementara waktu, paling lama 20 tahun".

Ketika ditanya tentang kian mudanya usia pelaku dan kian kejinya mereka,

Arist menjawab, "Ini soal lain. Memang ada perubahan sosial dan perubahan

perilaku menyangkut kenakalan dan atau kejahatan yang dilakukan remaja.

Tetapi ada substansi yang tidak berubah adalah mereka meniru kejahatan orang

dewasa."

Menurut Arist, era informasi dengan perangkat telekomunikasi yang kian

canggih dan kian mudah didapat dan digunakan, membuat kalangan remaja

makin cepat tahu dan meniru. Masalah itulah yang perlu dipecahkan bersama.
26

Ia mengingatkan kembali bahwa lingkaran proses sosial korban yang akhirnya

menjadi pelaku.

"Lingkaran setan ini memang kian lama kian mengerikan. Pelakunya kian

muda dan sadis, korbannya pun kian muda dan kian tak berdaya," ujar Arist.

Negara, lanjutnya, tak boleh lagi sibuk dengan teori-teori di atas kertas,

seruan, dan saling menuding, tetapi harus melakukan perbaikan nyata.14

Sesungguhnya hukum-hukum di Indonesia sudah saling melengkapi satu dan

lainnya.

KASUS II: PERJINAHAN MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM

PIDANA

Dalam al-Mu’jamul Wasith hal 403 disebutkan, “Zina ialah seseorang

bercampur dengan seorang wanita tanpa melalui akad yang sesuai dengan

syar’i.”

Orang yang berzina adakalanya bikr atau ghairu muhshan (Perawan atau

lajang (untuk perempuan) dan perjaka atau bujang (untuk laki-laki)), atau

adakalanya muhshan (orang yang sudah beristeri atau bersuami).

Menurut Hukum Islam Jika yang berzina adalah orang merdeka, muhshan,

mukallaf dan tanpa paksaan dari siapa pun, maka hukumannya adalah harus

dirajam hingga mati. Zina dinyatakan sebagai perbuatan yang melanggar

hukum yang harus diberi hukuman setimpal, karena mengingat akibat yang

ditimbulkan sangat buruk. Hubungan bebas dan segala bentuk diluar ketentuan

14
KOMPAS, “Tersangka Anak di bawah Umur rak Bisa Dihukum Mati”
http://megapolitan.kompas.com/read/2013/08/02/1331090/Tersangka.Anak.di.Bawah.Umur
.Tak.Bisa.Dihukum.Mati diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.30
27

agama adalah perbuatan yang membahayakan dan mengancam keutuhan

masyarakat dan merupakan perbuatan yang sangat nista.

Namun hukum berzina di Indonesia di atur dalam KUHP dalam bab XIV

kejahatan terhadap kesusilaan, Pasal 284-289 KUHP. Dalam Pasal 284 Kitab

Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia dijelaskan bahwa yang terancam

pidana jika yang melakukan zina adalah salah seorang dari wanita atau pria

atau juga kedua-duanya dalam status sudah kawin. Artinya bahwa hukum

positif tidak memandang perbuatan zina ketika pelakunya adalah pria dan

wanita yang sama-sama belum berstatus kawin. Hukum positif memandang

suatu perbuatan zina jika dilakukan dengan sukarela (suka sama suka) maka

pelaku tidak perlu dikenakan hukuman. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa

tidak ada pihak yang dirugikan dan hanya menyinggung hubungan individu

tanpa menyinggung hubungan masyarakat. Dengan demikian, perbuatan zina di

mata hukum positif baru dianggap sebagai suatu tindak pidana dan didapat

dijatuhkan hukuman adalah ketika hal itu melanggar kehormatan perkawinan.

Menurut KUHP tidak semua pelaku zina diancam dengan hukuman

pidana. Misalnya pasal 284 ayat 1 dan 2 menetapkan ancaman pidana penjara

paling lama 9 bulan bagi pria dan wanita yang melakukan zina, padahal

seorang atau keduanya telah kawin, dan dalam padal 27 KUH Perdata (BW)

berlaku baginya. Ini bisa diartikan bahwa pria dan wanita yang melakukan zina

tersebut belum kawin, maka mereka tidak terkena sanksi hukuman tersebut di

atas. Tidak kena hukuman juga bagi keduanya asalkan telah dewasa dan suka

sama suka (tidak ada unsur paksaan) atau wanitanya belum dewasa dapat
28

dikenakan sanksi, hal ini diatur dalam KUHP pasal 285 dan 287 ayat 1.

Sedangkan menurut hukum pidana islam, semua pelaku zina pria dan wanita

dapat dikenakan had, yaitu hukuman dera bagi yang belum kawin, misalnya

(dipukul dengan tongkat, sepatu, dan tangan). Dan dera ini tidak boleh

berakibat fatal bagi yang didera.

Hukum positif KUHP dalam menyikapi masalah perzinahan, ada berbagai

variasi hukuman (klasifikasi). Dengan penerapan hukuman yang berbeda-beda

yang tertuang dalam KUHP pasal 284 ayat 1dan 2, pasal 285, 286 dan 287 ayat

1. Sedangkan Islam menetapkan hukuman dera jika pelaku zina yang belum

kawin dan hukuman rajam jika telah kawin.

Menurut KUHP, perbuatan zina hanya dapat dituntut atas pengaduan

suami/istri yang tercemar (pasal 284 ayat 2), sedangkan Islam tidak

memandang zina sebagai klach delict (hanya bisa dituntut) atas pengaduan

yang bersangkutan.15

15
Kompas “Hukum Di Indonesia Tentang Perzinahan”
https://www.kompasiana.com/mahfudsosiologi/hukum-di-indonesia-tentang-
perzinahan_55284a136ea834c0408b4598 diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.05
29

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Dari pembahasan diatas kita bisa mengetahui bahwa Demokrasi

Pancasila tidak jauh dari batang tubuh UUD 1945 dan Pancasila.

Demokrasi ini juga menjunjung tinggi hak asasi manusia dan

pelaksanaanya sesuai dengan Pancasila. Itu semua sebagai sarana

untuk mencapai tujuan bangsa Indonesia tentunya.

2. Masalah demokrasi di Indonesia diatur dalam Pasal 1 Ayat (2)

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang

menyatakan “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan

menurut Undang-Undang Dasar”.

3. Hukum di Indonesia terbagi atas dua, Hukum Perdata dan Hukum

Pidana. Hukum Perdata lebih pada hukum Privat sedangkan Hukum

Pidana Lebih kepada hukum publik.

4. Hukuman terberat dari hukuman pidana adalah Pidana Mati. Namun

Pidana Mati juga harus dikaitkan dengan HAM dan UU Perlindungan,

walau pada akhirnya hak untuk hidup juga dapat dibatasi.

B. SARAN

Adapun saran dari penyusun:

1. Pembaca diharapkan lebih menambah wawasan tentang Negara dan

Demokrasi Pancasila

29
30

2. Mendalami Pancasila sebagai Ideologi Negara Indonesia yang

demokrasi

3. Dapat membedakan permasalah hukum yang hadir di masyarakat

4. Dapat turut membantu dan memberikan solusi tentang permasalah

hukum yang terjadi di sekitar.


31

DAFTAR PUSTAKA

Rahardjo, Satjipto. 2009. Negara Hukum Yang Membahagiakan Rakyatnya.


Jakarta: Genta Publishing.
Rizki, A. Permasalahan Demokrasi. repo.unand.ac.id/2437/4/BAB%2520I.pdf
diakses pada 10 oktober 2017 pukul 20:00 wit
Min. 20 Pengertian Negara Menurut Para Ahli dan Unsur Negara Dalam
Negara. http://www.pelajaran.co.id/2017/13/pengertian-negara-menurut-
para-ahli-dan-unsur-unsur-dalam-negara.html, diakses 10 Oktober 2017
pukul 20.05 WIT
Wikipedia. Demokrasi. https://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi, diakses 10
Oktober 2017 pukul 20.15 WIT
Yugi. Pengertian asas dan ciri-ciri demokrasi pancasila.
https://www.eduspensa.id/pengertian-asas-dan-ciri-ciri-demokrasi-
pancasila/ diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.05
Rohmatullah. Pengertian Demokrasi Pancasila Indonesia Lengkap.
http://rohmatullahh.blogspot.co.id/2014/03/pengertian-demokrasi-
pancasila.html diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.05
Guru PPK. Ciri-ciri demokrasi pencasila. https://guruppkn.com/ciri-ciri-
demokrasi-pancasila diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.17
Zona Siswa. Demokrasi Pancasila Pengertian dan Ciri-ciri.
http://www.zonasiswa.com/2014/11/demokrasi-pancasila-pengertian-ciri-
ciri.html diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.18
BUKU PPKN. PPKN KELAS 10. https://Buku-Siswa-SMA-Kelas-10-PPKn-
Semester-1 (revisi-2014), diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.20
Wikipedia. Hukum. https://id.wikipedia.org/wiki/Hukum diakses tanggal 10
Oktober 2017 pukul 20.23
Wikipedia. Hukum Pidana. https://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_pidana diakses
tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.23
32

Klinik Hukum Online. Hak Hidup VS Hukuman Mati.


http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4ef039a2d0c28/hak-hidup-vs-
hukuman-mati diakses tanggal 10 Oktober 2017 pukul 20.25
Kompas. Tersangka Anak di bawah Umur rak Bisa Dihukum Mati.
http://megapolitan.kompas.com/read/2013/08/02/1331090/Tersangka.Anak.
di.Bawah.Umur.Tak.Bisa.Dihukum.Mati diakses tanggal 10 Oktober 2017
pukul 20.30
Kompas. Hukum Di Indonesia Tentang Perzinahan.
https://www.kompasiana.com/mahfudsosiologi/hukum-di-indonesia-
tentang-perzinahan_55284a136ea834c0408b4598 diakses tanggal 10
Oktober 2017 pukul 20.05