Anda di halaman 1dari 15

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PUSKESMAS (SIMPUS)

KENCONG KABUPATEN JEMBER DENGAN METODE END USER


COMPUTING (EUC) SATISFACTION

Feby Erawantini1, Wahyu Kurnia D1 dan Tevalys Pramesti1


1
Politeknik Negeri Jember

ABSTRAK
Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) merupakan tatanan yang
menyediakan informasi untuk membantu proses pengambilan keputusan. Puskesmas
Kencong Jember berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui
penyediaan SIMPUS. Sistem tersebut sudah terintegrasi. Namun penerapannya masih
belum optimal. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan penggunaan SIMPUS.
Pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan FGD. Hasil penelitian dari
aspek isi, di bagian UGD perlu ditambahkan kondisi saat pasien tiba di sarana
pelayanan kesehatan, identitas pengantar pasien, dan ringkasan kesehatan pasien
sebelum meninggalkan UGD. Ditinjau dari aspek akurasi, masih terjadi kesalahan
disebabkan oleh kesalahan pengguna. Ditinjau aspek format dan aspek kemudahan
penggunaan, seluruh responden telah puas dengan format SIMPUS Kencong dan
mudah digunakan. Ditinjau dari aspek waktu, Satu responden mengatakan dengan
menggunakan SIMPUS pekerjaannya menjadi tepat waktu. Tiga responden
mengatakan sebenarnya pekerjaan mereka bisa tepat waktu bila tidak banyak pasien.
Satu responden mengatakan belum bisa tepat waktu karena tidak bisa membagi waktu
antara melayani pasien dan mengisi SIMPUS.

Kata kunci: EUC Satisfaction, Optimalisasi, SIMPUS

ABSTRACT
Management Information System of Public Health Center (SIMPUS) is an
media that ordering to provide information to help making decision for processing in
implementing the health centers’ management activities goals. Public Health Center
in Kencong district as one of the first-level of health care center in Jember that want
to improve the quality of health care through the provision of Management
Information System of Public Health Center (SIMPUS). The SIMPUS was integrated
in inter-units that include of registration, general poly, gear poly, KIA, and
Emergency Unit. However, this application system still not optimal. This research
aim to optimize the SIMPUS in public health center of Kencong district. Collecting
method was conclude of interviews, observation, and focus group discussion. The
results of this study got from the aspect of content at emergency unit that need to be
added items in the condition when the patient arrives at the health care facilities, the
identity of the patient representative, and the report of the patient's health before
leaving from emergency unit. From the aspect of accuracy, mistakes still occur but
not caused by the system, but because of user. From the aspect of the format and ease
to use, all respondents said that the system had been satisfied with the format of
SIMPUS in public healt care of Kencong district. From the aspect of time, one
respondent said that using SIMPUS can help the job timely. Three respondents said

Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016 | 1


that they job can finish on time when not many patients. One respondent said that
could not finish timely because can not divide the time between serving patients and
using SIMPUS.

Keywords: EUC Satisfaction, Optimizing, SIMPUS

1. PENDAHULUAN tahun 2012 pengguna sistem


Sistem Informasi catatan kesehatan elektronik
Manajemen (SIM) merupakan semakin meningkat yaitu hampir
sebuah sistem manusia atau mesin tiga perempat dari dokter praktek
yang terpadu (terintegrasi) untuk telah mengadopsi sistem catatan
menyajikan informasi guna kesehatan elektronik sebanyak
mendukung fungsi operasi 72% (Health Information
manajemen dan pengambilan Technologi (ONC) Department of
keputusan dalam sebuah Health, 2013).
organisasi. Sistem ini Penggunaan teknologi
menggunakan perangkat keras dan informasi pada bidang kesehatan
perangkat lunak komputer, di Indonesia sudah cukup baik
prosedur pedoman, model khususnya pada rumah sakit. Di
manajemen dan keputusan serta beberapa kota-kota besar sudah
sebuah database (Tedjaseputra, banyak muncul
2013). SIMRS secara umum dapat pengimplementasiannya, contoh
memberikan informasi yang pada rumah sakit Daerah Istimewa
akurat, tepat waktu pengambilan Yogyakarta (DIY) telah
keputusan diseluruh tingkat mengadopsi SIMRS sebanyak
administrasi dalam perencanaan, 82,21%. SIMRS digunakan
pelaksanaan, pengawasan, mayoritas untuk administrasi yang
pengendalian dan penilaian berupa pendaftaran pasien
(evaluasi) di rumah sakit. elektronik (79,17%) dan billing
(Rustiyanto, 2012). Rekam medis sistem (70,83%). Walaupun hanya
dalam SIMRS merupakan pusat sedikit, fungsi klinis sudah
informasi data pasien yang telah digunakan untuk dokumentasi
melakukan pemeriksaan dalam medis (58,33%), peresepan
suatu rumah sakit. Rekam medis elektronik (22,92%), hasil
bertugas untuk menyimpan semua pemeriksaan laboratorium
data dalam kesatuan SIMRS yang (39,58%), dan sistem inventory
telah terintegrasi, sehingga gudang farmasi (60,42%) (Harina,
memudahkan dalam pengambilan dkk 2013).
suatu keputusan.ada tahun 2009 Berdasarkan studi
dokter praktek di WashingtonDC, pendahuluan yang peneliti lakukan
menyatakan bahwa sistem catatan di RSUD dr. Abdoer Rahem
kesehatan elektronik telah di Situbondo pada tanggal 5
adopsi sebanyak 40%. Tetapi pada September 2015 di ketahui bahwa

2 | Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016


RSUD dr. Abdoer Rahem merasakan berhasil tidaknya
Situbondo telah menerapkan adalah pengguna.
penggunaan sistem informasi Kendala-kendala yang
manajemen mulai dari tahun 2008. dapat menghambat berjalannya
Sistem informasi telah diterapkan SIMRS di RSUD dr. Abdoer
pada beberapa unit diantaranya Rahem Situbondo adalah
adalah bagian pendaftaran rawat ketidakakuratan data yang
jalan, pendaftaran rawat inap, tersedia, redudasi data,sumber
rekam medik, kasir, apotek, loket daya manusia yang belum
keuangan dan perawatan. Saat ini memadai untuk melakukan
aplikasi yang digunakan yaitu pengimplementasian SIMRS
Promedika versi 3. Pengembangan dengan lebih baik lagi. Hal ini
terus dilakukan salah satunya yaitu menyulitkan petugas lain untuk
pengintegrasian pada poli- poli menyelesaikan pekerjaannya,
rawat jalan pasien. Informasi ini di utamanya bagi petugas rekam
peroleh dari hasil wawancara medis yang bertugas untuk
dengan kepala unit rekam medis menyimpan dan menjaga
RSUD dr. Abdoer Rahem kerahasian berkas pasien.
Situbondo. Dalam membangun Dibutuhkan sebuah evaluasi untuk
sebuah SIMRS, pihak manajemen dapat mengatasi masalah yang ada.
rumah sakit memiliki kewajiban Evaluasi sendiri merupakan suatu
untuk mengelola SIMRS dengan penilaian terhadap objek tertentu
baik, SIMRS yang baik yakni akan menghasilkan kekurangan
SIMRS yang menghasilkan dan kelebihan objek tersebut.
informasi berkualitas, karena Evaluasi penting dilakukan
hanya SIMRS yang baik yang utamanya untuk mengetahui
dapat membuat rumah sakit berjalan tidaknya sebuah sistem
bertahan unutuk jangka waktu dalam instansi tersebut. Hal yang
yang lama dalam menyimpanan berhubungan langsung dengan
riwayat kesehatan pasien dan data sistem adalah pengguna, untuk itu
pasien lainnya karena informasi dibutuhkan suatu metode evaluasi
pasien merupakan hal yang sangat yang dapat mengetahui penilaian
penting dalam pelayanan keberhasilan sistem berjalan
kesehatan yang akan diberikan dengan pengguna yang
kepada pasien. SIMRS yang ideal menggunakan sistem tersebut. Hal
adalah sistem yang dapat ini dimaksudkan untuk
meningkatkan kinerja rumah sakit mengetahui keinginan pengguna
dan pelayanan yang cepat dan terhadap aspek- aspek yang
nyaman bagi pengguna. Selain itu mempengaruhi sistem informasi.
pengguna merupakan kunci utama
berhasil tidaknya suatu program
berjalan, karena yang dapat

Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016 | 3


2. METODE PENELITIAN 4) Menyusun rencana untuk
Penelitian ini mengoptimalkan peran
menggunakan metode deskriptif pengguna SIMPUS
kualitatif. c. Penyajian data
Tahapan Penelitian Sesuai dengan instrumen
a. Pengumpulan Data yang digunakan yaitu lembar
Data yang digunakan dalam pedoman wawancara, pedoman
penelitian ini, dikumpulkan observasi, dan pedoman FGD
melalui: yang keseluruhan data nya
1) Wawancara atau tanya jawab berupa data deskriptif maka
secara bebas kepada petugas selanjutnya data yang telah
pendaftaran, petugas BP terkumpul melalui instrumen
Umum, BP Gigi, petugas tersebut disajikan dalam bentuk
KIA, dan petugas UGD. deskripsi/narasi.
2) Observasi atau kegiatan
pengamatan untuk menilai 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
variabel yang telah a. Persepsi Pengguna
ditetapkan. Terhadap Aspek Isi
3) Focus Grup Discussion SIMPUS Kencong
(FGD) atau diskusi bersama Berdasarkan hasil wawancara
untuk menyusun rencana- isi yang terdapat dalam
rencana optimalisasi SIMPUS Kencong menurut
penggunaan Sistem Informasi empat responden sudah sesuai
Manajemen Puskesmas dengan kebutuhan pengguna.
(SIMPUS). Namun, satu responden dari
4) Dokumentasi yaitu kegiatan pihak UGD menginginkan isi
pengambilan gambar yang sesuai dengan format
khususnya terhadap kondisi UGD. Karena isi yang ada
SIMPUS dan pengguna sekarang dinilai kurang
SIMPUS. informatif.
b. Analisis Data Hasil observasi terhadap aspek
1) Mendeskripsikan data yang isi pada SIMPUS menunjukkan
diperoleh dari variabel yang bahwa isi rekam medis rawat
terkandung dalam metode jalan telah sesuai dengan
End User Computing (EUC) Peraturan Menteri Kesehatan
Satisfaction No. 269 Tahun 2008. Namun,
2) Melakukan analisis terhadap untuk pelayanan gigi dan mulut
hasil observasi terhadap masih belum dilengkapi dengan
sistem yang digunakan odontogram klinik.
3) Melakukan analisis terhadap Hasil observasi terhadap isi
hasil Focus Group SIMPUS Kencong di Unit
Discussion (FGD) Gawat Darurat (UGD)

4 | Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016


berdasarkan Peraturan Menteri Hal ini penting untuk
Kesehatan No. 269 Tahun 2008 dicantumkan.
menunjukkan masih ada Unit-unit khusus memang
beberapa isi yang belum perlu dipertimbangkan
dicantumkan yaitu: isinya secara khusus. seperti
1) Kondisi saat pasien tiba di teori optimalisasi yang
sarana pelayanan kesehatan. diungkapkan Blavin, et. al.,
Hal ini penting dicantumkan (2013). Unit tertentu akan
untuk mencatat separah apa memiliki kebutuhan sistem
kondisi pasien. Bila terjadi yang berbeda. Sebuah
kematian pada pasien, maka literatur memberikan contoh
kondisi saat pasien tiba di bahwa sebuah unit gawat
sarana pelayanan kesehatan darurat atau perawatan
akan menunjukkan mutu intensif yang sifat
pelayanan yang diberikan perawatannya mendesak
kepada pasien. Apakah dan begitu kompleks akan
pasien meninggal karena memerlukan sistem yang
keparahan penyakitnya atau terintegrasi dengan baik
karena tidak ditangani agar dapat digunakan.
dengan baik. Hasil observasi terhadap isi
2) Identitas pengantar pasien. SIMPUS untuk pelayanan
Identitas pengantar pasien dokter spesialis dan dokter
UGD perlu dicantumkan gigi spesialis sesuai dengan
untuk memastikan bahwa Permenkes 269 tahun 2008
pasien memiliki keluarga maka isi yang terdapat pada
atau wali yang dapat SIMPUS di BP Gigi dan BP
bertanggungjawab bila KIA Puskesmas Kencong
terjadi sesuatu terhadap disesuaikan dengan
pasien. kebutuhan pengguna. Dan
3) Ringkasan kesehatan pasien pada hasil wawancara telah
sebelum meninggalkan dijelaskan bahwa responden
UGD. Dapat diartikan sudah merasa cukup dengan
kondisi pasien setelah isi SIMPUS Kencong.
mendapatkan pelayanan b. Persepsi Pengguna Terhadap
apakah kondisinya Aspek Akurasi SIMPUS
membaik atau memburuk Kencong
atau malah meninggal. Berdasarkan hasil wawancara
Kemudian juga apakah seluruh responden mengatakan
pasien dirujuk ke faskes bahwa data dapat tersimpan
lain, dipulangkan, atau dengan baik sehingga mendukung
rawat inap di puskesmas. pelayanan selanjutnya. Namun,
beberapa responden mengatakan

Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016 | 5


masih terjadi kesalahan seperti bahwa format SIMPUS Kencong
penulisan tanggal lahir, alamat, simpel, bagus, dan telah sesuai
nama obat, dan jenis obat yang bagi penggunanya. Menurut
menyebabkan data kurang akurat. Rasman (2012) menilai aspek
Kumalasari (2012) dalam format suatu sistem berarti
Rahagiyanto (2014) mengatakan mengukur kepuasan pengguna dari
bahwa akurat itu berarti Informasi sisi tampilan program aplikasi itu
harus bersih dari kesalahan dan sendiri. Apakah tampilan dari
kekeliruan. Ini juga berarti bahwa sistem tersebut menarik sehingga
informasi harus jelas dan secara secara tidak langsung dapat
akurat mencerminkan makna yang berpengaruh terhadap kepuasan
terkandung dari data pengguna. Menurut Erawantini, et
pendukungnya. Menurut Rasman al, (2012) menilai format suatu
(2012) dan Erawantini (2012), sistem berarti menilai kesesuaian
keakuratan sistem diukur dengan format sistem dengan kebutuhan
melihat seberapa sering sistem pengguna pada fasilitas pelayanan
menghasilkan output yang salah kesehatan yang bersangkutan
(error) ketika mengolah input dari Berdasarkan hasil wawancara,
pengguna. Aspek akurasi juga observasi, dan teori yang
menilai kesinambungan data dari mendukung, menurut peneliti
pelayanan yang sebelumnya. tampilan dari SIMPUS Kencong
Berdasarkan hasil wawancara, tersebut memang simpel, rapi dan
observasi dan teori yang menarik. Selain itu pemilihan
mendukung, kesalahan yang warna yang tepat membuat
diungkapkan oleh responden pandangan menjadi tidak mudah
tersebut adalah murni karena lelah saat bekerja.
kesalahan pengguna, bukan karena
SIMPUS Kencong tersebut error d. Persepsi Pengguna Terhadap
atau bermasalah. Menurut peneliti Aspek Kemudahan
perlu adanya pelatihan kepada Penggunaan SIMPUS
pengguna sehingga pengguna Kencong
dapat meningkatkan kemampuan Berdasarkan hasil wawancara
dalam pengisian SIMPUS semua responden mengatakan
Kencong serta terdapat bahwa SIMPUS Kencong tersebut
keseragaman dalam penginputan mudah digunakan. Perintah yang
data. terdapat di dalamnya juga mudah
dipahami. Namun, pihak UGD
c. Persepsi Pengguna Terhadap merasa tidak sempat
Aspek Format SIMPUS menginputkan data ke dalam
Kencong SIMPUS meskipun mereka juga
Berdasarkan hasil wawancara berpendapat bahwa SIMPUS
semua responden mengatakan Kencong ini mudah digunakan.

6 | Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016


Menurut Rasman (2012) membagi waktu untuk melayani
kemudahan penggunaan suatu pasien dan mengisi SIMPUS.
sistem dapat dikatakan bahwa Namun, keseluruhan responden
sistem yang digunakan telah user mengatakan pencarian data dapat
friendly artinya mudah dalam dilakukan dengan cepat.
memasukkan data, mengolah data, Ketepatan waktu sistem dilihat
dan mencari informasi yang dari ketepatan menyajikan atau
dibutuhkan. Menurut Arendra menyediakan informasi yang
(2012), aspek kemudahan dibutuhkan oleh pengguna. Karena
penggunaan menilai apakah informasi merupakan dasar atau
pengguna merasa mudah dalam landasan dalam pengambilan
menggunakan sistem seperti keputusan. Apabila pengambilan
proses memasukkan data, keputusan terlambat, maka dapat
mengolah data, dan mencari berakibat fatal untuk organisasi.
informasi. Aspek waktu berkaitan juga
Berdasarkan hasil wawancara, dengan standar waktu dalam
observasi, dan teori yang melengkapi catatan medik
mendukung, petugas UGD hanya (Rasman, 2012). Menurut Arendra
belum lancar menggunakan (2012), aspek waktu menilai
komputer sehingga perlu waktu kecepatan dan ketepatan sistem
yang sedikit lebih lama dalam dalam menyediakan informasi.
menginputkan data. Menurut Artinya setiap permintaan atau
peneliti, SIMPUS Kencong ini input yang dilakukan oleh
sangat mudah digunakan. Hanya pengguna akan langsung diproses
saja memang perlu latihan secara dan output akan ditampilkan
rutin supaya lancar dalam secara cepat tanpa harus
menggunakannya. menunggu lama.
e. Persepsi Pengguna Terhadap Berdasarkan hasil wawancara,
Aspek Waktu SIMPUS observasi, dan teori yang
Kencong mendukung, menurut peneliti
Berdasarkan hasil wawancara di pencarian data dan informasi dari
atas, hanya satu responden yang SIMPUS Kencong ini dapat
mengatakan bahwa dengan dilakukan dengan cepat. Tetapi
SIMPUS ini pekerjaannya menjadi untuk melengkapi data medis,
tepat waktu. Tiga responden menurut peneliti petugas perlu
mengatakan bila banyak pasien mengikuti pelatihan untuk bisa
menyebabkan pekerjaan mereka membiasakan diri menggunakan
tertunda. Responden akan sistem. Agar proses penginputan
menginputkan hasil pemeriksaan data dapat dilakukan dengan cepat
pada keesokan harinya. Satu dan tepat waktu.
responden mengatakan belum bisa
tepat waktu karena tidak bisa

Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016 | 7


f. Mengoptimalkan Penggunaan satunya berkaitan dengan
SIMPUS Kencong kecepatan petugas dalam
Strategi yang dapat digunakan menginputkan data. Sehingga
untuk mengoptimalkan perlu dilakukan pelatihan kepada
penggunaan sistem informasi seluruh pengguna agar seluruh
menurut Blavin, et al. (2013) pengguna terbiasa dan lancar
meliputi pelatihan dan dukungan dalam menggunakan SIMPUS
pengguna, melibatkan pengguna Kencong tersebut.
akhir, mempertimbangkan unit
khusus, dan keterlibatan dokter. 2) Melibatkan Pengguna
Selain strategi optimalisasi Akhir
tersebut, peneliti juga membuat Strategi optimalisasi ini
SOP dan melakukan sosialisasi peneliti terapkan dengan
untuk mengoptimalkan peran melibatkan pengguna untuk
pengguna SIMPUS. menggunakan kembali SIMPUS di
UGD yang telah lama tidak
1) Pelatihan dan Dukungan digunakan. Peneliti bersama 2
Pengguna petugas UGD mencoba kembali
Berdasarkan hasil wawancara menggunakan SIMPUS yang ada
yang dilakukan, hanya satu di UGD. Kegiatan ini dilakukan
responden yang pernah mengikuti selama 3 hari mulai tanggal 25
pelatihan tentang penggunaan hingga 27 Januari 2016. Setelah
SIMPUS Kencong. Sementara mencoba mengoperasikan sistem,
petugas lainnya tidak pernah menurut peneliti SIMPUS
mengikuti pelatihan apapun yang Kencong ini memang mudah
berkaitan dengan penggunaan untuk digunakan. Peneliti
SIMPUS. Namun, seluruh menemukan kendala dalam
pengguna memberikan dukungan kegiatan ini yang menurut peneliti
penuh terhadap manajemen untuk dapat menghambat penggunaan
menggunakan SIMPUS Kencong sistem yaitu kecepatan petugas
ini. Dukungan pengguna tersebut dalam mengoperasikan sistem.
dapat dilihat dalam komitmen Salah satu petugas belum lancar
bersama yang ditanda tangani oleh dalam menggunakan komputer,
pengguna SIMPUS dan kepala sehingga membutuhkan waktu
Puskesmas Kencong (terlampir). yang lebih lama dibanding petugas
Menurut peneliti, dengan lainnya. Kendala yang kedua
adanya dukungan pengguna berarti adalah letak komputer yang
seluruh pengguna siap dan mau digunakan untuk penginputan data
untuk terus menggunakan berada di ruang yang berbeda
SIMPUS Kencong. Hanya saja dengan ruang perawatan. Peneliti
masih terdapat kendala seperti menilai hal ini juga menjadi salah
yang peneliti temukan salah satu penyebab karena petugas

8 | Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016


tidak dapat langsung Berdasarkan hasil wawancara
menginputkan hasil pemeriksaan. kepada responden dari BP Gigi,
dokter tersebut setiap hari
3) Mempertimbangkan Unit mengecek kelengkapan pengisian
Khusus SIMPUS. Keterlibatan seorang
Unit tertentu akan memiliki dokter yang dihormati di suatu
kebutuhan sistem yang berbeda. organisasi dapat mempengaruhi
Sebuah literatur memberikan sikap orang lain. Ini merupakan
contoh bahwa sebuah unit gawat strategi penting untuk membuat
darurat atau perawatan intensif semua staf lainnya pada akhirnya
yang sifat perawatannya mendesak mau untuk menggunakan sistem
dan begitu kompleks akan informasi (Blavin, et al., 2013).
memerlukan sistem yang Berdasarkan hasil observasi,
terintegrasi dengan baik agar dapat dokter tersebut juga memeriksa ke
digunakan (Blavin et al., 2013). unit lain setelah kegiatan
Berdasarkan hasil wawancara, pemeriksaan pasien selesai.
observasi, dan teori yang Menurut peneliti, strategi
mendukung, pembuatan SIMPUS optimalisasi dengan cara
Kencong ini belum melibatkan dokter yang dihormati
mempertimbangkan unit khusus telah dilakukan oleh pihak
yaitu unit gawat darurat. Isi manajemen Puskesmas Kencong.
SIMPUS yang terdapat di bagian
UGD masih sama dengan unit
pelayanan rawat jalan. Menurut 5) Pembuatan Kebijakan
peneliti, pihak manajemen Berupa SOP
puskesmas perlu Kebijakan sangatlah penting
mengembangakan SIMPUS dalam menjalankan suatu program
Kencong tersebut sehingga kerja organisasi. Setiap aktivitas
memenuhi kriteria sistem pada dalam organisasi perlu dibuatkan
pelayanan gawat darurat. kebijakan agar aktivitas kerja
berjalan secara sistematis dan
4) Keterlibatan Dokter sesuai tujuan organisasi.
Berdasarkan hasil Kebijakan tersebut biasanya dibuat
wawancara yang dilakukan, dalam bentuk Standar Operasional
penggunaan SIMPUS di Prosedur (SOP).
Puskesmas Kencong telah Menurut Agusman (2013),
melibatkan dokter yang dihormati perancangan SOP juga dapat
yaitu kepala Puskesmas Kencong. digunakan untuk meningkatkan
Kepala Puskesmas tersebut kinerja karyawan. SOP adalah
merupakan dokter gigi yang setiap dokumen tertulis yang memuat
harinya memeriksa pasien di BP prosedur kerja secara rinci, tahap
Gigi Puskesmas Kencong. demi tahap dan sistematis. SOP

Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016 | 9


memuat serangkaian instruksi 6) Sosialisasi Kepada
secara tertulis tentang kegiatan Pengguna
rutin atau berulang-ulang yang Sosialisasi dinilai penting
dilakukan oleh sebuah organisasi. oleh
Berdasarkan studi peneliti sebagai sarana komunikasi
pendahuluan yang peneliti tentang kebijakan baru atau ide
lakukan, penggunaan SIMPUS di baru berkaitan dengan suatu sistem
Puskesmas Kencong hingga saat dalam sebuah organisasi.
ini belum ada SOP yang mengatur. Berdasarkan wawancara yang
Sehingga belum ada peraturan telah dilakukan kepada responden,
secara tertulis yang mewajibkan peneliti menyimpulkan bahwa
pengguna untuk menggunakan beberapa responden belum
SIMPUS tersebut yang sepenuhnya memahami tentang
menyebabkan terjadinya kebijakan penggunaan SIMPUS
penurunan penggunaan SIMPUS. Kencong. Oleh karena itu, peneliti
Namun, pada wawancara yang bersama dengan kepala tata usaha
dilakukan tiga dari lima responden sebagai pengambil keputusan di
mengatakan bahwa sudah ada SOP Unit Rekam Medis mengadakan
tetapi mereka tidak pernah sosialisasi kepada pengguna
mengetahui SOP tersebut. Dua melalui kegiatan Focus Grup
responden lainnya mengatakan Discussion (FGD) tanggal 30
belum ada SOP yang mengatur April 2016. Sosialisasi tersebut
tentang penggunaan SIMPUS. bertujuan untuk menambah
Berdasarkan teori dan wawasan pengguna tentang
wawancara yang disajikan diatas, manfaat penggunaan SIMPUS,
maka peneliti menilai bahwa mensosialisasikan rancangan SOP
pembuatan SOP sangat perlu yang telah peneliti buat, dan juga
dilakukan untuk mengoptimalkan melakukan diskusi bersama guna
peran pengguna dalam menyempurnakan SOP tersebut.
menggunakan SIMPUS Kencong
tersebut. SOP yang telah dibuat 4. KESIMPULAN DAN
oleh peneliti dapat dilihat pada SARAN
lampiran. a. Kesimpulan
Menurut peneliti, penerapan Persepsi Pengguna Terhadap
SOP ini dinilai mampu Aspek Isi SIMPUS Kencong Isi
meningkatkan kemauan pengguna SIMPUS di BP gigi perlu
dalam menggunakan SIMPUS ditambah odontogram klinik. Isi di
Kencong. Karena dengan adanya UGD perlu ditambahkan kondisi
SOP ini, maka telah ada peraturan saat pasien tiba di sarana
secara tertulis yang menjadi acuan pelayanan kesehatan, identitas
bagi pengguna. pengantar pasien, dan ringkasan

10 | Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016


kesehatan pasien sebelum SIMPUS di Puskesmas Kencong.
meninggalkan UGD. b. Saran
Persepsi Pengguna Terhadap a. Isi pada Sistem Informasi
Aspek Akurasi SIMPUS Kencong, Manajemen Puskesmas
Masih terjadi kesalahan dari (SIMPUS) Kencong perlu
pengguna seperti penulisan diperbaiki pada bagian
tanggal lahir, alamat, nama obat, UGD. Karena berdasarkan
dan jenis obat yang menyebabkan standart isi rekam medis
data kurang akurat. pada Peraturan Menteri
Persepsi Pengguna Terhadap Kesehatan No. 269 Tahun
Aspek Format SIMPUS Kencong, 2008 unit gawat darurat
Semua responden mengatakan memiliki isi khusus yang
bahwa format SIMPUS Kencong tidak terdapat pada unit
simpel, bagus, dan telah sesuai perawatan lainnya seperti
bagi penggunanya. Persepsi rawat jalan.
Pengguna Terhadap Aspek b. Melakukan evaluasi
Kemudahan Penggunaan SIMPUS terhadap penerapan SOP
Kencong, Semua responden penggunaan SIMPUS di
mengatakan SIMPUS Kencong Puskesmas Kencong yang
mudah digunakan. Namun, pihak telah peneliti buat.
UGD merasa tidak sempat c. Melakukan pengembangan
menginputkan data ke dalam sistem terkait dengan
SIMPUS. Persepsi Pengguna kekurangan-kekurangan
Terhadap Aspek Waktu SIMPUS yang terdapat pada SIMPUS
Kencong Kencong.
Satu responden mengatakan
bahwa dengan menggunakan 5. DAFTAR PUSTAKA
SIMPUS ini pekerjaannya menjadi Agusman, D., Laricha, L., &
tepat waktu. Responden lainnya Metasilani. 2013. Manajemen
belum bisa tepat waktu bila banyak Sistem Kerja untuk
pasien yang berkunjung. Bahkan Meningkatkan Kinerja
pihak UGD tidak bisa membagi Karyawan PT. CP.
waktu antara mengisi SIMPUS http://journal.tarumanagara.ac.
dengan melayani pasien. Pelatihan id. [12 Desember 2015].
dan dukungan pengguna,
keterlibatan pengguna akhir, Amsyah, Z. 2001. Manajemen
mempertimbangkan unit khusus, Sistem Informasi. Jakarta.
keterlibatan dokter, penerapan Gramedia Pustaka Utama.
SOP, dan sosialisasi dapat
membantu pihak manajemen Arendra, F. 2012. Pengaruh
Puskesmas dalam Tingkat Kepuasan Pengguna
mengoptimalkan penggunaan Sistem dengan Metode End

Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016 | 11


User Computing Satisfaction Apply For Meaningful Use
Terhadap Kinerja Individu Incentives Among Office-Based
Pengguna Sistem. Physician Practices. Amerika
http://repository.telkomunivers Serikat.
ity.ac.id. [22 Januari 2016]. http://www.ncbi.nlm.nih.gov.
[22 Juni 2015].
Arikunto, S. 2010. Prosedur
Penelitian: Suatu Pendekatan Jannah, M. 2010. Optimalisasi
Praktik. Jakarta. Rineka Cipta. Manajemen Sarana dan
Prasarana dalam
Erawantini, et al. 2012. Rekam Meningkatkan Mutu
Medis Elektronik: Telaah Pembelajaran di SMP Nasima
Manfaat Dalam Konteks Semarang.
Pelayanan Kesehatan Dasar. http://library.walisongo.ac.id.
http://www.dinus.ac.id. [8 Mei [18 September 2015].
2015].
Jogiyanto, H. 2012. Analisis dan
Hadi, K. 2011. Optimalisasi Desain Sistem Informasi:
Penerapan Sistem Informasi Pendekatan Terstruktur Teori
Manajemen dalam dan Praktek Aplikasi Bisnis.
Peningkatan Layanan Yogyakarta. Andi.
Pendidikan di SMA Semesta
Kota Semarang. Lembaga Penelitian dan
http://library.walisongo.ac.id. Pengabdian Masyarakat
[13 Agustus 2015]. (LPPM) STIKES PKU
Muhammadiyah Surakarta.
Hatta, G. 2012. Pedoman 2014. Pedoman dan Etika
Manajemen Informasi Penelitian.
Kesehatan di Sarana http://lppm.stikespku.ac.id. [8
Pelayanan Kesehatan. Edisi Desember 2015].
revisi. Jakarta. Universitas
Indonesia (UI-Press). Lupitasari. 2015. Optimalisasi
Pengisian Lembar Surveilans
Hikmah, F., & Farlinda, S. 2014. TBC Paru BTA (+) Rawat Inap
EHR : Electronic Health Di RSUD Blambangan
Record untuk Rekam Medis. Banyuwangi. Jember. Program
Jember. Politeknik Negeri Studi Rekam Medik Politeknik
Jember. Negeri Jember

Hsiao, C., Hing, E., Socey, T., & Mahwayati, I. 2004. Analisis
Cai, B. 2011. Electronic Health Hubungan Pengetahuan
Record Systems and Intent To Pengelolaan Data dengan

12 | Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016


Pemanfaatan Sistem Informasi http://www.provisi.ac.id. [9
Manajemen Puskesmas untuk Desember 2015].
Perencanaan Program
Penanggulangan Diare di Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi
Puskesmas Salam Kabupaten Penelitian Kesehatan. Jakarta.
Magelang. Rineka Cipta.
http://core.ac.uk/download/pdf
/11714770.pdf. [18 September Peraturan Pemerintah Republik
2015]. Indonesia Nomor 46 Tahun
2014. Tentang Sistem
Menteri Kesehatan. 2004. Informasi Kesehatan.
Keputusan Menteri Kesehatan https://www.kemenkopmk.go.i
Republik Indonesia Nomor d. [8 Oktober 2015].
128/MENKES/SK/II/2004
Tentang Kebijakan Dasar Protti, D., & Bowden, T. 2010.
Pusat Kesehatan Masyarakat. “Issues in International Health
Jakarta. http://www.ippi.or.id. Policy”. Electronic Medical
[10 Oktober 2015]. Record Adoption in New
Zealand Primary Care
Menteri Kesehatan. 2008. Physician Offices.
Peraturan Menteri Kesehatan http://www.commonwealthfun
Republik Indonesia Nomor 269 d.org. [19 Agustus 2015].
Tahun 2008 Tentang Rekam
Medis. Jakarta. Rahagiyanto, A. 2014. Evaluasi
http://www.dinkes.surabaya.go Sistem Informasi Rekam Medis
.id. [20 Mei 2015]. Elektronik (RME) Di UPT.
Poliklinik Politeknik Negeri
Menteri Kesehatan. 2014. Jember Dengan Metode
Peraturan Menteri Kesehatan PIECES dan CCHIT. Jember.
Republik Indonesia Nomor 75 Program Studi Rekam Medik
Tahun 2014 Tentang Pusat Politeknik Negeri Jember.
Kesehatan Masyarakat.
Jakarta. Rasman, Y. 2012. Gambaran
http://www.depkes.go.id. [17 Hubungan Unsur-unsur End
September 2015]. User Computing Satisfaction
Terhadap Kepuasan Pengguna
Mulyanarko, H., Purnama, E., Sistem Informasi Rumah Sakit
Sukadi. 2013. Pembangunan di Rumah Sakit Umum Daerah
Sistem Informasi Billing Pada Kota Depok Tahun 2012.
Rumah Sakit Umum Daerah http://www.lib.ui.ac.id. [10]
(RSUD) Kabupaten Pacitan
Berbasis Web.

Jurnal Kesehatan Vol. 4. No. 2, Mei-Agustus 2016 | 13


PEDOMAN PENULISAN
JURNAL KESEHATAN

1. Naskah yang dikirim kepada redaksi belum pernah diterbitkan dan tidak
sedang diajukan untuk dimuat pada penerbit lain.
2. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baku dan benar. Naskah
diketik dalam program ms-word dengan huruf Times New Roman
ukuran 11, jarak 1 spasi, ukuran kertas B5, margin atas 3 cm, kiri 3 cm,
bawah 3 cm, kanan 2,5 cm, dua kolom dengan jarak antar kolom 1 cm.
3. Naskah ditulis dalam 7-15 halaman dengan memenuhi sistematika
sebagai berikut :
a) Judul
b) Nama penulis
c) Institusi
d) Abstrak dan kata kunci
e) Pendahuluan
f) Metode
g) Hasil dan pembahasan
h) Kesimpulan dan saran
4. Judul naskah tidak lebih dari 12 kata. Judul yang panjang dipecah
menjadi sub judul.
5. Nama penulis (tidak disertai gelar kesarjanaan) ditulis dibawah judul,
diberi nomer dibelakang nama penulis (super script) untuk pencantuman
alamat asal institusi di bagian footnote. Penulis dianjurkan untuk
mencantumkan alamat lengkap dan e-mail untuk memudahkan
komunikasi.
6. Urutan nama penulis adalah Ketua Tim Peneliti, Anggota Peneliti 1,
Anggota Peneliti 2, dan seterusnya. Bila diantara anggota peneliti
merupakan mahasiswa, urutannya ditempatkan paling akhir.
7. Abstrak ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia maksimal
300 kata dan 3-10 kata kunci (key words), dengan ukuran huruf 10.
Abstrak dicantumkan dibawah nama penulis. Komponen abstrak terdiri
dari Latar belakang (Background), Tujuan (Objective), Metode
(Method), Hasil (Result) dan Kesimpulan (Conclusion).
8. Daftar pustaka menggunakan system alfabetis (Harvard style)
9. Tabel dan gambar harus diberi keterangan dan cukup. Judul tabel
ditempatkan di atas tabel, sedangkan judul gambar diletakkan di bawah
gambar.
10. Naskah harap dikirim / diserahkan ke redaksi dalam bentuk CD (1 buah)
dan print-out (2 eksemplar)
11. Pemuatan naskah atau tulisan merupakan hak sepenuhnya redaksi dan
redaksi berhak melakukan perubahan naskah dengan tidak merubah
esensi isinya.
12. Naskah yang tidak dimuat tidak dikembalikan, kecuali atas permintaan
penilis/pengirim.

Penulis di luar institusi Jurusan Kesehatan Politeknik Negeri Jember


yang artikelnya dimuat wajib membayar kontribusi biaya cetak yang sudah
ditentukan redaksi.