Anda di halaman 1dari 9

LABORATORIUM TEKNOLOGI FORMULASI

SEDIAAN STERIL
SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
BANDUNG

Zat aktif : Atropin sulfat


Sediaan : Botol plastik tetes mata
Jumlah Sediaan : 15 mL / botol, 1 botol /batch

1. FORMULA
R/ Atropin sulfat 100 mg
Benzalkoinum 2 µl
Dinatrium edetat 5 mg
Aqua pro injeksi ad 10 ml
(Formulasi Nasional II Hal. 32)

2. KEGUNAAN ZAT DALAM FORMULA


Tabel 2.1 Kegunaan Zat dalam Formula
Zat Kegunaan
Atropin sulfat Zat aktif
Nacl pengisotonis
Benzalkoinum Pengawet, anti mikroba
Dinatrium edetat Stabilisator
Aquadest pro Injections Pelarut, pembawa

3. ALASAN PEMILIHAN FORMULA


3.1 Nacl : Digunakan sebagai pengisotonis sediaan ampul
agar sediaan setara dengan 0,9 % larutan NaCl,
dimana larutan tersebut mempunyai tekanan
osmosis yang sama dengan cairan tubuh.
3.2 Benzalkoinum : Digunakan sebagai pengawet sediaan selama
proses penyimpanan pada sediaan multidose dan

1
dikarenakan pembuatan sediaan dengan cara
sterilisasi secara aseptis maka diperlukan
pengawet untuk meminimalisir adanya
mikroorganisme pada sediaan
3.3 Dinatrium edetat : Digunakan sebagai stabillisator, karena sediaan
tersebut dapat dipakai berulang kali atau
multidose sehingga digunakan Dinatrium Edetat
untuk menjaga kestabilan sediaan selama
penyimpanan
3.4 Aqua pro Injection : Digunakan sebagai pembawa larutan injeksi
sediaan agar tidak mengandung mineral-mineral
dan pengotor lain yang dapat bereaksi dengan zat
aktif.

4. MONOGRAFI
4.1 Atropin Sulfat
Nama Resmi : Atropin sulfat
Rumus Molekul : (C17H23NO3)2.H2SO4.H2O
Berat Molekul : 694.85
Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak
berbau; mengembang di udara kering; perlahan-lahan
terpengaruh oleh cahaya
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam
etanol mendidih, mudah larut dalam gliserin
Titik Lebur : 190-194o C
Kegunaan : Parasimpatolitikum
(Farmakope Indonesia Edisi III Hal. 98)
4.2 Aqua Pro Injetion
Nama Resmi : Aqua Pro Injection
Nama Lain : Aqua pro injeksi

2
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02
Pemerian : Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
Wadah : Dalam wadah tertutup kedap, disimpan dalam wadah
tertutup kapas berlemak, harus digunakan dalam waktu
30 hari setalah pembuatan
Kestabilan : Stabil secara kimia dalam bentuk fisika bagian dingin
cairan uap
Incomp : Bereaksi dengan obat dan bahan tambahan yang
mudah terhidrolisis (terurai karena adanya air) atau
kelembaban pada suhu tinggi, bereaksi kuat dengan
logam alkali
(FI Edisi III, Hal. 97 ; Excipient, Hal. 337 – 338)
4.3 Natrium Klorida
Bobot molekul : 58,44
Pemerian : Kristal tidak berbau tidak berwarna atau serbuk kristal
putih, tiap 1g setara dengan 17,1 mmol NaCl. 2,54g
NaCl ekivalen dengan 1 g Na
Kelarutan : 1 bagian larut dalam 3 bagian air, 10 bagian gliserol
Sterilisasi : Autoklaf atau filtrasi (Martindale 28 hal: 635)
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat
menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas
pH : 6,7-7,3
OTT : logam Ag, Hg, Fe
E NaCl :1
Kesetaraan E elektrolit : 1 g ≈ 17,1 mEq
Konsentrasi/dosis : lebih dari 0,9% Injeksi IV 3-5% dalam 100ml selama
1 jam. Injeksi NaCl mengandung 2,5-4 mEq/ml. Na+
dalam plasma = 135-145 mEq/L
Khasiat/kegunaan : Pengganti ion Na+, Cl- dalam tubuh

3
Efek samping : Keracunan NaCl disebabkan oleh induksi yang gagal
dapat menyebabkan hipernatremia yang memicu
terjadinya trombosit dan hemorrage. Efek samping
yang sering terjadi nausea, mual, diare, kram usus,
haus, demam, menurunkan salivasi dan lakrimasi,
berkeringat, hipertensi, takikardi, gagal ginjal, sakit
kepala, lemas, kejang, koma dan kematian.
Kontraindikasi : Untuk pasien penyakit hati perifer udem atau
pulmonali udem, kelainan fungsi ginjal.
Farmakologi : Berfungsi untuk mengatur distribusi air, cairan dan
keseimbangan elektrolit dan tekanan osmotik cairan
tubuh.
(FI IV hal. 584, Martindale 28 hal. 635, Excipient hal. 440, 672)
4.4 Benzalkoinum Kloridum
Nama Resmi : Benzalkoinum kloridum
Nama Lain : Benzalkoinum klorida
Rumus Molekul : C21H38NCl
Berat Molekul : 360
Pemerian : Serbuk amorf berwarna putih atau putih kekuningan,
memiliki bau dan rasa khas
Stabilitas : Benzalkoinum klorida bersifat higroskopis dan tidak
stabil terhadap cahaya, udara dan logam
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam eter, sangat mudah larut
dalam aseton, etanol 95%, metahanol, propanol, dan air
(Handbook of Pharmaceutocal Excipients Hal. 33-34)
4.5 Dinatrii Edetat
Nama Resmi : Disodium Edetat
Rumus Molekul : C10H14N2Na2O8
Berat Molekul : 363,21
Pemerian : Serbuk kristal putih, dengan sedikit rasa asam

4
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, sedikit
larut dalam etanol (95%), larut 1 dalam 11 bagian air.
Titik Lebur :
Stabilisator : Sedikit stabil dalam bentuk padat, lebih stabil dalam
bentuk basa bebas, mengalami dekarboksilasi jika
dipanaskan diatas suhu 150ºC
(Handbook of Pharmaceutocal Excipients Hal.192)

5. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN BAHAN


5.1 Perhitungan
5.1.1 Tonisitas
Nama zat C ∆tb C x ∆tb
Atropin Sulfat 1 0,074 0,074
Na2EDTA 0,05 0,132 0.0066
Benzalkoinum 0,02 0,091 0,00182
Ʃ = 0,08242
0,52−0,08242
W = = 0,759 g/100ml
0,576

(hipotonis)
Sediaan yang isotonis = 0,9 – 0,759 = 0,141 g/100ml
Penambahan NaCl = 0,9 – 0,141 = 0,759 = 7,59 mg/ml
5.1.2 Perhitungan Volume
Jumlah sediaan yang akan dibuat : 1 botol
n.C+2
1 . 10,5 + 2 = 12,5 mL ≈ 15 mL
5.2 Penimbangan Bahan
15 𝑚𝑙
Atropin Sulfat : × 100 𝑚𝑔 = 150 𝑚𝑔
10𝑚𝑙
15 𝑚𝑙
NaCl : × 7,6 𝑚𝑔 = 114 𝑚𝑔
1 𝑚𝑙
15 𝑚𝑙
Na2EDTA : 10 𝑚𝑙 × 5 𝑚𝑔 = 7,5 𝑚𝑔
15 𝑚𝑙
Benzalkoinum : 10 𝑚𝑙 × 0,002 𝑚𝑙 = 0,003 𝑚𝑙

Aqua pro injection : ad 15 mL

5
6. PROSEDUR KERJA DAN EVALUASI
6.1 Prosedur Kerja
Dididhkan aqua pro injeksi sebanyak 30 ml selama 10 menit,
sebelumnya ditimbang Atropin sulfat dan NaCl sesuai dengan yang dibutuhkan.
Lalu setelah mendidih dilarutkan atropin sulfat dalam air panas setelah larut
larutkan juga NaCl setelah keduya larut lalu campurkan, di aduk hingga
homogen. lalu ditambahkan benzalkonii cloridum sebanyak 6 tetes dan dinatrii
edetas sebanyak 4 tetes lalu di aduk hingga homogen, cek pH larutan. Saring
larutan dengan kertas saring lalu tambahkan aqua pro injeksi sampai 17 ml. lalu
di saring lagi dengan bakteri filter sebanyak 10.5 ml lalu dimasukkan ke dalam
botol tetes mata. Prosedur diatas dilakukan secara aseptis dalam Laminar Air
Flow. Kemudian dilakukan evaluasi.
6.2 Prosedur Evaluasi
6.2.1 pH
pH meter dikalibrasi menggunakan larutan buffer agar dalam
suasana netral, dimasukkan kedalam wadah sampel. Dicatat hasil
pengamatan.
6.2.2 Kebocoran
Sediaan diuji dengan disimpan dalam wadah yang sudah di
rekatkan kertas dan diisi dengan kertas tisu atau kapas, kemudian
sediaan ditusukan kedalam kertas sehingga posisi sediaan terbalik.

6. DATA PENGAMATAN
Tabel 6.1 Hasil Evaluasi Sediaan
Evaluasi Syarat Hasil Evaluasi
Kejernihan Jernih -
pH 3,5 – 6 5
Penampilan Fisik / Seragam dan Rapih Seragam
Wadah
Kebocoran Ampul Tidak Ada Kebocoran -
Jumlah Sediaan 1 1
Keseragaman Volume Seragam Seragam

6
7. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan sediaan steril injeksi obat
tetes mata dengan menggunakan zat aktif atropine sulfat. Pembuatan sediaan
obat tetes atropine sulfat dibuat dengan menggunakan pelarut air, karena
atropine sulfat sangat mudah larut dalam air, sehingga pembuatannya juga lebih
stabil dengan pelarut air. Pembawa air yang digunakan adalah a.p.i (aqua pro
injeksi), karena dalam sediaan steril harus menggunakan air yang bebas dari
bakteri patogen dan bebas dari bahan-bahan mineral. Pada pembuatan obat tetes
mata atropin sulfat dilakukan proses sterilisasi alat dengan menggunakan
sterilasi panas kering dan sterilisasi panas uap. Sterilisasi panas kering dengan
menggunakan oven digunakan untuk alat-alat seperti beaker gelas,erlenmeyer
dan gelas ukur pada suhu 170ºC selama 30 menit sedangkan corong dan kertas
saring disterilkan dengan cara panas uap atau menggunakan otoklaf pada suhu
121ºC selama 15 menit. Untuk wadah dan proses pembuatan sediaan dilakukan
sterilisasi secara aseptis karena wadah sediaan yang digunakan terbuat dari
plastik yang tidak tahan terhadap pemanasan. Sterilisasi bertujuan untuk
menghilangkan/membunuh berbagai mikroba yang dapat menganggu sediaan,
karena syarat sediaan injeksi sendiri harus mutlak steril karena langsung
dimasukkan ke dalam tubuh. Apabila terdapat mikroba ataupun partilulat asing
pada sediaan injeksi dapat berakibat fatal dan juga harus bebas pirogen, karena
dikhawatirkan pirogen yang merupakan zat endotoksin dapat masuk kedalam
darah akan terjadi reaksi negatif pada tubuh, seperti reaksi demam.
Pertama-tama dilakukan penimbangan semua bahan yang terdapat
dalam formula. Panaskan a.p.i (aqua pro injeksi) dalam beaker gelas hingga
mendidih, hal ini bertujuan untuk menghilangkan oksigen dari aqua karena
sediaan injeksi harus menggunakan Aqua Pro Injeksi bebas O2 dan untuk
sterilisasi a.p.i (aqua pro injeksi) juga. Setelah dididihkan, didinginkan.
Kemudian larutkan atropin sulfat dalam a.p.i (aqua pro injeksi) sebagai zat
aktif, karena kelarutan atropin sulfat sangat mudah larut dalam air. Larutkan
NaCl dalam a.p.i (aqua pro injeksi), di dalam formula ditambahkan zat

7
tambahan Natrium Cloridum (NaCl), karena jika tidak ditambahkan NaCl obat
tetes mata tidak memenuhi syarat isotonis yaitu hipotonis. Jika larutan obat
tetes mata dalam keadaan hipotonis disuntikan ke tubuh manusia akan
berbahaya karena menyebabkan pecahnya pembuluh darah. Agar obat tetes
mata nyaman dan tidak pedih dimata saat digunakan maka harus dibuat isotonis
dengan penambahan NaCl. Lalu di larutkan benzilkonium chloridium dalam
a.p.i (aqua pro injeksi) yang berfungsi sebagai pengawet dalam sediaan
tersebut. Tujuan ditambahkan bahan pengawet yaitu untuk menjamin sterilitas
selama pemakaian, karena sediaan obat tetes mata tersebut dapat dipakai
berulang kali atau multidose. Kemudian dilarutkan dinatrii edetas dalam a.p.i
(aqua pro injeksi), hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilan sediaan selama
proses penyimpanan pada saat sediaan yang telah dibuka tutupnya dan
disimpan kembali. kemudian sediaan tersebut dicek pH dengan menggunakan
pH universal sampai mendapatkan pH sediaan dalam rentang 3,5-6, pH sediaan
harus dalam rentang 3,5-6, karena atropin sulfat memiliki stabilitas pada pH
3,5-6, sehingga sediaan dapat menjadi stabil, tetapi dengan pH 3,5-6 tidak
cocok digunakan pada mata, karena terdapat perbedaan pH sediaan dengan pH
mata, tetapi untuk menjaga kestabilan sediaan maka pH 3,5-6 masih dapat
ditoleransi untuk pemakaian pada mata. Setelah didapat pH yang telah
ditentukan sediaan di tambahkan dengan a.p.i (aqua pro injeksi) sampai tanda
batas. Obat tetes mata tidak boleh mengandung partikulat sehingga sebelum
dimasukkan ke dalam botol obat tetes mata, sediaan harus terlebih dahulu
disaring, penyaringan dilakukan dua kali, pertama kali di lakukan penyaringan
dengan menggunakan kertas saring, hal ini bertujuan untuk menyaring partikel-
partikel yang berukuran besar dalam sediaan, dan yang kedua kali dilakukan
penyaringan dengan menggunakan membran filter 0,45 µm, hal ini bertujuan
untuk menyaring partikel-partikel yang berukuran kecil yang masih lolos dari
penyaringan pertama. Penyaringan dilakukan dua kali karena jika langsung
disaring dengan menggunakan membran filter 0,45 µm, ditakutkan partikel-
partikel yang berukuran besar dapat menyumbat membran filternya.

8
penyaringan ini dilakukan untuk menghilangkan partikel atau endapan yang ada
pada larutan. Larutan yang telah disaring kemudian dimasukkan kedalam botol
obat tetes mata sebanyak 10,5 ml, karena dalam pembuatan sediaan injeksi
dengan volume 10 ml perlu ditambahkan volume 0,5 ml untuk sediaan yang
encer dan volume 0,7 ml untuk sediaan yang kental, hal ini bertujuan untuk
penggantian volume yang hilang pada saat pengambilan sediaan dengan
menggunakan jarum suntik.Dalam memasukkan larutan kedalam botol tetes
mata menggunakan jarum suntik.
Evaluasi sediaan yang dapat dilakukan setelah sediaan obat tetes mata
selesai dibuat adalah evaluasi penampilan sediaan obat tetes mata yang
dihasilkan diperoleh larutan bening. Hal ini dikarenakan atropine sulfat tidak
terjadi reaksi dan stabil pada saat penyimpanan dan pembuatan.
8. KESIMPULAN
Dari hasil evaluasi dapat disimpulkan bahwa sediaan injeksi obat tetes mata
yang telah dibuat memenuhi syarat

9. DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia. Edisi
IV. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 1995.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia. Edisi
III. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 1995.
Wade, Ainley and Weller, Paul J. 1994. Pharmaceutical Excipients. 6th edition.
The Pharmacuetical Press. London.
Anonim. 2006. Martindale The Extra Pharmacopoeia 36th edition. London:
The Pharmaceutical Press.